“Kami tidak menciptakan monster. Kami hanya memberinya gigi.”
~ Gust Avrakotos
menyeringai, menatap foto para mujahidin yang sedang memegang senjata buatan AS.
Di tengah dinginnya Perang Dingin, Charlie Wilson (Tom Hanks) duduk di ruang kerjanya yang mewah, menyeruput martini sambil memandangi laporan intelijen. Anggota Kongres dari Texas ini bukan sosok yang awalnya terlihat seperti arsitek perang. Tapi di balik senyum ramah dan gaya hidup hedonisnya, tersembunyi ambisi yang mengubah sejarah.
Permainan Rahasia yang Mengguncang Dunia
Bersama Gust Avrakotos (Philip Seymour Hoffman), agen CIA kasar berotak brilian yang bicaranya selalu penuh sarkasme, dan Joanne Herring (Julia Roberts), sosialita cantik dengan koneksi politik mematikan, Charlie membangun aliansi gelap. Mereka menyelundupkan senjata canggih—termasuk senapan Stinger, rudal darat ke udara ~ ke tangan mujahidin Afghanistan.
“Kau pikir Kongres akan setuju membiayai perang rahasia?”tanya seorang staf.
“ Mereka tak perlu tahu,”jawab Charlie sambol tersenyum, “ kita cukup buat mereka merasa sedang berbuat baik.”
Ironi di Balik Kemenangan
Film ini, disutradarai Mike Nichols, tak sekadar kisah heroik. Ia penuh ironi:
– Adegan pelatihan mujahidin
menggunakan Stinger digambarkan dengan tegang ~ bagaimana petani bersorban tiba-tiba mengubah perang dengan satu jari di pelatuk.
– Rapat rahasia di kapal pesiar, di mana Charlie dan Gust meyakinkan senator-senator skeptis dengan data palsu dan anggur mahal.
– Detik-detik kemenangan,
ketika helikopter Soviet mulai berjatuhan, tapi kamera menyorot wajah Gust yang muram: “Kita baru saja menciptakan masalah lebih besar.”
Sumber Cerita yang Lebih Gelap dari Fiksi
Kisah ini diambil dari buku Charlie Wilson’s War karya George Crile jurnalis yang mengungkap bagaimana Kongres dan CIA dimanipulasi untuk perang rahasia.
Arsip dokumen CIA dan wawancara dengan mantan agen mengonfirmasi hal-hal dengan samar yang bahkan film ini tak berani tunjukkan sepenuhnya :
– Dana gelap dari Israel dan Arab Saudi yang mengalir diam-diam.
– Laporan intelijen yang dibakar, menghapus jejak keterlibatan AS.
“Charlie Wilson’s War” bukan sekadar film sejarah. Ia peringatan: dalam politik, tidak ada pahlawan—hanya orang-orang yang bermain api, lalu kaget ketika dunia terbakar.
Akhir yang Mencekam :
“Kita menang, kan?” Charlie bertanya pada Gust di adegan terakhir.
“Untuk sekarang,” jawab Gust, “tapi sejarah belum selesai menertawakan kita.”
Layar memudar menjadi hitam, diiringi suara ledakan di kejauhan.
Oleh: Ricky Tamba, Aktivis ’98 dan Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO)
Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan komitmen kuatnya terhadap kesejahteraan buruh Indonesia dengan menghadiri langsung peringatan puncak Hari Buruh Nasional 2025 dan menyerahkan 100 rumah subsidi untuk para buruh, sebagai bagian dari program 20.000 rumah murah untuk buruh yang menjadi bagian dari target pembangunan 3 juta rumah di kota, desa, dan wilayah pesisir.
Namun keberpihakan Presiden Prabowo terhadap buruh bukanlah hal baru. Sejak sebelum menjabat, Prabowo dikenal sebagai figur nasionalis yang konsisten membela hak-hak pekerja. Ia rutin hadir dalam seminar dan forum diskusi buruh, serta menjadi satu-satunya calon presiden pada Pilpres 2019 yang menandatangani kontrak politik dengan serikat buruh—berkomitmen untuk menaikkan upah minimum dan mengakui peran pekerja informal seperti ojek online.
“Setelah dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia, Prabowo langsung mengambil langkah konkret. Salah satu kebijakan awal pemerintahannya adalah menetapkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 6,5% untuk tahun 2025, sebuah sinyal keberpihakan terhadap daya beli buruh”, ujarnya.
Ricky Tamba, aktivis ’98/YouTube Gempita Milenial
Presiden juga mendorong stabilitas harga pangan dan menurunkan harga yang dikendalikan pemerintah seperti listrik, untuk mengurangi tekanan biaya hidup masyarakat pekerja.
Sejak Januari 2025, pemerintah telah meluncurkan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi seluruh WNI, termasuk keluarga buruh, yang juga menciptakan lapangan kerja baru melalui dapur SPPG dan rantai pasok pangan nasional.
Mulai Februari 2025, Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah diselenggarakan dan dapat dimanfaatkan oleh seluruh rakyat, termasuk para pekerja, untuk menjamin kesehatan sebagai bagian dari produktivitas nasional.
Dalam menghadapi kasus-kasus pemutusan hubungan kerja, Presiden Prabowo membentuk Satuan Tugas PHK yang melibatkan unsur pemerintah, serikat buruh, dan pelaku usaha. Satgas ini didirikan atas usulan langsung dari Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, dengan misi utama mempercepat proses pencarian lapangan kerja baru bagi buruh terdampak.
Di sektor ekonomi, keberhasilan pemerintah meningkatkan kepercayaan investor juga berkontribusi langsung pada pembukaan lapangan kerja. Data realisasi investasi sepanjang Januari–Maret 2025 mencatat kenaikan 15,9% dibanding tahun sebelumnya, mencapai Rp465 triliun dan membuka 594.104 lapangan kerja baru di seluruh Indonesia.
Selain itu, pemerintah kini tengah memperbaiki sistem pendataan sosial melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar bantuan pemerintah benar-benar sampai kepada warga yang membutuhkan, termasuk buruh.
Dengan komitmen, rekam jejak, dan kebijakan nyata yang terus digulirkan, tidak berlebihan bila publik mulai menyebut Prabowo sebagai Presiden Pro Buruh yang sesungguhnya—bukan hanya dalam kata, tapi juga dalam tindakan.
Selamat Hari Buruh 1 Mei 2025! Salam Indonesia Maju Adil Makmur, Untuk Semua! Prabowo-Gibran Selalu Bersama Rakyat!
Oleh Cyndi Kay Sena, Mahasiswa Komunikasi Universitas PTIQ Jakarta
Kemudahan akses media sosial saat ini sangat mempengaruhi hubungan pengguna dengan ponselnya. Dari laporan State of Mobile 2024 diketahui, masyarakat Indonesia menjadi negara dengan pengguna ponsel paling tinggi di dunia dengan durasi rata-rata mencapai 6,05 jam perharinya pada 2023. Lalu disusul Thailand, Argentina, Arab Saudi dan Brazil pada 5 tingkat teratas. Hal ini menggambarkan kondisi masyakarat Indonesia kecanduan gadget. Termasuk penggunaan media sosial seperti Instagram, Tiktok, Twitter dan terbaru Threads.
Pengguna internet dan media sosial beragam usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Berbagai kalangan pun ikut meramaikan euphoria media sosial dari mulai masyarakat umum, petugas tena kerja kesehatan, selebriti, tokoh-tokoh politik juga tenaga pendidik. Dengan segala kepentingannya, media sosial menjadi wadah yang dipandang efektif untuk menyampaikan berbagai pesan dengan bentuk audio visual.
TikTok dinilai sebagai platform media sosial yang paling cepat menyebarkan konten- kontennya yang biasa disebut dengan viral. Inilah yang membuat penggunanya seringkali kecanduan karena efek dari popularitas instan yang bisa didapatkan. Platform buatan Zhang Yiming ini mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan dari tahun 2018 sampai sekarang.
Positif dan Negatif
Di balik kemudahan beroleh gawai, terdapat kisah miris. Belum lama ini, terjadi sebuah kasus yang dilakukan oleh tenaga pendidik akibat relasinya dengan media sosial yang dianggap tidak mencerminkan sebagai seorang yang amanah dalam menjalankan tugasnya di lembaga pendidikan.
Namanya Febrini, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Mempawah, Kalimantan Barat, didemo ratusan siswa. Penyebabnya karena telat mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PPDS) untuk kepentingan mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2025. Ini artinya ratusan siswa eligible gagal masuk Perguruan Tinggi Negeri favorit tanpa tes.
Dari akun TikTok Febrini, ada beberapa video yang unggah dengan menggunakan seragam ASN bewarna cokelat dan ada juga dengan latar lingkungan sekolah, selain itu banya video yang memperlihatkan aktivitas kesehariannya. Hal ini membuat para siswa-siswi menduga sebagai alasan kelalain Febrini. Yaitu: bermain media sosial hingga lupa waktu dan lalai dengan kewajibannya yang pada akhirnya merugikan banyak orang.
Sebagai tenaga pendidik apalagi seorang pengajar, sikap dan perilaku sebagai seorang guru sangat diperhatikan. Ia menjadi sosok yang digugu (dipercaya) yang mempunyai ilmu dan wawasan yang luas sehingga bisa menjadi sumber informasi yang credible, juga ditiru (diteladani) yang berarti segala perbuatannya berkaitan dengan moralitas yang dapat dijadikan contoh oleh murid-muridnya.
Apabila dalam penggunaan media sosial, tenaga pendidik justru memperlihatkan sikap tidak profesional, hal ini akan memengaruhi citra guru tersebut. Belum lagi, pemberitaan yang ramai tentang guru-guru yang mengajarkan murid untuk membuat konten bergoyang lalu diunggah di TikTok. Selain itu, ada pula oknum guru yang viral karena merangkul penyanyi lalu menyawerkan sejumlah uang di perayaan HUT PGRI ke-77.
Beberapa contoh tersebut menjadikan sosok guru yang seharusnya mempunyai tanggung jawab untuk mentransfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan entransfer nilai (transfer of value), kini semakin terkikis.
Efek yang ditimbulkan bukan hanya berdampak pada kalangan tenaga pendidik saja, namun juga permasalahan yang akhirnya muncul pada perilaku murid di sekolah. Realitas ini dapat dimaknai sebagai kemunduran moralitas yang semakin lama semakin terlihat pada ranah pendidikam. Padahal seharusnya justru jadi pondasi awal seseorang untuk melangkah pada dunia yang lebih luas.
Nanum tidak semua cerita ihwal media sosial negatif, Karena faktanya banyak juga yang positif. Salah satunya seperti dari akun @nonaguruu atau @janganjadiguru yang menjadikan TikTok sebagai wadah berbagi infomasi mengenai kebutuhan siswa, pendidikan serta media pembelajaran yang efektif. Sehingga bisa dicontoh untuk para guru lainnya.
Hal ini menjadi angin segar, diantara banyaknya pengaruh-pengaruh buruk yang bertebaran di berbagai platform. Akun-akun yang berusaha memberikan dampak baik terhadap sistem pendidikan di Indonesia ini meyakini bahwa dampak dari media sosial sangatlah besar. Sehingga apa yang mereka bagikan di akunnya masing- masing akan menjadi sebuah efektivitas kemajuan dalam hal teknologi maupun dunia pendidikan.
Perlu Regulasi
Dengan melihat fenomena yang terjadi ini, maka dapat dipahami bahwa media sosial memang seperti pisau bermata dua. Jika mampu mengelolanya dengan benar. maka akan menghasilkan manfaat namun apabila tidak digunakan secara bijak justru akan menimbulkan masalah, bukan hanya untuk diri sendiri namun juga lingkungan sekitar.
Menurut penulis, hal yang mampu mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diingankan terutama dalam dunia pendidikan, perlu adanya regulasi yang secara tegas mengatur mengenai penggunaan media sosial di lingkungan sekolah. Juga pengaturan mengenai waktu dan bentuk konten yang bisa diunggah oleh tenaga pendidik yang menggunakan seragam dinasnya. Tujuannya bukan untuk membatasi kreativitasnya, namun untuk menjaga agar seorang tenaga pendidik mampu memahami tanggung awab moral yang ada di tangannya.
Esensi dari pendidikan adalah membangun sebuah peradaban yang berakhlakul karimah dan melek secara intelektulitas. Jika tidak ada regulasi yang khusus memperhatikan hal ini, maka tenaga pendidik tidak ada pendoman mengenai penggunaan media sosialnya. Selain itu, perlunya pelatihan peningkatan kapasitas secara berkala agar tenaga pendidik dapat melakukan pendekatan kepada murid dengan cara yang lebih efektif dan terarah, bukan hanya dengan mengikuti apa yang sedang viral.
Harapannya pemerintah mampu mendukung hal ini agar para guru mampu untuk fokus mengembangkan potensi siswa namun juga tetap memberikan ruang kepada tenaga pendidik untuk lebih sejahtera dalam menerima haknya.***
SERANG, JAYAKARTA NEWS – Grup 1 Kopassus Serang baru saja berganti estafet komandan, dari Kolonel Inf Irfan Amir (Akmil 2000) kepada Kolonel Inf Amril Hairuman Tehupelasury (Akmil 2002). Upacara sertijab dipimpin langsung oleh Danjen Kopassus, Mayjen TNI Djon Afriandi bertempat di Lapangan Ahmad Kirang, Markas Kopassus Cijantung, Jakarta Senin (21/4/2025)
Pesan Danjen Kopassus antara lain, “Jalin sinergi yang kuat dengan seluruh komponen bangsa dan tanamkan nilai-nilai luhur dalam setiap gerak dan langkah prajurit Kopassus yaitu disiplin adalah nafas kita, kesetiaan adalah kebanggaan kita, dan kehormatan adalah segalanya. Ingatlah bahwa tugas kita adalah menjaga kedaulatan negara dan melindungi rakyat Indonesia,” ujar Mayjen Djon Afriandi.
Kolonel Inf Amril Hairuman Tehupelasury sejatinya bukan orang baru di Grup 1 Kopassus. Sebelumnya, ia menjabat Wadan Grup 1 Kopassus. “Semangat Eka Wastu Baladika, Grup 1 Kopassus siap menghadapi tantangan zaman, terus ber inovasi dengan loyalitas tanpa batas,” tegas Amril.
Ia tercatat pernah menjabat Komandan Sekolah Komando Pusdiklatpassus Kopassus. Sebelumnya, menduduki Dandim 1414 Tana Toraja, Sulawesi Selatan, lalu Waaspers Kopassus.
Catatan lain, Kolonel Amril pernah mengemban tugas sebagai Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) TNI Kontingen Garuda XXVI L2 UNIFIL (United Nations Interim Forces in Lebanon) tahun 2020.
Museum Para Komando
Sementara bagi Kolonel Irfan, Senin 21 April 2025 adalah sore terakhirnya berada di markas Grup 1 Kopassus Serang. Sebelum meninggalkan Serang menuju Bandung untuk menempuh pendidikan, sejumlah kegiatan digelar. Empat kegiatan sore itu menjadi rangkaian awal menuju puncak acara lepas-sambut jabatan malam harinya di Gedung Balai Baladika Grup 1 Kopassus, Serang.
Agenda pertama adalah pemotongan pita tanda diresmikannya Museum Para Komando yang berlokasi tak jauh dari gerbang masuk markas Grup 1 Kopassus. “Awal mula terbersit di pikiran saya adalah bahwa satuan yang kita cintai ini perlu memiliki museum. Sebab dari pertama kali saya ditugaskan di satuan ini, tidak ada museum,” ujar Kolonel Irfan.
Museum Para Komando akan jadi saksi sejarah. Bukan saja saksi tetapi juga pencatat prestasi para senior prajurit yang telah berkorban jiwa, raga, air mata, dan darah membela bangsa dan negara kita. “Adalah pantas jika kita mencatat pengabdian terbaik mereka,” tambah pria kelahiran Jeneponto, Sulsel 7 Desember 1978 itu.
Sesungguhnya, gagasan itu sudah sempat diwujudkan di era Komandan Grup 1 Kopassus ke-23, Kolonel Inf. Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar (2013—2014). “Terakhir gedung ini menjadi gymnasium,” tutur ayah tiga anak dari istri tercinta, Wahyuni Burhanuddin.
Meski begitu Irfan tidak serta merta membangun. Sebelumnya, ia telah menghadap Jonathan Binsar Parluhutan Sianipar yang sejak November 2023 menjabat Asisten Latihan Kepala Staf Angkatan Darat berpangkat mayor jenderal. “Setelah diizinkan, baru kami wujudkan,” kata Irfan.
Melongok isi museum, dikatakan Irfan, masih belum sempurna. Karenanya ia berharap kepada penggantinya, Kolonel Amril Tehupelasury untuk menyempurnakan. Cukup banyak catatan prestasi Grup 1 Kopassus, termasuk saat mendapat penghargaan Samkarya Nugraha dari Presiden RI pada HUT TNI ke-79, 5 Oktober 2024 di Lapangan Silang Monas, Jakarta.
Tanam Pohon
Dari museum, Kolonel Irfan dan istri menuju Taman Pohon Kenangan. Di situ, mereka menanam pohon. “Saya ingin membuat tradisi lepas-sambut yang baru dengan menanam pohon,” ujar Irwan.
Ia teringat petuah almarhum Letjen TNI (Purn) Doni Monardo yang dikenal sebagai “jenderal pohon” karena kecintaannya menanam pohon. Irfan pun mengimplementasikan di mana pun ia bertugas. Termasuk di medan operasi.
“Setiap ke medan operasi, saya minta pasukan menanam pohon, karena saya yakin, pohon itu makhluk hidup. Jika kita menanam pohon dan menyayangi pohon, maka ia pun akan membalasnya dengan hal-hal baik. Dan alhamdulillah, 300 prajurit yang saya bawa ke medan operasi, selamat dan sukses dalam tugas,” papar Irfan.
Lepas Ikan dan Burung
Dua kegiatan selanjutnya adalah tabur ikan di Kolam Embung BALADIKA TERRACE yang ada di depan markas Grup 1 Kopassus dan pelepasan burung dari lokasi yang sama. “Jadi tanam pohon, tabur ikan, dan lepas burung saya harap menjadi warisan tradisi kegiatan usai sertijab dangrup sekarang dan seterusnya,” ujar Kolonel Irfan.
Ditanya tentang filosofi, sambil tersenyum Irfan menjawab sambil tertawa, “simbol tiga matra, darat, laut, udara.” Lebih dari itu, ada makna yang lebih mendalam tentang pentingnya kita semua menjaga alam dan mencintai lingkungan, sebagai warisan generasi penerus.
Pohon Pengganti Bunga
Lepas pukul 19.00, suasana Gedung Baladika mulai ramai. Satu per satu tamu undangan berdatangan, menghadiri acara lepas-sambut Dan Grup 1 Kopassus.
Yang menarik adalah, banyaknya pohon hidup dengan gantungan tulisan ucapan selamat dari para pengirim (instansi, perusahaan, perorangan), sebagai pengganti karangan bunga.hal ini Selaras dengan misi kecintaan Kolonel inf Irfan Amir terhadap lingkungan dan kecintaan terhadap alam selama ini.
“Saya sangat mengapresiasi segala bentuk ucapan dan dukungan dari masyarakat serta berbagai instansi. Namun, akan jauh lebih bermanfaat jika tradisi memberikan karangan bunga diubah menjadi pemberian bibit pohon hidup,” ungkap lelaki kelahiran Jeneponto, Sulawesi selatan ini.
Kolonel inf Irfan Amir menekankan bahwa bibit pohon, terutama yang menghasilkan buah, akan memberikan manfaat jangka panjang baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Dan memang, malam itu di halaman Gedung Baladika berjejer ucapan selamat yang diterimanya dalam bentuk bibit pohon. Ada pohon durian, mangga, kelengkeng, dan jenis tanaman produktif lainnya.
Hari itu, hari dimulainya Kolonel Amril memanggul tugas komando sebagai Komandan Grup 1 Kopassus, setidaknya telah ia mulai dengan langkah baik. Orang tua bilang, “melangkah dengan kaki kanan”.
“Tentu, saya akan melanjutkan hal-hal baik yang telah diletakkan senior saya, Kolonel Irfan, dan bertekad mengukir prestasi yang makin membanggakan bagi satuan Baladika,” tegas Amril.
JAYAKARTA NEWS— Selain Car Free Day (CFD) di kawasan Sudirman-Thamrin Jakarta yang sudah melegandaris, CFD juga banyak ditemukan di sejumlah kawasan atau wilayah di Indonesia. Salah satunya di kawasan South City Pondok Cabe, Tangerang Selatan (Tangsel). Suatu kawasan pemukiman cukup elit yang dikembangkan PT. Setiawan Dwi Tunggal. Lokasinya di perbatasan segitiga tiga provinsi dan tiga kotamadya (Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Depok).
CFD South City dibuka setiap Minggu mulai pukul 07.00-10.30 WIB. Jumlah pengunjung CFD pada setiap Minggu bisa mencapai ratusan hingga ribuan, terutama di tanggal muda. Pengunjung berasal dari berbagai segmen usia: tua, muda, remaja, hingga anak-anak, baik secara pribadi, keluarga maupun rombongan. Mereka berasal dari dari warga Tangsel dan sekitarnya. Puncak pengunjung di CFD South City biasanya sekitar pukul 08.00-09.00 WIB.
CFD South City mempunyai kelebihan dari sejumlah kawasan sejenis. Terutama dari sisi luas wilayahnya yang totalnya mencapai seluas 57 hektar. Kawasan tersebut juga masih asri karena banyak ditanami pohon-pohon tinggi dan rindang. Jadi, jika pengunjung berolah raga dengan jalan kaki menyusuri kawasan South City, suasananya sangat leluasa, nyaman dan menyegarkan. Pastinya, sangat berguna untuk menjaga kebugaran dan kesehatan. terutama bagi mereka yang beraktivitas padat.
Setelah cukup lama berjalan kaki, pengunjung dapat merapat ke pusat jajan serba ada yang cukup luas yang berada di dalam Kawasan South City dengan harga variatif namun secara umum terjangkau. Di Kawasan ini dijajakan kuliner tradisional hingga modern. Yang tradisional seperti kupat sayur, gado-gado, gudek, soto Betawi dan sebagainya. Yang modern diantaranya sushi, kebab, French Fries, Spageti Carbonara, dan sebagainya. Bahkan ikan basah, fashion, sandal dan sepatu, mainan anak, hingga kendaraan roda empat keluaran terbaru, dipromosikan di sini.
Pemusik amatiran juga ada di sini
Selain olah raga atau jalan kaki, di seputar lokasi pusat jajan banyak digunakan aktivitas lain. Seperti bermain badminton, senam masal oleh sejumlah rombongan emak-emak, atau berduduk ria sambil menyantap makanan atau minuman yang dibeli. Di kawasan ini juga terdapat tempat bermain bagi anak-anak. Yang senang musik, ‘pemusik amatiran’ atau grup band terkadang manggung di tempat tersebut, siap menghibur pengunjung. Tak salah jika, CFD South saat ini menjadi destinasi favorit bagi warga Tangsel dan sekitarnya untuk berolah raga dan kuliner.
Pedagang banyak untuk berjualan
Selain surga bagi pengunjung, tentu saja tempat ini menjadi ladang bisnis menjanjikan bagi pelaku dunia usaha. Untuk dapat menyewa kawasan ini, pelaku usaha dikenakan tarif Rp 200 ribu tanpa tenda, atau Rp 250 ribu dengan tenda disewakan oleh pengelola. Sejumlah pelaku usaha disini mengaku beruntung berusaha disini. Bahkan, menurut M. Arif Widodo, salah seorang pedagang bubur, ia mengaku meraup keuntungan 100 persen berjualan disini. Untuk dapat berjualan untung di tempat ini, tentu saja dibutuhkan kejelian untuk membidik selera konsumen. (abah fahrudin).
JAYAKARTA NEWS – Bayangkan sejenak, Anda terbangun di tengah malam oleh suara gemuruh air yang deras. Dalam hitungan menit, rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung berubah menjadi genangan air yang menenggelamkan harapan. Barang-barang berharga hanyut, dan Anda serta keluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Ini bukan skenario. Ini nyata, dan terjadi berulang kali.
Dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus dilanda banjir besar di berbagai wilayah. Pada April 2021, banjir bandang di Nusa Tenggara Timur menewaskan lebih dari 174 jiwa . Februari 2023, banjir besar melanda Makassar dan memaksa ribuan warga mengungsi (Kompas.id, 2023). Januari 2024, tiga kabupaten di Kalimantan Barat mengalami banjir besar (Suarakalbar.co.id, 2024). Februari 2025, Kabupaten Demak kembali dilanda banjir hebat hingga memaksa ratusan warga bertahan di pengungsian. Di waktu yang sama, Bima, NTB, juga dilanda banjir dan longsor yang menyebabkan kerusakan cukup parah (Detik.com, 2025).
Tak ketinggalan, wilayah Jabodetabek juga mengalami banjir besar pada awal tahun 2025. Hujan deras yang turun terus-menerus menyebabkan genangan di sejumlah titik. Ribuan warga terdampak, transportasi umum terganggu, dan sekolah-sekolah terpaksa diliburkan (Kompas.com, 2025).
Data BNPB menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 terjadi 5.593 kejadian bencana di Indonesia, dengan banjir dan tanah longsor mendominasi (Antaranews.com, 2025). Ini bukan lagi peristiwa acak, melainkan gejala sistemik yang perlu kita cermati bersama.
Banjir Tak Sekadar Soal Hujan
Seringkali, hujan deras menjadi kambing hitam. Namun, penyebab banjir jauh lebih kompleks.
Pembangunan permukiman, industri, dan infrastruktur seringkali mengorbankan ruang terbuka hijau dan daerah tangkapan air. Akibatnya, air kehilangan tempat untuk meresap dan mengalir bebas ke permukaan, memicu genangan dan banjir.
Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi penataan ruang yang kuat, seperti Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2017. Dalam pasal 99 ayat (3) dari PP tersebut ditegaskan prinsip Zero Delta Q, yaitu pembangunan tidak boleh meningkatkan debit limpasan air hujan. Namun dalam praktik, banyak proyek pembangunan masih mengabaikan prinsip ini.
Selain itu, sistem drainase yang tersumbat akibat penumpukan sampah dan kurangnya pemeliharaan juga memperparah kondisi. Perubahan iklim global pun turut memicu intensitas hujan yang lebih ekstrem dan sulit diprediksi, membuat kawasan sangat rentan terhadap banjir.
Air Jangan Dibuang, Tapi Ditampung dan Diresapkan
Mengatasi banjir bukan semata meninggikan tanggul atau memperbesar saluran air. Kita perlu mengubah cara pandang: air hujan bukan musuh, melainkan anugrah yang perlu dikelola.
Air hujan seharusnya tidak dibuang. Kolam retensi, embung, dan bendungan adalah cara efektif menampung air hujan. Selain itu, Rain Water Harvesting (RWH) juga bisa menjadi solusi, di mana air hujan yang ditampung dari atap dapat digunakan untuk keperluan rumah tangga. RWH dapat mengurangi ketergantungan terhadap air tanah dan mengurangi banjir.
Metoda selanjutnya adalah meresapkan air ke dalam tanah dengan sumur resapan (SR), lubang resapan biopori (LRB), atau pipa resapan horisontal (PRH). SR dan LRB sudah banyak dikenal masyarakat dan dipasang di berbagai daerah. PRH efektif untuk meresapkan air ke dalam tanah. PRH dibuat dari pipa PVC dipasang pada kedalaman maksimal 150cm. Peresapan oleh PRH bisa lebih dari 20 kali peresapan SR. PRH dapat direncanakan untuk menihilkan tambahan limpasan air akibat pembangunan (zero delta Q). Kelebihan PRH harga lebih murah, pemasangan dan pemeliharaan mudah. Pemasangannya di dalam/luar saluran atau disambungkan dengan talang. PRH yang ditemukan oleh Edy Susilo tahun 2020 telah dipasang di Semarang untuk mengurangi banjir dan mengatasi kekurangan air tanah.
Agar solusi ini berjalan optimal, dukungan kebijakan menjadi kunci. Pemerintah perlu mendorong pemanfaatan teknologi resapan melalui regulasi dan insentif. Masyarakat pun diharapkan mulai mengubah kebiasaan, dari membuang air hujan menjadi menyimpan atau meresapkannya ke dalam tanah.
Saatnya Menyatu dengan Alam
Air tak pernah salah. Ia hanya menagih kembali ruang yang dulu kita ambil darinya. Kini saatnya kita mulai mengelola air dengan bijak. Kita perlu membangun kota dan desa yang ramah air, dengan tata ruang yang memperhatikan lingkungan.
Banjir adalah konsekuensi dari pilihan kita dalam mengelola lingkungan. Namun, masa depan yang bebas banjir bukanlah mimpi, jika kita bersedia mengambil tindakan nyata, mulai dari diri kita sendiri. ***(Oleh: Dr. Ir. Edy Susilo, M.T)
Dr. Ir. Edy Susilo, M.T adalah Dosen Universitas Semarang, Praktisi Hidrologi Pemerhati konservasi air berbasis masyarakat
JAYAKARTA NEWS – Pintu perlintasan pada perpotongan sebidang berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api. Petugas penjaga Perlintasan Jalur Lintas (PJL) kerap mejadi target untuk dijadikan tersangka jika terjadi kecelakaan di PJL.
Kecelakaan fatal di PJL kembali terulang antara Commuterline Jenggala dan truk trailer mengangkut kayu gelondongan yang terjadi pada Selasa (8/4/2025) pukul 18.35 WIB. Kecelakaan di jalur pelintasan langsung atau JPL 11 antara Stasiun Indro dan Stasiun Kandangan menewaskan asisten masinis Abdillah Ramdan, sehingga jalur itu langsung ditutup.
Merujuk data dari PT KAI (2025), total 3.896 perlintasan sebidang atau Jalur Perlintasan Langsung (JPL) terdiri dari 2.803 JPL resmi dan 1.093 JPL liar. Sebanyak 1.879 JPL tidak terjaga yang terdiri 971 JPL resmi tidak terjaga dan 908 JPL liar tidak terjaga. Sementara 2.017 JPL terjaga, yang dikelola swasta sebanyak 40 JPL, swadya masyarakat 460 JPL, Pemda (Dinas Perhubungan) 538 JPL dan PT KAI 979 JPL.
Ada beberapa persoalan yang harus menjadi perhatian pemerintah dalam pengelolaan jalur perlintasan langsung. Pertama, secara keseluruhan, sudah diatur dari sisi kewenangan itu sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 94 Tahun 2018 tentang Peningkatan Keselamatan Perlintasan Sebidang Antara Jalur Kereta Api dengan Jalan, Pemda bisa mengelola perlintasan namun ada kecemburuan ketika PT KAI yang mengelola perlintasan mendapat anggaran perawatan dan pengoperasian di perlintasan lewat skema Infrastructure, Maintenance and Operation (IMO). Namun Dinas Perhubungan yang ikut mengelola tidak ada bantuan itu yang membuat pemda juga diperhatikan.
Kedua, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) pembentukan petugas PJL masih membayar dengan tarif per siswa Rp 6 – Rp 7 juta, lantaran ada target pendapatan Badan Layanan Umum Sekolah Tinggi Kementerian Perhubungan (Politeknik STTD di Bekasi dan PPI di Madiun). Biaya itu menjadi beban Pemda untuk mengalokasikan anggaran, meskipun penerbitan sertifikasi PNBP nol rupiah.
Ketiga, kesejahteran petugas PT KAI yang dikelola oleh PT KAPM sesuai harga upah minimum prov/kab/kota. Sementara petugas PJL yang dikelola Pemda masih mendapat honor di bawah UMR. Ditambah lagi tidak mendapatkan tunjangan hari raya (THR) atau tunjangan lainnya untuk penyemangat. Meskipun sudah masuk kesehatan pekerja melalui BPJS. Perlunya keseragaman gaji atau honor petugas penjaga PJL, baik yang dikelola PT KAI, pemda maupun swasta, supaya tidak ada kesenjangan kesejahteraan. Pemerintah dapat memberikan skema IMO untuk petugas PJL yang tidak dikelola PT KAI.
Keempat, perawatan jalan dengan rel, yang dikelola PT KAI tersedia anggaran melalui IMO. Sementara yang dikelola Pemda sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah pusat, maka terjadi ketidaknyamanan saat melintas di perlintasan dan potensi kejadian kecelakaan khusus truk trailer atau patah as.
Risiko Petugas PJL
Ketika ada kecelakaan yang disalahkan pemilik risiko, yaitu petugas penjaga PJL yang dianggap lalai. Sementara yang menugaskan tidak melakukan pembinaaan secara rutin. Padahal yang melanggar adalah pengguna jalan.
Di sisi lain, Perlintasan Jalur Lintas (PJL) masih dianggap prasarana penunjang, semestinya itu prasarana pokok dalam perkeretaapian nasional, sehingga kebijakan regulasi sering tidak mengabaikan keselamatan. Ketika ada pembangunan atau peningkatan jalur KA atau jalur ganda, Pemda hanya jadi penonton dan perlintasan tidak diperhatikan dalam satu kesatuan prasarana pokok. Beberapa pemda merasa keberatan jika diharuskan untuk memelihara PJL, sementara KA yang melintas tidak ada yang berhenti atau andai berhenti tidak banyak stasiun yang disinggahi di daerahnya (misalnya Kab. Magetan).
Kejadian kecelakaan di perlintasan belum menjadi isu nasional, masih dianggap kecelakaan biasa. Korban berjatuhan tidak ada aksi pasca kejadian. Kecuali penutupan sepihak oleh PT KAI pada akses jalan yang terjadi kecelakaan. Perencanaan tidak sebidang baru sebatas wacana, belum menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN). Negara belum hadir sesuai alinea 4 Pembukaan UUD 1945 di jalur perlintasan lintas demi memastikan keselamatan pengguna jalan dan perjalanan kereta api.
Renstra Terimbas Efisiensi anggaran
Pasal 110 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api, menyebutkan (1) pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan yang selanjutnya disebut dengan perpotongan sebidang yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api; (2) pemakai jalan wajib mematuhi semua rambu-rambu jalan di perpotongan sebidang; (3) dalam hal terjadi pelanggaran yang menyebabkan kecelakaan, maka hal ini bukan merupakan kecelakaan perkeretaapian; dan (4) pintu perlintasan pada perpotongan sebidang berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api.
Kementerian Pekerjaan Umum sudah mempunyai Rencana Strategis Kementerian PUPR 2025-2039 tentang Penanganan Perlintasan Sebidang Jalur Kereta Api dengan Jaringan Nasional. Ada 138 lokasi dengan total anggaran Rp 21,39 triliun. Rinciannya untuk tahun 2025 – 2029 sebesar Rp 8,37 triliun membangun 54 flyover atau underpass , tahun 2030 -2034 sebanyak Rp 7, 44 triliun untuk 48 flyover atau underppass , dan tahun 2035 – 2039 dianggarkan Rp 5,58 triliun untuk 36 flyover atau underpass .
Namun, Renstra ini tidak berjalan maksimal, terlebih tahun 2025 ada efisiensi anggaran, menyebabkan tidak terbangunnya secara terjadwal dan makin runyamnya persoalan untuk menuntaskan perlintasan sebidang di jalan nasional.
Efisiensi anggaran yang sedang dicanangkan pemerintah, tidak semestinya berlaku untuk program keselamatan. Percuma negara menghasilkan manusia unggul melalui Program Makan Begizi Gratis (MBG) namun pada akhirnya menjadi korban kecelakaan transportasi, akibat anggaran kegiatan untuk membangun, memelihara, monitoring, mengkaji, mengevaluasi yang berkaitan dengan keselamatan transportasi dikurangi bahkan dihilangkan. *** (Oleh: Djoko Setijowarno)
Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat.
JAYAKARTA NEWS— Sekitar 50 orang aktivis dan jurnalis yang tergabung dalam Forum Aktivis Jakarta mengikuti kegiatan bertajuk “Edu Visit” ke lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mookevart di Rumah Ususun Rusun Daan Mogot, Jakarta Barat yang dikelola oleh Perusahaan Daerah (Perumda) Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya, Rabu (16/4/2024). Dari Mookevart kunjungan dilanjutkan ke Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.
Edu Visit ini merupakan tindak lanjut dari hasil rekomendasi kegiatan Forum Group Discussion (FGD) yang digelar Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI) pada 18 Maret 2025 di Hotel Tavia Jakarta Pusat. Tujuan kegiatan ini semua adalah guna mendukung tercapainya target Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno (Pram-Doel) pada 2030, yakni: 100 persen masyarakat Jakarta mendapat pelayanan air bersih dari PAM Jaya.
Target tersebut merupakan realisasi visi dan program kerja Pram-Doel yang disampaikan pada Pilgub DKI 2024. Sekaligus implementasi amanat UUD 1945, UU No. 17 tahun 2019 tentang Sumber Daya Air serta Perda No. 4 Tahun 2021 tentang perubahan bentuk hukum PAM Jaya menjadi Perusahaan Umum Daerah Air Minum Jaya, Perda No. 10 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik, Pergub No. 93 Tahun 2021 tentang Zona Bebas Air Tanah, dan berbagai peraturan perundangan terkait lainnya
Secara umum, berbagai peraturan perundangan tersebut mengatur, pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab untuk mengelola air, termasuk dalam hal pembangunan infrastruktur air, pengendalian pencemaran, dan penyediaan air bersih bagi masyarakat. Guna mewujudkan secara konkrit target Gubernur DKI tersebut, menurut Direktur Eksekutif Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI), Andi Wijaya. memerlukan dukungan pemangku kepentingan, termasuk para aktivis dan jurnalis Jakarta.”Kegiatam Edu Visit ini merupakan salah satu bentuk nyata dari dukungan aktivis Jakarta,” ujar Andi Wijaya atau akrab disapa Adjie Rimbawan.
Minum Air PAM Jaya
Meskipun kunjungan hanya berlangsung sekitar setengah hari, namun peserta Edu Visit memperoleh gambaran dan pengalaman cukup memadai seputar pengelolaan air minum di Jakarta. Misalnya, ketika rombongan berkunjung ke Mookevart, mendapat penjelasan dari Perwakilan IPA Mookervart bahwa IPA ini memiliki kapasitas beroperasi saat ini 7 liter/detik. IPA Mookevart awalnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bagi penghuni Rusun Daan Mogot. Tujuan pemasangan IPA yang menggunakan teknologi pengolahan air baku menjadi air minum adalah PAM Jaya sebagai bagian dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta wajib melayani kebutuhan air bersih masyarakat.
Teknologi yang digunakan IPA Mookervart ini terdiri dari dua teknologi kunci, yakni teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) dan teknologi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO). Sehingga air yang disuplai tersebut telah memenuhi standar kesehatan yang ditetapkan pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 2 Tahun 2023 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Di peraturan tersebut antara lain disebutkan, air minum harus bebas dari zat berbahaya, mikroorganisme patogen, serta memenuhi syarat fisik, kimiawi, dan bakteriologis agar aman dikonsumsi manusia.
Selain mendapatkan penjelasan memadai tentang proses produksi air minum, rombongan berkesempatan untuk langsung meminum air produksi PAM Jaya tersebut. Berdasarkan testimoni yang meminumnya, ternyata secara kualitas, tidak kalah dengan air minum dengan merek (brand) yang saat ini banyak beredar di pasaran. Tak salah jika sejumlah peserta Edu Visit mengusulkan, agar PAM Jaya menyosialisasikan secara lebih masif air minum produksinya kepada masyarakat luas. Karena masih banyak masyarakat Jakarta yang belum tahu bahwa air produksi PAM Jaya bisa langsung diminum.
Rombongan minum air produksi PAM Jaya di IPA Mookevart
Meninjau Waduk Jatiluhur
Selesai berkunjung ke IPA Mookevart, Jakarta Barat, rombongan yang dibagi menjadi 5 kelompok, bergerak menuju Waduk Jatiluhur, Jawa Barat. Perjalanan kira-kira sekitar dua jam melalui Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Cipularang. Durasi perjalanan bisa bervariasi tergantung pada kondisi lalu lintas dan kecepatan berkendara. Kebetulan kala itu, jalan yang dilalui relatif lancar. Namun perjalanan terasa singkat terutama karena seperti biasanya, para aktivis di dalam kendaraan Toyota Hiace yang membawa rombongan, diisi dengan percakapan khas aktivis yang penuh isu seksi, kelakar, dan tak lupa diselingi berkarokeria.
Waduk Jatiluhur yang menjadi distinasi rombongan Edu Visit, awalnya bernama Waduk Ir. H. Juanda. Waduk ini diberi nama sesuai nama seorang pahlawan nasional, yakni Ir. H. DjuandaKartawidjaja, yang bersama Ir. Sedijatmo, gigih memperjuangkan terwujudnya pembangunan waduk ini di internal pemerintah Indonesia maupun di forum internasional. Waduk ini adalah waduk terbesar di Indonesia. Dibangun pada tahun 1957 dengan batu pertamanya diletakkan Presiden Ir. Soekarno. Waduk ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967.
Pengelola Waduk Jatiluhur menjelaskan, waduk Jatiluhur merupakan sumber air PAM Jaya dan Saluran Tarum Barat. Serta menjadi salah satu sumber air baku utama atau sekitar 82 persen untuk kebutuhan air minum warga Jakarta. Selain juga mendapatkan pasokan air dari air curah PDAM Tangerang, air baku Sungai Jakarta, dan air laut. Pada Oktober 2024, Perumda PAM Jaya mendapatkan tambahan pasokan air dari Waduk Jatiluhur sebanyak 208 liter per detik mulai 20 Oktober 2024.
Rombongan aktivis dan jurnalis observasi langsung ke Waduk Jatiluhur
Air dari Waduk Jatiluhur dialirkan ke Jakarta melalui dua cara: pertama, melalui sipon yang terletak di dasar Kali Bekasi, dan kedua, melalui jaringan pipa yang dibangun di bawah tanah. Air yang diolah dari Waduk Jatiluhur akan dialirkan ke berbagai lokasi di Jakarta untuk kebutuhan air minum dan air baku lainnya. Dengan posisinya yang sangat strategis dan vital tersebut, para aktivis Jakarta meminta agar Pempov DKI /PAM Jaya, Pemerintah Pusat, Pemerintah Jawa Barat dan khususnya pengelola Waduk Jatiluhur mengelola waduk secara terkoordinasi, profesional dan penuh tanggungjawab. Karena Jakarta sangat tergantung pasokan air dari waduk Jatihulur.
Tindak Lanjut
Usai kunjungan dan observasi lapangan secara on the spot, agenda ketiga atau terakhir adalah melakukan dialog yang langsung dipandu Dirut PAM Jaya Arief Nasrudin. Meskipun hanya memakan waktu sekitar satu jam, namun karena dialog dilakukan secara terbuka dan dalam semangat kolaboratif sehingga banyak terjadi tukar pemikiran yang kritis-konstruktif, berkualitas dan produktif.
Saat membuka dialog, Arief menyampaikan sejumlah langkah-langkah besar yang sudah dan telah dilakukan dengan disertai infografis. Diantaranya mengambil alih operasional dari dua mitra swasta, menambah 29.326 sambungan rumah pada periode 2023 sampai Juli 2024, serta menargetkan sebanyak 69.000 sambungan rumah hingga akhir tahun ini, merampungkan pembangunan reservoir komunal sebanyak tujuh unit dengan total kapasitas 2.3 juta liter, meningkatkan kualitas pelayanan, kolaborasi dengan aktivis, pakar dan pemerhati tentang air, kemitraan dengan media dan sebagainya.
Dialog terbuka dan cair Dirut PAM Jaya dengan Aktivis dan Jurnalis Jakarta
Khusus untuk mencapai mencapai target 100 persen pelayanan air bersih pada 2030 di Jakarta sebagaimana pernah disampaikan Gubernur DKI Pramono Anung, pria kelahiran 26 November 1972 dan mantan Diret PD Pasar Jaya, mengakui, bukan pekerjaan enteng dan mudah, melainkan cukup berat. Namun demikian, dukungan yang diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjadi tantangan dan sekaligus motivasi tersendiri bagi jajaran direksi, komisaris dan karyawan PAM Jaya untuk bekerja secara lebih berkualitas dan keras lagi memenuhi target Gubernur DKI tersebut.
Arief Nasrudin yang menjabat sebagai Direktur Utama PAM Jaya sejak tanggal 14 Juli 2022 menambahkan, untuk mencapai target yang dicanangkan oleh Pramono Anung, tidak bisa bekerja sendiri, melainkan memerlukan dukungan instansi terkait lainnya, termasuk kalangan aktivis dan jurnalis Jakarta. Menurut Arief, dukungan kritis-konstruktif para aktivis Jakarta sangat penting guna mengawal dan sekaligus meningkatkan kreativitas dan inovasi kinerja, penyediaan dan pelayanan air minum secara lebih berkualitas. Arief berharap, para aktivis dapat menjadi jembatan komunikasi dan aspirasi antara masyarakat dengan PAM Jaya.
Sementara dari kalangan aktivis dan aktivis Jakarta, muncul sejumlah gagasan kreatif hingga saran tindak lanjut. Diantaranya: munculnya gagasan dan dorongan agar PAM Jaya memaksimalkan pengalihan penggunaan air tanah oleh pemilik dan pengelola gedung-gedung swasta di Jakarta kepada air bersih yang diproduksi dan dikelola PAM Jaya. Jika hal ini dapat dilakukan, dana yang diperoleh dari proses pengalihan tersebut, dapat membantu untuk mengatasi kondisi jaringan pipa distribusi milik PAM Jaya yang sebagian besar sudah berusia 102 tahun serta membiayai penggantian seluruh jaringan pipa agar sesuai standar food grade yang membutuhkan anggaran besar, yakni: sekitar Rp 7 triliun.
Selain itu muncul usulan perlunya penguatan legal aspect PAM Jaya dalam pengelolaan air bersih di Jakarta melalui revisi Perda terkait; peningkatan sosialisasi secara lebih massif terkait kenaikan tarif air bersih PAM Jaya di Jakarta mulai Januari 2025, yang terhitung dalam tagihan Februari 2025 paska diterbitkannya Keputusan Gubernur DKI No. 730 Tahun 2024; penguatan dan keberlanjutan manajemen dan kepemimpinan berbasis sistem yang sudah diwariskan oleh PAM Jaya saat ini; kemungkinan PAM Jaya secara lebih massif memproduksi air dalam kemasan dan dijual ke pasaran bebas; penguatan kolaborasi antara aktivis dan jurnalis dengan PAM Jaya dengan kegiatan yang lebih konkrit dan empirik, dan sebagainya.***
Al-Qalasadi: Matematikawan yang Melampaui Zamannya
JAYAKARTA NEWS – Dalam sejarah peradaban Islam, terdapat banyak tokoh cemerlang yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam bidang sains, matematika, dan pemikiran. Salah satu di antara mereka adalah Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Qalasadi, seorang matematikawan, ahli aljabar, dan pemikir muslim yang hidup pada abad ke-15 di wilayah Granada, Andalusia. Sosok yang lahir pada tahun 1412 dan wafat pada tahun 1486 ini telah meninggalkan warisan intelektual yang sangat berarti dalam perkembangan matematika dan pendidikan pada masanya.
Latar Belakang Sejarah dan Sosial
Masa hidup Al-Qalasadi bertepatan dengan periode akhir dari keemasan peradaban Islam di Andalusia, tepatnya pada masa-masa menjelang runtuhnya kerajaan Granada – wilayah terakhir kekuasaan Muslim di Semenanjung Iberia. Konteks sejarah ini sangat penting untuk dipahami, karena kondisi sosial dan politik pada saat itu sangat memengaruhi perkembangan intelektual dan ilmu pengetahuan.
Granada pada saat itu merupakan sebuah kesultanan terakhir dari dinasti Nasrid, yang telah bertahan selama hampir dua setengah abad menghadapi tekanan dari kerajaan-kerajaan Kristen di utara. Meskipun dalam kondisi tertekan, wilayah ini masih menjadi pusat peradaban dan intelektualitas muslim, dengan berbagai lembaga pendidikan, perpustakaan, dan pusat kajian ilmiah yang masih aktif.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Al-Qalasadi dilahirkan di sebuah desa kecil dekat Granada, tepatnya di daerah Qalasah – yang menjadi asal muasal nama belakangnya. Sejak usia dini, ia menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan logika. Seperti tradisi pendidikan Islam pada masa itu, ia memulai pendidikannya dengan mempelajari Al-Quran, bahasa Arab, fikih, dan berbagai cabang ilmu keislaman.
Semangat intelektualnya membawanya untuk berkelana dan menuntut ilmu dari berbagai guru terkemuka di Granada dan sekitarnya. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memperdalam pengetahuannya, tidak hanya dalam bidang matematika, tetapi juga dalam ilmu-ilmu keislaman seperti tafsir, hadis, dan hukum Islam.
Kontribusi dalam Matematika
Aljabar dan Metode Komputasi
Al-Qalasadi dikenal sebagai salah satu matematikawan muslim terkemuka yang memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan aljabar. Ia mengembangkan metode-metode komputasi yang lebih sistematis dan mendalam dibandingkan dengan para pendahulunya. Karya-karyanya mencerminkan kemampuan analitis yang tinggi dalam memecahkan persoalan-persoalan matematis yang kompleks.
Salah satu sumbangan terbesarnya adalah dalam hal penggunaan simbol-simbol matematis. Pada masanya, Al-Qalasadi mulai mengembangkan sistem notasi matematis yang lebih modern, yang memudahkan para ilmuwan untuk melakukan perhitungan dan analisis matematis. Ia menggunakan singkatan-singkatan dan simbol-simbol untuk mewakili variabel dan operasi matematis, sebuah praktik yang kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan matematika modern.
Karya-Karya Matematis
Beberapa karya monumentalnya dalam bidang matematika antara lain:
1. Talkhis A’mal al-Hisab (Ringkasan Perhitungan), sebuah buku yang menjelaskan metode-metode komputasi matematis dengan detail dan sistematis.
2. Risalah fi al-Jabr wa al-Muqabalah (Risalah tentang Aljabar), yang membahas secara mendalam berbagai teknik penyelesaian persamaan aljabar.
Dalam karya-karyanya, Al-Qalasadi menunjukkan keahliannya dalam menyelesaikan persamaan kuadrat dan kubik, serta mengembangkan metode-metode numerik yang lebih canggih.
Metode Pengajaran dan Kontribusi Pendidikan
Selain sebagai seorang matematikawan, Al-Qalasadi juga dikenal sebagai seorang pendidik yang luar biasa. Ia mengembangkan metode pengajaran matematis yang sangat inovatif untuk zamannya. Dalam pengajarannya, ia menekankan pentingnya pemahaman konseptual di atas sekadar hafalan rumus.
Metode pengajarannya yang unik meliputi:
– Penggunaan contoh-contoh praktis dalam menjelaskan konsep matematis
– Penekanan pada logika dan penalaran matematis
– Pendekatan yang mendorong murid-muridnya untuk berpikir kritis dan kreatif
Tantangan Historis
Masa hidup Al-Qalasadi bertepatan dengan periode yang sangat sulit bagi peradaban Islam di Andalusia. Tekanan dari kerajaan-kerajaan Kristen di utara semakin intens, dan wilayah-wilayah Muslim secara berangsur-angsur terdesak. Kondisi ini menciptakan atmosfer ketidakpastian dan tekanan sosial-politik yang tinggi.
Meskipun demikian, Al-Qalasadi tidak pernah patah semangat. Ia terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan pengajaran. Bahkan ketika Granada berada dalam ancaman konstan, ia tetap fokus pada misi intelektualnya.
Warisan Intelektual
Pengaruh Al-Qalasadi dalam perkembangan matematika sangatlah signifikan. Karya-karyanya tidak hanya memengaruhi matematikawan Muslim pada masanya, tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi perkembangan matematika Eropa pada periode Renaissance.
Beberapa matematikawan Eropa kemudian mengadopsi dan mengembangkan lebih lanjut metode-metode yang diperkenalkan oleh Al-Qalasadi. Notasi matematis yang ia kembangkan menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan aljabar modern.
Akhir Hayat dan Legacy
Menjelang akhir hidupnya, Al-Qalasadi menyaksikan runtuhnya Granada. Pada tahun 1492, kerajaan terakhir Muslim di Andalusia jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, yang mengakhiri periode kegemilangan Islam di wilayah tersebut.
Meskipun demikian, warisan intelektualnya tetap abadi. Karya-karyanya dalam matematika terus dikaji dan dihormati, bahkan jauh setelah masa hidupnya. Ia tidak sekadar seorang matematikawan, tetapi juga seorang pemikir yang telah memberikan kontribusi besar dalam memajukan ilmu pengetahuan.
Catatan Akhir
Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Qalasadi adalah representasi sempurna dari semangat intelektualisme Islam. Dalam periode yang penuh tantangan, ia mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya matematika, dengan cara yang inovatif dan mendalam.
Kontribusinya dalam pengembangan aljabar, metode komputasi, dan pendidikan matematis telah memberikan fondasi penting bagi perkembangan matematika modern. Sosoknya mengingatkan kita akan kebesaran peradaban Islam dalam memberikan sumbangan nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan global.
Sekalipun hidupnya dibatasi oleh keterbatasan ruang dan waktu, pemikiran Al-Qalasadi telah melampaui batas-batas geografis dan temporal. Ia adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batasan, dan semangat intelektual sejati akan selalu mampu bersinar, bahkan dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. (Heri)