Mancing Berhadiah Ratusan Juta

ANDA hobi mancing? Ada info menarik nih dari Roy Damora, si empunya pemancingan Tirta Gadog di Jl Pasir Angin III, Cipayung Datar, Megamendung, Bogor. Untuk memeriahkan ulang tahunnya, ia enggelar lomba mancing galatama spektakuler berhadiah Tabanas Rp 760 juta.

Rinciannya, juara ikan terberat pertama, Rp 350 juta. Terberat kedua, Rp 150 juta, terberat ketiga Rp 100 juta, terberat keempat Rp 75 juta, terberat kelima Rp 50 juta dan hadiah total induk 5 kg ke atas, Rp 35 juta.

Lomba ini diikuti peserta Jabodetabek, Karawang, Bandung, Malang, bahkan Surabaya. Tiketnya? Rp 30 juta, lengkap. Menurut Roy, setelah diuji-coba tahun lalu dan sukses, ia berencana menggelar acara ini setiap tahun.

Menurut Roy, berkat acara spektakuler itu, pemancingan Tirta Gadog kini menjadi barometer galatama. Bahkan untuk memancing di sana, para pelanggan harus mendaftar terlebih dahulu. Tidak sedikit yang kemudian tidak kebagian lapak dan berada di barisan waiting list.

Para juara mancing galatama di Tirta Gadog.

Pemancingan yang terletak tak jauh dari Pasar Angin Gadog itu, mengalami puncaknya di hari Sabtu dan Minggu. Karena itu, di dua hari istimewa itu, Tirta Gadog memberlakukan mancing dengan tiket eksekutif. Di tempat ini pula nantinya akan dilangsungkan Grand Final Grand Prix Fishing Tournament 2017.

Salah satu peserta dengan nama lapak QQ (qiu-qiu) yang juga Presiden Grand Prix Tournamen 2016-2017 menuturkan, pemancingan Tirta Gadog semakin bagus. Jumlah ikannya banyak, dan pola makannya pun bagus. Karenanya, ia merencanakan menjadikan Tirta Gadod sebagai tempat grand final Grand Prix Fishing Tournament 2017.

Tidak hanya statemen, QQ sudah membuktikannya sendiri. Ia memenangi kategori total induk di atas 5 kg, dengan menarik ikan sebanyak 154 ekor. Durasi mancing mulai pukul 12.00 sampai 18.00 WIB. ***

Romantis ‘Abis’ di Bianco Sapori

HARI 14 Februari sebentar lagi, Hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day. Beragam tempat hiburan, mulai dari restoran, kafe, hotel dan lainnya mengemas acara tahunan yang dirayakan sedunia ini seapik mungkin, termasuk promo menarik dan lainnya. Seperti di Atria Residence Gading Serpong, yang menyajikan makan malam romantis.

Pada malam Valentine, menu yang disajikan di Bianco Sapori D’Italia, the authentic Italian resto di Gading Serpong pun sengaja dibuat khusus. Makan malam romantis ini berisi 5-course set menu dinner bersama dua gelas wine, sambil ditemani live romantic music acoustic, photo booth dan merchandise untuk dibawa pulang. Disambut a glass of Moscato Wine danTomato Bruschetta with olive oil, kemudian Primo Amore; terbuat dari seared scallop, tuna ceviche, grilled prawn yang disajikan dengan rocket lettuce Italian dressing balsamic reduction.

Dilanjutkan dengan Soup; VelouteTomato Cream Souptopped with tortellini pasta and cheese straw. Dan, sebagai main course, disajikan Due In Uno; pan sear salmon with spinach, roasted filet tenderloin with sweet mashed potato and mushroom white wine sauce, tomato coulis and pesto basil.

“Sedangkan dessert-nya adalah Apple Rose, rasanya seperti pai apel namun terlihat bak mawar merah yang indah,” ujar Dessy Ariyanti selaku Assistant Food & Beverage Sales Manager.

Menu menarik dan suasana romantis ini sengaja dikemas untuk merayakan Hari Kasih Sayang bersama orang tercinta, di tempat yang hangat dengan nuansa romantis. “Pelayanan yang ramah serta nikmati makanan buatan Chef kami yang dengan sepenuh hati, akan menyuguhkan kelezatanya, dan membuat malam itu semakin berkesan,” tambah Dessy Ariyanti. ***

Digital Tourism B-Fest

BANYAK daerah maju karena pariwisata. Salah satunya Kabupaten Banyuwangi. Melalui Banyuwangi Festival (B-Fest), jumlah wisatawan asing dan domestik terus melonjak. Tak heran jika kemudian ajang B-Fest ditarik menjadi ajang pariwisata nasional. Tahun 2017, yang merupakan gelar kelima B-Fest, diluncurkan di Jakarta pekan lalu oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Menteri Pariwisata mengatakan, tahun 2017 Indonesia menggelar tak kurang dari 100 festival. Targetnya, mampu menjaring 15 wisatawan asing, dan 265 juta wisatawan lokal. Kabupaten Banyuwangi sendiri, data tahun 2016 (per bulan November), membukukan angka 75.000 turis asing, dan 2,7 juta wisatawan lokal. “Wisatawan asing umumnya ke Gunung Ijen,” ujar Menteri Arief.

Dikatakan pula, sukses pariwisata Banyuwangi, antara lain karena peran media digital. Mereka menyebutnya digital tourism. Kemudahan orang mengakses informasi melalui internet, membuat strategi digital tourism menjadi sebuah keniscayaan. “Ditambah adanya akses transportasi udara sejak tahun 2014, maka turis makin ramai. Selain rute penerbangan Jakarta-Banyuwangi, juga ada rute pendek Bali-Denpasar.

“B-Fest kami hadirkan tiap tahun ibarat rangkuman bagi segenap potensi Banyuwangi, mulai seni budaya, kekayaan alam, dan kreativitas rakyat. Tahun ini bakal lebih kaya kandungan budaya dan potensi kreativitas masyarakat,” kata Bupati Banyuwangi, Abudllah Azwar Anas.

Dari 72 gelaran event B-Fest 2017 akan disajikan ikon daerah, seperti Internasional Tour de Banyuwangi Ijen (27-30 September 2017), Banyuwangi Ethno Carnival (11 November 2017), Festival Gandrung Sewu (8 Oktober 2017), Banyuwangi Beach Jazz Festival (2 September 2017), dan Jazz Ijen (6-7 Oktober 2017), selain event anyar yang akan menjadi magnet baru antara lain; Banyuwangi Sail Yacht Festival (15 September 2017) dan Festival Bambu (12-13 Mei 2017).***

Inilah 8 Ikon Betawi

SIAPA tak kenal Ondel-ondel? Ya, Ondel-ondel memang identik dengan budaya Betawi. Namun sayang, keberadaannya mulai tersingkir oleh budaya asing. Karenanya, Pemprov DKI Jakarta meluncurkan delapan ikon budaya Betawi sebagai tindak lanjut Perda No 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Budaya Betawi. Salah satunya ya Ondel-ondel itu tadi.

Mau tahu delapan ikon budaya Betawi yang resmi diluncurkan itu? Ondel-Ondel, Kembang Kelapa, Ornamen Gigi Balang, Baju Sadariah, Kebaya Kerancang, Batik Betawi, Kerak Telor, dan Bir Pletok.

Menurut Plt Gubernur DKI Jakarta, Sumarsono, penetapan delapan ikon Betawi ini agar ada standarisasi dan penyeragaman. “Ke depan, kita mau Jakarta dibangun dengan semangat Betawi sebagai pondasi,” kata Sumarsono, saat peluncuran ikon Betawi di Balaikota DKI, Minggu (5/2).

Perda Pelestarian Budaya Betawi bahkan nantinya akan diturunkan ke Peraturan Gubernur (Pergub) dan Surat Edaran. Muaranya, kedelapan ikon Betawi itu akan mewarnai bangunan-bangunan dan tempat-tempat umum di Jakarta. “Yang jelas, nantinya semua gedung pemerintahan, gedung sekolah dan lainnya akan dihiasi ornamen khas betawi. Seluruh pegawai di DKI Jakarta juga akan diwajibkan memakai batik Betawi,” tegasnya. ***

Status: Mantan Penganggur

ADALAH Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jakarta Utara, yang berniat memberi label “mantan” kepada para penganggur. Rencananya, mulai bulan Mei 2017, sebanyak 300 penganggur akan diberi dua jenis pelatihan: Mengemudi dan keterampilan menjadi Satpam atau bahasa kerennya petugas security.

Kepala Sudin Nakertrans Jakarta Utara, Dwi Untoro mengatakan, pelatihan yang sedia digelar itu, merupakan tindak-lanjut dari usulan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) DKI Jakarta. “Program ini dijadwalkan mulai bulan Mei,” ujar Dwi, Kamis (9/2).

Dwi Untoro

Kini, pihaknya tengah mendata kriteria penganggur yang akan distempel “mantan” itu. Kriteria utama adalah yang berasal dari keluarga miskin. “Pelatihan Satpam dilangsungkan selama 15 hari dan diikuti 200 orang. Sementara pelatihan mengemudi digelar sepekan dan diikuti 100 orang,” ujar Dwi.

Selesai menjalani pelatihan, maka petugas Satpam akan mendapatkan sertifikat. Sedangkan, yang belajar mengemudi, akan mendapatkan SIM-A. Tentu saja, baru peserta pelatihan yang lulus tes akhir, baik di bidang security maupun mengemudi. “Kami harapkan kegiatan ini dapat mengurangi angka pengangguran di Jakarta Utara,” tandasnya. ***

Di Sana Debat, di Sini Ribut

INILAH salah satu buah pemilihan kepala daerah secara langsung: Ketegangan antarmassa pendukung. Acara debat cagub-cawagub Banten putaran ketiga di Hotel The Royale Krakatau Cilegon, Kamis (9/2), nyaris memantik pertikaian

Seperti biasa, massa pendukung Wahidin Halim – Andika, dan Rano Karno – Embay, saling meneriakkan yel-yel dukungan. Susah menelisik, percikapan apa yang nyaris membuat kedua kubu adu jotos. Diduga, tidak ada persoalan serius. Bermula saling teriak yel-yel dukungan, saling melotot, saling tunjuk, dan menjurus ribut.

Untung petugas kepolisian Cilegon lekas bertindak. Kedua rombongan pendukung masing-masing calon ditenangkan, lalu sepasukan polisi membuat pagar betis memisah kedua kubu. Beruntung, kedua kubu merasa calonnya “memenangkan” perdebatan, sehingga mereka bubar dengan tertib, dan sama-sama dengan dada yang membusung. ***

Banjir kok Langganan…

HUJAN sehari-hari, menebar teror banjir di sebagian wilayah Indonesia. Banten Selatan termasuk di antaranya. Wilayah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak, banjir menggenang antara 60 cm hingga satu meter. Di Pandeglang, banjir merendam enam kecamatan. Sedangkan di Lebak, banjir merendam tiga desa di Kecamatan Leuwidamar.

“Sudah biasa…. Setiap musim hujan, kali Ciseumeut meluap. Tiga desa di Kecamatan Leuwidamar jadi langganan banjir,” ujar Eko (45), warga Desa Cieumeut, Kecamatan Leuwidamar, Lebak, Kamis (9/2). Hal sama juga dilontarkan Risman (41), warga Desa Pagelaran, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang. “Bagi kami, kedatangan banjir hal biasa. Udah rutin, jadi kami tidak kaget lagi,” kata Risman.

Tiga desa di Kecamatan Leuwidamar yang terndam adalah Desa Wantisari, Lebakparahiang, serta Ciseumeut. Puluhan rumah terendam sebatas lutut kaki orang dewasa. Air meluap dari Kali Ciseumeut sejak malam hari.

Sementara, tujuh kecamatan di Pandeglang hampir tenggelam, di antaranya Kecamatan Patia, Pagelaran, Sukaresmi, Panimbang, Munjul, Angsana, dan Cikeusik. Tak lama setelah banjir datang, tampak relawan turun tangan. Bahkan, mereka juga dibantu relawan KSB (Kampung Siaga Bencana) di kecamatan masing-masing. ***

Monyet Lapar di Solear

RATUSAN monyet penghuni kawasan wisata ziarah Kampung Solear, Kabupaten Tangerang mulai bikin resah. Pasalnya, ketika mereka kelaparan, tak segan-segan merangsek perumahan warga, menyerbu meja makan. Jika makanan tidak ditemukan, perabotan rumah pun diacak-acak. “Mereka baru pergi kalau sudah diacung-acungi pentungan,” ujar Saidah, pemilik kedai di lokasi makam.

Rombongan kera lapar itu, belakangan dirasakan masyarakat sekitar mulai berani berinteraksi langsung dengan manusia. Aksi mereka merusak genting, masuk rumah dan menjarah makanan, makin menjadi-jadi ketika lokasi wisata ziarah Solear mulai sepi dari para peziarah. “Dulu, waktu masih banyak dikunjungi peziarah, monyet-monyet itu aman-aman saja. Mungkin karena para peziarah banyak yang memberina makanan,” ujar Saidah pula.

Komplek makam itu bukannya tidak dikunjungi peziarah. Akan tetapi, jumlah peziarah sudah jauh berkurang. Dari yang sedikit itu pun, umumnya datang pada malam hari, khususnya malam jumat.  Karuan saja, sebagian besar binatang berekor panjang itu sebagian pada molor. Sebagian saja yang tampak masih berseliweran, tetapi juga jarang yang turun. Mungkin mereka lelah….

Singkatnya, pemerintah Kabupaten Tangerang harus memberi perhatian kepada lokasi wisata ziarah ini. Selama ini, pengelola dinilai kurang menjaga dan merawat lokasi. Selain tidak peduli dengan makhluk-makhluk yang ada di sekitarnya (monyet-monyet), mereka juga kurang bisa menjaga kebersihan. Tampak, sampah berserakan di mana-mana. ***

Tito dan Ulama Banten

SAFARI Kapolri Tito Karnavian sampailah ke Bumi Jawara, Banten. Baru-baru ini, ia mengunjungi Ponpes Al-Nawawi, Tanara, Kabupaten Serang. Di sana, Jenderal Polisi Tito minta ulama bisa mendinginkan masyarakat di tengah memanasnya suhu politik jelang Pilkada Provinsi Banten.

Bukan hanya itu, Tito juga meminta para ulama agar mengendalikan jemaahnya untuk tidak melakukan aksi jalan kaki pada 11 Februari 2017 mendatang. Masyarakat diminta fokus menggunakan hak pilihnya, untuk memilih gubernur yang bisa memajukan Banten.

Adapun aksi 11 Februari, dipastikan tidak akan diizinkan adanya long march jalan kaki ke KPU. Pihak kepolisian, didukung Kodam, KPU dan Panwaslu melarang kegiatan aksi jalan kaki tersebut. “Sebaliknya, massa akan diarahkan ke Masjid Istiqlal untuk melakukan kegiatan murni keagamaan. Jangan sampai kegiatan keagamaan dipolitisir,” ujar Kapolri.

Terkait  Pilkada, Kapolri berpesan kepada para kandidat, agar bisa mengendalikan massa pendukungnya. Sudah pasti, dalam kontestati ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang jangan euforia berlebihan, yang kalah yang sedih berlebihan dan bertindak anarkis. “Mari kita jaga kondusifitas Provinsi Banten,” ujar Tito. ***

Jakarta Biennale Hadir Lagi

KABAR gembira bagi Anda penyuka seni khususnya seni rupa. Ya, ajang seni rupa dua tahunan Jakarta Biennale (JB) akan kembali digelar pada 4 November hingga 11 Desember 2017 mendatang.

Tahun ini, Jakarta Biennale mengusung tema Jiwa sebagai landasan pertukaran pemikiran tentang berbagai isu dan pertanyaan atas seni dan budaya kontemporer. “Lewat Jiwa, Jakarta Biennale 2017 akan mengamati berbagai ragam hubungan, menggugah sensibilitas rasa dan berusaha memperkaya cakrawala intelektual masyarakat pemirsanya,” jelas Ade Darmawan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale Foundation.

Selain dituangkan dalam sejumlah pameran seni di Gudang Sarinah Ekosistem, juga bakal digelar di beberapa museum di Jakarta seperti Museum Sejarah Jakarta, Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Taman Prasasti, dan Museum Wayang.

Tak hanya penetapan waktu penyelenggaraan Jakarta Biennale 2017, tapi seniman Melati Suryodarmo juga dipilih oleh Jakarta Biennale Foundation sebagai penyelenggara acara sebagai Direktur Artistik.

“Praktik artistik Melati selama ini sebagai performance artist, dan pengalamannya di kancah seni baik lokal mau pun global menjadi pertimbangan untuk memilihnya sebagai Direktur Artsitik kali ini. Pengalamannya yang panjang dan luas, kami yakin akan dapat membuat Jakarta Biennale 2017 berbeda, segar dan tetap relevan,” kata Ade Darmawan.

Selain Direktur Artistik, telah terpilih empat kurator yang akan menggawangi proses kuratorial sepanjang persiapan Jakarta Biennale 2017. Keempat kurator tersebut adalah Annisa Gultom, (Jakarta), Hendro Wiyanto (Jakarta), Philippe Pirotte (Frankfurt) dan Vit Havránek (Praha).  ***