Lukisan Batik Raksasa dengan Tema Zodiac

MALANG, JAYAKARTA NEWS – Indonesia memiliki 1.728 warisan budaya takbenda (WBTb) yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Batik salah satu WBTb Indonesia dari 12 lainnya yang telah diakui UNESCO sejak 2 Oktober 2009.

Dikutip dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemendikbud, kata batik juga berasal dari bahasa Jawa yaitu tritik, kata batik berasal dari gabungan dari dua kata yaitu amba yang maknanya adalah menulis serta titik yang maknanya adalah titik.

Secara historis, batik berasal dari zaman nenek moyang dan dikenal sejak abad ke 17. Pada saat itu, motif dari batik didominasi oleh bentuk binatang serta tanaman. Akan tetapi, kemudian motif batik pun berkembang dan beralih pada motif-motif yang menyerupai awan maupun relief candi.

Batik sebagai khasanah seni rupa dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pilihan teknik menghasilkan karya-karya seni kontemporer. Jika selama ini dikenal dengan batik pakem merujuk pada batik Solo, Yogyakarta, Cirebon, maupun batik yang memiliki sejarah dengan sebuah kerajaan di nusantara serta batik pesisiran yang menyebar di sepanjang pesisir pantai di Indonesia tanpa pakem-pakem tertentu, saat ini batik berkembang menjadi salah satu karya seni rupa kontemporer dengan membebaskan dari pakem-pakem tertentu.

Bambang Sarasno adalah salah satu seniman yang mengekspresikan karya seninya menggunakan teknik batik. Seniman kelahiran Malang tahun 1957 ini tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara formal atau akademis. Awal ketertarikannya pada seni ketika waku kecil (SD) sering menemani dan melihat kakaknya menggambar wayang kulit.

Sejak saat itulah mulai timbul kecintaannya pada seni. Awalnya lebih senang seni kriya. Sekitar tahun 1974, awal-awal masa SMA, mulai belajar seni lukis, dan beruntung diperkenalkan dengan para seniman khususnya perupa yang bergabung dalam Sanggar Senirupa Arti, yang hampir keseluruhannya mahasiswa dan dosen IKIP Malang (sekarang UM) jurusan senirupa.

Disitulah Sarasno juga diperkenalkan dan diajari melukis dengan Teknik Batik. Ia menemukan suatu tantangan tersendiri yang sangat menarik, karena berbeda sekali dengan teknik melukis yang biasanya dengan cat minyak, cat air. Bermula dari situ, mulai mencoba mengekspresikan kreasi seni dengan tenik batik.

“Saat itu di sekolah SMAK St. Maria Malang, ingin mengadakan suatu acara, dan saya coba berkontribusi dengan pameran lukisan menggunakan teknik batik dan juga mengaplikasikan dalam ornamen pakaian untuk acara Fashion Show sekitar tahun 1977. Dalam perjalanannya berproses, saya makin mencintai teknik batik ini untuk mengekspresikan kreasi-kreasi saya. Saya makin merasakan membatik bukanlah sekadar ekspresi seni semata tetapi juga logika, perhitungan-perhitungan dan lain-lain. Dalam pemikiran saya, membuat karya batik itu seperti menggambar apa yang tidak digambar. Sehingga tanpa sadar, telah banyak mempengaruhi sikap dan pola pikir saya.” Ucapnya.

Lebih lanjut Sarasno menjelaskan ketidak sempurnaannya dalam seni batik baginya menjadi sebuah kekuatan tersendiri dari sebuah karya seni. Dari situ pula mulai senang berpikir “out of the box”, baik dalam berkreasi maupun dalam problem-problem solving.

Proses olah rasa, karsa dan karyanya sangat menarik, bahkan tidak hanya dalam berproses tapi juga sangat menarik untuk ditonton. Hal-hal kecil, dan kelihatannya sederhana remeh ternyata bisa menjadi sesuatu yang menarik. Ini semua dapat dirasakan dari pengalaman-pengalaman yang dialami selama berproses atau berkreasi.

Misalnya proses nyelup (pewarnaan), menjemur kain yang sudah jadi telah menginspirasinya untuk membuat sebuat kreasi dalam bentuk “Performing Arts”. Antara lain, “Dress Painting” dengan teknik batik, “Multi Media Performing Arts” (antar disiplin seni). Kreasi-kreasi tersebut yang sudah sempat disajikan antara lain, Dress Painting, Pentas Multi Media tahun 1981, Pentas Metamorphosa Batik Performing Arts tahun 2012 dan 2013.

Mulai awal tahun 2015, Sarasno mencoba berekprsei membuat kreasi dengan teknik batik berupa lukisan-lukisan bertema Zodiac dan dengan ukuran yang cukup besar (2.5 m x 3 m). Ide ini muncul kala melihat fenomena-fenomena yang ada saat itu, dimana banyak orang, utamanya anak-anak muda yang senang membuat foto “selfie”.

“Saya menjadi lebih terdorong untuk membuat anak-anak muda lebih mengenal seni batik dengan cara yang menyenangkan ala mereka. Saya juga mempunyai keinginan nantinya bahwa kreasi-kreasi ini juga bisa disajikan sebagai salah satu elemen “Multi Media Performing Art” atau seni pertunjukkan yang mengangkat teknik batik sebagi pemeran atau tokoh utamanya.” Ucap Sarasno menutup ceritanya. (Heri)

Oka Antara, dari Ayat Ayat Cinta sampai Kutukan Cakar Monyet

JAYAKARTA NEWS— Kehadiran Nyoman Oka Wisnupada Antara atau akrab dipanggil Oka Antara di ranah film nasional selalu menyejukkan. Namanya mulai dikenal tatkala Oka ikut membintangi film drama religi ‘Ayat Ayat Cinta’ tahun 2008. Sebagai Saiful, perannya sangat menentukan.

Kemudian, Oka mulai terlibat dalam sederet film bertema Islami seperti ‘Perempuan Berkalung Sorban’ dan ‘Mencari Hilal’, meski ia bukan muslim.

Awalnya berprofesi sebagai model dan rapper, Oka yang lama studi di AS balik ke Indonesia dan mulai terjun ke dunia film.

Kini, nama Oka sangat diperhitungkan dan lima kali masuk nominasi dalam ajang festival film.
“Aku baca skenarionya dulu, ceritanya menarik atau enggak. Kalau enggak sesuai dengan karakterku, terpaksa aku tolak,” kata aktor berusia 41 tahun ini.

Setelah didapuk menjadi sosok antagonis bernama Irfan di sinetron ‘Ikatan Cinta’, Oka lalu membintangi film horor berjudul ‘Kutukan Cakar Monyet’ bersama Aurelie Moremans, yang sedang beredar di bioskop saat ini. Film ini diadaptasi dari cerpen tahun 1902 bertajuk ‘The Monkey’s Paw’ karya WW Jacobs.

Oka mengatakan, ini adalah film bergenre horor pertama yang dibintanginya.

Debut sutradara Ferry Lesmana, ‘Kutukan Cakar Monyet’ berkisah tentang pasutri Roy dan Amara yang sedang menantikan anak pertamanya. Roy kemudian membeli rumah yang merupakan wujud impiannya. Kejadian mengerikan bertubi-tubi menghampirinya saat pemilik rumah lama datang dan mencari benda keramat milik almarhum suaminya.

“Semoga film ini sukses dan ditonton banyak orang karena pesannya sampai ke kita, bahwa manusia jangan bersekutu dengan iblis,” ucap Oka, ayah tiga anak hasil pernikahan dengan Rara Wiratanaya, model dari Bali. (pik)

InStar Jadi Platform Medsos Selebriti

JAYAKARTA NEWS— InStar menggagas platform menarik dan khas untuk para selebritis di TikTok dengan tagline ‘be together be success’. InStar adalah Indonesian Star atau International Star yang hadir menjadi pengawal para tokoh dan selebriti sebagai platform sosial media seMilyar orang.

“Dan hal ini InStar juga dapat membantu profiling sesuai latar belakang mereka dan product profile untuk dimonotaise agar lebih income dan akun dapat berkembang dengan pesat,” ujar Shankar RS, produser yang menggagas InStar.

Setelah pemblokiran, saat ini, TikTok sudah menjadi aplikasi paling viral diseluruh dunia. Fenomena TikTok sudah merambah ke mana-mana. Dan bukan lagi platform joget-jogetan. “TikTok sudah jauh lebih dari itu semua. Sehingga rain income dari e-Commerce,” papar Shankar RS.

TikTok belakangan sudah meraih followers fantastis sebanyak 13 juta pengikut di Indonesia.
Bagi influencer saatnya harus punya support team dan manajemen yang baik. InStar hadir menggenapkan sebagai cuan yang akan mengalir deras.

“Kita akan support sebagai host yang baik dengan keyword atau konsep yang eyecatchy dengan gathering InStar termasuk memiliki virtual avatar,” imbuh Shankar RS.

Acara dihadiri CStar, SellerUp, Voxinema, Hollywood Action dan film School serta Ketum Parfi, Alicia Djohar, Sonny Tulung, Harry de Fretes (Lenong Rumpi), Ricky Hosada dan para TikTokers. Kemudian dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama. (pik).

Kartu Pos Wini, Jangan Lecehkan Pasien Kanker

JAYAKARTA NEWS— Kisah seorang gadis kecil bernama Wini terdianogsis kanker darah (leukemia) diangkat ke film oleh sutradara Tarmizi Abka secara menarik lewat film bertajuk ‘Kartu Pos Wini (KPW), Surat Beralamat Surga’.

Diakurasi untuk semua umur, film produksi Sinemata ini menawarkan genre drama keluarga di bulan puasa dan mendekati Lebaran.

Film yang menjadi pembeda di tengah gempuran genre horor ini tak rumit dalam bertutur. Ceritanya mudah dipahami, unik dan emosional dengan ending yang mengejutkan. Pesan film ini adalah enggak mudah seseorang yang terkena kanker melewati masa-masa sulitnya. Diperlukan peran seorang pendamping dalam membantu menyalakan semangat hidup pasien kanker.

Ruth menjadi relawan pendamping Wini yang pasien kanker. Ruth mendapatkan sponsor pengobatan dari sahabat pena yang dikenalnya selama 18 tahun, Reza, seorang dokter onkologi (cabang ilmu kedokteran yang menangani pasien kanker) di Belanda.

Hadir pria kedua dalam hidup Ruth. Pertemuannya dengan Krisna, secret admirer (pengagum rahasia) di masa SMA yang juga seorang fotografer relawan di yayasan kanker membuat Ruth ragu antara cinta Reza dan kegigihan Krisna. Namun, ketiganya – Ruth, Krisna dan Reza – punya harapan sama : Wini harus sembuh.

Liku-liku cinta segi tiga ini dikisahkan secara ciamik dan enggak cengeng oleh Tarmizi Abka.
Diam-diam, Krisna yang ganteng ini yang mendorong Wini untuk berkirim surat untuk Tuhan.
Jangan dilupakan pula karakter Ruth yang sangat berbeda dibanding cewek seusianya di masa kiwari yang lebih memilih bekerja sebagai sekretaris atau guide.

Ruth punya obsesi bekerja di kantor pos ketimbang memburu penghasilan besar. Ia memilih memupuk idealismenya melalui pekerjaan yang memberinya keleluasaan dan kemerdekaan berinteraksi dengan orang lain sebagai staf kantor pos, perusahaan BUMN yang masih tetap eksis dan giat melakukan perubahan di pasar milenial.

Drama yang inspiratif dan memotivasi ini dimeriahkan sekeranjang pelakon muda berbakat yaitu Denira Wiraguna (Ruth), Fajar Rezki (Krisna), Soraya Rasyid (Nayla), Ferly Putra (Reza), Fiedra Azalia (Dewi), Tyara Vanesha (Rosiana) dan Keiko Ananta (Wini).

Diadaptasi dari novelet digital karya Ruwi Meyta yang kemudian diskenariokan oleh Endik Koeswoyo, produser Aris Muda yang pernah menjadi jurnalis di tabloid Citra menegaskan, lewat filmnya ini, dia memunculkan tokoh-tokoh yang cukup kuat dalam menarik empati penonton.

“Tanpa perlu menguras air mata, bahwa pasien kanker enggak perlu dilecehkan dandirendahkan. Mereka jangan dipandang rendah dan enggak berharga. Mereka harus diangkat untuk eksis,” pesan Aris Muda.

Syabas ! (pik)

Diminta Bioskop hanya Putar Film Indonesia Selama Lebaran

JAYAKARTA NEWS— Lebaran yang jatuh 21 dan 22 April 2023 adalah pesta panen nya film Indonesia. Ada 4 film nasional yang siap diputar di hari nan suci itu, yaitu ‘Buya Hamka’, ‘Jin dan Jun’, ‘Sewu Dino’ dan ‘Khanzab’. Dua film bergenre horor, satu komedi dan sisanya drama biopic.

Ada imbauan agar selama libur 14 hari jelang dan pasca Lebaran hanya tayang film nasional.
“Negara harus berpihak pada film nasional. Lebaran tanpa film impor, stop film asing,” cetus sutradara Anggy Umbara dalam acara Ngabuburit Demi Film Indonesia (DFI) di pelataran Ali Sadikin, hall soto H Maruf, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (31/3) kemarin. Acara ini dihelat guna memeriahkan Hari Film Nasional (HFN).

Dua aktor muda Rey Bong dan Yasamin Jasen juga mendukung pernyataan Anggy Umbara.
“Saya adalah pencinta film nasional. Sebaiknya Lebaran 2023 hanya putar film nasional di bioskop,” ujar Yasamin Jasen yang tampil di film ‘Khanzab’.

Segendang sepenarian Rey Bong. “Layar bioskop di seluruh Indonesia sekitar 2000an. 14 hari saja deh hanya putar film Indonesia. Dari dulu katanya film nasional jadi tuan rumah di negara sendiri. Nah, buktikan di hari Lebaran tahun ini,” imbau Rey Bong optimistis.

Penulis skenario Alim Sudio (‘Buya Hamka’) dan produser Amrit Punjabi (‘Jin dan Jun) senada.
“Lebaran tahun ini kami dari MVP membuat remake Jin dan Jun. Semoga nantinya bioskop hanya dipenuhi film nasional,” harap Amrit Punjabi yang saat ini MVP sedang syuting film ‘Diambang Kematian’.

Bagaimana tanggapan pihak pemerintah ?

Ruli dari Direktorat Perfilman, Musik dan Media (PMM) Kemdikbud Ristek yang mewakili Direktur PMM Ahmad Mahendra berjanji akan menyampaikan usul para insan film nasional ke atasannya.

Demi Film Indonesia (DFI) sebagai pemangku kepentingan (stake holder) Badan Perfilman Indonesia (BPI) di sisi lain juga telah sukses mengkampanyekan film nasional via videotron, Billboard dan GPR TV. (pik)

Diskusi HFN: Bagaimana Membuat Film yang Berbudaya?

JAYAKARTA NEWS— Etnis Jawa mendominasi dalam populasi dan unggul di puncak, disusul etnis Sunda dan terakhir Batak. Apa arti Jawa, Sunda dan Batak ?

“Jawa itu jaga wibawa. Batak itu diartikan serba membentak. Dan Sunda menurut linguistik itu berarti geulis (cantik) dan kasep (tampan),” lontar aktor Slamet Rahardjo Djarot dalam diskusi menyambut Hari Film Nasional (HFN) ke 73 di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI) baru-baru ini. Acara dihelat oleh YPPHUI dan Kemdikbud Ristek.

Sekali-sekali menyelipkan humor yang menggelitik, Slamet Rahardjo yang kerap  dipanggil Ki Slamet ini mengemukakan sekelumit historiografi ihwal nama dirinya.

Dikatakannya, nama Slamet Rahardjo diberikan oleh ayahnya saat lahir yang berarti selamat (slamet) dan bahagia (rahardjo). “Oh slamet…lanang (laki)…,” seru ayahnya.

Beberapa kali gurunya, Teguh Karya (almarhum) meminta agar nama Slamet Rahardjo diganti.

“Itu nama pasaran, dan sudah banyak dipakai oleh camat n lurah di Jawa. Ganti nama yang lebih trendi kek. Kayak Roy Marten atau Robby Sugara, kan keren,” cerita Ki Slamet disambit geeerrrr panjang khalayak.

Namun, Slamet Rahardjo tetap tak bergeming dan tak mau mengganti namanya seperti diusulkan Teguh Karya.

“Nama bagi seseorang, entah itu dari suku Jawa, Sunda atau Batak itu sakral, bertuah dan bertujuan baik dan pamali kalau diganti,” sambung Slamet Rahardjo.

Ia menambahkan, nama Teguh Karya itu semula bernama Steve Liem Tjoan Hok. Padahal, Teguh Karya itu nama toko bangunan di Simpang Lima, Semarang.

“Ya sudah. Teguh Karya tetap Teguh Karya. Dan Slamet Rahardjo tetap Slamet Rahardjo. Jangan diganti menjadi Hardjo rak Slamet,” timpal Slamet Rahardjo terkekeh.

Dimoderatori Benny Benke Mashuri (wartawan, novelis), diskusi santai ini juga dimeriahkan sutradara dan penulis skenario Bene Dion Rajaguguk.

“Karena saya berasal dan paham budaya dari tanah Batak, saya menyutradarai film ‘Ngeri Ngeri Sedap’. Saya enggak mungkin membuat film berlatar budaya yang saya enggak paham dan enggak mengerti,” urai Bene Dion yang juga seorang komika ini.

Tatkala ‘Ngeri Ngeri Sedap’ sukses dan laris manis ditonton jutaan orang di bioskop, Bene Dion menerima telpon berisi ucapan selamat dari banyak tokoh pejabat dan anak muda Batak.

“Saya akan membuat film berlatar budaya Batak lagi yang saya kuasai,” beber Bene Dion berjanji.

Seperti ditegaskan Slamet Rahardjo, sineas Indonesia kiwari sudah banyak yang membuat film yang dekat masyarakat dan heroik.

“Dan kita harus bangga, film Indonesia sudah jadi tuan rumah di negara sendiri. Film kita bukan lagi tontonan, tapi juga tuntunan,” ucap Slamet Rahardjo.

Last but not least, Slamet Rahardjo mengingatkan bahwa menonton film Indonesia itu berarti kita mengenal budaya Indonesia, mengenal kehidupan kita dan mengenal diri kita sendiri.

Klop ! (pik)

‘Diambang Kematian’, Syuting di Tegal dan Slawi

JAYAKARTA NEWS— Diangkat dari utas di Twitter oleh akun @jeropoint yang telah dibaca sebanyak 9 juta kali, cerita berjudul ‘Diambang Kematian” (DK) ini kemudian difilmkan oleh rumah produksi Multi Visionplus Pictures (MVP) dengan judul sama.

Bergenre horor, dan berkisah tentang pesugihan Kandang Bubrah, sutradara Azhar ‘Kinoi’ Lubis akan melakukan syuting di daerah Tegal dan Slawi (Jawa Tengah) mulai 25 Maret 2023.
Cerita aslinya terjadi di kota Sidoarjo. “Ada pertimbangan khusus sehingga kami dan kru film memindahkan lokasinya ke Tegal dan Slawi,” kata Kinoi di kantor MVP kepada penulis, baru-baru ini.

Kenapa mengusung horor lagi ?

“Ini ceritanya beda. Realistis. Dan masuk akal,” kali ini co produser Amrit Punjabi ikut bicara.
Sekeranjang pemain ikut bermain di film ini, di antaranya Wafda Saifan, Tasyka Namya, Teuku Rifnu Wikana, Kinaryosih, Faras Fatik dan Raya Adena.

“Saya percaya para pemain ini bisa melaksanakan tugasnya dengan baik dan rapi, meski syuting jauh dari Jakarta dan pas di bulan puasa Ramadan,” beber Kinoi optimistis.

Kisahnya, Nadia hidup diambang sakaratul maut. Ia menjadi tumbal pesugihan yang dilakukan oleh ayahnya. Ibunya, mendadak sontak meninggal dunia.Sepuluh tahun kemudian, kakaknya bernama Yoga menyusul ibunya ke alam baka.

Dari keluarganya, kini yang tersisa tinggal Nadia. Apakah Nadia akan menjadi korban pesugihan atau bisa lepas dari jerat ayahnya?

“Kami jadwalkan Diambang Kematian akan tayang serentak di akhir tahun menyongsong fajar pagi 2024,” tutup Amrit Punjabi.

Semoga cuan ! (pik)

Musikal Ken Dedes, Pembunuhan Berencana, Kutukan dan Banjir Darah

JAYAKARTA NEWS— Ken Dedes adalah wanita paling berpengaruh di Kerajaan Singhasari. Semua Raja tunduk dan ia menapaki tahta dan kekuasaan melalui jalan darah dan strategi intrik dan politik licik yang kejam.

Dipersembahkan oleh Eksotika Kharmawibangga Indonesia (EKI) di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, selama 2 hari (18 dan 19 Maret 2023, 4 x show), drama musikal ‘Ken Dedes’ ini dipadati khalayak.Tak heran banyak permintaan agar musikal ini bisa diperpanjang lagi harinya.

Sutradara Rusdy Rukmarata mengemas pertunjukan ini dalam modern dan kekinian. Kostum disuguhkan perpaduan antara tradisional dan kontemporer. Musik yang dijahit oleh Oni Krisnewinto berupa musik pop, rock, rap, ballad, jazz dan instrumentalia ballet tampak harmonis dan liat. Digebrak lagi dengan suguhan tarian yang dipintal elok oleh Nanang Hape menambah maraknya musikal ini.

Para pemain dari EKI yang memeriahkan musikal Ken Dedes/ (foto Iwan/EKI)

Dialog dibalut dan diselipkan unsur humor nan cerdas, dengan logat Betawi zaman sekarang yang populer, seperti ungkapan gue, loe, bro dan banyak pemeo lain.
Sekitar 70 pemain unjuk diri selama 2 jam di panggung nan megah terasa kita menonton pertunjukan Broadway ala Nusantara.

Dalam gelaran ini, penulis naskah Titien Wattimena mengubah sedikit cerita dan peran para tokohnya dengan versi EKI, yaitu Ken Umang di tangannya menjadi isteri pertama Tunggul Ametung dan Ken Arok. Sedangkan menurut versi beberapa prasasti yang ditemukan, Ken Umang adalah selir Ken Arok.

Permainan cahaya dan artistik nan apik yang menghiasi panggung boleh dipujikan kepada penata Iskandar Loedin. Ia lihai meramu dan menggoreng banyak warna utama seperti warna merah di awal pertunjukan sebagsi simbol darah yang menggenangi Kerajaan, yang kemudian berubah cepat menjadi kuning tatkala Anusapati (anak Ken Dedes dan Tunggul Ametung) naik tahta menggantikan Ken Arok. Pada babak kematian dan saling bunuh, pencahayaan beralih ke warna gelap dan kelam.

Para pemain teater dari EKI ini juga layak diberi punten. Ara Ajisiwi sebagai Ken Dedes, Taufan Purbo jadi Ken Arok, Nafa Amyrtha jadi Ken Umang, Uli Herdi sebagai Tunggul Ametung, Fatih Unru jadi Anusapati serta seabreg pemain lain bermain pas dan cemerlang.

Sungguh, musikal nan keren yang dihelat sangat konstektual dan menjadi peringatan bagi kawula muda. Bahwa perebutan kekuasaan yang saling tikam dan berakhir dengan pembunuhan dan kematian di sebuah masa dan rezim ini sangat tak elok dan tak layak ditiru. (pik)

Jin Qorin, Horor yang Meneror

JAYAKARTA NEWS— Hampir setiap minggu selalu ada film horor baru yang tayang di bioskop Indonesia. Jantung penonton nyaris diteror dan digedor habis-habisan. ‘Jin Qorin’ produksi Maxstream dan White Collar Pictures siap meneror penonton menyongsong Hari Film Nasional di bulan Maret ini.

Difasilitasi Telkomsel, film ini disutradarai Ubay Fox. Dan digawangi artis-artis top tanah air seperti Marthino Lio, Rama Michael, Annisa Hasim, Tyara Vanesha, Kanaya Gleadys dan masih segerobak pelakon lain.

Bercerita tentang Seno yang sangat mencintai isterinya, Alya dan puterinya, Reva. Bagi Seno, tak ada yang dapat memisahkan mereka. Akan tetapi, ada rahasia besar yang harus ditutupi Seno di dalam rumah tangganya.

Wina, bos di kantor bekerja diam-diam juga mencintai Seno. Sementara itu, Abdi yang kakak ipar Seno mulai mencurigai ada hubungan spesial antara Wina dan Seno.

Apakah Seno berselingkuh dan menghianati Alya, adiknya ?

Dalam penyelidikannya, Abdi mulai menemukan kejanggalan pada diri Seno. Di saat bersamaan, Wina yang masih bersikeras mendapatkan cinta Seno, menemukan bukti yang memperkuat rahasia yang ditutup oleh Seno.

Vice President Digital Lifestyle Telkomsel, Nirwan Lesmana mengatakan Telkomsel tetap mendukung perkembangan film nasional dan beragam kinten hiburan digital yang berkualitas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Hal ini berarti sekaligus mendorong penguatan industri kreatif kita, khususnya film Indonesia melalui pemanfaatan teknoligi digital terdepan,” ujar Nirwan Lesmana. Dan Maxstream adalah salah satu platform dari Telkomsel yang menayangkan beragam konten dalam bentuk video on Demand. (pik)

‘Tulah 6/13′, Kutukan di Masa Silam

JAYAKARTA NEWS— Film berjudul ‘Tulah 6/13″ menceritakan tentang perjalanan kelompok 5 orang remaja yang mempunyai agenda piknik sebelum mereka sibuk dengan urusan kuliahnya mereka yaitu Gilang, Sarah, Putri, Abi, dan Kevin.

Di sepanjang perjalanan bukan sesuatu yang menyenangkan yang mereka dapatkan melainkan pengalaman teror yang mengerikan. Gilang yang mengendarai mobil semakin tidak fokus akibat teror-teror yang terjadi hingga suatu kejadian terjadi.

Tiba-tiba mobil yang mereka kendarai terlibat kecelakaan tunggal dan anehnya Gilang tersadar di dalam mobil tersebut seorang diri tanpa ke-4 temannya.

Gilang merasa bingung dan berusaha mencari empat temannya yang hilang di sekitar area hutan namun di saat Gilang hendak mencari teman-temannya. Ia justru mendapatkan teror yang membuatnya sangat ketakutan. Teror tersebut membuatnya teringat lagi akan traumanya di masa lalu.

Saat ia merayakan ulang tahunnya yang jatuh di tanggal 13 Juni belakangan diketahui teror itu berkaitan dengan kutukan di masa silam yang terus mengejar dan membuat Gilang mengalami trauma yang masih terus menghantuinya sampai sekarang.

Di sisi lain sosok Sarah memiliki masalah dengan psikis atau mental sehingga sering merasa cemas.

Disutradarai Chiska Doppert, film yang menggedor kejiwaan manusia ini dibintangi sederet pemain muda berbakat yaitu Thomi Baraqbah, Erika Carlina, Omara Esteglal, Carissa Perusset dan Michael Olindo. Bergenre hybrid psycho, film ini diproduksi Hers Productions bersama Maxstream akan tayang 30 Maret 2023 bertepatan dengan Hari Film Nasional.

Lalu, bagaimanakah kelanjutan kisahnya berhasilkah Gilang menemukan keempat teman-temannya dan misteri apa yang sebenarnya terjadi di tanggal 13 Juni? Saksikan di bioskop kesayangan Anda.

Sebagai informasi, ‘Tulah 6/13″ dalam waktu dekat akan mewakili RI dalam Festival Film Internasional 2023 di Swirzerland, Swiss. (pik)