Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan: Gegara Alzheimer

JAYAKARTA NEWS— Rapi Films yang biasa membuat film horor kali ini putar haluan berfokus membikin film drama keluarga yang emosional.

Bersama Screenplay Films dan Vortura Studios, sutradara Kuntz Agus digandeng mengisahkan konflik  tentang memori, kasih sayang dan ketakutan kehilangan ingatan ibu tercinta.

Yuke Yolanda (Lulu Tobing), seorang guru SD sering lupa dan mengalami penurunan daya ingatan. Suaminya Aldo Pratama (Ibnu Jamil) tetap setia merawat isterinya. Tiga anaknya yaitu Kesha (Yasmin Napper), Kenya (Shofid Shireen) dan Karlo (Jordan Omar) solid membantu ibunya di rumah.

Kesha mengalami dilema antara mengejar impian atau pulang merawat ibunya.

Para pemeran Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan (foto rapi)

Yuke Yolanda menunjukkan gejala awal penyakit penurunan daya ingatan. Misalnya ia yang naik sepeda pulang mengajar kerap lupa alamat rumahnya. Atau di saat lain, ia mengajak Karlo belanja ke pasar pulangnya Karlo ditinggal.

Ini membuat panik seluruh keluarga.

“Belum terlalu berat sih penyakitnya. Memang porsinya harus begitu,” ujar Lulu Tobing yang bermain apik dan natural.

Lulu sering diskusi dengan sutradara dan survey ke dokter ihwal Alzheimer.

“Semua ilmu tentang penyakit Alzheimer saya dapatkan dari mas Agus yang banyak memberikan saran dan masukan. Agar peranku wajar dan masuk akal,” ungkap Lulu.

Di film ini, Kuntz Agus hadirkan drama keluarga yang hangat dan memberikan ruang improvisasi kepada pemeran.

Produser Sunil Samtani mengapresiasi kiat kerja sutradara, seluruh kru dan pemeran di film ini.

“Bagaimana hancurnya keluarga gegara penyakit lupa ingatan. Ketika ibu mendapat memory loss dan seluruh keluarga kompak menghadapi situasi sulit,” terang Sunil Samtani.

Yang lain boleh hilang asal kau jangan  akan dirilis di bioskop serentak di seluruh Indonesia mulai 13 Mei 2026. (pik)

Menyelami Kekayaan Maritim Nusantara melalui Ragam Tari di Semarak Budaya Indonesia 2026 

SURAKARTA, JAYAKARTA NEWS— Kota Surakarta kembali menjadi saksi perhelatan seni akbar Semarak Budaya Indonesia 2026 untuk yang ke-13 kalinya di Balai Kota Surakarta. Gelaran hari pertama ini berlangsung pada Jumat (08/05/2026) malam dan akan berlanjut pada Sabtu (09/05/2026) malam.

SBI 2026 kembali hadir sebagai ajang yang mempertemukan sanggar-sanggar seni dari seluruh penjuru negeri dalam satu panggung kebudayaan. Ketua Pelaksana, Aprizal Rizaldi Naim S.H., dalam sesi sambutan, dengan bangga mengungkapkan bahwa SBI 2026 hadir ke-13 tahun.  

“Mengangkat tema Swarna Bumi Bahari, SBI membawa kekayaan identitas bangsa Indonesia, negeri emas yang berdiri di atas keberagaman budaya dan kejayaan maritim. Menggambarkan Indonesia sebagai bangsa kepulauan, yang sejak dulu dipersatukan oleh laut, tradisi dan semangat gotong royong,” jelasnya. 

Semarak Budaya Indonesia menjadi ruang untuk merayakan kekayaan budaya Indonesia sekaligus memperkuat identitas seni para pelakunya. Sehingga diharapkan, karya-karya yang ditampilkan mampu menggugah apresiasi masyarakat terhadap seni tari dan budaya Nusantara. Festival ini dapat disaksikan oleh berbagai lapisan masyarakat secara gratis di halaman Pendopo Balai Kota Surakarta. 

Apresiasi tinggi juga datang dari Walikota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto, menyampaikan sambutan dan ucapan terima kasih yang diwakili oleh Maretha Dinar Cahyono, SE. MM. selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. 

“Kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Candra Kirana Art Center dan Pemuda Indonesia Kreatif yang telah menghadirkan kegiatan positif dan inspiratif. Semarak Budaya Indonesia bukan  sekedar pertunjukan seni, tetapi juga ruang perjumpaan budaya, ruang ekspresi generasi muda, sekaligus upaya nyata untuk menjaga identitas bangsa. (…) Pemerintah Kota Surakarta akan terus mendukung kegiatan seni dan budaya yang dapat memperkuat identitas bangsa, menciptakan kreativitas dan membangun kebanggaan terhadap budaya Indonesia.” 

Pemukulan Tom-Tom oleh Aprizal Rizaldi Naim S,H., Maretha Dinar Cahyono, SE. MM., Ibu Dr. Dra. R.Ay Irawati Kusumorasri M.Sn., dan Ibu Woelan Sari Dewi menjadi pertanda resmi dibukanya SBI 2026. 

Berbagai sanggar yang turut meramaikan acara pada hari pertama, antara lain, Semarak Candrakirana Art Center – Tari Wasa Sagara, Alitalita Dance Class – Tari Jaipong Nyi Ronggeng, Danirmala – Tari Wadon, Sanggar Tari Tancep – Tari Jabang Uwong Nyi Serang, Citra Puspita Paramesti – Tari Njathil, Pesona Nusantara – Tari Topeng Nawanda, Oemah Wayang Klaten – Tari Wira Laksita, Lemba Inisiasi Flowmotion Indonesia – Tari Rintik Bebatuan, Kiratama Jivana – Tari Resonansi Perlawanan Tubuh, Sanggar Seni Perwitasari Binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal – Tari Ambu Sakanti, Budaya Nusantara Studio – Tari Mojang Bahari, Jagadhita – Tari Digdaya Samudra Wilwatikta, dan Sanggar Seni Budaya Al Farabi – Tari Spirit of Bahihe Kajang. 

Penampilan dengan tema Bahari dibawakan oleh Budaya Nusantara Studio Bogor dengan membawakan Tari Mojang Bahari. Tarian ini menggambarkan Tarian ini menggambarkan kehidupan mojang Sunda di pesisir pantai yang akrab dengan aktivitas mencari ikan, berjualan ikan dan bermain di tepi laut dengan penuh keceriaan. 

Panggung SBI 2025 hari pertama secara keseluruhan berlangsung secara meriah. Acara ini diakhiri dengan penyerahan sertifikat kepada para penampil. Gelaran seni ini sukses digelar berkat dukungan dari Semarak Candrakirana Art Center, Pemuda Indonesia Kreatif, Rumah Arsiri Indonesia, Bank Indonesia dan Pemerintah Kota Surakarta. Kemeriahan panggung SBI akan berlanjut lagi pada Sabtu (9/05/2025) di lokasi yang sama pada pukul 10.00 WIB – selesai. (*)

James F Sundah Wafat, Tolak Dress Code Hitam-Putih

James Freddy Sundah (1 Desember 1955 – 7 Mei 2026) adalah salah satu musisi dan penulis lagu paling legendaris di Indonesia. Berikut adalah beberapa hal utama yang membuat sosoknya begitu dihormati di industri musik:

Mahakarya “Lilin-Lilin Kecil”

James adalah sosok di balik lagu legendaris “Lilin-Lilin Kecil” yang dipopulerkan oleh Chrisye. Lagu ini memenangkan Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors tahun 1977 dan hingga kini dianggap sebagai salah satu lagu pop Indonesia terbaik sepanjang masa.

Penulis Lagu Bertangan Dingin

Selain “Lilin-Lilin Kecil”, James F. Sundah menciptakan banyak hits untuk penyanyi ternama lainnya:

  • “September Ceria” yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata.
  • “Astaga” dan “Amburadul” yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya.
  • “Kasih (Melangkah Pergi)” untuk musisi asal Malaysia, Sheila Majid.
  • “When You Came Into My Life”, sebuah kolaborasi istimewa dengan band rock dunia, Scorpions, dan mendiang Titiek Puspa.

Pejuang Hak Cipta

James F. Sundah sangat vokal dalam memperjuangkan perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI) bagi musisi Indonesia. Beliau aktif di organisasi seperti Yayasan Karya Cipta Indonesia (KCI) dan terus mengedukasi rekan sesama seniman tentang pentingnya royalti.

Akhir Perjalanan di New York

Dalam beberapa tahun terakhir, almarhum menetap di New York, Amerika Serikat, bersama istrinya, Lia Sundah Suntoso, yang merupakan seorang pengacara. Di sana, James tetap berkarya hingga akhir hayatnya, termasuk merilis lagu “Seribu Tahun Cahaya” pada Oktober 2025 yang mendapatkan rekor MURI karena dirilis dalam tiga bahasa secara serentak di tiga benua.

Berita duka datang dari pihak keluarga. James Sundah berpulang dengan tenang pada usia 70 tahun setelah sempat berjuang melawan kanker paru-paru. Dunia musik Indonesia kehilangan salah satu “lilin” terangnya.

Berikut pengumuman pihak keluarga:

Telah berpulang ke Rumah Bapa di Surga dengan tenang, suami, papa, kakak, adik, saudara, sahabat kita tercinta:

Bapak James Freddy Sundah pada hari Kamis, 7 Mei 2026, pada pk. 11:28 am waktu New York EST pada usia 70 tahun.

Viewing dan ibadah akan diadakan pada Minggu, 10 Mei 2026 pk. 15:00-20:00 pm New York EST di:
📝 Schwartz Brothers Memorial Chapel
114-03 Queens Boulevard
Forest Hills, NY 11375

Ibadah pelepasan untuk pemakaman dilangsungkan pada Senin, 11 Mei 2026 pk. 09:00 am New York EST dari Funeral Home, dilanjutkan dengan pemakaman di:
📝 St. John Cemetery, 80-01 Metropolitan Ave, Middle Village, NY 11379

Kiranya Tuhan memberikan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta penghiburan dari Tuhan Yesus Kristus.

Kami yang berduka,
Priscillia Sundah Suntoso (Lia)
Erickjuno Jacob
Berserta keluarga besar.

Dress code: merah, ungu, biru dan oranye atau ada unsur warna tersebut, bukan hitam / putih

Penerimaan bunga duka di Funeral home paling lambat jam 3 pm hari Minggu, 10 Mei 2026.

Tiga Hari Nyerutu Gratis, Sultan Cigar Gelar Cigarnesia di Jakarta

JAYAKARTA NEWS – PT Sejahtera Cerutu Indonesia (Sultan Cigar Indonesia) menggelar event bertajuk Cigarnesia, perayaan budaya cerutu terbuka untuk publik yang berlangsung selama tiga hari, 3 – 5 Juni 2026, di Juntos, Lotte Mall, Jalan Dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan.

Kegiatan ini menjadi momentum bagi pecinta cerutu, termasuk pemula, untuk merasakan pengalaman “nyerutu” secara gratis dalam suasana santai dan eksklusif, sekaligus memperdalam pengetahuan tentang dunia cerutu.

Dalam rangkaian acara, Sultan Cigar Indonesia menghadirkan sejumlah program, antara lain edukasi cerutu yang membahas sejarah, jenis, hingga teknik menikmati cerutu, demonstrasi rolling cigar oleh para ahli (tursedor), serta free cigar experience bagi pengunjung untuk mencoba berbagai varian cerutu secara cuma-cuma.

Founder Sultan Cigar Indonesia, Frederiko Ratu Kedang atau Om Fred, mengatakan Cigarnesia bukan sekadar event biasa, melainkan upaya memperkenalkan cerutu sebagai bagian dari gaya hidup yang sarat nilai seni dan tradisi.

“Melalui Cigarnesia kami ingin membuka ruang bagi siapa saja untuk mengenal cerutu lebih dekat. Cerutu Indonesia kini sangat kompetitif, bukan hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai seni, tradisi, dan pengalaman sosial,” ujar Om Fred di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Ia menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan menjadi wadah berkumpulnya komunitas serta memperluas pemahaman publik terhadap dunia cerutu yang memiliki nilai sejarah dan craftsmanship tinggi.

Sultan Cigar Indonesia sendiri merupakan brand sekaligus komunitas yang fokus pada produksi, pengembangan, dan apresiasi budaya cerutu di Tanah Air. Sejak memulai produksi pada 2009 dengan varian Sultan Vintage Robusto, kini produknya berkembang dengan berbagai lini seperti Sultan Vintage Series, Sultan ICC Series, Sultan The Devil, Sultan Syndicate, Sultan Black Label, hingga Sultan Maestro.

Selain itu, perusahaan juga bermitra dengan sejumlah merek cerutu nasional, di antaranya Deli Nusantara Tobacco Series, Indonesian Cigar Club Series, Drupadi Series, Archipelago Series, HH Cigar Series, Damara Exclusivo, dan Bawono Cigar.

Melalui Cigarnesia, Sultan Cigar Indonesia berharap budaya cerutu lokal semakin dikenal luas dan mendapat tempat di pasar nasional maupun internasional.***/mel

Baim Wong Menggebrak Lagi, Syuting Rasa Keluarga

JAYAKARTA NEWS—  Sukses sebagai sutradara di dua film horor yaitu ‘Lembayung’ dan ‘Sukma’, kini Muhammad Ibrahim alias Baim Wong menggebrak lagi.

Bersama Tiger Wong Entertainment, Baim Wong kini merilis film drama keluarga berjudul ‘Semua Akan Baik Baik Saja’ (SABBS) dan beredar di bioskop mulai 13 Mei 2026.

Berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang realistis yang bernuansa natural. Ihwal masyarakat kelas bawah dan tinggal di bantaral rel yang menciptakan suasana emosional dan padat penduduk.

“Saya blusukan syuting totalitas ke rumah warga. Mereka gembira bersedia main film dan saya langsung memberi honor ke mereka. Banyak pemeran dadakan dan saya beri bayaran tambahan,” ucap Baim Wong polos.

Langit (Reza Rahadian) yang tumbuh keras di jalanan berusaha mencari pengganti orang tua di tengah konflik keluarga yang rumit.

Berhasil ?

Baim Wong (Foto: istimewa)

Melewati liku-liku perjuangan dan kegaduhan serta perbedaan pendapat, apa yang diperbuat dan dilakukan Langit berakhir happy.

Reza Rahadian yang berperan sebagai tokoh utama mengaku senang disutradarai Baim Wong.

“Baim disiplin tapi fokus dan santai. Beberapa kali casting di lokasi dan suasananya akrab,” kata Reza Rahadian.

“Saya salut kiat kerja Baim selaku sutradara melakukan random (spontan, tak terduga) tapi hasilnya enak. Yang jelas, Baim kerap mendadak mengubah rencana tapi dia  bilang dulu secara pendekatan personal. Gaya dia enggak kaku. Santai tapi profesional,” ungkap Reza.

Sejalan pendapat aktris senior Christine Hakim.

“Syuting rasa keluarga, saya katakan. Dia selalu mengajak dua anaknya, Kenzo dan Kiano ke lokasi syuting dan ini sangat berguna untuk memupuk persahabatan, kekompakan dan menambah semangat buat pemeran. Hasilnya bagus,” urai Christine Hakim.

Di sisi lain, Baim juga memperlakukan pemeran Rahmatullah Alim dan Vanessa yang berkebutuhan khusus secara manusiawi.

“Mereka baru pertama berakting di depan kamera. Saya enggak menduga Alim dan Vanessa bermain natural sebagai diri mereka. Luar biasa,” jelas Christine Hakim.

SABBS juga diramaikan sederet aktor berwatak seperti Raihaanun, Ari Irham, Teuku Wifnu Wikana, Asri Welas, Happy Salma, Erik Estrada, Aquene Djorghi, Malika Shaquero, Chew Kin Wah (aktor Malaysia), Ade Rai, Nagra Pakusadewo, Rebecca Tamara, Amanda Soekasah, Janni Soekasah, Kenzo Eldrago Wong, Kiano Tiger Wong dan Luna Maya.

Baim yang juga bermain sebagai aktor (‘Bebas’ dan ‘Suamiku Lukaku’) dan produser (‘Berbalas Kejam’), kini selangkah maju sebagai sutradara di karya ke tiga ini.

SABBS happy end. Semua akan baik-baik saja. Bravo Baim Wong ! (pik)

Film AIN Angkat Teror dari Rasa Iri dan Dengki

JAYAKARTA NEWS—  Ain dalam bahasa Arab berarti pandangan mata. Namun, sutradara Archie Hekagery yang membuat film horor berjudul “ain” mengangkat isu teror dari rasa iri dan dengki. “Penyakit ain alias evil eye ini ada. Konsep ceritanya punya daya tarik lintas budaya. Ain menjadi hiburan dan edukasi,” ujar Archie Hekagery.

Produser MVP, Raam Punjabi mengaku film Ain memiliki resonansi universal yang melampaui sekat budaya dan agama atau spiritual.

“Buktinya distributor Rusia yang enggak kental Islam nya memesan film ini. Juga Kamboja dan Malaysia. Berarti Ain sudah terkenal di Asia,” ungkap Raam Punjabi.

Ditegaskan, Ain bukan hanya horor fisik yang ditampilkan tapi juga menyentuh isu sosial yang ramai.

“Yaitu standar kecantikan yang beracun dan dampak buruk rasa iri dengki,” imbuh Raam Punjabi.

Tokoh utama Joy (Fergie Brittany), seorang beauty influencer mendadak sontak terkena penyakit kulit yang gatal-gatal. Ini akibat dari dampak buruk rasa iri yang dikembangkan.

Senada pemeran Dini (Putri Ayudya) yang menyoroti lapisan cerita lebih dalam dalam soal konsep ain.

Ain yang bergenre body horor akan menyapa penonton tanggal 7 Mei 2026 ini mengambil lokasi syuting di sekitar Jabodetabek selama 15 hari.

Produksi Multi Vision Plus (MVP) dan Manara Studios ini juga dibintangi Bara Valentino. (pik)

“Michael” , Film Kisah Hidup Michael Jackson Raup Triliunan Rupiah Sejak Tayang 22 April

JAYAKARTA NEWS—  Seperti nada yang tak pernah selesai, Raja Musik Pop Michael Jackson tetap menghasilkan uang meski telah tiada sejak 20 Juni 2009.

Michael alias Jacko (nick name) seperti bangkit dari kubur. Biopik berjudul ‘Michael’ garapan sutradara Antoine Fuqua, sejak dirilis 22 April di seluruh dunia – termasuk Indonesia – telah meraup USD 90 M atau sekitar Rp1,5 triliun sejak penayangan opening nya.

Film produksi Lionsgate dan Universal (distributor) yang berdurasi 2 jam 7 menit ini tentang legenda hidup, yang berpindah dari panggung ke panggung, dari konser ke sinema.

Dihiasi puluhan lagu-lagu hits nya, Michael yang diperankan oleh Jaafar Jackson, keponakannya (anak Jermaine Jackson), sejak masa kecilnya berlatih vokal dan bersama saudara-saudaranya bergabung bersama Jackson Five.

Kalau salah latihan, Michael kecil dipukul pantatnya dengan rotan oleh ayahnya yang galak dan keras, Joe Jackson. Tapi ia selalu dibela oleh ibunya yang lembut, Katherine Jackson dan menangis di pelukan ibunya.

“Dalam hidup, kamu harus menjadi pemimpin atau pecundang,” bentak sang ayah kepada Michael dan 4 kakaknya.

Michael Jackson semasa kecil

Tatkala dewasa dan kariernya terus meroket, Michael menciptakan gerak tari ‘moon walk’ (mundur maju) yang membuat jutaan fans fanatiknya histeris.

Kelak dan ini yang lucu dan unik, Michael setelah mandiri dan menjadi biduan single out dari Jakson Five menjadi superstar, justru memecat sang ayah sebagai manajer.

Namun, film yang dibuat dalam 2 bagian ini (film sekuel 2 nya belum dirilis), di satu sisi juga menuai kritik di media Amrik. Yaitu tiadanya adegan pelecehan seksual Michael terhadap anak-anak.

Sudah pasti, seorang mega bintang alias Super Star harus tetap putih tak bercacat. Sekecil apapun kesalahan dan setitik noda penyimpangan seksual haram divisualkan di layar.

Michael digambarkan mulus tak berdosa.

Kaya raya dan membuat taman binatang buat anak-anak dan menciptakan gerak tari baru mundur maju yang ditiru oleh kalangan remaja diseluruh dunia.

Malang tak dapat ditolak. Michael divonis terkena vitiligo dan juga lupus autoimun sampai hari wafatnya.

Satu hal yang perlu diberi punten, film ini hampir keseluruhan diperankan oleh bintang-bintang senior dan pendatang baru yang juga lihai bernyanyi, berakting dan bermain instrumen.

Colman Domingo (ayah Michael), Nia Long (ibu Michael), Kat Graham (Diana Ross), Miles Teller, Yuliano Valdi (Michael kecil) dan puluhan pemeran berkulit hitam yang bermain cantik dan cemerlang sebagai Janet Jackson, Latoya Jackson, Jermaine Jackson serta saudara-saudara Michael yang lain.

Michael adalah sebuah fenomena.

Jenius berbakat anak ke 7 dari 10 anak pasutri Joe Jackson dan Katherine Jackson ini seolah dilahirkan untuk menjadi ‘pendobrak’ dan ‘pemimpin musik pop’.

Ia memang berkulit hitam dan hitam bisa menjadi Raja dan Pemimpin.

Michael mengatasi isu genetika ras (ingat lagunya ‘Black or White’) dan ia berusaha mencat seluruh tubuhnya dengan warna putih dan minum obat yang  sebenarnya racun pengisap darah.

Suka atau tak suka, Michael sukses ‘membakar’ dan menghipnotis dunia.

Melalui cahaya proyektor, Michael hidup lagi di bioskop.

Tapi tunggu dulu. Ada sekelumit tulisan di ending…to be continued…(pik)

Film ‘The Bell: Panggilan untuk Mati’, Mitos Hantu Penebok di Belitung

JAYAKARTA NEWS— Di Belitung, ada mitos hantu Penebok yaitu hantu tanpa kepala dan bergaun merah. Penebok dipercaya warga Belitung dan hadir mengancam manusia karena bel (lonceng) dicuri dan dipermainkan. Cerita rakyat (folk lore) ini bertahun-tahun hadir sebagaimana mitos kuntilanak dan hantu pocong di Jawa.

Sutradara Jay Sukmo membangun karakter Penebok yang ikonik dan mencekam dalam film berjudul ‘The Bell : panggilan untuk mati’ dan beredar 7 Mei 2026.

Warga desa kaget dan ketakutan karena di malam hari hantu Penebok akan mencari mangsa dan menebas kepala manusia.

Tiap bel berbunyi sebagai tanda ada yang mati.

Dukun yang dihormati di desa mati mengenaskan tanpa kepala. Juga warga lain n seorang anak kecil.

Sudah 7 manusia mati tertebas kepalanya. Tinggal 2 lagi dan siapa ?

Danto (Bhisma Mulia) mewarisi ilmu dari kakeknya.

Ia pergi merantau dan pulang lagi ke desanya. Ia dibilang lari dari tanggung jawab tapi di sisi lain Danto  disebut sosok yang ‘green flag’ (baik hati dan cerdas).

Ia bersama Airin (Ratu Sofya) dan Hanafi (Maulidan Zuhri) mencoba membantu warga desa dengan membaca mantra-mantra mengusir Penebok. Serta menebar garam, bawang putih dan kunyit plus jarum disekeliling rumahnya agar tak dimasuki Penebok.

‘Hai penebok, jin pamburih/jangan engkau merintih di sini/balik engkau ke hutan tanjung/tampak engkau duduk dan termenung/berkat doa laila haillallah …’ doa Danto yang dilafazkan berulang-ulang. “‘Mantra ini spesifik disertai ayat Kursi, al Ikhlas, an Nas dan al Falaq. Biasanya sang dukun akan mendoakan air putih di gelas untuk diminum ke pasien yang kesurupan. Bismillah, sembuh. Amin yra…,” ucap produser eksekutif Budi Yulianto hakkulyakin.

Segendang sepenarian Avesina Soebli (produser eksekutif) mengiyakan.

Produser Aris muda Irawan dan Rendy Gunawan yang berpengalaman dalam persiapan syuting di Bukit Samak, Belitung.

Penulis naskah Priesnanda Dwisatria mengaku baru sekali ini ada syuting di tempat sejarah di  Belitung. “Ini agar lebih otentik. Syuting dari malam sampai subuh. Seru,” jelasnya.

Sutradara Jay Sukmo mengungkapkan cerita The Bell sangat kaya aspek budaya dan tradisi daerah.

Produksi Sinemata dan MBK ini dibintangi Bhisma Mulia, Ratu Sofya, Shalom Razade, Mathias Muchus, Givina Lukita Dewi, Septian Dwicahyo, Nabil Lunggana, Sita Permatasari, Maulidan Zuhri dan Zidan Zhu.

Yuk hantu Penebok atau Penebong siap meneror bioskop dengan bel yang berdentang nyaring.

Ratusan roh yang sudah berada di alam barzah siap bangun kembali. (pik)

Pesta Babi akan Diputar di M Bloc, Kebenaran Diuji

JAYAKARTA NEWS—  Pesta Babi atau awow atatbon (joewo, Papua Selatan dan Papua pegunungan Tengah) adalah pesta adat yang melambangkan kekayaan, kehormatan dan sosial dengan menyembelih babi dan membakarnya di batu (bakar batu).

Namun, jurnalis investigasi Dhandy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale membuat film dokumenter berjudul ‘Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman kita’) dan akan diputar di M Bloc, Senin (27/4) pk 6 PM.

Berdurasi 90 menit, film ini telah tayang di beberapa kota seperti Batam, Bandung, Jogjakarta, Bojonegoro dll. Bahkan, juga telah diputar di TIM yang mendapat apresiasi dan simpati dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta pengamat sosial.

Memang tak diputar di bioskop karena film ini tak disensor LSF. Ditayangkan di kampus dan balai desa atas bantuan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan donasi pengunjung.

Pesta Babi menurut Dhandy Laksono bukan hanya dokumenter tapi narasi bicara ulang tentang relasi kekuasaan, bisnis dan operasi pendekatan keamanan di Papua.

“Ini dampak Proyek Strategis Nasional alias PSN. Yaitu memaparkan dari sudut pandang yang tak biasa : ada konflik di permukaan tapi bisa jadi menyimpan lapisan kepentingan yang lebih dalam,” ujar Dhandy.

Ditegaskannya, Proyek PSN katanya meredam separatisme atau ada agenda ekonomi terselubung. Kita yaitu Pemerintah kong kalikongdengan konglomerat hitam dan oknum TNI ikut bermain.

Dandhy Dwi Laksono ‘kami tak didanai Pemerintah’ (foto watchdog)

“Film ini mencoba membongkar dugaan keterlibatan konglomerat hitam yang memanfaatkan situasi dan kondisi untuk kepentingan bisnis,” ucapnya.

Selama bertahun-tahun yang jadi korban masyarakat adat Papua dimana tanah leluhur dan hutan adat terancam punah dan habis.

Dhandy mengungkapkan, film ini tak didanai kepentingan-kepentingan tertentu tetapi lahir dari kerja advokasi.

“Ketika diputar di Berlin, atas sponsor Watchdog, Greenpeace dan Ekspedisi Indonesia Baru di Jerman, pengunjung dan pengamat sosial lingkungan di sana mengatakan, ini bukan cuma  isu Papua, melainkan sudah mendunia. Isu bersama,” jelas Dhandy lagi.

Pesta Babi dibuat dari pertarungan narasi  di era digital.

Dulu yang bicara teks. Kini gambar/film dominan.

Medium visual di era terkini penting sebagai alat kritik.

Gambar film memiliki kekuatan membentuk realitas tanpa distorsi (pemutatbalikan fakta).

“Publik bertanya : apa yang terjadi ? Tetapi mereka juga bertanya : apa ini nyata ?,” pungkas Dhandy.

Last but not least, saat ini kebenaran diuji, dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan kepada generasi masa depan bangsa. (pik)

‘Kupeluk Kamu Selamanya’, Sean Gelael Jadi Produser Eksekutif

JAYAKARTA NEWS—  Sutradara Pritagita Arianegara selalu berbicara tentang relasi ibu  dan anak. Dalam film terbarunya berjudul ‘Kupeluk Kamu Selamanya’ yang akan dirilis 30 April 2026, Pritagita memotret cerita perjuangan ibu untuk berdamai dengan kehidupan dan cinta tanpa syarat hingga titik akhir.

Sebuah perjalanan emosional yang menyentuh dari kisah Naya  (Hana Malasan) dan  Aksa (Jared Ali) yang sakit bawaan sejak lahir.

Ketika Naya berpisah dengan suami (Ibnu Jamil) yang menikah lagi, Naya diuji kekuatannya baik sebagai ibu maupun sebagai manusia.

Penonton diajak merasakan dan memaknai arti cinta tanpa syarat dari sudut pandang seorang ibu.

“Saya ingin penonton pulang dan sadar bahwa kita memiliki cinta yang tak pernah selesai. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, menjadi kenangan yang juga tak akan pernah hilang,” ujar Pritagita.

Film ini menjadi debut aktris Dinda Hauw sebagai produser bersama Dara Dwitanti. Juga menjadi debut Sean Gelael di industri perfilman Indonesia, menjadi produser eksekutif  bersama Angga Dwimas Sasongko.

Sean Gelael, produser eksekutif

“Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan keterbatasannya untuk merawat anaknya. Di sini tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam putih,” ungkap pembalap Sean Gelael.

Bagi Hana Malasan, ia memaknai cinta tanpa syarat saat memberikan sesuatu tanpa berharap imbal balik.

“Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima,” papar Hana.

Bagi Ibnu Jamil, film ini juga sangat manusiawi karena para karakternya tidak benar-benar hitam putih antara protagonis-antagonis.

Kupeluk Kamu Selamanya juga dibintangi Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah dan Leroy Osmani. (pik)