‘Naga Bonar’ Deddy Mizwar Terpilih Lagi Jadi Ketua PPFI

JAYAKARTA NEWS— Secara aklamasi dan merupakan calon tunggal, ketua petahana Deddy Mizwar akhirnya terpilih lagi jadi Ketua Umum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) untuk periode 2023 – 2028. Ini adalah kado spesial bagi dirinya yang akan nemasuki usia 68 tahun pada 5 Maret 2023 mendatang.

Dalam Kongres PPFI ke XXI, Deddy Mizwar yang kerap dijuluki ‘Jenderal Naga Bonar’ memang menjabat sebagai produser di Demi Gisela Film bersama istrinya, Giselawati. Selain itu, Deddy Mizwar juga berprofesi sebagai sutradara, pemain film dan politikus.

Dalam sambutannya, Deddy Mizwar berjanji akan mengadakan dialog dengan pihak terkait ihwal masih banyaknya produksi film nasional yang belum tayang di bioskop akibat pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia.

“PR kita belum usai. Tapi kita salut kepada seluruh insan film, bahwa produksi dan syuting film masih terus jalan,” ucap mantan Ketum Badan Perfilman Indonesia 2006-2009 ini.

Secara khusus pula Deddy Mizwar memaparkan, film adalah media efektif untuk memengaruhi pola pikir banyak masyarakat.

“Realisasinya, sistem tata edarnya harus baik. Dan segenap insan film bersama lembaga-lembaga perfilman bisa bersatu untuk bekerjasama membuat film yang baik dan bermutu guna kemajuan dunia perfilman nasiional. Kita harus mendorongnya,” urai Deddy Mizwar optimis.

Selepas menjabat sebagai Wagub Jawa Barat, Deddy sama sekali tak bisa menghilang dari ranah politik. Kali ini, Deddy dipercaya menduduki bidang Seni dan Budaya dalam Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) yang lolos verifikasi peserta Pemilu 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Politik secara santun dan demokratis saya tekuni dari dulu (Deddy Mizwar sebelumnya aktif di Partai Demokrat). Saya ingin mempertunjukkan seni politik yang luber dan jurdil,” beber mantan pegawai di Dinas Kesehatan DKI ini.

Siap bertugas di seni budaya/film dan politik, Jenderal Naga Bonar ! (pik)

PWI dan PPFI Dukung FFWI

JAYAKARTA NEWS – Begitu diluncurkan Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) XI di Jakarta, sambutan mengalir dari berbagai pihak. Baik dari organisasi wartawan maupun dari organisasi film.

Atal S Depari selaku Ketum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menyambut baik penyelenggaraan FFWI XI yang akan dihelat tanggal 28 Oktober 2021 di Jakarta. “PWI Pusat menyambut positif FFWI XI. Ini berarti wartawan ikut berkontribusi atas perfilman nasional,” kata Atal S Depari.

Wartawan senior harian Suara Karya ini mengemukakan, perjuangan dan kiprah wartawan kita terhadap perkembangan seni budaya khususnya film ini sangat besar. “Sejak era bapak Usmar Ismail hingga sekarang, jasa dan kiprah wartawan tak bisa dilupakan begitu saja,” beber Atal S Depari.

Di pihak lain, Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), Deddy Mizwar mengaku juga mendukung penuh FFWI XI. “Makin banyak festival film, makin bagus kualitasnya,” urai pemeran Naga Bonar ini.

Ini menandakan perkembangan film nasional berjalan ke arah lebih baik. “Saya percaya dan yakin, bangkitnya perfilman Indonesia berarti bangkitnya seni budaya Indonesia. Ini harus kita jaga dan rawat,” imbuh mantan Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) ini.

Deddy Mizwar juga menambahkan, meski negara kita sedang dilanda pandemi yang kapan berakhirnya, kalangan wartawan tetap menjalankan tugasnya dengan menggelar FFWI. “Semoga secara teratur, wartawan tetap bisa menggelar ajang festival yang positif ini setiap tahunnya,” demikian Deddy Mizwar menutup bincang-bincang ini. (pik)

Bioskop Tak Tergantikan

JAYAKARTA NEWS—– Sudah hampir 10 bulan pandemi Covid 19 menyerbu Indonesia. Banyak tempat hiburan dan olahraga kena imbasnya, jadwal pertandingan ditunda, konser musik diundur dan bioskop tutup. Hal ini menyebabkan peluang berkembangnya OTT alias Over The Top, yaitu platform untuk nonton konten video profesional lewat internet.

Memang, OTT memberi kemudahan dapat memilih film apa saja, kapan saja dan perangkat mana saja untuk menonton. Namun, bioskop tetap tak tergantikan. Diskusi menarik ini menyeruak dalam webinar bertajuk ‘2021 : Bioskop atau OTT Apps ?’ yang digelar secara daring oleh Direktorat Film, Musik dan Media Baru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Demi Film Indonesia (DFI), baru-baru ini.

Dipandu oleh Arul Muchsen, Direktur Film, Musik dan Media Baru Kemdikbud, Ahmad Mahendra yang membuka diskusi mengemukakan, Kemdikbud tetap memberi semangat kepada pelaku film untuk tetap berkarya yang ditayangkan baik di bioskop maupun OTT. “Para pelaku seni tetap kreatif membuat film meski pandemi belum usai di negara kita,” harap Ahmad Mahendra.

Yan Widjaya, pengamat film (foto : PWI Jaya Sie Film)

Yan Widjaya selaku jurnalis dan pengamat film mengatakan, film nasional mengalami penurunan luar biasa di masa pandemi. “Film ‘Asih 2’ yang tayang 24 Desember 2020 hanya meraup 194.894 penonton. Sementara ‘Asih’ yang diputar 11 Oktober 2018 ditonton sebanyak 1.714.798 penonton. Ini jauh dari harapan,” papar Yan Widjaya.

Wina Armada Sukardi (foto : Watyutink.com)

Kritikus film dan jurnalis senior Wina Armada Sukardi di sesi berikut mengungkapkan ihwal kebangkitan perfilman nasional sejak ‘Petualangan Sherina’ yang mencapai ‘box office’. “Dari tahun 2015 hingga 2019 dengan tema yang beragam, angka penonton film Indonesia rata-rata mencapai 40 juta orang penonton dan menghasilkan Rp12 triliun dari hasil penjualan tiket,” terang Wina Armada. “Namun, memasuki tahun 2020 pas merebaknya pandemi, setelah bioskop boleh dibuka kembali dengan pembatasan hanya 25% dari jumlah kursi penonton, penghasilan bioskop merugi. PHK terjadi dimana-mana,” jelas Wina Armada sembari ditambahkan, dengan munculnya OTT semoga menumbuhkan harapan film nasional bisa diminati kembali.

Dan ‘gong’ nya adalah omongan sineas Deddy Mizwar selaku Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) bahwa bioskop tak akan tergantikan. “Menonton film di HP atau laptop tak akan sama kondisinya jika kita nonton film di bioskop. Ada sensasi tersendiri jika kita nonton film di bioskop,” kata Deddy Mizwar yang lekat dengan peran Naga Bonar. Kanal OTT sebagai salah satu sarana mengenalkan film Indonesia ke mata dunia perlu kita sambut dan digunakan dengan baik. “Namun, satu hal pasti, apa pun kondisinya, bioskop tetap tak tergantikan,” pungkas Deddy Mizwar mengulang kembali pernyataannya. Oke, mainkan sajalah ! (pik)

PPFI Desak Pemerintah Terbitkan Protokol Kesehatan Industri Film

JAYAKARTA NEWS— Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) mendesak pemerintah cq Kementerian Kesehatan segera menerbitkan protokol kesehatan untuk industri perfilman. “PPFI tak punya  wewenang melarang syuting film dan sinetron. Kami hanya mengimbau dan mengingatkan agar insan-insan film menaati protokol kesehatan. Yang punya wewenang ada Pergub yang mengatur sanksi bagi pelanggar PSBB,” ujar Ketua Umum PPFI, Deddy Mizwar dalam konperensi pers di aplikasi zoom.

Alhasil, PPFI tidak bisa mengiyakan maupun melarang syuting film. “Itu urusan pemerintah,” imbuh Deddy Mizwar yang didampingi pengurus PPFI yang lain, Zairin Zain, Manoj Punjabi, Ilham Bintang dan Wina Armada Sukardi.

Sedangkan Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) PPFI, Ilham Bintang mengemukakan, berdasar penilaian WHO, kurva korban pandemi C19 di Indonesia masih cukup tinggi, kurvanya belum melandai.

Ilham BIntang— foto instagram

“Ini jadi dilema bagi  PPFI, maju kena mundur kena,” timpal Ilham Bintang.

Deddy Mizwar melanjutkan, PSBB bikin industri film kolaps. “Ada 2 hal  yang jadi concern PPFI yaitu protokol kesehatan segera diterbitkan dan momen yang sudah dibolehkan oleh pemerintah untuk beraktivitas kembali. Mohon insan film diberikan petunjuk kapan waktu yang tepat untuk syuting film bisa dimulai. Agar ekonomi bisa pulih kembali, segerakan protokol kesehatan khusus untuk produksi dan pertunjukan film di bioskop bisa dimulai lagi,” ungkap Deddy Mizwar.

Manoj Punjabi menimpali agar PSBB jangan jadi simalakama dimana kita syuting umpet-umpetan. Selama ini aturannya abu-abu. Kami imbau pemerintah punya sikap yang jelas,” tandas Manoj Punjabi. (pik)

‘Kucumbu Tubuh Indahku’ dan ‘Ambu’ Bertarung di FFAP Macau

JAYAKARTA NEWS— Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) memutuskan mengirim 2 film Indonesia untuk ikut bertarung di Festival Film Asia Pasifik (FFAP ) ke 59 yang digelar di Macau,  7 – 9 Januari 2020. Yaitu, ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ (KTI) dan ‘Ambu’.

‘KTI’ adalah film terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2019. ‘KTI’ karya Garin Nugroho  juga mewakili Indonesia dalam Academy Awards 2020 (Oscar) walau tak masuk nominasi. Film ini dinilai sangat estetik yang membeberkan salah satu sub budaya kita dalam ihwal kompleksitas seksualitas. Namun, prosesnya tak vulgar.

Sedangkan ‘Ambu’ karya sutradara Farid Dermawan adalah film yang mencuatkan soal akulturasi suku Badui, yang paling ketat beinteraksi dengan budaya luar. Problematik budaya suku Badui ini berhasil dikemas dalam sinematografi yang memukau.

“Saya bangga film ‘Ambu’ bisa mewakili Indonesia dalam ajang bergengsi ini. ‘Ambu’ ceritanya sangat universal sebagai hubungan ibu dan anak yang dekat dengan budaya dan kearifan lokal,” kata Farid Dermawan.

PPFI sebagai salah satu pendiri Federation of Motion Pictures Producers in Asia Pacific yang didirikan tahun 1953. Setahun kemudian, 1954, FFAP dihelat di Tokyo dan kini setiap dua tahun FFAP selalu diadakan bergilir di 22 negara anggota.

Indonesia sendiri sudah beberapa kali menjadi negara tuan rumah penyelenggara FFAP. Bahkan, Indonesia pernah menyabet banyak penghargaan seperti Reza Rahadian sebagai aktor terbaik di FFAP 2018 dan film ‘Daun di Atas Bantal’ karya Garin Nugroho meraih film terbaik di FFAP 1998.

Sekjen PPFI, Zairin Zain memaparkan bahwa ‘KTI’ dan ‘Ambu’ merupakan 2 film Indonesia yang sangat dekat mewakili keIndonesiaan saat ini. Proses penjurian dan penetapan pemenang diadakan 5 – 7 Januari 2020. Indonesia diwakili oleh Abdi Surya Abdy sebagai juri. (pik)

Ketum PPFI Deddy Mizwar Kunjungi Lembaga Sensor Film

JAYAKARTA NEWS— Deddy Mizwar kembali ke khittah, yaitu dunia film. Ia menjadi Ketum Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) menggantikan Firman Bintang yang habis masa jabatannya. Sebagai pengurus baru PPFI, baru-baru ini mengunjungi Lembaga Sensor Film (LSF) guna berdialog dan mengkonfirmasikan sejumlah hal dengan anggota.

“Sebagai pengurus baru, PPFI ingin silaturahmi dengan semua mitra dan sekaligus minta kejelasan beberapa hal,” ujar Deddy Mizwar.

Pertemuan secara kekeluargaan tetapi substansi pembahasan berlangsung terbuka  dan hangat. Hasil pertemuan akan dijadikan bahan sosialisasi kepada anggota PPFI dalam masukan perbaikan UU Perfilman. Ketua LSF, Achmad Yani Basuki menyambut baik kunjungan ke LSF.

“Konteks-konteks dalam sebuah budaya dalam film sehingga LSF senantiasa berhati-hati dalam mengutamakan  dialog dengan pemilik  film. Itu aturannya. Kami di LSF menghindari adanya beda tafsir antara staf pemilik film dengan pemilik filmnya sendiri,” urai Achmad Yani Basuki.

Sementara PPFI mengusulkan adanya dialog rutin tiap bulan dengan LSF dengan pemilik perusahaan, produser dan sutradara film. Sehingga dapat dikurangi beda persepsi tentang mana yang boleh dan tidak boleh dalam koridor LSF.

“Kami dari PPFI akan bertemu Komisi DPR yang membawahi film,” pungkas Deddy Mizwar. Rombongan PPFI juga didampingi Zairin Zain (Sekjen), Wina Armada Sukardi (Ketua Organisasi dan Hukum). Dari LSF hadir Doddy Budiman (Wakil Ketua), dengan anggota Rommy Fibri, Sanggupri dan Sudana Dipwikarata. (pik)