• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Madilog, Akal Sehat, dan Bhinneka Tunggal Ika

Madilog, Akal Sehat, dan Bhinneka Tunggal Ika

admin by admin
January 8, 2026
in Kolom
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mjp Hutagaol

Nama Madilog kerap memicu kecurigaan. Bukan karena isinya, melainkan karena bayang-bayang ideologi yang melekat pada sosok Tan Malaka.

Akibatnya, sebuah disiplin berpikir sering ditolak sebelum sempat dipahami.

Padahal, persoalan paling mendasar bangsa ini bukanlah perbedaan ideologi, melainkan kerapuhan cara berpikir.

Emosi mudah mengalahkan nalar.

Keyakinan cepat berubah menjadi klaim kebenaran tunggal. Dan ruang publik dipenuhi kebisingan tanpa kejernihan.

Di titik inilah Madilog layak dibaca ulang—bukan sebagai ideologi, melainkan sebagai latihan akal sehat.

Madilog: Disiplin Berpikir, Bukan Doktrin Politik

Madilog. Materialisme, Dialektika, Logika—pada dasarnya adalah ajakan untuk berpikir berbasis fakta, berani melihat pertentangan secara jujur, dan menyimpulkan dengan logika yang tertib. Ia tidak memerintahkan orang mengganti iman, ideologi, atau identitas kebangsaan.

Madilog tidak berbicara tentang apa yang harus dipercaya, tetapi bagaimana cara berpikir sebelum percaya.

Kesalahpahaman muncul ketika Madilog dibaca sebagai “ajaran kiri”, bukan sebagai metodologi berpikir.

Padahal, berpikir logis dan kritis tidak pernah menjadi milik satu ideologi. Ia adalah fondasi semua peradaban yang bertahan.

Plato menyebutnya pembebasan dari ilusi.

Aristoteles menyebutnya phronesis —kebijaksanaan praktis.
Filsafat modern menyebutnya rasionalitas publik.

Nama boleh berbeda, intinya sama: akal sehat adalah syarat martabat manusia.

Madilog dan Kebijaksanaan Nusantara

Yang sering dilupakan, tradisi Nusantara justru sangat akrab dengan dialektika. Para mpu tidak mengajarkan kebenaran tunggal yang mematikan perbedaan.
Mereka mengajarkan keseimbangan.

Bhinneka Tunggal Ika bukan slogan politik, melainkan hasil olah pikir peradaban. Berbeda tanpa saling meniadakan. Satu tanpa menyingkirkan yang banyak.

Dalam konteks ini, Madilog tidak bertentangan dengan nilai Nusantara. Justru sebaliknya: ia dapat menjadi alat untuk menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik, dan keyakinan tidak menjelma fanatisme.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang menutup buku karena takut label, melainkan bangsa yang mampu menyaring makna dengan kebijaksanaan.

Bahaya Tanpa Disiplin Berpikir

Tanpa logika, iman mudah diperalat.

Tanpa dialektika, perbedaan menjadi ancaman.

Tanpa pijakan pada realitas, kebijakan berubah menjadi retorika.

Di era media sosial, kita menyaksikan bagaimana emosi kolektif sering lebih cepat daripada nalar. Hoaks lebih dipercaya daripada data. Amarah lebih laku daripada argumen.
Dalam situasi seperti ini, Madilog—dibaca secara dewasa—bukan ancaman ideologis, melainkan penawar kebingungan publik.

Ia mengingatkan bahwa berpikir jernih adalah tanggung jawab moral, bukan kemewahan intelektual.

Membaca Tan Malaka dengan Dewasa

Tan Malaka adalah tokoh sejarah dengan konteks zamannya. Ia bukan nabi yang harus diikuti, juga bukan hantu yang harus dihindari. Ia adalah bagian dari perjalanan intelektual bangsa.

Membaca Madilog tidak berarti menjadi Tan Malaka. Sama seperti membaca Plato tidak menjadikan kita Yunani, dan membaca Aristoteles tidak menjadikan kita Athena.
Yang berbahaya bukanlah membaca, melainkan berhenti berpikir.

Penutup

Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang sering kurang adalah kejernihan.

Tidak kekurangan keyakinan, tetapi sering kekurangan kedalaman berpikir.

Madilog—jika dipahami sebagai disiplin akal, bukan doktrin politik—dapat menjadi salah satu alat untuk merawat Bhinneka Tunggal Ika agar tetap hidup, bukan sebagai semboyan, melainkan sebagai kebijaksanaan yang bekerja dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, ideologi boleh berbeda.
Tetapi akal sehat harus tetap kita bagi bersama.

Tags: madilogmadilog bukan doktrin politikmadilog tan malaka
Previous Post

Marga Taufiq, “Jenderal Trembesi Mattoanging” Makassar

Next Post

Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan Nasional 2025

admin

admin

Next Post
Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan Nasional 2025

Presiden Prabowo Umumkan Swasembada Pangan Nasional 2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version