• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Sunday, September 27, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

#SOS Minta Edy Rahmayadi Fokus Benahi PSSI

#SOS Minta Edy Rahmayadi Fokus Benahi PSSI

admin Jayakarta by admin Jayakarta
November 10, 2017
in Sport
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi

HARI ini, Jumat 10 November 2017, bukan hanya diperingati secara nasional sebagai “Hari Pahlawan”, tapi juga bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan Letjen TNI Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (Pangkostrad) tersebut meraih 76 suara dalam Kongres yang digelar di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta. tahun lalu. Edy mengalahkan seniornya mantan Panglima TNI, Jenderal (Pur) Moeldoko yang mendapatkan 23 suara, Eddy Rumpoko satu suara, dan tujuh suara abstain.

Masyarakat pecinta sepak bola nasional pun berharap Edy mampu menjadi motor utama reformasi sepak bola Indonesia seperti yang dicanangkan Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Bahkan, #SaveOurSoccer #SOSmenggantungkan asa Edy bisa jadi  simbol revolusi organisasi yang didirikan Ir Soeratin Soesrosoegondo pada 19 April 1930 tersebut. Sosoknya yang tegas, disiplin, dan disegani sangat cocok dan ideal menakhodai PSSI yang penuh konflik, intrik, dan masalah dalam 20 tahun terakhir.

Di awal terpilihnya Edy, #SOS sempat memberikan lima resolusi yang perlu dijalankan sebagai pijakan awal reformasi tata kelola sepak bola nasional. Pertama, menyelesaikan kasus dualisme klub dan juga masalah legalitas sejumlah klub yang sangat pelik dab bermaslah. Kedua, menuntaskan kasus sepak bola gajah.  Ketiga, soal bahasa match fixing (pengaturan skor). Keempat, Menegakkan statuta, peraturan organisasi, regulasi kompetisi PSSI sebagai dasar reformasi. #SOS menekankan jangan ada rangkap jabatan karena bisa menghadirkan konflik kepentingan (conflict of interest). Kelima,soal pembinaan dan timnas. Minimnya prestasi saat ini tak lepas dari buruknya pembinaan pemain muda dan juga pengelolaan timnas.

“Lima resolusi itu diharapkan bisa menjadi road map (baca: peta jalan) kepada Edy Rahmayadi untuk membangun pondasi organisasi sepak bola yang kuat dan berprestasi. Maklum, #SOS memprediksi ada bom waktu yang setiap saat bisa meledak bila tak ditangani secara serius,” kata Akmal Marhali, Koordinator #SaveOurSoccer #SOS.

Kini, faktanya, setelah setahun berjalan lima resolusi tersebut benar-benar menghadirkan masalah. Dualisme klub belum terselesaikan dan memunculkan friksi di lapangan. Mulai dari legalitas, kepemilikan ganda (cross ownership) yang menyalahi regulasi FIFA dan berakibat banyak klub tidak memenuhi standar lisensi klub profesional AFC. Bahkan, sampai saat ini PSSI tidak bisa menjelaskan asal muasal klub Bhayangkara FC yang menjadi juara Gojek Traveloka Liga 1.

Pelanggaran regulasi juga banyak terjadi di Liga 1 dan Liga 2. Mulai dari pergantian pemain dari tiga menjadi lima, pemain asing yang tak memiliki International Transfer Certificate (ITC) dan Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS), memainkan laga kandang Perseru Serui di kandang lawan, sampai munculnya “play off khusus” di Liga 2 yang tidak ada di regulasi dan manual kompetisi.

“Kompetisi musim ini sudah cacat dari awal karena banyaknya pelanggaran regulasi yang dilakukan baik itu oleh operator kompetisi, PT Liga Indonesia Baru (LIB), maupun peserta. Kompetisi musim ini menjadi antiklimaks karena buruknya penegakkan regulasi,” kata Akmal.

Miss manajemen dan komunikasi serta buruknya administrasi antar bidang juga menjadi masalah krusial di PSSI. Utamanya, terkait munculnya kasus Mitra Kukar yang memainkan Marquee Player Mamadou Sissoko yang dihukum larangan dua kali tampil oleh Komisi Disiplin (Komdis PSSI) saat melawan Bhayangkara FC. Kasus ini tidak terselesaikan dengan baik bahkan terkesan saling lempar tanggung jawab sehingga akhir kompetisi yang harusnya menjadi klimaks malah antiklimaks. Belum lagi, masalah-masalah nonteknis lainnya yang muncul kepermukaan sehingga para peserta sendiri menyebut kompetisi musim ini sebagai lelucon dan dagelan.

Semua berjalan seperti auto-pilot karena kesibukan Edy Rahmayadi yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara. “SOS meminta Pak Edy fokus membenahi masalah PSSI karena saat ini harus diakui hanya beliau yang disegani oleh stakeholder sepak bola nasional. Selebihnya adalah sosok-sosok lama yang bukan menyelesaikan masalah malah justru membuat masalah karena konflik kepentingan,” kata Akmal.

#SOS berharap Edy Rahmayadi mengembalikan filosofi dari PSSI (Profesional, Sehat, Sportif, dan Integritas). “Setahun pertama Pak Edy sudah bisa melihat dengan kasat mata masalah sepak bola yang ada. Bahkan, beberapa kali sempat melontarkannya dengan sindiran. Kini, waktunya untuk fokus membenahi semuanya. Punish and reward harus dilakukan untuk perbaikan sepak bola nasional,” Akmal mengungkapkan.

Lepas dari sejumlah masalah yang muncul di tahun pertama sebagai Ketua Umum PSSI, ada juga sejumlah perubahan yang patut diapresiasi. Salah satunya, soal kompetisi dan pembinaan usia muda yang mulai berjalan. Tim nasional dari senior sampai kelompok umur cukup tertata dengan baik jadwal pelatnas dan agenda uji cobanya. Yang belum hanya prestasi karena target emas di SEA Games 2017 meleset.

Tahun 2018 ada Piala AFF, Asian Games, putaran final Piala Asia U-16, putaran final Piala Asia U-19. #SOS berharap Edy Rahmayadi  bisa fokus dan tegas dalam menindak masalah-masalah yang muncul di tahun pertamanya agar reformasi berjalan dengan benar dan misi PSSI #Profesional #Bermartabat dapat terealisasikan. Maklum, semuanya akan menjadi tolok ukur apakah PSSI akan benar-benar menjalankan reformasi tata kelola sepak bola nasional atau tetap kembali berkubang dengan masalah. “Jangan sampai publik sepak bola mencap PSSI hanya ganti casing saja, tapi mesin soft ware-nya sudah usang. Perubahan harus benar-benar dilakukan dengan professional dan bermartabat bila sepak bola Indonesia ingin berprestasi dan berkembang pesat,” kata Akmal. ***

 

Tags: edy rahmayadiketua umum pssipangkostradPSSI
Previous Post

Panitia Pilkades Pasireurih akan Dipolisikan

Next Post

Gasing Tengkorak, Kejutan Jose Pornomo dari Horor Minang

admin Jayakarta

admin Jayakarta

Next Post
Gasing Tengkorak, Kejutan Jose Pornomo dari Horor Minang

Gasing Tengkorak, Kejutan Jose Pornomo dari Horor Minang

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version