Konser Judas Priest ‘Kado’ untuk Jokowi

RAJAWALI Indonesia Communication resmi mengumumkan kehadiran band heavy metal legendaris Judas Priest ke Jakarta. Kedatangan Judas Priest ke Indonesia pun disebut CEO Rajawali Indonesia Commmunication, Anas S Alimi ibarat kado untuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Bukan rahasia lagi Jokowi merupakan penggemar berat band-band rock seperti Judas Priest. Judas Priest adalah band asal Birmingham, Inggris. Saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, usai menonton konser Metallica, Jokowi pernah meminta promotor mendatangkan Judas Priest ke Indonesia.

Kegemaran Jokowi dengan band yang berdiri 1969 itu juga pernah terungkap lewat unggahan foto sang anak, Kaesang Pangarep. Saat itu, Kaesang menunjukkan sang ayah sedang memutar lagu Judas Rising milik Judas Priest ketika berada di dalam mobil dinasnya.

“Boleh dong rakyat kasih kado buat presidennya. Kami terbuka kalau beliau mau datang, dengan senang hati. Kita tahu waktu beliau sangat padat,” kata Anas S Alimi saat ditemui di Hard Rock Cafe, Jakarta, Selasa (24/7/2018).

Indonesia sedang memasuki tahun politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) ketika konser Judas Priest digelar. Anas pun berharap, kedatangan Judas Priest bisa melahirkan harmoni kebersamaan di tengah hiruk pikuk pemilu.

“Mudah-mudahan konser ini akan memberikan harmoni di masyarakat juga para pemimpin di negeri ini yang sama-sama merayakan pesta demokrasi. Kita berharap tahun politik 2018 dan 2019 seperti musik rock, dan berakhir bahagia,” ujarnya.

Tiket konser Judas Priest hanya terdiri dari satu kelas yang dijual melalui dua sesi. Sesi prajual dibuka pada 4 Agustus 2018 di tiketapasaja.com dengan harga Rp450 ribu. Sedangkan penjualan reguler mulai dijual pada 5 Agustus 2018 dengan harga Rp650 ribu. Semua harga tiket belum termasuk pajak dan biaya admin.

Rajawali Indonesia Communication kembali menggandeng Melon Indonesia untuk penjualan tiket sehingga bisa didapatkan di Tiket.com, Kiostix.com, Traveloka.com, Rajakarcis.com, Tiketapasaja.com, Loket.com, GoTix, Blanja.com, Bookmyshow.com dan Bukalapak. Konser Judas Priest akan dihelat di Ecopark, Ancol, Jakarta, tanggal 7 Desember 2018. “Dengan banyaknya musisi rock dunia yang datang ke Indonesia seperti Megadeth pada Oktober mendatang dan Judas Priest pada Desember 2018, mudah-mudahan hal ini akan memberikan harmoni kepada masyarakat, juga para pemimpin di negeri ini yang sama-sama merayakan pesta demokrasi Pilpres dan Pileg 2019, ” ungkap  Anas Alimi, CEO Rajawali Indonesia Communication, promotor yang mengundang Judas Priest. ***

Apa yang terjadi dengan para pemeran asli ‘Meteor Garden’?

 

PADA tahun 2001, empat mahasiswa perguruan tinggi yang tinggi dan gagah (dan jangan lupa gaya rambut mereka yang panjang dan lincah), dan seorang wanita terkemuka yang keras kepala, yang tidak takut untuk melawan pengganggunya, telah membawa hanyut para pemirsa TV ke seluruh wilayah Asia.

Serial drama Taiwan Meteor Garden, yang diangkat ke layar kaca berdasarkan seri manga Jepang Hana Yori Dango, berkisah  sekitar empat orang populer, teman-teman kaya, yang secara kolektif bernama F4, dan seorang mahasiswa baru di universitas, Shan Cai, yang berasal dari keluarga  kecil (‘miskin’).

Mahasiswi itu menolak untuk tunduk pada cara-cara dominan kelompok, Shan Cai berdiri melawan pemimpin pemarahnya Dao Ming Si, yang secara tak terduga menyebabkan dia jatuh cinta padanya.

Serial dengan 27-episode itu, sangat sukses bahkan melahirkan sekuel, Meteor Garden II. (Meskipun, secara pribadi, sekuel ini  tidak semenarik sesion pertama.)

Tahun ini, drama Taiwan tersebut diberikan nyawa baru, yang sekali lagi dibintangi para pendatang baru, yakni Shen Yue, Darren Chen, Dylan Wang, Connor Leong dan Caesar Wu.

Dengan remake acara, Meteor Garden 2018 (enam episode pertama ada di Netflix), kami melihat kembali para pemeran asli yang membuat kami tertawa dan menangis, dan menemukan apa yang mereka lakukan sekarang.

 

Barbie Hsu (Shan Cai)

Siapa yang bisa melupakan Shan Cai, wanita yang keras kepala dan berkemauan keras yang mencuri hati si kaya, si sombong Dao Ming Si? Aktris Barbie Hsu memberikan penampilan sangat istimewa dan mungkin akan menjadi salah satu karyanya yang paling ikonik.

Namun demikian, pasca-Meteor Garden, Hsu melanjutkan untuk memainkan peran mengesankan lainnya dalam drama seperti Mars (dibintangi lawan Meteor Garden Vic Zhou) dan Corner With Love (dibintangi Show Lo).

Barbie Shu menikah dengan pengusaha China berusia 41 tahun Wang Xiaofei pada tahun 2010. Mereka kini memiliki dua anak.

 

Jerry Yan (Dao Ming Si)

Si Ming Ming yang manja dan temperamental yang telah banyak tumbuh dewasa dimainkan oleh Jerry Yan.

Setelah Meteor Garden, Yan selanjutnya  membintangi sejumlah drama yang diterima dengan baik, seperti The Hospital, Starlit, dan Down With Love. Yan juga membangun karir musik yang substansial, dengan tiga album.

Aktor berusia 41 tahun itu berhubungan  dengan aktris Red Cliff, Lin Chi Ling selama enam tahun, sebelum akhirnya relasi mereka putus pada tahun 2006. Awal tahun ini, desas-desus berputar-putar bahwa keduanya kembali bersama dan kabarnya  pernikahannya telah berlangsung, tetapi kedua pihak telah membantahnya.

Ken Chu dan istrinya Han, pada hari pernikahan mereka pada tahun 2016, diapit oleh Vanness Wu (kiri) dan Jerry Yan.

Ken Chu (Xi Men)
Ken Chu mungkin telah memainkan Casanova selama Meteor Garden, tetapi dalam kehidupan nyata, hatinya tertuju pada aktris Cina Han Wen Wen. Pasangan ini mengikat pernikahan  di Bali – disaksikan oleh Yan dan Wu – pada tahun 2016.

Chu kemudian melanjutkan jalur profesionalnya dengan merilis dua album solo serta  berakting di kedua proyek TV dan film.

Pada tahun 2016, setelah dikritik karena berat badannya, Chu membuka tentang perjuangannya dengan fibromyalgia (yang menyebabkan rasa sakit di seluruh tubuh).

Vanness Wu (Mei Zuo)

Sementara alur cerita untuk Mei Zuo tidak ditulis dengan baik dibandingkan dengan anggota F4 lainnya, aktornya Vanness Wu masih berhasil memikat pemirsa.

Setelah Meteor Garden, Wu menemukan pijakannya sebagai artis R & B, hip-hop.

Sebagai aksi solo, Wu telah merilis enam Mandarin dan dua album Jepang. Pada 2015, pemain berusia 39 tahun itu muncul di Asia’s Got Talent sebagai hakim.

Wu menikahi sosialita Singapura Arissa Cheo pada tahun 2013. Pernikahan mereka berakhir awal tahun 2018 ini.

 

Vic Zhou (Hua Ze Lei)

Vic Zhou memenangkan Aktor Terbaik di Golden Bell Award pada 2013 untuk penampilannya di Home. [Foto: Handout]
Shan Cai tertarik pada Hua Ze Lei yang sensitif dan tenang dari awal. Menariknya, tidak hanya Vic Zhou dan Hsu bermain sebagai kekasih untuk beberapa waktu di acara tetapi juga di kehidupan nyata!

Keduanya mengakhiri hubungan mereka pada tahun 2008 setelah berpacaran selama tiga tahun. Zhou menikahi rekan pemeran pembantu  Black And White, Reen Yu pada tahun 2015.

Secara hati-hati, pemain berusia 37 tahun ini menyatakan tidak takut untuk mengambil peran yang menantang. Pada 2013, ia memainkan peran sebagai tawanan Perang Dunia II di Home, yang kemudian dengan perannya itu ia memenangi Golden Bell Award dari China untuk Aktor Terbaik.

 

Rainie Yang (Xiao You)

Apakah Anda tahu Rainie yang diberi karakter yang jauh lebih kecil untuk menggambarkan awalnya?

Yang terbentur pada karakter pendukung, Xiao You – Shan Chai bestie – pada menit terakhir. Beruntung baginya sebagai karakter membantu membuka pintu ke karir showbiz termasyur.

Rainie Yang juga seorang penyanyi dan telah merilis 10 album. (Foto: Instagram)

Selain secara konsisten mendaratkan peran utama di drama Taiwan, Yang meraih kesuksesan signifikan sebagai penyanyi, merilis 10 album yang menghasilkan banyak hits dan pujian.

Yang saat ini berpacaran dengan penyanyi-penulis lagu Cina, Li Ronghao.

 

Edward Ou (Qing He)

Edward Ou – yang berperan sebagai sahabat masa kecil Shan Cai yang memendam perasaan padanya, Qing He – berakting di beberapa drama setelah Meteor Garden. Sayangnya, setelah dia dinyatakan bersalah mencuri kendaraan, karirnya telah menurun sejak saat itu.

 

 

Blue Lan (Ya Men)

Blue Lan memiliki peran kecil di acara itu sebagai sepupu Dao Ming Si Ya Men yang mencoba mencuri hati Shan Cai pada satu titik. Namun sedikit waktu yang didapat Lan, itu cukup untuk melontarkan aktor keren itu ke ketenaran.

Setelah pertunjukan, Lan menerima banyak tawaran untuk tampil di layar, membintangi sejumlah  drama termasuk Apple In Your Eye, di mana dia memimpin para pemain.

Fakta menarik: Lan dan Hsu pernah berkencan!

 

Michelle Saram (Ye Sha)

Michelle Saram kembali berakting tahun lalu di Paradox. (Foto: Instagram)

Meteor Garden II tidak semenarik musim sesion pertama (alur cerita menjadi sedikit terlalu lambat dan berkelok-kelok) tetapi itu memperkenalkan kita kepada aktris Singapura Michelle Saram, yang memainkan minat cinta baru Ye Ming pada Ye Ming.

Saram, yang berakting di acara TVB seperti At The Threshold Of An Era dan A Step Into The Past sebelum Meteor Garden, kemudian memutuskan untuk memperlambat karir aktingnya jauh untuk menempatkan keluarganya terlebih dahulu.

Dia menikah dengan Ajai Lauw-Zecha, putra pendiri jaringan hotel mewah, pada tahun 2010. Pria berusia 43 tahun itu menandai kembalinya dia ke dunia akting tahun lalu dengan penampilan cameo di bintang Louis Koo, Paradox.***

Demi Lovato dilarikan ke rumah sakit

DIVA  pop Demi Lovato dilarikan  ke rumah sakit Los Angeles pada Selasa (24 Juli) waktu setempat,  karena diduga overdosis.

Lovato, 25, sebelumnya telah berbicara secara terbuka tentang penyalahgunaan kokain dan alkohol yang dilakukannya.

Pihak  Lovato sejauh ini belum  menanggapi permintaan mengomentari kabar ini,  tetapi majalah People, mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan  bahwa kondisi Lotovo “baik-baik saja dan stabil.”

Situs berita hiburan TMZ, mengutip sumber penegak hukum, melaporkan bahwa Lovato ditemukan tidak sadarkan  diri di rumahnya dan kemudian dirawat dengan Narcan, sebuah perawatan darurat untuk orang dengan dugaan opioid dan overdosis obat.

Polisi Los Angeles mengatakan mereka telah menanggapi petugas darurat medis pada Selasa yang melibatkan seorang wanita di jalan Hollywood Hills di mana Lovato dilaporkan memiliki rumah, tetapi polisi itu menolak menyebutkan nama orang tersebut.

Bulan lalu Lovato merilis sebuah lagu  yang disebutnya Sober di mana dia menyanyikan syair:

“Momma, I’m so sorry, I’m not sober anymore, And daddy, please forgive me for the drinks spilled on the floor, To the ones who never left me We’ve been down this road before, I’m so sorry, I’m not sober anymore.”

Syair lagu tersebut, tampaknya memberi gambaran apa yang dialami oleh Lovato.

Lovato terkenal melalui Disney Channel shows Camp Rock dan Sonny With A Chance 10 tahun yang lalu, dan  dan menempa karir pop dengan hits seperti Skyscraper dan Sorry Not Sorry.

Dalam sebuah film dokumenter YouTube 2017, Simply Complicated, Lovato berbicara tentang penyalahgunaan zat, gangguan makan, dan minum selama bertahun-tahun. Dia mengatakan, bahwa ia pertama kali mulai menggunakan kokain ketika berusia 17 tahun.

Dia menjalani  rehabilitasi pada usia 18, dimana dia didiagnosis dengan gangguan bipolar.

Lovato, yang memiliki sekitar 69 juta follower di Instagram, saat ini sebenarnya berada di tengah-tengah tur AS dan akan tampil di Atlantic City, New Jersey, pada hari Kamis.

Rawat inapnya menjadi trending topic teratas di Twitter pada hari Selasa di Amerika Serikat, dimana  para penggemar dan selebritas mengekspresikan keprihatinan dan dukungan kepada Lovato.

Penyanyi country Brad Paisley tweeted, “Kecanduan adalah penyakit yang mengerikan. Tidak ada yang lebih jujur atau berani daripada wanita ini.”

https://www.instagram.com/p/Bll0V5oFNbT/?taken-by=ddlovato

Saat pelukis dari dunia hening melawan polisi dunia

Young man holding large painted canvas gives the victory hand gesture as he stands in a room surrounded by his paintings

 

BAGAIMANA  seorang seniman dapat menangkap kemarahan orang, ketika politisi paling berkuasa di dunia mencoba untuk mencapakkan  hak-hak mereka?

Mahmoud al-Moqayad mungkin telah berhasil melakukan hal itu. Setelah Donald Trump menyampaikan penghinaan besar kepada orang-orang Palestina dengan mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Mahmoud menanggapi dengan lukisan yang luar biasa.

Lukisan berjudul “Seruan Yerusalem,” tampaknya menggambarkan badai yang menghantam kota. Meskipun udara dari sihir dan ancaman, Dome of the Rock berdiri tinggi; emasnya kontras dengan nuansa dominan biru, merah dan hitam.

The Dome of the Rock dan masjid al-Aqsa yabg bertetangga itu – salah satu situs tersuci Islam – telah menjadi simbol perlawanan dan ketahanan.

“Saya mengikuti berita tentang keputusan Trump dan saya pikir semua orang harus menentangnya,” kata Mahmoud.

“Saya selalu percaya pada kekuatan seni dan saya memutuskan untuk membuat lukisan yang mengekspresikan bagaimana Palestina menolak deklarasi Trump. Saya memilih warna-warna tajam untuk menunjukkan bahwa kami akan terus berjuang sampai kami mendapatkan kembali Yerusalem dan tanah kami yang diduduki. ”

Pameran solo pertama lukisan-lukisan Mahmoud telah diadakan di Kota Gaza awal tahun ini.

 

Terinspirasi dan bangga

Pameran yang digelar Mahmoud menampilkan koleksi karya yang terinspirasi oleh sejarah dan budaya Palestina, serta perjuangan untuk kebebasan. Subyeknya lukisannya berkisar dari pernikahan tradisional hingga kenangan tentang Nakba, pembersihan etnis Palestina 1948.

Pria berumur 25  ini  lahir di Gaza. Dia menikah dan memiliki anak, namun ia masih tinggal bersama orang tuanya di kamp pengungsi Jabaliya, tempat ia dibesarkan.

Pada usia 1, Mahmoud didiagnosis dengan gangguan pendengaran yang parah.

“Ketika kami pertama kali mengetahui bahwa Mahmoud tuli, kami sangat sedih,” kata ibu Mahmoud, Subhiya, 45 tahun. “Kami tidak tahu apa-apa tentang cacat ini, dan kami takut Mahmoud harus tinggal di rumah tanpa kesempatan kehidupan yang layak. ”

Tetapi orang tuanya beradaptasi. Mereka belajar tentang taman kanak-kanak untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus – dari  Atfaluna Society for Deaf Children – dan pada usia 5 tahun Mahmoud terdaftar.

 

Two colorful landscape paintings hang above door frames in a sparely furnished room

 

Pada usia inilah keluarga dan gurunya mulai memperhatikan kemampuan menggambarnya. Mahmoud memilih pensil warna, kertas, dan imajinasinya sendiri untuk bermain dengan anak-anak lain, kenang ibunya.

Sekolah mendorongnya dan bekerja mengembangkan keterampilannya.

Di kelas tiga, Mahmoud memenangkan hadiah pertama dalam lomba menggambar untuk siswa sekolah yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Gaza. Itu adalah sesuatu yang masih diingatnya dengan bangga dan itu memberinya kepercayaan diri untuk melanjutkan, katanya kepada Electronic Intifada dalam bahasa isyarat.

Tapi tidak ada yang bisa mudah bagi Mahmoud. Selama satu Ramadhan ketika dia berusia 8 tahun, dia bermain dengan anak-anak di lingkungan ketika kembang api yang dia tidak dapat dengar salah tembak dan memukulnya.

Dia kehilangan penglihatannya di satu mata dan banyak pemandangan di sisi lain.

Namun, Mahmoud tidak mau  membiarkan dirinya ditentukan oleh ketidakmampuannya.

“Saya akan melanjutkan,” katanya , “meskipun saya cacat dan kondisi kami yang buruk, mengejar impian saya.”

Pada tahun 2008, ia mendapat penghargaan, mengambil tempat ketiga dari Penghargaan Internasional Palestina untuk Keunggulan dan Kreativitas.

Pada tahun 2010, ia tampil dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh saluran TV al-Quds Gaza. Dan sejak itu, dia menikmati kemajuan yang mantap.

Pada 2013, ia berpartisipasi dalam sebuah pameran di Turki yang disponsori oleh kotamadya Trabzon. Pada 2015, organisasi budaya Rawasi Palestina untuk Kebudayaan dan Seni memasukkan karyanya dalam sebuah pameran seniman-seniman Gaza yang berbeda.

 

“Dedikasi yang bagus”

Mahmoud menggunakan cat minyak dan cat yang larut dalam air, meskipun yang pertama adalah pilihannya.

Pameran tunggal tahun ini datang setelah ia mengesankan para pejabat selama proyek untuk melukis mural di sekitar Jalur Gaza. Atef Asqoul, direktur jenderal kementerian kebudayaan, mengatakan Mahmoud terbukti menjadi salah satu dari 25 seniman terbaik yang terlibat dalam proyek tersebut dan akhirnya bertanggung jawab atas sebagian besar mural di Jalur Gaza utara.

“Mahmoud adalah seniman berbakat dengan dedikasi yang tinggi terhadap karya seninya,” kata Asqoul. “Dia telah membuktikan kepada seluruh komunitas bahwa memiliki cacat bukanlah stigma.”

“Saya memiliki hadiah yang diberikan Tuhan,” kata Mahmoud kepada Electronic Intifada. “Saya tidak mengambil ide dari tempat lain, saya hanya mengambil kuas saya dan mulai melukis apa yang saya rasakan di dalam.”

Seperti semua orang di Gaza, Mahmoud sangat terpengaruh oleh pengepungan dan pendudukan Israel.

Ada beberapa sumber daya di Gaza atau dari kementerian budaya untuk mendukung dan mempromosikan bakat lokal, kata Asqoul. Penduduk Gaza harus memprioritaskan kelangsungan hidup daripada ekspresi.

Akibatnya, kata pejabat itu, sebagian besar seniman mengandalkan dana asing atau pengakuan untuk memiliki harapan untuk membuat kehidupan dari seni mereka.

Tetapi perjalanan tidak diberikan untuk orang Palestina di Gaza. Sementara Mahmoud berhasil ke Turki pada 2013, ia tidak dapat pergi ke Moskow awal tahun ini untuk sebuah pameran seni karena penutupan penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir.

“Aku akan mengejar mimpiku. Saya ingin pekerjaan saya terkenal di seluruh dunia. Dan saya akan terus menyoroti penderitaan, aspirasi dan perlawanan Palestina dalam pekerjaan saya, ”kata Mahmoud.

“Kami berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik di mana kami dapat mencapai impian kami tanpa hambatan yang dikenakan oleh pendudukan.”

Fidaa Shurrab adalah seorang penulis dan penerjemah freelance yang bermarkas di Jalur Gaza.

‘Stadhuis Schandaal’, Kisah Misteri Menembus Lorong Waktu Era Kolonial

‘Stadhuis Schandaal’–foto okezone

Rumah produksi Xela Pictures dengan memperkenalkan film  perdananya yang berjudul “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal”, sebuah film berlatar era kolonial gaya kekinian yang mengusung historia romansa percintaan. Kiprah perdana Xela Pictures ini muncul setelah melihat industri perfilman nasional yang semakin bergairah dengan jumlah penonton yang terus bertambah yang menjadi pasar potensialnya.

“Kami tampil setelah melihat potensi penonton film Indonesia masih sangat besar, serta dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah dengan mengangkat budaya kita ke mancanegara agar bisa lebih dikenal bangsa lain seperti ke Tiongkok, yang menjadi pasar kedua film perdana kami”, kata Produser Eksekutif  Xela Pictures, Alexander Sutjiadi, Jumat (220/7/2018) di Jakarta.

Xela Pictures menggandeng sutradara senior Adisurya Abdy untuk menghasilkan film berlatar belakang sejarah jaman kolonial yang pernah terjadi ratusan tahun yang lalu namun dikemas secara kekinian.

“Saya tertantang untuk membuat film berlatar belakang sejarah ini, setelah sempat vakum selama 14 tahun, di sini saya dituntut untuk menghasilkan karya yang berbeda dari karya saya yang sebelumnya, yakni menghadirkan sebuah film berlatar belakang masa kolonial yang dikemas dengan gaya masa kini”, ujar sutradara era 80-an yang ngetop dengan beberapa karya filmya seperti Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara dan masih banyak lagi.

Kolaborasi antara Xela Pictures dengan sutradara Adisurya Abdy ini telah menghasilkan sebuah thriller dan misteri yang mampu menarik minat penonton usia muda, mereka disasar karena merupakan pasar potensial yang paling banyak datang ke bioskop.

“Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format masa kini tanpa meninggalkan unsur historisnya, sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejrah yang belum terungkap”, tambah Adisurya Abdy.

Demi meraih minat penonton di pasaran Tiongkok, film ini mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu Jakarta, Pangkalan Bun (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).

“Untuk menembus pasar Tiongkok, kami bekerjasama dengan perusahaan film dari Tiongkok, ini adalah sebuah film yang luar biasa, sehingga perlu digarap dengan serius karena Tiongkok merupakan pasar yang sangat potensial, saya berharap semoga film perdana ini bisa diterima penikmat film di negara yang berpenduduk 1,4 Miliar ini”, ungkap Alexander Sutjiadi.

Film Sara & Fei, Stadhuis Schandaal, berkisah tentang seorang mahasiswi bernama Fei yang sedng melakukan riset untuk tugas mata kuliahnya di Musium Fatahillah di kawasan Kota Tua Batavia, di sini Fei didatangi gadis blasteran Belanda-Jepang bernama Sara, yang tiba tiba datang secara misterius yang tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad ke 16, di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hinda Belanda dijabat oleh Jan Pieterzoon Coen, dari sini cerita berlanjut semakin menarik dan penuh misteri, yang pastinya akan membuat penonton bertanya tanya dan semakin penasaran, film ini rencananya akan ditayangkan serentak di bioskop pada 26 Juli ini.***

‘Masha and The Bear’ Beraksi di Atas Es di Indonesi

KISAH tentang persahabatan gadis kecil dan seekor beruang, Masha and The Bear kini tak hanya akan hadir lewat seri animasi. Versi live show dari seri itu, Masha and The Bear on Ice akan dipentaskan di Indonesia Convention Exhibition BSD Tangerang pada Agustus mendatang.

Pihak promotor My Will Entertainment, Willy Hidayat mengatakan bahwa pentas yang diboyong langsung dari Slovakia itu akan menjadi bentuk hiburan edukatif bagi masyarakat Indonesia, terutama anak.

“Pesan yang terkandung dalam cerita, bisa menjadi inspirasi untuk anak-anak Indonesia. Bagaimana nilai kemandirian, kecerdikan dan kreativitas bisa didapat sekaligus,” katanya saat jumpa pers di kawasan Jakarta Pusat, belum lama ini.

Dia menambahkan, gelaran itu dilangsungkan masih dalam momen perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia.

“Kita merayakan kemerdekaan pada 17 Agustus, ini akan digelar 19 Agustus. Semoga nilai-nilai yang disampaikan bisa membawa semangat juga pada momen itu,” tambahnya.

Lebih lanjut, Willy memaparkan bahwa pentas ini akan mengadaptasi sejumlah adegan dari serial animasinya langsung, khususnya yang menonjolkan nilai-nilai kebaikan. Pentas tersebut akan berlangsung selama dua jam dengan penampilan yang didukung oleh 55 skaterprofesional dari Slovakia.

“Animasinya memang dari Rusia, tapi untuk pementasan di atas es ini kami membawa langsung dari Slovakia. Itu dari tim terbaiknya yang memadukan kolaborasi seni teater, musik, tari, akrobat dan ice skating,” ungkapnya.

Menurut keterangan Willy, pentas ini seharusnya ditampilkan pada 29 Juni hingga 1 Juli lalu. Namun, karena kendala teknis hari pementasannya pun diubah menjadi 19 Agustus 2018 dengan tiga sesi pertunjukan, yakni pukul 10.00, 13.30, dan 17.00 WIB.

“Biasanya kalau konser dipersiapkan dari sini. Namun, ini khusus, bahkan esnya dibawa dari Slovakia. Jadi lumayan repot, pertunjukan ini sampai tujuh kontainer untuk bawa seperti properti rumah beruangnya,” katanya.

“Mesin pembuat esnya yang dibawa, karena mereka punya formula khusus. Untuk ice skatingdi sini pun yang biasa dipakai pun kayaknya diimpor,” tambahnya.

Masha and The Bear on Ice akan menyuguhkan pentas tentang seorang anak yatim piatu yang mandiri, kreatif dan cerdik. Ia hidup dengan seekor beruang bekas pemain sirkus di tengah hutan.

Tiket pertunjukan ini dijual dalam lima kategori Bronze, Silver, Gold, Platinum, dan VIP mulai dari Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta. ***

Yoshi Sudarso Belajar Bahasa Indonesia Lagi di Film ‘BUFFALO BOYS’,

NAMA Yoshi Sudarso mendadak mencuat saat ia terlibat dalam produksi serial Power Rangers Dino Charge: Resurgence. Kini, performa Yoshi yang baru berusia 29 tahun bisa dilihat dalam layar lebar produksi Indonesia bertajuk BUFFALO BOYS besutan Mike Wiluan.

Demi mendalami perannya sebagai Suwo, selain latihan untuk adegan laga, Yoshi Sudarso juga mempelajari kembali bahasa Indonesia. Karena selama 20 tahun terakhir ia menetap di Amerika, membuatnya terbiasa bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris.

“Tantangan buat aku yang paling susah adalah bahasa Indonesia. Ada sebulan latihan dan aku gunakan untuk latihan bahasa sama Mas Yayu Unru,” kata Yoshi saat gala premiere BUFFALO BOYS di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu malam (18/7/).

Uniknya, latar belakang karakter Suwo tidak jauh beda dengan kehidupan Yoshi. “Suwo lahir di Indonesia, tapi besar di Amerika lalu balik lagi ke sini. Aku juga lahir di sini tapi besar di sana yang nggak pakai bahasa Indonesia terlalu sering. Jadi emang nggak jauh beda kayak aku,” ucapnya.

Usaha aktor ganteng berusia 29 tahun ini ketika belajar bahasa Indonesia kembali membuat Ario Bayu salut. Karena ternyata ia juga pernah mengalami hal serupa saat pulang ke Indonesia setelah lama tinggal di Selandia Baru. ***

Kapolri Tito Karnavian Main Film Tragedi Bom Thamrin ’22 Menit’

Kapolri Tito Karnavian Main Film ’22 Menit’–foto kompasiana com

Kapolri Jendral Pol Tito Karnavian turut serta dalam pembuatan film ’22 Menit’. Bahkan, Tito juga turut berperan sebagai aktor dalam film yang mengisahkan tragedi bom Thamrin pada 2016 silam.

Dalam film tersebut, Tito bukan berperan sebagai Kapolda Metro Jaya, melainkan sebagai figuran, yakni seorang pengendara motor yang melintasi Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. “Iya sebenarnya ini untuk lucu-lucuan aja sih, karena beliau (Tito Karnavian) sangat mempedulikan film dan budaya,” ujar sutradara film ’22 Menit’, Eugene Panji ketika ditemui di Gala Premiere film ’22 Menit’, baru baru ini.

“Ini sebenernya film fiksi sih, hanya inspired by true event,” imbuhnya.

Tito Karnavian jadi pengendara motor di film ’22 Menit’–foto istimewa

Tito tengah beradegan mengendarai sebuah motor Honda type PCX dengan memboncengkan istrinya, Tri Suswati. Tito beradegan bak pengendara motor biasa. Ia mengenakan topi berwarna krem, kacamata hitam, mengenakan kaos putih, dan celana Jogger berwarna abu-abu. Sedangkan Tri Suswati mengenakan jaket hitam, celana hitam dan sebuah topi putih.

Menariknya, dalam adegan mengendarai motor, mereka tidak mengenakan helm. Akibatnya, Tito dan Tri Suswati ditilang oleh seorang petugas polisi di simpang Jalan Thamrin. Tentu itu hanyalah sebuah adegan dalam film tersebut.

Saat bom Thamrin terjadi Tito masih berpangkat Inspektur Jenderal (Irjen) dan menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Sementara dalam film ’22 Menit’, peran Kapolda Metro Jaya diperankan oleh Mathias Mucus. ***

Scarlett Johansson Putuskan Keluar dari Proyek Film ‘Rub & Tug’

SCARLETT  Johansson memutuskan untuk  tak terlibat dalam penggarapan film Rub & Tug, yang sedianya akan menayangkan dia berperan sebagai seorang transgender.

“Mengingat banyak yang mempertanyaan etika baru-baru ini, yang muncul di sekitar casting saya sebagai Dante Tex Gill, saya telah memutuskan untuk dengan hormat, menarik partisipasi saya dalam proyek ini,” kata Johansson dalam sebuah pernyataan kepada Out.com.

“Pemahaman budaya kami tentang orang transgender terus meningkat, dan saya telah belajar banyak dari komunitas sejak membuat pernyataan pertama saya tentang casting saya, dan menyadari itu tidak peka,” kata aktris itu melanjutkan.

“Saya sangat mengagumi dan mencintai komunitas transgender, dan saya bersyukur bahwa percakapan mengenai inklusivitas di Hollywood terus berlanjut.”

Berikut pernyataan lengkap Scarlett: 

In light of recent ethical questions raised surrounding my casting as Dante Tex Gill, I have decided to respectfully withdraw my participation in the project. Our cultural understanding of transgender people continues to advance, and I’ve learned a lot from the community since making my first statement about my casting and realize it was insensitive. I have great admiration and love for the trans community and am grateful that the conversation regarding inclusivity in Hollywood continues. According to GLAAD, LGBTQ+ characters dropped 40% in 2017 from the previous year, with no representation of trans characters in any major studio release. While I would have loved the opportunity to bring Dante’s story and transition to life, I understand why many feel he should be portrayed by a transgender person, and I am thankful that this casting debate, albeit controversial, has sparked a larger conversation about diversity and representation in film. I believe that all artists should be considered equally and fairly. My production company, These Pictures, actively pursues projects that both entertain and push boundaries. We look forward to working with every community to bring these most poignant and important stories to audiences worldwide.

 

Film Rub & Tug bercerita tentang Jean Marie Gill, yang ‘ditakdirkan’ sebagai perempuan saat lahir, tetapi ia kemudian mengambil identitas seorang pria, sebagai Dante “Tex” Gill. Dia kemudia mengoperasikan panti pijat dan bisnis prostitusi di Pittsburgh pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Meskipun tidak jelas bagaimana Gill, yang meninggal pada tahun 2003,  berita kematiannya di Pittsburgh Post-Gazette mencatat bahwa ia juga mengelola panti asuhannya. Sementara dia  “bersikeras bahwa dia adalah seorang pria dan mengatakan kepada semua orang dia ingin dikenal sebagai ‘Mr. Gill. ‘”

Ketika proyek produkdi film ini diumumkan pada 2 Juli, bersama dengan casting Johansson, ada reaksi online langsung. Mayoritas komentator berpendapat bahwa peran tersebut seharusnya diberikan kepada pelaku transgender, bukan Scarlett.

Keesokan harinya, situs  Bustle.com melaporkan bahwa Johansson, dalam sebuah pernyataan yang diberikan oleh perwakilannya, berkata, “Katakan bahwa mereka dapat diarahkan ke Jeffrey Tambor, Jared Leto dan perwakilan Felicity Huffman untuk komentar.”

The Hollywood Reporter tidak dapat mengkonfirmasi pernyataan, yang mereferensikan aktor cisgender yang sebelumnya telah memainkan peran trans sebagai pemenang penghargaan.

Aktor trans berbagi mengkritik mereka tentang casting, dengan aktris Transparan Trace Lysette, tweeting, “Saya tidak akan marah, jika saya masuk ke kamar yang sama seperti Jennifer Lawrence dan Scarlett untuk Perancis, tapi kami tahu itu tidak terjadi. Berantakan.”

Menanggapi keputusannya untuk keluar dari film, Presiden GLAAD Sarah Kate Ellis mengatakan dalam sebuah pernyataan, “Pengumuman Scarlett Johansson, bersama dengan suara transgender yang berbicara tentang film ini, adalah pengubah permainan untuk masa depan tentang gambaran transgender di Hollywood.  Hollywood mengubah cara orang Amerika memahami kehidupan gay dan lesbian, dan TV mulai melakukan hal yang sama untuk orang transgender dengan penggambaran transgender otentik yang menjadi hits besar dengan kritik dan penonton. Industri film memiliki peluang nyata untuk melakukan hal yang sama. ”

 

 

 

Puteri Indonesia 2014, Elvira Devinamira Dilarang Menyanyi

Elvira Devinamira –instagram

Elvira Devinamira Putri Indonesia 2014 asal Jawa Timur, kembali berakting di film layar lebar. Sebelumnya dara 25 tahun ini sempat main di film Single tahun 2015 lalu.

Pemilik nama lengkap Elvira Devinamira Wiratanti yang juga masuk 15 besar Miss Universe 2014 di Amerika Serikat kategori Best National Costume ini digandeng rumah produksi Himaya Pictures untuk melakoni peran di film komedi satire bertitel ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’ arahan sutradara John De Rantau. Film ini diangkat dari cerpen karya Seno Gumira Ajidarma. “Cerpen ini bertema komedi seks dan ini bukan komedi porno,” ungkap Seno yang kini Rektor IKJ.

“Cukup percaya diri sih, soalnya aku sebelumnya udah pernah ikutan main sinetron komedi di NET. Jodoh aku rupanya komedi melulu. Hanya saja ini di film,” ujar model kelahiran Surabaya ini di sesi syukuran film terbarunya itu, Jumat (13/7) kemarin.

Elvira mengaku masih dalam persiapan syuting. “Jadi aku gunakan untuk latihan, nanya-nanya sama artis senior yang ikut main di film ini, ama sutradaranya (pokoknya sebagai orang baru aku harus berani nanya-nanya, apalagi pemainnya mayoritas aktor-aktris senior,” ungkap pemain serial komedi Keluarga Besar di NET ini lagi.

Elvira pun kini sudah tak sabar ingin lekas-lekas suting bersama aktor senior Mathias Muchus, Yurike Prastica, Anna Tarigan, Anne J.Coto dan lainnya. Dia mendapat peran sebagai Sophia, gadis seksi dan peramah, suka menggunakan bahasa Inggris karena dia keturunan Italia.

“Tapi ceritanya aku suka musik asli Indonesia seperti dangdut dan melayu dan suka nyanyi di kamar mandi,” terang Elvira.