Bojongmanik, Desa Lautan

DI ANTARA belasan desa yang terendam banjir di Kabupaten Pandeglang, Banten, Desa Bojongmanik yang terbilang paling parah kondisinya. Desa itu kini terisolir. Hingga kemarin, bantuan perahu karet yang didamba korban banjir, tak kunjung datang.

“Kami beberapa kali mendatangi kepala desa, meminta bantuan perahu karet. Kami sangat mengkhawatirkan kondisi korban banjir, terutama kaum lansia, anak-anak, dan ibu-ibu hamil,” ujar Dodi Nugraha, mewakili warga Bojongmanik.

Sementara, Kepala Desa Bojongmanik, Sukri tak kalah bingung. Bukan saja dirinya juga menjadi korban banjir, tetapi permohonan bantuan ke kecamatan, atau bahkan pihak pemerintah kabupaten tak juga datang. Tidak satu pun petugas dari Badan Penanggulangan Bencana memberi pertolongan. “Memang, kami sadar, bahwa genangannya cukup dalam, ditambah arus airnya pun sangat deras,” ujar Sukri.

Sejauh ini, hanya ada petugas medis yang datang memberi bantuan kesehatan. Mereka berasal dari UPT Kesehatan Kecamatan Sindangresmi. “Kami berterima kasih, tetapi yang sangat kami butuhkan adalah perahu karet untuk mengungsikan korban. Sebab, belum ada tanda-tanda air surut. Apa harus menunggu keadaan makin buruk, baru diperhatikan?” ujar Sukri, prihatin. ***

Banjir Jelang Pencoblosan

BANJIR yang melanda Pandeglang dan Lebak, Provinsi Banten, menjadi ancaman serius bagi suksesnya gelar Pemilihan Gubernur, 15 Februari 2017 mendatang. Puluhan ribu pemilih, terancam tidak bisa menggunakan hak pilihnya.

Hingga kemarin (12/2), banjir di dua kabupaten itu belumlah reda. Seperti diketahui, bencana banjir di 14 kecamatan di Kabupaten Lebak hampir menenggelamkan 1.561 rumah. Dan banjir serupa di Pandeglang pun merendam tak kurang dari 3.671 rumah yang dihuni 9.611 jiwa/3.671 KK di 13 kecamatan. Puluhan ribu hektare lahan pertanian warga mirip lautan.

Pihak KPU di dua kabupaten tersebut, mengakui sampai kemarin belum ada tanda-tanda akan berdiri sebuah TPS (Tempat Pemungutan Suara). Karena, akses menuju desa-desa yang dilanda banjir, sangat sulit. Jangankan mengirim perlengkapan TPS, bahkan untuk menjangkau desa-desa itu pun sangat sulit.

Ketua KPU Kabupaten Pandeglang Suja’i mengaku  masih mencari solusi atas permasalahan banjir, dan tengah mengupayakan agar masyarakat tidak kehilangan hak pilihnya. “Nanti kita konsultasikan dulu ke KPU Provinsi Banten, apakah pemungutan suara di desa yang masih terendam banjir harus ditunda sampai airnya surut, atau bagaimana,” tuturnya

Hingga kemarin, surat suara masih tersimpan di Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). Belum ada solusi bagaimana Pilkada di daerah tergenang banjir itu dilaksanakan. ***

Nabung Sampah, Makan Sehat

MENABUNG ternyata tak melulu uang, tapi bisa juga sampah. Seperti yang dilakukan pelajar SD Negeri Petojo Selatan 01 Jakarta Pusat. Hampir setiap hari seluruh muridnya bergiliran menabung sampah. Bukan sampah sembarang sampah, melainkan sampah khusus berupa botol minuman air mineral bekas dan/atau kardus bekas.

Nur Arti Rusziah, guru penanggungjawab bank sampah di sekolah yang berlokasi di Jl Tanah Abang 5, Jakarta Pusat ini, menjelaskan bahwa nabung sampah sudah dilakukan sejak Maret 2016. Sampah-sampah tadi dikumpulkan di salah satu ruangan, dan sebulan dua kali diangkut petugas Sudin Kebersihan. Sampah yang memang bisa didaur ulang itu, kemudian ditimbang, dan dibayar. “Uang hasil penjualan digunakan untuk makan sehat bersama semua siswa,” tambahnya.

Anak-anak ikut melihat proses penimbangan sampah-sampah yang mereka kumpulkan.

Memang, dalam upaya mengurangi volume sampah terus diupayakan Pemkot Jakarta Pusat, salah satunya dengan bank sampah. “Saat ini ada 52 sekolah di wilayah Jakpus telah memiliki bank sampah. Kegiatan ini sangat efektif untuk mengurangi volume sampah di Jakpus,” jelas Walikota Jakarta Pusat, Mangara Pardede.

Selain mengurangi volume sampah, juga dapat menjadi referensi pengolahan dan daur ulang sampah. “Pengolahan bank sampah di sekolah ini efektif mengurangi volume sampah. Selain itu,  siswa bisa belajar cara memilah sampah sehingga bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Mangara mengharapkan, keberadaan bank sampah di sekolah dapat ditingkatkan. Tidak hanya di 52 sekolah, tetapi seluruh sekolah di Jakpus. Selain itu, pihaknya juga menginstruksikan Suku Dinas  Lingkungan Hidup dan Kebersihan mensosialisasikan keberadaan dan fungsi bank sampah kepada seluruh kepala sekolah di Jakarta Pusat. Harapannya, program ini makin masif. ***

Galatama Mancing yang “Wow”

JANGAN pandang olahraga memancing dengan sebelah mata. Kini, memancing bukan saja hobi masyarakat kelas ekonomi, tapi juga merambah kelas bisnis dan eksekutif. Betapa tidak, sejak memancing dibumbui aroma perlombaan dengan hadiah ratusan juta, bahkan lebih, maka memancing menjadi lebih “menantang”.

Memancing sistem galatama, tak ubahnya sebuah perlombaan. Ada aroma pertaruhan di sana. Pertaruhan antara skill dan keberuntungan, demi menduduki tahta juara dan menyabet hadiah besar. Memancing galatama, beda kelas, beda pula tiketnya. Kelas ekonomi, barangkali tiket sekali mancing di kisaran puluhan atau ratusan ribu. Tetapi untuk kelas eksekutif, sekali mancing bisa bertarif lima juta rupiah sampai lima puluh juta untuk durasi 6 jam.

Pemancing galatama tidak melulu milik kaum marginal. Kelas pemancing eksekutif pun mulai marak.

Nah, demi mengakomodir animo kelas eksekutif memancing galatama, maka pengusaha pemancingan tidak kalah antusias menyambut. Mereka menyediakan area pemancingan yang juga berkelas. Bahkan, ada pengusaha pemancingan yang melengkapi sarana pemancingan dengan membangun hotel, lengkap dengan restoran mewah, karaoke, dan fasilitas lainnya laiknya hotel berbintang.

Invesasi yang ditanam untuk membuat kolam pemancingan eksekutif, tak kurang dari Rp 15 miliar. Itu belum termasuk penyediaan lahan, baik sewa ataupun beli putus. Sarana parkir pemancingan eksekutif juga dibuat sedemikian lega, sehingga memudahkan para eksekutif memarkir mobilnya.

Dan untuk membangun sebuah pemancingan yang dianggap elite, sekarang ini bisa menghabiskan anggaran sampai Rp 15 milliar. Biaya ini belum termasuk tanah yang biasanya juga membutuhkan lahan yang cukup luas, untuk kebutuhan parkir dan sarana-sarana pendukung lainnya.

Manajemen pemancingan, biasanya mengambil 20 – 30 persen dari total tiket masuk, untuk biaya operasional dan perawatan kolam dan ikan-ikannya. Sisanya, dibagi untuk hadiah pemenang dengan aneka kategori. Ada yang membaginya ke dalam lima pemenang, ada pula yang membaginya 10 kategori pemenang, bahkan lebih.

Bayangkan saja, jika tiket itu lima juta hingga 50 juta rupiah, dikalikan misalnya 40 atau 60 lapak/pemancing. Potensi uang masuk sekali putaran antara 300 juta hingga 3 miliar rupiah. Benar-benar wow…. ***

RK “Walikota Taman”

ENTAH apa yang ada di benak Walikota Bandung, Ridwan Kamil (RK), yang akra disapa Kang Emil. Ketika ia tengah getol mempercantik Kota Bandung dengan membangun banyak taman, ia juga terbelit persoalan pembangunan sarana pedestrian, atau trotoar yang banyak mangkrak.

Apa boleh buat tekadnya mempercantik Kota Bandung dengan memperbanyak taman, jalan terus. Terakhir, ia merevitalisasi Taman Tegalega, Bandung. Targetnya, akhir tahun 2017, Taman Tegalega akan menjadi taman terbesar sekaligus termegah yang dimiliki kota berjuluk Paris van Java itu.

Master plan revitalisasi Taman Tegalega, Bandung.

“Saur urang Bandung,” kata orang Bandung. Emil, pun menjadi terkenal sebagai “Walikota Taman”. Beberapa karya taman Kang Emil, antara lain Taman Jomblo, Taman Musik, Taman Alun-alun, Teras Cikapundung, Teras Cihampelas, dan lain-lain.

Dengan membangun taman, Walikota berharap indeks kebahagiaan masyarakat Kota Bandung meningkat. Ia menyebut, bahwa pembangunan tidak hanya fisik, tetapi juga jiwa. Dan taman adalah penyejuk jiwa yang bisa meningkatkan rasa bahagia. Begitu kurang lebih konsepnya. Lagi-lagi, praktisi ekonomi merasa kurang sreg, karena ketidakseimbangan antara pembangunan ekonomi dan indeks kebahagiaan. Ujung-ujungnya, RK dituding hanya mengutamakan pencitraan. ***

Kang Emil Bisa Tersandung Trotoar

WALIKOTA Bandung, Ridwan Kamil bisa tersandung kasus pembangunan pedestrian atau trotoar. Pasalnya, banyak pekerjaan trotoar yang mangkrak, tidak selesai tepat waktu, dan menyisakan pekerjaan yang membuat Paris van Java jadi tampak berantakan.

Sejumlah sarana pejalan kaki memang sudah bagus, seperti di kawasan Alun-alun, Jalan Asia-Afrika, dan kawasan Braga. Sebagian besar lainnya, belum juga selesai. Padahal, tahun lalu, Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil, koar-koar tahun 2017 trotoar kota Bandung sudah rapi.

Tetapi dalam kenyataannya, pembangunan trotoar di kota Bandung meleset dari kenyataan, banyak pekerjaan mangkrak. Hingga Februari 2017 pekerjaan yang belum selesai tampak di kawasan Jalan Dago, Wastukencana, Cibaduyut, Buahbatu dan banyak lagi. Acak-acakan.

Tidak sedikit pemandangan seperti ini di Kota Bandung.

Tak heran jika Kang Emil merasa bingung ngagerung, banyak kontraktor mengaku tekor, akibatnya pekerjaan tidak sesuai kontrak. Fakta di atas bisa membuat Walikota Bandung tersandung. Bukan saja berpotensi jadi temuan BPK, tetapi salah-salah bisa kena pasal pidana.

Beberapa kejanggalan yang berpotensi jadi kasus. Pertama, Walikota cq Dinas Binamarga Pengairan Kota Bandung tidak memutus kontrak para pemborong yang jelas-jelas melakukan pelanggaran. Kedua, para kontraktor yang harusnya diputus kontrak tahun 2016, hingga awal 2017 masih tampak bekerja.

Menurut sejumlah keterangan yang diperoleh, para pemborong yang belum dibayar oleh Pemkot Bandung, ujung -ujungnya akan berurusan dengan masalah administrasi keuangan negara. Selain bisa menjadi temuan BPK juga bisa menyeret ke persoalan pidana. Walikoa Bandung dan jajarannya bisa berurusan dengan hukum. ***

Taman Makan Durian, Kalibata

BOLEH saja Anda bangga dengan durian petruk, durian medan, durian montong, dan durian-durian khas berbagai daerah dan negara lain. Tapi, dijamin tidak ada yang bisa mengalahkan “durian Kalibata”, Jakarta Selatan. Daerah yang dikenal dengan Taman Makam Pahlawan ini, sesungguhnya menyediakan semua varian durian.

Tidak saja semua varian durian, tetapi juga “ada durian sepanjang masa”. Jika Anda penggila durian tentu paham, bahwa kapan pun Anda ingin menyantap durian, pergilah ke Kalibata. Di musim mangga, di sini ada durian. Ketika musim rambutan, di sini ada durian. Ketika musim duku, di sini ada durian.

Karena keistimewan itu pula, yang membuat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan Kalibata menjadi pusat penjualan durian di Jakarta. Untuk sementara, Pusat Penjualan Durian berada di Jalan Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan. Lokasi yang diisi 30 pedagang kaki lima (PKL) tersebut akan menjadi pusat penjualan durian terbesar di Ibukota.

Wali Kota Jakarta Selatan, Tri Kurniadi mengatakan, dengan dibukanya lokasi ini, para PKL durian yang semula berdagang di bahu jalan kini sudah tertata rapi. “Saya pesan jaga kebersihan. Kualitas durian juga harus dijaga. Jangan sampai dicampur zat kimia. Ini akan dijadikan salah satu destinasi wisata,” katanya di lokasi.

Dijadikannya Kalibata sebagai pusat penjualan durian ini tentu saja mendapat sambutan baik dari pedagang durian. Betapa tidak, pedagang durian yang berjualan di loksem ini hanya dibebankan biaya retribusi Rp 3.000 per hari dengan sistem autodebet Bank DKI. “Lokasi ini dibangun dari dana Corporate Social Responsibility (CSR).” jelas Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (KUKMP) DKI Jakarta, Irwandi.

Di lokasi, para pedagang durian disiapkan tempat berjualan dengan model tenda berikut dilengkapi kursi dan meja untuk pengunjung. Tak hanya itu, di sana juga disediakan tempat cuci tangan beserta toilet umum dan gazebo untuk panggung hiburan musik. ***

Pungli adalah Musuh

ANDA mau dipungli (pungutan liar)? Pasti tidak. Apalagi, selama ini pungli telah meresahkan masyarakat. Tapi, kini pemerintah mulai bertindak tegas dengan memberanguskan pungli dan antek-anteknya.

Ya, guna membrantas praktek Pungli di wilayah Jakarta Pusat (Jakpus), Pemerintah Kota (Pemkot) Jakpus membentuk Tim Sapu Bersih (Saber) Pungli. Dalam pelaksanaannya, Pemkot telah bekerja sama dengan berbagai pihak seperti Polri, TNI, dan Kejaksaan untuk membentuk Tim Saber Pungli.

“Ada kurang lebih 50 anggota dari  Polri, TNI, dan Kejaksaan untuk menjadi Tim Saber Pungli. Tujuan dari pembentukan Tim Saber Pungli ini untuk membrantas praktik pungli yang sering kali dilakukan aparatur negara baik dari Pemkot Jakpus, TNI, Polri dan Kejaksaan,” jelas Walikota Jakarta Pusat Mangara Pardede.

Mangara menjelaskan, dari Tim Saber Pungli yang telah dibentuknya ini diketuai Wakil Kapolres Jakarta Pusat. Pihaknya juga menginstruksika seluruh jajaran PNS di tingkat Kota Jakarta Pusat untuk tidak terlibat dalam hal pungli.

Mangara juga akan menindak tegas para PNS, Jika ada yang terlibat dalam praktik pungli. Menurutnya, konsekuensi atas pelanggaran tersebu sudah pasti akan diterima PNS tersebut. “Sanksi sudah pasti ada, jika mereka nekat terlibat dalam pungli,” tegasnya. ***

Massa Kontra Semen, Gunakan Mushola untuk Selfie

HARI ini, beredar pemberitaan tentang kasus pembakaran mushola di komplek pabrik Semen Rembang, Kecamatan Bulu. Berita yang disebar oleh pihak yang kontra atas pembangunan paabrik semen milik BUMN itu, cenderung menyesatkan dan provokatif. Selain tidak sesuai kondisi di lapangan, mereka seperti tidak pernah berkaca diri.

Triningsih, warga setempat yang selama ini dikenal pro pabrik semen, justru menyoal kejadian tahun 2014, saat massa kontra mengobrak-abrik dan membubarkan acara istighosah yang diadakan masyarakat pro pabrik semen. “Rekaman video masih ada. Orang-orang atau pelakunya masih hidup dan tampak dalam video itu. Tindakan mereka jauh lebih parah,” tegasnya.

Dikatakan lebih parah, mengingat yang dikabakan terjadi pembakaran mushola, sungguh-sungguh kebohongan yang membayakan persatuan umat Islam di Rembang. Yang sebenarnya terjadi, dan itu juga disaksikan oleh lima orang warta kontra yang ada di lokasi, adalah aksi perobohan tenda oleh massa pro, didahului pembongkaran blokade jalan, yang dilakukan massa kontra.

Urut-urutannya, massa membongkar blokade jalan. Kemudian mereka bersepakat bersama-sama membongkar tenda pro semen, dilanjutkan merobohkan tenda kontra, dengan maksud supaya ke depan tidak ada lagi sarana provokasi dari pihak luar. Nah, tak jauh dari tenda kontra, dibangun bangunan dari kayu yang dinamakan mushola.

Di dalamnya diisi mukena, sarung, peci, dan kitab suci Alquran. Triningsih bersaksi, bahwa tempat itu hanya sekali dipakai sholat, yang itu pun untuk tujuan selfie. Setelah itu, bangunan yang jauh dari layak untuk disebut mushola itu, tidak pernah sekalipun dipakai untuk beribadah warga kontra yang ada di tenda. Jadi, “mushola” itu hanya untuk selfie dan kebutuhan menyebar informasi menyesatkan ke media sosial. Tidak ada aktivitias sholat berjamaah, pengajian, dan lainnya.

Triningsih bahkan lebih jauh menyoal perilaku mereka yang cenderung manjuah dari kehidupan yang islami. Ibu-ibu yang dulu berhijab, sekarang melepas jilbab dan setiap ikut demo, mengenakan caping, kebaya, dan kain khas arahan massa binaan aktivis antek asing, Gunretno.

Nah, bangunan itu memang termasuk yang dirobhkan massa. Akan tetapi, segenap isi di dalamnya, berupa mukena, sarung, peci, sajadah, telah diamankan terlebih dahulu dan disimpan di pos security. Warga tolak semen pun turut menyaksikan perobohan itu. Yang mengherankan, mengapa kemudian yang muncul di pemberitaan versi mereka adalah “terjadi pembakaran mushola di pabrik semen Rembang?” Sungguh sebuah pemutarbalikan fakta yang menyesatkan dan membahayakan kesatuan umat beragama.

Para aktivis pimpinan Gunretno yang baru pulang dari Singapura jumpamkap. Kebathilan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran,” ujar Tri. ***e

Bakar Tenda, Dibilang Mushola

PERKEMBANGAN konflik pembangunan pabrik semen di Rembang, milik BUMN PT Semen Indonesia, nyaris beres. Kelompok kontra yang selama ini menentang dengan dalih-dalih ngawur, dan bukti-bukti bohong, makin kehilangan akal sehat dalam membela maunya asing.

Sepulang dari Singapura, gerakan Gunretno makin membahayakan persatuan dan kesatuan umat. Rupanya, itulah agenda aktivis pro asing yang di KTP-nya “tidak beragama” itu. Dengan bantuan ide dan dana segar dari pihak asing yang berkepentingan untuk menghambat bahkan menggagalkan beroperasinya pabrik semen di Rembang, Gunretno pun makin nekad.

Jumat (10/2), di hari besar umat Islam, alih-alih mengajak massa yang digalangnya beribadah, dari pagi jam 07.00  ia malah mengagendakan unjuk rasa di jalan masuk area pabrik semen Rembang, di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Rembang. Sekitar 100 massa yang sebagian dari Rembang, dan sebagian lainnya dari luar Rembang itu, tidak hanya berfoto-foto lalu pergi –seperti biasanya– tetapi

Akibat blokade jalan, karuan saja, para pekerja pabrik yang notabene dari bagian administrasi ringan, petugas satpam, dan petugas perawatan mesin itu, tidak bisa masuk lokasi pabrik. Menjelang pukul 10.00, Wakapolres Rembang Kompol Pranandya dan jajaran tiba di lokasi, dan meminta aksi bisa diselesaikan dengan baik, apalagi aksi mereka tidak didukung pemberitahuan ke aparat, agar bisa diamankan. Sepertinya ada tendensi sengaja tidak melapor dan memancing kerusuhan.

Beruntung, massa pro yang berjumlah hampir 200, tidak terprovokasi. Menyadari bahwa sebagian kecil di antara yang kontra adalah tetangganya sendiri, mereka memilih dialog. Sumarno, tokoh yang dijadikan wayang oleh Gunretno sudah hafal dengan kalimat pembangkangan dan “waton suloyo”, kalau orang Jawa bilang.

Ketika disoal izin demo yang memang ada aturannya, dibantah dengan mempertanyakan izin pabrik. Di tengah jalan –bukan di gubernuran– mereka bahkan menyoal somasi yang ditujukan ke gubernur. Seperti sebuah kaset, penutusan Sumarno merembet ke soal wilayah CAT (cadangan air tanah), bahkan menyuruh membangun pabrik semen di Papua saja. Lupa, bahwa pabrik semen di Pati, di Tuban, dan daerah-daerah lain tidak pernah mereka usik, karena umum pun tahu, pemilik saham mayoritasnya adalah perusahaan asing.

Penjelasan dari Sugiyanto (bagian CSR PT Semen Indonesia) tentang sudah tidak adanya kegiatan di pabrik, tentang kepatuhan PT Semen Indonesia terhadap proses hukum, tak digubris. Sumarno makin ngawur saja mengatakan, apa pun kegiatannya, baik administrasi ringan, perawatan mesin, tidak boleh. Bahkan, sebatas bersih-bersih pabrik pun tidak boleh.

Sumarno tentu saja bicara atas apa yang dipesankan Gunretno kepadanya. Sebab, sejujurnya dia tahu, bahwa pabrik itu sudah merumahkan 3.000 karyawannya, yang sebagian besar juga tetangganya sendiri.

Pihak kepolisian mencoba membujuk massa tolak semen. Dia mengatakan, aspirasi dari massa kontra maupun dari pihak PT Semen Indonesia sudah didengar. Ia mencatat dengan baik, dan meminta semua pihak saling menghormati. Di akhir dialognya karena jam sudah menunjuk angka 11 siang, warga diminta membubarkan aksi dan bersiap-siap melaksanakan sholat Jumat.

Entah bisikan dari mana yang mereka dengar, imbauan sholat Jumat sama sekali tidak digubris. Mereka bahkan lebih mementingkan menjaga blokade jalan agar tidak dibongkar.

Lepas sholat Jumat, perangkat desa Ridwan (Kades Kadiwono) datang. Massa pro pabrik semen yang usai sholat Jumat pun hadir di situ. Disampaikanlah kepada massa kontra, bahwa apa yang dilakukan pabrik pada prinsipnya hanya menjaga aset. Massa kedua pihak diminta sama-sama mematuhi proses hukum, dan diimbau menghindari cara-cara kekerasan. Kades Ridwan bahkan mengatakan, aksi itu dilakukan di Desa Kadiwono, desa yang dipimpinnya. Ia mengimbau semua pihak menghormati perbedaan, mengingat falsafah Pancasila, dan mencintai negara Indonesia. Kades bahkan memohon pihak kontra membongkar blokade.

Semua tidak mempan, karena rupanya Gunretno di mata mereka jauh lebih penting dibanding imbauan Polres maupun Kades. Indikasi mereka “cari masalah” makin tampak ketika pukul 14.00, Awan Nugroho dari pihak perusahaan menawarkan kepada warga kontra pabrik semen untuk masuk ke area pabrik dan membuktikan sendiri, bahwa tidak ada kegiatan apa pun di dalam, kecuali administrasi ringan, perawatan mesin, dan petugas jaga (Satpam).

Tawaran itu pun dimentahkan, dengan sikap “pokoke”. Mereka menolak membuktikan ke dalam. Kata-katanya seperti kaset diputar, “Pokoknya tidak boleh ada aktivitas apa pun di lokasi pabrik, termasuk tidak boleh ada pengamanan Satpam, sampai tukang sapu pun tidak boleh.”

Hingga sejauh itu, aparat kepolisian maupun perangkat desa masih menunggu dengan sabar. Jam sudah menunjuk pukul 17.00. Hingga massa membubarkan diri, blokade jalan masih terpasang.

Usai sholat isya, massa pro semen dari desa Ring-1 kembali ke lokasi. Sebab, selama ini mereka pun memiliki tenda aspirasi yang berdiri tak jauh dari tenda yang kontra. Sekira pukul 19.40, massa kontra hampir semua sudah pulang. Apalagi, sebagian dari mereka memang bukan warga Rembang.

Massa pro pun membongkar blokade. Setelah itu, disusul membongkar tenda pro. Terakhir, barulah membongkar tenda kontra. Tentu saja tidak ada perlawanan dari pihak kontra, karena target mereka hari itu sudah terpenuhi. Jadi, mereka sebenarnya tidak peduli lagi dengan blokade itu. Karenanya, proses pembongkaran blokade, sampai pembongkaran kedua tenda, dan pesholatan, berlangsung dengan baik-baik saja.

Agar sama-sama tidak membangun tenda lagi di area sekitar pabrik, massa kemudian membakar puing-puing tenda. Apa yang terjadi? Gunretno yang masih “menanam” lima orang di situ, langsung mengedarkan berita dusta dan sangat berbahaya. Mereka membuat kronologi jam demi jam. Sebagian benar, sebagian ngawur. Dan yang paling ngawur adalah kronologi pembakaran mushola oleh massa pro semen.

Agar lebih dramatis, ditulis dan disebar di media sosial serta menyebarpress release ke media-media massa, dengan dramatisasi khas Gunretno. Dikatakan, bahwa massa pro membakar mushola lengkap dengan isinya, antara lain mukena, peci, dan kitab suci Al-Quran.

Itulah Gunretno. Setelah “konflik” dengan Emha Ainun Nadjib, disusul tindakan provokatif yang bisa mengancam kerukunan NU dan Keuskupan Agung Semarang (KAS), kini ia bermain api dengan memantik isu pembakaran mushola. Bagaimana mungkin orang Islam percaya provokator antek asing yang di KTP-nya bahkan “tidak beragama” (hanya tanda strip di kolom Agama)? ***

Sumber: Kaskus