Komposer Yessy Wenas Berpulang

alm Yessy Wenas–foto istimewa

Terlahir dengan nama Jehezkiel Robert Wenas di Tomohon, Sulawesi Utara, 14 April 1939. Yessy mengawali kariernya sebagai gitaris di kelompok “Alulas: yang sempat menjadi juara pertama dalam Festival Group Band di Hotel Homan, Bandung (1959). “Saya sudah mengagumi bunyi gitar dan kebetulan ayah saya punya gitar. Bunyi gitar itu enak sekali rasanya,” katanya menceritakan ihwal kecintaannya pada gitar dilansir Kabari News(27/4/14).

Yessy kemudian bergabung dengan kelompok “Aneka Nada” pada 1961. Personelnya terdiri dari Guntur Soekarno Putra (gitaris), Iwan (bassis), Indradi (drummer), serta Samsudin, Atjil, dan Memet Slamet (vokalis).

Selanjutnya, pada tahun yang sama, Yessy mulai menciptakan lagu, di antaranya “Abunawas”, “Si Gareng”, “Kisah Setangkai Daun”, dan “Menuai Padi” untuk kelompok Yanti Bersaudara.

Dekade 1960-an dan 70-an merupakan masa produktif Yessy sebagai pencipta lagu (komposer). Mulai Ernie Djohan, Titiek Puspa, Bob Tutupoli, Elly Kasim, Ineke Kusumawati, Titiek Sandhora, hingga Patty Bersaudara antre menyanyikan lagu ciptaannya.

“Saya mencipta lagu karena ada kebutuhan saja, studio meminta lagu, lalu saya buatkan lagu,” katanya.

Selain sebagai pencipta lagu, Yessy juga pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Pencipta Lagu Populer Indonesia (1970), Wakil Direktur di studio rekaman Metro Studio (1971-1974), Kepala Studio Rekaman Yukawi (1975-1978), wartawan majalah “Sonata” (1979-1981), kolumnis musik dan seni budaya untuk surat kabar harian “Sinar Harapan” dan mingguan “Mutiara” (1981-1984), Pemimpin Redaksi Majalah “Duta Kawanua” (1998-1999), dan Pemimpin Redaksi Tabloid “Palakat” (1999-2000).

Selain itu, Ketua Lembaga Kebudayaan Sulawesi Utara (LKSU) 2010-2015, Dewan Pembina Sanggar “BAPONTAR” hingga saat ini. (Berita Tagar, Maret 2016).

Kini sosok beliau telah mendahului kita semua. Seorang yang dikenal sangat rendah hati dan selalu mau berbagi ini, dalam berapa tahun terakhir masih sering menyempatkan diri untuk hadir dalam kegiatan kebudayaan bersama sanggar “Bapontar”.

Almarhum sempat menerima penghargaan Lifetime Achievement, Anugerah Bakti Musik Indonesia tahun 2016 dari PAPPRI & Bekraf.

“Almarhum orang sangat baik, menjadi inspirasi bagi banyak insan musik Indonesia. Beliau pencipta 313 buah lagu, tidak pernah pelit untuk berbagi dengan kami generasi muda. Bersyukur tahun 2015, kami bersama almarhum dan sanggar “Bapontar” sempat hadir di undang oleh Presiden di Istana Merdeka pada kegiatan 17 Agustus,” tutur Beiby Sumanti, pimpinan sanggar “Bapontar”.

Pencipta salah satu tembang yang cukup terkenal “Mengapa Tiada Maaf Darimu” yang dipopulerkan oleh Bob Tutupoli dan Yuni Sara, menghabiskan masa terakhirnya bersama Wenny Pakasi, isteri tercinta dan sanggar “Bapontar” dalam beberapa kegiatan terakhir.

“Kami sangat kehilangan sosok kebanggaan masyarakat kawanua (Minahasa, Sulawesi Utara/Sulut) bahkan Indonesia ini. Beliau sejak awal berdirinya sanggar kami (Bapontar) sudah menjadi pembina, dan saya bersyukur di sela masa perawatannya saya sempat mengajaknya bersama dengan isterinya jalan-jalan ke Rumah Apung Sentul sambil mendengarkan beberapa lagu ciptaannya. Dan saya selalu membawakan kukis (kue) kesukaannya. Sangat bangga bisa bersama almarhum di hari-hari terakhirnya”, kenang Beiby yang juga Anggota Dewan Pembina Generasi Penerus Perjuangan Merah Putih 1946 (GPPMP), dimana Oom Yessy duduk di posisi Dewan Penasihat, bersama isterinya Wenny Pakasi.

Almarhum tutup usia setelah rentang 80 tahun berkiprah di dunianya. Dia menghembuskan nafasnya kembali ke Sang Khalik pada Jumat (19/1/19) malam sekitar pukul 23.36 WIB di RS Budi Asih, Cawang, Jakarta Timur.

Saat ini jenasah disemayamkan di Rumah Duka (RD) RS PGI Cikini, Ruang 1 (satu). Rencananya, jenasah almarhum akan dikebumikan di kampung halamannya di Tomohon, Sulut, dan akan diberangkatkan menuju Manado pada hari Minggu tengah malam, setelah melalui sebuah upacara adat Minahasa.

Indonesia kehilanganmu … masyarakat Sulut dan kawanua merasakan duka atas kepergianmu … terima kasih atas karya dan jasamu bagi Sulawesi utara dan Indonesia. Akan selalu dikenang. (pik)

Ody Harap “Dilan 1991” Capai Box-Office dan Lebihi 6 Jutaan Penonton

Vanesha Prescilla dan Iqbaal Ramadhan pemeran Dilan.

Berjadwal tayang di bioskop mulai 28 Februari nanti, Dilan 1991 dikatakan Ody Mulya Hidayat selaku produser film drama sekuel kedua ini bakal lebih banyak varian karakter tokoh-tokohnya karena bukan hanya menghadirkan teman-teman pergaulan Dilan dalam geng motor dan konco-konconya di lingkungan sekolah.

“Dilibatkan pula temen-temen Dilan diluar Indonesia, disamping juga penampilan pihak orangtua Dilan dan Milea. Yang jelas, ini film sekuel luarbiasa dengan anggaran pengeluaran super-ekstra supaya bisa mematahkan stigma kalo sekuel kedua biasanya hasilnya dibawah yang pertama, dan ini saya ingin membalikkan stigma itu: Dilan 1991 lebih banyak lagi penontonnya. Jadi perlu biaya produksi yang jauh berlipat ganda supaya hasil kualitas gambarnya pun terpenuhi,” papar Ody melanjutkan keterangannya,

Asumsi keberhasilan telah terlihat dari masyarakat penggemar Dilan yang ternyata terus bertambah dengan yang baru-baru. “Target penontonnya (Dilan 1991) melampaui jumlah penonton film sekuel pertama (jauh melebihi enam juta penonton Dilan 1990), atau semestnya bisa mematahkan stigma sekuel kedua yang biasanya menurun penontonnya. Ya, paling tidak diusahakan harus jadi box-office,” harapnya tentang Dilan 1991.

“Romansanya tetap kuat tetapi kembali pada sikap persaudaraan, pertemanan yang kental. Sebetulnya, masih bergenre film drama keluarga dengan masih membawakan dinamika cerita anak muda dekade 1990-an,” sambung Ody yang juga telah menyiapkan sekuel ketiga Dilan dengan sosok pemeran Iqbaal Ramadhan itu sudah beranjak dewasa. (john js)

Ody Mulya Hidayat (kanan) mendampingi sutradara film Dilan 1991, Fajar Bustomi.

‘Keluarga Cemara’ Borong Penghargaan Piala Maya

foto istimewa

Film “Keluarga Cemara” mendominasi penghargaan Piala Maya 2018, disusul film “Wiro Sableng”, pada pengumuman penghargaan yang dibacakan di Jakarta, Sabtu (19/1).

“Keluarga Cemara”, yang dibintangi Nirina Zubir dan Ringgo Agus Rahman dengan sutradara Yandy Laurens, memborong enam piala dari 11 nominasi yang didapat.
Sedangkan “Wiro Sableng” yang menampilkan Vino Bastian, Yayan Ruhian serta Sherina Munaf, mendapat lima piala dari 14 nominasi yang dijagokan.
Piala Maya merupakan ajang apresiasi dari dunia maya untuk film Indonesia.
Pada tahun ketujuh penyelenggaraan, Piala Maya mengusung tema “7umbuh Kembang” dengan harapan dapat terus bertumbuh sebagai wadah apresiasi film Indonesia.
Berikut daftar pemenang Piala Maya 2019: 
1. Film Cerita Panjang/ Film Bioskop Terpilih “Keluarga Cemara”
2. Film Cerita Pendek Terpilih “Tilik” – Agung Prasetyo
3. Penyutradaraan Terpilih Timo Tjahjanto – “Sebelum Iblis Menjemput”
4. Penyutradaraan Film Panjang Karya Perdana Terpilih Yandy Laurens – “Keluarga Cemara”
5. Aktor Utama Terpilih Gading Marten – “Love for Sale”
6. Aktris Utama Terpilih Luna Maya – “Suzzana: Bernapas Dalam Kubur”
7. Aktor Pendukung Terpilih Marthino Lio – “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta”
8. Aktris Pendukung Terpilih Karina Suwandi – “Sebelum Iblis Menjemput”
9. Aktor Pendatang Baru Terpilih Dewa Dayana – “Asal Kau Bahagia”
10. Aktris Pendatang Baru Terpilih Vanessa Prescilla – “Dilan 1990”
11. Aktor/ Aktris Cilik/ Remaja Adhisty Zara – “Keluarga Cemara”
12. Penampilan Singkat Nan Berkesan Aminah Cendrakasih – “Si Doel The Movie”
13. Skenario Asli Terpilih Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramly – “Love for Sale”
14. Skenario Adaptasi Terpilih Gina S. Noer, Yandy Laurens – “Keluarga Cemara”
15. Tata Kamera Terpilih Ipung Rachmat – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”
16. Tata Artistik Terpilih Adrianto Sinaga – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”
17. Tata Musik Terpilih Ifa Fachir – “Keluarga Cemara”
18. Tata Penyuntingan Gambar Aline Jusria – “Teman Tapi Menikah”
19. Tata Suara Terpilih Aria Prayogi, M. Ichsan Rachmaditta – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”
20. Efek Khusus Terpilih Keliek Wicaksono – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”
21. Tata Kostum Terpilih Adrianto Sinaga, Nadia Adharina – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”
22. Tata Rias Wajah dan Rambut Peter Gorshenin, Tatiana Melkomova – “Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur”
23. Desain Poster Terpilih Alvin Haris – “Love For Sale”
24. Lagu Tema Terpilih “Harta Berharga” – Bunga Citra Lestari (“Keluarga Cemara”.*** (ipik)

Rizky Febian Rilis Album Jejak

Rizky Febian–foto tribunnews com

Setelah penantian panjang, musisi Rizky Febian merilis album pertamanya yang berjudul Jejak. Rizky Febian dengan antusias menceritakan pencapaiannya yang menurutnya luar biasa ini. “Pencapaian yang saya tunggu-tunggu dari perjalanan karier saya, memang ini yang saya tunggu-tunggu. Ibaratnya ini ijazah lah buat para musisi. Ada hampir 4 tahun akhirnya terealisasi album pertama,” sambungnya.

Iki, panggilan akrabnya bercerita kalau proses pembuatan albumnya cukup panjang sehingga ia sempat putus asa, namun untungnya ia bisa melewati masa pembuatan album yang terdiri dari lima lagu tersebut.

foto tribunnews com

“Prosesnya panjang banget dan alhamdulilllah schedule juga padet. Manajemen mengharuskan untuk mengumpulkan materi dalam beberapa bulan untuk persiapan album,” ujarnya.

“Sempet hopeless juga gimana materi album belum kekumpul semua. Deg-degan lah kirain nggak bakal direalisasikan sama manajemen,” sambungnya.

Selama masa pembuatan album, Rizky bercerita kalau ia sempat melewatkan malam tanpa tidur karena jadwal yang padat. Bahkan pernah ada masa saat ia berkumpul bersama orang terdekat, ia masih membicarakan masalah musik.

“Tapi ketika mereka (manajemen) bilang, ‘Ki, album di bulan ini bisa kita kejar atau engga’, dari situ alhamdulillah saya semangat banget,” terangnya.

“Akhirnya workshop sana-sini, nggak tidur, pulang acara langsung ketemu sama saudara ngomongin musik ada aja yang dibahas. Tadinya hari itu yang niatnya cuma bikin satu lagu, mungkin udah jalan Allah, hari itu juga langsung kebikin 5 lagu cuma dari beberapa hari. Yang lain juga kaget kenapa bisa gini, memang udah jalannya,” lanjutnya lagi. (pik)

Maxim Bouttier Bentak Prilly Latuconsina di Film ‘Matt n Mou’

Pasangan kekasih Maxime Bouttier dan Prilly Latuconsina terlibat dalam film drama komedi berjudul Matt & Mou yang mulai tayang pada 24 Januari 2019. Pasangan aktor ini berperan sebagai sahabat sejak kecil dengan kepribadian yang bertolak belakang.

Matt memiliki kepribadian yang bijak dan cerdas, sedangkan Mou manja dan cerewet. Karena itu Matt sangat protektif terhadap Mou termasuk dalam urusan pacar.

Dalam salah satu adegan, Maxime sebagai Matt terpaksa membentak Prilly untuk pertama kalinya. “Maxime enggak pernah bentak. Dia ngebentak aku buat pertama kali, karena aku memang ngeselin,” kata Prilly saat premier di CGV Grand Indonesia, Jakarta pada Jumat, 18 Januari 2019.

Diakui Maxime, hal tersebut sangat sulit ia lakukan, terutama karena Prilly baru saja sakit satu malam sebelum adegan tersebut. “Kita tiga atau empat kali take, apalagi dia malamnya sakit jadi agak susah untuk masuk ke situ,” ujar aktor berdarah Prancis tersebut.

Monty Tiwa sebagai sutradara melihat adegan itu dapat dibawakan dengan jujur oleh Prilly dan Maxime. “Saat adegan itu terasa jujur karena Prilly lihat Maxime sebagai pacarnya yang ngebentak dia, bukan Matt,” ucapnya.  Sederet pemain juga ikut menyemarakkan film ini, yaitu Karina Suwandi, Marthino Lio, Irsyadillah, Josephine dll. (pik)

 

Pesta di Klub Malam, Gelar Ratu Kecantikan Malaysia Dicopot

PEMENANG kontes kecantikan Dewi Remaja, Haneesya Hanee, harus kehilangan gelarnya setelah sebuah video muncul secara online yang menunjukkan bahwa dia dan kawan-kawan finalisnya berpesta di sebuah klub malam.

Wanita berusia 19 tahun, yang bernama lengkap Sharifah Haneesya Sayed Sahlan, mengakui kesalahannya pada konferensi pers yang diselenggarakan di Shah Alam kemarin.

Melalui akun instagramnya, Hanee mengaku kesalahannya dan meminta maaf. “Saya apologies kepada semua orang yang support Hanee….. Saya tahu perbuatan Haneee itu sangat-sangat salah,” katanya.

https://www.instagram.com/p/Bsu7bafnbwm/

Dia juga sangat mengharapkan  masyarakat Malaysia, untuk berhenti menyalahkan ibunya. Dia menegaskan, apa yang dilakukan di klub malam tersebut adalah  kesalahannya sendiri, sehingga  gelarnya dicabut oleh penyelenggara karena melanggar peraturan kontes.

https://www.instagram.com/p/BsUQGFCHajQ/

Sebelumnya pewarta lokal Sinar Harian melaporkan bahwa Haneesya telah meminta waktu untuk mengomentari masalah ini, ketika harian itu menghubunginya pada hari Rabu.

Videonya menjadi viral itu tersebar  sehari setelah Haneesya dianugerahi gelar sebagai pemenang kontes yang diselenggarakan oleh majalah Remaja pada hari Minggu lalu.   Video itu menunjukkan seorang wanita menyerupai Haneesya dan finalis lainnya di sebuah klub malam yang memperlihatkan  minuman beralkohol dan mereka tengah menari di klub malam.

Artis ‘Nona Cantik’ Layanan Short Time Bertarif Rp150 Juta

PROSTITUSI juga lepas dari hukum ekonomi, dimana ada yang cari di situ ada pihak yang siap mensuplai. Perempuan jetset, tidak lepas dari jeratan bisnis ini. Artis sinetron VA yang konon bertarif Rp 80 juta sekali kencan, ternyata belum apa-apa dibanding seorang artis yang tarifnya hampir dua kali lipatnya. Ya, untuk kencan dengan artis tersebut, katakanlah namanya kita sebut Nona Cantik, seorang pengusaha harsu merogoh kantong Rp 150 juta.

Robby Abbas, mantan mucikari yang telah menjalani hukuman kurungan karena tertangkap di sebuah hotel di Jakarta Selatan, mengungkapkan secara blak-blakan dalam sebuah acara Hotman Paris Show  yang tayang di INews TV.

Robby mengaku, ketika dirinya bisnis esek-esek, ia menenajemeni 100-an artis. Mereka pada umumnya adalah model majalah dewasa. Ada juga beberapa yang biasa suka tampil di layar televisi. Yang mengejutkan, ada juga artis yang pernah menjadi tamu dalam acara Hotman Paris Show, juga pernah di bawah menejemen Robby untuk layanan di tempat tidur.

“Tapi sekarang sudah hijar,” kata Robby, menggambarkan bahwa selain dirinya, di antara para artis yang dikelolanya untuk bisnis esek-esek itu sudah pada sadar diri.

Robby mengaku, para model yang menjual diri lewat Robby secara fisik rara-rata memang oke. “Secara fisik, ya bagus,” kata Roby menjawab pertanyaan Hotman.

 

Disinggung harga jual layanan artis dan model yang dikelolanya, Robby menyebut rata-rata tarifnya Rp 20 juta sampai dengan Rp 30 juta.

Hotman pun beryanya, berapa taruf yang paling mahal dari artis yang pernah ada di bawah menejemen Robby. Menurut Robby, yang termahal Rp 150 juta. Untuk yang 20-30 juta per short time, kebanyakan model-model yang belum masuk ke layar televisi (main sinetron atau acara lainnya).

Seorang Hotman Paris pun terkaget-kaget ketika mendengar tarif short time Rp 150 juta. Dia pun kemudian membandingkan, bagaimana duit sebanyak itu bisa untuk membeli dua ekor sapi dengan danging yang bagus. “Rp 150 juta itu sudah bisa beli dua sapi utuh dagingnya,” kata Hotman.

Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata lelaki hidung belang yang mengajak kencan artis tersebut hanya menghabiskan waktu 20 menitan.  Apa yang dilakukan artis tersebut dengan lelaki yang mengencaninya, Robby mengaku tidak tahu.

“Saya  hanya ngurus sistemnya sampai selesai, dari keuangan, tempat dsb,” jelas Robby.

Bagaimana sistem pembayarannya? Robby mengaku, ketika itu dia memilih sistem cash. Tidak mau menggunakan tranfer bank, karena sangat mudah diendus PPATK.

Ketika ditanya mengenai berapa “bonus” yang diterima Robby sebagai marketing, Robby mengaku mem-mark up sekitar 20-30%. Rata-rata 20 persen, akunya.

Menurutnya, orang yang ingin berkencan dengan artisnya, yang bersangkutan harus memnyelesaikan masalah keuangannya. Sedangkan artisnya, akan menemuinya kemudian setelah melaksanakan “tugas”nya.

Robby mengaku, dalam kasus yang menyeretnya ke pengadilan, semua artis yang masuk manajemennya, menawarkan diri. Dirinya tidak pernah menawarkan jasa ke mereka untuk memasarkan, tetapi mereka yang datang atau menghubunginya.

Baik dalam BAP polisi maupun di persidangan, mereka yang diperiksa polisi, mengakui apa adanya bahwa mereka melakukan pekerjaan itu. Tetapi memang ke media, mereka mengaku tidak melakukan dan tidak kenal dengan Robby. Di antara mereka, juga mengaku dijebak oleh Robby. ***

“DreadOut” Tembus 800 Ribu Penonton Dalam Dua Minggu

Film horor “DreadOut” berhasil menembus angka 800 ribu penonton sejak dirilis pada tanggal 3 Januari 2019 lalu. Pencapaian ini pun membuat para pemain dan tim produksi senang.
Hal ini sekaligus membuktikan bahwa film yang diangkat dari gim (game) juga mempunyai potensi cukup besar untuk diterima oleh masyarakat Indonesia.
“Dengan raihan 800 ribu penonton, Kita masih berjuang untuk satu juta penonton. Artinya film yang diangkat dari gim itu punya potensi besar diterima masyarakat Indonesia. Jadi makin semangat lagi gim lain supaya bisa diangkat ke layar lebar,” ucap Wida Handoyo selaku produser film “DreadOut” dalam syukuran di Jakarta, Kamis.
Film “DreadOut” merupakan karya adaptasi gim pertama yang berhasil diangkat ke layar lebar. Kehadiran “DreadOut” sekaligus menjadi sejarah baru dalam dunia film dan gim Indonesia.
“Dengan angka yang sekarang menunjukkan bahwa marketnya ada dari masyarakat Indonesia dan potensinya besar sekali dari industri gim dan film bergabung,” ujar Widi.
Film “DreadOut” disutradarai oleh Kimo Stamboel dan dibintangi oleh Ciccio Manassero, Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Irsyadillah, Marsha Aruan, Susan Sameh, dan Rima Melati Adams. (pik)

Joe Taslim Jadi Polisi di ‘Hit n Run’

Joe Taslim–foto wartakota

Nama Joe Taslim melejit dalam jagat perfilman setelah menjadi pemeran pendukung film The Raid (2011). Sebagai mantan atlet judo membuatnya cocok bermain film aksi laga. Termasuk Hit N Run yang diproduksi Screenplay Films.

Dalam film arahan Ody C. Harahap tersebut, Joe berperan sebagai Tegar, seorang polisi jagoan yang membasmi kejahatan. Saat menjalankan misinya menangkap gembong penjahat, Tegar membentuk sebuah tim yang terdiri beberapa orang.

“Ini film komedi laga yang juga punya elemen drama dan romance. Semua unsur itu kami perhatikan detail, termasuk menggali karakter para tokohnya. Semoga menjadi sesuatu yang baru di tengah kondisi perfilman kita sekarang,” kata Joe dalam konferensi pers yang berlangsung di CGV fX Sudirman, Jakarta Selatan (17/1/2019).

Menurut keterangan Ocay, sapaan akrab Ody, ide dasar cerita Hit N Run berasal dari Wicky V. Olindo selaku produser.

“Ide menggarap film ini sudah kami bicarakan sejak pertengahan 2017. Waktu itu Wicky bilang pemerannya harus Joe Taslim. Dari situ gue langsung tertarik karena berpikir action-nya pasti dibikin serius. Hanya saja kami harus menunggu jadwal Joe kosong,” tambah Ocay.

Penulisan skenario diserahkan kepada Upi (sutradara dan penulis skenario My Stupid Boss). “Sekitar tiga bulan lebih developskripnya. Syuting hampir 50 hari. Sebagian besar di Jakarta,” sambung Ocay yang sebelumnya mengarahkan film Skakmat (2015).

Selain menjadi pemeran utama, aktor berusia 37 itu juga menjadi produser kreatif yang senantiasa berdiskusi dengan Ocay untuk menyeimbangkan sisi komedi dan laga.

“Kami pengin film ini punya warna sendiri. Adegan aksinya enggak dibikin komedi. Dua unsur bergerak masing-masing. Nah, bagaimana caranya agar penonton enggak kaget, itu yang kami coba develop. Makanya gue enggak mengacu film-film Jacky Chan atau film model Bad Boys,” terang Ocay.

Untuk menyeimbangkan unsur komedi Hit N Run yang telah ditopang Ocay dan Upi, koreografi laga melibatkan beberapa jagoan beladiri nasional, seperti David Hendrawan (atlet wushu), Peter Taslim (atlet judo), Simone Julia (atlet jiu-jitsu), dan Uwais Team.

“Aku belum pernah main film action, jadi sebelum syuting banyak belajar dan latihan. Baru tahu ternyata film genre ini punya alur berbeda dalam hal teknis pengambilan gambar. Jadi dapat banyak ilmu baru,” kata Tatjana.

Tim koreografi menyiapkan segala adegan laga sejak Juli 2018. Sementara para pemain mulai melakukan segala persiapan, termasuk fisik dan reading, sepanjang kurun Agustus-Oktober 2018.

Film Hit N Run menurut bocoran Wicky dijadwalkan tayang pertengahan 2019. Selain Joe, turut bermain Yayan Ruhian, Tatjana Saphira, Jefri Nichol, Chandra Liow, Nadya Arina, dan Caitlin North Lewis.

“Pokoknya saya sangat bangga terlibat dalam proyek ini. Prosesnya begitu seru dan harmonis. Mungkin ini film pertama yang saya rasakan chemistry antarpemainnya sangat kuat dan menyatu,” pungkas Joe. (pik)

Album “Detik Waktu” Candra Darusman Dirilis ulang

Foto: beritasatu

Album “Detik Waktu – Perjalanan Karya Cipta Candra Darusman” dirilis ulang dengan penambahan dua lagu baru dari total 16 lagu yang ada. Kedua lagu baru itu berjudul “Persaudaraan” yang dibawakan oleh HiVi!, serta lagu “Waktu Kian Berarti” yang dibawakan oleh Humania.

Kedua nama grup musik tersebut melengkapi jajaran musisi lintas genre yang terlibat dalam album yang berisikan karya lagu dari perjalanan karir Candra Darusman di belantika musik Indonesia.

“Album “Detik Waktu” ini sudah di launch bulan Maret 2018 dan album repackaged ini berisi dua lagu tambahan, “Persaudaraan” dan “Waktu Kian Berarti”,” ucap Candra Darusman dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

Once Mekel, yang juga ikut terlibat dalam album ini mengaku bangga bisa membawakan ulang karya Candra Darusman yang merupakan idolanya. Once berkolaborasi dengan Sammy Simorangkir dan Marcell Siahaan membawakan lagu berjudul “Pemuda”.
“Saya tentu bangga sekali bisa bekerja sama dengan Candra Darusman, seorang yang dari dulu saya kagumi sebagai figur musisi sejati,” kata Once Mekel.
Album ini merupakan persembahan dari Signature Music Indonesia dan Jagonya Musik & Sport Indonesia. Diharapkan dengan perilisan ulang album ini bisa mengangkat kembali karya populer Candra Darusman.
“Dengan adanya album repackaged ini, semoga karya besar mas Candra Darusman bisa lebih dinikmati banyak orang,” tutup Panji dari Signature Music Indonesia. (pik)