Paku Tanah Jawa: Urban Legend tentang Manusia Bercumbu dengan Siluman Ular

JAYAKARTA NEWS— Kisah urban legend yang terjadi di Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah diangkat ke ranah film. Diproduksi Armani Entertainmen dari Malaysia dan Loop Entertainmen dari Indonesia membuat film horor berjudul ‘Paku Tanah Jawa’ yang disutradarai Bambang Driaz.

Kisahnya tentang ilmu pesugihan yang dilakukan oleh seorang sinden bernama Handini yang lihai menari dengan goyang mistisnya. Agar sanggar tarinya laris ia melakukan perjanjian gaib dengan pada Kanjeng Semanu, pimpinan sekte sesat di Gunung Tidar.

Syaratnya: ia harus mempersembahkan tumbal seorang laki-laki kepada penguasa kegelapan.
Handini yang menjadi titisan siluman ular harus bercumbu dengan laki-laki yang jadi tumbal.
Kali ini giliran Jalu, seorang pemuda tampan yang sebenarnya jatuh hati pada Ningrum, putri Handini.

Melihat ibunya yang melakukan ritual sesat, Ningrum meminta bantuan pada seorang Kiai yang memberikan tombak sakti yang mampu memusnahkan iblis yang merasuki badan Handini.

Syuting di Jogjakarta yang dikenal dengan adat istiadat dan budaya kejawen nya yang sangat kental, Masayu Anastasia yang berperan sebagai Handini harus bisa menjaga emosi.

“Saya wajib nenurunkan berat badan 6 kg n belajar menari yang waktunya cuma sehari,” tutur Masayu yang kali ini come back lagi ke dunia film.

Itu tak seberapa. Yang lebih mengerikan adalah Masayu harus mau memegang puluhan ular berbisa yang diawasi seorang pawang ular. “Awalnya saya takut dan ngeri. Lama kelamaan jadi terbiasa, dan ketempelan” papar Masayu polos.

Demikian juga lawan mainnya, Wanda Saifan yang berperan jadi Jalu, pemuda ganteng yang jadi tumbal pesugihan. “Saya sempat ragu dan mau menolak. Juga, isteri lagi hamil. Tapi saya berpikir kapan lagi saya dapat peran bercumbu dengan penari siluman ular. Meski selama syuting saya diganti pemeran pengganti,” jelas Wanda Saifan.

Toh berkat totalitas seni peran yang mumpuni, akting Wanda Saifan dipuji sutradara.
Pemeran lain adalah Wanda Hamidah, Giselma Firmansyah, Ismi Melinda, Badriyah Afiff, Bedu, Landung Simatupang, Pritt Timothy, Rendra Bagus Pamungkas dan dua aktor Malaysia yaitu Mk.K Clique dan Hafisudin.

“Saya ridho dan pasrah karena saya takut sama ular. Bahkan saya mati karena leher saya dililit ular,” aku Mk K Clique.

Sebaliknya Hafisudin enggak ada adegan sama ular. “Aku bersyukur enggak ada adegan dengan ular. Seperti mimpi di siang bolong,” ungkap Hafisudin.

Produser Datuk KK Chua mengaku penonton di negara jiran Malaysia masih menyukai film bergenre horor dan mistik dari Indonesia.

“Kami yakin cerita horor sangat dekat dengan kita. Budak-budak di Malaysia gemar cerita macam ini. Mungkin selepas film ini tayang di pawagam (bioskop), kami punya niat membuat sekuel 2. Moga doa kami diaminkan,” urai Datuk KK Chua.

Di Indonesia, ‘Paku Tanah Jawa’ lolos untuk 13 tahun ke atas oleh LSF dan beredar di seluruh Indonesia Kamis (6/6/2024). Sedangkan tayang di Malaysia bulan Juni 2024 juga. (pik)

Tony Wenas Siapkan Konser ‘The Piano Man’

JAYAKARTA NEWS— Musikus Clayton Allen Wenas alias Tony Wenas (62 tahun) saat ini sedang berlatih intensif untuk konser tunggal bertajuk ‘Tony Wenas The Piano Man’ di Ballroom Jakarta Theatre, Jakarta, 7 Juni 2024.

Konser ini adalah pencapaian puncak dari perjalanan karir musikal Tony Wenas selama lebih dari 40 tahun. DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) selaku penyelenggara memastikan semua berjalan lancar.

“Saya mau tampil dalam konser ini sebagai hormat saya pada perjuangan PAPPRI di seluruh Indonesia agar kita selain jago kandang juga kelak akan jago tandang,” kata Tony Wenas.

Di tengah kesibukannya sebagai Presdir PT Freeport Indonesia, Tony yang lulus sebagai Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia masih tetap mengasah musikalitasnya sebagai gitaris di band Solid 80.

Dia juga lihai memetik gitar dan menggebuk drum.

Dalam konser tunggal ini, dia akan kolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, Krisna Prameswara, Once Mekel, Ruth Sahanaya, Eka Deli, Lilo KLA, Kadri Mohamad, Rio Sidik, Rega Dauna, Tantowi Yahya dan MC Kamidia Radisti. Dan Solid 80 sebagai band yang mengawali karir Tony Wenas akan unjuk diri.

Dalam industri musik Indonesia, kiprah dan sepak terjang Tony Wenas dimulai tahun 1980. Di FH UI, bersama rekan-rekannya se kampus, dia membangun grup musik bernama Solid 80.
Kala itu, Solid 80 acap menggebrak lagu-lagu The Beatles, Earth Wind and Fire dan jadi band epigon Queen.

“Saya masih ingat saat pertama kali menyanyikan lagu ‘Bohemian Rhapsody’ masterpiece Queen di Studio 5 RRI secara live on air,” paparnya.

Tony yang multi talenta ini juga bergabung dengan Fariz RM dalam Symphony.
Tahun 1981, dia menjadi keyboardist Makara (Mahasiswa Karatan) dan Hookerman dan Prasakti.

Tony juga bersama Deddy Dhukun dan Mus Mujiono unjuk diri di band Gentlemen
Tampil di Prambanan Jazz Festival, 2023.

Dengan sponsor utama Pertamina dan BNI, Konser tunggal Tony Wenas The Piano Man akan berdurasi sekitar dua jam dengan 20an lagu. “Kami juga merencanakan merancang akan menghelat konser serupa di beberapa kota besar lainnya di Indonesia,” pungkas Ketua Humas PAPPRI, Buddy Ace. (pik)

‘Saat Menghadap Tuhan’: Kegelisahan Rudi Soedjarwo

JAYAKARTA NEWS— Setelah ‘Primbon’ dan ‘Sayap Sayap Patah’, sineas Rudi Soedjarwo tancap terus. Bersama PH baru rintisannya, ReXcorp, Rudi merilis film bergenre drama bertajuk ‘Saat Menghadap Tuhan’ (SMT) mulai 9 Juni 2024.

Ide cerita film ini merupakan cermin kegelisahan yang muncul dari pengalaman pribadi Rudi yang kemudian ia kembangkan dan tulis naskahnya dengan Djemima.

“Saya berangkat dari premis yang cukup sederhana: dari sekian banyak tindak kekerasan traumatis yang acap menimpa remaja, siapa yang paling bertanggung jawab melindungi dan membimbing mereka?” Tanya Rudi.

SMT yang keempat tokoh protagonisnya diperankan oleh empat aktor dan aktris baru dan berbakat, patut direnungkan alur ceritanya bagi semua pecinta film Indonesia. Mengingat dari rekam jejaknya, film-film Rudi kerap menjadi batu loncatan bagi para pelakon muda berbakat, yang di kemudian hari berhasil berkembang menjadi aktor dan aktris papan atas.

SMT bersentral pada kisah empat remaja dengan masalahnya masing-masing, namun disatukan oleh tali kenestapaan yang sama: penyesalan. Tiap kisah dari keempat protagonis ini mewakili satu isu yang jamak ditemui di tengah masyarakat saat ini.

Boleh dikata SMT adalah karya artistik dan sisi estetika yang rapi dari 25 tahun film-film Rudi Soedjarwo.

Satu hal yang selalu konsisten dilakukan Rudi sejak film pertamanya ‘Bintang Jatuh’ di tahun 1999, tak luput ia ulang lagi di SMT yaitu meng-highlight aktor-aktris baru.

Lihatlah seni peran Rafi Sudirman, Abielo Parengkuan, Denisha Wahyuni, Dede Satria, Cindy Sebastiani, Gilbert Pattiruhu, ditambah pemunculan kembali Poppy Sovia dan Aryani Willems.

“Kenikmatan dan kepuasan saya bikin film adalah bila mampu melahirkan manusia-manusia baru yang berbakat, baik di depan layar maupun di belakang layar dalam film saya. Jadi karya saya bukan hanya filmnya, tapi juga manusia yang terlibat dalam pembuatannya. Hal itu yang membuat semua jadi layak diperjuangkan,” pungkas Rudi Soedjarwo. (pik)

‘How to Make Millions before Grandma Dies’: Cucu, Nenek dan Kematian

JAYAKARTA NEWS— Sebuah film Thailand berjudul ‘Lahn Mah’ (Cucu Nenek) berhasil menyedot jutaan penonton ketika diputar di bioskop CGV di seluruh Indonesia.
Dalam 11 hari saja, mengumpulkan 1. 3 juta penonton.

Diedarkan oleh Flix Film (kini masih bisa dilihat di aplikasi Flix Film) film ini berganti judul menjadi ‘How to make millions before grandma dies’, mengisahkan tentang cucu, nenek, harta warisan dan kematian. M (Billkin Puthipong) rela berhenti bekerja guna merawat neneknya di rumah yang terkena kanker stadium empat.

Semula, M punya niat terselubung. Dia punya misi sebagai cucu kesayangan agar dapat warisan. Melihat sepupunya, Mui menjadi pewaris warisan setelah merawat kakeknya. Hati M bergejolak. Dia melihat arti keluarga yang lebih hakiki lebih dari sekedar uang.

Sutradara film ini, Pat Boonnitipat (33 tahun) yang khusus datang ke Jakarta kagum melihat sambutan penonton yang begitu hangat di bioskop di Indonesia.

“Perasaan saya campur aduk. Saya layaknya seperti bintang. Saya mestinya berada di balik layar. Saya mengucapkan terima kasih,” ucap Pat Boonnitipat sumringah dan berjanji akan melibatkan bintang Indonesia dalam produksinya mendatang asal cerita dan karakternya pas.

Pat mengaku memakai Google translate untuk membaca pendapat penonton Indonesia.
‘Lahn Mah’ adalah film Thailand terlaris dalam sejarah perbioskopan di Indonesia dan menggaet show terbanyak.

Pat memaparkan beberapa kendala dalam adegan pamungkas melepas kepergian neneknya di pemakaman. “Tampaknya mudah. Tapi secara teknis sulit sekali,” aku Pat polos.

Dana produksi terbatas. Padahal peralatan yang ada enggak mencukupi. Crane pendek.
Saat adegan berlangsung, muka tanah kuburan enggak rata.

“Pas kipas angin besar untuk menciptakan angin buatan menerbangkan taburan bunga sehingga bunga jatuh berantakan. Adegan terakhir ini disyut sampai 13 kali. Dan saat saya kelelahan, saya teriak cukup !” pungkas Pat mengakhiri bincang-bincang dengan penonton di CGV Grand Indonesia. (pik)

Fahad Haydra: Pemeran Egi di ‘Vina Sebelum 7 Hari’

JAYAKARTA NEWS— Pemeran Anies Baswedan di film ‘Anies Senyum Manies: Love Story’ belakangan lagi viral dimana-mana. Pasalnya, aktor tampan Fahad Haydra ini didapuk sutradara Anggy Umbara memerankan sebagai Egi di film ‘Vina Sebelum 7 Hari’ yang meraih hampir 4 juta penonton di seluruh Indonesia (sejak tayang pertama 4 Mej 2024).

“Saya jadi sosok antagonis. Pentolan geng motor di Cirebon dan tokoh kunci serta dalang yang membunuh dan memerkosa Vina yang masih berusia 16 tahun.

Enggak risi jadi pemerkosa? “Ini kan film yang diangkat dari kisah nyata yang terjadi 8 tahun silam di Cirebon,” ungkap Fahad.

Nyatanya, Egi dan 2 rekannya belum tertangkap dan bebas berkeliaran di luar. “Buat Egi, lu cemen bro. Kalau misal lu emang laki, setelah film ini tayang kalau lu berani lu muncul,” tulis Fahad di akun Instagramnya.

Anak bungsu dari 4 bersaudara yang dilahirkan 24 September 2001 ini sempat viral di TikTok melakukan dance cover tahun 2020. Kala itu, Fahad mengenakan seragam SMA yang ditonton 3, 7 juta kali.

Lalu dia bermain sebagai Felix di serial televisi berjudul ‘Dari Jendela SMP’. Kini, mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta jurusan Hubungan Internasional ini tergabung dalam Baetz Management dan punya usaha kuliner.
Selagi masa remaja, sudah berbisnis, bro ! (pik)

‘BNI Java Jazz Festival’: Kolaborasi adalah Kunci

JAYAKARTA NEWS— ‘BNI Java Jazz Festival” ke 19 tahun ini datang lagi. Mengusung tema ’embracing unity through Music’, JJF akan digebrak di JIExpo Kemayoran, Jakarta selama 3 hari: 24, 25 dan 26 Mei 2024.

Dengan 11 panggung dan 300an artis musik lokal dan internasional, mereka akan unjuk kepiawaian bermusik di hadapan khalayak musik jazz. Sebanyak lebih 100 kali tontonan musik akan dihelat.

“JJF memberikan standar baru perayaan musik dengan mempersatukan perpaduan ekletik dari berbagai genre musik. Ini event luar biasa,” jelas Direktur Utama Java Jazz Production, Dewi Gontha dalam konperensi pers di Gedung BNI, Jakarta, baru-baru ini.

Dewi Gontha menekankan kekuatan kolaborasi adalah kunci. Alhasil, selama 3 hari itu, akan ramai kolaborasi antara jazzer lokal dengan jazzer mancanegara. Lihatlah Leo Amvedo berjam session sepanggung dengan Sri Hanuraga, Kevin Yoshua dan Elfa Zulham.

Di sisi lain, Ruth Sahanaya tampil enerjik sepanggung dengan Teddy Adhitya dan Teza Sumendra.

Ada juga Marcell Siahaan berkolaborasi dengan Oslo Ibrahim dan Teza Sumendra.
“JJF adalah sakral dan universal melampaui batas budaya n grografis,” kata Marcell yang unjuk diri dengan 2 lagu dalam konperensi pers.

Belum lagi Erwin Gutawa mempersiapkan diri tampil mengenang mendiang Januari Christy.
Ada juga Bebi Romeo, Warna, Andien, The Rollies, Marcello Tahitoe, Indro Hardjodikoro featuring Indra Qadarsih, Project Pop, Ananda Badudu, Nadhif Basalamah, Ardhito Pramono, Raffi Sudirman, Suara Kayu, Rahmania Astrini, Tompi, Sandy Shondoro, Dua Empat, KSP Band, Barry Likumahuwa, Bilal Indrajaya, Eddie Benyamin, Salma Salsabil, Afgan, Maliq d’Essential dan masih seabreg jazzer lokal yang siap berkolaborasi.

Sedangkan penyanyi internasional yang unjuk diri diantaranya Casiopea, Snoh Aillegra, Laufey, Incognito, Coldiac, Caste, Ron King, Kurosuke, Yakul, Rocky Montgomerry dll.
Sebagaimana diungkapkan Dewi Gontha, dirinya merasa bangga dan gembira JJF ke 19 tahun ini bisa terselenggara dengan penuh perjuangan dan berdarah-darah.

Memang, tanpa adanya sponsor, JJF mungkin kurang greget. Ada BNI, Pertamina, BMW, Teh Botol dan lain-lain. “Melalui JJF ini kita mendorong kebersamaan dan mempersatukan berbagai kalangan via bahasa musik yang universal,” timpal Dewi Gontha.
Klop ! (pik)

Devano Danendra: Tertantang Berbahasa Jawa Medok dalam Film Horor

JAYAKARTA NEWS— Anak ke dua pedangdut Iis Dahlia dan Satrio Dewandono (pilot), Devano Danendra (21 tahun) ditugaskan sutradara Sidharta Tata berbahasa Jawa medok dalam film horor ‘Malam Pencabut Nyawa’ (MPN).

“Meski saya berasal dari Indramayu, saya tertantang belajar dialek Jawa medok,” ujar Devano yang berperan sebagai Respati.

Beruntung selama workshop ia dikelilingi kru asli Jawa. “Saya disupport benar. Juga, sosok Respati itu insomnia alias kurang tidur. Jadi ya harus mengurangi masa tidur agar pas mendekati orang yang insomnia. Peran Respati harus totalitas,” tutur Devano blak-blakan.

Film produksi Base Entertainment akan tayang di Indonesia 22 Mei 2024. Selain itu, MPN juga akan diputar di 10 negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, Vietnam, Taiwan, Mongolia, Rusia dan beberapa negara lain.

Mengawali karir sebagai model dan biduan, Devano akhirnya terjun ke ranah film. Sebuah lagu pop ciptaannya bertajuk ‘Surat Hati’ sukses dirilis Agustus tahun silamDi luar profesinya,

Devano pernah berpacaran dengan Naura Ayu, putri Nola (B Three). Setelah 3 tahun, putus. Mereka berseteru gegara lagu. “Namun, kami tetap bersahabat dalam proyek yang sama,” kilah Devano yang kini pedekate dengan aktris Baila Fauri.

Toh Devano deras menghadapi cercaan dari netizen. Hingga Devano kala itu berniat mundur dari dunia hiburan.

Melihat kondisi psikis anaknya drop, Iis Dahlia memberi nasehat. “Hal itu terbiasa dialami seorang artis. Ghibah (gosip) dan cercaan itu anggaplah angin lalu,” hibur Iis Dahlia.

“Sesibuk apa pun syuting, jangan lupa pulang. Tolong tengokin mama, anak manis,” pungkas Iis Dahlia. (pik)

‘Batuan Etnic Fusion’ Gebrak Artoz

JAYAKARTA NEWS— Musikus jazz asal Bali, I Wayan Balawan lebih terkenal di mancanegara daripada di Indonesia.

Lulusan Australian Music Institute ini studi musik dan mendapat bea siswa di Australia selama tiga tahun dan kerap melanglang ke beberapa negara bersama kelompok Batuan Etnic Fusion yang dibentuknya seperti ke Singapura, Korsel, Belanda, Amerika, Jepang, Kuba, Uzbekistan dll.

“Balawan konsisten membawa jazz ke pentas dunia,” kata beberapa pengamat musik.
Malam itu, bersama Batuan Etnic Fusion, Balawan menggebrak Artoz, kafe di Energy Building, Jakarta milik pengusaha Arifin Panigoro.

“Kami sudah lima kali ganti paspor karena kerap main di luar negeri,” tutur Balawan, suami Gusti Ayu Kamaratih dan ayah seorang anak ini.

Balawan dan gitar double neck (foto keluarga)

Balawan memang tersohor berkat teknik ‘touch tapping’ dan memainkan gitar double neck.
Energi Balawan meletup bahkan turun panggung dan duduk sembari memainkan gitarnya di sebelah khalayak jazz di Artoz.

Sementara 6 musisi Batuan tetap bergairah mengolaborasi musik jazz dengan musik pentatonik Bali yaitu gamelan Gangsa dan kendang. Nadanya sangat dinamis. “Gamelan gangsa bisa memainkan 17 nada dalam 1 menit. Instrumen ini lihai berganti nada dasar untuk menyesuaikan dengan lagu yang akan kita mainkan,” ungkap Balawan yang dijuluki ‘crazy player’ dari Pulau Dewata.

Dua guest star malam itu adalah Jyesta Balawan dan Reyhan alias Reyharp yang memainkan mini harmonika secara apik.

Jyesta Balawan, anak Balawan yang berusia 8 tahun melantunkan ‘Spain’ dari Chick Corea dengan apik. Like father like son.

Sebuah nomor pop ‘Semua Bisa Bilang’ dibawakan dengan harmoni dan irama jazz yang kental dan bernyawa. Khalayak diajak menyanyi dan bergoyang bersama.

Satu hal yang perlu diberi punten tinggi dari Balawan adalah rekam jejak dan perjuangannya yang tak kenal lelah adalah dia pandai meramu dan mengolaborasikan musik tradisi/musik etnis Bali dengan musik diatonik (jazz) Barat.

“Musik etnik dari daerah enggak kalah dibanding musik Barat. Generasi milenial kita harus bangga musik pentatonik gamelan. Jangan lupakan itu !,” pungkas Balawan berapi-api.

Tunggu saja kehadiran performa Batuan Etnic Fusion di event lain atau mungkin akan sepanggung dengan Trisum (3 B yaitu Budjana, Balawan dan Bontot Tohpati).
Wait and see ! (pik)

‘Do You See What I See’: Kisah Cinta Manusia dan Pocong

JAYAKARTA NEWS— Film genre horor paling diminati di Indonesia. Semua jenis dan nama setan hasil rekaan orang Indonesia marak. Ada jailangkung, kuntilanak, pocong, sundel bolong, wewe gombel, hantu bangku kosong terus dibikin yang bikin bergidik penonton.

Kali ini, sutradara Awi Suryadi setelah sukses dengan ‘KKN di Desa Penari’, meluncurkan film terbarunya bertajuk ‘Do You See What I See’.

Diangkat dari podcast ke 64 ‘First Love’, film produksi MD Pictures ini diakurasi oleh Mizter Popo (Rizky Ardi Nugroho) yang ceritanya kemudian ditulis Lele Laila.Syuting selama 22 hari dan kelar Juli 2023 dan kini siap beredar 16 Mei 2024.

Cerita film ini berbeda dibanding film lain.

Di sebuah kost, Mawar mengumumkan kepada Vey, rekan se kostnya, ia punya pacar bernama Restu. Anehnya, pacarnya selalu datang ke tempat kostnya pukul 10.30 malam.
Vey curiga. Diam-diam ia mengintip dari lubang kunci apa yang terjadi di dalam kamar kost Mawar.

Vey terkejut. Ternyata Mawar sedang bermain asmara dengan hantu pocong. Ini sesuatu yang tak masuk akal dan diluar nalar.

Kecurigaan Vey beralasan. Suatu hari, ia menerima pesan dari Melati (adik Mawar) bahwa keluarganya ada yang wafat tidak wajar. Bahkan, kakaknya jadi korban. Melalui perjuangan yang berat, dibantu teman-temannya se kost, malam hari saat hujan lebat, mereka menggali kuburan Restu.

Diandra Agatha yang berperan sebagai Mawar mengaku kedinginan saat tidur di liang kubur.
“Ini scene terberat yang aku alami. Syuting enam hari. Setiap menjalani syuting berasa lebih lama,” ujar Diandra Agatha.

Shenina Cinnamon bercerita ketika membaca naskah, ia sudah takut. “Recorder yang aku pegang nyala sendiri. Padahal aku matiin. Syuting di kuburan enggak ada peristiwa yang menakutkan. Tapi syuting di gudang kosong buat kost, benar-benar bikin bergidik. Suasana gelap dan lampu mati,” tutur Shenina Cinnamon.

Yesaya Abraham yang jadi Alex juga sama. “Aku tadinya enggak percaya. Tapi ini terjadi. Di luar akal sehat,” jelas Yesaya Abraham.

Manoj Punjabi selaku produser MD Pictures mengaku pihaknya selama ini terus mencari cerita-cerita horor yang berkualitas dan berbeda. “Ceritanya sulit tertebak. Ini kalau diangkat ke film, pasti akan diterima penonton. Karena kisahnya viral,” urai Manoj Punjabi.

Film ‘Do You See What I See’ juga dibintangi Sonia Ayssa, Sarah Felicia dan Jessica Shaina. (pik)

‘Possesions’ Kerasukan: Art Film yang Penuh Plot Twist

JAYAKARTA NEWS— Remake dari film Perancis berjudul ‘Possesions’ karya Andrzej Zulawski tahun 1981, kali ini dibuat ulang oleh sutradara Robby Ertanto Soediskam dengan seting dan cerita yang sedikit berbeda.

“Ketika saya ditawari Falcon Black, saya setuju. Possesions adalah tontonan wajib saat saya kuliah di IKJ,” terang Robby Ertanto.

Kemudian, dia mengontak Lele Laila untuk menulis skenarionya. “Semula saya ragu menulis ceritanya. Apa penonton kita paham? Selain marketnya beda. Akhirnya saya pindahkan seting dengan budaya klenik di kita. Ada pocong atau guling jadi pocong,” tutur Lele Laila polos.

Dari awal hingga akhir, film ini disesaki atmosfir mencekam dan misteri yang dipenuhi plot twist (pemelintiran alur cerita yang memberi efek kejutan).

Oleh Robby Ertanto, penonton dibawa ke latar waktu 70an – 80an yang khas vintage dan kehidupan style retro. “Efek visualnya juga saya kemas berubah. Gedung tua saya sulap jadi hotel yang ada nite club dan tempat santai. Hujan buatan berkali-kali saya bikin. Syuting lebih banyak malam hari dimana roh-roh alam gaib berseliweran,” jelas Robby Ertanto serius.

Ceritanya berfokus pada Faris yang baru pulang dari dinas ketentaraan di luar kota. Ia mendapati isterinya, Ratna yang mendadak sontak menyodorkan surat cerai. Faris menyelidiki alasan apa sehingga isterinya minta cerai. Semula ia menduga ada orang ketiga dalam rumah tangganya.

Namun, bukan itu masalahnya.

Ternyata, Ratna melakukan perbuatan bersekutu dengan setan. Diam-diam Ratna tidur dengan setan.

Wow ! Kisah kontroversial ini dalam film aslinya bahkan dilarang diputar di Inggris.

Darius Synathria sebagai pemeran Faris mengaku keluar dari zona nyaman.”Ini benar-benar gila. Karakter asli saya berubah. Akal sehat dijungkirbalikkan ke plot twist yang mengerikan,” aku jujur Darius Synathria.

Possesions’ dipenuhi segudang pemeran dengan akting yang menawan dan terampil. Ada Darius Synathria, Carissa Perusset, Nugie, Arswendy Bening Swara, Sara Fajira, Ferry Salim, Rangga Nattra dan masih banyak yang lain. (pik)