Pabrik tekstil PT Budi Agung Sentosa, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ditengarai membuang limbah secara serampangan ke anak sungai Citarum. Jika benar, itu artinya, perusahaan ini menabrak Peraturan Presiden No 15 tahun 2018 tentang pengendalian pencemaran DAS Citarum.
Masyarakat minta aparat Satgas Citarum Harum bertindak dan menindak tegas atas ulah PT Budi Agung Sentosa, jika terbukti membuang limbah tanpa diolah terlebih dahulu di IPAL.
Saat menjabat Pangdam III/Siliwangi (2017-2018), Mayjen (TNI) Doni Monardo menggulirkan program Citarum Harum. Tekadnya, mengubah Sungai Citarum dari julukan salah satu sungai terkotor di dunia, menjadi sungai yang bersih.
Menata sungai tidak bisa setengah-setengah, melainkan harus total dari hulu sampai hilir. Semua komponen bangsa harus dilibatkan. Sebab, air (sungai) adalah sumber kehidupan sekaligus peradaban sebuah bangsa.
“Air hidupku, sungai nadiku, maritim budayaku, sangat bagus slogan itu. Tetapi ada satu ilustrasi dari saya, air adalah sumber kehidupan, sungai adalah peradaban sebuah bangsa,” ujar Doni Monardo.
Senin 22 Februari pukul 08.00 Menko PMK Prof Muhadjir Effendy, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo melakukan peninjauan di lokasi jebolnya tanggul Sungai Citarum dan sejumlah titik terdampak banjir lainnya di wilayah Bekasi dan Karawang, Jawa Barat.
Hal tersebut disampaikan oleh Egy Massadiah Tenaga Ahli BNPB seusai melakukan peninjauan udara menggunakan helikopter di Halim Perdana Kusuma, Jakarta. “Kami terbang sekitar 1 jam,” kata Egy.
Sebagaimana diinformasikan sebelumnya, pada Minggu (21/2), pukul 01.00 WIB, terjadi curah hujan yang tinggi dan jebolnya tanggul sungai Citarum menyebabkan banjir di 4 desa di Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Kerawang Provinsi Jawa Barat. Simak pantauan videonya.
Ilustrasi kegiatan Satgas Citarum Harum Sektor-10 –foto terasnews.net
Nyaris tak ada kata libur dalam kamus kegiatan Satgas Citarum Harum (SCH) Sektor 10 yang dikomandani Kolonel Inf. TNI-AD Sulistiono. Di momen Hari Raya Qurban, Idul Adha, Rabu (22/8), SCH Sektor 10 tetap tak absen menggeluti kegiatan penyelamatan ekosistem Sungai Citarum.
Dalam sharing informasi via WhatsApp, Sabtu (25/8), Kol. Sulistiono menyebut bahwa kegiatan digelar dengan 49 tenaga personel TNI dari unsur Yonif Raider 300/BJW, unsur Yon Arhanud 3/YBY, unsur Kikav 4/THC Kodam III/Siliwangi. Sejatinya total personel TNI itu sebanyak 50, tetapi seorang di antaranya, Kopda Anton Saputra dari Satuan Yonif Raider 300/BJW berhalangan tetap: meninggal dunia beberapa waktu sebelumnya.
Komandan Satgas Citarum Harum Sektor 10 Kolonel Inf. TNI-AD Sulistiono
Adapun lingkup wilayah kegiatan SCH Sektor 10 di hari raya itu adalah di Kampung Cisameung Desa Rajamandala Kulon dan Kampung Bantar Caringin Desa Cihea, Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat Jawa Barat. Berlangsung secara adikarsa, kegiatan sektoral ini ditatakelola dalam dua sub sektor. Yaitu, Sub Sektor-1 terdiri dari unsur Arhanud 3/YBY dan unsur Kikav 4/THC, dan Sub Sektor-2 terdiri dari unsur Rider 300/BWJ.
Dansektor 10 Kol. Inf. Sulistono menjelaskan bahwa Sub Sektor-1 dengan kekuatan 15 personel, dipimpin Peltu Hari S, melakukan kegiatan dengan lebih dulu menunaikan sholat Idul Adha bersama warga setempat. Usai sholat, dilanjutkan dengan penggalian lubang-lubang untuk menanami pohon flamboyan dan bambu hitam. Mulai dari sekitar lapangan bola Kampung Cisameung sampai ke bantaran sungai Citarum di Kampung Cisameung Desa Rajamandala Kulon.
“Kegiatan tersebut berlangung dengan perawatan lubang-lubang pohon flamboyan dengan penyiraman dan pemberian tanah gembur yang telah dicampuri pupuk,” ungkap Sulistiono.
Adapun tim dari usur Kikav 4 dengan kekuatan 14 orang yang dipimpin Sertu Ferry W, selain sholat Idul Adha bersama warga, juga melanjutkan kegiatan beberapa kegiatan utama: pembersihan parit, rumput, serta alang-alang di sekitar anakan sungai citarum di Kampung Cisameung Desa Rajamandala Kulon.
Kegiatan ini berlangsung dengan pengukuran, penggalian lubang untuk tanaman pohon flamboyan berikut pemberian pupuk, dan penanaman bambu hitam. Adapun pada Sub Sektor-2 yaitu unsur Rider 300/BWJ dengan kekuatan 15 orang dan dipimpin Koptu Sugeng H, selain juga melakukan sholat Idul Adha bersama warga, juga dilanjutkan dengan penyembelihan hewan Qurban.
Kegian sosial keagamaan itu berlangsung dengan kegiatan permanen penyelamatan lingkungan Sungai Citarum yaitu, perawatan lubang flamboyan sebagaimana dilakukan oleh Tim Sub Sektor-1. Kecuali kegiatan fisikal, SCH Sektor 10 pun melakukan analisis lingkungan starategis dalam rancangan Citarum Harum. Ada peluang menarik pada bantaran Sungai Citarum sepanjang Sektor 10, menurut analisis itu, yang bisa dikembangkan menjadi spot wisata arung jeram.
Peluang lain menurut telaah yang disodorkan Kol. Sulustiono adalah bahwa lahan perkebunan PTPN VIII masih dapat dimanfaatkan untuk tanaman keras dan tanaman produktif lainnya yg bernilai ekonomis untuk pemberdayaan kesejahteraan rakyat.
Dua peluang itulah menjadi menarik dan menemukan relevansinya dalam rancangan ideal Citarum Harum pada kerangka kesejahteraan, terutama bagi ekonomi kerakyatan kaum tani dalam memanfaatkan lahan perkebunan PTPN VIII yang tidak diberdayakan maksimal. (Leste)
TEMPAT ini dinamai Sanghyang Heuleut. Artinya sebagai tempat yang suci, sedangkan Heuleut memiliki arti selang antara dua waktu. Menurut cerita tempat ini dinamai demikian karena tempat ini sering dikunjungi oleh para bidadari dari kayangan yang memiliki waktu beda dengan dunia manusia.
Warga sekitar di kawasan Saguling yang dekat dengan keberadaan Sanghyang Heuleut mempercayai bahwa tempat ini dahulu sering dikunjungi oleh para bidadari jika ingin mandi. Mereka turun dengan menggunakan pelangi yang warna warni.
Dilihat dari segi geografis dan sejarahnya, Sanghyang Heuleut ini adalah danau yang mengalir pada arus Sungai Citarum Purba. Masih dalam satu rangkaian dengan Sanghyang Tikoro dan Sanghyang Poek.
Maka bisa dikatakan Sanghyang Heuleut ini adalah sebuah danau purba yang masih bisa dikunjungi. Danau ini terselamatkan dengan hadirnya bendungan Saguling yang masih menjadi sumber air dari Danau Sanghyang Heuleut ini.
Danau ini letaknya yang tersembunyi di ujung sungai. Tidak banyak memang yang mengetahui mengenai keberadaan danau Sanghyang Heuleut ini. Rute untuk ke lokasi ini jika dari Bandung – Cimahi – Padalarang – Jalan Raya Padalarang – Raja Mandala – Pintu gerbang PLTA Saguling. Sampai ke lokasi PLTA Saguling dilanjutkan dengan berjalan kaki ke arah hutan dan berjalan melawan arus sungai.
Perjalanan kurang lebih sekitar satu kilometer dan akan menemukan sebuah gunung kecil yang terdapat gua Sanghyang Poek. Kemudian dilanjut perjalanan melawan arus sungai sekitar dua kilometer. Sanghyang Heuleut ini berada di ujung sungai Sanghyang Poek. ***
MENTERI Kesehatan (Menkes) RI, Nila Moeloek mengatakan logam berat yang terkandung di air sungai Citarum dapat merusak susunan saraf. Pernyataan itu Menkes ungkapkan dalam paparannya pada Rapat Kerja Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), di Jakarta, kemarin. ”Ya itu gara-gara sungai citarum tercemar, ada zat-zat logam berat itu. Itu merusak susunan saraf,” kata Menkes.
Hasil penelitian Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor, mengungkapkan bahwa limbah yang mengandung logam berat seperti cadmium (Cd), tembaga (Cu), dan timbal (Pb) mudah diperoleh pada lingkungan akuatik yang banyak digunakan oleh industri, pertambangan, dan rumah tangga.
Menurut penelitian ini, logam berat yang berada di dalam tubuh manusia akan mengalami proses peruraian menjadi ion-ion di dalam usus. Ion tersebut masuk ke dalam darah dan mencapai target organ, salah satunya otak.
Selain itu, dalam studi kasus sungai citarum yang diterbitkan oleh Greenpeace Asia Tenggara dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat pada November 2012 dijelaskan bahwa benar logam berat menjadi salah satu kontaminan utama yang mempengaruhi kualitas air Sungai Citarum.
Logam berat merupakan elemen yang tidak dapat terurai (persisten) dan dapat terakumulasi melalui rantai makanan (bioakumulasi), dengan efek jangka panjang yang merugikan pada makhluk hidup.
Pencemarannya memang luar biasa, Menkes mengatakan perlu kerjasama dari semua sektor. Misalnya pada program padat karya tunai, dalam program itu Kementerian Kesehatan menjadi bagian di dalamnya.
”Titik sentralnya diminta Posyandu, artinya leading nya tetap kesehatan di sini. Tapi saya minta harus ada akses air bersih, sanitasi, semuanya harus sinergi, semuanya harus secara bersama untuk mengatasi masalah ini,” jelas Nila. ***