Begini Cara Melacak Status Penerbangan Anda secara Real Time


Google dan FlightAware bisa membantu Anda mengetahui apakah penerbangan Anda akan ditunda—seringkali bahkan dapat info sebelum maskapai mengumumkannya.

JAYAKARTA NEWS – Mungkin Anda ingin melacak status penerbangan Anda agar ada kepastian apakah pesawat yang akan Anda tumpangi ada penundaan jam penerbangannya atau perubahan lain yang dapat mempengaruhi rencana Anda.

Anda mungkin juga ingin memeriksa kembali waktu kedatangan yang diantisipasi dari penerbangan seseorang atau orang-orang yang Anda cintai, sebelum Anda menuju ke bandara untuk menjemput mereka.

Mungkin Anda penasaran ke mana pesawat yang baru saja naiki akan pergi selanjutnya. Atau mungkin Anda melihat pesawat terbang di atas kepala dan bertanya-tanya ke mana pesawat tersebut akan pergi. Ada banyak alasan mengapa Anda mungkin ingin memeriksa status penerbangan.

Beruntungnya, kini tidak ribet lagi. Ada alat yang dapat membantu Anda melakukan semua itu. Berikut adalah beberapa aplikasi dan situs web terbaik untuk melacak penerbangan, beserta cara menggunakannya untuk memeriksa status penerbangan.

Pelacak status penerbangan
Ada berbagai aplikasi dan situs web yang membagikan informasi tentang perkiraan waktu keberangkatan dan kedatangan penerbangan Anda, tetapi beberapa juga dapat memberikan pandangan mendalam, menarik informasi seperti penerbangan sebelumnya di pesawat tersebut dan seperti apa cuaca di bandara penghubung. Berikut adalah beberapa pelacak penerbangan yang kami rekomendasikan.

Salah satu cara paling mudah dan cepat untuk memeriksa apakah penerbangan masih dijadwalkan untuk berangkat atau tiba tepat waktu adalah dengan mencarinya di Google.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah mencari “[nomor penerbangan] status” di bilah pencarian (misalnya, “GA2488 status”) dan tekan enter. Google kemudian menggabungkan berbagai situs web pelacak penerbangan dan menampilkan perkiraan waktu kedatangan dan keberangkatan di bagian atas halaman. Google juga akan menampilkan informasi terminal dan gerbang yang paling mutakhir.

FlightRadar24
Jika Anda ingin mendapatkan gambaran lengkap di mana pesawat berada dalam perjalanannya—termasuk posisi real-time—FlightRadar24 adalah sumber daya yang membantu dalam bentuk situs web dan aplikasi gratis.

Anda benar-benar dapat masuk ke detail dan melihat data seperti semua kedatangan dan keberangkatan yang dijadwalkan di bandara tertentu, termasuk jenis pesawat apa itu dan siapa pemiliknya (baik maskapai komersial maupun pemilik pesawat pribadi). Juga mungkin untuk melihat catatan penerbangan pesawat dan di mana pun pesawat tersebut telah terbang sebelumnya—termasuk hari itu atau sepanjang masa hidupnya, tergantung pada bagaimana Anda mengatur parameter pencarian.

Jika Anda telah melihat pesawat di atas kepala dan bertanya-tanya ke mana pesawat itu akan pergi, FlightRadar24 juga bisa membantu di sana. Ini dapat menampilkan semua pesawat yang terbang di sekitar Anda. Jika ada beberapa pesawat yang terbang di sekitar Anda, itu akan menampilkan semuanya, yang membuat lebih sulit untuk mengetahui pesawat mana yang Anda lihat dengan tepat, tetapi ini bisa membantu memberi Anda gambaran.

Mereka yang memilih layanan Premium (dengan tarif yang berkisar antara $10 hingga $500 per tahun, tergantung pada rencana) juga dapat mempelajari lebih lanjut tentang jenis pesawat yang tepat, seberapa cepat pesawat tersebut terbang, dan ketinggiannya.

FlightAware
Seperti FlightRadar24, FlightAware menawarkan data pelacakan penerbangan untuk semua penerbangan komersial di seluruh dunia dengan bantuan jaringan server yang menangkap posisi pesawat secara real-time.

Baik Anda seorang pelancong sering atau pecinta penerbangan, ada banyak cara untuk menggunakan layanan gratis ini (tersedia dalam bentuk aplikasi dan situs web). Jika Anda memiliki nomor penerbangan, FlightAware dapat memberikan informasi tentang waktu keberangkatan dan kedatangan yang diharapkan. Jika Anda tidak memiliki nomor penerbangan, opsi Flight Finder dapat membantu menemukan nomor penerbangan (meskipun Anda perlu tahu bandara asal dan tujuan pesawat). FlightAware juga menawarkan Peta Kesengsaraan interaktif, yang dapat menunjukkan bandara mana yang saat ini mengalami masalah (dan lebih spesifik lagi, rute mana yang mengalami penundaan dan pembatalan pada hari itu).

FlightAware tersedia sebagai aplikasi atau situs web gratis, dengan kemungkinan pencarian lima penerbangan per bulan. Setelah itu, ada beberapa layanan premium, dengan harga yang berkisar antara $40 hingga $130 per bulan, tergantung pada seberapa dalam Anda ingin melacak penerbangan, seperti melacak lebih banyak penerbangan atau mengikuti pesawat tertentu dari waktu ke waktu.

Bagaimana aplikasi dan situs web pelacakan penerbangan bekerja?
Aplikasi dan situs web pelacakan penerbangan melacak penerbangan secara real-time, di seluruh dunia. Mereka digunakan untuk memeriksa status penerbangan, melihat apakah pesawat yang akan datang mengalami penundaan yang diantisipasi, mengamati radar cuaca sepanjang jalur penerbangan, melihat rute tepat yang ditempuh pesawat, dan menentukan jenis pesawat apa itu.

Biasanya, mereka bekerja dengan cara mengumpulkan informasi tentang di mana pesawat berada pada setiap waktu tertentu (yang memungkinkan karena pesawat terus-menerus membagikan posisinya dengan pesawat lain dan pengendali lalu lintas udara karena alasan keamanan). Mereka mendapatkan akses ke informasi ini melalui satelit.

Selain memberi tahu Anda apakah penerbangan Anda akan ditunda, pelacak penerbangan dapat membantu para pelancong menghindari kemungkinan kemacetan, terutama selama periode perjalanan sibuk (seperti musim liburan) atau setiap kali. (diolah dari berbagai sumber/sm)

Kentalnya Budaya di Desa Wisata Tebara Bikin Semangat Membara untuk Berwisata

SUMBA, JAYAKARTA NEWS – Desa Wisata Tebara di Sumba Barat, NTT menjadi desa terakhir yang dikunjungi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno sebagai 75 besar desa wisata terpilih dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023. 

Saat visitasi Desa Tebara, Minggu (13/8/2023) Menparekraf Sandiaga, mengaku sangat takjub dengan keragaman adat dan budaya yang masih begitu kental, yang dapat dilihat dan dirasakan pada kampung adat di desa tersebut. 

“Desa ini berbasis budaya dan adat istiadat, dan bahasa setempat yang mereka lestarikan. Saya merasa bahwa inilah yang akan membawa Indonesia memiliki pariwisata berkelas dunia. Bukan Indonesia yang membangun desa, tapi desa yang menganugerahkan kemajuan untuk Indonesia,”  kata Menparekraf Sandiaga.

(Foto: Kemenparekraf)

Desa Wisata Tebara terletak di Kecamatan Kota Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi NTT. Desa ini memiliki kekhasan dengan kampung adat tradisional budaya megalitikumnya, dengan rumah adat beratap menara yang menjulang tinggi ke langit dan bertanduk terbagi menjadi tiga tingkat. Rumah-rumah adat ini berdiri kokoh di atas perbukitan yang tinggi.

Selain itu, desa wisata ini memiliki peninggalan budaya megalitikum (Batu Kubur besar dan Sarkofagus). Konsep Batu Kubur Megalitikum melambangkan perahu yang berlayar ke dunia arwah. 

(Foto: Kemenparekraf)

Kuliner di Desa Wisata Tebara pun menurut Menparekraf memiliki cita rasa yang enak dan unik. Salah satu makanan khasnya adalah ro’o luwa. Ro’o luwa adalah sejenis bubur yang bahan utamanya adalah ubi jalar atau daun singkong. Penampilannya berupa bubur hijau dengan rasa yang manis dan khas.

Ada juga rumpu tampe yang berbahan utama daun pepaya, dan biasanya ditumis bersama dengan bunga pepaya muda, daun singkong, atau jantung pisang.

“Jantung pisang, bunga pepaya, dan kacang panjang yang disebut rumpu rampe ini enak sekali, dan ada juga ro’o luwa dengan rasa yang unik,” kata Menparekraf. 

Menparekraf berharap desa wisata ini dapat membantu tercapainya 4,4 lapangan kerja baru yang berkualitas di tahun 2024.

(Foto: Kemenparekraf)

“Ini program pamungkas dari desa wisata dimana kita telah visitasi 75 desa ini di seluruh nusantara. Dan kita melihat antusiame masyarakat menyambut kebangkitan ekonomi kita, mudah-mudahan Desa Wisata Tebara ini membawa semangat yang membara untuk berwisata, sehingga menciptakan 4,4 lapangan kerja baru berkualitas,” kata Menparekraf Sandiaga. 

Turut mendampingi Menparekraf Sandiaga, Staf Khusus Menteri Bidang Pengamanan Kemenparekraf/Baparekraf, Ario Prawiseso; Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Bidang Pariwisata Berkelaniutan dan Konservasi Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh; dan Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf Baparekraf, Indra Ni Tua. Hadir pula Bupati Sumba Barat, Yohanis Dade.***/mel

Pinisi Kenzo Jadi Daya Tarik Baru di Danau Toba

JAYAKARTA NEWS – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi hadirnya Pinisi Kenzo sebagai pinisi wisata pertama di Danau Toba, Sumatra Utara.  

“Jadi ini (pinisi) pertama yang akan beroperasi di kawasan wisata Danau Toba. Dan ini adalah fasilitas yang mudah kita temui seperti live on board di beberapa destinasi lain,” kata Menparekraf Sandiaga saat meninjau Ruang Terbuka Publik, di Pantai Parapat, Rabu (19/07/2023). 

Menparekraf berharap pinisi tersebut bisa memberikan rasa aman dan kenyamanan wisatawan saat mengelilingi Danau Toba. 

“Saya harapkan Pinisi ini walaupun dibangun dengan penuh kearifan lokal karena ada gorga (seni ukir/pahat batak Toba) dan juga beberapa ornamen yang melambangkan delapan kabupaten kota, namun juga kita pastikan keselamatannya menjadi utama diprioritaskan safety dan kenyamanan buat wisatawan,” kata Menparekraf. 

Hadirnya pinisi di Danau Toba yang dikelola secara profesional juga diharapkan dapat mendukung target capaian kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 8,5 juta dapat tercapai. 

“Saya membayangkan nanti Pinisi Kenzo ini juga akan membuka paket bermalam yang bisa ditawarkan kepada wisatawan. Dan ini akan membuka peluang usaha dan lapangan kerja khususnya di sektor pariwisata. Ini juga menambah alternatif transportasi ke Samosir juga beberapa pelabuhan yang dibangun oleh pemerintah,” kata Menparekraf.

Pemilik Pinisi Kenzo, Anthony sitorus, menjelaskan pinisi tersebut akan beroperasi pada Agustus 2023. Pinisi wisata miliknya menawarkan paket wisata berkeliling Danau Toba serta bermalam di atas kapal. 

Pinisi Kenzo memiliki fasilitas diantaranya empat kamar tidur dengan toilet di dalamnya, dua toilet di luar kamar, dan juga bar. Ada juga aktivitas penunjang pinisi seperti canoeingpaddling, juga menembak ikan. 

“Pinisi ini bisa (menampung) untuk 11 wisatawan. Kami ada paket full day dari pagi sampai sore mengelilingi Danau Toba, dapat makan siang dan snack dengan harga Rp20 juta. Sedangkan, kalau untuk 2 hari 1 malam itu Rp 35 juta, sudah termasuk sarapan, makan siang, makan malam, dan aktivitas yang menunjang pinisi kita,” kata Anthony. 

Turut mendampingi Menparekraf dalam kesempatan tersebut, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, Jimmy Bernando. ***/mel

Tiga Wisata Air Terjun yang Wajib Dikunjungi Saat di Kota Malang

JAYAKARTA NEWS— Kota Malang merupakan kota yang dikelilingi oleh beberapa gunung. Di antaranya Gunung Arjuno, Gunung Buthak, Gunung Panderman, Gunung Semeru, dan Gunung Kawi. Keindahan alamnya tidak ada tandingannya, Kota Malang terasa sejuk dan segar karena dikelilingi gunung yang masih asri alamnya.

Selain memiliki keindahan pemandangan gunung, di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu) terdapat beberapa wisata air terjun atau curug. Tempat wisatanya masih terjaga asri dan biaya masuknya juga murah,  Pemerintah di Malang Raya berkomitmen menjaga dan memperhatikan keindahan alam di  Malang Raya serta dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alam.

Salah satu komitmen pemerintah dalam mendukung destinasi wisata alam adalah memberikan akses jalur transportasi ke daerah wisata sehingga perjalanan dapat berjalan dengan lancar dan baik. Adanya akses yang baik dapat meningkatkan pengunjung destinasi wisata pula.

Berikut beberapa destinasi wisata alam air terjun atau curug yang wajib dicoba saat berwisata di Kota Malang.

1. Coban Rondo

Coban Rondo berada di kawasan Kota Batu yang masih bersampingan dengan Kota Malang, lebih tepatnya berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kota Batu, Jawa Timur. Coban Rondo memiliki arti air terjun janda, terdapat berbagai kisah legenda mengenai Coban Rondo.

Coban Rondo merupakan destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar kota, sehingga Coban Rondo memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang berkeinginan untuk refreshing atau liburan.

Coban Rondo/foto: Yunus Raga

Wisata Coban Rondo tidak hanya menyajikan keindahan alamnya saja, tetapi terdapat fasilitas – fasilitas yang menarik untuk dicoba saat berada di Coban Rondo. Seperti labirin, anak panah, jogging track, pemancingan, lintasan sepeda gunung,  serta wisatawan dapat melakukan camping di daerah Coban Rondo.

Wisata Coban Rondo juga menyediakan penginapan yang bertujuan menarik wisatawan yang masih ingin istirahat dan bermain di Coban Rondo.

Tiket parkir hanya 10 ribu rupiah saja untuk pengendara mobil dan 5 ribu rupiah untuk pengendara motor, tiket masuk Coban Rondo saat weekday yakni 35 ribu rupiah dan 40 ribu rupiah saat weekend perorangnya. Wisata Coban Rondo beroperasi mulai pukul jam 8 pagi sampai pukul jam 5 sore.

2. Coban Talun

Coban Talun berasal dari hasil peristiwa alam erupsi Gunung Arjuno dan Gunung Welirang, ditandai dengan adanya bebatuan besar yang berada di sekitaran air terjun Coban Talun.

Debit air yang dihasilkan dari Coban Talun sangat besar sehingga wisatawan hanya dapat melihat keindahan Coban Talun dari radius yang sudah dalam pengawasan pengelola wisata. Tetapi tidak perlu kecewa, karena wisatawan masih dapat merasakan kesegaran air Coban Talun melalui sungai yang dialirkan.

Coban Talun/foto: Yunus Raga

Suasana daerah Coban Talun masih segar dan sejuk. Terdapat kawasan tumbuhan yang rindang. Serta air yang dialirkan Coban Talun masih terbilang bersih dan bening sehingga wisatawan dapat bermain di kawasan sungai Coban Talun.

Pengelola destinasi wisata Coban Talun menyediakan fasilitas penginapan bagi yang ingin menginap. Yakni, penginapan Apache Camp yang bernuansa suku Indian. Bangunan Apache Camp sendiri terinspirasi sarang burung merpati.

Tidak heran kalau Coban Talun mendapat banyak pengunjung. Pengelola wisata sangat memperhatikan area Coban Talun dengan memaksimalkan fasilitas – fasilitas yang ada. Wisatawan tidak perlu khawatir karena di Coban Talun sudah tersedia tempat beribadah, kantin, dan area parkir yang luas.

Selain fasilitas penginapan, pengelola juga menyajikan wisata taman bunga. Bagi penyuka bunga dengan segala keindahannya atau wisatawan yang suka selfi, Taman Bunga Coban Talun adalah pilihan yang pas.

Sebagai info, Coban Talun beroperasi setiap hari mulai jam 8 pagi sampai jam  5 sore. Tiket parkir mobil sebesar Rp10 ribu dan motor Rp5 ribu. Cukup dengan modal Rp12 ribu saja Anda dapat memiliki semua yang ditawarkan Coban Talun.

3. Coban Pelangi

Coban Pelangi tidak jauh dari kawasan Bromo. Tepatnya, berada di Desa Gubuk Klakah. Dinamakan Coban Pelangi karena sering terjadinya fenomena alam yakni pelangi.

Wisatawan Coban Pelangi dapat mencoba bermain dan merasakan sensasi air terjun Coban Pelangi secara dekat. Tetapi harus diingat, jika debit volume air bertambah maka segeralah menjauh dari air terjun Coban Pelangi.

Coban Pelangi/foto: Yunus Raga

Fasilitas menarik lainnya adalah, juga disediakan spot foto bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen berkesan selama di sana. Selain itu, ada juga camping ground untuk wisatawan yang ingin menikmati malam di aera Coban Pelangi.

Yang tak kalah menariknya adalah menikmati rafting di sungai Coban Pelangi. Cukup membayar Rp35 ribu per-team yang berisikan 3 sampai 4 orang, sudah bisa merasakan tantangan rafting di arus yang deras seperti sungai Coban Pelangi.

Jam buka kawasan Coban Pelangi mulai jam 7 pagi hingga jam 5 sore. Harga tiket masuk per-orangnya Rp10 ribu. Tambahan biaya parkir pengendara mobil Rp5 ribu. (Yunus Raga)

Menikmati Sensasi “Birdwatching” di Taman Wisata Alam Kerandangan Lombok 

JAYAKARTA NEWS – Sebagai destinasi wisata, Lombok punya ragam daya tarik. Mulai dari keindahan pantai, kekayaan bawah laut, adat budaya, wisata olahraga, gunung, serta wisata petualangan berbasis alam. Untuk jenis wisata yang terakhir, ada satu destinasi yang wajib untuk dikunjungi, yakni Taman Wisata Alam (TWA) Kerandangan yang masuk dalam kawasan Desa Wisata Senggigi di Lombok Barat. 

Di sini wisatawan dapat menjelajah kawasan hutan yang totalnya mencapai 396,10 hektare, menikmati suasana alam nan syahdu. Menelusuri jalan setapak di bawah naungan pepohonan tinggi yang rindang, ditemani nyanyian alam nan surgawi. 

Sejak ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam pada tahun 1992, pengelolaan TWA dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan wisatawan namun tetap dalam prinsip pariwisata berkelanjutan. Karenanya taman wisata alam ini juga ramah untuk anak-anak. 

Air terjun Putri Kembar dan Goa Walet biasanya menjadi tujuan utama wisatawan. Aksesnya mudah. Pengunjung tinggal menyusuri jalan setapak berupa kombinasi paving dan tanah sejauh kurang lebih 2 kilometer. Elevasinya juga tidak tinggi. Jadi, melenggang bersama anak akan menjadi satu aktivitas yang sangat menyenangkan.

Namun bagi mereka yang ingin berpetualang lebih jauh, Taman Wisata Alam Kerandangan punya sisi lain yang lebih dalam. Salah satunya bahkan jadi primadona bagi wisatawan adalah birdwatching. Yakni kegiatan pengamatan burung yang dilakukan di alam liar atau habitat asli mereka. 

Terdapat beberapa spesies burung yang habitatnya ada di TWA Kerandangan. Beberapa di antaranya masuk dalam kategori terancam punah seperti Elang Flores (Nisaetus floris). Selain itu juga ada Celepuk Rinjani (Otus jolandae) dan Cekakak Kalung-Cokelat (Todiramphus australasia), yang keduanya masuk dalam status hampir terancam. Selain itu ada juga Kehicap Ranting, Cekakak Sungai, Raja Udang Biru, dan masih banyak lagi. 

“Total ada 56 jenis burung yang sampai saat ini terdata di kawasan ini,” ujar Wahyudi Amin, petugas di TWA Kerandangan. 

Inilah yang membuat TWA Kerandangan kian populer sebagai salah satu destinasi pilihan wisatawan dalam melakukan aktivitas wisata alam. Khususnya bagi mereka yang memiliki minat khusus atau ketertarikan kepada satwa. 

“Itu baru jenis burung, TWA Kerandangan juga ‘rumah’ untuk deretan satwa lainnya seperti ular juga kupu-kupu. Terdata 11 jenis ular yang tiga di antaranya jenis berbisa. Yakni ular jenis viper dan kobra,” kata Wahyudi. 

Diminati Wisatawan 

Wahyudi yang menjadi salah satu inisiator pengembangan wisata minat khusus di TWA Kerandangan awalnya tidak mengetahui jika ragam flora dan fauna di TWA memiliki potensi nilai jual pariwisata yang tinggi. 

Kala itu di penghujung tahun 2012, Wahyudi yang belum lama memulai tugasnya sebagai tenaga kontrak di TWA Kerandangan mendapati seorang wisatawan asal Australia datang seorang diri membawa teropong. Kepada Wahyudi, wisatawan itu mengatakan ingin melihat burung-burung yang terbang liar di kawasan TWA Kerandangan. 

“Akhirnya saya hanya menemani dia sampai ke dalam hutan. Saya mengikuti aktivitasnya melihat burung-burung dan menikmati setiap kemunculan,” kata Wahyudi. 

Tidak berhenti sampai di situ, beberapa hari setelahnya, datang lagi wisatawan lain yang membawa kamera dengan lensanya yang besar. “Tujuannya juga sama, ingin mencari burung. Tapi kali ini dia lebih ke minat fotografi,” ujar Wahyudi. 

Dari dua pengalamannya yang singkat dan mendadak itu, pemikiran Wahyudi jadi terbuka. Keberadaan satwa di TWA Kerandangan merupakan potensi yang jika dikembangkan dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan justru memberikan manfaat nilai ekonomi yang lebih luas. 

Berbekal pengalamannya keluar-masuk hutan TWA Kerandangan serta data awal jenis-jenis burung yang jumlahnya baru 23, ia mencoba mengembangkan daya tarik ini. Memantau kembali jenis burung, aktivitas, juga kebiasaan untuk ia cocokkan dengan data awal yang ia miliki. Jika ada perilaku, lokasi, atau jenis burung yang belum terdata, ia mencatatnya sendiri. Tidak jarang Wahyudi sampai menginap di dalam hutan. 

Niatan Wahyudi untuk menggali potensi dengan pendekatan pariwisata berkelanjutan semakin kuat ketika ia berdiskusi dengan salah seorang rekannya dari Universitas Mataram. Terlebih tak berapa lama, BKSDA NTB melakukan kerja sama dengan Universitas Mataram untuk melakukan riset dan pendataan lebih jauh tentang keanekaragaman yang ada di TWA Kerandangan. 

“Saya juga terlibat di tim itu karena saya hafal kawasan pal batas, juga titik-titik pengamatan. Dari situ kita tahu sampai saat ini ada 56 jenis burung,” ujar Wahyudi. 

Kini Wahyudi semakin paham dan mengetahui pola serta kebiasaan aktivitas hewan yang ada di dalam kawasan. Seperti beberapa waktu lalu saat tim kampanye Sadar Wisata Kemenparekraf diajak menjelajah TWA Kerandangan. Wahyudi dengan cekatan mendefinisikan jenis-jenis burung hanya dengan mendengar kicauannya. 

Di beberapa titik, Wahyudi meminta pengunjung untuk fokus memperhatikan pergerakan di sejumlah ranting. Ia menjelaskan, tak lama lagi akan ada pergerakan satu jenis burung. Dan benar saja, burung Cekakak Sungai terlihat melompat dan kemudian menghilang di ujung pohon. 

“Daerah sini memang kawasan dari burung itu, aktivitasnya di jam-jam ini (sore hari),” kata Wahyudi. 

Wahyudi juga kerap kali akan melanjutkan untuk mengajak pengunjung ke titik pengamatan yang tak jauh dari jalur jalan setapak. Sedikit melewati sungai berbatu yang saat itu dalam kondisi kering, terdapat jaring hitam yang melintang. Wisatawan diminta untuk jongkok dan mengintip dari balik jaring. 

Wahyudi kemudian mengeluarkan suara-suara tertentu. Dalam suasana hening, tiba-tiba terdengar suara balasan yang begitu indah. Tak lama, satu jenis burung mendekat. Memperlihatkan eksotisme warna-warna bulunya yang indah. Sungguh pengalaman yang mengesankan. 

Sadar Wisata 

Melihat potensi yang ada, Wahyudi berharap semakin banyak pihak yang sadar akan besarnya nilai jual pariwisata di TWA Kerandangan. Terutama masyarakat sekitar untuk terus menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada di alam. 

Tidak mudah memang, namun dengan kolaborasi banyak pihak, pemahaman bagi masyarakat dapat terus ditingkatkan. Selama ini, ujar Wahyu, ia masih mendapati masyarakat yang kerap menangkap burung di alam. 

“Mereka masih belum sadar bahwa dengan pariwisata, nilai ekonomi seekor burung yang ada di alam justru lebih besar dibanding di dalam sangkar,” kata Wahyu. 

Ia memberi contoh sederhana. Menjual burung dengan jenis tertentu (yang tidak dilindungi) mungkin memberikan harga yang cukup tinggi. Namun penjualan hanya bisa dilakukan satu kali. Berbeda dengan menawarkannya dalam paket kegiatan wisata alam. 

Wahyu menyebut, untuk wisatawan mancanegara, paket wisata alam bisa ditawarkan dengan harga Rp3 juta-Rp5 juta. 

“Paket itu bisa dilakukan berkali-kali sehingga potensinya lebih tinggi. Kelestarian alam pun terjaga,” kata Wahyu. 

Saat ini Wahyu terus mengajak masyarakat untuk bisa terlibat lebih jauh dalam menawarkan paket wisata ini. Hingga saat ini ia berhasil mengajak 5 orang masyarakat untuk bergabung bersamanya. 

“Dengan acara (Kampanye Sadar Wisata) tadi saya berharap semakin banyak masyarakat yang terbuka dan sadar akan potensi yang kita miliki,” kata Wahyu. 

Deputi Bidang Sumber Daya Kelembagaan Kemenparekraf Diah Martini Paham, mengatakan, penguatan kapasitas sumber daya manusia sangat penting dalam upaya menghadirkan pelayanan prima bagi wisatawan khususnya untuk mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Kampanye Sosialisasi Sadar Wisata ini dihadirkan agar masyarakat mampu mengenali, mengembangkan, dan memasarkan potensi yang ada di daerahnya. 

“Bagaimana mempersiapkan masyarakat untuk menjadi tuan rumah yang baik di dalam penyelenggaraan pariwisata dan ekonomi kreatif. Sehingga masyarakat bisa berbuat sekaligus mendapatkan manfaat dari kegiatan pariwisata,” kata Diah didampingi Direktur Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kemenparekraf/Baparekraf Florida Pardosi. 

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, pariwisata berkelanjutan menjadi tren terbaru dalam pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dunia di Indonesia.

“Kami melihat sustainable tourism ini adalah suatu tren pariwisata yang sekarang tidak terhentikan dan tidak tergantikan. Karena sustainable tourism membuka peluang kita untuk lebih melestarikan lingkungan,” kata Menparekraf Sandiaga. 

Ia terus mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan melalui desa-desa wisata di berbagai tanah air. Kampanye Sadar Wisata dikatakan Menparekraf Sandiaga menjadi salah satu program unggulan Kemenparekraf/Baparekraf dalam mewujdukan cita-cita tersebut termasuk peningkatan kapasitas SDM di dalamnya. 

“Pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi sektor yang terus mendorong kebangkitan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat,” kata Sandiaga. ***/mel

Wisata Berbasis NEWA, Tren Pariwisata Pascapandemi

JAYAKARTA NEWS – Di masa pascapandemi, konsep wisata NEWA banyak dicari wisatawan. Terutama bagi wisatawan yang ingin “balas dendam” untuk berlibur setelah lebih dua tahun harus berada di rumah saja. Salah satu alasannya karena tren pariwisata ini tergolong aman dan memiliki risiko yang lebih kecil.

Dikutip dari Rilis Kemenparekraf, Selasa (6/6/2023), NEWA adalah konsep berwisata yang mengutamakan Nature, Eco-tourismWellness tourism, dan Adventure tourism. Tren pariwisata pascapandemi satu ini mengarah pada konsep berwisata yang fokus menjaga kelestarian lingkungan dan alam sekitar.

Konsep wisata NEWA mengutamakan kualitas yang bersifat low-touch dan less-crowd. Seperti wisata alam, wisata adventure, desa wisata, hingga wisata rural. Konsep wisata berbasis NEWA memiliki peluang yang sangat bagus di masa depan.

Diharapkan, penerapan konsep wisata NEWA di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia dapat mendorong wisatawan untuk merawat keindahan alam dan budaya. Sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat. 

Penerapan NEWA dalam Sektor Parekraf

Tren pariwisata pascapandemi berbasis NEWA sudah mulai diterapkan dalam sektor pariwisata Indonesia. Sebut saja salah satunya adalah Nature tourism yang fokus mengajak wisatawan mengunjungi berbagai kawasan alami untuk menjaga dan melestarikan lingkungan.

Sementara itu, konsep ecotourism bisa dilihat dari dikembangkannya pariwisata berkelanjutan di berbagai destinasi wisata. Kaya akan sumber daya alam dan budaya, konsep ecotourism  memiliki potensi besar yang bisa menjadi unique selling point pada sektor parekraf di Indonesia.

Banyak destinasi ekowisata di Indonesia yang fokus pada kelestarian alam, dan tetap mempertahankan keutuhan budaya setempat. Seperti kawasan konservasi alam Tangkahan di Sumatera Utara, Taman Nasional Tanjung Puting, serta Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lantas, bagaimana dengan konsep berwisata wellness tourism? Bisa dikatakan, wellness tourism menjadi salah satu kunci pemulihan sektor pariwisata pascapandemi. Hal ini dibarengi dengan meningkatkan kesadaran masyarakat yang lebih peduli kesehatan. 

Indonesia memiliki peluang besar dalam menggencarkan wellness tourism. Mengingat, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-17 sebagai pasar tujuan wisata kebugaran. Belum lagi, ada banyak destinasi wellness tourism di Indonesia, salah satunya Rumah Atsiri di Tawangmangu.

Di sisi lain, konsep Adventure tourism turut menjadi prioritas berwisata pascapandemi. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya jenis wisata yang menjadi incaran wisatawan. Seperti trekking, hiking, rafting dan wisata susur sungai, hingga eksplorasi ke berbagai daerah untuk menikmati keindahan alam yang masih terjaga dengan sangat baik. 

Inovasi Penginapan dalam Konsep NEWA

Di sisi lain, industri akomodasi wisata atau perhotelan di Indonesia terus melakukan inovasi agar tetap bertahan pascapandemi COVID-19. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah menciptakan penginapan yang sesuai dengan konsep NEWA. 

Saat ini glamping (glamorous camping) menjadi akomodasi penginapan yang berhasil menarik banyak wisatawan. Saking populernya, mengutip dari laporan “Tren Industri Pariwisata 2022-2023”, sebagian besar wisatawan lebih memilih glamping (45,9%), dibandingkan menginap di resort (24,7%) sebagai alternatif liburan pascapandemi.

Popularitas glamping sebagai alternatif berwisata pascapandemi sebenarnya masuk akal. Mengingat, tren berkemah satu ini tetap menerapkan social distancing (low-touch dan less-crowd), serta mengusung konsep nature, ecotourism, wellness, dan adventure tanpa mengurangi keseruan berlibur. 

Dalam jangka panjang, diharapkan penerapan wisata berbasis NEWA dapat meningkatkan kunjungan wisata ke Indonesia, sehingga dapat mencapai target 8,5 juta kunjungan wisatawan mancanegara, serta 1,4 miliar pergerakan wisatawan nusantara.***/mel

Ramai-Ramai Menikmati Fenomena Frozen Gunung Bromo, “Lautan Pasirnya Putih Seperti Salju”

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS-Gunung Bromo selalu punya alasan untuk dikunjungi. Kali ini dengan munculnya fenomena frozen di lautan pasir dapat menjadi alasan tepat untuk segera berkemas dan berangkat ke gunung kebanggaan warga Jawa Timur dan Indonesia tersebut.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut, fenomena frozen adalah sisi lain keindahan Gunung Bromo yang hanya bisa dinikmati saat musim kemarau.

Fenomena pasir bersalju ini terjadi khususnya saat pagi hari. Pada waktu tersebut, suhu sangat dingin sehingga permukaan lautan pasir Gunung Bromo di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo seperti terlapisi butiran es.

Dia menambahkan, fenomena salju ini terjadi ketika musim kemarau tiba dan terkadang menjadi fenomena tahunan sehingga Gunung Bromo dan lautan pasir di sekitaran Bromo menjadi lebih dingin.

“Inilah sisi lain keindahan Gunung Bromo yang selalu membuat kita begitu takjub akan keindahan yang ditawarkan. Fenomena frozen ini fenomena tahunan yang cukup langka. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini untuk segera berkunjung,” ungkapnya kepada awak media di Gedung Negara Grahadi Jumat (2/6).

Gubernur Khofifah mengatakan, embun salju ini biasanya terjadi selama bulan Juni-Agustus. Hal ini karena terjadinya puncak kemarau di daerah Bromo, sehingga mengakibatkan suhu turun secara ekstrim.

Khofifah mengaku, bersyukur Fenomena Frozen ini terjadi pada saat Musim Kemarau dan bertepatan dengan libur panjang dimana terdapat momen Hari Lahir Pancasila dan Hari Raya Waisak mulai hari Kamis – Minggu atau tanggal 1 – 4 Juni 2023.

Keindahan alam yang terjadi di Gunung Bromo ini belum tentu akan terjadi di tahun tahun selanjutnya ataupun musim musim kemarau yang akan datang. Oleh karenanya, kepada masyarakat yang ingin melaksanakan perjalanan wisata dirasa tepat jika berkunjung ke Gunung Bromo saat ini.

“Fenomena frozen atau salju di Lautan Pasir Gunung Bromo ini begitu indah. Saya pikir inilah saatnya bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung menikmati keindahan lain dari Gunung Bromo yang sudah dikenal para traveler,” ungkapnya.

Khofifah menyebut, fenomena ini biasa disebut frozen atau membeku. Ada juga yang menyebutnya sebagai embun upas atau embun salju. Fenomena ini tidak terjadi setiap hari. Hanya bila suhu mendekati 0 derajat celcius atau berada di bawahnya.

Berdasarkan informasi dari masyarakat Bromo, Fenomena salju sudah muncul pertama kali di Ranu Pane, Gunung Semeru pada Sabtu (27/5).

Sedangkan di lautan pasir Gunung Bromo fenomena upas salju baru mulai terlihat pada Selasa (30/5).

Khofifah menjelaskan, jika ingin menyaksikan frozen di Gunung Bromo, masyarakat perlu mengetahui tanda-tandanya lebih dulu. Pertama, suhu dingin di malam hari menjadi tanda pertama mencapai 16 sampai 9 derajat celcius.

Selanjutnya, jika suhu terus menurun sampai mendekati 0 derajat celcius, frozen Gunung Bromo biasa muncul di lautan pasir. Selain pasir, dedaunan juga akan dilapisi upas salju. Momen ini sering kali ditunggu oleh wisatawan.

“Tapi ingat, bila melihat fenomena ini, jangan lupa menjaga kehangatan tubuh. Siapkan obat obatan, kenakan jaket tebal, kaos tangan, maupun penutup kepala dan kaki,” kata Gubernur yang pecinta Traveling dan mendaki gunung ini,” pesannya.

Selain wisatawan, Gubernur perempuan pertama di Jatim itu mengajak fotografer untuk memburu momen frozen Gunung Bromo. Selain hasil gambar yang begitu indah, hasil jepretan para fotografer ini akan menjadi bukti bahwa Gunung Bromo menyimpan begitu banyak keindaham selain melihat Matahari Terbit ataupun Offroad menggunakan jeep.

“Mari komunitas Fotografer untuk bisa mengabadikan momen ini. Hasil jepretan fotografer ini diyakini akan menjadi banyak refrensi untuk mendatangkan banyak wisatawan untuk lebih banyak datang ke Gunung Bromo menikmati keindahan wisata yang ditawarkan,” tutupnya. (poedji)

Destinasi Wisata di Jalur Mudik Lintas Selatan Jawa

JAYAKARTA NEWS – Lebaran selalu identik dengan cuti bersama yang lumayan panjang. Tak jarang, momen ini dimanfaatkan masyarakat Indonesia untuk mudik ke kampung halaman, sekaligus kumpul bersama keluarga besar saat Hari Raya Idulfitri. 

Namun menariknya, selain bertemu dengan keluarga, momen mudik lebaran juga bisa dijadikan sarana wisata singkat. Apalagi bagi yang mudik melintasi Jalur Lintas Selatan Jawa. Sepanjang Jalur Lintas Selatan Jawa terdapat banyak destinasi wisata yang menarik untuk disinggahi.

Ada enam provinsi yang dilintasi rute mudik Jalur Lintas Selatan Jawa, yakni Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Berikut beberapa rekomendasi destinasi wisata di sepanjang jalur mudik di Jalur Lintas Selatan Jawa yang bisa disinggahi, dikutip dari Laman Kemenparekraf, Sabtu (1/4/2023).

Pantai Tanjung Layar

Salah satu pantai yang tak boleh dilewatkan saat memulai perjalanan dari Banten adalah Pantai Tanjung Layar. Berlokasi di Desa Sawarna, Bayah, Lebak, Pantai Tanjung Layar memiliki ombak khas Laut Selatan yang bergelora. Saking tingginya, ombak pantai mampu menghempas dinding batu karang dengan sangat cantik. 

Menjelang senja, dapat menyaksikan semburat merah keemasan dengan latar belakang batu-batuan karang yang eksotis di Pantai Tanjung Layar. Sangat cocok bagi yang ingin memanjakan diri sejenak saat baru tiba di Pulau Jawa dari Pulau Sumatera.

Gedung Sate

Memasuki Jawa Barat, bisa mampir melihat bangunan bersejarah di Kota Bandung, Gedung Sate. Destinasi wisata ini berada di Jalan Diponegoro, Citarum, Bandung Wetan, Kota Bandung. Gedung Sate dibangun pada 1924, dan masih berdiri kokoh hingga sekarang. 

Selain menikmati keindahan arsitektur dari Gedung Sate, bisa berkunjung ke dalam museum di dalamnya, serta melihat berbagai macam koleksi seni dan tahapan pembangunan Gedung Sate.

Di belakang Gedung Sate juga terdapat salah satu kuliner unik yang bisa dicicipi, yakni Sate Jando. Lokasinya hanya berjarak sekitar 260 meter dari Gedung Sate.

Foto: Megahnya Benteng Van Der Wijck di Desa Sidayu, Gombong, Kebumen (Shutterstock/ Dedygold)

Benteng Van Der Wijck

Selepas berburu kuliner di Bandung, Sobat Parekraf bisa melanjutkan perjalanan Jalur Lintas Selatan dari Jawa Barat ke Jawa Tengah. Melintasi Kabupaten Kebumen, bisa singgah sejenak melihat megahnya Benteng Van Der Wijck di Desa Sidayu, Gombong, Kebumen.  

Benteng Van Der Wijck adalah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada abad ke 18 M. Berbeda dengan benteng peninggalan Belanda lainnya, benteng ini terbuat dari batu bata. Sehingga memberi kesan warna merah yang estetik. 

Selain menikmati keindahan arsitektur benteng, bagi yang mengajak buah hati juga bermain wahana perahu angsa, mobil-mobilan, kincir putar, hingga kereta mini. Jadi anak tidak bosan selama perjalanan mudik.

Candi Prambanan 

Memasuki Yogyakarta, akan melewati kawasan Candi Prambanan. Destinasi wisata populer di Yogyakarta satu ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di dunia, dan sudah ditetapkan sebagai sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) oleh UNESCO.

Di dalam kompleks candi, bisa berjalan kaki untuk mengabadikan momen dengan latar belakang rerumputan dan kemegahan Candi Prambanan. Kalau bosan berjalan kaki, bisa menaiki mobil wisata untuk berkeliling menikmati pemandangan candi. 

Taman Nasional Alas Purwo

Mendekati ujung Jalur Lintas Selatan Jawa, akan memasuki provinsi Jawa Timur. Di provinsi paling ujung Pulau Jawa ini, terdapat salah satu destinasi wisata yang menyajikan sabana luas, yakni Taman Nasional Alas Purwo. Destinasi wisata ini berada Tegaldlimo, Purwoharjo, Banyuwangi. 

Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas mencapai 43 ribu hektare, di sini bisa mengunjungi berbagai destinasi wisata yang masuk dalam kawasan Taman Nasional, yakni Sabana Sadengan, Pantai Pancur, Gua Istana, Pura Giri Selaka, hutan bambu, hingga hutan mangrove. Cocok banget dijadikan tempat istirahat sejenak sebelum meninggalkan Pulau Jawa.

Jadi, jangan lupa singgah sejenak untuk beristirahat sambil menikmati ragam pariwisata di Jalur Mudik Lintas Selatan Jawa.***/mel

Destinasi Wisata Indonesia yang Pernah Jadi Lokasi Syuting Film Hollywood

JAYAKARTA NEWS – Keindahan alam dan budaya di Indonesia selalu berhasil memukau siapa saja yang datang berkunjung. Tak hanya sekadar untuk liburan, pesona Indonesia juga memikat para pelaku industri kreatif perfilman mancanegara, khususnya untuk menjadikan destinasi wisata di Indonesia sebagai lokasi syuting film-film Hollywood.

Ada banyak alasan menjadikan destinasi wisata di Indonesia sebagai latar dalam film-film Hollywood. Selain faktor keindahan alam yang memesona, gaya arsitektur dari setiap bangunan, hingga tradisi dan budaya yang kental, menjadi beragam alasan Indonesia sangat menarik dijadikan lokasi syuting film-film berskala internasional.

Berikut beberapa destinasi wisata di Indonesia yang pernah jadi lokasi syuting film Hollywood. Jayakarta News kutip dari Laman Kemenparekraf, Jumat (10/3/2023).

Jakarta dan Bali di Film Blackhat

Film hollywood ini syuting di Jakarta pada 2015, dengan bintang utama adalah Chris Hemsworth. Blackhatmengambil beberapa adegan di Indonesia, yakni Monas, Masjid Istiqlal, dan Bali. 

Alasan Masjid Istiqlal dipilih jadi lokasi syuting Blackhat karena memperlihatkan mayoritas penduduk Indonesia beragama muslim, serta arsitektur masjid yang sangat megah dan unik. Selain itu, film Blackhatjuga melibatkan 5.000 penduduk lokal yang menjadi bagian dalam adegan upacara adat di Bali. Alasannya karena sang sutradara ingin menampilkan tradisi Indonesia yang beragam.

Candi Borobudur di Film Java Heat 

Selain Jakarta, Magelang juga digunakan sebagai lokasi syuting film Hollywood, yakni Java Heat (2013). Tepatnya di salah satu Destinasi Super Prioritas (DSP) Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pemilihan Candi Borobudur sebagai lokasi syuting film Java Heat, karena bangunan candi yang sangat klasik dan sudah dikenal oleh masyarakat internasional sebagai warisan UNESCO.

Menariknya, banyak artis lokal ikut memerankan film ini, di antaranya Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, Tio Pakusadewo, dan Rio Dewanto. Film garapan Conor Allyn ini pun memperoleh kesempatan untuk tayang di berbagai festival film internasional.

Candi Prambanan di Beyond Skyline

Salah satu lokasi syuting film Beyond Skylineberada di Candi Prambanan, Yogyakarta. Alasannya, karena Michael Mann (sutradara) tidak menemukan lokasi yang cocok di Laos (latar asli film), sehingga Candi Prambanan dipilih sebagai lokasi syuting film ini.

Alasan lainnya, karena Candi Prambanan memiliki arsitektur yang megah, dan memiliki reruntuhan alami yang cocok dengan salah satu adegan dalam film. Selain Yogyakarta, Beyond Skylinejuga syuting di Infinite Studio Batam. 

Sekadar informasi, Infinite Studio Batam merupakan salah satu fasilitas syuting yang mumpuni dan bertaraf internasional di Batam. Mulai dari indoor, outdoor, creature room, hingga sound stage tersedia di studio mega tersebut.

Bromo dan Belitung di After the Dark

Film After The Dark bercerita tentang sebuah kelas filsafat berisi 20 siswa yang ditantang memainkan sebuah permainan. Film yang rilis 2014 ini menampilkan keindahan alam Bromo, Belitung, dan Candi Prambanan. 

Salah satu lokasi syuting After the Darkdi Bromo berada di kawasan Pasir Berbisik, yang juga menampilkan latar belakang pemandangan gunung yang sangat cantik. Sementara Belitung menawarkan birunya air laut dengan ciri khas batuan besar menawan yang sangat alami menjadi latar dalam film ini.

Ubud di Film Eat, Pray Love

Indahnya alam, budaya, dan tradisi Bali yang sangat memesona bisa kita lihat di film Hollywood: Eat, Pray Love yang dibintangi oleh Julia Robert. Beberapa destinasi yang dijadikan lokasi syuting film Eat, Pray, Love di Bali cukup banyak, yakni Pasar Seni Ubud, Monkey Forest, Tegalalang, Pantai Padang Padang, hingga Rumah Ketut Liyer.

Film ini bercerita tentang Elizabeth Gilbert (yang diperankan oleh Julia Robert) berkelana ke beberapa negara untuk mencari ketenangan hidup. Salah satu negara yang dikunjungi adalah Indonesia. Di Bali, Elizabeth pun mendapat “cinta” yang ia cari selama ini. Yap, siapa yang tak jatuh cinta dengan alam dan budaya Bali, bukan?

Itulah beberapa destinasi di Indonesia yang pernah menjadi latar dalam film garapan luar negeri.***/mel

Indahnya Pemandangan dari Jembatan Kaca Seruni Gunung Bromo

PROBOLINGGO, JAYAKARTA NEWS-Ada yang baru di kawasan wisata Gunung Bromo yakni jembatan kaca seruni spot. Diprediksi kedepan jembatan kaca ini menjadi ikon Gunung Bromo.

Spot wisata yang diyakini bakal menjadi primadona baru berupa jembatan yang membentang sepanjang 120 meter dan lebar 1,8 meter serta tinggi 80-100 meter ini bakal semakin memanjakan wisatawan untuk menikmati keindahan alam Gunung Bromo.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menikmati icon wisata baru itu, yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kab. Probolinggo, Rabu (15/2).

Setelah mencoba melintasi Jembatan Kaca yang membentang di atas jurang berkedalaman 80-100 meter tersebut, Gubernur Khofifah menyatakan rasa bangganya atas rampungnya Jembatan Kaca tersebut yang merupakan karya anak bangsa.

Saat ini, Jembatan Kaca tersebut tinggal menunggu proses finishing tepatnya di kaki pondasi di kedua ujung jembatan sehingga belum bisa dinikmati oleh wisatawan secara terbuka. Bahkan tampak beragam spot foto sudah disiapkan guna memanjakan wisatawan di jembatan tersebut nantinya.

“Jembatan Kaca ini merupakan karya putra putri anak bangsa yang dikomandani oleh Kementrian PUPR yang bisa tetap mempertahankan keindahan Gunung Bromo sekaligus tetap bisa mempertahankan daya dukung alam dan daya dukung lingkungan,” pujinya.

Khofifah berharap, dengan adanya Jembatan Kaca di TNBTS ini akan memberikan referensi sekaligus replikasi adanya Jembatan Kaca baru lainnya agar bisa dibangun dibanyak titik di Jatim. Seperti salah satunya di kawasan Tumpak Sewu yang menghubungkan Kab. Lumajang dan Malang dengan air terjun yang sangat eksotik.

Mantan Menteri Sosial itu optimistis, dengan beroperasinya Jembatan Kaca ini nantinya (diperkirakan Oktober 2023 rampung) akan memberikan daya tarik wisatawan untuk lebih lama tinggal dan berwisata di TNBTS.

“Kami berharap masyarakat bisa menginap dua malam ketika berwisata di Bromo. Selain sunrise, wisatawan juga bisa menikmati jembatan kaca di seruni poin,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah mengatakan, Jembatan Kaca Seruni Point kuat menampung 100 orang sekaligus. Dimana, jembatan ini menghubungkan antara Kawasan wisata Seruni Point dengan shuttle area pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu juga menceritakan, Jembatan Kaca ini berawal dari presentasi salah satu Dirjen dari Kementrian PUPR pada saat sertijab Bupati Malang tahun 2020 yang disiapkan adalah Jembatan Kaca TNBTS dari Kabupaten Malang. Kemudian, disampaikan juga kalau bisa juga ada Jembatan Kaca dari Tengger karena rata-rata wisatawan itu mengambil destinasi melalui Jalur Probolinggo.

“Allhamdulillah Jembatan Kaca ini disetujui kemudian saya mengkoordinasikan dengan Pak Menteri dan mengkoordinasikan dengan bupati. Bersyukur dari PUPR bukan hanya mengerjakan jembatan kaca namun yang fenomenal dikerjakan oleh putra-putri bangsa yang ingin menunjukkan hasil karyanya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Jembatan ini tergolong sebagai jembatan gantung pejalan kaki (suspended cable) yang memiliki sistem struktur lantai atau deck jembatan gantung berupa kaca pengaman berlapis atau laminated glass yang terdiri dari dua lembar kaca atau lebih.

Struktur jembatan ini dilengkapi double protection steel berupa baja galvanis yang dilapisi cat epoxy agar lebih tahan terhadap karat. Jembatan kaca ini menghadirkan wisata pemandangan alam dengan panduan atraksi adrenalin.

Pada kesempatan yang sama, sesepuh Masyarakat Tengger Kab. Probolinggo Supoyo mengungkapkan, keberadaan Jembatan Kaca Seruni Point ini akan memberikan dampak secara ekonomi dan peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Nantinya, jika jembatan kaca seruni point sudah beroperasi diyakini akan meningkatkan kunjungan wisatawan dalam negeri maupun wisatawan mancanegara. Diprediksi jika nanti beroperasi sekitar 2.000 wisatawan akan memadati Bromo khususnya akses ke seruni point.

“Kita hitung saja, kalau ada 400 jeep yang naik ke seruni point dikalikan 5 orang wisatawan ada sekitar 2.000 wisatawan yang berkunjung. Belum ditambah wisatawan yang datang menggunakan kuda, ojek. Dampak ekonomi dan kesejahteraanya saya optimis akan meningkat dan saya yakin akan banyak berdiri homestay baru. Para PKL, dan pedagang bisa merasakan dampaknya,” tutupnya.

Sementara itu, usai meninjau Jembatan Kaca Seruni Point Bromo, Gubernur Khofifah menyempatkan diri menanam tanaman edelweiss Jenis A.Longifolia di halaman kantor TNBTS wilayah Probolinggo. Edelweiss ini sendiri merupakan budidaya yang dikembangkan oleh TNBTS bekerjasama dengan masyarakat sekitar Bromo. (poedji)