Anggy Umbara buat Film ‘Vina, Sebelum 7 Hari’

JAYAKARTA NEWS— Ingat kasus Vina dan kekasihnya, Eky yang menggegerkan Cirebon tahun 2016 ? “8 dari 11 pelakunya telah menjalani hukuman seumur hidup. Tapi 3 pelaku utamanya masih buron,” ujar Anggy Umbara yang menyutradarai film ‘Vina : Sebelum 7 Hari” dan akan beredar di bioskop tanggal 8 Mei 2024.

Vina adalah korban pembunuhan dan pemerkosaan berencana yang dilakukan oleh sekelompok pemuda geng motor di Cirebon.

Diproduksi Dee Company, film horor ini diangkat dari kisah nyata.

“Arwah Vina memberi petunjuk kepada polisi bahwa ini bukan kecelakaan lalu lintas di jembatan layang Cirebon. Tapi ini merupakan pemukulan dengan bambu dan batu atas pembunuhan dan pemerkosaan terhadap Vina yang masih berusia 16 tahun sehingga tubuh dan wajahnya remuk,” urai Anggy Umbara.

Anggy menambahkan setelah menonton film ini masyarakat bisa mengirim doa dan melafazkan Alfatehah terhadap almarhumah Vina.

“Paling banter film yang saya buat ini bisa jadi sarana agar ingat kembali peristiwa kelam yang menimpa Vina,” imbuh Anggy.

Dheeraj Kalwani, produser mengaku bahwa keluarga korban telah memberikan izin atas pembuatan film ‘Vina…” sehingga nantinya bisa mengungkapkan secara jernih dan tuntas menyangkut kasus Vina.

“Kita akan menggelar gala pemier di Cirebon secepatnya agar penonton di luar Jakarta bisa menikmati film ini,” harap Dheeraj Kalwani.

Lydia Kandou, aktris senior yang berperan sebagai nenek Vina berharap film ‘Vina…’ bukan semata sebagai hiburan tapi juga memberi manfaat bagi masyarakat.

Film ini bertaburkan sederet pemeran yaitu Nayla Purnama, Gisellma Firmansyah, Lydia Kandou, Farhad Haydra, Yusuf Mahardika, Pritt Timothy dan lain-lain.

Bagaimana mengungkap kebenaran yang menimpa Vina dan kejernihan para penegak hukum yang menimpa seorang gadis sederhana dan pacarnya yang dibunuh dan diperkosa beramai-ramai secara berencana ?

Tontonlah film yang diangkat dari kisah nyata ini ! (pik)

Jakarta Street Jazz Festival Diikuti 50 Musisi Jazz

JAYAKARTA NEWS — Mengadopsi konsep jazz di Amrik yang digelar di kawasan pinggiran kota besar, Jakarta Street Jazz Festival (JSJF) untuk pertama kalinya dihelat di kawasan Faletehan, Kelurahan Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (5/5/2024).

Berlangsung selama 10 jam dan dibuka pukul 7 pagi oleh Wakil Walikota Jaksel, Edi Sumantri, khalayak dan peminat musik jazz memenuhi tiga stage.

Meski udara panas terik dan membuat badan berkeringat, toh khalayak tak beringsut menyaksikan aksi panggung 50an musisi jazz lokal yang selama ini namanya tetap terpateri di hati mereka.

Suasana JSJF 2024 (foto ipik)

Ada Fariz RM & Anthology, Gugun & Blues Shelter, dr Tompi, Dwiki Dharmawan & Sandy Shondoro, Atiek CB, Rieka Roslan, Emil S Praja, Devian Zikri, Ermy Kullit, Kemala Ayu, Yuyun George, Funk Section (band pertama almarhum Glenn Fredly), Kelapa Muda, Barry Likumahuwa, Andien, Candy Luntungan dan Oele Pattiselano dan masih seabreg jazzer yang unjuk diri.

Sayang Jopie Item enggak bisa hadir karena sakit.

Atiek CB yang tampil bersama Devian Zikri tampil memukau. Atiek asal Kediri yang berciri khas selalu mengenakan kacamata hitam ini sudah 23 tahun mukim di AS. “Nanging boso Jowoku isih hafal. Bahasa Inggrisku jarang saya pakai,” canda Atiek yang logat Jawanya tetap medok.

Khalayak meminta lagu ‘Maafkan’ hitsnya Atiek. “Lho, iki piye. Maafkan iku dudu jazz. Tapi ora popo. Sing penting tetap goyang,” seru Atiek mengajak khalayak bernyanyi dan bergoyang bersama.

Sebuah nomor populer yang pernah dilantunkan Atiek berjudul ‘Terserah Boy’ (Catatan Si Boy 3) diapresiasi pas oleh khalayak. Iramanya jazzy dengan ramuan bumbu nada dan tiupan saxophone bernuansa unik.

Dwiki Dharmawan (foto jsjf)

Dwiki Dharmawan, keyboardis Krakatau kali ini unjuk penampilan bareng Sandy Shondoro Project.

Beberapa nomor populer seperti ‘Ondel Ondel’ dan ‘Ali Topan Anak Jalanan’ serta lagu ‘Gemilang’ milik Krakatau digebrak lewat vokal nyaring Sandy Shondoro.
Ditingkahi Dwiki Dharmawan yang piawai menekan tuts keyboard secara apik dan halus. Dan dilengkapi pukulan drum Filipus, petikan bas Victor dan liukan trumpet Ari Purba. Sebuah jam session yang solid dan matang.

Dwiki Dharmawan dan Sandy Shondoro menutup perhelatan JSJF yang diselenggarakan Liberty Production dan sponsor oleh Pertamina dan Walikota Jaksel ini.

See you again on 2025 ! (pik)

Diana Krall Sihir Khalayak Jakarta

JAYAKARTA NEWS— Mengusung tema ‘intimate’, dua jam penyanyi jazz dari Kanada, Diana Krall dari Kanada menyihir khalayak Jakarta di Ciputra Artpreneur, Sabtu (4/5/2024).

Membuka nomor lagu ‘Almost Like being in Love’, diiringi dua musisinya yang bertugas pada bas betot dan drum, Diana menyuguhkan nomor-nomor lawas yang jadi legenda.
Misalnya pada lagu-lagu Frank Sinatra, Nat King Cole, Natalie Cole, Billie Holiday dan sederet lagu lain.

Jari-jari lentiknya menekan tuts grand piano Streinway, Diana melantunkan lagu berikut ‘All of Nothing’ dan ‘Just You Just Me’ dengan rancak dan renyah. Hampir tanpa kesalahan kecil berarti.

Tak ketinggalan Diana juga menggebrak lagu milik Bob Dylan berjudul “Queen Jane Approximately’ dan nomor andalan Neil Young bertajuk ‘Mr Soul’ yang dikemas secara populer dan enak didengar.

Diana juga membawakan lagu ‘Route 66’ milik Nat King Cole yang jadi favoritnya.
Dan Diana menutup performanya dengan lagu “Almost Blue” yang syahdu dan menyentuh jiwa.

‘We want more’ teriak khalayak kompak.

Diana memenuhinya dengan lagu ‘Ophella’ dari The Band. “Thank You. Much love,” sapa Diana menghormat takzim dan sekejap kemudian, undur ke balik panggung.

Dengan harmoni dan vokal nan apik, sungguh tampilan Diana Krall menjadi contoh bagus buat penyanyi kita.

Sepanjang karirnya di ranah musik, Diana Krall telah mengantungi 8 album debut di tangga lagu Billboard dan menyabet 2 Grammy, 10 Juno Award, 9 album Gold dan 7 album multi platinum.

Walakin, Rajawali Indonesia selaku promotor sudah dua kali mengundang Diana Krall show di Indonesia : di Prambanan Jazz Festival 2022 dan ‘Diana Krall Live in Jakarta 2024’. (pik)

‘Temurun’: Bahagia atau Bencana

JAYAKARTA NEWS— Sinemaku Pictures bekerja sama dengan Legacy Pictures merilis official poster dan trailer film ‘Temurun’ berdurasi satu menit. Bocorannya adalah penonton akan tahu apa yang mengancam sepasang adik-kakak Dewi dan Sena yang hidup dalam keluarga pengusaha produksi daging.

Dewi dan Sena dikenalkan kepada nenek kandung mereka, Gayatri. Keduanya juga diberikan pekerjaan. Sena pada bagian produksi daging dan Dewi pada bagian administrasi. Namun, peristiwa menggemparkan terjadi. Sena menemukan tanda-tanda pesugihan iblis dan mencoba mengajak Dewi kabur.

Tapi Dewi menolak karena dibutakan oleh kehidupan barunya. Hingga akhirnya Dewi terperangkap dan ternyata ia dipersiapkan untuk ritual keluarganya sebagai wadah baru iblis yang ada di dalam nenek Gayatri.

Apa yang akan terjadi pada Dewi dan Sena?

Apakah keluarganya akan mendatangkan bahagia atau bencana?

“Bekerja sama dengan para aktor muda dan juga aktor senior memberikan pengalaman dalam film debut aku,” ujar sutradara Inarah Syarafina.

Dikatakannya, lewat film ini ia meramu cerita yang dekat dengan masyarakat dan percaya ada kekuatan dan energi dari para talenta muda.

Setali tiga uang dengan Prilly Latuconsina yang bertindak sebagai produser eksekutif. “Saya bersama produser Umay Shahab selalu mendorong keragaman genre dan subgenre di industri film Indonesia. Moga-moga suguhan warna baru dan segar yang memiliki kedekatan dengan masyarakat Indonesia ini bisa dinikmati film ini,” tutur Prilly Latuconsina.

Aktor Bryan Domani sebagai Sena mengaku senang bisa berperan di film ‘Temurun’. “Film ini memberikan saya dimensi baru dan ruang dalam keaktoran. Saya harus mendalami peran yang kompleks di ‘Temurun’ yang memiliki rahasia masa lalu yang enggak terungkap,” jelas Bryan Domani.

Produksi ketiga setelah ‘Kukira Kau Rumah’ dan ‘Ketika Berhenti Disini” (dua film drama buatan Sinemaku mendapat predikat blockbuster) ini akan tayang di bioskop mulai 30 Mei 2024 mendatang. (pik)

Memet Chairul Slamet Sukses Bermusik 24 Jam di ’24 Jam Menari’ ISI Surakarta

JAYAKARTA NEWS— Di usianya yang 66 tahun, Dr. Raden Chairul Slamet M.Sn,  akrab disapa Memet, berhasil menyelesaikan tantangan 24 jam bermain musik di kampus pusat ISI Surakarta.

Ia mengaku dukungan dari sahabat menjadi penyemangat baginya untuk dapat menyelesaikan tantangan bermusik selama 24 jam penuh mulai pada pukul 06:00 tanggal 29 April hingga 06:00 tanggal 30 April 2024. 

Dr. Memet dan 10 Pelaku 24 Jam lainnya menyajikan penampilan bersama di Panggung Teater Kapal, ISI Surakarta. Dokumentasi : Farrel

Selama 24 jam tersebut, kata Memet, ia tidak mengalami ganguan kesehatan sama sekali. Cek tensi yang dilakukan setiap 2 jam sekali menunjukan angka normal.

Rahasianya, hanya rajin minum air putih dan vitamin disela sela perhelatan. Makan rutin dan makanan ringan menjadi energi baginya. Tapi yang tak kalah penting adalah kehadiran para sahabat yang jadi energi positif baginya. Bertemu dengan orang dan menari bersama, adalah kegiatan yang menambah energi baginya.

Dr. Memet bersama Gangsadewa usai pementasan Orkes Musik Batu di Teater Besar ISI Surakarta. Dokumentasi : Farrel

11 Pelaku 24 Jam & 3.200 Penari

Hari Mulyatno selaku ketua pelaksana 24 Jam Menari menambahkan, event 24 Jam Menari kali ini mengangkat tema besar “SKENA MENARI” Tajuk “Skena” yang dimaksud dalam tema acara adalah Bersua, Bercengkrama, Berkelana. 

Acara 24 jam menari di ISI Surakarta dihadiri oleh 131 grup penari yang tercatat dengan jumlah penari lebih dari 3.200 penari. Akan tetapi, banyak grup penari yang tidak tercatat dan turut bergabung untuk ikut menari.

Dr. Memet cek tensi setiap 2 jam sekali, semua stabil. Dokumentasi : Farrel

Dibanding tahun lalu, acara peringatan Hari Tari Sedunia pada 2024 lebih meriah dan dihadiri lebih banyak orang. Salah satu penyebabnya karena tema skena menjadi pendekatan terhadap anak muda.

Sebanyak 11 Pelaku 24 Jam tersebut adalah; Djarot Budi Darsono (Solo), Ni Nyoman Yuliarmaheni (Solo), Dr. Tony Broer (Bandung), Tyoba Armey (Bandung), M Safrizal

(Aceh), Adi Putra (Jombang), Hany Sulistia (Bandung), Yuliana Menseses (Mexico) sebagai Penari 24 Jam, dan Dr. Memet Chairul Slamet (Yogyakarta), Nur Handayani (Solo), dan Misbahudin (Makasar) sebagai Pemusik 24 Jam.

Panitia menambahkan, konsep Pemusik 24 Jam baru tahun ini diselenggarakan, sebelumnya hanya ada penari 24 Jam. “Penari 24 jam ini juga orang spesialis yang studi tentang batu. Makanya, mereka juga sedang mempersiapkan untuk membuat program Ekspresi Batu,” ungkapnya.

Mengenai penari-penari ini, Hari menyebutkan bahwa “Penari memiliki ‘saudara’. Saudaranya adalah musik, maka terealisasikah tahun ini ada pemusik 24 jam,” jelas dosen di ISI Surakarta tersebut.***PR

‘Menjelang Ajal’: Akibat Bersekutu dengan Jin dan Pakai Penglaris

JAYAKARTA NEWS— Apa akibatnya jika seseorang bersekutu dengan jin? Sekar (Shareefa Danish) yang berjuang bersama tiga anaknya membuka restoran. Demi tekanan hidup di tengah persaingan dagang dan keputusasaan, Sekar bersekutu dengan jin.

Ini dilakukannya karena restorannya sepi tetamu yang datang. Pas ada pengunjung membeli nasi dan lauk harus dikembalikan karena basi.

Hilang akal dan putus asa, Sekar pakai penglaris. Ia melakukan perjanjian dengan roh jahat.
Akibatnya, satu keluarga menanggung beban harus menghadapi teror.

Sekar mengalami sekarat akibat dosa-dosanya di masa lalu. Dia mendapatkan siksa menjelang ajal. Kiai dan ustad didatangkan guna menghilangkan roh jahat yang memasuki tubuh Sekar, tapi tak mempan.

Sutradara Hadrah Daeng Ratu menegaskan aksi pesugihan dan penglaris ini kerap dilakukan di daerah. “Bahkan di kota besar pun, persaingan dagang antar pengusaha kian ramai. Dulu pernah didapati di sebuah resto besar di Jakarta menggunakan mayat orok di dapurnya sebagai penglaris,” cerita Hadrah Daeng Ratu yang sukses membuat beberapa film horor seperti ‘Sijjin’, ‘Makmun’ dan ‘Pemandi Jenazah’.

Penulis skenario Deni Saputra memaparkan biar di zaman modern pun banyak orang menggunakan penglaris seperti tuyul dan babi ngepet.

Shareefa Danish yang dijuluki Ratu Horor mengaku saat syuting dirinya kerap diganggu roh jahat yang gentayangan di dunia fana. “Semula saya bergidik dan dihinggapi rasa ketakutan luar biasa. Tapi setelah saya tekun membaca Ayat Kursi dan berdoa, saya jadi tenang dan roh jahat menghindar. Ini saya lakukan setelah saya berdiskusi dengan seorang kiai yang pandai,” tutur Shareefa Danish yang pernah terkenal dengan adegan memasak daging manusia di film ‘Rumah Dara’.

Produser Sunil Samtani dari Rapi Films menjelaskan film ‘Menjelang Ajal’ yang diproduksinya berdasarkan kisah nyata. “Saya enggak mau dibilang menjual pesugihan lewat film ini. Toh ‘Menjelang Ajal’ lolos sensor LSF tanpa secuil adegan yang digunting,” urai Sunil Samtani.

Rapi Films pernah sukses membikin film ‘Sundel Bolong’ yang kala itu diproduseri Gope Samtani.

Produksi Rapi Films bekerjasama dengan Sky Media, Legacy Pictures dan Rhaya Flick mendaftarkan film ini dan siap tayang di bioskop 30 Maret 2024.

Selain Shareefa Danish, ‘Menjelang Ajal’ juga disesaki sederet pemeran seperti Daffa Wardhana, Catlin Halderman, Ruth Marini, Shakerl Fauzi dan MN Qomaruddin. (pik)

The Architecture of Love’: Memberikan Kehangatan yang Romantis dan Getir

JAYAKARTA NEWS— Ternyata, Paris bukan kota cinta. New York yang dipenuhi gedung jangkung pencakar langit, juga kota cinta. Tidak percaya ?

Diadaptasi dari novel best seller karya Ika Natassa, sutradara Teddy Soeriaatmadja mengangkat kisah romansa ini ke film. Berjudul sama yaitu ‘The Architecture of Love’ (TAOL), mengikuti kisah Raia (Putri Marino) dan River (Nicholas Saputra).

Dalam kesendirian dan keputusasaan seorang penulis best seller yang tak lagi mampu menulis, Raia memutuskan terbang ke New York mengejar inspirasi. Kota ini mempertemukannya dengan River, arsitek dari Jakarta yang misterius.

Perjumpaan ini menjadi awal pertemanan ‘rahasia’ di antara keduanya, meski ada bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak.

River dan Raia sama-sama punya tragedi yang menjadikan mereka jiwa-jiwa kesepian. Mereka bisa saling menyembuhkan tapi bisa juga saling melukai. “Kehadiran Nicholas Saputra dan Putri Marino dalam satu layar merupakan momen spesial. Keduanya mampu menerjemahkan dua karakter dari cerita yang ada didalam skenario. Film ini juga kerja kolaborasi antar sineas dua negara, Indonesia dan Amerika,” terang Teddy Soeriatmadja.

“Dua kru dua negara ini menyajikan kehangatan yang romantis dan getir melalui lanskap arsitektur New York,” imbuh Teddy.

Penulis Ika Natassa menjelaskan, film TAOL benar-benar melampaui ekspetasi dirinya.
“Duet Nicholas Saputra dan Putri Marino di sini benar-benar magis. Usai diaduk-aduk selama mengikuti jalinan ceritanya timbul rasa hangat dan rindu di hati untuk cepat-cepat menonton lagi. Itu yang saya rasakan. Ibarat jatuh cinta, film ini bikin kangen dan rindu,” kata Ika Natassa.

Nicholas Saputra yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur mengungkapkan, perannya sebagai River tetap mengacu pada karakterisasi yang ada di skenario dan juga karakter di dunia ceritanya.

“Saya sangat terbantu oleh arahan mas Teddy Soeriatmadja guna menghidupkam sosok River di depan layar. Bersama Putri Marino, sosok berbakat dengan kualitas akting dan etos kerjanya yang baik tentu pengalaman yang membuat saya belajar tentang banyak hal baru,” kata Nicholas Saputra.

Putri Marino sama. “Menonton film ini membuat saya deg-degan tapi sekaligus haru,” tambah Putri Marino.

Produser Starvision, Chand Parwez Servia mengakui hal yang sama. “Penonton akan diajak mengikuti dinamika yang terjadi diantara dua jiwa yang sebenarnya sama-sama menjalani trauma dengan kesepiannya di kota New York,” tutur Chand Parwez Servia.

Selain dibintangi Nicholas Saputra dan Putri Marino, TAOL juga juga dimeriahkan Jerome Kurnia, Jihane Almira, Omar Daniel, Refal Hady, Agla Artalidia, Arifin Putra, Lydia Kandou, Willem Bevers, Jeremie J Tobing dan Imelda Therinne.

TAOL akan menghangatkan hati penonton mulai 30 April 2024. (pik)

‘Harta Tahta Raisa’: Film Dokumenter Menyelami Perjalanan Raisa di Industri Musik

JAYAKARTA NEWS— Raisa Andriana adalah biduanita Indonesia yang pertama menggelar konser tunggalnya di panggung GBK. Spektakuler dam megah. Khalayak membludak.

Dalam film dokumenter bertajuk ‘Harta Tahta Raisa’ yang disutradarai Soleh Solihun, kisah perjalanan Raisa di industri musik Indonesia pun terkuak. “Ketika khalayak menyaksikan film ini di bioskop, akan ada banyak kisah yang belum pernah terungkap,” lontar Soleh Solihun yang mantan jurnalis musik majalah Rolling Stone versi Indonesia dalam acara peluncuran official poster dan trailer berdurasi 2 menit 13 detik di Jakarta, baru-baru ini.

Produksi Imajinari dan Juni Records ini menarik ke belakang refleksi perjalanan karir sang diva muda dengan menghadirkan orang-orang yang menjadi sistem pendukungnya. Termasuk, manajer dan CEO Juni Records Adryanto Pratono (AdryBoim), orangtua Raisa dan sosok-sosok yang bekerja dekat dengan Raisa.

Raisa mengemukakan, hadirnya film dokumenter ini menjadi pengalaman baru. “Aku bersama Juni Records selalu memikirkan membuat karya-karya baru. Pasca konser di GBK tahun silam, tentu banyak yang menanti gebrakan apa lagi yang akan dikeluarkan,” ucap Raisa lugu.

Film ini akan tayang di jaringan bioskop Indonesia pada 6 Juni 2024.

Raisa adalah biduanita Indonesia yang hingga saat ini terus mengalami pertumbuhan.
Sedangkan official poster ‘Harta Tahta Raisa’ menyajikan visual elegan dengan nuansa merah dan sosok Raisa mengenakan gaun berwarna merah dengan aksen bunga. Tampak anggun.

“Saya berharap film ini bisa menjadi persembahan yang juga akan menjadi catatan baru dalam industri musik kita,” pungkas Soleh Solihun. (pik)

‘Siksa Kubur’ dan ‘Badarawuhi’ Saling Kejar setelah Raih BO

JAYAKARTA NEWS— Sampai hari kelima tayang, dua film nasional yaitu ‘Siksa Kubur’ dan Badarawuhi di Desa Penari’ memperoleh Box Office (BO, meraih di atas 1 juta penonton). Dan hingga kini, Siksa dan Badarawuhi masih main di ratusan layar seluruh Indonesia.

‘Siksa Kubur’ karya ke 10 sutradara Joko Anwar alias Jokan menggaet 1.401.717 penonton sedangkan ‘Badarawuhi’ meraih 1.600.000 penonton.

Karya Jokan ini memang ceritanya sulit ditebak dan di beberapa scene terselip plot twist dalam plot twist.

Merupakan perkembangan imajinasi personal Jokan setelah versi film pendeknya dengan judul sama dirilis 2012. “Sambutan film itu luar biasa. Karena dianggap sebagai film pengingat,” ujar Jokan.

Setelah 11 tahun, Jokan bersama produser Tia Hasibuan menggali lebih dalam isu tersebut dan mengembangkan jadi cerita bersama. “Memang keduanya (kejadian di film pendek dan pengembangan di film bioskop) berhubungan erat. Masih ada benang merahnya,” tutur Jokan.

Dibintangi seabreg pemeran yang banyak di antaranya meraih 51 piala Citra. Ada Reza Rahadian, Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Niniek L Karim, Arswendy Bening Swara, Happy Salma, Fachri Albar, Putri Ayudya, Muzakki Ramdhan, Faradina Mufti, Widuri Puteri dan masih banyak lagi.

Aulia Sarah di film ‘Badarawuhi di Desa Penari’ (foto MD)

Sementara film ‘Badarawuhi di Desa Penari’ karya sineas Kimo Stamboel lebih tepat disebut ‘reboot’ (pengulangan) dan bukan prekuel.

Berdurasi 122 menit, berkisah tentang kemunculan kembali siluman ular Badarawuhi di sebuah desa penuh misteri di tengah hutan.

Penuh misteri dan ketegangan. Terlebih lagi saat diputar dengan sistem Imax, banyak penonton menjerit dan ketakutan.

Penguasa desa penari melakukan teror tak berkesudahan terhadap empat pendatang dari kota.
“Saya dicekam kengerian saat syuting di sebuah hutan di Banyuwangi. Bayangkan. Saya nyemplung didalam kolam yang banyak ularnya. Kalau cuma seekor, enggak masalah. Tapi ini puluhan ular. Walau ada pawangnya yang berdiri didekat saya, ini benar-benar luar biasa,” cerita Aulia Sarah yang berperan sebagai Badarawuhi.

Berdasar cerita dari Simple Man yang kemudian skenarionya ditulis oleh Lele Leila, ‘Badarawuhi’ di meriahkan segerobak aktor berbakat seperti Jourdy Pranata, Maudy Effrosina, Aming, Ardit Erwandha, Dinda Kanya Dewi dan Claresta Taufan. (pik)

Janda Tommy Soeharto Pacaran sama Aktor Tampan Hollywood

JAYAKARTA NEWS— Setelah cerai dengan Tommy Soeharto (anak bungsu Soeharto), Tata Cahyani bermukim di Singapura. Ketika syuting film ‘Wayang Boy’ yang berbahasa Mandarin, Tata bertemu dengan Robert (Bobby) Tonneli Jr yang juga ikut main dalam film tersebut.

Witing tresna jalaran saka kulina. Pepatah berbahasa Jawa ini menyambar hati Tata.
Gayung bersambut. Bobby pun merasakan hal yang sama.

Hampir 8 tahun mereka pacaran dan netizen mendoakan agar mereka segera menikah.
Tata yang bernama lengkap Raden Ayu Ardhia Pramesti Regita Cahyani Soerjobandoro ini sejak berstatus janda beranak dua, menjalani karir di kota singa.

“Semasa muda, saya aktif bermain bisbol. Ketika bahu cedera dan direhabilitasi, saya banting setir terjun ke industri fashion,” ujar Bobby yang juga berprofesi sebagai model, DJ radio, host tv dan aktor film.

Aktor tampan kelahiran Las Vegas, Nevada, AS (48 tahun) ini sudah kerap bermain dalam sederet film di Hollywood. Di antaranya ‘Cages’, ‘Running Red’, ‘No Tomorrow’, ‘The Darwin Conspiracy’ dan serial TV untuk Singapura.

Ia belajar seni akting pada pelatih akting terkenal di AS seperti Ivana Chubbuck, Howard Fine dan John Holma. Bobby juga menekuni dunia fashion. “Karir ini menjanjikan. Saya tour Asia Tenggara bersama merk-merk ternama seperti Donna Karan, Versace, Levi’s dan Louis Vuitton,” tulis Bobby di akun Instagram nya.

Di Singapura, Bobby lebih menemukan titik balik bakat seni perannya. Di channel 8 ia membintangi film pendek berjudul ‘The Little Nyonya’ dan di channel 5 sukses berperan di film ‘Fajar Ramadhan’ dan ‘Ummi musim 2’.

Lebaran tahun ini, Bobby berkirim ucapan Selamat Idul Fitri kepada kekasihnya, Tata.
Sejak lama mukim di Singapura, Bobby belajar bahasa Indonesia dan bahasa Melayu. Ia juga fasih bahasa dasar Mandarin.

Tata merayakan Lebaran di Singapura bersama dua anaknya, Darma Mangkuluhur dan Gayanti Hutami (hasil pernikahannya dengan Tommy Soeharto).

Lalu, kapan jadiannya nih ? (pik)