Maleena Luncurkan Album Debut Rohani

JELANG datangnya Hari Raya Natal, penyanyi cantik Maleena meluncurkan album bertajuk Maria Magdalena. Album yang menyuguhkan genre musik Gospel tersebut terinspirasi langsung dari pengalaman pribadi Maleena dengan Tuhan.

“Pengalaman pribadi mengenal Tuhan, sehingga luncurkan debut rohani, dulu pengalaman saya lumayan berat, ini dibuat dari hati,” ucapnya saat dijumpai di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, belum lama ini. Album ini dibuat dari hati.

Walau menyanyikan lagu-lagu rohani, Maleena mengaku bukan seorang penyanyi Gereja. Dia hanya ingin memuja Tuhan dengan caranya sendiri.

“Itu (nyanyi) panggilan, album ini berdasarkan pengalaman pribadi, karunia simpel di mata orang tapi personal. Tidak ada yang terlambat untuk memuji Tuhan,” katanya.

Dalam album tersebut, Maleena juga banyak berkolaborasi dengan penyanyi lain. Dalam album tersebut I Surrender merupakan single jagoannya berdasarkan hasil voting terbanyak.

“Ini 5 lagu nyanyikan sendiri, beberapa featuring, lagu lain di dalam album ini duet dengan temen dari Australia,” tutup Maleena yang mempercayakan peredaran album perdananya kepada produser dari 3 negara yaitu Hungaria, Inggris dan Australia (pik)

 

Konser Dongeng 2 Naura Memukau Anak-Anak Bandung

KONSER  Dongeng 2 Naura yang bertajuk “Cerita Dari Negeri Dongeng” sukses digelar di Sabuga ITB Bandung, yang digelar pada Sabtu (4/11/2017) malam, belum lama berselang.,

Pada konser tersebut, penyayi cilik yang bernama lengkap Adyla Rafa Naura Ayu tampil begitu cantik dengan berbagai kostum dari negeri dongeng.
Bahkan, Konser Dongeng 2 Naura semakin sempurna dengan megahnya set panggung, video mapping yang penuh warna, dan musikalisasi yang diiringi oleh Ava Victoria Orchestra.
Konser ini juga menampilkan aksi tarian yang ciamik oleh Naura dan para penari cilik.
Suara Naura yang terdengar sangat merdu dipadu gerakan tarian, mampu memukau penonton yang hadir pada malam itu.
Terlebih lagi, saat Naura membawakan lagu hits miliknya yang berjudul “Semesta Cinta”, sontak bikin suasana di Sabuga ITB, menjadi lebih riuh oleh generasi kidz zaman now dan seluruh area bercahaya lampu dari hp penonton anak-anak.
Penonton yang didominasi olah kalangan anak-anak ini, Mereka tampak sangat antusias saat bersama-sama menyanyikan lagu tersebut sambil meneriakkan nama Naura.
Tidak hanya menyanyikan lagu hits Semesta Cinta, Naura pun turut menghipnotis penonton dengan deretan 17 lagu lainnya .
Di antaranya adalah Bintang, Selimut, Kata Ajaib, Setinggi Langit Panca Indera, Jalan-Jalan, Menari, Pesta Sekolah, Langit yang Sama, Bully, Sister, Sahabat Setia, Lukisan Indonesia, dan lainnya. (pik)

 

Diah Permatasari Bintangi Film Titipan Setan

POPULARITAS  film bergenre horor di Tanah Air, tampaknya masih akan berlanjut hingga tahun depan. Titisan Setan, tahun 2018 depan, akan hadir di bioskop untuk menghibur para pecinta film  horor di Indonesia.

Kehadiran  Diah Permata Sari sebagai bintang dalam film produksi Intercept Filmcraft itu, diprediksi akan membuat suasana horor dalam film itu semakin kuat. Nama Diah Permatasari, selama ini memang dikenal sebagai sosok yang begitu lekat dengan film genre tersebut.

Selain sosok pemeran Si Manis Jembatan Ancol versi sinetron tersebut, film yang digarap oleh dua sutradara, Agusti Tanjung dan Sipu Groso itu pun, juga menghadirkan sederet artis muda berbakat. Baim Wong, Wendy Wilson, Fauzah Allyah, Saykoji, adalah sejumlah nama artis muda yang juga ambil bagin dalam film itu. Selain mereka, ada juga nama aktris senior, Muthia Datau, yang akan membuat cerita film ini semakin lengkap.

“Film ini bercerita tentang kejadian menyeramkan yang terjadi selama satu hari satu malam di sebuah villa. Ada suatu peristiwa aneh yang dialami oleh Melisa bersama kekasihnya, Bara,” kata salah satu sutradara, Agusti Tanjung, saat syukuran Syuting pertama Titisan Setan, di kawasan Jalan Margasatwa, Cilandak, Jakarta, belum lama ini.

Meskipun sudah banyak beredar film horor, namun Agusti menegaskan terdapat beberapa hal yang membuat film ini berbeda dengan film horor lainnya. “Bagaimana membuat film ini enak dan menarik ditonton. Kita membuat gebrakan, bagaimana menampilkan sesuatu di luar dugaan pemirsa,” beber dia.

Di tempat yang sama, Baim Wong mengaku senang mendapat kepecayaan untuk ambil bagian dalam film tersebut. Dalam perjalanannya sebagai aktor, Titisan Setan merupakan film bergenre horor pertamanya.

“Untuk film horor, hati-hati banget ya, ini pertama kalinya. Saya lihat ceritanya. Saya tanya dulu apa ceritanya, siapa pemainnya untuk kemudian, oke,” kata dia.

Mendalami peran, adalah salah satu cara Baim menjawab kepercayaan yang didapatnya itu. Selain itu, dia juga sebisa mungkin untuk menghadirkan komunikasi yang nyaman dengan semua orang yang terlibat, khususnya lawan mainnya.

“Persiapan yang saya lakukan adalah terus baca (naskah). Saya juga membangun chemistry dengan lawan main. Di film ini, saya jadi laki-laki yang baik, ya,” papar dia.

Berbeda dengan Baim, bagi Wendy Wilson, Titisan Setan merupakan film horor ketiga yang pernah dia mainkan. Bagi dia, bermain di film horor, ada banyak tantangan yang didapatnya, dibanding dengan film genre non horor.

“Suka banget horor, solanya lebih menantang gitu. Persiapan, kita cuma reading aja sih, sama sharing-sharing aja. Di film ini saya berperan sebagai Melisa, pacarnya Bara yang diperankan Kak Baim,” ujar dia.

Alur cerita dalam Titisan Setan dipredikai semakin sempurna dengan kehadiran ratu horor, Diah Permatasari. Kendati sudah cukup sering bermain film horor, namun dia mengaku cukup senang sekaligus tertantang dengan film tersebut. “Ini film ke empat horor saya. Film horor nggak ada matinya,” kata Diah.

Titisan Setan ini bercerita tentang seorang gadis bernama Melissa (Wendy Wilson) yang diteror oleh mahluk lain ketika menyewa suatu villa bersama kekasihnya, Bara (Baim Wong). Namun, apa yang dialami oleh Melisa itu diangap angin lalu oleh Bara. Alih-alih percaya, Bara justru menganggap kekasihnya hanya berhalusinasi semata. Bara sejatinya memiliki niat jahat kepada kekasihnya itu.

Proses pembuatan film sendiri dilakukan di tiga kota, yakni Jakarta, Bogor Jalan Puncak dan Bandung. Beberapa lokasi tersebut dipilih karena dinilai cukup mewakili nuansa magis di dalamnya.**

 

Konser La La Land di Jakarta Dijubeli Penonton

GELARAN  La La Land Concert in Jakarta usai sudah digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Konser  pada Minggu (5/10/2017) malam lalu itu, menjadi penutup perjumpaan La La Land dalam format konser di Indonesia.

Konser  ini berlangsung selama dua hari, yakni pada 4 dan 5 November 2017. Pada hari kedua pementasan, keseluruhan penampilan mengalami perbaikan yang signifikan. Inilah yang  membuat sang konduktor dari Amerika Serikat, Erik Ochsner, mengaku cukup puas.

“Saya orang dengan standar tinggi, cukup perfeksionis. Saya rasa para pemain termotivasi, di hari kedua mereka tampil lebih baik,” katanya.

Konser dengan format live to film yang menampilkan film di layar technicolor dan diiringi permainan musik orkestra secara live ini adalah konser ke-32 Erik. La La Land juga menjadi proyek ke-10-nya memimpin orkestra dengan format yang sama.

Ke depan dia masih terlibat dalam beberapa konser serupa dengan film berbeda. Salah satu proyeknya akan menampilkan film Star Wars ke dalam format live to film.

Dia mengaku sangat terkesan dengan musisi di Indonesia yang bekerja dengannya kali ini. Salah satu musisi yang mencuri perhatiannya adalah pianis Andy Gomez.

“Meski bukan pianis aslinya, dia cukup baik memainkan pianonya hari ini. Saya terkesan bekerja sama dengan dia,” ujarnya. Orkestra dengan 100 piece musisi semuanya dari Jakarta pimpinan Singgih Sanjaya.***

 

Daya Magis di Balik Indonesia Raya di Fim Wage

OPSHID  Media meluncurkan Film WAGE yang mengeksplorasi perjalanan kepahlawanan Wage Supratman dalam menelurkan lagu-lagu seperti lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu lainnya. Film ini sekaligus untuk terus mengenang jasa beliau sebagai pahlawan dan dapat meneladani aksi-aksi kepahlawanan Wage Supratman dalam akvititas kekinian sebagai generasi milenial.

Direktur PT Opshid Media, Ivan Nugroho mengatakan, pihaknya menghabiskan dana investasi Rp 16 miliar untuk prduksi film ini. Dana tersebut selain produksi film juga digunakan untuk riset dan biaya pemasaran yang besar.

Pemikiran pembuatan film WAGE berdasarkan pada pemikiran bahwa apresiasi yang disematkan untuk pahlawan Wage Supratman tidak berbanding lurus dengan jasa besar beliau untuk bangsa Indonesia.

“Maka film tentang Wage Supratman dibuat sebagai sepantas-pantasnya penghargaan untuk beliau, yang juga ditujukan sebagai pelurus sejarah mengenai kisah hidupnya,” kata Ivan.

Salah satu adegan dalam film Wage (FOTO: Opshid Media)

Selain itu, dia berpendapat bahwa kunci menuju bangkitnya bangsa Indonesia, terutama generasi muda atau milenial, adalah kembali ke jati diri bangsa. “Ada banyak nilai-nilai luhur jati diri bangsa yang terkandung di dalam lagu Indonesia Raya, dan juga proses sang komponis Wage Supratman untuk mewujudkannya. Dengan mengemas nilai-nilai luhur tersebut dalam media film WAGE, diharapkan dapat menjadi pemicu untuk membangkitkan rasa cinta Tanah Air serta moral luhur bangsa Indonesia, mengeksplorasi rasa kebangsaan dan Keindonesiaan dalam konteks anak muda,” jelasnya.

Dalam proses produksinya, seleksi cukup ketat dilakukan untuk aktor dan peran lainnya. Pihaknya-pun melakukan riset serta pembedahan yang menyeluruh untuk memastikan bahwa karakter tidak jatuh pada pemeran yang kurang tepat, mengingat minimnya data mengenai tokoh-tokoh seperti WAGE itu sendiri.

Proses pemilihan aktor untuk peran WAGE tidak didasarkan pada besarnya nama yang dimiliki sang aktor, maupun banyaknya kecocokan kualifikasi secara teknis antara peran dan pemeran. Aktor terpilih untuk peran WAGE dipilih berdasarkan potensinya, baik di bidang seni peran maupun caranya untuk eksplorasi karakter.

“Demikian halnya dengan proses produksi, juga berada dalam supervisi dari eksekutif produser, untuk memastikan jalannya film tidak melenceng dari visi misi Opshid yang asli.”

Di sisi lain, proses terciptanya mahakarya Indonesia Raya dikukuhkan oleh ketekunan, pantang menyerah, serta rendah hati WAGE itu sendiri. Di balik daya magis yang ada di dalam lagu Indonesia Raya, terdapat daya berkat rahmat Allah di dalamnya, dan WAGE mendasari serta menyerahkan semua itu sepenuhnya pada hal tersebut.

“Terkait dengan target penonton, Opshid Media mematok angka minimal 1 juta penonton. Hal tersebut dilihat bukan dari segi money oriented, tetapi memang karena pada dasarnya Opshid Media memiliki visi misi yang harus disampaikan kepada publik, sehingga semakin banyak yang menonton semakin baik,” tegas Ivan.

Selain itu, Opshid Media juga terus mengemas konten-konten tersebut semenarik mungkin, dan selipkan propaganda-propaganda serta ajakan untuk menonton film WAGE.

“Film ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk masyarakat Indonesia. Selain sebagai film kebangsaan yang mempelopori bangkitnya rasa cinta tanah air di hati bangsanya, juga sebagai pelurus suatu peristiwa sejarah yang banyak melenceng.”

Klik untuk nonton Trailer Wage

Naura Luncurkan Album Soundtrack dan Buku “Naura & Genk Juara”

LAGU-LAGU  bertemakan anak–anak sudah mulai usang digerus perkembangan jaman. Tak banyak penyanyi cilik yang mengeluarkan lagu-lagu bertema Anak. Adila Rafa Naura Ayu atau biasa disapa Naura ini, penyanyi cilik yang konsisten merilis lagu–lagu bertema anak-anak ini kembali meluncurkan album terbarunya yang menjadi soundtrack sebuah film musikal.

Film musikal untuk anak dan keluarga yang berjudul ‘Naura & Genk Juara‘ siap diluncurkan dan ditayangkan di bioskop mulai 16 November 2017 mendatang. Sebelum itu, album soundtrack film ‘Naura & Genk Juara’ lebih dulu dirilis pada Rabu pekan lalu.

Naura, penyanyi cilik sekaligus bintang utama film tersebut, mengatakan bahwa dengan adanya album tersebut penonton bisa ikut bernyanyi sambil menonton filmnya.

“Aku berharap teman-teman Naura bisa nonton bareng sama keluarga atau sahabat. Dan karena ini musikal, aku seneng banget kalau teman-teman yang nonton bisa nyanyi bareng di bioskop,” kata Naura di Pondok Indah Mall I.

Dalam album Naura& Genk Juara dibawah label Trinity Optima Production ini, berisikan 9 track yaitu, Juara, Bawakan Cerita Banyak Untukmu, Mendengarkan Alam, Kamu Menyebalkan,Setinggi Langit, Aku Hanya Ingin Pulang, Jangan-jangan, Kita adalah Juara, dan Berani Bermimpi.

Menurut Nola Be3 sang bunda lagu-lagu yang ada dalam Album Naura & Genk Juara semuanya diciptakan oleh Mhala dan Tantra Numata .

“Sembilan lagu musikal dalam album ini diciptakan oleh Mhala dan Tantra Numata. Mereka hebat banget dengan waktu yang singkat bisa menyelesaiakan 9 lagu ini dengan hanya membaca skrip film dan hasilnya keren banget. Kita semua puas karena ternyata setiap lagu mengambarkan setiap adegan-adegan di film,” ujar Nola saat di sambangi di Peluncuran album dan buku sang anak tercinta.

Bersamaan dengan peluncuran album, dirilis pula cetakan kedua buku ‘Naura & Genk Juara: The Movie’ yang diterbitkan Kompas Gramedia Production dan Creative & Co sebagai rumah produksi filmNaura & Genk Juara juga merilis cetakan kedua buku behind the scene (BTS) film tersebut.
Buku tersebut berisi mengenai kegiatan Naura dan tim produksi saat beraktivitas di balik layar (behind the scene) film ‘Naura & Genk Juara’. Selamat dan sukses ya Naura. Tetap berkarya dengan lagu-lagu bertema anak-anak.***

Marlupi Dance Academy Pentaskan Rama dan Sinta

SUKSES  menggelar pertunjukan ‘Si Kabayan’ pada Oktober 2015 lalu, Marlupi Dance Academy (MDA) akan mementaskan karya terbarunya. Pementasan ini diangkat dari epos Ramayana,  ‘Rama dan Sinta’.

Cerita yang sangat dikenal dalam lakon pewayangan di wilayah Nusantara itu,  dikreasikan oleh Yuniki Salim dan Fifi Sijangga yang bertindak sebagai direktur artistik. Kreasi ini pun menambah daftar  produksi MDA untuk tahun ini. Yuniki Salim mengatakan cerita ‘Rama dan Sinta’ adalah kisah pewayangan yang dekat dengan masyarakat Indonesia.

“Kebetulan Rama Sinta salah satu cerita pewayangan yang sudah diadaptasi, jadi salah satu cerita di Nusantara,” tutur Yuniki Salim.

‘Rama dan Sinta’ menceritakan tentang kisah dua sejoli yang hidup bahagia di dalam hutan. Mereka ditemani oleh Laksamana yang merupakan saudara sepupu dari Rama dan seekor burung bernama Jatayu yang setia menemani Sinta.

Suatu hari Sinta melihat seekor kijang emas dan meminta Rama untuk menangkapnya. Ketika Sinta sendirian, Rahwana yang terpesona dengan kecantikan Sinta menyamar menjadi seorang pengemis supaya Sinta iba dan keluar dari lingkaran perlindungan.

Di pertunjukan MDA kali ini, penari balet pria Michael Halim akan berperan sebagai Rama. Sedangan Nadia Mulyono dan Siti Soraya keduanya bakal bergantingan menjadi Sinta. Desainer kostum pertunjukan dikerjakan oleh Didi Budiardjo dan Rinaldy A Yunardi dengan aksesori, serta Felix Christianto sebagai direktur musik.

Direktur Artistik MDA Fifi Sijangga berharap agar balet Indonesia bisa menampilkan ciri khas Tanah Air. “Saya ingin balet di indonesia lebih maju lagi dengan menampilkan ciri khas Indonesia juga supaya masyarakat lebih mencintai cerita indonesia yang dituangkan di dalam balet,” tutur Fifi Sijangga.

Pertunjukan ‘Rama dan Sinta’ dipentaskan di Teater Jakarta, kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), pada 28-29 Oktober 2017.***

Andien dan Dwiki akan Berkolaborasi di ‘Rise of Java’

PENYANYI  Andien Aisyah akan berkolaborasi dengan penyanyi Wizzy, musisi Dwiki Dharmawan dan  Didiet Maulana dalam acara ‘The Rise Of Java’. Ajang musik ini akan digelar di Candi Prambanan, Yogyakarta 5 November 2017.
Andien sangat excited tampil di acara yang memadukan fashion show dan pentas musik. Pasalnya, pertunjukan semacam ini baru kali pertama dilakukan di Indonesia.

“Aku nyanyi hampir tiap hari. Kalau nyanyi di acara seperti ini pasti ngga biasa, apalagi nyanyi di Prambanan di tengah bulan purnama di acara seperti ini. Penontonnya juga yang emang tertarik menyaksikan sejarah. Aku sangat excited, seneng, dan yang jelas deg degan sih karena di situ aku berarti jalan sendiri di tengah membawakan lagu, itu yang ngga biasa aku lakukan juga,” ujar Andien di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Dalam aksi panggungnya nanti Andien akan membawakan tiga lagu yang masing-masing akan mewakili setiap fashion show yang ditampilkan. Dirinya akan tampil di segmen terakhir dari ‘The Rise of Java’.

“Ada tiga lagu, ada yang lagu ku, ada yang bukan laguku. Kebetulan aku dapet segmen terakhir, dimana segmen terakhir adalah kebaya dan kebaya buatan mas Didiet tuh megahnya seperti apa. Aku akan membawakan lagu yang begitu syahdu dengan iringan musiknya mas Dwiki yang penuh dengan gamelan dan alat musik lainnya,” tuturnya.

Pagelaran ‘The Rise Of Java’ menampilkan berbagai rancangan busana dari desainer ternama Indonesia, seperti Afif Syakur, Didiet Maulana, Lenny Agustin, dan Philip Iswardono. Sebanyak 48 model dari berbagai daerah akan memperagakan hasil rancangan dari keempat desainer tersebut. Di pergelaran yang diadakan oleh Gatra Media Group dan Mediatama Binakreasi ini juga ditampilkan tari balet Ramayana

Peragaan busana tersebut juga akan berisikan rangkaian cerita perjalanan peradaban Indonesia dan Jawa. Pagelaran ‘The Rise Of Java’ terbagi dalam empat babak, masing-masing melambangkan perkembangan peradaban Nusantara. Pada setiap babaknya menampilkan rancangan busana dan musik yang mewakili era perkembangan peradaban nusantara.

Tiket The Rise Of Java dapat diperoleh melalui situs theriseofjava.mahalive.com dan rajakarcis.com dengan rincian harga, Platinum Rp750.000, Gold Rp500.000, Silver Rp400.000, dan Bronze Rp250.000.***

Panitia FFI 2017 Dinilai Kurang Transparan Pilih Film “Posesif”

Wina Armada kritisi Film Posesif dalam FFI 2017.

FILM Posesif telah diumumkan menjadi salah satu nominasi film terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2017. Namun, film garapan sutradara Edwin tersebut baru disensor sehari setelah diumumkan sebagai peraih nominasi FFI 2017.

Keputusan ini dipertanyakan oleh komunitas wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film. Kinerja panitia FFI 2017 menurut mereka, menunjukkan sejumlah ketidakprofesionalan dan kurangnya transparansi.

“Penyelenggaraan FFI 2017 dibiayai uang negara baik APBN maupun APBD. Oleh karena itu, penyelenggaraan FFI 2017 harus dapat dipantau dan diawasi secara terbuka oleh publik, termasuk kami para wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film,” kata juru bicara komunitas, Wina Armada, Selasa (24/10/2017), sebagaimana dikutip Antara.

Wina menjelaskan, keberadaan dan pelaksanaan FFI yang digelar sejak 1955 tidak dapat dilepaskan dari peranan dan kedudukan wartawan film dan kebudayaan serta kritikus film Indonesia. “Dengan demikian, FFI bukanlah milik segelintir orang. Karena itu, kami senantiasa memiliki kepedulian terhadap penyelenggaraan FFI, termasuk terhadap penyelenggaraan FFI 2017,” ucapnya.

Ia memaparkan, dalam syarat film peserta FFI 2017 disebutkan bahwa film peserta FFI 2017 harus sudah diputar di tempat umum berbayar dan menurut UU Perfilman, setiap film yang diputar umum untuk publik harus lebih dahulu lulus sensor dan mempunyai Surat Tanda Lolos Sensor.

“Kami sudah berkali-kali secara terbuka meminta mekanisme sistem ini dijelaskan kepada publik dan apabila ada kekurangan untuk segera diperbaiki, tetapi tidak mendapat tanggapan yang memadai dari Panitia FFI 2017,” ucapnya.

Ia mengemukakan, sepanjang film Posesif masih diikutsertakan dalam FFI 2017, maka panitia dapat dinilai bekerja tidak profesional dan tidak demokratis karena tidak bersedia membuka pintu dialog untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Untuk itu, lanjutnya, komunitas juga meminta aparat hukum terkait menyelidiki dan menyidik kemungkinan adanya perbuatan pelanggaran dalam pemakaian dana dari APBN atau APBD serta mekanisme sistem yang dipakai panitia.

Film Posesif mendapatkan 10 nominasi di Festival Film Indonesia 2017 meski baru tayang di bioskop pada 26 Oktober 2017. Sempat ada pertanyaan yang mengemuka karena menurut aturan yang bisa dipilih adalah film yang sudah ditayangkan sejak Oktober 2016 hingga September 2017.

Sebelum tayang di bioskop besar, film garapan sutradara Edwin itu sebenarnya sudah diputar di bioskop mikro pada September lalu. Produser film Posesif menyatakan tidak ada masalah yang harus diperdebatkan karena mereka tidak menyalahi aturan. “Kita memang sudah dinyatakan memenuhi kualifikasi FFI,” jelas produser Meiske Taurisia usai pemutaran “Posesif” di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Dengan demikian, asosiasi film memang berhak merekomendasikan “Posesif” untuk menjadi nominasi FFI 2017. Menurut Meiske, setiap tahun selalu ada polemik yang berkaitan dengan FFI meski yang diperdebatkan selalu berbeda-beda. Meski demikian, dia berpendapat itu juga suatu pertanda masih banyak orang yang peduli dengan industri film Tanah Air. “Ini bagian dari pendewasaan kita semua di industri film,” imbuh dia.

Beberapa dari nominasi yang didapat Posesif meliputi kategori Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik dan Pemeran Utama Wanita Terbaik. ***

Sapardi Djoko Damono Komentari Film ‘Hujan Bulan Juni’

TANGGAL 2 November nanti, salah satu film Indonesia yang paling ditunggu, Hujan Bulan Juni, akan resmi dirilis. Seluruh pendukung film pun tengah sibuk menggelar promo jelang penayangan film ini, termasuk penyair Sapardi Djoko Damono sebagai penulis puisi dan novel Hujan Bulan Juni.

Tapi kata Sapardi saat ditemui usai screening film Hujan Bulan Juni, ia sama sekali tidak terlibat di proses produksi film yang disutradarai oleh Reni Nurcahyo Hestu Saputra itu.

“Saya bilang enggak mau. Artinya saya lepaskan semuanya, bagaimana tafsirnya? Terserah kalian semua. Soalnya saya enggak suka, karena itu keyakinan saya. Kalau saya ambil sesuatu yang sudah ditulis orang, ya saya punya kebebasan. Kalau ini sekarang orang mau bikin film, ya dia harus punya kebebasan,” ujar penyair yang tahun ini menginjak usia 77 tahun.

Sapardi Djoko Damono

Meski karyanya sudah dikenal luas, Sapardi justru masih tidak mengerti kenapa banyak orang menyukai karyanya, terutama Hujan Bulan Juni. “Ya ini mungkin kebetulan, saya enggak tahu. Saya ketika mengubah dari puisi menjadi novel aja sudah susah, ngos-ngosangitu ya. Kemudian enggak tahu kenapa laris banget ya? Sehingga diminta untuk dijadikan film. Ya saya oke, saya enggak masalah. Bahkan ketika saya mentransferkan dari puisi ke novel itu pun lain. Saya tidak lagi ikuti puisi itu. Saya memang nulis novel.”

Satu yang ingin diingatkan Sapardi pada calon penonton film Hujan Bulan Juni kelak, bahwa tidak sepatutnya membanding-bandingkan karya tulisnya dengan film.

“Enggak boleh. Film dengan film, buku dengan buku. Itu haram, enggak boleh ya. Jadi kalau kita mau bilang itu film bagus apa enggak, jangan tergantung kepada bukunya. Bukunya bisa lebih bagus, bisa lebih laris tetapi bukan itu masalahnya, dengan film lain dia bagus apa enggak,” ungkap Sapardi.

“Buku saya juga begitu, kalau filmnya jelek apa buku saya jadi jelek? Kan enggak. Ya sama saja. Jadi kalau mau bikin studi ya bandinginnya film dengan film, buku ya dengan buku. Itu prinsipnya. Enggak bisa kalau gambar dibandingkan dengan kata-kata. Kata-kata ini enggak ada gambarnya.”

Sebenarnya, kata Sapardi, selain Hujan Bulan Juni, beberapa karyanya yang lain pun ditaksir untuk diadaptasi ke bentuk film layar lebar.

“Saya kan nulis berapa ya, 5-6 novel pendek itu ya. Yang lain itu agak susah. Saya juga agak heran, ini kan novel susah. Hujan Bulan Junikan bukan novel gampangan, tapi kok banyak sekali yang suka? Saya juga heran. Apalagi macam trilogi Soekram itu lebih susah lagi. Tapi misalkan itu dijadikan film, bisa dahsyat. Karena sekarang banyak yang kayak gitu, daripada susah-susah bikin cerita mending ambil dari novel. Membuat cerita kan lebih susah dari membuat filmnya.”

Hujan Bulan Juni dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama Tanah Air seperti Adipati doken, Veloxe Vexia, Baim Wong, Surya Saputra, Koutaro Kakimoto dan banyak lagi. ***