Tangis Haru hingga Flash Mob Warnai Pelepasan Kontingen Asian Para Games 2018

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing–foto INAPGOC

Asian Para Games 2018 telah resmi ditutup. Nuansa persahabatan tampak sangat jelas saat para kontingen atlet disabilitas akan kembali pulang ke negaranya masing- masing.

Sejak pagi hingga malam ini sekitar 2.000 atlet dan ofisial meninggalkan Jakarta. Beberapa negara di antaranya adalah China Taipei, Macau, Vietnam, Malaysia, dan Iran. Kontingen tersebut pulang melalui Bandara Soekarno-Hatta.

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari datang ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta untuk melepas langsung kepulangan para atlet disabilitas beserta ofisial kembali ke negaranya masing-masing.

foto INAPGOC

Suasana akrab dan haru tampak saat Ketua INAPGOC bertemu para atlet yang akan pulang ke negaranya. Apalagi para volunteer dengan para atlet dan ofisial yang mereka dampingi selama berada di Indonesia. Ada volunteer yang mencium tangan atlet layaknya kepada kakak atau orang tua. Ada pula volunteer dan atlet yang menangis berpelukan dalam momen perpisahan ini.

“Suasana kekeluargaan sangat terasa, terutama antara para volunteer dengan atlet dan ofisial yang didampingi. Perpisahan yang betul-betul mengharukan. Dalam waktu sekitar 10 hari sejak kontingen datang, ternyata semua melebur jadi saudara,” ucap pria yang biasa disapa Okto ini.

Tim yang tergabung dalam Komunitas Bandara Soekarno-Hatta juga selalu sigap mendampingi para atlet disabilitas. Dalam kesempatan tersebut, Okto menyampaikan apresiasinya bagi Komunitas Bandara Soekarno-Hatta.

“Tentu tidak lepas dari layanan teman-teman di bandara yang jadi wajah pertama saat para kontingen datang ke Jakarta. Sekarang mereka pulang ke negara masing-masing. Semoga semuanya berkesan positif dan mereka ingin kembali ke Indonesia lagi,” ujarnya.

Okto juga menambahkan jika penyelenggaraan Asian Para Games kemarin adalah yang terbaik dari yang pernah ada. “Presiden APC (Asian Paralympic Committee) semalam bilang bahwa Asian Para Games di Indonesia adalah yang terbaik,” ungkapnya.

Melepas para atlet disabilitas tentu saja tak selalu dalam suasana sedih. Karena Okto bersama para anggota Komunitas Bandara Soekarno-Hatta melepas atlet disabilitas dengan melakukan flash mob. Diiringi Song of Victory sebagai lagu resmi Asian Para Games 2018, para atlet dan ofisial juga mengikuti gerakan tersebut dengan penuh keceriaan.

Keberanian, kesetaraan, dan determinasi para atlet betul-betul hadir sebagai inspirasi Asia yang luar biasa. Selamat jalan dan sampai jumpa di Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China!***INAPGOC

Ketua INAPGOC: Tantangan Terbesar INAPGOC adalah Waktu

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari –foto humas INAPGOC

Dua pekan menuju perhelatan Asian Para Games III/2018, komunikasi intens dilakukan Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (INAPGOC) dengan para pemangku kepentingan. Hal ini tidak lain untuk memastikan kesuksesan penyelenggaraan pesta olahraga atlet disabilitas se-Asia.

Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari selepas rapat koordinasi teknis dengan Kantor Staf Kepresidenan dan  kementerian/lembaga di Jakarta, Jumat (21/9/2018), mengatakan jika tantangan terbesar pihaknya dalam melaksanakan perhelatan akbar  ini adalah waktu. Meski demikian pria yang akrab disapa Okto itu menuturkan hal tersebut bukanlah halangan, melainkan menjadi motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

“Pada prinsipnya dalam rapat kali ini INAPGOC melaporkan progress report dari apa yang sudah, sedang dan akan kita laksanakan hingga hari ini dan ke depannya menuju games time. Sesuai target awal, untuk venues tanggal 25 September Insha Allah semuanya akan selesai,” ungkap Okto.

“Tantangan terbesar INAPGOC adalah waktu. Ruang pekerjaan kita efektifnya hanya satu bulan, dimana dalam kurun waktu tersebut terdapat rangkaian kegiatan seperti torch relay, parade Momo, persiapan venue serta persiapan-persiapan lainnya yang kita laksanakan secara simultan dari 4 September hingga menjelang pembukaan,” tambahnya.

Ini semua terkait kegiatan Asian Para Games yang baru bisa dilaksanakan setelah Asian Games resmi ditutup 2 September lalu. Mengenai dukungan terhadap pelaksanaan Asian Para Games, Okto mengatakan bahwa dukungan yang paling maksimal adalah dukungan lintas komunikasi. “Seringkali yang jadi masalah adalah terjadinya bottle neck terhadap informasi dan ego sektoral, sehingga membatasi ruang gerak dari masing-masing institusi. Tapi alhamdulillah dengan banyaknya forum komunikasi seperti ini lebih memudahkan kita untuk berkomunikasi serta mendistribusikan informasi kepada baik itu kementerian/lembaga maupun instansi terkait,” terangnya.

“Akan tetapi yang paling awal pasca pertemuan ini saya kira adalah instansi yang terlibat dalam pertemuan hari ini, besok sudah memulai turut mensosialisasikan atau memasang spanduk Asian Para Games di kantornya masing-masing, agar gaung event ini lebih cepat dan lebih terasa di tengah masyarakat,” harapnya.

Dalam kesempatan itu, Okto juga menegaskan jika INAPGOC tidak sedang berkompetisi dengan INASGOC, namun berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dengan dua penyelenggara Asian Para Games sebelumnya yakni Guangzhou (China) dan Incheon (Korea Selatan).

“Kami dari INAPGOC tidak sedang berkompetisi dengan penyelenggara Asian Games kemarin, namun kami berkompetisi dengan para penyelenggara Asian Para Games sebelumnya, namun kami memanfaatkan momentum euforia dari INASGOC, sehingga kami jadi lebih mudah untuk masuk ke masyarakat,” tegasnya.

HINDARI ‘NJELIMET’ BIKIN KONTRAK BARU

Sedangkan tentang arahan Presiden RI Joko Widodo sebelumnya dimana penyandang disabilitas yang menonton pertandingan untuk digratiskan, Okto menuturkan jika pihaknya langsung berkoordinasi dengan pihak Kementerian Sosial. “Kondisi tersebut sudah direspon positif oleh pihak Kementerian Sosial, sehingga kuota tersebut akan diberikan dan diatur oleh Kementerian Sosial sesuai dengan mekanisme yang mereka miliki,” tuturnya.

Sementara itu mengenai proses transisi dari Asian Games ke Asian Para Games, Okto menuturkan lantaran situasi administrasi, pihaknya memutuskan untuk memberhentikan kontrak dan membuat kontrak baru yang merupakan hasil kesepakatan baru bersama.

Hal senada diungkapkan Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto. Dirinya mengatakan berdasarkan pertemuan Jumat pekan lalu yang dipimpin Menpora Imam Nahrawi, yang juga dihadiri oleh Ketua INASGOC Erick Thohir, terdapat beberapa poin yang disepakati untuk cut off.

Cut off itu bukan berarti tidak adanya efisiensi, karena kalau INAPGOC sembarangan melanjutkan meski itu tujuannya baik namun ternyata itu melanggar peraturan atau kontrak maka diakhirnya nanti akan “rame”, sehingga itu tidak efisien,” ucap Sesmenpora Gatot S. Dewa Broto.

Terkait yang sifatnya transisi, Gatot mengatakan hanyalah barang-barang milik negara yang dibiayai oleh APBN, sehingga bisa digunakan oleh pihak INAPGOC. Dirinya juga menuturkan pemutusan kontrak itu antara lain seperti persiapan pembukaan maupun penutupan dan di beberapa overlay yang ada.

“Jadi, idealnya tinggal melanjutkan, namun karena mereka juga terikat dengan kepentingan pihak ketiga dan sebagainya sehingga urusannya agak njelimet serta masalah waktu, lebih baik diputus kontrak sesuai kesepakatan bersama,” ungkapnya.***/ebn

Meriahnya, Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Bali

Meriahnya, Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Bali –foto harian terbit

Rangkaian pawai obor Asian Para Games 2018 kembali berlanjut.  Kali ini kota Denpasar, Bali yang menjadi tempat dilaluinya obor pada hari Minggu (16/9) pagi. Sebelum pawai obor dilakukan, terlebih dulu dilakukan proses penerimaan api obor yang datang dari Makassar dan langsung menuju ke rumah jabatan Gubernur Bali.

Pawai dimulai dari rumah jabatan Gubernur Bali, Jayasabha dan diarak melalui Jalan Imam Bonjol, Jalan Gajah Mada, Sanur, dan dilepas di Monumen Bajra Sandhi. Setelah dari Monumen Bajra Sandhi di Renon, pawai obor kemudian melewati ikon Bali patung Garuda Wisnu Kencana di Nusa Dua. Pawai obor kemudian berakhir di lapangan Renon.

Beberapa pejabat negara ambil bagian sebagai pembawa obor yang diawali penyerahan oleh Gubernur Bali I Wayan Koster kepada Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari, selanjutnya diserahkan kepada Ketua DPR RI Bambang Soesatyo. Obor kemudian bergulir kepada Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita dan terakhir kepada atlet paralimpik Indonesia, Nyoman Oka.

Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutannya menyebutkan bahwa Bali sangat bangga karena bisa menjadi titik pawai obor Asian Para Games 2018. Dia meyakini sejarah besar ini tak akan terulang dalam waktu yang dekat karenanya masyarakat Bali bersyukur sudah menjadi bagian dari penyelenggaraan Asian Para Games yang ketiga ini.

“Pawai obor Asian Para Games tahun 2018 ini adalah  suatu kehormatan bagi kami dan masyarakat Bali pada khususnya. Mudah-mudahan dilaksanakannya pawai obor ini bisa membawa semangat dan masyarakat Bali sangat mendukung agar berhasil penyelenggaraan Asian Para Games bagi Indonesia,” katanya.

foto harian terbit

Sementara itu, Ketua INAPGOC Raja Sapta Oktohari mengingatkan bahwa sebelumnya Indonesia sduah merasakan euforia luar biasa di Asian Games, mulai dari pembukaan, prestasi, dan juga penutupan yang luar biasa.

“Selanjutnya, Indonesia akan buat sejarah baru, kurang dari 20 hari ke depan jadi tuan rumah Asian Para Games. Ini kegiatan yang pertama yang pernah dilakukan Indonesia. Bali Istimewa, karena kalau belum lewat Bali ada yang kurang. Pawai obor di Bali ini, sudah melewati Last Paradise of The World, seperti tulisan yang ada di Bandara,” ungkapnya.

Bali menjadi spesial karena atlet paralimpik Indonesia yang meraih medali di Paralympic Brasil 2016 lalu berasal dari Bali. Jadi, lanjut dia, tidak sah dibawa berkeliling Indonesia tanpa melewati Bali. “Saya pastikan, di sini adalah pawai obor yang paling meriah,” ungkapnya.

Menteri Sosial Agus Gumiwang juga merasa beruntung dan mengingatkan bahwa event sekelas Asian Para Games harus menjadi legacy bagi bangsa Indonesia. Dia yakin, dengan dukungan total pemerintah dan doa dari masyarakat Indonesia, khususnya Bali, ajang ini akan menuai sukses.

“Kami berharap Indonesia dan INAPGOC bisa menyelenggarakan event Asian Para Games ini sebaik-baiknya. Saya kira nantinya dunia internasional akan melihat kita sebagai negara yang sudah mempunyai standar-standar yang sangat bagus berkaitan dengan ramah disabilitas,” ungkapnya.

Di sisi lain, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo memiliki keinginan besar agar Indonesia menjadi tuan rumah yang baik bagi penyelenggaraan Asian Para Games 2018. “DPR memberikan dukungan penuh kepada panitia dalam bentuk anggaran maupun dukungan lainnya. Kami berharap indonesia jadi tuan rumah yang baik, mencetak prestasi yang baik seperti Asian Games ataupun lebih baik dari Asian Para Games sebelumnya,” tegas dia.

Rangkaian pawai obor di Bali ini juga dimeriahkan oleh festival paralimpian dan budaya Bali. Selain itu, ada juga pertunjukan musik dari band lokal Bali dan band nasional Govinda. Setelah dari Denpasar, pawai obor Asian Para Games akan berlanjut ke kota Pontianak.***