Semar Berpancasila di Borobudur

JAYAKARTA NEWS – Jika Anda luang waktu di hari Rabu 1 Juni 2022, pergilah ke Borobudur. Pagi-pagi sekali, sebab acara dimulai pukul 08.00 WIB. Anda akan menyaksikan Semar memimpin rombongan kirab pembentangan kain merah putih sepanjang 1.000 meter. Hari itu, salah satu situs keajaiban dunia itu akan berbalut merah putih. “Pemecahan rekor Muri,” ujar Ki Mujar Sangkerta, salah satu partisipan.

Kepada Jayakarta News, Ki Mujar menjelaskan, ihwal tokoh wayang Semar yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa khususnya. Ia adalah “dewa ngejawantah”. Seorang titah-sewantah yang mewarisi keluhuran budi para dewa. Meski Semar adalah tokoh dalam pewayangan, tetapi ia tidak ada dalam epos Ramayana ataupun Bharatayudha versi India. Semar adalah milik Indonesia.

Tak heran jika Semar menjadi tokoh idola bangsa. Termasuk idola Presiden Joko Widodo. Asal Anda tahu, wayang Semar berukuran raksasa yang menjadi pimpinan rombongan kirab di Candi Borobudur pada acara itu, adalah koleksi Presiden Jokowi (Sanggar Gogon).

Semar “Jokowi” nanti akan memimpin rombongan kirab, berjalan melalui Pintu 8. Di belakang, akan ada dua tokoh pewayangan lain yaitu Bathara Kresna dan Dewi Sri. Maknanya, pemimpin harus mengedepankan Jiwa Pamomong Nusantara, memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuan akhir yakni Kebijaksanaan dan Kesejahteraan bersama (keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). “Salah satu mutiara dalam Pancasila,” tutur Mujar, seniman kriya kelahiran Jember yang menetap di Yogyakarta itu.

Keseluruhan prosesi pembentangan kain merah-putih (melambangkan bendera Indonesia) sepanjang 1.000 meter itu, dimeriahkan pula dengan hadirnya Wayang Milehnium Wae & Garuda Perkasa kreasi Ki Mujar Sangkerta dan kawan-kawan Institut Sangkerta Indonesia yang terdiri atas para mahasiswa berbagai provinsi.

Selain kirab keliling candi, prosesi hari itu juga akan dilanjutkan dengan penancapan 2022 bendera merah putih di sepanjang jalan menuju titik kumpul di Balkondes Kembanglimus (Gerbang Gajah) pintu barat Candi Borobudur. Keseluruhan acara tadi dipersembahkan bagi peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni. Tanggal sakral yang diambil dari hari di mana Sukarno berpidato tentang dasar-dasar negara pada sidang BPUPKI, dua bulan sebelum Indonesia merdeka.

Pesona Arak-arakan

Rangkaian kegiatan yang dihelat panitia Festival Budaya Nusantara Borobudur itu, berlangsung 1 – 3 Juni 2022. Anda bisa membayangkan bagaimana arak-arakan kirab dengan balutan busana yang mempesona, serta suasana sakral yang tersebar.

Di paling depan, ada cucuk lampah membawa dupa dan bunga. Di belakangnya wayang Semar koleksi Presiden Jokowi. Setelah itu Garuda Perkasa dan Wayang Milehnium (Ki Mujar Sangkerta dkk, Institut Sangkerta Indonesia). Peserta arak-arakan di belakangnya adalah Bergada Taksi Purwo Loyo (Imogiri, Yogyakarta), dilanjutkan Satria-satria (dari berbagai Kerajaan Nusantara termasuk dari Demak).

Yang tak kalah menarik, tampilnya pasukan “9 Srikandi” dari Mataram Jaya Binangan dan Bagelen, Purworejo. Para wanita cantik yang terinspirasi oleh sosok Srikandi, salah satu istri Arjuna yang tidak saja cantik, tetapi juga mahir dalam seni memanah dan menjadi patriot pembela negara.

Di belakang “9 Srikandi” adalah kain merah-putih 1.000 meter yang disebut Ratih Sribuwara. Nama itu memiliki makna “meRAh puTIH SeRIBU meter jiWA nusantaRA. Makna lain adalah Sukacita 1000 bidadari.

Sang “Ratih Sribuwara” melingkari Candi Borobudur dengan penuh sukacita. Jiwa Nusantara mencintai, merangkul, memperkuat dan melestarikan candi Borobudur sebagai Maha Karya leluhur bangsa. Karya yang menjadi masterpiece kelas dunia, tidak saja pada masa wangsa Syailendra abad ke-8 (saat candi dibangun), tetapi hingga hari ini dan selamanya.

Candi Buddha termegah di atas jagad raya itu, adalah buah gotong royong atas dasar kecerdasan spiritual. Istilah zaman sekarang “spiritual intelligence collaboration”, dari para leluhur dalam melahirkan mahakarya.

“Gotong royong adalah Pancasila. Bung Karno mengatakan, jika lima sila harus diperas menjadi satu, ketemu istilah yang hanya ada di Indonesia, yaitu ‘gotong royong’. Acara Ratih Sribuwara ini adalah sebuah pelestarian filosofi gotong royong yang hidup kekal abadi di bumi pertiwi,” ujar Ki Mujar.

Kemasan rangkaian kirab Ratih Sribuwara tak pelak bakal menjadi sajian istimewa. Terlebih karena para peserta mengenakan kostum wayang dan busana adat. Padu-padan warna, corak dan bentuk yang sangat indah dipandang mata. “Jangan hanya mengagumi keindahannya, tapi bertakzimlah atas para leluhur yang telah meninggalkan warisan budaya adiluhung,” kata Ki Mujar Sangkerta.

Wayang Milehnium Wae saat gladi bersih. (foto: institut sangkerta indonesia)

Ditanya lebih spesifik mengenai keterlibatannya dalam event ini, Ki Mujar antusias menukas. Wayang Milehnium Wae mengikutkan wayang raksasa kontemporer yang terbuat dari pelat logam aluminium, kuningan, tembaga, dan stainless aneka ukuran. Paling kecil 50×50 cm yang ukuran sedang 100×200 cm, dan paling besar ukuran 300×300 cm (wayang milehnium Garuda Perkasa).

Sebagai seniman sekaligus budayawan dan kriyawan, Ki Mujar dengan Wayang Milehnium-nya tampak senantiasa haus berkarya, mengisi ruang-ruang terbuka, memperkaya jiwa bangsa. Tak jarang performance arts-nya terbilang ekstrem. Seperti saat ia membuat arak-arakan wayang milehnium melawan kemacetan jalan di pusat kota Yogya. Kali lain, ia berkubang lumpur di sawah hingga bantaran sungai.

Pendek kata, karya wayang milehnium menjelajah dari sawah hingga ke gedung mewah. Ia mengusung konsep kolaborasi karya: Seni rupa pembebasan, instalasi bunyi, teater minimalis, olah gerak tubuh, pantomime, dan fashion show. Di samping, gerak visual wayang milehnium itu sendiri. “Saya menyebut itu semua sebagai karya komposisi bebas,” kata Ki Mujar sambil tertawa.

Kembali ke Borobudur. Selain komunitas Wayang Milehnium, masih banyak unsur komunitas lain yang berpartisiasi memperingati Hari Lahir Pancasila melalui parade budaya yang sarat makna. Mereka antara lain Rumah Budaya Royal House, Regresif (Remaja Generasi Aktif Borobudur), Pawon Jogan, Bestari Pertiwi, Corona Collection, MAI Banyulangit, InSaga, Jedink Pro, ibu-ibu Bersanggul & Berkebaya Jogja, Pakopen, PaSri DIR, Parikesit Pro, Prajna Srikandi, Damar Kedaton Nusantara, Asosiasi Masyarakat Dance Indonesia (AMDI), PARFI DIY, Sanggar Saraswati, dan lain-lain.

Adapun penyelenggaranya Dewisnu, Panitia Pekan Budaya Nusantara Borobudur bekerja sama dengan Mataram Joyobinangun Kartosuro. Salam budaya. (roso daras)

Presiden Ingin Indonesia Sukses Prestasi di Asian Games 2018

Presiden Joko Widodo, Sabtu, 4 Agustus 2018, berbicara di depan para pegiat olahraga dan pegiat media sosial di halaman belakang Gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor. Acara ini dihelat dalam rangka mempromosikan Asian Games 2018.

“Kita juga ingin prestasi kita masuk 10 besar, karena sebelumnya kita di ranking 17 di Asian Games sebelumnya. Saya minta 10 besar. Terakhir saya bisik-bisik lagi, sebetulnya saya minta 8, bukan 10. Kita ini bangsa besar, jangan sampai 10 besar saja tidak masuk,” kata Presiden.

Dua pekan menjelang perhelatan akbar olahraga se-Asia tersebut, Presiden menilai persiapan Indonesia sebagai tuan rumah sudah sangat baik. Sebanyak 16 ribu atlet dan official dari 45 negara akan hadir dalam ajang multicabang olahraga ini.

“Semoga nanti penyelenggaraan pelaksanaannya berjalan dengan baik,” lanjutnya.

Selain dari sisi persiapan dan prestasi, Presiden juga berpesan kepada semua pihak agar terus mempromosikan Asian Games 2018 ini, mengingat waktu pelaksanaan yang semakin dekat. Presiden ingin perhelatan akbar ini sukses dan tidak kalah dengan perhelatan Asian Games sebelumnya.

“Ini bukan perhelatan kecil-kecilan, tapi perhelatan olahraga 45 negara yang harus kita angkat terus agar perhelatan ini tidak kalah dengan perhelatan Asian Games sebelum-sebelumnya. Sehingga sekali lagi saya minta, negara minta, pemerintah minta, kita semuanya mengangkat, mempromosikan Asian Games 2018 ini,” tuturnya.

Soroti Kesehatan Masyarakat

Pada kesempatan ini, Presiden juga menyoroti masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Presiden menginginkan masyarakat lebih rajin berolahraga dan melakukan aktivitas berjalan kaki.

“Saya membaca sebuah berita bahwa masyarakat kita ini malas kalau berjalan agak jauh, agak dekat saja malas, apalagi agak jauh. Mau ke mall, parkir yang paling dekat dengan pintu biar jalannya dekat, iya kan? Iya ini fakta,” ujarnya.

Presiden pun bercerita bahwa dirinya selalu menyempatkan untuk jogging, baik di pagi hari maupun siang hari. Ia pun berusaha untuk selalu berjalan kaki, terutama jika sedang melakukan kunjungan ke daerah.

“Saya kalau ke daerah ya isinya jalan saja, banyak jalan kakinya. Entah kalau itu masuk ke desa, entah kalau itu masuk ke sawah, entah di tepi pantai. Jalan itu menyehatkan, jalan itu enak,” imbuhnya.

Di penghujung sambutannya, Presiden yang pada kesempatan ini didampingi oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, juga mengingatkan perihal satu event besar setelah Asian Games, yaitu Asian Paragames.

“Kita harap kita berkumpul lagi. Tapi setelah itu kita harus kumandangkan terus jalan sehat untuk masyarakat kita semuanya,” tandasnya. (Bey Machmudin, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden)

Megawati Menunjuk Laut, SBY Tersenyum di Sampingnya

Megawati ketika masih Presiden, dan SBY ketika masih Menko di kabinet Megawati Soekarnoputri. Foto: Ist

SETIAP museum merupakan ruang yang dapat membuka gerbang masa lalu. Jika koleksinya besar dan cukup detail, boleh jadi menyeret pengunjungnya ke lorong-lorong waktu nuh jauh di belakang sana.

Museum tak sekadar tempat memajang barang-barang kuno atau yang bernilai sejarah. Museum juga menyimpan banyak catatan peristiwa, baik berupa benda, manuskrip, CD, maupun gambar/ foto.

Begitupun museum kepresidenan, Balai Kirti, di Komplek Istana Kepresidenan, Bogor, Jawa Barat. Di ruang pamer yang mengoleksi benda dan foto dari  masing-masing  presiden yang  sudah purna bakti di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, mengantar kita menengok pelbagai peristiwa ke masa-masa pemerintahannya.

Museum yang diresmikan di akhir masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, 18 Oktober 2014 memiliki ruang koleksi sebanyak jumlah presiden yang telah selesai masa jabatannya. Mulai 4uang pamer Presiden Sukarno,  Soeharto, BJ Habibie,  Abdurahman Wahid (Gus Dur),  Megawati Soekarnoputri, dan SBY.

Masing-masing “Ruang Presiden” menarik dan mempunyai pesona tersendiri. Kesamaannya, masing-masing ruang pamer terdapat foto-foto kegiatan kenegaraan, termasuk kunjungan kepala negara asing, serta koleksi foto keluarga.

Di “Ruang Presiden Megawati”, ada foto ketika Presiden Megawati berdiri di anjungan kapal sambil tangannya menunjuk ke arah laut lepas, didampingi Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono yang dengan senyum khasnya duduk di belakang Mega bersama aparat lainnya.

Foto yang ketika itu mungkin hanya dinilai bagus dari sudut pengambilannya, namun jika dilihat saat ini sangat sublim, dan kaya makna. Foto yang apik memang  bisa diartikan lebih dari seribu kata-kata. Dalam hal ini jika dikaitkan dengan renggangnya komunikasi antara keduanya menjelang dan setelah SBY menjadi Presiden menggantikan Mega.

Pers yang kadang nyinyir acap menyinggung masalah ini. Lebih-lebih di media sosial. Namun situasi sudah berubah. Keduanya kini sama-sama purna tugas sebagai  presiden. Keduanya juga punya prinsip dan pandangan yang kuat.

Megawati: Bendera telah aku kibarkan, pantang surut langkahku walau tinggal sendirian.

SBY: Kekuasaan itu menggoda, gunakan penuh amanah demi kepentingan bangsa.

Seiring bertambahnya usia dan kearifan masing-masing, maka barangkali, bisa saja pada foto tersebut kita beri komentar berupa meme, untuk SBY, “Aku masih seperti yang dulu.” Dan Mega sebagai ketua umum partai yang cukup jel memilih kader/pemimpin, maka meme yang sesuai untuk foto tersebut, “Aku turut mengantarmu ke gerbang istana.”

Sayang gambar tersebut tak dapat ditampilkan di sini. Karena sesuai aturan di Museum Kepresidenan, pengunjung dilarang memotret.

Ya, begitulah, foto, karya, dan benda lainnya dalam museum dapat membuat kita bercanda dengan masa lalu, atau ikut trenyuh dan bahagia atas realita di masa lampau. Menatap foto Sukarno dan Fatmawati bersama putra-putrinya yang masih bocah, kita pun bisa jadi ikut haru. Mengingat anak adalah permata hati yang sangat dirindukan Bung Karno selama puluhan tahun. ***