Kolom
Pohon Maja dan Buah yang Pahit
Gde Mahesa
Alkisah dalam kitab Pararaton diceritakan bahwa Raden Wijaya ((1293 – 1527) dan pasukannya menemukan buah maja (mojo) saat babat alas (membuka lahan) di Trowulan tepatnya di hutan Tarik. Ketika dimakan, ternyata rasanya pahit, lantas karena kejadian ini tempat tersebut kemudian dinamakan Majapahit.
Konon buah maja ini menjadi simbol perjuangan, ketahanan, dan hikmah atas kesulitan sebelum mencapai kejayaan. Meskipun sering tertukar dengan buah berenuk yang pahit, buah maja yang sebenarnya, katanya memiliki rasa manis dan dianggap keramat.
Masyarakat Jawa Timur tidak asing dengan buah mojo. Sebab, mayoritas masyarakat selalu menghubungkan buah Mojo dengan kerajaan Majapahit.
Dalam tradisi Hindu, maja merupakan tumbuhan “titisan” Hyang Syiwa. Oleh karena itu tanaman maja selalu ada di halaman pura Hindu. Selain pucuknya untuk sayuran, daun maja juga merupakan perangkat ritual penting dalam agama Hindu.
Terkadang buah maja seringkali dikeringkan dan dimanfaatkan setelah dipotong bagian atas buahnya untuk lubang serta dikeluarkan isinya. Selain sebagai bahan membuat gayung air.
Sebagian masyarakat juga menggunakannya sebagai takaran yang dinamakan “beruk” yang merupakan alat ukur, ada pula yang dibuat dari batok atau tempurung kelapa. Fungsinya sebagai takaran untuk mengukur berat, atau lebih tepatnya volume, beras, kedelai dan hasil palawija lainnya.
Keberadaan buah maja selain sebagai hiasan, pohonnya juga untuk perindang jalan, dengan buahnya yang dibiarkan menggantung di pohon, sampai kering dan berjatuhan.
Karena rasanya yang pahit, masyarakat jarang mengonsumsi buah ini. Tetapi sebenarnya buah ini mempunyai banyak manfaat.
- Sebagai obat luka dalam dan luar, dengan mengkonsumsi buah maja, dengan cara dijus dan dicampur madu.
- Mengobati diare dan disentri. Buah Maja yang sudah dikeringkan bisa dihaluskan satu sendok makan. Lalu diseduh dengan air panas bisa diminum dua kali sehari.
- Mengobati darah tinggi, asma dan anemia. Ambil daun buah Maja beberapa lembar kemudian bisa di jus dan kemudian diminum dua kali sehari. Untuk hasil maksimal usahakan diminum rutin.
- Meningkatkan konsentrasi. Dengan mengkonsumsi secara rutin buah Maja juga dapat meningkatkan konsentrasi.
- Mengurangi resiko kanker. Senyawa anti oksidan di dalam buah Maja juga dipercaya mengurangi resiko terkena kanker.
Selain daripada hal tersebut, pohon dan buah maja (Aegle marmelos) memiliki makna supranatural, historis, dan filosofis yang mendalam, terutama dalam budaya Jawa dan sejarah kerajaan Majapahit.
Berikut makna supranatural pohon dan buah maja:
- Makna Supranatural dan Mistis
- Simbol Kekuatan dan Perlindungan: Pohon maja sering dianggap sebagai pohon tua yang keramat, simbol kekuatan, dan perlindungan. Di beberapa petilasan atau area keraton, keberadaan pohon ini diyakini memiliki energi spiritual yang menjaga wilayah tersebut.
- Pengusir Hama dan Energi Negatif: Selain manfaat fisik sebagai obat dan insektisida alami, daging buah maja dipercaya dalam kepercayaan tradisional mampu mengusir hama tikus, yang dalam konteks simbolis dapat berarti mengusir energi negatif.
Filosofi Hidup - Hikmah di Balik Kepahitan: Buah maja yang rasanya pahit/getir namun memiliki manfaat kesehatan yang besar melambangkan filosofi hidup bahwa tidak semua hal dalam hidup itu manis. Seringkali, dari sebuah pengalaman yang “pahit” akan terpetik hikmah yang baik.
2. Penggunaan dalam Ritual
- Uborampen (Sesajen): Pohon maja, bersama dengan beringin, kelapa, dan kamboja, kadang-kadang dikaitkan dengan tanaman yang memiliki nilai spiritual dalam kepercayaan Kejawen.
- Lambang Kehidupan: Sebagai bagian dari pohon hayat, buah maja juga melambangkan kehidupan dan pengayoman.
Dalam buku Tafsir Sejarah Nagarakretagama karangan Slamet Muljana (terbit tahun 1979) menjelaskan bahwa pada kebudayaan Jawa, penyebutan nama suatu daerah disesuaikan dengan situasi tertentu. Baik itu kondisi alam, flora, maupun fauna yang khas di suatu kawasan.
Selain Majapahit, juga dapat ditemui daerah yang memakai awalan “Mojo”. Misalnya, Kabupaten Mojokerto yang dipercaya dulunya menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Kawasan lain yang menggunakan awalan serupa tersebar di sejumlah wilayah dekat DAS Brantas. Di antaranya, Mojoagung, Mojowarno, Mojojejer, Mojotengah, Mojotrisno, Mojongapit, dan Mojokuripan yang berada di Kabupaten Jombang. Sedangkan di daerah Kediri, ada kawasan bernama Mojoroto dan Mojo. Ada pula wilayah bernama Mojosari yang terletak di Kabupaten Nganjuk dan Tulungagung.
Kesamaan penggunaan nama mojo itu barangkali dipengaruhi berbagai faktor. Misalnya migrasi penduduk atau keterpengaruhan budaya.
Bullll…. bullll…. klepussss…..
