Connect with us

Kolom

Wirupa Borobudur

Published

on

PAGELARAN JAYASTAMBHA HYANG

Oleh WENRI WANHAR

Para perupa dari zaman dahulu menorehkan ajaran tua di jantung tanah Jawa. Ajaran Buddhi. Buah kesadaran yang berpedoman pada keselarasan alam raya. Mengingatkan bahwa tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit ada di diri manusia.

Sebagaimana Borobudur yang sempat “ditinggalkan” masyarakat pendukungnya, ajaran Buddhi pun demikian. Namun ia tak pernah benar-benar hilang tanpa bekas. Masyarakat kita masih akrab dengan diksi “Buddhi”. Nalar Budi. Akal Budi. Budi Pekerti. Balas Budi. Hutang Budi. Budi Luhur. Dan semuanya beresenonasi kebaikan, keselarasan.   

Sungguh hari ini memang tumbuh dari masamu, tangan kami yang meneruskan…

Dewi Hariti

BUDDHI, sebagaimana dibeberkan Citraloka Wirupa Borobudur, adalah puncak-puncak kecerdasan jiwa dan puncak-puncak kecerdasan raga. Buddhi merupakan jalan utama menuju kebahagiaan lahir dan kebahagiaan batin. Buddhi adalah suluh benderang dalam kita punya diri, dan dalam kita punya negeri.

Ya, gambar di Mandala Borobudur yang pada masa kini disebut relief, pada masa lampau disebut citraloka. Dan seniman yang membuat karya seni nan agung itu disebut citralekha.

Para citralekha menorah Wirupa Borobudur berpedoman kepada gerak semesta. Alur ceritanya bersuluh ke Matahari. Cerita dimulai dari Timur, persis dari sudut matahari terbit. Lalu bergerak ke Selatan. Searah jarum jam.

Pada masanya, Timur itu disebut Purwa. Dan Selatan disebut Daksina. Purwa Daksina; putaran Timur ke Selatan. Diksi Purwa Daksina ini dalam perkembangannya dibunyikan menjadi Pradaksina saja.

Bila mengikuti perlangkahan Pradaksina di Borobudur, niscaya anda akan menikmati citraloka-nya laksana membaca komik tanpa teks. Di tempo-tempo tertentu sensasinya malah seperti nonton film.

Namun, sebelum itu, sebelum naik “membaca” Wirupa Borobudur, kita mesti punya kuncinya.

Apa kuncinya?

Mudra!

Perhatikan baik-baik. Seluruh arca pada tingkat 1, 2, 3, 4 yang menghadap Timur duduk dalam posisi Bhumi Sparsa Mudra. Seluruh arca pada lantai 1, 2, 3, 4 yang menghadap Selatan duduk dalam posisi Wara Mudra. Seluruh arca pada di tingkat 1, 2, 3, 4 yang menghadap Barat duduk dalam posisi Dhyana Mudra. Seluruh arca di tingkat 1, 2, 3, 4 yang menghadap Utara duduk dalam posisi Abhaya Mudra.

Seluruh arca di lantai 5 yang menghadap ke segala penjuru duduk dalam posisi Witarka Mudra. Seluruh arca di tiga dataran bundar yang menghadap ke segala penjuru duduk dalam posisi Dharma Cakra Mudra.

Ini ternyata kunci. Mudra-mudra ini rupanya “kunci pembuka” jantung hati siapa pun yang hendaknya dilakukan sebelum membaca citraloka (relief) Borobudur.

Cobalah. Bila melakukannya dengan benar, detak jantung kita perlahan akan semakin tenang. Seiring tenangnya jalan nafas dan pikiran. Bila berhasil, dalam bertenang-tenang itulah ajaran yang disimpan leluhur dari masa lampau tersambung dengan kita yang hidup di masa kini.

Keteraturan perlangkahan keseluruhan mudra-mudra pembuka jantung hati ini disebut Samudra. Jika mudra adalah jalan menuju keselarasan, samudra berarti totalitas keselarasan alam raya.  

Setelah berselaras, barulah naik mengikuti gerak matahari. Putaran Pradaksina. Timur-Selatan. 

Sanak saudara yang budiman…

Di-samping mengikuti gerak matahari, yang dipedomani para citralekha pembabar Wirupa Borobudur ternyata gerak cahaya yang ada pada diri manusia.

Pada diri manusia, bersemayam benih cahaya yang disebut Bija Aksara. Urutannya; Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang. 

Karena jumlahnya sepuluh, ia juga disebut Dasa Aksara.

Urutan cara menulis dan membaca Dasa Aksara sama persis dengan cara membaca citraloka mandala Borobudur.

Sang, bang, tang, ang, ing melingkar dari Timur ke Selatan. Purwa Daksinan. Urutan penulisannya mendaki dari bawah ke atas.  

Kemudian, penempatan nang, mang, sing, wang, yang ke arah putaran sebaliknya yang disebut prasawiya. Urutan penulisannya turun dari atas ke bawah.

Begitu pula-lah rupanya cara membaca citraloka Borobudur. Setelah sampai di atas, cara turunnya mengikuti putaran prasawiya. Dan pada bagian ini, cerita yang diikuti ada pada dinding langkan sebaliknya. 

Begitulah adanya. Kepada para citralekha, para guru dari segala unsur, mohon maaf bila kita keliru dalam hal ini. Hamba haturkan sembah jari nan sepuluh, ditundukkan kepala yang satu, mohon maaf atas kelancangan hamba. 

Oiya, kesepuluh aksara tadi, masing-masing punya kedudukan pada diri manusia. Sang di jantung. Bang di hati. Tang di buah pinggang. Ang di empedu. Ing di pertengahan hati. Nang di paru-paru. Mang di usus. Sing di limpa. Wang di kerongkongan, Yang di susunan rangkaian hati.

Secara keseluruhan Dasa Aksara ini juga disebut jantung hati. Ini karena urutan penempatan dan cara membaca dan menulisnya. Sang dan Bang di pangkal. Sang; jantung, Bang; hati. Jantung hati. Dan, rupa-rupanya, jantung hati dalam bahasa Sanskerta adalah Bajranala. Inilah nama sebenar Borobudur; Bajranala.

Dahulu kala, monumen Sri Buddha yang bersemayam di jantung tanah Jawa ini disebut Bajranala. Bajra, bisa juga dibaca Vajra atau Wajra secara bahasa artinya bersinar. Vajra juga perlambang keteguhan, kokoh. Dan Nala, artinya pemikiran.

Diksi Bajranala inilah yang oleh dialek masyarakat setempat dibunyikan menjadi Brojonalan. Diksi yang hingga kini masih jadi nama kampung di sekitar Borobudur.

Itulah kesimpulan pertama ketika mengaji mandala di Bukit Bumi Segoro, di jantung Bhumi Jawa yang kini dikenal sebagai Candi Borobudur.

Lalu, inilah adegan pertamanya:

Dengan perlangkahan bajranala itulah perlahan-lahan tersibak bentangan peristiwa bahwa citraloka di Borobudur, monumen Sri Buddha di jantung tanah Jawa adalah Jayastambha dengan lakon utama Indra Jati sang pembawa ajaran Buddhi, ajaran Dharma dari Hyang.

Pada masa lampau, orang Hyang menyebut istilah sejarah dengan perkataan Jayastambha.

Jayastambha berdiri di atas dua suku kata. Jaya dan Stambha. Jaya boleh diartikan menang, berhasil, hebat atau juga beruntung. Kata “jaya” boleh dialamatkan untuk hal pencapaian yang baik-baik. Stamba, biasa dibunyikan jadi tamba atau tambo, secara harafiah artinya bermula.

Sebenarnya ini rahasia.

Tibalah waktunya membentang yang terlipat.

Indra Jati, tokoh utama dalam lakon citraloka di Borobudur, tiada lain ialah Semar.

Wenri Wanhar dan Sohieb Toyaroja (kedua dan ketiga dari kiri).

Sohieb Toyaroja, Seniman atau Citralekha?

Pada musim yang ini Sohieb Toyaroja mengingatkan kita kepada citralekha. Sungguh, ini bukan melebih-lebihkan.

Pada 31 Maret 2025, Sohieb mengirim poster selamat hari raya dengan latar lukisan citraloka Borobudur. Sejurus kemudian, dia mengirim teks. “Bisa minta tolong nulis. Aku mau bikin pameran tentang relief Borobudur.” Kali ini, teks-nya diiringi lima potret lukisan.

Dari kelima potret lukisan yang dia kirim, ada satu gambar yang membuat tertegun. Ada garis dalam lukisan itu, yang—menurut pemandangan saya—hanya dimiliki oleh sosok “citralekha”. Garis itu–sehebat apa pun kemampuan seorang pelukis meniru gambar–tidak mungkin digoreskan oleh seorang yang tidak “kenal betul” cerita pada citraloka Borobudur.

Itu pandangan subyektif saya. Agak berlama-lama saya mencurahkan perhatian pada satu karya tersebut. Dalam hati, saya bertanya-tanya, “siapa Sohieb ini sebenarnya?”

Sekian tahun lalu, sebelum bertemu orangnya, saya lebih dahulu berjumpa karyanya. Sohieb banyak melukis sosok paling legendaris di tanah Jawa; Semar.

Dari teman-teman pelukis di Jogjakarta saya mendengar cerita, nama Sohieb kian mendapatkan tempat di kancah seni rupa setelah menggelar pameran tunggal bertajuk Semar Ngruwat Jagad, di Jogja Gallery. Pameran dengan tajuk serupa juga pernah dilangsungkan di Gedung Kunstkring, Menteng, Jakarta Pusat.

Pun demikian, meski kemudian saya berkawan dengan Sohieb, tidak sekali pun saya buka bahwa menurut kabar yang diperoleh dari semesta, Semar adalah tokoh utama dalam cerita di relief Borobudur.

Barulah malam ini, Minggu, 1 Juni 2025, ketika naskah ini dijahit, saya ajak dulu dia bicara hati ke hati. Dan senarai rahasia dari masa lampau yang terlalu lama terlipat pun kita bentangkan lagi.  

Sohieb Toyaroja

Sohieb bukan seniman hasil cetakan dunia akademik. Dia juga bukan orang yang kegandrungan klenik. “Dulu, waktu pameran Semar Ngruwat Jagat banyak yang menduga, bertanya, atau memancing-mancing saya, apakah ada ritual tertentu menjelang atau ketika berkarya…, saya katakan apa adanya, bahwa semua berjalan dan terjadi begitu saja. Saya tidak melakukan ritual khusus. Ritualnya adalah melukis itu sendiri,” kata Sohieb seraya mengumbar senyuman tipis.

Melakoni hidup berkesenian adalah dharma-nya di kehidupan yang ini. Waktu kelas 3 di SDN Grogol 2, Kediri, Jawa Timur dia pernah bikin prakarya, gambar Sultan Hasanudin dari gedebong pisang. Piguranya dari menggar kelapa.

“Itu sekitar tahun 1970-an akhir atau 1980-an awal. Saya kelahiran, antara 1969-1970. Tak ingat pasti,” kenangnya.

Begitulah Sohieb. Dia tak terlalu ambil pusing perihal angka-angka. Apalagi perihal sekolah. Sejak kanak-kanak dia hidup sesuka hati. Ke sekolah, ciri khas dia bawa buku cuma satu. Diselipkan di kantong celana. Dalam seminggu rata-rata bolos 3 kali.    

“Dari SD sudah sering disidang oleh sekolah karena suka hati. Guru-guru akhirnya masa bodoh. Malas marahin. Dan lama-lama dibiarkan saja. Nggak lagi ditegor. Saya tidak nakal. Cuma suka hati saja.”

Waktu SMP, kepala sekolahnya di SMP Islam Grogol, Kediri bahkan pernah mengalamatkan kalimat yang sampai sekarang tak terlupakan olehnya. “Kamu itu direndam tak basah, dijemur tidak kering.”

Sekolah baginya memang tak terlalu penting. Dia lebih suka berkesenian. Saat SMP itu dia suka bikin gambar vignette, dan ikut bantu-bantu orang mendekor rumah yang melangsungkan pesta perkawinan.

Gara-gara hidup sesuka hati itulah, bangku SMA hanya didudukinya hingga kelas 2 di SMA Mardi Oetomo, Kediri. Dan lalu pergi belajar melukis kepada Robert Mulyadi Prabangkara di Kediri. Bayarnya Rp1000/bulan. Tujuh kali datang selama dua bulan kurang. Tapi, bayarnya cuma sekali.

Pada Agustus 1988, Sohieb merantau ke Jakarta menyusul Robert, guru lukisnya yang sudah terlebih dahulu hijrah ke daerah Pasar Rebo, Jakarta Timur. “Modal merantau dikasih ibu Rp46.500, sama bawa cat dan kuas, serta pakaian tiga stel.”

Sohieb Toyaroja

Sebulan tinggal bersama Robert, memperdalam sedikit banyak ilmu lagi, dia lalu memutuskan pindah ke Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

“Bayar sewa kamar Rp15.000 /bulan. Sisa uang Rp10.000. Untuk alas tidur dikasih tikar yang sudah bolong-bolong. Tengah bulan uang tinggal Rp100. Beli rokok tiga batang. Dan lalu pasang plang di muka kamar; TERIMA LUKIS POTRET. Kemudian, datang tetangga. Dapat duit Rp15.000. Itulah untuk pertamakalinya dalam sebulan itu makan nasi. Sebelumnya hanya bubur kacang ijo.”

Sejurus waktu kemudian, perjalanan hidup mempertemukan Sohieb dengan Sampan Ismanto, seniman tari yang latar belakangnya seorang tentara. Sejak akhir 1988, dia tinggal di daerah Roxy, di sanggar seni yang dikelola Pak Sampan, kawan dekat Kusni Kasdut yang legendaris itu.

Sohib berkawan dekat dengan Pak Sampan. Kepada Sohieb, Pak Sampan pernah cerita bahwa dirinya keluar dari ketentaraan setelah menempeleng atasannya.

Tahun 1990-an akhir Sohieb keluar dari sanggar. Pamit. Pergi menggapai cita-cita, menjadi pelukis. Pernah dia punya pengalaman, waktu Sepultura, Edane manggung di Stadion Lebak Bulus, dia yang bikin spanduknya. Pernah juga dapat proyek KTT Non Blok. Dalam 1 minggu bikin spanduk 100. “Waktu mengerjakan proyek KTT Non Blok itu sehari tidurnya sejam. Lembur tingkat dewa.”

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Pada 2003 dia buka studio lukis sendiri di Citra Land, Grogol. Sohieb yang pernah menahan lapar dan tidur beralaskan tikar robek, sudah bisa bayar sewa tempat sebulan Rp250.000.

Dan kini, nama Sohieb Toyaroja telah berkibar sebagai seorang pelukis. Dia mengelola studio sendiri di Cinere, Depok, Jawa Barat.

Oiya, pada 2007 waktu pulang kampung, Sohieb main ke alun-alun. Kebetulan saat itu sedang ada acara. Satu di antara yang meramaikan acara itu adalah stand SDN Grogol 2 Kediri. Di pavilun sekolah tempat dulu dia menimba ilmu itu, “saya lihat karya saya waktu kelas 3 SD, gambar Sultan Hasanudin dari gedebong pisang dengan piguranya dari menggar kelapa, ikut dipajang.” 

Jalan hidup manusia agaknya memang sudah digariskan. Sebagaimana tempo hari semesta menggerakkannya “mengusung” Semar, dan kini dia membuat pagelaran ajaran Buddhi. (*)

Yogjakarta, 1 Juni 2025

Wendri Wanhar
Penulis dan Budayawan

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement