Sutradara Damien Dematra Dianugerahi Gelar Kanjeng Pangeran

Sutradara Damien Dematra Dianugerahi Gelar Kanjeng Pangeran–foto istimewa

Sutradara Damien Dematra dianugerahi gelar oleh Keraton Surakarta Hadiningrat. Acara pelantikan tersebut diadakan di Surakarta baru baru ini. Gelar bangsawan Kanjeng Pangeran diberikan atas prestasi dan kontribusi besar Damien Dematra dalam dunia penyutradaraan, kebudayaan dan kemanusiaan.

Damien Dematra dikenal sebagai sutradara, aktivis, penulis, pelukis, fotografer, produser yang telah memperoleh lebih dari 500 penghargaan internasional sejak tahun 1990an. Disamping itu, Damien juga memegang 16 rekor dunia.  Ia pernah terpilih sebagai Sutradara Terbaik di Mountain Film Festival selama dua tahun berturut-turut, Sutradara Asia Pertama pemenang Sutradara Terbaik dari American Movie Awards.

Kanjeng Pangeran adalah gelar tertinggi yang dapat diberikan kepada orang yang berasal dari luar keraton. “Saya merasa terhormat dan tersanjung atas gelar ini. Semoga kedepannya saya dapat terus berprestasi dan mengangkat budaya Indonesia di kancah internasional,” ucap pria berambut panjang tersebut.

Selain dalam bidang film, ia juga kerap aktif sebagai humanitarian dan budayawan. Sebagai humanitarian, Damien mendirikan festival film perdamaian yang telah berlangsung selama 8 tahun dan dianggap sebagai salah satu festival film perdamaian terbesar di dunia. Ia juga merupakan pendiri dari Gerakan Peduli Pluralisme. Sebagai budayawan, Damien kerap aktif mempromosikan budaya Indonesia di dalam dan luar negeri lewat karya-karya film, sastra, lukisan dan fotografi. (pik)

 

Oka Antara Bebas Main di Web Series

Oka Antara–istimewa

Aktor Nyoman Oka Wisnupadha Antara alias Oka Antara menjajal produksi web series bertajuk Brata. Oka mengaku, mendapatkan sebuah kebebasan dalam web series yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di film maupun televisi.

“Ini medium baru buat saya sebagai seniman dalam berkarya. Web series ini membolehkan saya untuk berkreasi lebih berani, lebih ekstrem, tanpa ada pakem atau batasan tertentu,” ujar Oka dalam peluncuran Brata di kawasan Kota Tua, Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Karena Lembaga Sensor Film (LSF) belum memiliki wewenang tertulis untuk melakukan sensor terhadap produksi seri atau film yang tayang secara daring (online). “Belum masuk ke tahap sini, jadi bebas banget sebagai pemain untuk bisa ngapain aja. Otomatis sebagai pemain kami jadi tak memiliki batasan dalam hal dialog,” kata Oka.

Ia memberi contoh, mereka tak perlu menahan diri untuk mengucapkan kata-kata umpatan untuk mengekspresikan karakter masing-masing sebebas mungkin. “Untuk karakter saya, saya banyak riset. Belajar dari kenalan polisi sama latihan menggunakan senjata. Tapi enggak ada kesulitan sama sekali, padahal ini web series pertama he he he,” imbuhnya.

Selain Oka, web series besutan sutradara Kuntz Agus dan penulis Es Ito itu juga menghadirkan aktris Laura Basuki, personel SM*SH Bisma Karisma, serta aktor senior Yayu Unru. (pik)

 

Band Punk Dari Jogja: Karna Mereka

Band ‘Karna Mereka’–foto indiegigsmedia.com

Band Pop Punk ini merupakan band asal kota gudeg, Jogja, yang berlokasi di Kota kecil Wates, Kulon Progo (sebelah barat Jogja). Berawal dari persahabatan 3 insan yang memiliki prinsip yang sama dan terbentuklah KARNA MEREKA pada 17 Agustus 2010 dengan genre melodic punk. Dengan komposisi :Herda di guitar+vocal, Rolan di drum, dan Bombom di bass+vocal.

Mulai merayap dari pangung ke panggung. Alhasil lagu lagu telah mereka ciptakan, banyak para pendengar yang merasa enak dengan lagunya, karena sangat memotivasi serta memberi gambaran kehidupan saat ini, cocok untuk anak remaja, maupun dewasa.

Band yang digawangi 3 personel ini termasuk produktif. Selain 3 album yang dirilis beberapa bulan silam, mereka juga mengeluarkan single plus video klip bertajuk ‘3 Bulan 7 Hari’ di akun Youtube. Bermelodi riang penuh nada-nada harmonis, Karna Mereka punya obsesi ingin merekam lagu berirama punk dalam bahasa Jawa. “Yah..seperti Jogja Foundation yang merelam lagu-lagu rap berbahasa Jawa,” papar Heroherda. (pik).

Dewa Budjana Roadshow ‘Mahandini’ di 5 Kota

Dewa Budjana–dewabudjana com

Dewa Budjana dalam waktu dekat akan merilis album ke 10 bertajuk ‘Mahandini’ yang bermakna kendaraan yang agung. Budjana bakal menggelar tur di 5 kota yakni
Purwokerto (12 September); Cirebon (13 September); Yogyakarta (18 September); Semarang (20 September) dan Solo (25 September), yang bertajuk “Samuccaya” yang berarti untaian.

LemmonID selaku produser eksekutif dari album ke-10 Dewa Budjana, Mahandini, sekaligus pula sebagai promotor dari ‘Samuccaya Roadshow To Mahandini’ di 5 Kota. Sebuah tur dalam format live dengan tata cahaya yang apik, tara panggung yang ciamik serta tara suara yang bersih dan bening sebagai satu rangkaian konser musik penting dan patut di saksikan di tahun 2018 ini.

Formasi band Dewa Budjana terdiri dari Shadu Rasjidi (bass), Demas Narawangsa (Drum), Saatsyah (flute), Irsa Destiwi (piano), serta Marthin Siahaan (keybord). Terlibat pula Jordan Rudess (keybordist Dream Theater), Marco Minneman (drummer yang membantu album Steven Wilson Kreator dan Joe Satriani), Mohini Dey (bassist yang kerap menemani gitaris Steve Vai), lalu ada Mike Stern (gitar) serta tentunya vokal unik dari Soimah Pancawati. Juga hadirnta gitaris John Frusciante yang pernah memperkuat raksasa musik dunia, Red Hot Chili Peppers, yang menjadi menu yang utuh dan penuh gizi dari album Mahandini.

Di album Mahandini, Budjana tidak saja melibatkan nama-nama musisi dari wilayah jazz, namun juga para musisi progresif rock internasional. Sehingga akan banyak energi yang berlipat. Penuh kejutan. Penuh kekuatan, dan daya pikat, yang berharmoni pada kekuatan komposisi yang apik dan indah, yang dimainkan dalam permainan gitar Dewa Budjana.

Menikmati materi Mahandini Dewa Budjana secara langsung dalam rangakaian Samuccaya Roadshow To Mahandini di 5 kota di Pulau Jawa ini menjadi sebuah keistimewaan.

Rekam jejak Dewa Budjana dapat ditelusuri lewat sejumlah albumnya seperti Nusa Damai, Gitarku, Samsara, Home, Dawai In Paradise, Joged Kahyangan, Surya Namaskar, Hasta Karma, dan Zentuary, yang masing-masing memiliki kekuatan warna musiknya yang berbeda. Budjana menyebut konser tunggalnya di pengujung tahun ini akan berbeda dari konser konser sebelumnya karena akan menyajikan nomor nomor dari semua album yang ada dan album baru yang baru dirilis. (pik)

 

 

Mooryati Soedibyo akan Hibahkan Film ‘Sultan Agung’ pada Negara

Mooryati Soedibyo –istimewa

Bali International Film Festival akan segera digelar. Persisnya pada 24-30 September 2018 di  dua lokasi dari Official Venue Partner Cinemaxx  – Lippo Mall Kuta dan Plaza Renon. Sementara penjualan tiket telah dimulai sejak 1 September 2018 di website Cinemaxx atau di box office. Festival yang telah berlangsung selama 12 tahun ini, nantinya akan dibuka dengan penayangan film Indonesia  ’Sultan Agung’  yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri oleh Mooryati Soedibyo, pendiri Yayasan Putri Indonesia dan Mooryati Soedibyo Cinema.

Rencananya Mooryati yang juga Pendiri dan Presiden Direktur Mustika Ratu Group  akan mengundang Presiden Joko Widodo ke Balinale. Kebetulan pada saat itu (24 September 2018), Presiden akan berada di Bali menghadiri sebuah acara. Moeryati berencana hibahkan film ‘SultanAgung’ kepada negara.

Terkait Bali International Film Festival, selama 12 tahun terakhir, festival ini telah menayangkan film-film lokal dan internasional bagi masyarakat Indonesia dan mempertemukan sineas, produser dan sutradara dari seluruh dunia.

Tahun ini, Balinale akan menayangkan lebih dari 100 film pendek, feature film, dan dokumenter dari lebih dari 30 negara dan memberi fokus kepada sejarah film making Indonesia dengan penayangan film-film arsip.

Semua film yang ditayangkan sesuai dengan  tema Timeless with Indonesia Films Local Heroes  memperlihatkan bagaimana film dapat menyampaikan cerita-cerita manusia yang terkecil serta momen-momen singkat yang dapat mengubah emosi dari sosok kepahlawanan bagi anak negeri.

Festival akan ditutup dengan film asal Jepang Shoplifters, disutradarai oleh Hirozaku Koreeda, yang memenangkan Cannes Film Festival tahun 2018. Rincian lengkap mengenai festival dapat dilihat di www.balinale.com.

Sebagai pre-event untuk Balinale, BalinaleX Industry Forum kembali untuk kedua kalinya,  diselenggarakan di Ayodya Resort Bali, Nusa Dua, Bali, pada hari Minggu, 23 September 2018. Sebagai Official Hotel & Venue Partner bagi BalinaleX, Ayodya Resort menyediakan hospitality bagi para peserta forum dan juga platform untuk diskusi dan temu muka para produser dan pelaku seni perfilman.

Forum ini diadakan guna melibatkan tiga pemangku keputusan utama dalam bidang perfilman, yakni pemerintahan, kreatif, dan  komersil..  Acara ini memungkinkan pakar industri untuk berbagi wawasan dan berdiskusi  mengenai tantangan dan peluang komersil dalam industri film, baik lokal maupun internasional.

Tahun ini, BalinaleX kembali dengan kumpulan pakar industri perfilman baru yang akan topik-topik pembicaraan dalam forum, yakni Cerita yang dapat diangkat dari budaya Indonesia, perkembangan Bisnis perfilman di Indonesia, dan Indonesia sebagai Destinasi  perfilman internasional.

Untuk membahas potensi Indonesia yang dapat ditawarkan kepada dunia internasional, beberapa filmmaker ternama akan diundang.  Di antaranya Hanung Bramantyo dengan karyanya mengenai pahlawan Indonesia Sultan Agung, dan Shalahuddin Siregar dengan filmnya Lima, yang menyoroti nilai-nilai dasar Pancasila. Selain itu Local Heroes Session akan menayangkan Film Pahlawan dari Moonrise Over Egypt, NYAI-Ahmad Dahlan, WAGE sampai Sultan Agung yang akan ditonton anak-anak sekolah seKabupaten Badung Denpasar Bali.

Aktris Indonesia Cinta Laura, juga akan menyediakan perspektifnya mengenai menyebrang ke arena film internasional.   Untuk menjelaskan aspek bisnis dari industri, beberapa produser diundang. Di antaranya adalah Ody Mulia Hidayat dan Chand Parwes Servia dan dari Tiongkok,  Liu Qinglu  juga produser Taiwan dan direktur festival Jean Huang. Produser Broadway Jhett Tolentino yang telah memenangkan penghargaan Tony Award untuk karyanya juga diundang untuk mewakili suara dari dunia  teater.

BalinaleX juga menampakkan Indonesia sebagai lokasi film yang menarik dan layak untuk produksi internasional. Hal ini akan dibahas lebih lanjut oleh CEO dari Global Film Solutions dan mantan kepala Film New Zealand, Julian Grimmond. Beliau akan membawakan studi kasus yang memperlihatkan keuntungan yang dapat dibawa film dan televisi bagi sebuah destinasi, ekonomi, dan tenaga kerja.

Untuk menambahkan daftar ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Ahmad Yani dari Lembaga Sensor Film, dan Dr. Maman Wijaya sebagai Kepala Pusat Pengembangan Perfilman di Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, diundang untuk membahas regulasi lingkungan di Indonesia saat ini.

“Festival mengedepankan eksistensi Pulau Terluar menjadi ‘Teras Negeri’ Natuna is Indonesia dengan kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Ranai Natuna bersama tim kesenian dan budayanya untuk berpameran dan unjuk kearifan lokal menyapa festival. Dengan bangga akan memutar Film Jelita Sejuba dari Executive Producer Krisnawati yang hadir dan diberikan award atas jasanya mengangkat kearifan lokal dan budaya Natuna dalam film Jelita Sejuba bersama dengan Mooryati Soedibjo sebagai Produser Tertua Produksi Film Kolosal, “papar Groza Subakhti selaku International Film Festival of Balinale Director.

Selain itu, SekJen ASEAN Lim Jock Hoi juga akan berdiskusi mengenai dampak film dalam level regional.Festival ini juga menarik sutradara, aktor, dan produser ternama dari Indonesia dan seluruh dunia dengan ikon tahun ini Reza Smash dan Putri Ayudya. ***(pik)

Nowhere to Hide: Potret Irak yang Dilanda Perang Melawan Kekuatan Baru

Kurdish filmmaker’s award-winning documentary on Iraq airs on PBS

LIMA belas tahun setelah invasi koalisi pimpinan Amerika Serikat ke Irak, negara di Teluk ini terus mendominasi berita utama dengan kisah-kisah kekerasan sektarian, pemboman, kemiskinan dan perpindahan manusia.

Film dokumenter “Nowhere to Hide” karya seneas Kurdi-Norwegia Zaradasht Ahmed, memberi gambaran bagaimana kondisi Irak

Pada tahun 2011, Ahmed kembali ke negara kelahirannya, menuju ke salah satu wilayah paling berbahaya di dunia, “Segitiga Kematian” di Irak tengah.

Ketika pasukan Amerika mundur, dia mengikuti perawat Nori Sharif dan keluarganya selama lima tahun. Itulah saat mereka mengarungi sebuah negara yang dilanda perang dimana kekosongan kekuasaan membuat warga rentan terhadap kekuatan baru yang mengancam: ISIS.

Film ini telah memenangkan penghargaan internasional, termasuk Dokumenter Panjang Fitur Terbaik di IDFA, Dokumenter Terbaik di Festival Hak Asasi Manusia Sedunia, Penghargaan Nestor Almendros untuk keberanian dalam pembuatan film di Festival Film Human Rights Watch, dan beberapa penghargaan lainnya di festival film.

Fim Bergerak

Sebuah film bergerak yang penuh dengan emosi mentah dan rekaman tanpa filter bertajuk   “Nowhere to Hide” ini disiarkan  di AS. Dokumenter panjang ini mengikuti kehidupan seorang perawat laki-laki bernama  Nori Sharif, yang, seperti banyak warga sipil lainnya di Irak, mendapati dirinya terperangkap dalam baku tembak  perang yang tidak dapat diprediksi di Irak.

Film ini mencakup periode lima tahun dari 2011, ketika Amerika Serikat menarik pasukannya dari Irak delapan tahun setelah penggulingan rezim Saddam Hussein, hingga 2016, juga menjadi ancaman terbaru di negara itu dalam bentuk yang disebut Islam Negara (IS).

Berbicara kepada Kurdistan 24,  Zaradasht Ahmed, si pembuat film tentang film dokumenter ini, menjelaskan bagaimana dia menyoroti kesedihan yang sedang berlangsung dari manusia tak berdosa yang menderita karena keputusan para pemimpin politik.

Salah satu anak Nori Sharif, Sarah, menunjukkan selongsong peluru yang dia temukan di dekat rumahnya ketika keluarga tersebut mengungsi setelah datang ISIS. (Photo: Ten Thousand Images)

 

Pendekatan Humanistik 

Film ini memberikan catatan tangan pertama tentang manusia yang terperangkap dalam baku tembak perang. Ini menyoroti krisis yang sedang berlangsung dari Pengungsi Internal (IDP) dan pengungsi dalam perang IS di Irak.

Ahmed mengatakan penting untuk berbicara tentang IDP dan pengungsi ini sebagai individu, bukan hanya kelompok. Meskipun filmnya memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis, pembuat film Kurdi mengatakan waktu untuk meningkatkan kesadaran telah lama berlalu.

“Ini bukan waktunya untuk meningkatkan kesadaran, karena masalahnya sudah ada. Tapi, mungkin waktu untuk mencari solusi tentang bagaimana kami dapat membantu, bagaimana kami dapat memengaruhi orang lain, [dan mempengaruhi] para pengambil keputusan untuk membantu.”

Wilayah Kurdistan terus menyediakan tempat perlindungan bagi jutaan pengungsi  yang melarikan diri dari konflik di bagian tengah dan selatan Irak, serta Suriah. Kebijakan ini  sebagai upaya untuk merekonstruksi wilayah-wilayah yang dibebaskan dan memberikan keamanan bagi para pengungsi tidak lengkap.

Ahmed mengatakan satu solusi utama untuk menyelesaikan krisis adalah menjamin keamanan. “Daerah-daerah seperti Mosul tidak aman. Diyala tidak aman. Anbar tidak aman. Biasanya, itu masalah politik karena orang masih merasakan penderitaan karena kehilangan nyawa dan rumah mereka dan tidak bisa mengkritik apa pun karena mereka akan diculik atau dibunuh, ”katanya seperti dikutip Kurdistan 24.

“Jadi, pertama-tama, inilah masalahnya: apakah itu di Suriah, Irak, Yaman, atau Libya, Anda harus masuk secara lokal untuk memaksa pemerintah mulai bekerja dengan baik di semua bagian masyarakat dan mulai membangun negara. Itu harapan bagi orang-orang. Bahkan orang-orang dari luar negeri akan kembali dan membantu membangun, tetapi tidak ada yang seperti itu terjadi. ”

 

Nori Sharif berpose untuk pengambolan foto bersama dengan anak-anaknya sebelum meninggalkan rumah mereka di Jalawla. (Photo: Ten Thousand Images)

Tokoh utama dalam “Nowhere to Hide” adalah salah satu contoh penderitaan warga sipil yang tidak berdosa yang terpaksa bertahan akibat perang, khususnya ketidakstabilan perang Irak dan akibatnya.

“Kita perlu bicara tentang gambaran yang lebih besar,” kata Ahmed menggarisbawahi.  “Kami tidak bisa hanya berbicara tentang pengungsi atau pengungsi. Pengungsi adalah bagian dari masalah, itu adalah reaksi dari masalah, tetapi masalahnya sendiri bukan IDP atau pengungsi, itu adalah perang. ”

“Para pengungsi bukan pertanyaannya; itu adalah perang dan keamanan, penghidupan. Jika Anda tidak dapat menjamin keselamatan anak-anak Anda untuk menjamin mereka memiliki makanan di atas meja, Anda harus melakukan sesuatu. Anda pergi, atau Anda tinggal di mana Anda memberi mereka makan. Jadi, kita harus pergi dan membuat orang merasa aman lagi, [dan percaya] dalam gagasan bahwa ‘ini adalah negara saya, ini adalah tempat saya, saya bisa membangunnya, itu tidak akan hancur lagi. ’”

 

Nori Sharif, tokoh sentral dalam film dokumenter ini, sedang mengoperasi seorang pasien di Jalawla Medical Center. (Photo: Ten Thousand Images)

Tidak Ada Tempat Bersembunyi 

Film dokumenter itu adalah hasil kerja bertahun-tahun, dan kerangka produk akhir berevolusi ketika konflik di Irak dibentuk dari satu teror ke teror lainnya. Pada Desember 2011, Amerika mengumumkan penarikan pasukannya dari negara tersebut.

Ahmed mengatakan kepada  ide untuk film itu ada pada tahun 2010 sebelum penarikan Amerika. Dia mengatakan dia ingin membuat film dokumenter tentang perang di Irak sementara pasukan AS masih ada tetapi gagasan itu berkembang dengan meningkatnya konflik di negara itu.

“Ada banyak eskalasi kekerasan, dan ada banyak konflik internal, dan orang Amerika berjuang untuk melakukannya dengan benar, untuk mengelola negara, dan ada pertanyaan apakah itu disengaja atau hanya kegagalan.

“Jadi, saya ingin mengeksplorasi itu, tetapi kemudian ketika saya berada di sana, saya menyadari hampir tidak mungkin berada di daerah-daerah itu, di Irak tengah, pada waktu itu karena al-Qaeda sangat efisien di daerah-daerah dan mereka membunuh orang-orang yang bekerja sama dengan media, dan orang luar.

“Ketika kami sedang syuting, Amerika ditarik keluar, dan kami memutuskan untuk tinggal [di Irak] untuk melihat bagaimana segala sesuatunya akan berjalan setelah penarikan mereka, tetapi semuanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk.”

Ahmed mengatakan, film itu memakan waktu enam tahun untuk diselesaikan karena “pergeseran dalam politik, dan juga tingkat kekerasan di Irak.”

“Film ini dimaksudkan untuk menjadi emosional tanpa batas, untuk membuat orang-orang melekat pada mereka yang terlibat dalam film secara emosional dan bukan dalam media berbasis fakta.  Jadi, tentu saja, periode [2011 hingga 2016] membantu kami membentuk film seperti yang Anda lihat karena butuh waktu enam tahun untuk menyelesaikannya. Ada syuting tanpa henti selama enam tahun ini, ” jelasnya.

Pembuat film Kurdi itu mengatakan bahwa sulit untuk menangkap adegan-adegan tertentu, dan selalu ada unsur ketidakpastian termasuk beberapa cuplikan, seperti setelah pembunuhan massal, pemboman bunuh diri, dan pemboman mobil.

Ahmed mengatakan, dirinya memutuskan untuk menggunakan rekaman itu “karena itu adalah rasa sakit yang dialami orang-orang, bukan karena sensasional, tetapi lebih dari itu menyakitkan.”

“Itu adalah penderitaan populasi yang mereka alami. Itu benar-benar sakit. Jadi, kami memutuskan untuk menggunakannya. ”

Nori Sharif, tokoh sentral film ini, bekerja sebagai tenaga medis di Pusat Medis Jalawla sebelum kota itu diserang oleh ISIS. (Foto: Nori Sharif)

Nori Sharif 

Sharif, tokoh utama dalam film itu, termasuk di antara selusin dokter yang mendampingi Ahmed di Irak. Dalam satu tahun, pembuat film Kurdi melatih kelompok petugas medis tentang bagaimana membuat film dan melakukan wawancara kualitatif, mirip dengan metode yang digunakan dalam penelitian medis. Namun, ketika konflik di Irak memburuk setelah penarikan Amerika, Sharif lebih fokus.

“Saya berbicara tentang 2011 dan 2012 di mana fenomena [bom bunuh diri] tidak dikenal. Itu masih sangat mengejutkan ketika IS pertama kali memulai pembunuhan massalnya. Gambar-gambar itu tidak terlalu dikenal. ”

Menurut Ahmed, Sharif adalah “salah satu orang yang paling berkomitmen dalam kelompok” yang mengapa dia tetap ada sampai akhir dan menjadi tokoh sentral dari film dokumenter.

Identitas Sharif sebagai Arab Sunni tidak terungkap dalam film ini. Pembuat film Kurdi menjelaskan bahwa dia memilih untuk tidak membuat film politik “karena itu akan seperti meletakkan minyak di atas api dan itu bisa membuat film lebih sulit, dan rumit, dan tak manusiawi.”

 

 

“Saya memutuskan hanya untuk menggambarkan seorang medis yang buta pada isu-isu seperti etnis dan agama; dia hanya melakukan pekerjaannya sama untuk semua orang. Itu kekuatannya. [Sharif] sedang membantu banyak orang, pergi ke rumah mereka, mereka adalah Syiah, mereka orang Kurdi, dan mereka Sunni. Jadi, bagi saya, itu sebabnya saya memercayainya, dia adalah karakter yang dapat saya masukkan banyak usaha.”

Sharif dan istrinya, bersama dengan anak-anak mereka, saat ini tinggal di kamp IDP Saad di Provinsi Baqubah, yang berada di bawah administrasi pemerintah Irak. Menurut Ahmed, Sharif senang dan bekerja di klinik di pusat kesehatan kamp dan masih memiliki harapan bahwa hal-hal di Irak akan kembali normal.

 

Reaksi Internasional

Sejak pemutaran pertamanya di tahun 2016, “Nowhere to Hide” telah meraih beberapa penghargaan bergengsi termasuk penghargaan Film Dokumenter Film Internasional Amsterdam (IDFA) untuk Dokumenter Panjang-Fitur Terbaik pada tahun 2016 dan Amanda Award untuk Film Dokumenter Terbaik di tahun 2017.

Meskipun prestasi ini, Ahmed mengatakan sebelum hadiah, film itu sendiri telah membantunya mencapai tingkat yang ia tidak pernah impikan sebelumnya.

“Saya berhasil berbicara dengan ribuan orang melalui film. Saya berhasil mempromosikan ide-ide saya, pikiran saya, kemanusiaan saya, kisah saya — seperti Anda tahu, kisah Nori — kepada dunia. Jadi, film itu begitu kuat menyentuh siapa pun yang menontonnya. ”

Memenangkan penghargaan adalah “besar karena membantu film untuk bepergian dan mendapatkan perhatian dan memiliki umur panjang. Dan sekarang ‘Nowhere to Hide’ telah hidup tiga tahun. Ini sudah tahun ketiga dan masih banyak tuntutan yang sangat bagus. Tidak terlalu banyak film yang ditayangkan selama satu tahun. Hadiahnya bagus yang akan membantu perjalanan film dan menjangkau lebih banyak penonton, ”katanya. ***

 

Pianis Muda Jonathan Kuo Perkenalkan Musik Klasik pada Milenial

Pianis muda Jonathan Kuo–foto poskota

Bertempat di Aula Simfonia Jakarta Jalan Industri Blok B. 14 Kav. 1, Kemayoran, Jakarta Utara, Jonathan Kuo, 16 tahun, akan memainkan komposisi piano klasik gubahan Tchaikovsky dan Mozart.  Pergelaran bertajuk Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert itu menampilkan Jonathan bersama kelompok orkestra di bawah pimpinan konduktor Iswargia R Sudarno.

Konser ini juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia dan juga memperkenalkan musik klasik pada anak muda di Indonesia. “Karena saya juga melihat masih rada kurang peminat, berbeda sekali dengan peminat Via Vallen yang sudah jutaan,” kata Jonathan  pada press conference di Dharmawangsa Square, baru baru ini.

Pada usianya yang masih belia, Jonathan sudah meraih menyandang gelar sebagai Young Steinway Artist yang mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional hingga internasional.

“Jo merupakan orang pertama yang dapat mencapai Steinway Artist tanpa sekolah formal conservatorium, karena sebelumnya Steinway Artist asal Surabaya juga ada, akan tetapi lulusan dari sekolah conservatorium” jelas Paulus Gani, sales dan marketing PT. Citra Intirama yang menjadi perwakilan dari Steinway & Sons Indonesia.

Menurut Paulus Gani, untuk menjadi Steinway Artist memerlukan waktu kurang lebih satu hingga dua tahun dan harus melewati banyak proses.

“Untuk menjadi ambassador Steinway Artist bukanlah bersifat bisnis, melainkan harus berprestasi,” tambah Paulus.

“Sangat senang bisa tampil lagi di konser piano klasik ini. Saya bangga,” ungkap Jonathan

Konser pada Oktober nanti, telah di persiapkan oleh Jonathan sejak bulan Juli lalu di mana ia berlatih untuk memainkan piano dengan durasi 70 menit. Terbagi dua buah lagu dengan durasi waktu 40 menit dan 30 menit.

Juga adanya encore dengan durasi waktu tujuh hingga delapan menit. “Menjadi guru sejak Jo umur delapan tahun memiliki kemajuan yang besar sekali. Sekarang sudah dapat dikategorikan sebagai artist,” ungkap Iswargia.

Jonathan, pria kelahiran Bandung, 21 September 2002 ini menyebutkan, saat konser nanti, dia ingin menikmati dan berupaya menampilkan yang terbaik.  Bagi Jonathan, repertoar di konser kali ini sulit karena lagu yang dia mainkan baru pertama kali. Lagunya susah sekali dan tidak bisa diremehkan, juga panjang,” katanya. (pik)

 

Film ‘Jejak Cinta’: Tentang Kanker Serviks dan Jodoh di Kelenteng

Satu lagi film terbaru yang akan tayang di awal September 2018 berjudul JEJAK CINTA. Rumah produksi Trazz Production dan Scene Film akan membuat film layar lebar yang mengangkat cerita tentang penyakit kanker serviks.

Sejumlah aktor dan aktris ternama terlibat di dalam film yang tayang pada 6 September 2018 mendatang. Mulai dari Baim Wong, Prisia Nasution, Mathias Muchus, Della  Perez, dan Zora Vidayanata.

Menurut sang sutradara, Tarmizi Abka mengatakan, film ini sangat menarik ditonton. Pasalnya, banyak pesan positif yang bisa diambil dari jalan cerita tersebut.

“Film JEJAK CINTA membawa pesan bagi para wanita yang terkena kanker serviks untuk menyikapi penyakit tersebut secara positif. Pada saat bersamaan, film ini juga mengusung pesan kepada para wanita untuk mencegah dan menghindari penyakit kanker serviks tersebut,” kata Tarmizi Abka, belum lama ini.

Film ini memvisualkan beberapa objek wisata di Singkawang, Kalimantan Barat, seperti pawai tatung dan naga-nagaan dalam perayaan Cap Go Meh menarik dilihat. Selain itu, juga ada ramalan perjodohan di kelenteng dimana Prisia diramal bakal berjodoh dan menikah dengan Baim Wong. ‘Jejak Cinta’ didedikasikan untuk almarhumah Julia Perez (Jupe) yang wafat tahun silam karena kanker serviks. (pik).

Closing Ceremony Asian Games nan ‘Syantik’

 

MODERN dangdut lewat lagu ”Jaran Goyang” dan “Lagi Suntik” lewat vokal Siti Badriah, menyemarakkan Closing Ceremony Asian Games ke 18 yang telah berlangsung sukses di Jakarta, Palembang dan Jawa Barat.

“Lagi Syantik”, judul lagu yang tampaknya mengikuti laval kemanja-manjaan penyanyi Syahrini ini, nyatanya benar-benar mrnggoyang para atlet dan penonton yang menyesaki Gelora Bung Karno di Senayan.

Lupakan “protes” atau uneg-uneg yang pernah disampaikan Syahrini mengenai penggunaan kata ‘syantik’ dalam lagu tersebut, nyatanya lagu itu menjadi salah satu pemanis “energy of Asia”

Ketika membawakan “Lagi Syantik”, Siti Badriah, penyanyi kelahiran 11 November 1991 itu tampil diiringi penari-penari dengan kostum karnaval megah.

Lagu tersebut membuat Sibad, panggilan Siti Badriah, semakin terkenal di dunia musik Indonesia.

Pada awal Agustus, video klip “Lagi Syantik” sudah ditonton hingga nyaris 300 juta view di YouTube

Penampilan tak kalah menariknya juga disuguhkan RAN. Publik langsubg menyambut “Pandangan Pertama” dari RAN dengan ikut bernyanyi. Ribuan penonton bak berkaraoke massal menyanyikan lagu yang dipopulerkan Rayi, Asta dan Nino 10 tahun silam.

RAN, grup yang dibentuk pada 2006 itu tak memberikan penonton waktu untuk beristirahat, mereka langsung menyambungnya dengan lagu “Inikah Cinta” dari M.E serta “Malam Ini Indah” dari Iwa K.

Upacara penutupan Asian Games 2018 diramaikan sederet musisi Indonesia dan Asia, di antaranya Bunga Citra Lestari, Isyana Sarasvati, Denada, Gigi, Dira Sugandi, Winky Wiryawan, JFlow, Lea Simanjutak, Jevin Julian, Bams, Alffy Rev, Irfan Samsons, Ade Govinda.

Pencinta K-pop juga dimanjakan dengan penampilan grup terkemuka Super Junior dan iKon, ada pula Siddharth Slathia yang menyanyikan lagu “Meraih Bintang” versi India.

Tentu saja, penampilan bintang K-Pop menjadi “sesuatu” bangat dalam pesta perpisahan spektakuler itu.***

Paul McCartney Ungkap Kisah Di Balik Top Hit The Beatles

Band legendaris The Beatles telah mengukir banyak rekor bersejarah, salah satunya yang menarik adalah sejak tahun 1960 an lagu mereka sudah bertengger dengan gagah di Billboard Hot 100 sepanjang masa dengan puluhan lagu hits. John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr pernah berada di posisi teratas Top 100 lima kali berturut-turut.

Paul McCartney mengungkapkan cerita menarik dibalik 8 lagu top hit The Beatles;

“I Want To Hold Your hand” (Meraih No 1. 1 Feb 1964 )

Pada akhir tahun 1962, The Beatles sudah mengguncang Inggris tetapi publik Amerika masih adem ayem terhadap grup band ini, apalagi ditambah tampang mereka yang berpotongan rambut poni dan berjas itu. Saat itu, McCartney, yang baru berusia 16  tahun,  mengatakan kepada Brian Epstain, manajer band,”Kita tidak akan pergi ke Amerika sampai ada lagu yang berada di puncak tangga lagu.” Apalagi banyak pemusik Inggris telah mencoba peruntungan di negeri Paman Sam ini dan gagal, pulang dengan kepala tertunduk.

Kemudian, Epstein berusaha meyakinkan Ed Sulivan agar The Beatles bisa tampil di acara televisi CBS, yang kala itu sangat populer. Epstein berhasil dan juga perusahaan rekaman Capitol Record setuju mengedarkan lagu single “I Want To Hold Your Hand” bersamaan dengan acara Ed Sulivan Show. Belakangan, Capitol Record terpaksa mengedarkan single lebih awal setelah seorang penyiar radio memutar lagu itu terlebih dahulu pada medio Desember 1963.

The Beatles yang sedang berada di Paris dalam rangka tur Eropa mereka, setelah tampil di Teater Olympia. McCartney mengatakan, “Kami mendapat telegram, isinya ‘Selamat No 1 di AS. Kami langsung berloncatan saking gembiranya. Lagu itulah yang membawa kami ke Amerika.”

 “Love Me Do” (30 Mei 1964)

“Love Me Do” merupakan sebuah lagu sederhana jika dibandingkan dengan lagu-lagu Beatles lain setelahnya. Lagu ini juga jadi bagian dari album pertama “Please Please Me”. “Lagu-lagu awal kami lebih sederhana dari lagu sesudahnya, dan itulah yang paling bagus dari The Beatles,” cerita McCartney. ““Lagu ini sederhana dan bisa dinyanyikan dengan mudah oleh para pengemar. Seluruh lagu mula-mula kami berisi ‘aku’ atau ‘kau’. Kita benar-benar langsung dan terbuka terhadap para penggemar. Lagu ‘Love Me Do’, ‘Please Please Me’, ‘I want to Hold your Hand’. Banyak orang sangat suka dengan lagu ‘Love Me Do’ karena lagu ini mengungkap sebuah priode  dan hey, lagu itu mencapai No 1. Jadi buat saya, OK saja.”

Namun ada cerita kurang sedap dari rekaman lagu ‘Love Me Do’, Ringo Starr tidak mengebuk drum, dia hanya membunyikan tamborin saja. Karena, produser George Martin, yang terbiasa bekerjasama dengan pemusik top Inggris, mengantinya dengan penabuh drum veteran Andy White. “George memang belum pernah berurusan dengan orang-orang seperti kami, yang belum belajar musik, dia pikir Ringo belum sampai tingkat pro, kasihan Ringo. Jadi Ringo hanya kebagian tamborin. Kami tidak senang. Kami pikir Andy White masih kalah jauh dari Ringo. Tapi kami terpaksa menuruti orang-orang dewasa itu.”

“Eight Days A Week” (13 Maret 1965)

Belum lama ini, McCartney, di konsernya,  melantunkan lagu “Eight Days A Week” , yang rekaman aslinya dinyanyikan oleh Lennon. “Ketika orang menulis mengenai konser saya, mereka menyatakan dia membuka konser dengan lagu klasik Beatles,’Eight Days A Week’. Saya sendiri tidak akan menyebutnya sebagai klasik. Apakah ini lagu terbagus? Tidak. Apa lagu ini punya ciri khas Beatles? Ya. Yang paling bagus adalah judulnya. “

Banyak cerita beredar, judul itu berasal dari celotehan Ringo, tapi cerita sebenarnya adalah McCartney ditilang dan SIM-nya dicabut selama setahun, karena itulah dia menggunakan supir untuk mengantarnya ke rumah Lennon. “Ketika kami sampai di rumah John, saya bilang, kamu lagi sibuk? Dia menjawab. Sibuk? Aku kerja delapan hari seminggu. Saya langsung berlari masuk rumahnya dan mengatakan, kita sudah dapat judul lagunya. Dan kami menulis lagu itu pada jam berikutnya,” cerita McCartney.

Dengan lirik, ‘Hold me, love me’ pada bagian refreain, The Beatles — saat itu masih berusia 20 an — mulai berubah menjadi lebih “duniawi”. “Orang tua kami banyak mengekang kami dan kami mulai keluar dari tekanan itu. Semua mulai terlepas. Berangkat dari Liverpool ke London, apalagi banyak gadis menarik dan kami adalah pemuda berdarah panas. Pada usia seperti itu, semua yang ada dalam pikiran anda para gadis”.

“Help!” ( 4 September 1965)

John Lennon, di akhir tahun 1965, mengalami masalah besar. Setelah dua tahun super sibuk dengan rekaman dan tur, dia mengalami masalah pernikahan. Masalahnya ditambah dengan kebiasan baru John menenggak obat-obatan. Ketika dia sedang menggarap lagu-lagu untuk film kedua Beatles (Help!). Dia sedikit menghapus nada gembira dengan lagu ‘Help!’. McCartney berkomentar,”Saya sampai di rumah John untuk menulis lagu. Dan saya melihat ada kemungkinan untuk menambah melodi di baris kedua. Kami juga berhasil menelesaikan lagu dengan cepat. Setelah itu, kami turun ke lantai satu dan menyanyikannya di depan isteri John kala itu, Cynthia, dan seorang wartawan, yang dikenalnya, Maureen Cleave. Kami sangat senang dengan hasilnya.”

Belakangan Lennon mengatakan, “Aku jadi gemuk dan depresi, dan menjerit minta tolong.” Meskipun dia menyamarkan kesengsaraannya dengan tempo yang cepat. McCartney menambahkan, “Dia tidak pernah mengatakan, saya sekarang gemuk dan merasa kacau. Dia mengatakan, ‘Ketika saya muda, jauh lebih muda dari hari ini (When I was younger, so much younger than today). Dengan kata lain, dia ingin menerobos keluar. Kami merasakan hal yang sama. Tapi jika melihat kebelakang, John selalu mencari pertolongan. Dia merasa orang dekat di sekitarnya akan meninggal. Ayahnya meninggalkan rumah ketika dia baru berusia 3 tahun, pamannya, tempatnya bernaung, juga belakangan meninggal, kemudian ibunya meninggal. Saya pikir seluruh hidup John adalah teriakan minta tolong.”

“We Can Work It Out” (8 Januari 1966)

Bagi McCartney lagu ‘We Can Work It Out’ adalah lagu untuk pacar yang sedang marah dan upaya berbaikan kembali. Beberapa orang menyebutkan dia menulis lagu itu setelah bertengkar dengan pacarnya, Jane Asher. Tapi apa kata McCartney sendiri, “Saya tidak tahu persis situasinya, namun saya katakan dengan jelas ‘coba lihat dengan cara pandangku, karena aku memang benar (‘Try and see it my way, because I’m obviously rigth’). Kayaknya sombong, tapi itulah yang diinginkan seorang pemuda terhadap pacarnya. Coba pikir dari posisi saya, itu akan lebih mudah, itu jelas lebih mudah (‘Please thing of this from my point of view. It might make things easier. It’d certainly make it easier for me’ — bagian dari lirik lagu).

Dalam buku Revolution in the Head: The Beatles’ Record and the Sixties, penulisnya, Ian MacDonald, menyatakan “We Can Work It Out” sebagai momen saat dominasi Lennon berakhir dan mulailah masa McCartney, yang tidak hanya jadi penulis lagu, tapi juga pemain instrumen musik, penata musik, produser, dan de facto direktur musik The Beatles. MacDonald juga mencatat bahwa lagu itu membutuhkan waktu 12 jam untuk direkam, jangka waktu yang lama dan belum pernah dialami band. McCartney berkomentar, “Itu bukan lagu yang sukar. Mungkin karena saya cerewet karena itu lagu yang saya tulis. Anda punya ide bagaimana lagu itu dinyanyikan dan belum sampai taraf itu karenanya kamu terus mengupayakannya.”

“Paperback Writer” (25 Juni 1966)

“Cinta adalah inspirasi besar untuk ditulis jadi lagu. Kamu tinggalkan aku, aku benci kamu. Aku cinta kamu, ku mohon kembalilah. Jangan pergi , karena aku datang. Itulah cerita kita sebagai manusia,” tutur McCartney.

Tapi McCartney juga mengalami kelelahan menulis lagu cinta. Salah satu hasil diluar lagu cinta adalah ‘Paperback Writer’, yang bercerita tentang ambisi, frustasi, dan rasa putus asa untuk memuaskan orang lain. Lagu ini ditulis McCartney setelah dia membaca sebuah artikel mengenai kehidupan seorang penulis novel di Daily Mail. McCartney menulis lirik lagu ini seperti menulis surat dan Lennon bersikeras agar dia tidak mengubahnya.

Lagu ini didominasi oleh dua suara, petikan suara bass dari McCartney dan harmoni gaya The Beach Boys. Lagu ini sendiri sempat bertengger di No1 Hot 100 selama tiga pekan. “Sebelum ini, kami dipengaruhi oleh pemusk seperti Smokey Robinson & The Miracles atau Phil Spector. Tapi pada saat itu, The Beach Boys.  Lagu ‘Paperback Writer’ adalah pengakuan terhadap mereka dan sebuah ide bahwa setiap orang ingin menulis novel.” Saya suka kata ‘paperback”. Dan kenapa Lennon dan Harrison bersenandung “Frere Jacques” sebagai vokal latar?  Ini pertanyaan bagus. Tidak tahu! Kami memasukkan banyak hal. Kenapa kami mengatakan Harold Wilson dan Edward Heath (vokal latar lagu ‘Taxman’ tahun 1966)? Kami benar-benar bebas memasukkan ide-ide menarik.”

“Penny Lane” (18 Maret 1967)

The Beatles berangkat dari Liverpool — secara fisik dan emosi — ke London. Mereka juga suka bernostalgia dan lagu ini  adalah saat Beatles bernostalgia. “Penny Lane adalah sebuah tempat di Liverpool yang sangat memberi kenangan kepada kami. Itu adalah terminal, dimana aku dan John turun dari bus dan berjalan ke rumah. Dan seluruh lirik di lagu itu adalah benar (sesuai kenyataan). Kami memang belum pernah melihat seorang bankir mengenakan jas hujan — kami mengarang disini — tapi ada tukang cukur, ada bank. Ada pos pemadam kebakaran. Satu kali ada seorang perawat menjual opium — banyak orang berpikir lirik itu ‘menjual anak anjing’ (selling puppies), tapi yang kami katakan adalah “poppies” (opium), saat itu merupakah hari peringatan Legiun Kerajaan Inggris. Itu kejadian sebenarnya,” cerita McCartney.

Lagu ini juga jadi lagu aransemen baroque The Beatles, tanpa gitar — pengaruh (baroque) masih ada sampai abad ke 18. “Aku mendengarkan lagu Bach, Brandenburg Concertos, dan bertanya kepada George Martin mengenai suara terompet bernada tinggi. Dia menjelaskan itu terompet piccolo, terus kami mendapat peniup terompet piccolo terbaik dan saya menuliskan nada untuk dia mainkan dan direkam. Aku ingin sebuah rekaman yang jernih. Itu sangatlah luar biasa, benar,” tuturnya.

“Hey Jude” (28 September 1968)

Kisah lagu ini sudah dikenal luas, McCartney menuliskannya untuk putera John, Julian yang saat itu berusia 5 tahun – tapi ini baru sebagian dari ceritanya. “Saya sedang berada di jalan untuk mengunjunginya (Julian) setelah John dan Cynthia bercerai, dan karena saya berteman baik dengan Julian, langsung muncul di pikiran saya: hey Jules, jangan terlalu dipikirkan (Hey, Jules, don’t make it bad). Itu adalah lagu pengharapan.”

Belakangan, McCartney mengubah Jules menjadi Jude. “Saya mendengar nama dalam sebuah musik, saya pikir semacam ‘Jude sudah mati’ atau hal semacam itu. Saya sama sekali tidak tahu bahwa Jude berarti Yahudi (dalam bahasa Jerman). Hal ini menyebabkan ada kebingungan, dan cukup banyak orang jadi marah,” kata McCartney. Begitu marahnya orang, ketika McCartney dan beberapa teman mengecat “HEY JUDE” di jendela Apple Boutique di Baker Street, London, tahun 1968, orang-orang melihat itu sebagai anti-Semitik dan melemparkan pipa sehingga jendela pecah berantakan.

Lennon sendiri curiga lagu itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya dan hubungannya dengan Yoko Ono, dengan merujuk pada lirik — terutama “You have found her, now go and get her” — itu untuk orang dewasa bukan anak-anak. “Semua hal mengenai Julian ada di lirik pertama,” tukas McCartney, dia juga menolak untuk mengungkapkan misteri kepada siapa lagu itu ditujukan.

“Hey Jude” bukan saja lagu paling panjang The Beatles, tapi juga lagu pertama yang keluar dari label Apple Records (miliknya The Beatles). Single ini tertancap 19 minggu memuncaki tangga lagu Hot 100 — jauh lebih lama dari semua lagu Beatles da nada 9 lagu pernah bertengger di puncak tangga lagu itu. Lagu itu juga berada di No 10 Hot 100 sepanjang masa. Bahkan Lennon, yang belakangan sering menyatakan tidak suka dengan lagu McCartney, menyebutkan lagu balad itu merupakan mahakarya. ***

Sumber informasi: billboard.com