5 Tradisi Lebaran Penuh Warna yang Masih Hidup di Nusantara

JAYAKARTA NEWS – Pada Hari Raya Idul Fitri, Indonesia menampilkan beragam tradisi unik yang sarat makna.

Setiap daerah memiliki cara khas untuk mengekspresikan rasa syukur dan mempererat kebersamaan.

Perayaan ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga warisan budaya yang terus dilestarikan. Dikutip dari Ragam BUMN, Minggu (22/3/2026).

1. Festival Meriam Karbit di Kalimantan Barat

Di Pontianak, Kalimantan Barat, masyarakat merayakan Festival Meriam Karbit selama tiga hari, dimulai sebelum hingga setelah Lebaran.

Tradisi ini memadukan kemeriahan dan sejarah berdirinya kota, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan warga. Festival ini menjadi salah satu atraksi khas yang memikat wisatawan lokal maupun mancanegara.

2. Ronjok Sayak di Bengkulu

Masyarakat Bengkulu menjaga tradisi Ronjok Sayak, yaitu menumpuk dan membakar batok kelapa kering setinggi sekitar satu meter.

Ritual yang dilakukan setelah salat Isya pada 1 Syawal ini dipercaya sebagai penghubung antara manusia dan leluhur. Acara dilakukan khidmat dengan iringan doa, menambah nuansa sakral pada perayaan Lebaran.

3. Perang Topat di Nusa Tenggara Barat

Di Lombok, NTB, tradisi Perang Topat menjadi simbol kerukunan umat Hindu dan Islam. Masyarakat memulai dengan doa dan ziarah ke Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro sebelum saling melempar ketupat.

Ketupat yang diperebutkan diyakini membawa kesuburan dan hasil panen melimpah bagi warga setempat.

4. Grebeg Syawal di Yogyakarta

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Grebeg Syawal digelar setiap 1 Syawal sebagai ungkapan syukur setelah Ramadan.

Tujuh gunungan hasil bumi dibawa oleh abdi dalem dan dikawal prajurit menuju Masjid Gedhe, Pura Pakualaman, dan Kantor Kepatihan, kemudian diperebutkan masyarakat.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-16 dan tetap menjadi daya tarik wisata budaya.

5. Binarundak di Sulawesi Utara

Di Motoboi Besar, Sulawesi Utara, warga melaksanakan tradisi Binarundak dengan memasak nasi jaha dalam batang bambu selama tiga hari setelah Idulfitri.

Nasi jaha berbahan beras dengan santan dan jahe ini dinikmati bersama sebagai wujud syukur dan mempererat silaturahmi. Kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan antarwarga.

Beragam tradisi Lebaran di Indonesia menunjukkan kekayaan budaya yang tak ternilai.

Dari Grebeg Syawal hingga Festival Meriam Karbit, perayaan ini menjadi sarana menjaga warisan leluhur sekaligus memupuk kebersamaan.

Menyambut Lebaran dengan mengikuti tradisi lokal juga memberi pengalaman unik bagi setiap orang yang terlibat. ***/mel

Ketupat, Ngaku Lepat, Laku Papat

Penjual ketupat di lobby timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Foto: Roso Daras

JAMAK terdengar kalimat, “janur ingsenan boga, arane kupat”, yang artinya janur diisi makanan disebut ketupat. Jelang lebaran begini, tradisi makan ketupat dengan lauk opor ayam, menjadi santapan paling khas.

Untuk makan ketupat, ada cara sulit, ada cara mudah. Yang mau bersulit-sulit, tentu harus mencari daun kelapa yang masih kuning (janur) terlebih dahulu, sebelum mengayam dan menyulamnya menjadi ketupat. Jika di rumah tidak ada pohon kelapa, alternatifnya adalah membeli janur di pasar tradisional.

Bagi yang berpikir praktis, membeli ketupat jadi, adalah pilihan jitu. Tidak perlu ribet mengambil atau membeli janur lalu menganyam. Tinggal beli ketupat kosong, bawa pulang. Isi dengan beras dan rebus. Ketupat pun siap disantap. By the way, ada lagi yang berpikir lebih praktis: Membeli ketupat matang.

Perajin ketupat, selain menjual ketupat anyaman, juga menjual janur. Foto: Roso Daras

Apa pun pilihannya, lobby timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta menyediakannya. Tidak seperti biasa, hamparan lobby sejak kemarin hingga hari ini (14/6) dipenuhi para penjual ketupat. Ada yang menjual ketupat plus janur. Ada yang menjual ketupat kosong, dan ketupat matang. Tinggal pilih, mau beli janur, beli ketupat anyaman, atau ketupat matang.

Sepuluh ketupat kosong, diikat menjadi setandan, dibanderol lima ribu rupiah saja. Bagaimana kalau Anda membeli ketupat yang sudah matang? Tidak mahal, lima belas ribu untuk sepuluh buah ketupat dalam satu ikat. Berapa harga janur? Ada yang membayar lima ribu rupiah untuk seikat janur. Sejenak memperhatikan keadaan, transaksi janur ketupat kosong, dan ketupat matang begitu tinggi. Ada yang pakai tawar-menawar denga alot, ada yang datang, tanya harga, langsung bayar, bawa barang.

Alhasil, lebaran terasa lebih lengkap dengan hadirnya ketupat. Tidak peduli apakah masyarakat Arab mengenal ketupat atau tidak, yang pasti masyarakat di Pulau Jawa meyakini, tradisi ketupat yang diturunkan Sunan Kalijaga adalah tradisi luhur yang patut dilestarikan. Di sejumlah daerah bahkan ada yang membuat perayaan “Lebaran Ketupat”.

Ketupat adalah medium yang digunakan Sunan Kalijaga pada abad ke-14 untuk lebih mudah mengajarkan Islam. Sejak dahulu kala, janur adalah salah satu jenis “ubo rampe” atau perlengkapan ritual yang paling vital di tanah Jawa. Oleh Sunan Kalijaga, janur kemudian dijadikan perlambang cahaya (nur) Tuhan. Jadilah, janur seolah menjadi fardhu atau wajib dalam setiap ritual, lalu ke ritual Islam di Jawa.

Penjual ketupat di lobby timur Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Ada yang menjual ketupat anyaman, ketupat matang, atau bahkan janur kuning. foto: Roso Daras

Referensi lama menyebut ketupat memiliki dua makna: “ngaku lepat” dan “laku papat”. Ngaku lepat, artinya mengaku salah. Tradisi bermaaf-maafan, sungkeman, pada hakikatnya adalah ungkapan permohonan maaf satu sama lain, agar di hari Idul Fitri, semua kesalahan antarmanusia tertuntaskan.

Adapun “laku papat” artinya empat tindakan: Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Lebaran dari kata “lebar” artinya usai. Lebaran sebagai penanda usainya ibadah puasa sebulan penuh. Luberan, dari kata “luber” atau tumpah. Maknanya adalah membayar zakat fitrah, memberi sedekah bagi kaum dhuafa.

Leburan dari kata “lebur” yang maknanya adalah meleburnya semua kesalahan antarmanusia di hari yang fitri. Terakhir, Laburan berasal dari kata “labur”. Sebuah cairan putih yang biasanya diambil dari batu kapur, dan digunakan sebagai pewarna dinding atau pagar. Warnah putih, melambangkan kesucian diri di hari Lebaran.

Jika begitu bagus filosofinya, mengapa kita tidak melestarikan? Mari, kita makan ketupat opor ayam. Jangan lupa, ayamnya ayam kampung, biar lebih nikmat. Tambahkan sambal goreng ati, kerupuk udang, dan sambal terasi sesuai selera. Selamat berlebaran. ***