Indahnya Pemandangan Bukit dan Laut Dilihat dari Sentono Gentong

PACITAN, JAYAKARTA NEWS— Keindahan bukit serta laut di Kabupaten Pacitan dapat dilihat dari ketinggian Sentono Gentong di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Banyak yang takjub termasuk Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang melihat keindahan pemandangan dari atas Sentono Gentong Selasa (10/1).

Khofifah yang didampingi Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji dan Fotkopimda Pacitan mengungkapkan tidak heran jika Sentono Gentong menjadi salah satu destinasi “ngehits” di Pacitan.

Menurut Khofifah, Sentono Gentong seperti orkestra semesta alam karena memiliki keindahan alam lengkap yang berpadu dengan sejarah dan spritual. Di sini, kata dia, masyarakat bisa menikmati pemandangan laut dan pantai, perkotaan, perbukitan, pegunungan hingga goa-goa. Tak cuma menyajikan wisata alam, Sentono Gentong juga merupakan spot paralayang.

Jatim banyak sekali tempat yang menyuguhkan keindahan bagi penikmat wisata alam, religi, kuliner, hingga tantangan bagi para penikmat dan atlet paralayang yang di Sentono Gentong dibuka biasanya sekitar bulan Maret menyesuaikan arah angin.

“Sentono Gentong ini wisata yg memiliki sejarah yang kuat. Ini bisa dibilang wisata alam ya alam, religi ya religi, olahraga ya olahraga,” ujarnya.

“Kalau mau melihat harmonious partnership disinilah salah satu contohnya. Kalau kita mau melihat wisata alam dan atlet paralayang sekaligus napak tilas religi, di sini salah satunya,” sambungnya.

Sebagai wisata religi, Sentono Gentong merupakan kawasan petilasan. Di dalamnya terdapat gentong berisi tulang-tulang yang dibawa oleh Syekh Subakir dari Persia untuk menangkal roh jahat di Pulau Jawa agar Agama Islam dapat berkembang.

“Tempat ini kental dengan cerita tentang Syeikh Subakir. Dulu kabarnya banyak jin yang mengganggu proses pembangunan dan perkembangan agama Islam di Nusantara. Kisah Syekh Subakir seperti dalam Babad Tanah Jawi ini tertanam sangat kuat sekali, dan juga mencontohkan harmonious partnership,” jelasnya.

Khofifah melanjutkan, kerajinan tangan dari desa-desa wisata yang sudah sampai ke kancah internasional pun juga patut mendapat sorotan lebih.

“Desa wisata di pacitan juga keren-keren. Industri kreatifnya juga tidak mengenal musim . Saya pernah mendatangi pengrajin batu di mana pengrajinnya telah didatangi oleh pelanggan dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Para pengrajin di Pacitan terus menghasilkan produk yang menarik tak peduli musim atau tidak,” kata Khofifah.

Khofifah lantas menekankan bahwa konektivitas ke Kabupaten Pacitan dan daerah Mataraman lain memerlukan perhatian khusus. Dengan itu, keindahan Pacitan bisa lebih dipromosikan, sehingga wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, bisa menikmati indahnya pesona wisata Pacitan.

“Goa-goa di Pacitan ini juga cukup banyak. Mulai dari wisata alam, religi, kuliner, olahraga, banyak sekali yang bisa dijual oleh Pacitan. Terutama yang terpenting adalah pembangunan infrastruktur dan menarik investor yang tepat. Dengan itu, semua wisatawan dapat makin menikmati keindahan Pacitan, baik wisatawan lokal atau internasional,” tutupnya. (poedji)

Pantai Sijile Punya Keindahan dan Eksotisme yang tak Ada Duanya

SITUBONDO, JAYAKARTA NEWS-Keindahan pantai Sijele yang ada di wilayah kabupaten Situbondo bakal menjadi jujugan wisatawan. Tempatnya indah dan eksotisme cukup menawan.

Tren wisata saat ini lebih berorientasi pada alam. Kalau sebelumnya Pantai Sijile masih relatif sulit dijangkau karena ketiadaan infrastruktur yang layak, maka setelah ini harus siap-siap kebanjiran wisatawan.

Hal itu dikemukakan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa saat mengunjungi Pantai Sijile Senin(9/1) usai meresmikan jalan Merak-Blauran yang dekat dengan Pantai Sijele yang di Situbondo.

“Pantai Sijile ini indah sekali, terumbu karang yang menjadi rumah bagi ikan dan berbagai biota laut lainnya pun masih terjaga dengan baik. Ini menjadi daya tarik yang sangat luar biasa,” ujarnya.

Khofifah menyatakan, bahwa keindahan Pantai Sijile tidak perlu diragukan karena Pantai ini masih belum terjamah alias masih perawan. Apalagi ada tujuh pantai lain yang bersambung di Situbondo yang juga masih perawan sehingga panorama yang ditawarkan sangat natural dan original.

“Arus air laut di pantai ini tenang, nyaris tak ada riak dan tak terlalu dalam. Sangat cocok untuk berenang maupun wisata air lainnya. Jadi bagi masyarakat Jawa Timur yang berkunjung ke Situbondo harus mampir menikmati keindahan Pantai Sijile,” tambahnya.

Terkait dukungan infrastruktur, Khofifah menyampaikan akan terus diihtiarkan oleh Pemkab Situbondo serta Pemprov Jawa Timur untuk meningkatkan aksesibilitas infrastruktur wisata yang ada di Situbondo. Menurutnya, Situbondo memiliki banyak pantai sehingga membutuhkan dukungan infrastruktur guna pengembangan sektor pariwisata.

“Pembangunan infrastruktur akan dilakukan secara bertahap, harapannya jika sektor pariwisata semakin berkembang maka kesejahteraan masyarakat sekitar pun akan meningkat,” pungkasnya. (poedji)

“Raja Ampat Baru” di Pulau Tawale Halmahera Selatan Maluku Utara, Sandiaga: Luar Biasa Indahnya

PULAU TAWALE, JAYAKARTA NEWS – Siapa sangka ternyata ada Raja Ampat Baru di Pulau Tawale Halmahera Selatan, Maluku Utara. Satu kabar gembira bagi para pecinta wisata alam, sebab ada alternatif destinasi yang tak kalah cantiknya dengan yang ada di Papua Barat.

Hal itulah yang menarik perhatian Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno saat melihat langsung wisata bawah laut yang ada di Maluku Utara, terutama di Kabupaten Halmahera Selatan.

Didampingi Bupati Halmahera Selatan, Usman Sidik, Menparekraf Sandiaga mengunjungi gugusan Pulau Tawale, Sabtu (26/11/2022), yang berada di Pulau Kasiruta. Destinasi wisata ini dapat ditempuh sekitar satu jam lamanya dari Pulau Bacan.

Dalam kunjungan tersebut, Sandiaga dan Usman menyempatkan diri berenang dan mengayuh perahu kayak di sekitar Gugusan Pulau Tawale. Dari situ, ia benar-benar mendapati ada pulau dengan daya tarik pendukung yang tak kalah indahnya dengan Raja Ampat di Papua Barat. Sehingga wajar jika kawasan tersebut pun dijuluki sebagai Raja Ampat Baru oleh pendatang.

Sandiaga pun menceritakan pengalamannya berenang yang menurutnya, Gugusan Pulau Tawale menyajikan beraneka ragam biota laut sehingga menjadi suatu pengalaman yang sangat membekas dan berharga baginya.

Ia juga mengatakan, Pulau Tawale sangat mengesankan karena menyuguhkan hamparan hutan hijau serta air laut berwarna biru nan jernih.

“Ini adalah pengalaman yang tidak terlupakan. (Gugusan Pulau Tawale) luar biasa indahnya, itu betul-betul ‘gate of heaven’. Apalagi, Halmahera Selatan ini merupakan salah satu spot diving terbaik di dunia,” kata Sandiaga.

Sandiaga mengatakan Halmahera Selatan tidak hanya memiliki Gugusan Pulau Tawale sebagai destinasi wisata bawah lautnya. Masih banyak lagi destinasi wisata bawah laut di Halmahera Selatan yang bisa dieksplorasi dan dikembangkan sehingga bisa membangkitkan ekonomi dan membuka lapangan kerja di Maluku Utara, khususnya di Halmahera Selatan.

“Saya melihat selain ekonomi berbasis sumber daya alam yang menjadi tulang punggung sekarang, kita juga harus kembangkan ekonomi berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif. Agar pergerakan ekonomi di Halmahera Selatan semakin meningkat dan membuka peluang usaha dan lapangan kerja,” katanya.

Sandiaga mengatakan, keindahan Maluku Utara mengingatkan Indonesia sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang beraneka ragam, terutama kekayaan biota lautnya.

Terutama di kawasan Indonesia Timur yang ternyata masih banyak daerah-daerah lain di Indonesia Timur yang punya potensi wisata bawah laut yang indah dan kaya, contohnya di Provinsi Maluku Utara.

Menurut Sandiaga, Maluku Utara tidak hanya dianugerahi dengan pemandangan permukaan laut yang indah dihiasi dengan gugusan kepulauan dan gunung, namun juga dilengkapi dengan keindahan bawah laut yang mempesona yang bisa dijadikan daya tarik wisata unggulan.***/uli

Desa Wisata Keris Aeng Tongtong Sumenep Raih Juara I ADWI 2022 Kategori Daya Tarik Pengunjung

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Prestasi membanggakan ditorehkan Desa Wisata Keris Aeng Tongtong Kabupaten Sumenep, Madura, di ajang nasional Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 besutan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Minggu (30/10).

Dalam ajang yang diikuti oleh 3.419 desa wisata dari 34 Provinsi di seluruh Indonesia tersebut Desa Aeng Tongtong Kabupaten Sumenep berhasil menyabet dua gelar luar biasa.

Pertama Desa Aeng Tongtong memecahkan Rekor MURI sebagai Desa dengan Empu Keris Terbanyak di dunia. Berikutnya, Desa Aeng Tong Tong juga dinobatkan sebagai Juara I ADWI 2022 Kategori Daya Tarik Pengunjung.

Atas prestasi membanggakan ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya. Dikatakan Khofifah, capaian ini adalah buah dari keuletan dan kreativitas warga Desa Aeng Tongtong dalam melestarikan warisan budaya leluhur.

“Bangga bercampur bahagia mendapat kabar Desa Aeng Tongtong, Sumenep berhasil menyabet Juara 1 Kategori Daya Tarik Pengunjung pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022,” tegas Gubernur Khofifah, Kamis (3/11).

“Tidak berhenti disitu, Desa Wisata Keris Aeng Tongtong juga berhasil mendapatkan rekor MURI sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak di dunia. Ini menjadi prestasi membanggakan dari Kabupaten Sumenep,” lanjutnya.

Lebih lanjut dijelaskan Gubernur Khofifah, ada keunggulan hal yang menjadikan Desa Aeng Tongtong mampu memecahkan Rekor MURI sebagai Desa Dengan Empu Keris Terbanyak.

Pasalnya di Desa Aeng Tongtong, Sumenep, Madura, Jawa Timur ini terdapat 446 terdiri empu pembuat keris. Yang rincinya terdiri dari 440 empu laki-laki dan 6 empu perempuan.

Diketahui, Desa Wisata Keris Aeng Tongtong ini menjadi salah satu dari tiga desa wisata di Indonesia yang memecahkan Rekor MURI dalam ajang ADWI 2022.

Begitu juga selanjutnya untuk pretasi membanggakan Juara 1 Kategori Daya Tarik Pengunjung. Dikatakan Gubernur Khofifah, desa ini memiliki keunggulan berupaya daya tarik pelestarian budaya yang kuat. Juga memiliki keunikan yang belum tentu dimiliki desa wisata lain yaitu para pande atau empu pembuat keris.

Tidak hanya itu, di desa wisata satu ini juga mampu menyajikan Aktivitas Wisata untuk para wisatawan berupa proses ketika para pande mulai membuat keris. Dimana hasil keris dari desa Aeng Tongtong memiliki nilai kreativitas dan inovasi yang tinggi serta memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Aktifitas pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong tentunya tidak lepas dari peninggalan para leluhur yang dulunya juga seorang Empu pembuat keris. Sehingga sampai hari ini pun aktifitas pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong tetap berlangsung dan sudah menjadi penghasilan atau mata pencaharian sebagian besar masyarakat di samping bercocok tanam dan lain-lain,” tandas Gubernur Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menegaskan Warga Desa Aeng Tongtong selain banyak yang menjadi pengrajin atau pembuat keris, banyak pula yang menjadi pedagang keris di beberapa kota di pulau Jawa. Lantaran keunikan dan kekhasan produk kerisnya, pesanan keris pun datang silih berganti pada para empu atau pande keris Desa Aeng Tongtong.

Selain melayani pembeli yang menginginkan kerisnya sebagai koleksi, para empu juga melayani pembuatan untuk oleh-oleh dibawa pulang.

“Dan yang membanggakan, keris asal Desa Aeng Tong Tong Jawa Timur juga menjadi suvenir side event G20 yang diselenggarakan di Bali 26 – 28 Oktober 2022. Hal ini menjadi kesempatan emas mengantarkan Keris dari Aeng Tong Tong semakin dikenal dunia,” tandas Gubernur Khofifah.

Sebagai informasi Desa Wisata Keris Aeng Tongtong adalah salah satu di antara beberapa wilayah penghasil dan pembuat keris yang terdapat di pulau Madura. Secara geografis Desa Aeng Tong Tong termasuk wilayah dataran tinggi dan sebagian besar dataran rendah yakni berupa pegunungan dan perbukitan.

“Terima Kasih dan selamat kepada Desa Aeng Tongtong, semoga kabar baik ini membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat desa. Dan, yang paling utama warisan leluhur tetap terjaga dengan baik dan terus lestari. Bravo Sumenep!” pungkasnya. (poedji)

Yuk Pahami Perbedaan Kelas pada Kereta Api

JAYAKARTA NEWS – Kamu suka jalan-jalan naik kereta api? Ya, moda transportasi kereta api memang jadi andalan karena cepat dan bebas dari kemacetan. Traveler yang memilih naik kereta api biasanya ingin menikmati pemandangan selama dalam perjalanan. Maka tidak heran, apabila banyak masyarakat menjadikan kereta api sebagai transportasi favorit mereka untuk bepergian, termasuk saat berlibur. Apalagi, harga tiket kereta api terbilang cukup terjangkau.

Tapi, pernah nggak sih penasaran tentang perbedaan kelas kereta api yang disediakan oleh KAI? Nah, mengetahui perbedaan kelas kereta api sangat penting buat kamu yang mau pesan tiket kereta api lho agar kamu bisa menikmati layanan dan fasilitas sesuai keinginan. Apa saja kelasnya? Yuk, simak penjelasan di bawah ini yang dikutip dari Laman KAI, Jumat (4/11).

1. Kelas Ekonomi

Kelas ekonomi merupakan kelas yang paling ekonomis dari semua kelas di kereta api. Kereta api kelas ekonomi memiliki 80 hingga 106 kursi dalam satu kereta, dan merupakan kelas dengan kursi paling banyak.

Saat ini, kondisi kelas kereta satu ini banyak mengalami perubahan mulai dari adanya AC hingga stop kontak. Sama seperti yang lain, Kelas ini juga memiliki rak bagasi untuk menaruh barang-barang dan toilet yang bersih.

Ada beberapa tipe kereta ekonomi, yakni tipe ekonomi dengan kapasitas 106 kursi, ekonomi dengan kapasitas 80 kursi, dan kapasitas 64 kursi yang khusus diprioritaskan untuk difabel, lansia, dan pelanggan berkebutuhan khusus. Untuk rangkaian ekonomi yang terbaru adalah ekonomi new image, dan ekonomi premium.

Kelas ekonomi premium merupakan penyempurnaan dari ekonomi new image. Dimana sama-sama memiliki kapasitas 80 penumpang. Tempat duduknya juga dibagi menjadi dua, ada yang sejalan dengan arah laju kereta dan ada yang berlawanan dengan arah laju kereta. Kamu nggak perlu khawatir pegal saat perjalanan, karena di kelas ini sudah dilengkapi model reclining seat dan arm rest.

2. Kelas Bisnis

Kelas bisnis memiliki fasilitas sedikit berbeda dengan Kelas Eksekutif yaitu tidak adanya reclining seat. Posisi kursi duduk juga bisa diubah sesuai keinginan penumpang, jika ingin berhadapan dengan kursi di depan atau belakangnya. Seperti halnya kelas ekonomi, di kelas bisnis pun sudah ada AC dan colokan listrik.

3. Kelas Eksekutif

Jika ingin mendapatkan kenyamanan lebih, pilihlah kelas eksekutif. Di dalam kereta hanya menampung kapasitas 50 penumpang. Fasilitas yang akan kamu dapatkan pun lebih maksimal. Susunan tempat duduk kelas eksekutif adalah 2-2. Kursinya empuk dan bisa diatur sesuai keinginan. Ruang kakinya lebar dan ada pijakan kaki, sehingga kamu lebih nyaman ketika meluruskan kaki.

Kelas ini juga telah dilengkapi dengan colokan listrik, selimut, televisi, meja makan, toilet, AC, bahkan wifi yang tersedia di beberapa kereta. Waktu tempuh kereta eksekutif juga lebih cepat, karena tidak berhenti di banyak stasiun.

4. Luxury

Ingin jalan-jalan naik kereta dengan kenyamanan yang lebih? Kamu berarti harus banget buat pesan tiket kereta api luxury. Kereta api luxury atau sleeper train generasi pertama berkapasitas 18 tempat duduk yang diperkenalkan pada tahun 2018 lalu. Selain kursi empuk dan bisa disandarkan dengan kemiringan 170 derajat, fasilitas lainnya antara lain pembatas antar penumpang, entertaiment on board, laci penyimpanan, lampu baca, stop kontak, dan headphone.

Selanjutnya, ada pula kereta api luxury generasi kedua berkapasitas 26 tempat duduk yang diperkenalkan pada tahun 2019. Fasilitas yang kamu bisa nikmati di antaranya lampu baca, stop kontak, dan kursi yang bisa disandarkan hingga 140 derajat. Selain itu, pada kelas ini, KAI juga berikan fasilitas gratis makan berat satu kali, snack/camilan, dan minuman.

Kamu juga bisa menikmati fasilitas ruang tunggu luxury yang tersedia di beberapa stasiun. Jadi sambil nunggu kereta kalian bisa ngeteh atau ngopi disini secara gratis.

Seru bukan jika memilih moda transportasi kereta api untuk perjalananmu. Nah, dari sederet jenis kelas dalam kereta api tersebut, mana kira-kira yang akan kamu pilih untuk perjalanan berikutnya?

Keputusan untuk naik jenis kelas kereta api ekonomi, bisnis, eksekutif, ataupun luxury semua tergantung pilihan kamu. Intinya, apa pun pilihan kelas kereta apimu, jangan lupa pesan tiketnya lewat aplikasi KAI Access karena lebih mudah dan tidak perlu repot ke stasiun.

“Kami menyediakan berbagai kelas bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanannya menggunakan kereta api. Walaupun memiliki banyak kelas, kami tetap akan melayani pelanggan dengan sebaik mungkin dan tetap mengutamakan keselamatan. Harapannya mampu mempertahankan pelanggan setia serta menarik para pelanggan baru KAI. Terima kasih atas kepercayaan masyarakat memilih kereta api sebagai moda transportasi,” pungkas Vice President Public Relations KAI Joni Martinus.***/mel

Hilismaetano, Magnet Wisata Kepulauan Nias

JAYAKARTA NEWS – Ini tentang Desa Hilismaetano di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Sebuah Desa Cagar Budaya yang wajib Anda kunjungi jika bepergian ke Kepulauan Nias. Tidak berlebihan memang jika menyebut desa yang satu ini sebagai magnet wisata Nias.

Cukup beralasan pula mengapa Desa Hilismaetano menjadi begitu kaya akan ragam budaya beserta situs peninggalan masa lampau. Bisa jadi, ini erat terkait dengan sejarah imigrasi suku “Ono Niha” ke Nias pada tahun 1350 M.

Permukiman pertama yang didirikan berada di Sifalagö Gomo, Nias Selatan. Orang-orang Ono Niha dikenal memiliki pengetahuan unggul untuk teknik bangunan dan pembuatan alat besi. Dari Gomo mereka tersebar ke seluruh pulau sampai semua orang Nias menyebut diri mereka Ono Niha.

Saya berkesempatan melihat langsung budaya Desa Hilismaetano bersama rombongan Fam Trip Disbudpar Sumut, beberapa waktu lalu. Kami disambut Kepala Desa Hilismaetano, Formil Dakhi S.Pd.K beserta perangkat desa, serta masyarakat setempat.

Tari Fanema Tome khusus penyambutan tamu di Desa Hilismaetano saat kedatangan tamu rombongan Fam Trip Disbudpar Sumut. (Foto Monang Sitohang)
Kepala Desa Hilismaetano, Formil Dakhi S.pd.K saat menerrima dan mendampingi Fam Trip Disbudpar Sumut. (Foto: Monang Sitohang)

Sanggar Budaya

Laksana tamu kehormatan, kami disambut tarian indah Fanema Tome. Sebuah tarian adat Nias Selatan yang spesial untuk menerima tamu-tamu kehormatan. Ciri khas para penari terletak pada busana yang dikenakan.

Para penari putri mengenakan pakaian adat Õröba Si’öli. Sementara, penari pria mengenakan pakaian adat yang disebut Baru Oholu. Pakaian adat tersebut memiliki warna khas, yakni warna emas atau kuning yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih.

Para penari Fanema Tome tadi tergabung dalam sanggar Ansambel Musik Hilisimaetano. Mereka biasanya memang mendapat peran menari di pintu gerbang desa, Bawagoli.

“Kami memiliki beberapa sanggar sebagi sarana latihan pemuda-pemudi. Khusus anak-anak ada sanggar budaya cilik yang melatih usia dini untuk mempelajari seni tari Hilisimaetano,” ujar Kristiaman Dakhi, S.Kom, Sekdes Hilismaetano.

Kristiaman Dakhi, S.Kom, Sekdes Desa Hilismaetano. (Foto. Monang Sitohang)

Ia pun menyebut sejumlah nama sanggar. Di antaranya Faluaya, Hoho dan Mogaele. Nama terakhir adalah saggar khusus untuk perempuan. “Sanggar-sanggar itu juga ada yang mengajarkan seni melompat batu yang memang menjadi atraksi unggulan Nias,” ujar Dakhi kepada Jayakarta News.

Di Nias Selatan, anak-anak diajari melompat batu sejak usia 8 tahun. Lompat batu dalam bahasa Nias disebut hombo atau fahombo. Saat bocah, mereka diajarkan melompati batu yang tentu saja masih rendah. Bahkan bukan batu, melainkan replika kayu berbentuk tumpukan batu.

Lompat batu adalah uji ketangkasan, umumnya untuk pria. Zaman dahulu, tingkat kematangan seorang pria adalah ketika sudah berhasil melompati tumpukan batu setinggi 2 meter. Itu artinya, ia sudah siap menjadi prajurit desa.

Lompat batu, salah satu atraksi tradisional di Desa Hilismaetano, Nias Utara. (Foto Monang Sitohang)

Puncak Nias

Jika Hilismaetano menjadi Desa Cagar Budaya, wajar adanya. Desa seluas 10 km persegi ini dihuni 1.932 warga dari 576 KK. Selain dataran rendah, Hilismaetano juga memiliki sejumlah bukit. Di desa ini terdapat 69 unit rumah adat, serta enam unit home stay dengan nuansa adat Nias yang pekat.

Mayoritas warga Hilismaetano bermata pencaharian sebagai petani. Tak heran jika desa ini menjadi lumbung padi tebesar di Kepulauan Nias.

Percayalah, tidak cukup waktu sehari untuk menikmati semua keindahan desa ini. Banyak objek wisata di sana yg bakal memanjakan Indra penglihatan Anda.

Selain bisa menikmati air terjun berketinggian 50 meter, Anda juga bisa menikmati sejumlah air terjun “anakan” dengan ketinggian sekitar 5 meter. Aneka pohon keras di sekelilingnya, membuat Anda serasa berada di “surga-belantara”.

Belum lagi jika Anda naik ke atas bukit. Dari atas, Anda bisa menyapu-pandang hamparan Nias Selatan yang “ijo royo-royo”. Saat ini, otoritas pariwisata setempat juga mengembangkan kawasan puncak yang lain, dengan spot pemandangan yang mirip, dengan sentuhan yang berbeda.

Ritual Kuno

Bukan satu-dua hasil riset yang menyebutkan, daerah Hilisimaetano di Nias Utara adalah cikal-bakal peradaban Nias yang kita kenal sekarang. Tonggak waktu yang dicatat para periset tadi adalah tahun 1350 M. Jika dihitung tahun, usianya sudah 6 abad lebih. Persisnya 672 tahun yang lalu.

Menyadari fakta sejarah, otoriras Desa Cagar Budaya di sana pun sangat memelihara tradisi dan adat leluhur. Salah satu yang ditampilkan kepada rombongan Fam Trip Disbudpar Sumut adalah atraksi Famadaya Harimao.

Famadaya Harimao (Lawölö Fatao) adalah ritual tolak bala dan penetapan hukum-hukum adat yang berlaku di Desa Hilisimaetanö dan daerah sekitarnya. Pada ritual ini, dilaksanakan Fo’ere (doa-doa kuno), serta perarakan patung yang disebut Lawölö Fatao serta diiringi prajurit-prajurit Desa Hilisimaetanö. Atraksi itu kini dibalut peragaan perang seorang prajurit melawan musuh.

Ibu-ibu di Desa Hilismaetano mempertunjukkan cara membuat Sòu (topi). Kegiatan menyulam ini disebut “mobewewò”. (Foto: Monang Sitohang)

Menenun dan Menumbuk

Kami, peserta Fam Trip Disbudpar Sumut pertama-tama diberikan topi yang mereka sebut sou. Itulah tradisi untuk menandai bahwa kami telah “dilindungi” di Desa Hilisimaetano. Bagaimana cara membuat sou (topi khas Nias), pun dipertunjukkan kepada kami.

Tampak sekelompok emak-emak tengah menyulam sou. Kegiatan itu mereka namakan “mobewewò“.  Beberapa peserta Fam Trip ada yang tertarik mencoba bagaimana cara membuat topi sou.

Tak jauh dari situ, kami diperlihatkan aktivitas emak-emak menumbuk padi di Losu. Cara tradisional mengolak padi hasil panen menjadi beras yang siap ditanak.

Selagi kaum ibu mengolah makanan di dapur, anak-anak pun bermain. Itulah yang dipertontonkan kepada kami. Sebuah permainan anak-anka yang disebut Fasukhu-sukhu dimainkan sejumlah anak berpakaian adat dengan riang gembira.

Fa + Sukhu artinya Mencari Sisir. Sisir yang hilang sebagai sumber permainan. Sejumlah anak berdiri sambil memeluk pinggang kawan di depannya, sehingga membentuk barisan memanjang ke belakang. Anak terdepan mengucapkan pekataan “he so zukhugu?” yang artinya “Di mana sisirku?” kepada anak yang ada di belakangnya.

Nah, anak di belakang harus cepat menjawab dengan jawaban “sukhu me furigu” yang artinya “Sisirmu ada di belakangku”. Begitu seterusnya diulang-ulang, hingga tiba giliran anak yang berada di paling belakang. Ia tentu tidak lagi bisa menjawab “sukhu me furigu”, karena di belakangnya tidak ada siapa-siapa.

Dalam permainan itu, anak paling belakanglah yang bersalah. Maka, anak terdepan akan mengejar anak yang paling belakang tapi tetap dalam formasi berbaris memegang pinggang. Jadilah gerakan kepala mengejar ekor yang lucu. Permainan anak yang sangat menghibur.

Bisa kiranya Fasukhu-sukhu diangkat menjadi permainan anak Nusantara, yang masuk kurikulum dan bisa dimainkan seluruh anak di Indonesia. Ia tak kalah menariknya dengan permaina anak nusantara lain, seperti gobak sodor, egrang, patil lele, dan sebagainya.

Keseluruhan acara di Desa Hilisimaetano hari itu, ditutup dengan santap kuliner tradisional. Seorang ibu-ibu menyebutkan nama makanan yang dihidangkan. Saya mendengar ada yang disebut babae, fowi nitutu, kofo-kofo, kamumu nib aba ndrua, sagu nibiniogo, dan gowi nibe balae.

Salah satu home stay di Desa Hilismaetano saat dikunjungi rombongan Fam Trip Disbudpar Sumut. (Foto. Disbudpar Sumut)

Last but not least, perlu kiranya dicatat informasi ini. Bahwa Desa Hilisimaetano ditetapkan sebagai Desa Cagar Budaya oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nias Selatan dan Sumatera Utara pada tanggal 27 Oktober 2022. Ketika itu hadir Bupati Nias Selatan, Dr Hilarius Duha, SH, MH serta Kepala Badan Arkeologi Sumut dan Tim Cagar Budaya Sumut.

Desa Hilisimaetano bahkan terpilih menjadi salah satu dari 50 desa wisata terbaik katagori desa. Untuk itu, desa ini beroleh Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kemenparekraf. (Monang Sitohang)

Fam Trip Nias Selatan, Dari Lompat Batu Sampai Batu Megalit

JAYAKARTA NEWS – Fam Trip atau Familiarization Trip merupakan perjalanan untuk memperkenalkan destinasi-destinasi wisata di suatu daerah. Ini salah satu langkah promosi pariwisata. Seperti yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Utara yang melakukan Fam Trip ke Nias Selatan, 25-28 Oktober 2022.

Peserta rombongan Fam Trip berjumlah 26 orang. Dari Disbudpar Sumut antara lain Dedi Arian Rizki Siregar, S.STP, Kepala Seksi Promosi Pariwisata, Novita Rahayu, S.Par, Septiana Perdana, Afdal Hadi Matondang, Martina Sanova Purba, Putri Pariwisata 2022, dan Elma Hana Hasibuan. Peserta lain di antaranya pelaku pariwisata dari ASPPI, HPI, media TV, Elektronik, fotografer dan content creator. 

Melalui penerbangan Citilink IW 1269 rombongan Fam Trip berangkat dari Bandara Kualanamu pukul 10.20 WIB. Tiba di bandara Binaka Nias pukul 11.20 WIB, lanjut menuju rumah makan yang tidak jauh dari bandara. Usai makan langsung menuju destinasi pertama, Desa Wisata Hilisimaetano. Perlu waktu perjalanan sekitar tiga jam di tengah guyuran hujan.

Salah satu peserta bernama Thomas Ginting. Ia ternyata seorang content creator yang sudah 4 kali mengikuti Farm Trip Disbudpar Sumut. “Awalnya saya tahu di IG Disbudpar Sumut yang sedang mencari sepuluh content creator. Saya mendaftar, ternyata lolos. Yang pertama saya ikut Fam Trip ke ke Tangkahan, disusul Langkat dan Nias Selatan 2 kali,” ujar Thomas kepada Jayakarta News.

Setelah Fam Trip, video-videonya pun ditayangkan di Instagram Thomas Ginting. “Artinya saya siap turut serta mempromosikan dan ikut berperan dalam pengembangan pariwisata Sumut,” ujarnya.

Rombongan Fam Trip foto bersama dengan masyarakat desa wisata Hilisimaetano, Nias Selatan. (Foto. Disbudpar Sumut)

Lompat Batu

Tiba di Desa Wisata Hilisimaetano, rombongan disambut Kabid Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Liberty fau, Kabid Pemasaran Yan Prince Laoli dan perangkat desa serta masyarakat. Sebuah tarian selamat datang menyambut mereka. Tak lama, satu per satu peserta mendapatkan topi hasil kerajinan masyarakat desa Hilisimaetano.

Yang menarik adalah atraksi lompat batu yang sudah kesohor. Atraksi yang tak kalah menarik lainnya adalah Famadaya Harimao, Maluaya (Tari Perang) dan lainnya. Famadaya Harimao (Lawölö Fatao) adalah ritual tolak bala dan penetapan hukum-hukum adat yang berlaku di Desa Hilisimaetanö dan daerah sekitar.

Usai menyaksikan atraksi wisata budaya di Desa Hilisimaetano, peserta melakukan foto bersama dengan membentangkan spanduk Fam Trip Nias Island 2022. Saat pengambilan video pendek, mereka bersama-sama mengucapkan, “Mari berwisata DiSumutAJA”.

Rombongan pun menuju Baga Resort Hotel yang terletak di Jalan Lagundri Km. 12, Desa Laundri, Kec. Luahagundre Maniamolo, Kab. Nias Selatan, untuk istirahat.

Lompat batu merupakan warisan dari suku Nias yang hingga kini masih ada. (Ilustrasi oleh Muhammad Lazuardi)

Batu Megalit

Hari kedua, rombongan Fam Trip menuju Situs Batu Megalit di Desa Lahusa Idanotae, Tundrumbaho. Tiba di sana pukul 11.30. Pimpinan Fam Trip, Shan Ilano dari HPI Sumut mengajak peserta makan terlebih dahulu sebelum menuju situs Batu Megalit.

Usai makan, rombongan berjalan kaki sekitar 15 menit menyusuri jalan menanjak. Di beberapa bagian yang terjal, jalanan dibuat undak-undakan. Tiba di lokasi, rombongan disambut Tari Elang (Tari Moyo). Tarian itu merupakan bagian dari ritual sebelum berkunjung ke situs Batu Megalit.

Menurut penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Medan melalui analisis metode carbon dating, situs ini tercatat antara 460 – 220 tahun yang lalu. Situs bersejarah ini, sejak tahun 2021 sudah mulai ditata, agar semakin banyak wisatawan domestic dan manca negara berkunjung ke sana.

Situs Batu Megalit di Desa Lahusa Idanotae, Tundrumbaho. (foto: jadesta.kemenparekraf.go.id)

Usai meninjau Situs Batu Megalit, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Desa Wisata Hilinawalo Fau Batu Salawa, Kecamatan Fanayama. Jalur yang berliku tajam, diseling sejumlah tanjakan terjal, menjadikan perjalanan terasa lebih eksotik.

Setelah dua jam perjalanan, rombongan tiba di lokasi, dan kembali disambut tarian adat. Rombongan juga dijamu kuliner lokal seperti, babahe, nasi yang dimasak dengan periok tanah. Ada kolak, lepat ubi, air minum daun pepaya dan lainnya.

Desa Hilinawalo Batusalawa merupakan satu dari empat desa yang masih memiliki Omo Nifolasara (Rumah Adat Besar dengan hiasan kepala lasara yang merupakan rumah tempat tinggal Si’ulu). Keberadaan Omo Nifolasara yang sudah berusia sekitar 10 generasi ini terbilang unik, dan memberi daya tarik tersendiri bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Selain itu, Desa Hilinawalo Batusalawa menjadi salah satu dari sedikit desa-desa adat di Nias yang masih memiliki kelengkapan elemen-elemen desa adat khas Nias Selatan seperti: Gerbang desa (Bawagoli), Susunan batu yang menjadi poros desa (Iri Newali), Batu pusat desa (Fuso Newali/Fuso Banua), Tugu lompa batu (Hombo batu), Situs musyawarah adat (Ewali Orahua), Rumah raja (Omo Nifolasara), Pancuran batu tempat pemandian umum (Hele), dan sebagainya.

Desa Hilinawalo Fau/Hilinawalo Batusalawa merupakan desa adat karena selain dikelola berdasarkan prinsip hukum administrasi negara, juga diatur menurut hukum adat lokal yang telah berlaku selama ratusan tahun, dan mengambil wujud dalam relasi antara Si’ulu (Bangsawan), Si’ila (Kaum cerdik pandai) dan Sato (Masyarakat).

Pantai Shorake

Pulang dari Hilinawalo Fau, rombongan menuju ke penginapan. Makan malam digelar di Pantai Shorake. Shorake adalah pantai yang bersebelahan dengan pantai Lagundri yang legendaris. Kawasan pantai yang satu ini, terkenal dengan ombaknya yang besar sehingga sangat cocok untuk kegiatan berselancar. Setiap tahun banyak wisatawan terutama wisatawan manca negara berselancar di pantai ini.

Museum Pusaka Nias. (foto: museum-nias.org)

Museum Pusaka

Hari ketiga, peserta Fam Trip Disbudpar Sumut bergeser Gunungsitoli. Sebelumnya, mereka singgah ke Walo Green Beach dengan jarak tempuh setengah jam. Puas menikmati pantai dengan berfoto-foto, rombongan menempuh perjalanan dua jam menuju Miga Beach Hotel di Kota Gunungsitoli.

Usai makan siang beteman desiran ombak, rombongan menuju Museum Pusaka Nias di Jalan Yos Sudarso Ujung No.134-A, Iraonogeba, Kec. Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli. Hujan kembali turun sesaat setelah tiba di dalam area museum.

Museum Pusaka Nias dikelola oleh Yayasan Pusaka Nias yang bersifat sosial dan nirlaba. Kegiatan utamanya berfokus pada pelestarian budaya Nias. Yayasan Pusaka Nias didirikan oleh Pastor Johannes Hammerle yang telah bekerja di Nias sejak tahun 1971.

Museum ini dijadikan basis kegiatan pelestarian budaya Nias mulai dari pengumpulan berbagai artefak budaya Nias, hingga pameran artefak. Selain itu juga untuk penelitian, termasuk penerrbitan buku budaya Nias.

Masih banyak kegiatan lain yang dilakukan Museum Pusaka Nias. Di antaranya, mendampingi masyarakat desa adat dalam merehabilitasi rumah-rumah adat dan situs megalit di Kepulauan Nias. Termasuk, merevitalisasi seni tari dan musik tradisional. Tidak hanya merevitalisasi tetapi juga mengadakan pertunjukkan tari dan musik melalui sanggar.

Para peserta Fam Trip foto bersama di Walo Green Beach. (Foto. Yudha Bahar)

Pentahelix

Malam harinya, rombongan Fam Trip mendapatkan cenderamata dari Dedi Arian Rizki Siregar, S.STP, Kepala Seksi Promosi Pariwisata dari Disbudpar Sumut. Sebelumnya, Dedi Arian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk promosi sekaligus pengenalan destinasi wisata yang dilakukan secara penthahelix.

Kolaborasi pentahelix adalah sebuah kerja bersama yang melibatkan banyak unsur terkait, di antaranya pemerintah, unsur masyarakat, akademisi, pengusaha, dan media.  “Komitmen dan sinergi antar unsur menjadi kunci utama,” tambahnya.

Kepada para travel agent, Dedi mempersilakan bikin kemasan paket wisata ke Nias. Kepada media, ia juga meminta bantuannya dalam memasarkan pariwisata Nias pada khususnya, dan Sumatera Utara pada umumnya.

Dalam kesempatan itu, salah seorang pelaku pariwisata dari DPD ASPPI Sumut Achmad Fauzi Lubis SE yang juga owner PT. Fauzi Haya Tour and Travel mengatakan baru pertama kali ikut Fam Trip Disbudpar Sumut. “Sebagai operator saya dan teman-teman ASPPI akan mengemas paket wisata ke destinasi-destinasi yang dikunjungi, untuk dipasarkan ke wisman dan turis lokal,” ujar Fauzie. (Monang Sitohang)

Kemenparekraf Fasilitasi 800 Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dapatkan Sertifikasi SNI CHSE

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan memfasilitasi 800 pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif di seluruh Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE) sepanjang 2022. Ini merupakan bagian dari upaya untuk mengembalikan kepercayaan wisatawan untuk berwisata dengan aman, nyaman, dan sehat di Indonesia.

“Kami harapkan melalui program ini, akan bertambah 800 usaha di sektor parekraf yang tersertifikasi SNI CHSE,” ujar Menparekraf  Sandiaga Salahuddin Uno, dalam Weekly Brief With Sandi Uno, yang diakses di laman YouTube Kemenparekraf, Selasa (18/10/2022).

Sandiaga mengungkapkan, sejak 2020 hingga tahun 2021, pihaknya telah memfasilitasi sebanyak 11.986 usaha pariwisata agar tersertifikasi CHSE di seluruh Indonesia.

“Menurut survei yang dilakukan pada 2022 sebanyak 53 persen wisatawan lebih memilih hotel dengan pertimbangan kesehatan serta protokol yang bersih dan lengkap. Hal ini terbukti dari preferensi hotel yang mengalami peningkatan pengunjung sampai 30 persen,” imbuhnya.

Guna menjamin konsistensi penerapan sertifikasi CHSE, tutur Sandiaga, Kemenparekraf bersama Badan Standardisasi Nasional pada akhir 2021 telah meluncurkan SNI 9042:2021 yang selanjutnya disebut SNI CHSE di tempat penyelenggaraan dan pendukung kegiatan pariwisata.

“Sertifikasi SNI CHSE ini bersifat voluntary atau sukarela, namun sebagai piranti penting yang diperlukan untuk membangkitkan sektor parekraf,” ujarnya.

Pendaftaran SNI CHSE melalui laman chse.kemenparekraf.go.id telah dibuka pada 15 Oktober 2022 dan akan berakhir pada 22 Oktober 2022. Terdapat beberapa tahapan seleksi dan verifikasi bagi para pelaku parekraf untuk memperoleh SNI CHSE.

“Salah satunya bagi Usaha Mikro Kecil (UMKM), yang belum pernah mendapatkan fasilitasi CHSE sebelumnya dari Kemenparekraf. Ada pula terkait kepemilikan Nomor Induk Berusaha (NIB). Mungkin yang difasilitasi adalah hotel-hotel nonbintang dan pelaku UMKM,” ujarnya.

Menparekraf berharap melalui program sertifikasi CHSE ini para pelaku dapat memberikan keyakinan lebih terkait produk pelayanan pariwisata Indonesia sudah memenuhi gold standard dan telah memenuhi aspek kesehatan, kebersihan, keselamatan, serta kelestarian lingkungan yang ketat dan disiplin sehingga semakin meningkatkan kepercayaan wisatawan domestik maupun internasional.

“Saya mengajak para pelaku usaha usaha mikro dan kecil yang memenuhi kriteria untuk segera mendaftarkan usahanya untuk mendapatkan fasilitasi pembiayaan sertifikasi SNI CHSE tahun 2022,” pungkasnya.***/mel

DPD ASPPI Apresiasi Aplikasi Pariwisata “DiSumutAJA”

JAYAKARTA NEWS – Aplikasi Pariwisata Sumatera Utara “DiSumutAJA” belum lama ini telah di-soft launching oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwasata (Disbudpar) Sumut. Soft-launching dilakukan oleh Kabid Pemasaran, Laila Jamilah Lubis di Le Polonia Hotel Medan.

Hadirnya aplikasi digital ini merupakan komitmen dari Disbudpar Sumut. Sebuah komitmen untuk mempromosikan destinasi wisata yang ada di 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara.

Ini merupakan momen untuk meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) maupun wisatawan mancanegara (wisman). Utamanya pasca pandemi Covid-19.

Melalui aplikasi ini nantinya akan mempermudah para wisnus dan wisman mengakses sejumlah informasi destinasi wisata. Di samping, untuk mendapatkan fasilitas lain.w

Hadirnya aplikasi digital pariwisata Sumut DiSumutAJA diapresiasi oleh Ketua DPD ASPPI Sumut, Erwin Lapolisa. “Saya sudah pernah melihat aplikasi DiSumutAJA. Juga mendengar penjelasan Kadisbudpar Sumut, Zumri Sulthony, M.SI, CHE saat coffee morning,” ujar Erwin di Cafe Lafabrica di Jalan Sisingamangaraja, Kota Medan beberapa hari lalu.

Setelah membuka aplikasi tersebut ternyata mempermudah para wisatawan lokal maupun mancanegara memperoleh informasi destinasi wisata. Termasuk aksesibilitas dari dan ke tempat wisatawan menuju destinasi wisata yang ada di 33 Kabupaten/Kota di Sumut. Misalkan di Kabupaten Langkat, Sibolga, Sergai dan lainnya.

Lebih Detail

Pelaku pariwisata, stakeholder dan Disbudpar Sumut berharap dalam aplikasi DiSumutAJA nantinya dapat memberikan informasi lebih detail. Utamanya informasi mengenai akses menuju ke destinasi wisata, serta bagaimana akses transportasi menuju ke objek tersebut.

Karena itu penting diketahui oleh para wisatawan sebab ada juga objek wisata yang jalannya rusak dan tidak dapat dilewati bus. Ada jalan yang hanya bisa dilalui kendaraan berbadan kecil seperti objek wisata Bukit Holbung di Kabupaten Samosir.

“Kemudian, ada informasi tiket masuk ke spot-spot wisata. Dengan begitu wisatawan bisa memperkirakan kebutuhan anggaran perjalanan. Perlu juga informasi pembayaran non tunai di lokasi-lokasi wisata,” harap Erwin yang 27 tahun bergelut di Industri Pariwisata.

Dengan begitunya wisatawan sudah mendapatkan gambaran situasi destinasi serta keuangan yang akan dibawa. Selain itu dengan adanya aplikasi DiSumutAJA menambah wisatawan tentang destinasi yang ada di Sumut. Dengan begitu, wisatawan yang tadinya ingin ke Sumut 3 hari 2 malam, maka dia harus menambah jumlah hari. Utamanya jika ingin mengunjungi Danau Toba, atau destinasi yang lain.

Karena telah banyak informasi seperti di Langkat yang terkenal dengan objek wisata Bukit Lawang dan Tangkahan. Padahal saat ini sudah ada sejumlah destinasi yang punya nilai jual tinggi. Di antaranya Taman Similir Kolam Abadi, Air Terjun Namu Belanga dan lainnya.

“Semoga dengan aplikasi DiSumutAJA dapat meningkatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan lokal dan manca negara. Dengan begitu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah,”ujar Erwin pemilik Fantasy Holidays. (Monang Sitohang)

Menhub Dukung Upaya Pelaku Usaha Pelayaran Kembangkan Potensi Wisata Bahari

BALI, JAYAKARTA NEWS – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mendukung upaya yang dilakukan para pelaku usaha pelayaran, untuk turut serta mengembangkan potensi wisata bahari di Indonesia. Diantaranya yaitu melalui pengembangan usaha kapal yacht dan kapal cruise.

“Mulai pulihnya kembali sektor pariwisata setelah pandemi menjadi momen yang baik untuk mengenalkan transportasi laut seperti kapal yacht dan kapal cruise, yang dapat mendukung kemajuan wisata bahari di Indonesia,” ujar Menhub saat menghadiri kegiatan INSA Yacht Festival yang diselenggarakan oleh Indonesian National Shipowners Association (INSA) di Pelabuhan Benoa Bali, dikutip dari Siaran Pers Sabtu (8/10).

Menhub mengapresiasi inisiatif dari INSA selaku asosiasi yang mewadahi para pelaku bisnis pelayaran yang telah melakukan upaya untuk mengembangkan wisata bahari di Indonesia. Apalagi, saat ini pemerintah tengah mengembangkan sejumlah destinasi wisata di beberapa daerah yang berpotensi dikembangkan wisata bahari, diantaranya yaitu: Danau Toba, Likupang, Mandalika, Labuan Bajo, Bali, dan lain sebagainya.

“Pesan saya, ekosistem tentang kapal yacht, kapal cruise harus dipelajari secara mendalam peluang dan tantangannya bersama para pelaku usaha pelayaran, untuk mencari pendekatan mana yang paling cepat bisa dikembangkan. Kami pemerintah akan mendukung dengan memberikan kemudahan regulasi untuk investasi,” tuturnya.

Terkait dukungan regulasi, Kemenhub telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 4 Tahun 2022 tentang Pelayanan Kapal Wisata Asing (Yacht) dan Kapal Pesiar (Cruise Ship) Asing di Perairan Indonesia. Dengan membuka sebanyak 28 Pelabuhan embarkasi dan debarkasi Kapal Wisata Asing (Yacht) dan sebanyak 10 pelabuhan embarkasi dan debarkasi Kapal Pesiar (Cruise Ship) Asing.

INSA Yacht Festival (IYF) 2022 merupakan hasil kolaborasi antara DPP INSA dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, yang menjadi bagian dari side event B20 yang puncaknya akan diselenggarakan pada November mendatang. Kegiatan ini menjadi ajang untuk mempromosikan industri wisata bahari di Indonesia dan mengenalkan kapal yacht yang bisa digunakan para wisatawan untuk menikmati keindahan laut di sejumlah destinasi wisata bahari di Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan ini Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Novie Riyanto, dan Ketua INSA Carmelita Hartoto.***/eva