Pasar Anyar Terbakar

Petugas Damkar Kota Bogor sedang memadamkan api. Foto: Periksa Ginting

API berkobar di Pasar Anyar, Kota Bogor, Jumat (12/5) siang. Kali ini yang menjadi sasaran si jago merah,  toko Subur Jaya yang berlokasi di Jalan MA. Salmun. Kebakaran terjadi saat karyawan di dalam toko grosir sembako itu istirahat untuk melaksanakan sholat  Jumat.

Andi, seorang pedagang mengatakan asap yang terlihat membubung di lantai tiga toko membuat warga sekitar dan pedagang kaki lima (PKL) yang ada disekeliling toko panik dan melaporkan ke petugas pasar. Dalam waktu singkat sejumlah mobil pemadam kebakaran Kota Bogor meluncur ke tempat kejadian perkara (TKP) dan berusaha memadamkan si jago merah.

Sementara para PKL sibuk memindahkan dagangannya karena khawatir mengganggu proses pemadaman api, dan korban jahil warga yang berkerumun saat menyaksikan peristiwa kebakaran. ”Saya tidak tahu persis api mulai dari mana. Tapi asap dan kobaran api tiba-tiba menyala di lantai tiga. Dan petugas pemadam kebakaran sekuat tenaga berusaha memadamkan api,”ujar Encik, pedagang kain.

Untuk mengantisipasi perbuatan jahil, petugas Polres Bogor Kota melakukan pengamanan di sekitar lokasi kebakaran. Api baru bisa dipadamkan beberapa jam kemudian. Petugas masih melakukan penyelidikan lebih lanjut atas peristiwa tersebut. ***

GM Hotel Indonesia, Siap Go International

MOMENTUM krisis moneter 1998, membawa dampak ekonomi berkepanjangan. Akan tetapi, tidak sedikit yang justru mendatangkan manfaat. Salah satu contoh, di dunia perhotelan. Ketika krismon melanda negeri ini, banyak manajemen hotel bintang lima, memberhentikan general manager (GM) karena keberatan harus membayar dengan dolar.

Keadaan itu justru menjadi peluang bagi peningkatan karier GM hotel Indonesia. Sejak itu pula, tidak sedikit hotel bintang lima yang dikomando oleh seorang GM sawo-matang. Terbukti, para GM hotel Indonesia tidak kalah kualitas dengan GM asing.

Akan tetapi, dengan makin pulihnya perekonomian negara, serta adanya pasar bebas, maka persaingan GM pun makin tajam. Sejumlah GM asing mulai masuk pasar perhotelan di Indonesia. “Tapi ada kecenderungan, GM-GM asing yang dipekerjakan, bukan dari Amerika atau Eropa. Beberapa yang saya tahu dari India, dan beberapa negara ASEAN,” ujar penasihat IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association), Irmansjah Madewa, CHA kepada Jayakartanews di Makassar, baru-baru ini.

Pria yang akrab disapa Inan itu, saat ini menjabat GM Aston Kuta, Bali. Ia merintis karier di perhotelan sejak tahun 70-an. “Tahun 1978 saya kerja di hotel Borobudur. Di sana saya banyak belajar. Dari perjalanan bekerja di sektor perhotelan, saya tahu persis, bahwa para GM Indonesia harus kompak dan senantiasa meningkatkan kinerja. Sebab, di era pasar bebas, mereka juga harus bisa berkarier sebagai GM atau manajer di hotel-hotel manca negara. Mengapa tidak? Kualitas GM Indonesia tidak kalah,” ujar Inan, yang penulis buk “Road to GM” itu.

Terkait hal itu pula, IHGMA Jumat – Sabtu (12 – 13 Mei 2017) menggelar kongres di Makassar, Sulawesi Selatan. “Agendanya antara lain pemilihan pengurus baru dan program kerja. Sebab, di bulan Oktober, kita akan menjadi tuan rumah pertemuan GM Hotel internasional di Bali,” tambahnya. ***

Awas, Radikalisme Bonceng Kebebasan Politik

RADIKALISME memperoleh momentum berkembang di Indonesia, dengan memanfaatkan transisi politik tahun 1998. Kekuatan “anti  demokrasi” dengan cerdik memanfaatkan  sistem politik yang memberi kebebasan untuk membangun kesadaran kolektif melawan ideologi Pancasila.

Hal itu disampaikan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As’ad Said Ali, dalam sebuah seminar, Rabu (10/5/2017) di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ). “Akibatnya, aparat keamanan tidak memiliki pijakan hukum yang kuat untuk mengawal negara secara optimal,” katanya.

As’ad yang juga mantan wakil ketua PBNU itu mengungkapkan, pasang surut radikalisme di tanah air sangat dipengaruhi oleh pertartungan politik globa , khususnya perkembangan politik di Irak, Suriah, dan Yaman, dimana ketiga negara tersebut selama ini menjadi tujuan kaum radikalis Indonesia. Radikalisme juga dipengaruhi oleh faktor internal seperti ekonomi, sosial dan politik, terutama sejuah mana negara mampu membangun toleransi dan kesadaran klektif melawan radikalisme.

Wakil Kepala Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Brigjen Pol Edy Hartono menambahkan, redikalisme dan terorisme terjadi di Indonesia karena belum adanya kesamaan pandangan masyarakat tentang bahaya dan ancaman penyebaran radikalisme pro kekerasan dan intoleransi. “Jadi perlu ada pemahaman bersama, bahwa penanggunlangan terorisme di Indonesia tidak hanya dapat dilakukan oleh aparat penegak hukum, melainkan juga dukungan dan bantuan masyarakat dalam rangka memerangi dan menanggulangi terorisme,” kata Edy.

Selain itu, dari aspek regulasi, menurut Edy juga masih meninggalkan masalah dalam kaitannya dengan pencegahan dan pemberantasan terorisme. Pasal-pasal yang ada dalam UU Pemberantasan Terorisme belum sepenuhnya menjangkau pada perbuatan orang atau kelompok yang menjadi embrio atau cikal bakal pelaku tindak pidana terorisme. Dalam hal ini dapat dicontohkan, seperti halnya ujaran kebencian yang disampaikan oleh orang-orang atau kelompok tertentu, sehingga menimbulkan bibit-binit kebencian dan permusuhan. Hal itu menjadi stimulan terjadinya aksi teror yang pernah terjadi di Indonesia.

“Terjadiny aksi-aksi teror di Indonesia  dijadikan indikator, bahwa secara umum penanggulangan terorisme di Indonesia, kesannya belum maksimal. Jadi, perlu dilakukan analisa dan evaluasi terhadap regulasi yang ada,” kata Edy.

Edy mencatat, selama 16 tahun terakhir ini (sejak tahun 2000 sampai dengan 2016) dalam aksi terorisme yang pernah terjadi di Indonesia, Polri telah melakukan penegakan hukum terhadap 1288 orang pelaku tindak pidana terorisme. Jumlah tersebut dimungkinkan akan terus bertambah , seiring dengan penyebaran paham radikalisme pro kekerasan dab aksi terorisme di Indonesia. Polri berharap, UU Anti Terorisme yang kini tengah digodog di DPR kelak dapat lebih menekan  angka tindak pidana terorisme di tanah air.

Ribuan Warga Palangkaraya Sesaki Tugu Soekarno

RIBUAN warga yang tergabung dalam peserta “Refleksi Kebangsaan Solidaritas Muda Palangka Raya” pada Kamis malam memadati kawasan bersejarah, Monumen Tugu Soekarno, Palangka Raya.

Koordinator aksi,  Rano Rahma menjelaskan, kegiatan itu  dilaksanakan sebagai bentuk keprihatinan atas kondisi bangsa. “Malam ini adalah refleksi bagi kita sebagai sesama anak bangsa, ini adalah malam keprihatinan kita atas kondisi bangsa yang mulai terkoyak-koyak. Kita hadir di sini atas keprihatinan bersama pada realitas kebangsaan Indonesia yang kita cintai,” katanya.

Rano mengajak masyarakat yang hadir, untuk  berfikir tak hanya sekedar kasus penistaan agama yang telah menvonis Basuki Tjahaja Purnama. “Saat ini kita bukan untuk membawa kasusnya ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Bumi Tambun Bungai Bumi Pancasila yang kita cintai dan banggakan,” katanya.

Rano menambahkan,  teramat pendek jika pemikiran bangsa ini hanya sampai di sana. Pemikiran haruslah seperti pendiri Republik Indonesia yang jauh kedepan melampaui zamannya.

“Keprihatinan mendalam kita pada rentetan peristiwa berbau SARA pada waktu belakangan menghempaskan kita kembali ke belakang, seolah kita masuk dalam lorong gelap yang entah kapan berakhirnya,” katanya.

Dia mengatakan, terlepas dari kasus Basuki Tjahaja Purnama, ikatan kebangsaan harus tetap utuh. Persoalan hukum harus diserahkan semuanya pada jalur dan prosesnya.

“Kita tidak akan mengintervensi perjalanan hukum Ahok yang sedang berjalan, biarkan prosesnya sesuai koridornya,” katanya.

Dari pantauan, pada aksi yang digelar mulai pukul 19.00 WIB tersebut turut sebagai peserta tak hanya para generasi muda, bahkan sejumlah orang tua dan anak-anak juga terlibat pada aksi yang dimulai dengan menyalakan lilin tersebut.

Sejumlah aparat kepolisian terpantau mengamankan aksi. Selain bersiaga, sejumlah polisi juga terlihat mengatur dan mengalihkan jalur lalu lintas di sekitar lokasi aksi karena jalan di depan tugu Soekarno tersebut digunakan sebagai tempat parkir.

Meski angin yang bertiup sempat mengombang-ambingkan api lilin yang dinyalakan, para peserta tetap antusias mengikuti acara yang rencananya dilaksanakan dua malam tersebut.

Meski acara tersebut bertajuk “Refleksi Kebangsaan Solidaritas Muda Palangka Raya”, namun sejumlah peserta terlihat membawa atribut yang meminta pembebasan Ahok.

Para peserta, serentak juga meneriakkan “Bebaskan Ahok” dan menuntut seluruh proses hukum di Indonesia bebas dari inervensi.

“Saya mengikuti aksi ini dalam rangka memberikan dukungan moral terhadap Ahok. Selain itu agar seluruh warga Indonesia tetap menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan tanpa adanya rasisme dan sentimen agama. NKRI harga mati,” kata salah satu peserta aksi Destanto.(ARA)

KONI DKI Gelar Musyawarah Olahraga Provinsi

SEBANYAK 33 perwakilan cabang olahraga, pengurus cabang, dan pejabat fungsionaris mengikuti Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) ke-XI di Balai Agung, Balai Kota.

Kegiatan ini digelar oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) DKI Jakarta dengan agenda tunggal pemilihan ketua umum.

Ketua Panitia Pelaksana Musorprov, Widodo Edi mengatakan, ini merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan sebelumnya yang digelar di Kelapa Gading, 29 April lalu.

“Total ada 33 peserta dari perwakilan cabang olahraga, pengurus cabang dan fungsionaris yang sudah registrasi,” katanya, Kamis (11/5).

Widodo memastikan, pemilihan ketua umum ini akan berjalan demokratis sesuai saran dari Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI.

Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Luki P Sastrawijaya berharap, Ketua KONI yang terpilih nanti mampu merangkul semua pihak. Sehingga KONI bisa efektif berperan melakukan pembinaan olahraga di DKI Jakarta.

“KONI ini ibaratnya sebagai bapak dari cabang olahraga. Sehingga KONI lah yang dapat mendorong atlet DKI berprestasi,” tandasnya. ***

Ini Pemicu Terorisme Internasional

BERKEMBANGNYA terorisme internasional tidak dapat dilepaskan dari situasi di Timur Tengah dimana terjadi peluruhan nation-state akibat terjadinya situasi failed states (negara gagal), yang kemudian juga berdampak langsung pada situasi di Indonesia.

Pandangan itu disampaikan Kepala Pusat Kajian Keamanan Nasional (Puskamnas) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), Hermawan Sulistyo dalam sebuah seminar bertema perkembangan terorisme dan kontra terorisme yang dilangsungkan, Rabu (10/5/2017) di kampus tersebut.

Menurut Kikiek, demikian sapaan akrabnya, pada sebagian besar terorisme internasional, mulai dari ideologi, jaringan hingga pendanaan.  “Apa yang mulanya disinyalir oleh Ressa dan Gunaratna, kini sudah menjadi keniscayaan,” tandas pendiri lembaga riset Concern tersebut.

Profesor riset di LIPI itu mengungkapkan, semua perkembangan yang terkait dengan masalah tersebut, juga sangat dipengaruhi oleh sains dan  teknologi. Tanpa petunjuk tentang arah kemajuan Iptek, akan sulit untuk memetakan jalan ke depan. Gambaran  yang disajikan oleh Michio Kaku dan Tyson tentang state of the art Iptek masa kini dan proyeksinya dalam satu abad ke depan memang sangat membantu, tetap hanya dalam hal peta kecenderungan yang sangay rentan terhadap anomali perubahan.

Pada sisi lain, tambah Kikiek, Polri yang merupakan instrumen utama  negara  dalam keamanan dan ketertiban umum, masihterseok-seok mengejar ketertinggalan dalam segala bidanhg, mulai dari anggaran dan terutama SDM. Keutamaan hukum (Primacy of law) tetap tidak bisa memberikan rasa keadilan yang didambakan masyarakat, bahkan oleh negara, akibat wajah hukum yang  terjepit.

“Terutama pada kasus-kasus kejahatan yang ekstrim seperti terorisme, bahkan pada kasus-kasus yang payung hukumnya belum memadai seperti ujaran kebencian,” katanya.

Kikiek menambahkan, dalam menatap masa depan, respon Polisi mula-mula harus beranjak pada situasi semasa (kontemporer). Respon semasa ini harus melampaui HAM, yaitu penghormatan dan penghargaan pada hak-hak yang diatur dalam konvenan Ecosoc, yakni hak-hal sipil dan ekonomi yang melampaui isu-isu HAM.

Ahok Dikurung, Tempo Diretas Hacker

SITUS berita tempo.co menjadi sasaran luapan kemarahan pihak-pihak yang tidak senang dengan keputusan pengadilan yang memenjarakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dua tahun dengan perintah langsung ditahan. Kamis dinihari, situs berita tersebut sempat diretas dengan pesan tuntutan agar Ahok dibebaskan.

Saat terkena retas, laman situs tersebut tidak bisa menampilkan informasi sebagaimana mestinya. Dalam laman itu terpampang foto Ketua FPI, Rizieq Shihab, saat berorasi saat aksi besar-besaran umat Islam. Di bawah foto itu ditampilkan tulisan “bebaskan Ahok”.

Menurut pantauan Antara, hingga pukul 03.55 WIB, laman Tempo versi web dan mobile, baik menggunakan smartphone, tablet dan laptop,masih diretas. Foto Rizieq masih muncul di halaman muka situs tersebut. Mesin pencarian Google memberi informasi: TEMPO.co: hacked by Rizieq Shihab.”

Sekitar pukul 10.00 WB saat jayakartanews.com mengaksesnya, situs berita itu sudah dapat diakses secara normal.

Nasib sama sebelumnya juga dialami oleh laman situs resmi Pengadilan Negeri Negara Kabupaten Jembrana, Bali pada Rabu (10/5) malam.

Tampaknya, pelakunya sama atau sepandangan dengan peretas tempo.co, karena retasan di situs PN Jembrana juga menampilkan layar hitam bergambar Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang mengenakan setelan jas hitam, kemeja putih serta dasi bermotif hitam-putih. Mengenakan kacamata, Ahok meletakkan tangan kanannya di dada.dengan tulisan sebagai berikut:

“Give his all to this country guilty and sentenced 2 years in jail. Simple explanation: they didn’t know the difference between “eat with spoon” and “eat spoon”. they claimed both are same meaning, and made this governor guilty. the end. #RIP Justice In My Country”.

(Mereka tidak tahu perbedaan antara “makan pakai sendok” dan “makan sendok”. Mereka mengklaim kedua kalimat tersebut bermakna sama, dan membuat gubernur ini bersalah. #RIP keadilan di negaraku)

Situs milik pemerintah itu ( https://www.pn-negara.go.id/ ) sudah bisa diakses secara normal kembali.

Holiday Inn Express Jakarta Bagi Tiket Gratis

HOLIDAY Inn Express Jakarta International Expo adalah satu-satunya hotel yang terletak di kawasan Jakarta International Expo. Hotel berbintang tiga ini menjadi pilihan bagi para tamu yang khusus datang ke Jakarta International Expo untuk menghadiri Annual Exciting RAVE Party SHVR Ground Festival 2017.

Sebagai Official Hotel Partner SHVR 2017, Holiday Inn Express Jakarta International Expo mengadakan kuis giveaway terbesar dengan membagikan sepasang tiket SHVR Ground Festival 2017 kepada 10 orang pemenang.

Festival Electronic Dance Music (EDM), SHVR Ground Festival 2017 yang diselenggarakanoleh Hype Music Asia kembali hadir untuk kedua kalinya pada Sabtu (13/5).

Untuk mengikuti giveaway ini dengan me-like dan follow media sosial Holiday Inn Express Jakarta International Expo di Instagram, Twitter dan Facebook kemudian repost/retweet/share halaman giveaway yang terdapat di media sosial Holiday Inn Express Jakarta International Expo.

Peserta menulis di kertas “Pick me to SHVR Ground Fest 2017 with Holiday Inn Express JIExpo”kemudian mengambil foto selfie atau video dan diunggah ke media sosial peserta dan tag ke @holidayinnexpressjiexpo. ***

Kampus Harus Aktif Cegah Radikalisme

KALANGAN perguruan tinggi perlu mewaspadai terhadap usaha-usaha menyusupkan paham radikalisme dengan menyasar kaum terpelajar (intelektual). Hal itu disampaikan Rektor Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (UBJ), Irjen Pol (Purn) Bambang Karsono, dalam rangkaian Commencement (wisuda) Sekolah Keamanan Nasional Angkatan II yang dibarengi dengan seminar bertema Perkembangan Terorisme dan Kontra Terorisme di Indonesia, Rabu (10/5/2017).

Bambang mengungkapkan ada kecenderungan menyebarkan paham radikal ke kalangan kampus antara lain dengan mencampur-adukkan mengenai politik dan berita bohong. Rektor menyambut baik ajakan Menteri Riset-Dikti Muhammad Nasir, agar dunia kampus ikut memainkan peran penting dalam mencegah berkembangnya paham radikal di kampus,.

Menurut Bambang, seminer bertema terorisme yang diselenggarakan UBJ, antara lain sebagai respon positif atas apa yang diingatkan oleh Menristekdikti.

 

Rektor UBJ Irjen Pol (Purn) Bambang Karsono

Koordinator Kopertis III, Dr Illah Sailah, menggarisbawahi pentinnya peran kampus dalam mencegah berkembangnya radikalisme. Kampus juga perlu membumikan dan menghidupkan Pancasila dalam perilaku sehari-hari.

Menurutnya, upaya meningkatkan pemahaman Pancasila dan pengamalannya, memang tidak harus secara khusus diakomodasi dalam bentuk mata kuliah. Apabila setiap dosen bisa menyampaikan 4-5 menit dalam setiap perkuliahnnya mengenai Pancasila, maka kepahaman akan Pancasila untuk generasi mendatang, akan terjaga.

“Selain itu, kita punya budaya gotong royong yang sekarang ini makin hilang di masyarakat yang diikuti dengan munculnya persaingan. Iklim persaingan ini juga terjadi di kalangan perguruan tinggi,” katanya. Dia yakin, jika para dosen ikut memperhatikan hal ini, maka gotong royong bisa dihidupkan kembali dalam dunia kampus dan masyarakat luas.

Rektor UBJ mengungkapkan, untuk menjaga dan menumbuhkembangkan rasa kebangsaan di kalangan civitas akademika di lingkungannya, pihaknya secara rutin menyelanggarakan upacara bendera menanamkan wawasan mahasiswa, setiap tanggal 17 tiap bulannya, UBJ melaksanakan upacara bendera.

National Security Studies Sekolah Kamnas Angkatan II UBJ, pada kesempatan acara commencement (wisuda) kali ini melepas 31 peserta  yang telah menyelesaikan program. Para peserta berasal dari berbagai kalangan, seperti dari BNN, Kementrian Dalam Negeri, Pertamina, Polri dll, dengan latar pendidikan rata S2 dan S3. ***