Kolom
Terasi, Digemari Manusia dan Makhluk Ghaib
Gde Mahesa
Berbau khas, dengan warna merah atau coklat kehitaman, terasi dapat menciptakan rasa khas. Apalagi sambal terasi. Kata terasi konon berasal dari kata terasih atau yang terkasih. Ungkapan tersebut dibuat karena “jasa besarnya” memperenak masakan.
Yang jelas, bumbu daput khas Indonesia ini dibuat dari fermentasi udang kecil (rebon) atau ikan. Ciri khas terasi adalah aroma dan rasa umami menyengat. Tak heran jika ada sebagian orang kurang suka terasi.
Sejarah, terasi (atau acan) sudah ada sejak abad ke-14. Catatan sejarah menyebutkan, bahwa terasi dibuat khusus untuk keraton atau menjadi bekal pelaut karena praktis dan awet, serta dibawa oleh pedagang Tiongkok.
Bagi masyarakat Jawa, terasi bukan hanya bumbu dapur pelengkap masakan. Aroma khasnya seringkali dikaitkan dengan berbagai mitos. Kepercayaan masyarakat mengaitkan bau terasi dengan hal mistis, seperti pertanda kehadiran makhluk halus (kuntilanak, jin), serta dianggap bisa menjadi pengantar untuk membuka dimensi lain.
Dengan kata lain, terasi bisa menjadi media interaksi manusia dengan makhluk tak kasat mata. Hal ini membuat sebagian sesepuh dan “orang pintar” acap memakai terasi dalam ritual tolak bala.
Di tengah masyarakat (yang makin modern dan realistis), mitos bau terasi di malam hari penanda hadirnya makhluk halus, masih tetap ada. Terutama masyarakat Jawa. Lebih terutama lagi, masyararkat pedesaan.
Sementara, bagi sebagian masyarakat lain, mitos di atas sudah tak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, melainkan menjadi bagian dari identitas budaya yang unik. Ini sekaligus mengingatkan manusia akan kekayaan khasanah kepercayaan lokal yang masih hidup berdampingan dengan peradaban modern.
Bahkan, masih ada yang mempercayai mitos bahwa membakar terasi bisa mengundang arwah seseorang yang sudah di alam kubur, bahkan arwah tadi nempel atau merasuk ke raga si pembakar terasi.
Ada juga yang percaya, jika ingin melihat –dan berkenalan– dengan makhluk halus, bakarlah terasi di tempat-tempat angker dan sepi serta jauh dari keramaian. Bakarlah terasi, dan tunggulah kehadiran makhluk-makhluk astral.
Akan tetapi, apakah benar dan pasti? Silakan saja dicoba. (Jika mendapati pengalaman menarik, bagikan di Jayakarta News…)
Dalam beberapa ritual adat atau tradisi sesajen (uborampe) di Jawa, terasi terkadang disertakan sebagai bagian dari persembahan kepada roh halus atau penunggu tempat tertentu. Terasi dalam sesajen, memiliki makna seperti :
Simbol Bumi/Tanah: Terasi yang berwarna gelap dan beraroma kuat sering melambangkan unsur bumi atau tanah.
Penyeimbang Unsur: Bersama bahan lain seperti gula jawa, terasi melambangkan keseimbangan antara bumi dan langit.
Sruputtt kopi pahitnya, ….bullll bullll bullll….
