Luna Maya dan Maxim Bouttier Nikah di Bali

JAYAKARTA NEWS— Kabar Luna Maya dan Maxim Bouttier akan menikah di Ubud, Bali makin santer. Undangan bernuansa hijau sempat ‘bocor’ di kalangan artis dan pers. ‘Safe the date for the Akad of Luna Maya and Maxim Bouttier. May 7th 2025’ demikian tulis undangan tersebut.

Dua tahun pacaran, usia mereka terpaut 10 tahun. Luna 41 tahun sedang Maxim 31 tahun.

Di podcast Goyang Lidah di Youtube, Luna tak membantah kabar pernikahan dirinya dengan Maxim.

“Ya. Benar. Saya menjaga privacy. Kami berdua juga sedang mempersiapkan galprem film ‘Gundik’ 22 Mei 2025,” ujar Luna yang bernama Desa Maya Waltaurd Maiyer dan berdarah Austria.

Sedangkan Maxim Andre Selam Bouutier berdarah Perancis.

Awal April lalu, ditengah bermekarannya bunga sakura di Jepang, Maxim melamar Luna dengan memberikan cincin yang konon seharga Rp 2 M. “Itu enggak benar. Berlebihan,” ungkap Maxim tertawa bahagia.

Luna Maya sudah banyak membintangi sederet film nasional bergenre drama, komedi dan horor. Film-filmnya yang terkenal diantaranya ‘Panggonan Wingit’, ‘Sumala’, ‘Suzanna : Malam Jumat Kliwon’.

Maxim Bouttier baru jadi model di Bali saat berusia 18 tahun.

Dan ia pernah lolos cast berperan sebagai Gede di film ‘Ticket to Paradise’ yang dibintangi George Clooney dan Julia Roberts, dua pemeran Hollywood terkenal.

Maxim juga pernah menyutradarai film horor bertajuk ‘Kain Kafan Hitam’.

Selama berkarier di dunia film, mereka berdua pertama kali bermain bareng di film berjudul ‘Gundik’ karya sutradara Anggy Umbara.

“Saya introvert. Luna orangnya to the point. Semula saya mengagumi dia. Kamu ngefans sama saya ya, tanya Luna. Ya, kak. Jawab saya polos,” kenang Maxim.

Kini, cewek yang dikaguminya bakal jadi isteri sahnya.

Di Ubud, Bali, Rabu, 7 Mei 2025. (pik)

Sayap Sayap Patah 2: Olivia – Densus 88 Lawan Terorisme

JAYAKARTA NEWS— Film ‘Sayap Sayap Patah’ karya Rudi Soedjarwo, anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror, Aipda Sudarmaji alias Aji tewas dalam kerusuhan di Mako Brimob, Cimanggis, Depok.

Di film sekuel berjudul ‘Sayap Sayap Patah (SSP) 2 : Olivia’ yang disutradarai  Ferry Pei Irawan, puteri anggota Densus Pandu (Arya Saloka) bernama Olivia tewas dalam pengeboman di lokasi hiburan anak.

Hanya 2 sosok utama di SSP yang tampil lagi di SSP 2 yaitu gembong teroris Leong (Iwa K) dan Sadikin (Nugie).

Dikisahkan, Leong bebas dari bui. Anaknya bernama Askar (Bio One) menjemputnya bergabung dengan kelompok teroris lain.

Leong lalu merekrut ‘calon pengantin’ alias pelaku bom bunuh diri baru yang merupakan benih-benih baru teroris muda usia.

Antara lain Wabil (M Khan) dan banyak lagi.

Diadaptasi dari kisah nyata pengeboman di depan gereja di Samarinda 2016 yang menewaskan Olivia berusia 2,5 tahun, maka film ini dirangkum banyak sosok fiktif menjadi sebuah film drama heroik nan tragis dan kesedihan.

“Peristiwanya memang nyata. Tapi saya bersama Jocelyn Cordelia kemudian memintalnya kembali jadi cerita fiksi utuh,” terang penulis skenario Rahabi Mandra (ingat bom Bali, bom Marriot, bom malam Natal, Noordin M Top dan Azahari dll).

Fokus utama berkisah pada Pandu, anggota Densus 88 dan puterinya semata wayang, Olivia (Myesha Lin). Sedangkan isterinya wafat dalam kecelakaan beberapa tahun silam.

Alhasil, Pandu jadi ayah tunggal dan penegak hukum yang siap menjalankan tugas menghadapi ancaman teroris. Sebagai anggota Densus 88.

Cerita makin kompleks dengan kehadiran Suri (Dara Saraswati), guru Olivia yang tampak naksir pada ayah Olivia.

Pandu terjebak dalam situasi berbahaya. Kelompok Leong bangkit kembali.

Askar, puteranya, diam-diam ingin membalas dendam atas penahanan ayahnya dan kematian beberapa teroris di Mako Brimob.

Pas Leong bebas, terjadi ledakan di sebuah kafe.

Kelompok teroris berhasil ditumpas oleh Densus 88. Namun, di ending, tampak seorang pria yang gagah sedang membesuk Askar di tahanan.

Siapakah dia ?

Noordin M Top ?  Sekuel SSP 3 ?

“Jangan spoiler dulu. Tunggu saja SSP 2 yang akan dirilis 8 Mei 2025,” kelit produser Denny Siregar tersenyum penuh arti.

“Saya mengapresiasi pembuatan film ini. Dalam hal ini, Densus 88 tetap bertugas menangani tindak pidana terorisme dan ancaman bom,” kata Kepala Detasemen Khusus 88, Gories Mere yang hadir dalam galprem SSP 2 di XXI Epicentrum Walk, Jakarta bersama Kepala BNN RI, Marthinus Hukom.

Aktor Arya Saloka menegaskan, berakting sebagai anggota Densus 88  memiliki kebanggan tersendiri.

“Saya harus bisa melepaskan diri dari zona nyaman Aldebaran di series televisi Ikatan Cinta,” cetus Arya Saloka.

Di film ini, dia wajib menurunkan 5 kg berat badan dan rambut setengah panjang terpangkas.

Pemeran-pemeran lain baik yang jadi tokoh baik maupun sosok jahat/antagonis patut diberi punten.

Mereka antara lain M Khan, Meriam Bellina, Samo Rafael, Dara Saraswati, Givina Lukita, Aufa Assegaf dan bintang cilik Myesha Lin bermain pada porsinya masing-masing.

Arya Saloka, Nugie, Bio One dan Iwa K boleh digarisbawahi dan bermasa depan cemerlang di seni peran. (pik)

Tabayyun: Proses Memaafkan Kesalahan di Masa Lalu

JAYAKARTA NEWS— Tabayyun adalah menjelaskan, memahami dan memverifikasi sesuatu sebelum membuat kesimpulan dan tindakan. Film drama religi produksj   Beehave Pictures, Legacy dan A & Z Films yang disutradarai Key Mangunsong ini berkisah tentang memaafkan kesalahan di masa lalu dan menghargai diri sendiri.

Zalina (Titi Kamal) mengalami jatuh bangun dan digunjingkan di kantor karena status suaminya yang kurang jelas. Ia menggendong bayinya bernama Arka sembari menangis.

Masalah makin kompleks ketika Ario (Ibrahim Risyad) anak pimpinan, jatuh cinta kepada Zalina.  Padahal, Ario sudah dijodohkan dengan Arum (Naysilla Mirdad), teman masa kecilnya.

Melihat ini, Zalina mawas diri dan menjauhi Ario. Ibu Ario, Samira (Jenny Rachman) tak merestui hubungan ini. Tapi Ario tetap gigih.

Suatu hari, Samira ingin bertabayyun dengan Zalina yang masa lalunya lebih kelam.

Apakah keluarga mendukung Ario menerima kehadiran Zalina ?

Naysilla Mirdad (foto beehave)

Ronny Irawan, produser, mengakui tema cerita film ini seperti naik roller coaster. “Kisahnya mengaduk-aduk emosi dan perasaan penonton. Ini merefleksikan wajah masyarakat kita saat ini. Lucu, sedih, gemas,” lontar Ronny Irawan.

Titi Kamal menjelaskan film Tabayyun adalah reuni dirinya dan Naysilla Mirdad setelah main bareng di sinetron ‘Tertawan Hati’.

“Naysilla Mirdad sosok luar biasa dalam memainkan peran di ranah drama. Dia mudah beradaptasi. Saya enggak sulit chemistry di film ini,” terang Titi Kamal.

Diangkat dari cerita novel karya Ilyas Bachtiar dan skenarionya dijahit Titien Wattimena, Tabayyun dimeriahkan sederet pemeran yaitu Titi Kamal, Ibrahim Risyad, Naysilla Mirdad, Jenny Rachman, Maya Hassan, Fanny Fadhilah, Melly Manuhutu, Adila Fitri, Farrell Rafisqy, Fabio Asher, Lachlan Gibson dan bu Tri.

Yuk, kita kepo seberapa besar tabayyun dua wanita di film ini. (pik)

Suasana Hangat dan Syahdu, Pengurus PWI Jaya dan PWI Pusat Menikmati Alunan Jazz di Juntos Bar & Grill

JAYAKARTA NEWS – Senin malam di Jakarta Selatan menjadi lebih istimewa ketika pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya dan PWI Pusat berkumpul di Juntos Bar & Grill, Lotte Mall Jakarta Selatan, untuk menikmati alunan musik jazz yang syahdu. Bertempat di lantai LG, tempat ini menawarkan suasana yang hangat, elegan, namun tetap santai, sempurna untuk melepas penat setelah kesibukan harian.

Owner Juntos Grill & Bar, Aryanto Setiabudi yang akrab disapa Toto, menyambut langsung kedatangan para tamu dengan penuh kehangatan. Dengan senyum ramah, Toto memperkenalkan konsep tempat yang ia bangun: sebuah ruang bagi pecinta whiskey, cerutu, dan tentunya musik jazz berkualitas.

“Juntos memang kami rancang bukan sekadar sebagai bar atau restoran biasa, tetapi sebagai tempat orang bertemu, berbagi cerita, menikmati musik, dan tentu saja relaksasi dengan sajian terbaik,” ujar Toto di sela-sela acara, Senin (28/4).

Malam itu, nuansa hangat langsung terasa sejak para tamu memasuki ruangan. Alunan musik jazz dengan penyanyi Natasya Elvira mengisi setiap sudut ruangan, memadukan keindahan sejumlah alat musik yang memanjakan telinga. Lampu-lampu temaram menambah kesan intim, sementara aroma khas cerutu dan whiskey berkualitas, memberikan karakter kuat pada suasana malam itu.

Di antara tamu yang hadir, Bimo, salah satu pengunjung setia Juntos, tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. “Bagi saya, Juntos itu seperti oase di tengah kesibukan Jakarta. Setiap kunjungan selalu meninggalkan kesan mendalam,” ungkap Bimo sambil menghisap cerutunya.

Tak hanya menikmati musik, malam itu para pengurus PWI juga tampak berbincang akrab, berbagi cerita tentang dunia jurnalistik, sambil sesekali tertawa renyah sambil menikmati aneka hidangan khas Juntos yang selalu menggugah selera. 

Kehadiran pengurus PWI Jaya dan PWI Pusat di Juntos Grill & Bar malam itu bukan hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menunjukkan bagaimana ruang-ruang santai seperti Juntos dapat menjadi tempat bertemu lintas generasi – di mana musik, cerita, dan kehangatan bertemu dalam harmoni.***/mel

Jumbo Gaet 7 Juta Penonton, 3 Besar Film Terlaris Sepanjang Masa

JAYAKARTA NEWS— Sampai Senin (28/4/2025), film animasi Jumbo berhasil mengumpulkan 7 juta lebih penonton.

Sejak tayang pertama 30 Maret 2025, film produksi Visinema Studio ini masuk dalam 3 Besar Film Terlaris Sepanjang Masa setelah ‘KKN di Desa Penari’ (2023, 10 juta penonton) dan ‘Agak Laen’ (2024, 9 juta penonton).

“Saya enggak pernah pasang target jumlah penonton,” lontar sutradara Ryan Adriadhy Halim menangis terharu.

Ryan Adriadhy Halim (foto visinema)

Ryan yang berprofesi sebagai animator, pelawak tunggal, presenter dan pemeran ini pernah menjadi juara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV musim pertama 2011.

Pria berusia 34 tahun ini juga pernah bermain dalam seri TV sutradara Raditya Dika berjudul ‘Malam Minggu Miko’ dan ‘Kokoro notomo Pop’.

“Saya enggak menduga hal ini terjadi. Animo penonton masih menggebu. Layar bioskop kini masih 60 buah,” urai Ryan yang meraih Piala Citra di FFI 2020 untuk kategori film animasi pendek terbaik.

“Jumbo adalah film keluarga yang menghibut dan edukatif. Dikerjakan oleh 200 konten kreator,” ujar Ryan yang lulusan Binus dan pernah menempuh pendidikan S2 di Institut Rochester dengan tugas akhir membuat film bertajuk ‘Prognesis’ tahun 2020.

Ryan bersama 3 pengisi suara Jumbo (foto visinema)

Film anak yang mengisahkan tentang keberanian, percaya diri dan arti persahabatan ini didukung oleh banyak pengisi suara yaitu Angga Yunanda, BCL, Ariel Noah, Cinta Laura Kiehl, Queen Salman, Prince Poetiray dan masih banyak lagi.

“Saat saya sedang mencari pengisi suara Don (tokoh utama Jumbo), saya disodori nama Prince Poetiray. Wow….vokalnya pas benar. Juga bisa nyanyi dan main gitar,” imbuh Ryan mantap.

Kita tunggu saja. Jumbo ngebut terus menuju 8 juta atau 9 juta ? (pik)

Penjagal Iblis: Dosa Turunan

JAYAKARTA NEWS— Horor lagi. Kali ini, film berjudul ‘Penjagal Iblis: Dosa Turunan’ yang disutradarai Tommy Dewo plus sentuhan aksi.

Produksi Screenplay bekerjasama dengan Rapi Films dan IFI Sinema ini mengisahkan ihwal kegemparan yang mencuat sewaktu terjadi pembunuhan berantai yang mengincar jantung pemuka agama.

Sebuah keluarga dibunuh secara brutal kala rukiah di sebuah desa.

Seorang gadis dituduh sebagai pelakunya.

Ningrum (Satine Zaneta Putri Hujan), 19 tahun, pelaku pembunuhan ditahan di RS Jiwa. Ia diduga mengidap dilusial.

Seorang jurnalis bernama Daru (Marthino Lio) yang meliput kasus tersebut mencoba menggali kebenaran dan mewawancarai Ningrum.

Tommy Dewo, sutradara (foto rapi)

“Aku sebagai penjagal iblis yang turun ke dunia dan berupaya menghabisi keluarga sekte pemuja iblis pimpinan Pakunjara (Niken Anjani),” teriak Ningrum.

Ditengah-tengahnya, Daru terperangkap dalam pertempuran melawan pemuja iblis.

Tak ada pilihan lain. Daru membantu Ningrum menghadapi keganasan Pakunjara.

Berhasil ?

Film yang akan tayang 30 April 2025 ini juga diramaikan sekeranjang pemeran seperti Kiki Narendra, Eduwart Manalu, Gusty Pratama, Lucky Moniaga dan Naomi Hitanayri.

“Penjagal Iblis banyak adegan  berdarah yang menyeramkan. Jadi, siap menjerit dan menahan adrenalin,” lontar sutradara Tommy Dewo yang sukses membuat film horor ‘Ratu Adil’ dan ‘Santet Segoro Pitu’.

Menjawab pertanyaan apakah di Islam ada dosa turunan/warisan, Tommy Dewo tak mau berandai-andai.

“No comment,” kilahnya. (pik)

Bunda Iffet, Manajer Slank Wafat, Slankers Berduka

JAYAKARTA NEWS — Kabar duka datang dari dunia musik. Bunda Iffet Veceha binti Abdul Azis St Besar alias Iffet Sidharta wafat dalam usia 87 tahun. Almarhumah adalah manajer band Slank dan ibu kandung dari Bimbim (drumer Slank). Juga ibu dari Adrian Sidharta, Dianto Yusuf Sidharta dan Laila Sidharta.

Slank dibangun 41 tahun silam dan semula bernama Cikini Stone Complex.

Beberapa tahun silam, personel Slank yaitu Kaka, Bimbim dan Ivanka pengguna narkotika.

Bunda Iffet lah jadi ‘malaikat’ penolong yang menyembuhkan personel Slank dari jerat narkotika.

“Bunda mengarahkan doa kepada kami. Selain memberikan obat herbal dari sinshe Teguh Wijaya,” kenang Bimbim.

Slank formasi terbaru (foto slank)

Alhasil, setiap Slank konser ke luar kota bahkan ke AS, bunda Iffet selalu ikut untuk menjaga dan mengawasi mereka.

Slank yang dinobatkan jadi ‘Duta Santri’ oleh PB NU Maguwo, Jogjakarta pernah melejitkan banyak lagu hits.

Antara lain ‘Virus’, ‘Balikin’, ‘Suit Suit Hey Hey’, ‘Orkes Sakit Hati’, ‘Maju tak Gentar Membela yang Bayar’ dll.

Sejak pagi, markas Slank di jalan Potlot III no 14, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta tampak dipenuhi para slankers (fans setia Slank).

Tampak karangan bunga duka cita dari Gubernur DK Jakarta, Pramono Anung, Melly Goeslaw dan Atta Halilintar.

Dijadwalkan, jenazah almarhumah akan disalatkan di masjid Al Hidayah di jalan Potlot.

Selanjutnya, almarhumah dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta, bada dzuhur.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. (pik)

Menteri Fadli Zon Ajak Obrolan Santai Layar Basua Bersama Insan Film

JAYAKARTA NEWS— Film dalam sejarah sebagai alat propaganda. Juga sebagai pemicu pariwisata dan medium budaya pembangunan bangsa. Inilah wajah perkembangan budaya kita.

“Saya mendukung kemajuan film Indonesia yang mencakup beragam unsur seni,” ucap Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam acara ‘Layar Basua’ obrolan santai insan film RI di Gedung A Kemenbud, Senayan, Jakarta, Kamis malam (24/4).

Sambutan Menteri Kebudayaan RI

Dikatakannya, berdasar data baru, jumlah penonton Indonesia cenderung mengalami tren kenaikan.

“Film kita saat ini aktif ikut dan merebut penghargaan di berbagai FF Internasional  yang akrab di kancah global. Namun di sisi lain, film RI sukses menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” urai Fadli Zon sembari menunjukkan bukti kualitas film nasional ‘Jumbo’ yang menjadi film terlaris sepanjang masa.

Sependapat sambutan Dirjen Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kemenkebud, Ahmad Mahendra.

“Saya berharap film kita hadirkan ide-ide segar dan kita siap membuka ruang dialog dengan pelaku film guna memperkuat ekosistem yang ada. Hal ini penting guna memperbarui kebijakan yang sudah berjalan,” papar Ahmad Mehendra.

Ahmad Mahendra bersama insan film (foto toto)

Dalam dialog tersebut nantinya semua aspirasi, masukan dan usulan pelaku dan pegiat film bisa dibahas dan dilaksanakan.

Disinggung juga salah satu kendala adalah masalah distribusi yang dihadapi yang belum merata sampai ke bawah.

“Sisi infrastrukturnya harus segera diperbarui. Jumlah gedung bioskop perlu diperbanyak sampai ke kota-kota kecil. Ini yang kita sedang upayakan,” imbuh Ahmad Mahendra.

Acara Layar Basua berjalan akrab dan seru. Lontaran pertanyaan dan usulan berlangsung ramai.

Sampai jumpa di Malam ramah tamah Malam Basua berikutnya. (pik)

Perang Kota: Kisah Epik Mantan Pejuang yang Impoten dan Cinta Pelik

JAYAKARTA NEWS— Film ‘Perang Kota’ (This City is a Battlefield) adalah drama sejarah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Diadaptasi secara bebas dari novel sastra klasik karya Mochtar Lubis berjudul ‘Jalan Tak Ada Ujung’, film ini berkisah ketika Indonesia menghadapi kedatangan tentara Sekutu yang dibonceng Belanda.

Mouly Surya menawarkan perspektif universal (foto starvision)

“Berlatar Jakarta 1946 adalah masa penuh ketegangan dan perjuangan bagi tentara RI mempertahankan kemerdekaan,” lontar sutradara Mouly Surya di XXI Epicentrum Walk, Jakarta.

Perang melawan Belanda dan tentara Gurkha juga ‘perang’ batin di antara tokoh-tokohnya yang dililit cinta pelik.

Isa, guru, mantan pejuang dan penggesek biola yang galak menghabisi musuh ternyata punya masalah di ranjang pernikahan (impoten).

Isterinya, Fatimah tak puas dan diam-diam berselingkuh dengan Hazil, murid Isa.

Kompleksitas cinta segitiga yang rumit ini menjadi plot utama kisah ini.

Isa merencanakan menyerang bioskop di Pasar Senen tempat pejabat NICA dan Belanda berapat. Kemudian, selanjutnya tentara RI melakukan penembakan terhadap Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Tiga pemeran (Jerome, Ariel, Chicco) yang jadi fokus utama (foto starvision)

Berhasilkah ?

Di sisi lain, ada pengkhianatan yang membawa ke kehancuran.

Perang Kota menggiring aroma ketegangan dengan alur yang intens, sinematografi nan memukau dan cerita yang mengharu biru.

Syuting selama 33 hari di beberapa kota yaitu Semarang, Surabaya, Ambarawa dan Jogjakarta dinilai paling cocok menggambarkan suasana Jakarta di masa lalu.

“Pemeran dituntut bisa berbahasa Belanda. Makanya saya memilih Jerome Kurnia yang fasih ‘holland spreaken’ selain akting dia memang pas memerankan Hazil. Karena suasananya terjadi tahun 1946, juga film ini bakal didistribusikan komersial ke Belanda, Belgia dan Luksemburg,” urai Mouly Surya.

“Perang Kota juga menawarkan perspektif universal yang relevan dengan kehidupan kiwari,” ucapnya.

Alhasil, untuk efek visual dikerjakan tim di Amrik dan tata suara digarap di Perancis.

Produksi Cinesurya, Starvision dan Kaninga yang akan dirilis 31 April 2025 dimeriahkan sederet pemeran berkualitas seperti Chicco Jerikho, Ariel Tatum,  Jerome Kurnia, Lukman Sardi, Rukman Rosadi, Chew Kin Wah (aktor Malaysia), Imelda Therinne, Alex Abbad, Indra Birowo dan Dea Panendra.

Sebagaimana dikatakan Sun Tzu , ahli strategi Cina…kenali dirimu sendiri, kenali musuhmu. Seribu pertempuran, seribu kemenangan….

Guru Isa berhasil mengganyang Belanda dan diusir dari bumi Indonesia, tapi dia tak berdaya berperang melawan egonya di ranjang.

Nah ! (pik)

Harry Dagoe Bikin Film Terikat Jalan Setan

JAYAKARTA NEWS— Setelah sukses menyutradarai film ‘Dikejar Setan’ yang bergenre horor tahun 2009, kini Harry Dagoe Suharyadi kembali membuat film horor lagi. Berjudul ‘Terikat Jalan Setan’ dan diproduksi Tangan Dingin, lulusan IKJ jurusan film dan televisi ini mengangkat karya nyata yang viral di medsos tentang nikah gaib dengan jin.

Sepasang pasutri Echa dan Ariel terjebak situasi ngeri akibat gangguan jin Dasim. Tiga tahun belum dikaruniai anak, ternyata Echa diam-diam telah dinikahi jin Dasim di alam gaib dan kini sedang hamil.

Echa dan Ariel berusaha mempertahankan rumah tangganya secara utuh meski terus diganggu jin Dasim baik dalam mimpi maupun di dunia nyata.

Mereka telah mendatangi ustad dan melakukan rukiah, tapi upayanya sia-sia.

Berhasilkah mereka melepaskan diri dari keterikatan dengan jin ?

Harry Dagoe Suharyadi

Kenapa Harry Dagoe membuat horor lagi?

“Film yang saya buat ada pesan dan misinya. Di sini ternyata ada jin yang lebih baik daripada manusia,” alasan Harry Dagoe yang pernah membuat film bertema thriller psikhologi bertajuk ‘Keira : dengan 7 Kepribadian’.

Segudang pemeran senior sampai pendatang baru ikut mewarnai film ini yaitu Yama Carlos, Elly Ermawaty, Erna Santoso, Erlando Saputra, Dessy Murthy, Gabriella Larasati, Della Ogini, Haniv Hawakin, Madeline, Mervinta dll.

Yang menarik adalah come back nya Elly Ermawaty yang pernah mengisi suara sebagai pendekar Mantili di sandiwara radio Saur Sepuh.

Di film ini, Elly Ermawaty didapuk menjadi kuncen. “Saya sengaja mengajak pemeran-pemeran senior yang punya pengalaman lebih berkualitas dengan harapan yang junior bisa belajar banyak,” timpal Harry Dagoe yang beberapa karyanya patut digarisbawahi, antara lain ‘Pachinko & Everyone’s Happy’, ‘Jendral Kancil the movie’, ‘Sunya’, ‘Cinta Setaman’ dan masih banyak lagi. (pik)