Tahlilan 7 Hari Wafat Titiek Puspa: Inul Cium Aroma Melati

JAYAKARTA NEWS— Aula Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Kebayoran Baru, Jaksel, dalam acara tahlilan 7 hari wafat Titiek Puspa baru-baru ini dipenuhi kerabat, handai taulan dan anak-anak yatim piatu.

Para artis musik yang pernah diperkenalkan oleh mendiang Titiek Puspa tak henti-hentinya melantunkan doa dan mengirim takziah.

Anak pertama Titiek, Petty Tunjungsari sibuk menyalami tetamu yang hadir. Mereka datang berbusana putih-putih

KH Da’sad Latif yang memimpin doa mengatakan  almarhumah eyang Titiek Puspa pantas masuk surga karena banyak amalnya dan mengorbitkan penyanyi pendatang baru di ranah  musik.

Tahlilan 7 hari wafat Titiek Puspa di PTIK Jakarta (foto keluarga)

“Kita kehilangan eyang Hajjah Titiek Puspa. Namun,   kita yang masih hidup wajib meneruskan perjuangan beliau di dunia seni budaya,” kata Da’sad Latif.

Biduanita si ‘goyang ngebor’ Inul Daratista yang datang bersama suaminya, Adam Suseno mengaku selepas pemakaman di TPU Tanah Kusir, hampir tiap hari ia mencium aroma bunga melati kesayangan mendiang Titiek Puspa.

“Saya juga mencium parfum yang kerap dipakai mama Titiek Puspa. Jujur, eyang Titiek kami anggap ibu kandung sendiri,” beber Inul.

Senada lontaran pendapat biduan Afgansyah Reza.

“Kala saya menghelat konser perdana di Jakarta, eyang Titiek hadir dan memberi semangat. Saya enggak melupakan jasa dan perjuangan beliau kepada kami yang muda dan pendatang baru,” kenang Afgan yang meroket namanya lewat lagu ‘Sadis’ dan ‘Terima kasih Cinta’.

Bahkan, eyang Titiek memberi saran bagaimana cara dan kiat bagi para seniman Indonesia membantu anak-anak sekolah di negara kita yang belum punya baju seragam.

Afgansyah Reza mengenang kebesaran eyang Titiek Puspa (foto tvri)

Biduanita Rossa lain lagi ceritanya.

“Saya menyesal enggak menjawab telepon eyang karena pas kala itu sedang rekaman di studio. Tapi percayalah, eyang Titiek tetap bersemayam di hati kami,” urai Rossa meneteskan air mata.

Pedangdut Iis Dahlia punya kenangan unik terhadap Titiek Puspa.

“Tiap kali bertemu, eyang Titiek selalu memijit saya. Dari ubun-ubun sampai telapak kaki. Pijitan eyang benar-benar menyemangati karier saya,” ungkap Iis Dahlia.

Komedian Eko Patrio alias Eko Hendro Purnomo mengusulkan kepada pemerintah agar Titiek Puspa diberi gelar pahlawan nasional dan makamnya dipindah ke TMP Kalibata.

“Eyang Titiek satu-satunya artis yang berkiprah semasa delapan Presiden dan sampai akhir hayatnya enggak berhenti melantunkan suaranya bahkan juga berakting di ranah televisi dan film,” usul Eko Patrio yang juga Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN).

Yang terbaru, PM Malaysia Anwar Ibrahim berkirim takziah kepada keluarga mendiang Titiek Puspa.

“Saya pribadi kerap menonton film-film Titiek Puspa di pawagam Malaysia. Seperti ‘Dibalik  Cahaya Gemerlapan’, ‘Minah Gadis Dusun’ dan ‘Tiga Dara Mencari Cinta’. Juga operet Lebaran oleh Papiko dan Titiek Puspa yang tayang di TVRI. Kami nonton rekaman videonya di Titian Muhibah televisi Malaysia,” ucap Anwar Ibrahim.

Selamat jalan eyang Titiek Puspa. (pik)

Anak Medan: Cocok Ko Rasa

JAYAKARTA NEWS—  Produksi PIM Pictures, disutradarai Ivan Bandhito, film berjudul ‘Anak Medan : cocok ko rasa’ ini berkisah tentang persahabatan empat anak Medan yaitu Ucok, Joko, Rafly dan Chisa.

Sejak SMA, mereka telah bersahabat.

Tepat perayaan kelulusan, terjadi insiden yang membuat mereka terpisah

Dan mereka harus melanjutkan kehidupan masing-masing.

Empat tahun kemudian, mereka bertemu  lagi di Medan. Reuni ini mencuatkan konflik yaitu merealisasikan mimpi-mimpi yang tertunda.

Poster film Anak Medan

“Drama komedi ini menyentuh persahabatan, impian dibumbui adegan kocak,” ujar produser Agustinus Sitorus.

Ajil Ditto, pemeran utama mengaku bangga sebagai anak Medan.

“Enggak ada formula khusus dalam membangun chemistry saat syuting. Mengalir saja,” lontar Ajil Ditto.

Maell Lee yang berasal dari Aceh sangat emosional berperan sebagai Ucok.

Ada adegan minta izin kepada orang tua ketika akan merantau ke Jakarta.

Film yang beredar 24 April 2025 ini diramaikan pemeran seperti Ajil Ditto, Maell Lee, Mario Maulana Nazar, Ady Sky dan Amara Sophie Rhemaesthita. (pik)

Busker & Archipelago Hadirkan Malam Eksklusif di Juntos Bar & Grill

JAYAKARTA NEWS – Pecinta whiskey dan cerutu bersiaplah menikmati malam yang penuh cita rasa dan kemewahan. Busker Irish Whiskey berkolaborasi dengan Archipelago Cigar menghadirkan pengalaman eksklusif dalam acara bertajuk “Busker Irish Whiskey X Archipelago Cigar”, yang akan digelar pada Selasa, 22 April 2025, pukul 18.00 WIB di Juntos Bar & Grill.

Acara istimewa ini akan menghadirkan sesi pairing eksklusif antara whiskey khas Irlandia dengan cerutu premium buatan lokal, menawarkan sensasi rasa yang kaya, seimbang, dan berkelas bagi para penikmatnya.

Dipandu oleh figur publik dan whiskey enthusiast Anya Dwinov, bersama komunitas Whiskydialogue, malam akan semakin semarak dengan penampilan live dari Archipelagio Music, yang membawakan jazz lembut untuk menciptakan atmosfer elegan dan santai.

“Kolaborasi ini adalah bentuk apresiasi terhadap seni meracik rasa—baik dari whiskey maupun cerutu. Kami ingin menghadirkan malam yang tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menciptakan koneksi antar penikmat,” ujar Haryanto Setia Budi, Owner Juntos Bar & Grill, Kamis (17/4).

RSVP wajib dilakukan untuk memastikan tempat. Peminat dapat mendaftar melalui kontak WhatsApp di nomor +62 812-3456-7890 atau melalui email di rsvp@whiskydialogue.id. Tempat sangat terbatas dan hanya terbuka bagi tamu undangan berusia 21 tahun ke atas.

Satu malam dengan whiskey terbaik, cerutu pilihan, iringan musik elegan, dan suasana penuh keakraban—sebuah pengalaman yang tak boleh dilewatkan.***/mel

Slamet Rahardjo Raih Lifetime Achievement Award KFT

JAYAKARTA NEWS— “This is my life’ lontar aktor senior Slamet Rahardjo Djarot  (76 tahun) saat meraih penghargaan pengabdian seumur hidup (lifetime achievement award) dari Karyawan Film dan Televisi (KFT) di PPHUI, Jakarta, baru-baru ini.

Setengah kehidupan Slamet didedikasikan untuk seni budaya yaitu teater, televisi dan film.

“Ini benar-benar surprise. Luar biasa. Saya mengapresiasinya,” ucap Slamet yang hari itu rambutnya dicat hitam.

“Tampak gagah dan ganteng. Seperti sosok Bram di film Ranjang Pengantin yang dibintanginya,” komentar seorang pengamat film.

“Kini mas Slamet jadi golongan hitam lagi. Dulu masuk golongan putih,” timpal seorang wartawan bercanda.

Ini adalah pencapaian tertinggi yang digaetnya setelah Slamet memperoleh lifetime achievement award di ajang FFI di Palembang dan di FF Asean di Singapura.

Berkali-kali diunggulkan dan meraih 7 piala Citra (sebagai aktor, sutradara, penulis skenario dan penata musik terbaik bersama Franky Raden), Slamet tetap berendah hati.

“Ini untuk pengembangan film dan televisi kita. Tanpa kalian semua, produser, sutradara, juri, jurnalis dan penggemar, saya belum jadi apa-apa,” imbuh Slamet yang mengawali karirnya di film ‘Wajah Seorang Laki Laki’ sutradara Teguh Karya, gurunya di Teater Populer.

Di ranah teater, karya Slamet terbaru yang disutradarainya adalah ‘Dag Dig Dug’ karya Putu Wijaya.

Beberapa pemain andal ikut bermain di lakon absurd ini, yaitu Niniek L Karim, Reza Rahadian, Donny Damara dll.

“Dag Dig Dug adalah lakon magis dan absurditas. Melekat di kita. Ceritanya masih relevan dan melampaui zamannya. Masih adakah rasa dag dig dug enggak ya,” tanya Slamet tersenyum.

Lakon ini mengajak penonton tertawa getir menghadapi kekacauan yang terjadi dalam diri manusia dan sekitarnya.

“Kita harus waspada dan dag dig dug terhadap kondisi yang ada saat ini,” urai Slamet lagi.

Makanya Slamet dipercaya dua kali menyutradarai Dag Dig Dug, di TIM (1977) dan Teater Salihara (2025).

Beberapa puluhan karya film yang dibintanginya. Tercatat diantaranya ‘Cinta Pertama’, ‘Kodrat’, ‘Ranjang Pengantin’, ‘Dibalik Kelambu’, ‘November 1828’, ‘Rembulan dan Matahari’, ‘Tjoet Nja’ Dhien’, ‘Marsinah’ (sutradara), ‘Ponirah Terpidana’ (sutradara) dan masih seabreg lagi.

Hidup bersama seorang isteri Mira Sarianegara dan 2 anak.

Anda awet muda dan segar bugar. Apa kiat nya ?

“Jangan mencurigai orang lain. Be good. Dalam menghadapi kehidupan jangan selalu dibuat bermimpi. Jangan neko-neko. Realistis sajalah. Hidup sederhana dan terima apa adanya,” jawab Slamet. (pik)

Malam Pesona Kawanua: Penyanyi Lawas Tampil Kembali

JAYAKARTA NEWS— Disponsori Pertamina, Malam Pesona Kawanua yang digelar di Ballroom Jakarta Theater berjalan semarak dan sukses.

Sederet penyanyi lawas yang lama tak unjuk diri kali ini tampil memukau.

Maryance Mantauw yang sudah 26 tahun menghilang malam itu melantunkan lagu dari Kawanua.

Juga penyanyi lain seperti Ermy Kullit, Dirly Idol, Connie Constantia, Vivi Sumanti, Harry Anggoman, Vina Panduwinata dan masih banyak lagi.

Vina Panduwinata melantunkan lagu ‘Aku Makin Cinta’ (foto dehills)

Connie Constantia berduet dengan Once Mekel mendendangkan ‘O inani keke’ (Ibu Tercinta) yang mendapat aplus meriah.

Tak ketinggalan Tony Wenas SH yang pernah memperkuat band Solid 80, Makara dan Hookerman tampil membawakan dua lagu berbahasa Inggris.

Diiringi denting piano yang mengalun indah, ia perkasa memamerkan kebolehannya.

Vonny Sumlang adik personel Albert Sumlang (The Mercys) ikut juga memeriahkan acara ini.

Ermy Kullit menggebrak nomor jazzy ‘Kasih’ (foto dehills)

Ermy Kullit diiringi piano oleh prof Tjut Nyak Deviana Daudsyah, unjuk kebolehan menyuguhkan nomor jazzy berjudul ‘Kasih’.

Tak ayal khalayak yang duduk di bagian terdepan ikut tarik suara. Fantastis.

Puncaknya tampilan ‘si burung camar’ Vina Panduwinata yang membetot khalayak mempersembahkan lagu melankolis ‘Aku Makin Cinta’.

Tidak hanya penyanyi lawas. Banyak penyanyi muda berdarah Minahasa/Manado juga unjuk kebolehan.

Ada Tielman Sisters, Diana Pakasi, Nona Sumarauw, Joanna Sarah Pinontoan, Heidy Mongga, Jourdan Anggoman, Mercy Dumais, Macelia Lesar dan Sandra Lintang tak ketinggalan tampil berkilau.

Drumer Cendy Luntungan yang akrab menggebuk nomor jazz dan blues juga menyajikan pukulan ‘bedug londo’ secara memikat.

Selain nada-nada diatonis Barat, digebrak juga musik kolintang dan musik bambu yang jadi ciri khas musik tradisi Kawanua.

Tari Maengket yang jadi tradisi dan simbol Sulawesi Utara menjadi daya tarik acara ini.

Sebuah tari tradisional yang mengalami perubahan dari masa ke masa tetapi tak meninggalkan arti yang sebenarnya.

Ini adalah sebuah sarana menyampaikan pesan kekerabatan dan keakraban masyarakat Minahasa yang disimbolkan lewat lagu dan gerakan saputangan dari para penarinya.

Malam Pesona Kawanua berdurasi 3, 5 jam ini ditutup peragaan busana (fashion show) dari para dara Kawanua nan cantik rupawan.

Biarlah lupa di nasi tapi tak boleh lupa di aksi. Filosofi atau kiat eksistensi masyarakat Kawanua yang sampai kini tetap menghunjam di bumi Sulawesi Utara.

Torang sayang Manado !

Torang cinta Manado ! (pik)

Titiek Puspa Berpulang dalam Usia 87 Tahun

JAYAKARTA NEWS— Baru saja kita berduka atas kepergian Ray Sahetapy (aktor film senior), dunia hiburan di Indonesia bersedih lagi. Eyang Sudarwati alias Titiek Puspa (87 tahun) berpulang dalam damai di RS Medistra, Jakarta hari Kamis (10/4) karena pecah pembuluh darah dan stroke.

Jenazah ikon musik Indonesia Titiek Puspa akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, Jumat (11/4) usai shalat Jumat.

Dalam dunia musik dan film, Titiek Puspa telah 67 tahun menorehkan tinta emas.
Titiek Puspa yang bergelar hajah ini tercatat telah membintangi 21 film, 1 sinetron, 30 teater operet, 2 skenario film dan 19 album musik.

Puluhan lagu populer yang bernada melankolis dan riang gembira telah diciptakan. Antara lain lagu yang jadi hit adalah ‘Marilah Kemari’, ‘Bing’, ‘Kupu Kupu Malam’, ‘Cinta’, ‘Apanya Dong’, ‘Pantang Mundur’, ‘Si Hitam’, ‘Ayah’, ‘Bimbi’ dan seabreg lagu lain.

Film-film yang pernah dibintanginya umumnya bergenre drama komedi dan musikal : ‘Dibalik Cahaya Gemerlapan (DCG) 1’, ‘DCG 2’, ‘Minah Gadis Dusun’, ‘Inem Pelayan Sexy’, ‘Karminem’ dll.

Perangko seri artis RI : Titiek Puspa (foto postel)

Nama Titiek Puspa selalu lekat dengan operet Lebaran dan karyanya ditunggu pemirsa TVRI Stasiun Pusat.

Anak dari pasutri Tugeno Puspowidjojo dan Siti Maryam ini juga sukses berbisnis di usaha katering. ‘Puspa Catering’ yang menyajikan kuliner RI, Barat dan Cina ini merupakan katering besar dan terkenal serta ramai diorder para pejabat, Menteri, Jenderal dan pengusaha setiap ada pesta pernikahan, ulang tahun, launching produk dan wisuda mahasiswa.

Tidak itu saja.

Juara Bintang Radio Jateng 1954 ini juga selalu ramai menjadi sasaran gosip dan isu, baik di era Orde Lama maupun zaman Orde Baru.

Kita masih ingat lagu ciptaannya berjudul ‘Cinta’ (terpilih mewakili RI di Festival Lagu Pop se Dunia di Tokyo, Jepang) dituding di sebuah media dikatakan jiplakan dari lagu ‘Thousand of Violence’.

Tidak itu saja. Titiek juga pernah dikaitkan kedekatannya dengan Presiden Soeharto/Orde Baru gegara lagu ciptaannya bertajuk ‘Bapak Pembangunan’.

Bagi Titiek, ia tak hirau. Lama kelamaan badai gosip bertubi-tubi akan sirna dari kehidupannya
Nama dan wajah Titiek Puspa yang pernah diperangkokan oleh PN Postel (bersama Koes Plus, God Bless, Gombloh dan Bimbo) ini tetap harum semerbak mewangi.

Last but not least, kita kehilangan seorang Titiek Puspa dan ratusan karya lagunya.
Dia telah pergi berpulang dalam damai ! (pik)

Anya Geraldine Jadi Penyanyi Dangdut di ‘Mendadak Dangdut’

JAYAKARTA NEWS— Apakah dangdut musik asli Indonesia? Konon musik yang merakyat ini berasal dari India dan melebur berkolaborasi dengan elemen musik lain. Ada pop, rock, keroncong, dan musik Melayu dari Semenanjung.

Rumah produksi SineMart dan Amadeus Sinemagna tahun ini mendadak membuat ulang film ‘Mendadak Dangdut’ yang pernah sukses di tahun 2006 dan disutradarai Rudi Soedjarwo.

“Mendadak Dangdut (MD) 2025 bukan remake dan reborn MD 2006,” cetus sutradara Monty Tiwa kepada penulis di XXI Plaza Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Meski plot cerita dan nama-nama tokohnya sama, tapi Monty Tiwa tetap ngotot bahwa MD 2025 lebih segar dan baru.

“Dan dikemas unik. Diwarnai musik, goyang dan drama keluarga. Katakanlah MD 2025 adalah film bergenre drama keluarga musikal,” ungkap Monty Tiwa

Di MD 2006, sosok Naya diperankan oleh Titi Kamal (bintang AADC), maka di MD 2025 terpilih Anya Geraldine yang juga bukan biduanita dangdut.

“Di film yang akan beredar 30 April 2025 ini terjadi benturan budaya, perubahan ke hal baru dan tinggalkan yang lama,” imbuh Monty Tiwa.

Anya Geraldine mengaku bermain di MD jadi tantangan tersendiri.

“Saya mengalir dan enjoy saja. Tapi ada kedalaman yang berarti,” terang Anya yang ikut sesi latihan koreografi selama setahun.

“Saya juga ikut les nyanyi. Dan belajar bergoyang dangdut. Agar enggak dikatakan vulgar dan sensual. Toh dangdut punya gaya dan style sendiri. Ini musik identitas Indonesia,” tegas Anya.

Di film ini, dikisahkan biduanita dangdut dari kota besar yang hijrah ke kota kecil dan pedesaan yang kerap dihelat di tenda hajatan. Seperti pernikahan, khitanan dan pesta panen.

Semula sutradara Monty Tiwa merasa pusing memilih artis siapa yang bakal menjadi Naya sang biduanita dangdut.

Tatkala diadakan casting, nama Anya terlewat.

Namun, banyak saran yang masuk agar Anya yang dipilih jadi Naya.

“Apa Anya bersedia ya. Mana mau dia. Ada kondisi yang tidak dangdut,” kenang Monty Tiwa.

“Akhirnya, setelah dipilah dan dites, ternyata Anya yang paling dangdut,” timpal Monty Tiwa yang kali ini mengaku tak ada kendala lagi.

Selain Anya Geraldine, sekeranjang artis memeriahkan MD 2025. Yaitu Dwi Sasono, Keanu Angela, Narra Datau, Wika Salim, Opie Kumis, Fajar Nugraha, Calvin Jeremy dan Sadha Triyudha.

Dari keseluruhan pemeran, hanya Dwi Sasono yang pernah unjuk diri di MD 2006.

Yuk kita bergoyang dangdut  menyambut Tahun 2025.

Khalayak mendadak suka dan senang dangdut.

Dang dang dut ! Dang dang dut ! (pik)

Ray Sahetapy Wafat Rencana Pemakaman Kamis

JAYAKARTA NEWS— Farence Raymond Sahetapy (Ray Sahetapy) wafat dalam usia 68 tahun. Saat ini, jenazah aktor berbakat ini disemayamkan di Sentosa Funeral Home, RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Dijadwalkan, Ray akan dimakamkan Kamis (3/4/2025) menanti kedatangan anak keduanya, Surya Sahetapy dari Amerika.

Surya Sahetapy yang aktor tuli ini (anak Ray Sahetapy dan Dewi Yull) menjadi staf pengajar di salah satu Perguruan Tinggi di Amrik.

Ray sudah malang melintang di dunia panggung, tv dan film. Lebih 100 film dibintanginya, termasuk film pendek

Film pertamanya bertajuk ‘Gadis’ (1980) bersama Dewi Yull. Dari sini, cinta pertama tumbuh.

Ray dan Dewi Yull akhirnya menikah dan dikaruniai 4 anak.

Lulusan IKJ ini sudah 8 kali masuk nominasi FFI, antara lain ‘Noesa Penida’ (1988), ‘Ponirah Terpidana’ (1984), ‘Kerikil Kerikil Tajam’ (1985) dan ‘Opera Jakarta’ (1986).

Ray Sahetapy diapit anaknya, Rama Sahetapy dan menantunya, Olivia (foto keluarga

Di dunia teater, Ray juga unjuk kepiawaian. Drama karya Asrul Sani berjudul ‘Mahkamah’ yang disutradarai Jose Rizal Manua selama tiga hari di GBB, TIM, berhasil membetot penonton.

Mahkamah dimainkan secara gemilang oleh Ray dan Mutiara Sarumpaet.

Sutradara Adisurya Abdy mengaku beruntung bisa menyutradarai Ray dalam film ‘Sejak Cinta Diciptakan’ tahun 1998.

“Ray bermain bersama Meriam Bellina. Aktingnya luar biasa,” kenang Adisurya Abdy.

Sineas Helfi Kardit juga berpendapat sama.

‘Ray saya ajak di film ‘Mengaku Rasul’ tahun 2008. Minim retake, Ray pas berakting bagus banget,” ungkap Helfi Kardit.

Aktor senior Yan Wijaya sebangun.

“Di Losmen Reborn, Ray masih kuat main di beberapa scene. Tapi karena dia terkena stroke, perannya jelang ending digantikan Whani Darmawan,” ucap Yan.

Pengalaman Acho Bahtiar lain lagi.

“Saat syuting film iklan, saya mendiktekan dialog.  Sebelumnya, tampak badan Ray lemah. Harus dipapah. Pas take camera, ajaib, dia kuat berjalan. Ray benar-benar aktor luar biasa. Berdedikasi full,” tutur Acho Bahtiar.

Ray Sahetapy adalah sosok yang dihormati dalam ranah seni peran. Peran kecil pun, dia main. Film berjudul ‘Pulang’ adalah satu-satunya film pendek yang dimainkannya.

Ray Sahetapy telah tiada.

Rest In Peace (RIP).

Innalillahi wa innailaihi rojiun (pik)

Hari Film Nasional Dirayakan Sederhana Bersamaan Malam Takbiran

JAYAKARTA NEWS— Hari Film Nasional (HFN) yang jatuh hari Minggu (30 Maret 2025) dirayakan secara sederhana bersamaan dengan malam Takbiran.

Tanggal 30 Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film ‘Darah dan Doa’ karya Usmar Ismail yang diproduksi oleh perusahaan pribumi yang dimiliki orang Indonesia.

Berbagai acara penting dihelat tanpa gembar gembor namun tetap khidmat.

Di PPHUI, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta dari siang hingga malam diputar gratis film nasional bertajuk ‘Azrax : melawan sindikat perdagangan wanita’ yang dibuat tahun 2013 sutradara Dedi Setiadi.

Film laga berlokasi di Jakarta dan Hong Kong ini dibintangi oleh dua pemeran utama yaitu Gatot Brajamusti dan Nadine Chandrawinata.

Di Metro Cinema Kemang juga ditayangkan gratis beberapa film pendek yang dihadiri jurnalis dan komunitas film.

Dan masih menyambut HFN, ada 5 film nasional yang sekaligus juga merupakan film Lebaran 2025.

Ke lima film tersebut adalah ‘Jumbo’, ‘Komang’, ‘Norma’, ” Qodrat 2′ dan ‘Pabrik Gula’.

Selama akhir Maret dan pekan pertama April 2025, film nasional bakal merajai seluruh bioskop Indonesia.

Apa sebenarnya makna HFN ?

Berdasar Keppres No 25 tahun 1999, kini HFN dirayakan tiap tahun.

“HFN adalah momentum refleksi dan aksi kolektif yang membawa industri film Indonesia lebih maju,” ujar sineas Adi Suryaabdy.

Dikatakan dalam cuitannya, dengan dukungan semua pihak, film kita bisa menjadu cermin kemajuan budaya bangsa.

“Kami optimis dan memiliki harapan, HFN bertujuan guna mengembangkan industri film dan menguatkan peran film dalam masyarakat,” ungkap mantan pimpinan Sinematek Indonesia ini.

Diuraikannya, ada 6 tujuan jangka pendek tentang perfilman RI yaitu apresiasi terhadap karya dan pelaku pasar, promosi film lokal, melestarikan sejarah film Indonesia, pendidikan dan inovasi industri, melestarikan identitas budaya dan mendukung kebijakan pemerintah.

“Film sebagai media perubahan sosial tidak semata-mata menjadi hiburan tapi terselip pesan kritis tentang isu lingkungan, toleransi dan HAM,” tegas Adi Suryaabdy.

Selamat merayakan HFN ! (pik)

Bamsoet Main Film

JAYAKARTA NEWS— Ketua MPR ke 15 dan Wakil Ketua Kadin Bambang Soesatyo (Bamsoet) melebarkan langkah ke ranah film.

Dalam film drama komedi bertajuk ‘Pinjam 100’ yang disutradarai Prija Iska Ahmad, Bamsoet berperan sebagai ayah dari pemeran utama.

“Film ini bersituasi penuh kelucuan. Tapi memiliki makna dan nilai,” kata Bamsoet yang Ketua Komisi III DPR RI dari fraksi Golkar.

‘Pinjam 100’ terinspirasi dari fenomena ‘Salam dari Binjai’ dan ungkapan ‘pinjam dulu 100’ yang viral di dunia maya.

“Drama penuh sentuhan humor dan menyorot realisme kehidupan malam. Narasinya menghibur,” cetus Bamsoet yang pernah bekerja sebagai wartawan di harian Prioritas dan Suara Karya.

“Pesan film ini agar generasi muda jangan mudah menyerah. Persahabatan itu penting. Juga agar kita tekun dan rajin bekerja seperti divisualisasikan oleh Paris dan Jerstan di film ini. Mereka tekun dan jujur bekerja demi keluarga,” urainya.

Dua sahabat akrab yang berasal dari Medan ini diceritakan merantau ke Jakarta mencari pekerjaan yang lebih baik.

Cekak aos : kesuksesan itu tidak datang secara instan dan tiba-tiba.

“Kerja keras, berani dan jujur harus terus dikumandangkan dalam kita melangkah ke masa depan,” imbuh Bamsoet.

Produksi VBS Studios yang akan dirilis 10 Maret 2025 ini dimeriahkan pemeran berbakat seperti Paris Fernandes, Jeremy Audry Immanuel Sihotang, Hansen Vendi Agus, David Lie, Siti Anggun dan Shannon Dorothea. (pik)