JAYAKARTA NEWS— Lionel Messi semakin serius membangun kerajaan sepak bolanya di luar lapangan. Megabintang Argentina itu dikabarkan tinggal selangkah lagi menguasai Eldense, klub yang bermain di divisi dua Liga Spanyol.
Informasi tersebut telah dikonfirmasi oleh Daily Mail Sport.
Dalam rencana akuisisi tersebut, Messi akan mengambil alih saham yang saat ini dimiliki Grupo TH, kelompok investasi asal Kolombia. Transaksi itu akan membuat Messi menjadi pemegang saham mayoritas Eldense.
Meski kesepakatan prinsip telah tercapai, proses pengambilalihan belum sepenuhnya rampung. Sejumlah prosedur hukum dan kontrak akhir masih harus diselesaikan sebelum transaksi dapat dituntaskan.
Akuisisi tersebut juga membutuhkan persetujuan dari Dewan Olahraga Tinggi Spanyol atau Consejo Superior de Deportes (CSD). Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, kesepakatan diperkirakan selesai dalam beberapa hari mendatang.
Untuk nilai transaksi, belum ada angka yang diumumkan kepada publik.
Foto: Instagram leomessi
Eldense Sedang dalam Situasi Sulit
Kehadiran Messi sebagai calon pemilik baru datang ketika Eldense justru sedang menghadapi awal musim yang tidak mudah.
Klub yang berbasis di Valencia tersebut baru mengumpulkan dua poin dari empat pertandingan pembuka. Kondisi itu semakin sulit setelah pelatih Claudio Barragan dipecat pada awal pekan ini.
Eldense kini harus menjalani periode berikutnya tanpa seorang manajer tetap.
Padahal, perjalanan klub menuju divisi dua baru saja kembali terjadi. Eldense berhasil promosi ke kasta kedua pada musim panas lalu setelah sebelumnya sempat turun kasta.
Messi Sudah Lebih Dulu Membeli Cornella
Jika akuisisi Eldense terealisasi, langkah tersebut akan memperkuat ekspansi Messi di sepak bola Spanyol.
Beberapa bulan sebelumnya, Messi telah membeli 100 persen saham UE Cornella, klub semi-profesional yang bermarkas di pinggiran Barcelona.
Cornella didirikan pada 1951 dan saat ini berkompetisi di kasta kelima sepak bola Spanyol.
Pihak klub menyambut investasi Messi sebagai awal dari babak baru dalam sejarah mereka. Kehadiran sang pemain diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan klub dari sisi olahraga maupun kelembagaan, memperkuat fondasi yang sudah ada, serta melanjutkan investasi terhadap talenta.
Cornella juga menegaskan bahwa proyek tersebut dibangun dengan visi jangka panjang. Rencana strategisnya menggabungkan ambisi, keberlanjutan, serta hubungan yang kuat dengan akar lokal klub.
Lionel Messi/Foto: Instagram leomessi
Bukan hanya Klub di Spanyol
Investasi Messi di dunia sepak bola sebenarnya tidak berhenti di Spanyol.
Pemain berusia 39 tahun itu juga tercatat sebagai salah satu pemilik klub Uruguay, Deportivo LSM. Dalam kepemilikan tersebut, Messi berbagi posisi bersama rekan setimnya di Inter Miami, Luis Suarez.
Di Amerika Serikat, Messi juga mempunyai opsi untuk memperoleh kepemilikan saham secara langsung di Inter Miami. Opsi tersebut memungkinkan dirinya membeli sebagian saham klub MLS tersebut setelah mengakhiri karier bermainnya.
Dengan demikian, rencana pembelian Eldense akan menjadi tambahan terbaru dalam portofolio sepak bola Messi yang terus berkembang.
Bisa Jadi Masalah Jika Eldense dan Cornella Naik Kasta
Namun, kepemilikan Messi atas dua klub di Spanyol berpotensi menghadirkan persoalan tersendiri apabila keduanya terus berkembang.
Saat ini, Eldense dan Cornella masih terpaut tiga tingkat kompetisi. Akan tetapi, apabila keduanya suatu saat berhasil mencapai level yang sama, kecil kemungkinan Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) mengizinkan kedua klub berkompetisi di divisi yang sama dengan struktur kepemilikan tersebut.
Artinya, semakin tinggi prestasi kedua klub, semakin besar pula kemungkinan persoalan kepemilikan harus mendapat perhatian.
Eldense Punya Sejarah Panjang
Eldense bukanlah klub baru dalam sepak bola Spanyol. Klub tersebut didirikan pada 1921 dan sebagian besar sejarahnya dihabiskan di luar dua divisi teratas kompetisi Spanyol.
Mereka berhasil promosi ke kasta kedua pada 2023, sekaligus menjadi kali pertama Eldense bermain di level tersebut sejak 1964.
Namun, perjalanan mereka di divisi dua hanya bertahan hingga 2025 sebelum akhirnya terdegradasi. Eldense kemudian berhasil kembali mendapatkan promosi ke kasta kedua pada musim panas lalu.
Untuk pertandingan kandang, Eldense bermarkas di Nuevo Pepico Amat yang berada di kota Elda. Stadion tersebut memiliki kapasitas 5.776 penonton.
Kini, klub tersebut berada di ambang perubahan besar. Jika seluruh proses akuisisi selesai dan mendapat persetujuan yang diperlukan, Lionel Messi bukan hanya akan dikenal sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah sepak bola, tetapi juga sebagai pemilik klub di divisi dua Spanyol. (Sumber: Daily Mail/di)
JAYAKARTA NEWS— Dunia sepak bola kembali dibuat terdiam. Lionel Messi, nama yang selama lebih dari dua dekade menjadi wajah sepak bola Argentina, akhirnya mengambil keputusan besar: ia resmi mengakhiri kariernya bersama tim nasional Argentina.
Keputusan tersebut diumumkan Messi pada Senin, 31 Agustus 2026, melalui sebuah pesan emosional di media sosial. Bagi banyak penggemar, ini bukan sekadar pengumuman seorang pemain yang meninggalkan tim nasional. Ini adalah penanda berakhirnya sebuah era.
Surat Messi/Foto: Instagram leomessi
Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: Messi belum pensiun dari sepak bola profesional secara keseluruhan. Ia masih memperkuat Inter Miami di Major League Soccer. Kontraknya dengan klub Amerika Serikat tersebut bahkan masih berjalan hingga 2028.
Jadi, yang benar-benar berakhir adalah perjalanan Messi bersama Argentina.
“Keputusan yang menyakitkan hingga ke dalam jiwa”
Messi mengaku keputusan tersebut bukan sesuatu yang mudah. Setelah kekalahan Argentina dari Spanyol di final Piala Dunia 2026, ia membutuhkan waktu untuk memikirkan masa depannya.
Dalam pesan perpisahannya, Messi menulis:
“Ini adalah keputusan yang menyakitkan dan masih terasa menyakitkan jauh di dalam diri saya, tetapi saya memahami bahwa waktunya telah tiba.”
Ia juga menegaskan bahwa selama membela Argentina, dirinya selalu memberikan segalanya.
“Saya selalu memberikan semuanya untuk seragam ini, untuk membawa kebahagiaan kepada kalian dan membuat kalian bangga menjadi orang Argentina melalui sepak bola.”
Kutipan tersebut menggambarkan betapa emosionalnya keputusan Messi. Ia bukan pergi karena kehilangan kecintaan terhadap Argentina. Justru sebaliknya, rasa cinta itu menjadi salah satu alasan mengapa perpisahan ini terasa begitu berat.
Foto: Instagram leomessi
Messi juga menyebut bahwa waktunya di tim nasional memang sudah memasuki babak akhir. Ia merasa generasi muda Argentina kini sudah siap mendapatkan kesempatan.
“Saya telah memberikan semuanya yang saya miliki; sekarang saya tidak punya lagi yang bisa diberikan.”
Pesan itu menjadi simbol bahwa Messi ingin meninggalkan panggung internasional dengan kepala tegak, bukan menunggu sampai dirinya benar-benar tak mampu lagi bersaing.
Akhir Perjalanan 21 Tahun yang Luar Biasa
Messi pertama kali memperkuat tim senior Argentina pada 2005. Dari seorang pemain muda bertubuh kecil yang sempat mendapatkan kritik keras, ia berkembang menjadi kapten, pencetak gol terbanyak, sekaligus pemain dengan penampilan terbanyak dalam sejarah Albiceleste.
Catatannya luar biasa: 207 pertandingan dan 125 gol untuk Argentina. Ia juga tampil dalam enam edisi Piala Dunia.
Foto: Instagram leomessi
Tetapi perjalanan Messi bersama Argentina tidak selalu indah.
Ia pernah kehilangan tiga final besar secara beruntun. Puncaknya terjadi pada periode 2014–2016, ketika Argentina gagal memenangkan Piala Dunia 2014 serta Copa América 2015 dan 2016.
Bahkan pada 2016, Messi sempat menyatakan pensiun dari tim nasional setelah Argentina kembali kalah dari Chile melalui adu penalti.
Namun, Messi kembali.
Dan keputusan untuk kembali itu kemudian mengubah seluruh kisahnya.
Dari pemain yang dikritik menjadi simbol kejayaan Argentina
Pada 2021, Messi akhirnya memenangkan trofi senior pertamanya bersama Argentina setelah mengalahkan Brasil di final Copa América.
Setahun kemudian, datang momen yang selama bertahun-tahun terasa seperti mimpi.
Piala Dunia 2022 di Qatar.
Messi memimpin Argentina menjadi juara dunia dan tampil luar biasa sepanjang turnamen. Dalam final dramatis melawan Prancis, ia mencetak dua gol sebelum Argentina akhirnya menang melalui adu penalti.
Seolah belum cukup, Argentina kembali memenangkan Copa América pada 2024.
Kini, setelah lebih dari dua dekade, Messi meninggalkan tim nasional dengan hampir seluruh pencapaian terbesar yang mungkin diraih seorang pemain.
Piala Dunia? Ada.
Copa América? Ada.
Finalissima? Ada.
Medali emas Olimpiade? Ada.
Rekor gol dan penampilan Argentina? Ada.
Dan yang paling penting: ia akhirnya berhasil membuat rakyat Argentina bangga.
Kekalahan dari Spanyol menjadi pertandingan terakhir
Ironisnya, pertandingan terakhir Messi bersama Argentina bukanlah kemenangan.
Argentina kalah dari Spanyol di final Piala Dunia 2026. Messi dan rekan-rekannya harus puas menjadi runner-up.
Namun, kekalahan itu tidak menghapus apa yang sudah dibangun Messi.
Dalam Piala Dunia terakhirnya, Messi masih mampu memberikan kontribusi besar. Ia mencetak delapan gol sepanjang turnamen dan menunjukkan bahwa pada usia 39 tahun, dirinya masih mampu bersaing di level tertinggi.
Tak lama setelah turnamen berakhir, Messi sebenarnya sudah menulis pesan perpisahannya. Ia mencatat bahwa keputusan tersebut telah dipikirkannya sejak Juli.
Kematian sang ayah, Jorge Messi, beberapa waktu kemudian semakin memperkuat keyakinannya untuk mengakhiri perjalanan bersama Argentina. Jorge bukan hanya ayah Messi, tetapi juga figur penting dalam perjalanan karier sang megabintang.
Bukan Pensiun Total
Di sinilah banyak judul berita berpotensi membuat pembaca salah paham.
Messi tidak berhenti bermain sepak bola sekarang juga.
Ia masih menjadi pemain Inter Miami dan masih tampil di MLS. Bahkan setelah Piala Dunia, Messi sempat mencetak empat gol dalam kemenangan besar Inter Miami atas Montreal.
Artinya, para penggemar masih bisa melihat Messi bermain.
Hanya saja, mereka tidak akan lagi melihatnya mengenakan jersey Argentina dalam pertandingan internasional.
Dan mungkin justru di situlah rasa kehilangan itu terasa paling kuat.
Tidak akan ada lagi Messi berdiri di tengah lapangan dengan ban kapten Argentina. Tidak ada lagi momen ketika stadion menyanyikan namanya sebelum pertandingan besar. Tidak ada lagi harapan bahwa si nomor 10 akan menciptakan keajaiban di menit-menit terakhir untuk Albiceleste.
Dunia Maya Langsung Ramai
Pengumuman Messi langsung memicu gelombang reaksi dari penggemar sepak bola.
Di Reddit, salah satu unggahan tentang pensiunnya Messi dari tim nasional mendapatkan lebih dari seribu upvote dalam waktu singkat. Salah satu komentar yang paling sederhana sekaligus menggambarkan suasana hati banyak penggemar berbunyi:
“The GOAT. Pleasure to watch him.”
Ada pula komentar yang menyebut:
“End of an era.”
Sementara penggemar lain mengatakan mereka justru lega melihat Messi pergi pada waktunya, setelah menyaksikan sang pemain tetap tampil luar biasa di Piala Dunia terakhirnya.
Di Argentina sendiri, suasananya bahkan jauh lebih emosional. Media lokal menggambarkan pengumuman tersebut sebagai “Fin de una era” — akhir sebuah era.
ANSA melaporkan bahwa jutaan tanda suka dan ratusan ribu komentar membanjiri unggahan Messi. Salah satu ungkapan yang ramai dirangkum media Argentina adalah:
“Gracias eternamente, Leo.”
Terima kasih selamanya, Leo.
Bahkan Presiden Argentina Javier Milei turut memberikan penghormatan dengan mengunggah foto Messi mengenakan jersey tim nasional disertai pesan singkat: “¡Muchas gracias, hombre imposible!”
Kini Messi menjadi penonton bagi Argentina
Ada satu bagian paling menyentuh dari pesan Messi.
Ia mengatakan bahwa mulai sekarang, dirinya akan menjadi salah satu orang yang mendukung Argentina dari luar lapangan.
Bayangkan sosok yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perhatian kini hanya akan menyaksikan generasi berikutnya berjuang dari pinggir lapangan.
Messi telah memberikan lebih dari cukup.
Ia datang sebagai anak muda Rosario yang membawa mimpi besar. Ia melewati kritik, kegagalan, kekalahan di final, bahkan sempat meninggalkan tim nasional.
Namun ia kembali.
Dan ketika akhirnya pergi, ia meninggalkan Argentina sebagai juara dunia.
Itulah alasan mengapa perpisahan ini terasa berbeda.
Messi tidak pergi sebagai pemain yang gagal memenuhi harapan negaranya.
Ia pergi sebagai kapten yang telah memenangkan hampir semuanya.
Sepak bola selalu memiliki batas waktu. Pemain datang, berkembang, mencapai puncak, kemudian perlahan meninggalkan panggung.
Tetapi tidak semua pemain meninggalkan jejak seperti Lionel Messi.
Selama 21 tahun bersama Argentina, ia menciptakan terlalu banyak momen untuk dihitung: gol, assist, dribel, trofi, tangisan, kekalahan, kemenangan, dan akhirnya sebuah Piala Dunia.
Kini babak itu resmi berakhir.
Messi sendiri menutup pesannya dengan rasa bangga terhadap negaranya dan kecintaannya kepada Argentina.
Dan mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan perpisahan ini:
Messi tidak benar-benar meninggalkan Argentina. Ia hanya berhenti bermain untuk Argentina.
Nomor 10 mungkin suatu hari akan dikenakan pemain lain. Kapten baru akan berdiri di lingkaran tengah. Generasi baru akan mengejar trofi.
Tetapi bagi jutaan orang, nama Lionel Messi akan selalu melekat pada satu warna: biru-putih.
Sang legenda telah pergi dari lapangan internasional.
Namun kisahnya bersama Argentina akan tetap hidup. (di/Sumber: Daily Mail, Reuters, dan sumber lainnya)
JAYAKARTA NEWS— Lima hari telah berlalu sejak kepergian ayah tercinta, Jorge Messi, Lionel masih terbenam dalam kesedihan mendalam. Seolah kehilangan Kompas, ia sangat kebingungan bahkan untuk menentukan arah kariernya sepeninggalan ayahnya.
Jorge Messi, sang ayah sekaligus orang yang menjadi bagian penting dari perjalanan kariernya, meninggal dunia pada 7 Agustus dalam usia 68 tahun. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi Messi—bahkan membuat kapten Argentina itu mulai mempertanyakan masa depannya sendiri di sepak bola.
“Ayah, aku masih tidak percaya Ayah sudah tiada. Rasanya belum meresap sepenuhnya, atau lebih tepatnya, aku tidak ingin menerimanya,” tulis Messi dalam surat yang ia unggah di Instagram.
Ia mengaku sulit membayangkan kehidupan tanpa sosok yang selama ini selalu ada di sisinya.
“Sangat sulit bagiku membayangkan tidak akan pernah melihat Ayah lagi, tidak akan pernah berbicara dengan Ayah lagi. Aku tahu Ayah menderita dan ini adalah jalan terbaik, tapi Ayah pergi terlalu cepat. Masih banyak hal yang ingin kita nikmati bersama.”
Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Foto: Instagram leomessi
Lalu, Messi menuliskan kalimat yang membuat masa depan kariernya di lapangan menjadi tanda tanya.
“Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu, aku tidak tahu bagaimana harus melangkah. Hidupku hanya seputar sepak bola, dan kini aku sangat ragu apakah aku akan melanjutkannya lebih lama lagi.”
Bagi Messi, Jorge Bukan Sekadar Seorang Ayah
Jorge adalah orang yang menemaninya sejak langkah-langkah pertama di dunia sepak bola, menjadi agen dan manajer bisnis de facto, sekaligus sosok yang berada di belakang berbagai keputusan penting dalam karier putranya.
Karena itu, kepergian Jorge terasa seperti hilangnya bagian dari perjalanan panjang yang selama ini mereka jalani bersama.
“Ayah selalu mendampingiku sejak awal, padahal kita sudah begitu dekat dengan akhir perjalanan itu. Mengapa Ayah tidak bisa bertahan sedikit lebih lama lagi agar kita bisa menyelesaikannya bersama-sama?” tulis Messi.
Piala Dunia yang ingin dipersembahkan untuk sang ayah
Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Sumber Foto: tangkap layar Instagram fersvaluto
Jorge bahkan menjadi salah satu alasan utama Messi memutuskan tetap bermain di Piala Dunia musim panas ini.
Sang ayah terus meminta Messi untuk tampil di turnamen tersebut. Namun, beberapa hari sebelum turnamen dimulai, kondisi kesehatan Jorge memburuk.
Itu menjadi kali pertama Jorge tidak bisa hadir di sebuah turnamen yang diikuti putranya.
Meski demikian, ibu Messi terus meyakinkannya bahwa Jorge akan membaik dan cukup sehat untuk bepergian. Messi pun mengatakan kepada sang ayah bahwa Argentina akan melaju ke final agar Jorge bisa datang menyaksikannya.
Namun, harapan itu tidak pernah terwujud.
“Setiap kali pertandingan usai, saya selalu menunggu dan merindukan pesan dari Ayah. Saat itulah saya sadar situasinya benar-benar serius,” kenang Messi.
Ia tetap berusaha membawa Argentina melangkah sejauh mungkin. Salah satu alasannya sederhana: memberi Jorge waktu untuk pulih dan kesempatan menyaksikan pertandingan-pertandingan putranya.
Argentina akhirnya mencapai final di New York.
Tetapi Jorge tidak bisa hadir.
Messi ingin memenangkan trofi itu untuk ayahnya. Ia ingin membawanya pulang, memperlihatkannya secara langsung kepada Jorge, dan berbagi momen tersebut dengannya.
Namun, tubuh Messi tidak mampu memberikan apa yang ia inginkan.
“Saya tidak mampu; fisik saya sudah tidak sanggup lagi. Kali ini saya mencoba melawan keterbatasan fisik saya, tetapi gagal. Kondisi saya tidak pernah benar-benar fit,” katanya.
Argentina akhirnya kalah 1-0 dari Spanyol di final.
Yang lebih menyakitkan bagi Messi, Jorge bahkan tidak benar-benar bisa menikmati perjalanan tersebut.
“Saat saya tiba, Ayah mengira kami kalah di final lewat adu penalti. Kami tidak bisa membahas apa pun yang telah terjadi. Ayah tidak bisa menikmati momen itu sama sekali.”
Argentina memang tidak menjadi juara. Namun bagi Messi, perjalanan tersebut tetap memiliki arti yang sangat besar.
“Ayah tidak tahu betapa kami menikmati setiap pertandingannya. Sekali lagi, Ayah benar: saya memang harus berada di sana dan bermain.”
Messi mengatakan kisah tersebut adalah satu-satunya hal yang belum sempat mereka bicarakan.
“Saya menceritakan hal ini karena inilah satu-satunya topik yang tidak sempat kami bahas, sementara hal-hal lainnya sudah Ayah ketahui. Dulu kita biasa mengobrol setiap hari dan bertemu kapan pun memungkinkan, mengingat kesibukan saya.”
Kini, percakapan-percakapan itu berhenti.
Ronaldo ikut mengirim pelukan
Kabar meninggalnya Jorge memicu gelombang penghormatan dari dunia sepak bola.
Salah satu pesan yang paling menyentuh datang dari Cristiano Ronaldo, rival berat Messi sekaligus pemain yang memahami kehilangan seorang ayah dalam usia muda.
Ronaldo Merespon Unggahan Messi
Ronaldo menanggapi unggahan Messi dengan pesan singkat: “Pelukan hangat untukmu dan keluarga di masa-masa sulit ini, Leo. Semoga diberi kekuatan.”
Cristiano Ronaldo/Foto: Instagram cristiano
Ronaldo tentu memahami rasa kehilangan tersebut. Ia sendiri kehilangan ayahnya pada 2005 ketika baru berusia 20 tahun.
Selain Ronaldo, penghormatan juga datang dari klub pertama Messi, Newell’s Old Boys, Barcelona, serta tim nasional Argentina.
Messi sendiri melewatkan pertandingan ketika Inter Miami kalah dari Monterrey pada hari Minggu. Ia memilih pulang ke rumah setelah kematian sang ayah.
Melalui Instagram Stories, Messi kemudian menyampaikan terima kasih kepada mereka yang memberikan dukungan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua orang atas segala cinta, rasa hormat, dan perhatian luar biasa yang telah kalian tunjukkan kepada saya dan keluarga di masa yang sangat menyakitkan ini akibat kepergian Ayah.”
“Terima kasih telah mendampingi kami, atas setiap pesan, setiap gestur, dan yang terpenting, atas penghormatan kalian terhadap duka dan privasi kami.”
Ia juga mengunggah foto bersama sang ayah dengan keterangan sederhana dalam bahasa Spanyol:
“Aku mencintaimu, Pa.”
Air mata Messi di Piala Dunia
Kepergian Jorge sebenarnya didahului oleh tanda-tanda bahwa kondisi kesehatannya telah lama memburuk.
Dalam beberapa bulan terakhir, kepala keluarga Messi itu menghadapi masalah kesehatan yang tidak pernah dikonfirmasi secara resmi. Kondisinya bahkan sempat mengharuskannya dilarikan ke rumah sakit di Argentina.
Kabar mengenai penyakit Jorge pertama kali menjadi sorotan publik ketika Lionel Messi menangis di lapangan dalam Piala Dunia.
Bagi pemain yang selama bertahun-tahun dikenal mampu menjaga emosinya di hadapan publik, momen tersebut terasa berbeda.
Setelah mencetak hat-trick melawan Aljazair dalam pertandingan pembuka grup Argentina di Kansas City, Messi ditanya wartawan mengenai air matanya.
“Tidak, sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Ini adalah hari-hari yang sulit dan rumit,” kata Messi.
Beberapa jam kemudian, jurnalis Eduardo Feinmann mengungkapkan alasan di balik tangisan tersebut melalui Radio Mitre, salah satu stasiun radio yang paling banyak didengarkan di Argentina.
“Hal ini berkaitan dengan ayahnya. Kondisi kesehatan ayahnya sedang tidak baik,” kata Feinmann.
“Sudah cukup lama, beberapa bulan, sejak tahun lalu. Dan minggu ini ada situasi yang membuat kesehatannya sedikit memburuk, sehingga Messi sedang menghadapi pergulatan batin ini. Dengan kata lain, layaknya manusia pada umumnya.”
Belakangan dilaporkan bahwa Jorge mengalami masalah kesehatan serius di rumahnya pada Januari tahun ini hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Setelah kejadian tersebut, ia dikabarkan menjalani pemeriksaan kardiovaskular dan neurologis. Namun, keluarga tidak pernah memublikasikan diagnosis resminya karena ingin menjaga privasi kondisi kesehatan Jorge dari sorotan media.
Kesehatan Jorge kembali menjadi berita utama pada Juni, ketika seorang penyiar Argentina secara keliru mengabarkan bahwa ia telah meninggal dunia.
Penyiar tersebut kemudian menyampaikan permintaan maaf secara emosional dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Sebulan lebih kemudian, kabar yang sebenarnya akhirnya datang.
Jorge benar-benar pergi.
Lionel Messi/Foto: Instagram leomessi
Jorge Berada di Balik Legenda Messi
Lionel adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Jorge dan Celia Cuccittini. Keduanya menikah pada 1978 dan tetap bersama hingga akhir hayat Jorge. Mereka membagi waktu tinggal antara Rosario dan Miami, tempat Lionel kini bermain bersama Inter Miami milik David Beckham di Major League Soccer (MLS).
Sebelum menjadi agen Lionel, Jorge bekerja di sebuah perusahaan manufaktur baja di Villa Constitucion. Ia bertemu Celia ketika masih muda di Rosario, kota yang kemudian menjadi tempat keluarga mereka menetap dan membesarkan anak-anak.
Messi memiliki dua kakak laki-laki, Rodrigo dan Matias, serta seorang adik perempuan, Maria Sol.
Di antara keempat anak tersebut, Lionel kemudian menjadi nama yang dikenal di seluruh dunia.
Namun, perjalanan menuju status sebagai salah satu pesepak bola terbesar sepanjang masa tidak pernah benar-benar ia jalani sendirian.
Jorge selalu berada di dekatnya.
Karier Messi bermula di Argentina bersama Newell’s Old Boys sebelum ia pindah ke Spanyol dan bergabung dengan akademi Barcelona, La Masia, pada 2000.
Selama 21 tahun yang luar biasa di Barcelona, Messi mengukuhkan dirinya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang masa.
Ketika dunia sepak bola dikejutkan oleh kepindahannya ke Paris Saint-Germain pada 2021, Jorge berada di balik proses tersebut.
Dua tahun kemudian, Messi meninggalkan ibu kota Prancis dan pindah ke Amerika Serikat untuk bergabung dengan Inter Miami.
Kini, di usia 39 tahun, ia masih bermain.
Namun, untuk pertama kalinya setelah perjalanan karier yang begitu panjang, Messi mengaku tidak yakin berapa lama lagi ia akan melanjutkannya.
Sebab, orang yang selama ini selalu ada di sampingnya sudah tidak ada.
Bersama Melewati Masa-masa Sulit
Hubungan Jorge dan Lionel tidak hanya diuji oleh keberhasilan.
Ketika Messi menghadapi kasus penipuan pajak pada 2016, sang ayah juga tetap berada di sisinya.
Keduanya duduk bersama di hadapan pengadilan. Jorge saat itu bertindak sebagai manajer bisnis putranya.
Jaksa menuduh Messi gagal membayar pajak secara semestinya atas pendapatan dari hak citra dirinya antara 2007 dan 2009.
Pada akhirnya, ayah dan anak tersebut dinyatakan bersalah atas tiga pelanggaran pajak.
Keduanya pada awalnya dijatuhi hukuman penjara 21 bulan dengan masa percobaan.
Hukuman Jorge kemudian dikurangi menjadi 15 bulan setelah peninjauan kembali oleh Mahkamah Agung Spanyol pada 2017. Keduanya juga dikenai denda dalam jumlah besar.
Sepanjang karier Messi—dari Rosario, Barcelona, Paris, hingga Miami—Jorge hampir selalu menjadi bagian dari cerita.
Ia melihat putranya tumbuh dari seorang anak yang mengejar bola menjadi salah satu pesepak bola terbesar dalam sejarah.
Ia mendampingi Messi ketika karier itu dimulai.
Ia mengurus berbagai urusan bisnisnya.
Ia berada di sisinya ketika menghadapi persoalan hukum.
Dan ketika tubuhnya mulai melemah, ia masih meminta putranya bermain di Piala Dunia.
Kini, setelah Jorge pergi, Messi berdiri di titik yang berbeda.
Ia telah memenangkan hampir segala sesuatu yang bisa dimenangkan seorang pesepak bola. Namun, ada satu hal yang tidak sempat ia berikan kepada ayahnya: kesempatan untuk mengangkat trofi Piala Dunia bersama-sama.
Dan di tengah duka itu, Messi hanya bisa mengajukan satu pertanyaan kepada dirinya sendiri: ‘Bagaimana melangkah ketika orang yang selama ini selalu berjalan bersamanya sudah tidak ada?’ (Sumber: Daily Mail)
JAYAKARTA NEWS— Setelah berjuang berbulan-bulan melawan penyakitnya, Jorge Horacio Messi — ayah bintang Argentina, Lionel Messi— meninggal dunia pada Jumat (7/8/2026) pada usia 68 tahun. Jorge Messi meninggal sekitar pukul 22.00 waktu setempat di rumah sakit di Rosario, Argentina.
Mengutip Daily Mail, kabar duka ini pertama kali dilaporkan oleh media lokal di Argentina dan kemudian dikonfirmasi melalui pernyataan resmi dari klub pertama Messi, Newell’s Old Boys.
Dalam pernyataannya, Newell’s Old Boys menulis dalam bahasa Spanyol: “Club Atletico Newell’s Old Boys melepas kepergian Jorge Messi dengan rasa duka dan kesedihan mendalam; beliau meninggal dunia pada usia 68 tahun di kota Rosario.
“Beliau dikenal sebagai penggemar setia ‘Leproso’, seorang pengusaha, dan ayah dari kapten tim nasional Argentina, Lionel Andrés Messi. Jorge adalah sosok pilar yang mendukung karier pemain terhebat sepanjang masa tersebut dengan visi, keteguhan, dan kasih sayang, bersama istrinya, Celia Cuccittini.
“Kehadirannya yang senantiasa mendampingi serta kepemimpinannya di balik layar sangatlah penting dalam mendukung setiap langkah Lionel, mulai dari awal kariernya di Malvinas hingga mencapai puncak kejayaan sepak bola dunia. Terima kasih telah mengajarkannya untuk mencintai warna kebanggaan ini.
“Dewan Direksi, anggota, atlet, dan seluruh keluarga besar ‘Leprosa’ menyampaikan pelukan hangat dan kasih sayang kepada Celia, Lionel, Rodrigo, Matías, dan María Sol, beserta seluruh kerabat dan orang-orang terdekat di masa sulit ini. Selamat jalan selamanya, *Leproso*.”
Daily Mail mengungkapkan hingga kini belum terungkap penyebab meninggalnya Jorge Messi.
Melalui unggahan di platform X, CONMEBOL—badan induk sepak bola Amerika Selatan—menyampaikan: “CONMEBOL sangat berduka atas meninggalnya Jorge Messi, ayah dari pesepak bola Argentina, Lionel Messi. Kami turut mendampingi Lionel, keluarga, teman, dan orang-orang terkasih dengan rasa hormat dan kasih sayang di saat penuh duka ini. Semoga beliau beristirahat dengan tenang.”
Legenda sepak bola Messi memiliki hubungan yang sangat erat dengan ayahnya, yang juga berperan sebagai agen sekaligus manajer bisnis *de facto* sepanjang kariernya, serta mengelola kerajaan bisnis bernilai jutaan dolar milik sang putra di luar lapangan.
Namun, dalam beberapa bulan terakhir, sosok kepala keluarga tersebut menghadapi masalah kesehatan yang belum terkonfirmasi secara resmi, yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit di negara asalnya.
Kabar mengenai penyakitnya pertama kali mencuat ketika Lionel, 39 tahun, menangis di lapangan saat pertandingan Piala Dunia—sebuah momen langka di mana ia menunjukkan emosinya di depan publik.
Foto: Instagram Jorge.Sole
Setelah mencetak *hat-trick* melawan Aljazair dalam pertandingan pembuka grup Argentina di Kansas City, Messi ditanya oleh para jurnalis dan berkata: “Tidak, sejujurnya ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan olahraga. Ini adalah hari-hari yang sulit dan rumit.”
Hanya beberapa jam kemudian, jurnalis Eduardo Feinmann menjelaskan alasan di balik air mata tersebut dalam sebuah wawancara di Radio Mitre, salah satu stasiun radio yang paling banyak didengarkan di negara itu.
“Ini berkaitan dengan ayahnya. Kondisi kesehatan ayahnya sedang tidak baik,” ujarnya. “Sudah cukup lama, beberapa bulan, sejak tahun lalu.”
“Dan minggu ini ada situasi tertentu yang sedikit memperburuk kesehatannya, sehingga Messi sedang mengalami pergulatan batin ini. Dengan kata lain, layaknya manusia biasa.”
Jorge Alami ‘Insiden Medis’?
Belakangan dilaporkan bahwa Jorge mengalami “insiden medis” di rumahnya pada bulan Januari tahun ini, yang menyebabkannya harus dirawat di rumah sakit, mengutip Daily Mail.
Setelah kejadian itu, ia dikabarkan menjalani pemeriksaan kardiovaskular dan neurologis, namun pihak keluarga tidak membagikan diagnosis resmi apa pun karena mereka berupaya menjaga privasi kesehatan Jorge dari sorotan media.
Kesehatan Jorge kembali menjadi berita utama pada bulan Juni, ketika seorang penyiar di Argentina secara keliru mengklaim bahwa ia telah meninggal dunia—sebelum akhirnya menyampaikan permintaan maaf yang emosional dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Lionel adalah anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Jorge dan istrinya, Celia Cuccittini; keduanya tetap bersama hingga akhir hayat Jorge. (Sumber: Daily Mail)
JAYAKARTA NEWS— Kylian Mbappe, Lionel Messi dan Erling Haaland — sementara ini— berada di puncak peraih Gol Terbanyak. Ketiganya masing-masing telah mengoleksi 7 gol. Hanya saja kelebihan Mbappe saat ini adalah selain 7 gol ada 2 asis. Sementara Messi dan Haaland ‘Nol’ asis. Di luar ketiga pemain tersebut ada Harry Kane yang telah mengoleksi 6 gol dan 1 asis.
Siapa yang bakal meraih ‘Sepatu Emas’?
Dalam sejarah turnamen sebelumnya, Lionel Messi belum pernah memenangkan trofi Sepatu Emas (Golden Boot) Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia hampir meraihnya namun berada di posisi runner-up dengan 7 gol, kalah jumlah assist dari Kylian Mbappé yang keluar sebagai peraih Sepatu Emas.
Sementara Erling Haaland yang kini tengah berkibar di Piala Dunia banyak dijagoan untuk meraih gelar bergengsi itu. Harry Kane pernah merasakan kejayaan meraih Sepatu Emas pada Piala Dunia 2018 di Rusia.
Foto: Instagram Kylian Mbappe
Tapi Mbappe ‘juara bertahan’, ia Peraih Gol Terbaik Piala Dunia 2022. Penampilannya yang luar biasa bersama timnya Prancis, membuat banyak orang meyakini dia bakal berhasil memperhankan gelarnya.
Mungkin dia masih akan menambah golnya pada perempat final nanti melawan Maroko. Meningkatnya optimis Mbappe setelah ia berhasil menyamai rekor Messi, saat Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 pada babak 16 besar, dan melaju ke perempat final melawan Maroko.
Dikutip dari Al Jazeera, Prancis membutuhkan penalti Kylian Mbappe di babak kedua untuk menaklukkan tim Paraguay yang gigih, memenangkan pertandingan babak 16 besar Piala Dunia yang ketat dengan skor 1-0 untuk melaju ke perempat final melawan Maroko.
Upaya Paraguay untuk mengganggu permainan para superstar Prancis berhasil selama tiga perempat pertandingan yang dimainkan di hadapan 68.324 penonton di Philadelphia dalam kondisi cuaca panas pada hari Sabtu.
Namun, kualitas permainan Prancis akhirnya terlihat, dengan Mbappe mencetak gol dari titik penalti pada menit ke-70 setelah Desire Doue dilanggar.
Ini bukanlah penampilan menyerang yang gemilang dari Prancis seperti yang mereka tunjukkan di pertandingan sebelumnya, tetapi Paraguay tidak membiarkan mereka bermain seperti itu.
Foto: Instagram k.mbappe
Pertandingan itu sangat timpang, dengan Les Bleus menguasai hampir seluruh bola dan Paraguay tidak berhasil melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-90.
Penampilan gemilang Mbappe di Piala Dunia secara pribadi berlanjut saat ia kembali menyamai Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak bersama di turnamen ini dengan tujuh gol.
Striker Real Madrid itu kini memiliki total 19 gol di Piala Dunia – dari 19 penampilan – yang berarti ia hanya terpaut satu gol dari rekor Messi yang berjumlah 20 gol.
Tim Didier Deschamps kini akan kembali ke markas mereka di Boston untuk mempersiapkan pertandingan perempat final di Foxborough, Kamis depan melawan Maroko, yang sebelumnya mengalahkan Kanada 3-0. (di/Sumber: Al Jazeera)
JAYAKARTA NEWS— Erling Haaland kembali jadi sorotan dunia. Striker Manchester City ini tampil sensasional di Piala Dunia 2026, mencetak empat gol dalam dua laga awal yang membawa Norwegia lolos ke babak knockout untuk pertama kalinya sejak 1998.
Di laga pembuka melawan Irak, Haaland mencetak dua gol dalam kemenangan 4-1. Ia kembali mencetak dua gol saat Norwegia menundukkan Senegal 3-2. Catatan ini menempatkannya dalam persaingan ketat perebutan Sepatu Emas, bersama Lionel Messi (5 gol) dan Kylian Mbappé (4 gol). Cristiano Ronaldo juga ikut meramaikan dengan torehan 2 gol.
Usai laga, Haaland berkata: “Saya beruntung, tapi mencetak gol memang spesialisasi saya.” Ia juga menambahkan prediksi berani: “Saya rasa Prancis bisa memenangkan Piala Dunia 2026.”
Erling Haaland raih penghargaan Pemain Terbaik (Man of the Match) dalam pertandingan Piala Dunia 2026 bersama Timnas Norwegia (Foto: Instagram erling)
Dari Manchester ke Dunia
Prestasi Haaland di Piala Dunia bukanlah kejutan. Sejak bergabung dengan Manchester City pada 2022, ia langsung mencetak sejarah: 36 gol di Premier League musim debut, memecahkan rekor sepanjang masa. Ia juga membawa City meraih treble bersejarah (Premier League, FA Cup, Liga Champions) dan menjadi top scorer Liga Champions dengan 12 gol.
“Di City, Haaland sudah jadi mesin gol. Kini di Piala Dunia, ia membuktikan dirinya bukan hanya striker klub, tapi juga ikon nasional,” ujar seorang pengamat sepakbola Eropa.
Erling Braut Haaland dan ayahnya Alfie Haaland /Foto: tangkap layar Instagram alfiehaaland
Jejak Sang Ayah
Kisah Haaland tak bisa dilepaskan dari ayahnya, Alf-Inge Haaland, mantan pemain timnas Norwegia yang pernah merumput di Premier League bersama Leeds United dan Manchester City. Meski sang ayah tak pernah tampil di Piala Dunia, kiprahnya di level internasional memberi inspirasi besar bagi Erling.
“Melihat Haaland di panggung dunia adalah mimpi yang jadi nyata. Ia melanjutkan jejak ayahnya, tapi dengan pencapaian yang lebih besar,” tulis seorang netizen di Twitter/X.
Supporter: Dia Predator Gol!
Sejumlah supporter khususnya dari Norwegia mengaku bangga dengan kiprah Haarland di panggung dunia. “Kami bangga! Akhirnya Norwegia punya ikon besar yang bisa bersaing di panggung dunia.”
Fans Manchester City: “Apa pun seragamnya, Haaland tetap Haaland. Insting golnya tidak pernah hilang.”
Netizen: “Empat gol di dua laga? Haaland bukan manusia, dia predator gol!”
Komentar-komentar ini menunjukkan betapa Haaland kini bukan hanya milik Norwegia atau Manchester City, tapi milik sepakbola dunia.
Dari tabel ini jelas, Haaland lebih produktif daripada Ronaldo di edisi 2026, meski masih tertinggal dari Messi
Piala Dunia 2026 adalah panggung besar pertama bagi Haaland. Ia berharap bisa terus mencetak gol dan membawa Norwegia melangkah lebih jauh. Bagi dunia sepakbola, Haaland kini bukan hanya striker tajam, tapi juga wajah baru industri olahraga global: kontrak sponsor besar, pengaruh di media sosial, dan daya tarik komersial yang luar biasa.
“Jika Haaland terus seperti ini, ia akan jadi legenda baru. Messi dan Ronaldo punya penerus yang layak,” kata seorang analis sepakbola internasional. (di/Sumber: WION, NDTV Sports, YEN.com.gh, France 24, ESPN)
JAYAKARTA NEWS— Kabar menggembirakan datang dari keluarga Lionel Messi. Jorge Messi, ayah sekaligus sosok yang selama puluhan tahun menjadi pendamping terdekat sang megabintang Argentina, dilaporkan menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat masalah kesehatan yang belum diungkap secara rinci kepada publik.
Pekan lalu, keluarga Messi mengonfirmasi bahwa Jorge Messi tengah menghadapi sebuah “situasi kesehatan” yang membutuhkan perhatian medis. Pengumuman tersebut muncul tidak lama setelah Lionel Messi terlihat emosional usai membantu Argentina meraih kemenangan 3-0 atas Aljazair pada laga fase grup Piala Dunia 2026.
Momen ketika Messi menitikkan air mata di lapangan sempat memicu berbagai spekulasi. Banyak penggemar bertanya-tanya mengenai penyebab emosi yang diperlihatkan kapten Argentina tersebut. Tak lama kemudian, keluarga Messi memberikan penjelasan bahwa Jorge Messi sedang menjalani perawatan medis.
Kini, laporan terbaru dari Argentina menyebutkan bahwa kondisi pria berusia 68 tahun itu terus membaik. Media Argentina Paparazzi melaporkan Jorge menunjukkan respons positif terhadap pengobatan yang dijalaninya dan berharap dapat segera meninggalkan rumah sakit dalam waktu dekat apabila proses pemulihannya berjalan sesuai harapan.
Bagi Lionel Messi, kabar tersebut tentu menjadi angin segar di tengah kesibukannya memimpin Argentina dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia.
Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Sumber Foto: tangkap layar Instagram fersvaluto
Sosok yang Selalu Ada di Balik Kesuksesan Messi
Jorge Messi bukan hanya seorang ayah bagi Lionel Messi. Ia juga merupakan agen, penasihat, dan pengelola berbagai urusan bisnis yang mengiringi perjalanan karier salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa.
Sejak Messi masih berjuang menembus tim utama Barcelona pada awal 2000-an, Jorge telah menjadi figur sentral yang mengatur berbagai keputusan penting dalam kehidupan putranya. Dari negosiasi kontrak, kesepakatan sponsor, hingga berbagai aktivitas komersial bernilai jutaan dolar, Jorge selalu berada di garis depan untuk melindungi dan mendukung karier sang putra.
Hubungan keduanya dikenal sangat dekat. Dalam berbagai kesempatan, Messi kerap menyebut keluarganya sebagai fondasi utama yang membantunya melewati tekanan besar sebagai pesepak bola kelas dunia.
Karena itulah, kondisi kesehatan Jorge diyakini memberikan dampak emosional yang besar bagi sang kapten Argentina selama berlangsungnya turnamen.
Piala Dunia Terakhir Sang Legenda
Di tengah kekhawatiran mengenai kondisi ayahnya, Messi tetap menunjukkan performa yang mengesankan di Piala Dunia 2026.
Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini diyakini menjadi penampilan terakhir Messi di panggung Piala Dunia. Pada usia 38 tahun, sang legenda masih menjadi sosok sentral dalam skuad Argentina yang datang sebagai juara bertahan.
Foto: Instagram leomessi
Bahkan sebelum turnamen dimulai, Messi sudah lebih dulu mencetak sejarah. Ia menjadi pemain pertama yang tampil dalam enam edisi Piala Dunia, sebuah rekor yang belum pernah dicapai pemain mana pun sepanjang sejarah sepak bola.
Debutnya di ajang terbesar dunia terjadi pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Dua dekade kemudian, ia masih mengenakan ban kapten Argentina dan tetap menjadi tumpuan utama tim nasional negaranya.
Terus Menambah Rekor
Messi juga terus memperkaya koleksi catatan bersejarahnya sepanjang turnamen.
Penampilannya saat melawan Aljazair menjadi salah satu yang paling berkesan. Selain membawa Argentina meraih kemenangan 3-0, laga tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai pemain yang mampu tampil menentukan bahkan di usia yang tidak lagi muda untuk ukuran pesepak bola profesional.
Beberapa hari kemudian, Messi kembali menjadi pembeda saat Argentina mengalahkan Austria dengan skor 2-0. Hasil tersebut membuat Argentina semakin dekat dengan tiket menuju fase gugur dan mempertegas status mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara.
Selain mengejar trofi dunia kedua dalam kariernya, Messi juga masih berpeluang memperlebar sejumlah rekor individu. Setiap menit yang ia mainkan di Piala Dunia 2026 berpotensi menambah catatan penampilan, kontribusi gol, maupun berbagai pencapaian yang selama ini identik dengan namanya.
Misi Menutup Karier dengan Sempurna
Bagi banyak penggemar sepak bola, Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah kesempatan terakhir untuk menyaksikan Messi beraksi di panggung terbesar sepak bola dunia.
Setelah memenangkan hampir seluruh gelar bergengsi yang tersedia, termasuk Copa America, Liga Champions, Ballon d’Or, dan Piala Dunia 2022, Messi kini memiliki kesempatan untuk menutup perjalanan internasionalnya dengan cara yang nyaris sempurna.
Namun di balik sorotan stadion yang megah dan berbagai rekor yang terus bertambah, terdapat sisi manusiawi yang tengah dijalani sang legenda. Di saat jutaan pasang mata menyaksikannya mencetak sejarah, pikirannya juga tertuju kepada sosok yang telah mendampinginya sejak awal perjalanan karier: Jorge Messi.
Karena itu, kabar mengenai membaiknya kondisi Jorge Messi menjadi berita yang melegakan tidak hanya bagi keluarga mereka, tetapi juga bagi para pendukung Argentina di seluruh dunia. Di tengah perjuangan mengejar kejayaan terakhir bersama Albiceleste, Lionel Messi kini setidaknya dapat sedikit bernapas lega karena sang ayah dikabarkan berada di jalur pemulihan yang positif.
Dan selama Jorge terus berjuang untuk pulih, Messi pun tampaknya akan terus melakukan hal yang selama ini paling dikenalnya: menulis sejarah. (di/Sumber: euronews, KESQ,NBC New York, Daily Mail, The Times of India, Al Jazeera)
JAYAKARTA NEWS— Lebih dari dua puluh petani Argentina dan penggemar berat legenda sepak bola Lionel Messi, menumbuhkan potret raksasa pemain populer di ladang jagung mereka, sebagai penghargaan.
Lionel Messi memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia, tetapi dia lebih dicintai di negara asalnya Argentina, di mana kebanyakan orang melihatnya sebagai dewa sepak bola. Messi baru-baru ini memimpin tim nasional Argentina untuk memenangkan Piala Dunia 2022, yang membuatnya semakin populer dari sebelumnya, tetapi penggemar sejatinya yakin ini akan menjadi tahunnya bahkan sebelum turnamen dimulai.
Misalnya, tak lama sebelum Piala Dunia tahun lalu dimulai, lebih dari 20 petani Argentina menggunakan algoritme penanaman seorang insinyur pertanian untuk membuat potret raksasa Messi di ladang jagung mereka.
sumber foto: odditycentral.com
“Saya punya ide untuk membuat kode yang masuk ke seeders dengan wajah Messi sebagai penghargaan,” kata insinyur pertanian Carlos Faricelli kepada Reuters, menambahkan bahwa dia kemudian dengan bebas menyediakannya bagi setiap petani yang cukup berani untuk menggunakannya. Akhirnya, lebih dari 20 petani di berbagai provinsi Argentina bergabung dengannya.
“Kami semua mempertaruhkannya, karena kami ‘menato’ potret Messi di tengah kekeringan,” kata Faricelli kepada TN Argentina, tetapi setidaknya beberapa dari risiko ini terbayar, karena potret ikonik Messi mulai muncul secara harfiah dari tanah seperti jagung tanaman bertunas.
Insinyur pertanian menjelaskan bahwa berkat algoritme khususnya, mesin mengetahui berapa banyak benih per meter persegi yang harus ditanam di tempat-tempat tertentu untuk menciptakan kontras di berbagai bagian wajah Messi.
“Jadi ketika jagung ini tumbuh dan tembakan dari udara diambil, di mana tanaman lebih dekat satu sama lain dan tanah kurang terlihat, warna hijau yang lebih pekat kontras dengan tanaman yang lebih sedikit dan kemudian seni pertanian semacam ini tercipta,” kata Faricelli. .
Ditanam sebelum Piala Dunia tahun lalu, “tato pertanian” Messi baru-baru ini mulai terbentuk, dan foto serta video dari berbagai bidang dari seluruh Argentina telah tersedia secara online.***odditycentral/din
Generasmi muda Prancis, generasi emas, yang siap mendominasi jagat sepak bola di tahun-tahun mendatang.
SETELAH memenangkan Piala Dunia, sulit untuk berpikir bahwa hari-hari terbaik masih akan datang, tetapi itulah situasi tepatnya bagi Perancis setelah mendapatkan tropi kedua di baju biru mereka yang terkenal.
Sisi Didier Deschamps, yang sekarang duduk sebagai pelatih teratas di dunia sepakbola. Tampaknya, dia masih berhasrat untuk tetap memegang kendali Timnas Prancis untuk beberapa waktu kedepan, untuk mengukir sukses berikutnya di Piala Eropa yang akan datang.
Meskipun siklusnya secara resmi dimulai di Moskow, seperti hidangan kompi, ini adalah sesuatu yang telah diseduh.
Griezmann dan Mbappe berpelukan merayakan gol ketiga Prancis atas Kroasia.
Perancis yang merupakan runner-up di Kejuaraan Eropa pada tahun 2016, dan banyak dari hasil sukses saat ini seperti di level U-20 di Turki pada tahun 2013. Tanda-tanda itu tidak menyenangkan bagi dunia, dan masa depan tampaknya amat dekat dengan siklus dimana dominasi menjadi milik Prancis.
Prancis telah memenangkan Piala Dunia ini dengan tim termuda dalam turnamen, seperti dengan adanya Kylian Mbappe, yang, pada usia 19 tahun, menjadi remaja pertama yang sukses melesakkan gol di final sejak Pele.
Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, yang selama ini mendominasi Ballon d’Or memiliki tanggal kadaluwarsa yang terus memendek.
Jika berbicara mengenai Ballon d’Or, siapa saja yang kelihatannya akan menjadi kandidat yang berikutnya untuk merebut mahkota, itu adalah penyerang Paris Saint-Germain.
Pemain harapan dunia lainnya selain Mbappe, adfa Antoine Griezmann, masih memiliki banyak kesempatan berkembang untuk pemain ini. Artinya, masaih ada peluang besar bagi Prancis untuk lebih sukses di Eropa.
Dari mereka yang tampil di final Piala Dunia, hanya Hugo Lloris, Blaise Matuidi dan Olivier Giroud yang berusia lebih dari 30.
Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez baru berusia 22 tahun, juga ada rekannya di sektor pertahanan yakni Samuel Umtiti dan Raphael Varane yang berusia sekitar 25.
N’Golo Kante bisa saja merasa lebih tua di tim ayam jantan ini dengan usianya di 27, sementara salah satu bintang menonjol mereka musim panas ini, Paul Pogba, masih berumur 25.
Saat ini bagi Prancis, tampak masa depan yang terlihat meyakinkan. Bakat yang mereka miliki melampaui orang-orang yang memulai musim panas ini juga, dengan Corentin Tolisso, Nabil Fekir, Thomas Lemar, dan Ousmane Dembele semua menunggu dalam bayang-bayang.
Prancis merayakan kesuksesan setelah memenangi final Piala Dunia 2018.
Seandainya mereka memiliki kewarganegaraan lain, Karim Benzema, Anthony Martial, Kingsley Coman, Adrien Rabiot, Aymeric Laporte, dan Clement Lenglet, pasti akan ditampilkan di Rusia, tetapi Deschamps memiliki kemewahan untuk memilih timnya, membawa siapa saja bintang-bintang yang akan berlaga di Rusia.
Pilihan yang dilakukan Deschamps, tidak membuat publik Prancis merasakan ketidakhadiran para bintang itu untuk sementara.
Piala Dunia telah berakhir dengan Prancis sebagai Juara Dunia. Tampaknya, dominasi Prancis baru saja dimulai, untuk level Eropa dan Dunia. ***
KAPTEN tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, memenangkan penghargaan pesepakbola terbaik atau Ballon d’Or yang kelima sepanjang karirnya, untuk menyamai catatan lima gelar yang diraih Lionel Messi.
Ronaldo menyabet gelar Ballon d’Or dengan mengungguli rival abadinya dari Barcelona, Lionel Messi, dan striker Paris Saint Germain (PSG) asal Brasil Neymar.
Pemain 32 tahun berjuluk CR7 itu meraih gelar tersebut karena menjadi pencetak gol terbanyak Liga Champions musim lalu sekaligus membawa Real Madrid mempertahankan trofi tersebut, dan memenangkan gelar Liga Spanyol.
“Tentu saya merasa bahagia, ini adalah sesuatu yang saya harapkan setiap tahun,” kata Ronaldo pada seremoni penghargaan Ballon d’Or di Paris, dilansir AFP Kamis malam atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
“Piala-piala yang dimenangkan tahun lalu membantu saya memenangkan penghargaan ini. Terima kasih rekan satu tim di Real Madrid. Dan saya ingin berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu saya mencapai level ini,” katanya.
Berdasarkan urutan, Messi berada di posisi kedua, Neymar yang menjadi pesepakbola termahal di urutan ketiga, kiper veteran Italia Gianluigi Buffon di urutan keempat dan gelandang Real Madrid Luka Modric di posisi kelima.
Gelandang Chelsea N’Golo Kante menjadi pemain dari Liga Inggris dengan urutan tertinggi di posisi kedelapan. Adapun striker Tottenham Hotspur Harry Kane di peringkat ke-10 dan menjadi satu-satunya pemain Inggris di daftar 10 besar Ballon d’Or.
Ronaldo — yang membantu Portugal lolos ke Piala Dunia Rusia tahun depan — memenangkan Ballon d’Or pertamanya pada 2008 bersama Manchester United kemudian meraihnya lagi pada 2013, 2014 dan 2016. ***