COVID-19 JN.1 Masih Level Aman, Masyarakat Diimbau Prokes

JAYAKARTA NEWS – Menjelang libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2023, Kementerian Kesehatan mencatat sebaran COVID-19 varian JN.1 di Indonesia terus bertambah. Hingga 19 Desember 2023, jumlahnya mencapai 41 kasus.

Dikutip dari Rilis Kemenkes, Sabtu (23/12/2023), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan temuan kasus tersebut berdasarkan hasıl pemeriksaan Whole Genome Sequensing (WGS) terhadap 77 sampel atau 43 persen dari 453 kasus konfirmasi COVID-19 pada sepanjang November sampai awal Desember 2023.

“Hasil sequence kita terhadap JN.1 ini naik, tadinya hanya 1 persen di awal November menjadi 19 persen di minggu ketiga November, kemudian di awal Desember ini sudah 43 persen,” kata Menkes Budi saat konferensi pers “Kesiapsiagaan Sektor Kesehatan Menghadapi Masa Libur Natal 2023 dan Tahun Baru 2023, Jumat.

Menkes Budi menjelaskan dari 41 kasus yang ditemukan, 5 kasus konfirmasi ditemukan pada 6-23 November 2023. Perinciannya, 2 kasus dari Jakarta Utara, 1 kasus dari Jakarta Selatan, 1 kasus dari Jakarta Timur, dan 1 kasus dari Batam.

Sementara itu, 36 kasus lainnya ditemukan dari pengambilan sampel yang dilakukan pada 1-12 Desember 2023. Perinciannya, 29 kasus ditemukan di Jakarta Selatan, 2 kasus dari Jakarta Timur, 2 kasus dari Jakarta Utara, dan 3 kasus dari Batam.

Menkes Budi mengatakan bahwa mayoritas pasien atau sekitar 39 persen yang terkonfirmasi adalah tidak bergejala. Pada 14 persen pasien yang bergejala, mayoritas mengalami batuk, pilek, dan sakit tenggorokan. Sementara, beberapa pasien menderita komorbid di antaranya penyakit jantung koroner (PJK), diabetes melitus (DM), hipertensi, gangguan pernapasan berat atau acute respiratory distress syndrome (ARDS), dan gangguan imunologi.

Dengan terus bertambahnya jumlah pasien positif, ia mengimbau agar masyarakat secara disiplin melaksanakan protokol kesehatan guna memutus mata rantai penularan COVID-19 dan melengkapinya dengan menyegerakan vaksinasi di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) atau pos vaksinasi terdekat.

Terakhir, Menkes Budi juga mengimbau seluruh masyarakat masyarakat, terutama yang merasakan gejala seperti demam, batuk, dan pilek, agar segera memeriksakan diri ke fasyankes terdekat untuk diagnosis lebih lanjut.

“Masyarakat kalau sudah ada gejala sebaiknya segera tes untuk mengetahui apakah positif COVID-19 atau flu biasa. Kalau positif COVID-19 tapi tidak bergejala sebaiknya istirahat saja. Kalau bergejala bisa ke Puskesmas untuk mendapatkan obat,” kata Menkes Budi berpesan.***/mel

Libur Nataru: Delapan Provinsi Ini harus Waspada Peningkatan Kasus Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Memasuki libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023 semua pihak tetap harus berhati-hati. Khususnya pada peningkatan mobilitas masyarakat. Pandemi Covid-19 belum berakhir. Meski penularan sudah melandai namun tetap harus diwaspadai. Ketua MPR Bambang Soesatyo memberi perhatian khusus pada delapan provinsi ini, yakni, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, Papua Barat, Kalimantan Barat dan Bali yang kemungkinan mobilitas masyarakatnya naik signifikan.

Bambang Soesatyo atau Bamsoet, begitu namanya kerap disapa, meminta pemerintah merekomendasikan kepada pemerintah daerah-daerah tersebut agar memberikan atensi khusus terhadap peningkatan mobilitas masyarakat saat periode Nataru.

“Terus awasi pergerakan masyarakat yang diiringi dengan imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk wajib menerapkan protokol kesehatan terlebih di tengah aktivitas dan mobilitas yang semakin meningkat,” ujarnya.

Mengingat, jika setiap orang bertanggung jawab untuk menerapkan prokes dengan baik maka perayaan Nataru akan berjalan kondusif tanpa adanya ledakan kasus Covid-19 setelahnya.

Bamsoet juga meminta pemerintah daerah setempat dan jajarannya agar dapat secara tegas menutup sementara dan mengevaluasi pembukaan aktivitas sosial-ekonomi di wilayahnya apabila adanya kegiatan yang terbukti menyebabkan klaster atau kenaikan kasus Covid-19 pasca periode Nataru.

Menurutnya, terjadinya peningkatan mobilitas pada momen-momen tertentu menjadi tantangan besar bagi Kementerian terkait sebab Indonesia perlu terus mempertahankan penurunan kasus seiring dengan pembukaan aktivitas sosial-ekonomi. Sehingga perlunya kehati-hatian pemerintah dalam menyusun strategi guna menghadapi periode libur Nataru.***din

Waspadalah! Kasus Covid Harian Tembus 3.000 Lebih, Positivity Rate Capai 5,12%

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah resmi memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk wilayah Jawa – Bali dan Non Jawa – Bali. Pada 5 Juli lalu telah dikeluarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (InMendagri) No. 34 Tahun 2022 untuk Jawa – Bali dan No. 35 Tahun 2022 untuk Non Jawa – Bali.

Perlu diketahui, dengan adanya perpanjangan tersebut, maka ditetapkan untuk Wilayah Jawa – Bali seluruh Kabupaten/Kota berada pada Level 1, sedangkan untuk Wilayah Luar Jawa dan Bali hanya Kabupaten Sorong yang berada di PPKM Level 2. Peraturan PPKM ini berlaku hingga tanggal 1 Agustus 2022.

“Berdasarkan hasil tersebut diharapkan kepada masyarakat untuk terlibat aktif dalam kegiatan sosial dan ekonomi, namun tidak mengendorkan budaya kedisiplinan protokol kesehatan yang telah kita jaga sampai dengan saat ini,” Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito, dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan Covid-19, Rabu (13/7/2022) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Disamping itu, masyarakat diminta berpartisipasi dan berperan aktif sebagai bagian tidak terpisahkan dalam penanggulangan Pandemi Covid-19. Mari kita mulai dan jaga bersama budaya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat seperti Perilaku (PHBS), dan disiplin 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan menjaga jarak aman), rutin berolahraga yang teratur, tidur cukup dan makan makanan sehat.

Dikatakan Wiku, perkembangan kasus Covid-19 belakangan ini perlu diwaspadai. Karena terjadi kenaikan kasus positif harian hingga menembus angka 3 ribu kasus dalam 1 hari, atau tepatnya 3.361 kasus per 12 Juli 2022. Kenaikan ini mencatatkan angka tertinggi dari sebelumnya yang bertahan di kisaran 2 ribu kasus per hari.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito meminta masyarakat, termasuk Pemerintah pusat hingga ke Daerah, segera mengantisipasi perkembangan Covid-19. Karena, kenaikan kasus positif dapat berdampak pada naiknya kasus aktif hingga positivity rate.

“Adanya kenaikan kasus positif dan kasus aktif ini perlu kita waspadai segera. Karena, artinya tingkat penularan di tengah masyarakat mulai meningkat. Dan di tengah masyarakat kembali beraktivitas, setiap individu harus ikut bertanggung jawab mencegah penularan,” tegas Wiku.

Dalam kenaikan kasus positif saat ini, peningkatannya mencapai 6 kali lipat jika dibandingkan tepat 1 bulan yang lalu, yaitu 12 Juni 2022. Dimana saat itu, kasus harian berkisar 551 kasus dalam 1 hari. Kenaikan pada kasus positif ini berimbas pada meningkatnya kasus aktif. Per 12 Juli 2022, kasus aktif menembus angka 20 ribu kasus, dimana angka ini naik 4 kali lipat dari bulan lalu yang tercatat sekitar 4 ribu kasus.

“Dan yang juga terdampak, ialah angka positivity rate mingguan. Pada pekan kedua di bulan Juli, angkanya mencapai 5,12 persen. Yang mana, angka tersebut sudah melewati standar WHO yaitu 5 persen” imbuh Wiku.

Walaupun terjadi peningkatan pada sejumlah indikator tersebut, kabar baiknya, kasus kematian harian tidak mengalami kenaikan signifikan. Angka kematian harian saat ini masih dibawah 10 kasus, atau tepatnya per 12 Juli 2022, tercatat 8 kematian.

“Namun angka 8 ini jangan dilihat sekadar angka. Karena masing-masing adalah nyawa seseorang dan tidak bisa kita abaikan begitu saja,” tegas Wiku.

Untuk itu, hal penting untuk dilakukan dengan mencermati kenaikan kasus hingga tingkat Provinsi. Sehingga dapat terlihat besaran masalah di tiap-tiap daerah. Dari data per 12 Juli, provinsi di Jawa – Bali menjadi penyumbang terbesar kasus positif harian mencapai 95,45 persen dari total kasus positif secara nasional.

“Hal ini penting menjadi perhatian, sebab ini menandakan bahwa penularan masih terpusat di pulau Jawa – Bali. Yang mana pergerakan aktivitas masyarakat terjadi paling banyak dan besar,” lanjutnya.

Adanya kenaikan kasus seperti saat ini, harusnya disikapi setiap individu masyarakat bertanggung jawab menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Seperti, disiplin masker dan rajin mencuci tangan. “Mohon jadikan perilaku ini sebagai kebiasaan yang sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, sebagai upaya memastikan kita semua tetap dalam kondisi yang sehat,” pesan Wiku.

Dan tak kalah penting, segera dapatkan vaksin booster dan mendukung program vaksinasi nasional. Karena, perkembangan vaksin booster cenderung stagnan. Bahkan, 28 dari 34 Provinsi di Indonesia cakupannya masih dibawah 30 persen. Jika dilihat dari cakupan per daerah, tertinggi di provinsi Bali mencapai 58 persen. Mengikutinya, DKI Jakarta, Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, meskipun cakupannya belum mencapai 50 persen. “Saya tekankan kepada masyarakat, untuk melakukan vaksin booster, karena dapat melindungi kita semua agar tetap sehat,” pungkas Wiku.***/ebn

Masyarakat Sudah Boleh tak Gunakan Masker di Luar Ruangan tapi dengan Syarat

JAYAKARTA NEWS— Dengan memperhatikan kondisi saat ini di mana penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang semakin terkendali, pemerintah memutuskan untuk melonggarkan kebijakan pemakaian masker.

“Jika masyarakat sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka yang tidak padat orang maka diperbolehkan untuk tidak menggunakan masker. Namun untuk kegiatan di ruangan tertutup dan transportasi publik tetap harus menggunakan masker,” ujar Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataannya di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/05/2022). Demikian dikutip dari laman setkab.go.id

Namun, Presiden meminta masyarakat kategori rentan maupun yang bergejala batuk dan pilek untuk tetap mengenakan masker saat beraktivitas.

“Bagi masyarakat yang masuk kategori rentan, lansia atau memiliki penyakit komorbid, maka saya tetap menyarankan untuk menggunakan masker saat beraktivitas. Demikian juga bagi masyarakat yang mengalami gejala batuk dan pilek maka tetap harus menggunakan masker ketika melakukan aktivitas,” ujarnya.

Selain pelonggaran pemakaian masker, pemerintah juga melonggarkan persyaratan perjalanan domestik dan luar negeri bagi masyarakat yang sudah divaksinasi Covid-19 dosis lengkap.

“Bagi pelaku perjalanan dalam negeri dan luar negeri yang sudah mendapatkan dosis vaksinasi lengkap maka sudah tidak perlu lagi untuk melakukan tes swab PCR maupun antigen,” pungkasnya.***/ebn

Disiplin Warga terhadap Prokes di Terminal Kampung Rambutan agak Longgar

JAYAKARTA NEWS— Mudik lebaran kali ini berbeda mengingat banyaknya warga ingin melakukan perjalanan pulang kampung setelah dua tahun tertahan akibat pandemi. BNPB turut memantau protokol kesehatan (prokes) meskipun penyebaran kasus terus cenderung turun.

Melalui Direktorat Perencanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemantauan prokes dilakukan di wilayah DKI Jakarta. Saat melakukan kunjungan di beberapa tempat, Direktur PRR Johny Sumbung melakukan pemantauan dan koordinasi dengan para petugas di fasilitas publik tersebut. Ia berharap mereka untuk memantau dan mengingatkan masyarakat untuk menerapkan disiplin prokes.

“Kondisi arus mudik per tanggal 29 April 2022 di setiap pos terpantau belum mengalami peningkatan yang signifikan. Penegakan protokol kesehatan di Stasiun Gambir dan Stasiun Senen sangat terkontrol terlihat dari para pengunjung yang tertib menggunakan masker walaupun di beberapa titik tunggu kurang menjaga jarak,” ujar Johny, pada hari ini, Jumat (29/4).

Sementara itu, ia melihat disiplin warga terhadap prokes di Terminal Kampung Rambutan agak longgar.

 “Terlihat dari beberapa pengunjung yang tidak menggunakan masker dan bahkan ada yang tidak memiliki masker,” ujarnya.

Mengantisipasi penyebaran oleh para pemudik yang tak taat prokes, Johny beserta petugas pemantauan memberikan pengarahan kepada pengunjung untuk menggunakan masker. Petugas kemudian memberikan masker dan meminta mereka melindungi diri dengan memakai masker.

“Mohon selalu melakukan pemantauan setiap satu jam dengan berkeliling untuk mengingatkan pengunjung,” kata Johny.

Selain tertib penggunaan masker, Johny yang juga ditunjuk sebagai Koordinator Tim Pemantauan Arus Mudik Hari Raya Idul Fitri 1443 H meminta petugas untuk menginformasikan kepada warga menerapkan jaga jarak.

BNPB bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan, Palang Merah Indonesia (PMI) serta Pramuka mendirikan 5 pos pantau antara lain di Stasiun Gambir, Stasiun Senen, Terminal Kampung Rambutan, Terminal Pulo Gebang dan Pelabuhan Tanjung Priok***/ebn

Mengapa Pakai Masker jika Vaksin Terbukti Ampuh? Ini Penjelasan Prof Wiku

JAYAKARTA NEWS— Sejumlah negara sudah memperbolehkan untuk tidak memakai masker di luar ruangan. Singapura misalnya, baru saja mencabut aturan wajib masker di luar ruangan menyusul terus menurunnya kasus Covid di negara tersebut. Begitu juga negara lain yang telah lebih dulu menerapkan aturan serupa.

Sementara Indonesia belum menerapkan hal tersebut. Langkah hidup berdampingan dengan Covid-19 harus diambil secara hati-hati. Karena itu meski Indonesia saat ini sudah membaik secara signifikan, dalam artian jumlah kasus penularan sudah jauh menurun, namun tetap saja aturan Protokol Kesehatan (Prokes) tidak dicabut.

Masyarakat tetap diminta mematuhi Prokes- memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan dan membatasi interaksi serta mobilitas.

Masyarakat dewasa ini masih banyak yang mempertanyakan, mengapa harus vaksin jika memakai masker efektif? Atau, mengapa memakai masker jika vaksin terbukti ampuh? Berikut penjelasan Prof Wiku Adisasmito, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa setiap upaya pengendalian pandemi memiliki fungsinya masing-masing. Seperti vaksin booster dan Prokes yang saling melengkapi untuk perlindungan optimal. Vaksin memberikan kekebalan komunitas, Prokes sebagai upaya pencegahan penularan Covid-19. 

“Booster dan Prokes adalah dua kunci tak terpisahkan. Sebab faktanya, potensi kenaikan kasus masih tetap ada, jika vaksin booster tidak dibarengi dengan disiplin protokol kesehatan,” jelas Wiku.

Secara ilmiah, vaksin terbukti membentuk kekebalan komunitas. Dengan terbentuknya kekebalan komunitas dapat melindungi masyarakat yang tertular Covid-19 dari gejala parah, risiko perawatan di rumah sakit, hingga kematian. 

Terkait vaksin, ada yang harus dicermati. Kekebalan tubuh dari vaksin akan berkurang seiring berjalannya waktu. Menurunnya kekebalan, harus segera ditingkatkan kembali melalui vaksinasi ulang, atau lebih umum disebut booster. Ketentuan booster sudah diatur Surat Edaran Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Nomor SR.02.06/II/ 1180 /2022 dan HK.02.01/I/2021.

Yaitu, bagi masyarakat umum termasuk lanjut usia (lansia), booster minimal 3 bulan setelah menerima vaksin dosis lengkap. Bagi penyintas atau orang yang pernah tertular Covid-19 bergejala ringan hingga sedang, vaksin minimal 1 bulan setelah dinyatakan sembuh. Dan bagi penyintas dengan gejala berat, vaksin minimal 3 bulan setelah dinyatakan sembuh.

Selanjutnya, dalam hal prokes 3M, perlindungan optimal dapat tercapai apabila dijalankan dengan benar. Ketaatan pada hal-hal kecil dan sederhana merupakan jaminan perlindungan paling optimal. Seperti memakai masker yang menutup mulut dan hidung, mencuci tangan menggunakan sabun dengan gerakan yang benar, atau setidaknya menghindari kerumunan jika menjaga jarak sulit dilakukan, 

Dari kedua hal ini, perlu juga dipahami dampak yang terjadi apabila tidak diterapkan secara bersamaan. Belajar dari beberapa negara dengan tingginya capaian booster, tetap ada potensi peningkatan kasus apabila tidak ada pertahanan dengan disiplin prokes.

Potret Kasus Covid Dunia

Sebagai contoh, terjadi kenaikan kasus pada 5 dari 15 negara dengan capaian booster di atas angka dunia, yaitu Italia (63%), Jerman (58%), Inggris (57%), Vietnam (45%) dan Thailand (32%). Kelimanya juga tengah melakukan berbagai penyesuaian kebijakan seperti karantina.

Sementara di Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk besar, telah berhasil mengupayakan program vaksinasi booster meskipun di tengah keterbatasan vaksin dunia. Capaian Indonesia sebesar 6,06% dan terus ditingkatkan. Bila dibandingkan tingkat dunia, capaiannya mencapai 18,55%, dengan 15 negara memiliki rentang capaian antara 30 – 80%. 

Dari penjelasan tersebut, menunjukkan disiplin prokes harus tetap dijalankan sembari meningkatkan cakupan vaksinasi booster. Lalu, peningkatan pengawasan prokes di tempat-tempat umum juga tak kalah penting.

Terkait ini, terdapat sekitar 6 ribu dari total lebih dari 80 ribu Desa/Kelurahan yang melaporkan hasil monitoring perubahan perilaku. Sayangnya, angka ini menunjukkan penurunan sejak akhir tahun lalu.

Dari data laporan yang masuk, masih terdapat 29% atau 1.811 desa/kelurahan yang kepatuhan memakai maskernya masih rendah. Provinsi penyumbang terbanyak desa/kelurahan dengan kepatuhan rendah yakni Jawa Timur (366), Aceh (288), Jawa Tengah (227), Jawa Barat (140), dan Riau (137).

Dalam hal ini, peran Pemerintah Daerah penting untuk kembali meningkatkan pengawasan prokes di wilayahnya. Segera berikan teguran bagi mereka yang melanggar dan targetkan peningkatan kepatuhan di wilayah masing-masing.

Di sisi lain, Pemerintah Daerah bersama Pemerintah pusat terus berupaya meningkatkan cakupan vaksinasi booster nasional serta distribusinya ke seluruh pelosok negeri. Untuk masyarakat pun dihimbau untuk berperan aktif mengunjungi sentra vaksinasi terdekat untuk melengkapi dosis vaksinnya hingga dosis booster.

Untuk itu, masyarakat diharapkan cukup memahami pentingnya vaksin booster dan menerapkan prokes dengan ketat pada setiap kesempatan dalam beraktivitas. “Ingat, booster dan prokes adalah dua kunci tak terpisahkan. Kepatuhan kita, kunci keberlangsungan produktivitas ekonomi yang aman Covid,” pungkas Wiku. (din)

Kasus Covid Meningkat, Ketua Satgas Turun ke Jalanan Ibu Kota Bagikan Masker

JAYAKARTA NEWS— Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Suharyanto turun menyusuri jalanan, pasar dan perkampungan Ibu Kota untuk membagikan masker kepada masyarakat pada Sabtu (12/2) sore.

Aksi tersebut dilakukan guna memberikan dukungan langsung kepada masyarakat agar penerapan protokol kesehatan, khususnya memakai masker dapat ditegakkan, seiring dengan peningkatan angka kasus Covid-19 di DKI Jakarta.

“Ini sebagai tindak lanjut menegakkan protokol kesehatan khususnya 3 M. Tiga M ini yang paling penting adalah memakai masker. Seiring dengan peningkatan kasus Covid-19, ini tentunya perlu disikapi oleh kita semua untuk tetap menerapkan protokol kesehatan,” ungkap Ketua Satgas.

Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Suharyanto (memakai rompi dan topi) membagikan masker kepada masyarakat di kawasan Cideng, Jakarta Pusat, pada Sabtu (12/2) sore/foto: BNPB

Lokasi pertama yang disambangi mantan Pandam V Brawijaya itu adalah Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Di pusat perbelanjaan yang sudah ada sejak 1820 itu, Ketua Satgas membagikan masker medis 3 lapis kepada para penjual dan pembeli serta masyarakat yang sedang beraktivitas.

Usai membagikan masker di Pasar Baru, Ketua Satgas bersama rombongan kemudian menuju ke ITC Roxy Mas di Cideng, Jakarta Pusat. Di kawasan pusat penjualan gawai elektronik dan telepon genggam itu, Ketua Satgas memberikan masker kepada para tukang ojek, dan pengguna jalan lainnya.

Beberapa pedagang kaki lima berikut para pembelinya juga tak luput dari uluran masker yang diberikan langsung oleh Ketua Satgas. Selain membagikan masker, Ketua Satgas juga mengimbau mereka agar selalu mengenakan masker setiap beraktivitas di luar rumah selama masa pandemi.

“Ini tolong dipakai ya. Mari kita cegah penularan Covid-19 dengan selalu mengenakan masker,” pinta Ketua Satgas kepada masyarakat.

Selepas pembagian masker di kawasan Cideng, Ketua Satgas meluncur ke lokasi berikutnya yakni Pasar Bendungan Hilir. Kehadiran Ketua Satgas berikut rombongan segera mendapat respon yang baik oleh masyarakat. Beberapa masyarakat yang menerima masker itu merasa terbantu dan tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli masker.

Adapun pembagian masker itu merupakan giat hari kedua yang telah dilakukan BNPB. Total pembagian masker pada Sabtu (12/2), telah dilakukan di 45 kelurahan di DKI Jakarta. Pendistribusian masker ini juga dilakukan atas kerja sama dengan pihak kelurahan yang dibantu TNI dan Polri di setiap wilayah.

BNPB menargetkan pendistribusian 10 juta masker selama kurun waktu 4 bulan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1,5 juta masker ditargetkan dapat terdistribusi dalam tiga hari pada 135 titik yang ada di DKI Jakarta. Setiap titik mendapatkan bantuan sebanyak 10.000 masker yang diperuntukkan untuk warga di perkampungan atau pun ruang publik.

Turut hadir membagikan masker meliputi Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Fajar Setyawan, Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansyah, Inspektur II BNPB Yulianto, Kepala Biro Sumber Daya Manusia dan Umum BNPB Eny Supartini, Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dan pejabat serta staf BNPB lainnya.***/din

BNPB Terjunkan Tim Bagikan 1,5 Juta Masker per-Minggu di 135 Titik Wilayah Ibu Kota

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerjunkan tim untuk membagikan 1,5 juta masker di 135 titik di wilayah DKI Jakarta. Pembagian masker itu dilaksanakan selama tiga hari mulai Jumat (11/2) sampai Minggu (13/2).

Sekretaris Utama BNPB, Lilik Kurniawan dalam sambutan pada giat apel tim, Jumat (11/2), mengatakan bahwa kegiatan pembagian masker itu merupakan bagian dari tanggung jawab BNPB dan Satgas Penanganan Covid-19 yang secara khusus diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo untuk memperkuat kembali disiplin protokol kesehatan, khususnya penggunaan masker.

“Salah satu tujuan Pemerintah RI membentuk Satuan Tugas Penanganan Covid-19 adalah bagaimana kita menangani Covid-19 ini dengan lebih efektif,” jelas Lilik.

Melalui kegiatan itu, Lilik meminta kepada seluruh tim yang turun ke lapangan agar benar-benar dapat memberikan aksi nyata dan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Lilik juga menegaskan bahwa dengan pembagian masker itu, laju penularan Covid-19 diharapkan dapat dikurangi dan masyarakat terlindungi dari virus SARS-CoV-2.

“Saya minta semua anggota BNPB dan Satgas dibantu dari kawan-kawan yang lain untuk membagikan masker kepada masyarakat di sekitar Jakarta. Kita ingin melindungi mereka, keluarga mereka, dari penularan Covid-19,” kata Lilik.

Adapun pembagian masker yang dilaksanakan pada hari Jumat (11/2) meliputi Galur, Johar Baru, Kampung Rawa, Tanah Tinggi, Cikini, Gondangdia, Kebon Sirih, Menteng, Cengkareng Barat, Paseban, Senen, Kebon Kacang, Kebon Melati, Petamburan, Cempaka Baru, Cipedak, Jagakarsa, Lenteng Agung dan Srengseng Sawah.

Kemudian Rawa Barat, Selong, Senayan, Cipulir, Grogol Selatan, Grogol Utara, Kebayoran Lama Selatan, Cilandak Timur, Jati Padang, Kebagusan, Pasar Minggu, Pejaten Barat, Karet, Setiabudi, Bukit Duri, Kebon Baru, Pasar Manggis, Grogol, Jelambar Baru, Jelambar, Krukut, Mangga Besar, Maphar, Jembatan Besi, Jembatan Lima dan Kali Anyar.

Selanjutnya pada hari Sabtu (12/2), tim akan menyasar lokasi meliputi Pegangsaan, Gunung Sahari Utara, Karang Anyar, Kartini, Mangga Dua Selatan, Pasar Baru, Cideng, Duri Pulo, Cengkareng Timur, Bendungan Hilir, Gelora, Gunung Sahari Selatan, Harapan Mulya, Kebon Kosong, Kemayoran, Tanjung Barat, Cipete Utara, Gandaria Utara, Gunung, Kebayoran Lama Utara, Pondok Pinang, Bangka, Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Pela Mampang dan Tegal Parang.

Berikutnya Pejaten Timur, Ragunan, Bintaro, Pesanggrahan, Petukangan Selatan, Kuningan Timur, Manggarai, Menteng Dalam, Tebet Barat, Manggarai Selatan, Tanjung Duren Selatan, Tanjung Duren Utara, Tomang, Pinangsia, Taman Sari, Tangki, Krendang, Pekojan dan Roa Malaka.

Pembagian masker pada hari Minggu (13/2) meliputi wilayah Gambir, Kebon Kelapa, Petojo Selatan, Petojo Utara, Bungur, Kenari, Kramat, Kwitang, Duri Kosambi, Kampung Bali, Karet Tengsin, Serdang, Sumur Batu, Utan Panjang, Ciganjur, Kramat Pela, Melawai, Petogongan dan Pulo.

Adapun berikutnya Tegal Parang, Cikoko, Duren Tiga, Kalibata, Pancoran, Pengadegan, Rawajati, Petukangan Utara, Ulujami, Guntur, Karet Kuningan, Karet Semanggi, Menteng Atas, Tebet Timur, Kebon Jeruk, Kedoya Selatan, Kedoya Utara, Wijaya Kusuma, Glodok, Keagungan, Angke, Duri Selatan, Duri Utara, Tambora, Tanah Sereal dan Duri Kepa. (din)

Reisa: Apapun Variannya, Kuncinya Disiplin Prokes dan Vaksinasi Covid

JAYAKARTA NEWS— Juru Bicara Pemerintah dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, dr. Reisa Broto Asmoro, menjelaskan bahwa disiplin menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi merupakan kunci utama dalam pencegahan penularan Covid-19, termasuk varian Omicron. Oleh karena itu, Reisa mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menerapkan protokol kesehatan hingga mengurangi mobilitas.

“Karena apapun variannya, pencegahannya tetap sama, disiplin menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi,” jelas Reisa dalam keterangan persnya pada Rabu, 19 Januari 2022, sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id

“Mari ketatkan lagi penggunaan masker tertutama di ruang publik dan ketika kita berinteraksi dengan orang lain, menerapkan jaga jarak, dan mencuci tangan dengan rutin, mengurangi mobilitas hanya untuk keperluan yang sangat penting saja,” ajak Reisa.

Hal tersebut sejalan dengan imbauan Presiden Joko Widodo pada tanggal 18 Januari 2022, yang meminta masyarakat mengurangi kegiatan di pusat keramaian jika tidak memiliki keperluan mendesak. Presiden Jokowi juga menyarankan penerapan work from home bagi yang bisa bekerja dari rumah.

“Beliau juga mengimbau agar tidak melakukan perjalanan ke luar negeri terlebih dahulu, kecuali ada hal yang mendesak,” sambung Reisa.

Selain tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas, hal penting lainnya yang dapat dilakukan oleh masyarakat adalah dengan segera mendaftarkan diri untuk memperoleh vaksinasi.

“Segera mendaftarkan diri untuk mendapatkan vaksinasi, apapun jenis vaksinnya, semua terbukti memberikan perlindungan yang efektif terhadap semua varian, sehingga tidak perlu pilih-pilih merek vaksin,” ajak Reisa.

Seiring dengan upaya dari masyarakat, pemerintah juga terus berupaya untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran virus korona varian Omicron melalui beberapa penyesuaian kebijakan, salah satunya adalah penyesuaian kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia.

“Sudah dikeluarkan melalui Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) Nomor 3 Tahun 2022 untuk pengaturan PPKM Level 3, 2, 1 di Jawa Bali dan Inmendagri No. 4 Tahun 2022 untuk pengaturan PPKM Level 3, 2, 1 di luar Jawa Bali yang terbit Selasa kemarin, 18 Januari, 2022,” jelas Reisa.

Reisa menjelaskan bahwa secara garis besar pemerintah mempertahankan metode PPKM Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penyesuaian hanya pada PPKM di Jawa-Bali di mana hanya masyarakat berstatus hijau di aplikasi PeduliLindungi atau yang sudah vaksin dosis lengkap dan sehat yang diperbolehkan masuk ke tempat publik. Inmendagri Nomor 3/2022 akan berlaku selama satu minggu dari tanggal 18 s.d. 24 Januari 2022, sedangkan Inmendagri Nomor 4/2022 berlaku selama dua minggu, dari tanggal 18 s.d. 31 Januari 2022.***ebn

Vaksinasi dan Prokes Ketat Wajib Dilakukan untuk Cegah Kenaikan Kasus Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Sejak diumumkan World Health Organization (WHO) sebagai variant of concern (VOC) pada 26 November 2021, varian Omicron telah menyebar hingga ke 90 negara dunia. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menginformasikan itu berdasarkan 3 sumber yakni GISAID (78 negara), Weekly Epidemilogical Update oleh WHO (76 negara) dan newsnodes.com  (90 negara). 

Termasuk di dalamnya, negara tetangga seperti Malaysia, Thailand Filipina, Singapura dan Australia. Hal ini menunjukkan keberadaan varian Omicron menjadi ancaman yang dekat dan nyata yang harus kita antisipasi bersama, terlebih Indonesia saat ini memasuki periode libur Natal dan Tahun Baru.

“Dan yang patut diperhatikan, terlepas dari adanya varian Omicron, terdapat beberapa data menunjukkan negara dengan cakupan vaksinasi dosis lengkap nyatanya mengalami kenaikan kasus,” jelas Wiku dalam keterangan pers Perkembangan Penanganan Covid-19, Selasa (21/12/2021) sebagaimana dikutip dari laman covid19.go.id 

Contohnya, Amerika Serikat dengan cakupan vaksinasi dosis lengkap sebesar 61% mengalami kenaikan kasus positif dan angka kematian Covid-19. Hal serupa dialami Norwegia yang cakupannya mencapai 71%. Bahkan Korea Selatan dengan cakupan sangat tinggi mencapai 92%. Data ini sebenarnya menunjukkan bahwa cakupan vaksinasi yang tinggi tidak dapat sepenuhnya mencegah penularan tanpa disertai protokol kesehatan (prokes) yang ketat. 

Lalu, jika membandingkan Indonesia, cakupan vaksin dosis lengkap nasional angkanya lebih rendah yaitu baru sekitar 39%. Meskipun demikian kondisi kasus Indonesia konsisten menurun. Dikarenakan Indonesia terus mempertahankan penurunan kasus sehingga kondisi kasus terkendali ketika varian Omicron mengancam.

Indonesia juga menerapkan pembatasan dan perubahan kebijakan pelaku perjalanan internasional yang dinamis menyesuaikan kondisi kasus terkini. Serta Pemerintah tetap mewajibkan masyarakat disiplin protokol kesehatan dalam setiap beraktivitas.

Hanya saja, yang harus diperhatikan ialah dalam 2 bulan terakhir ini tren kedatangan pelaku perjalanan dari luar negeri justru meningkat di bandara. Kenaikan terlihat di Bandara Soekarno – Hatta Jakarta. Data per Oktober lalu di kisaran 1000 – 2000 kedatangan, dan kenaikannga mencapai sekitar 4000 kedatangan per Desember ini.

Sementara di pos lintas batas negara (PLBN) Entikong terjadi lonjakan angka kedatangan. Sebelumnya, sempat rendah di kisaran 50 – 100 pada akhir November, menjadi hampir 300 kedatangan per 10 Desember lalu. Hal serupa dijumpai di Pelabuhan Batam Center, pada awal November angkanya sekitar 100 – 200, menjadi 200 – 400 kedatangan pada pertengahan Desember.

“Tentunya hal ini menjadi tantangan bagi kita bersama untuk tetap mempertahankan kondisi yang saat ini cenderung terkendali. Terutama mengingat kondisi baik ini kita capai sama setelah berupaya keras menurunkan lonjakan kedua yang dampaknya juga tidak sedikit,” lanjutnya.

Disamping itu, sejauh ini kasus positif di Indonesia konsisten menurun dan bertahan selama 22 minggu. Sama halnya, kasus kematian terus menurun selama 20 minggu terakhir. Meskipun demikian perlu diwaspadai angka reproduksi efektif (RT) atau menggambarkan potensi penularan di masyarakat. 

Angka ini konsisten meningkat sejak titik terendah September lalu dan saat ini angkanya masih dibawah 1 yang cenderung terkendali. Namun tetap diperlukan usaha sejak dini mencegah lonjakan penularan di kemudian hari. Salah satu strategi pengendalian yang penting dalam mencegah penularan adalah disiplin protokol kesehatan. 

Hanya sayangnya, data per 12 Desember 2021 menyebutkan ada sekitar 1.948 dari 8.584 desa/kelurahan  (22,69%) yang tidak patuh memakai masker, dan 1.995 dari 8584 desa/kelurahan (23,24%) yang tidak patuh menjaga jarak.

Untuk itu, dengan terus mengupayakan protokol kesehatan disaat kondisi kasus sedang terkendali merupakan strategi pengendalian pandemi yang mudah, murah dan efektif dalam mencegah penularan. 

Selain upaya protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M) masyarakat diminta berperan aktif mencegah masuknya lebih banyak varian Omicron. Caranya dengan tidak bepergian keluar negeri terkecuali mendesak. Dan bagi masyarakat yang kembali ke Indonesia, dimohon mentaati aturan yang berlaku termasuk kebijakan karantina serta entry dan exit test.

“Seluruh kebijakan ini dibuat semata-mata untuk melindungi masyarakat dengan mencegah meluasnya varian Omicron dan mempertahankan kondisi kasus agar tetap terkendali,” pungkas Wiku. ***ebn