Adriyanto Dewo Bikin Film ‘Kajiman, Iblis Terkejam Penagih Janji’

JAYAKARTA NEWS— Siapakah makhluk gaib terkuat dan terkejam? Dalam mitos budaya Jawa, iblis terkuat adalah Kajiman. Iblis ini bisa dijadikan khodam (bisa berkomunikasi dengan jin) untuk pesugihan.

Sosok iblis ini akan mendekati manusia untuk dipengaruhi agar ikut dalam aliran sesat .
“Unsur kebudayaan dan mitologi Jawa seperti primbon dan weton akan ikut digambarkan dalam film,” ujar sutradara Adriyanto Dewo yang membuat film jenis horor bertajuk ‘Kajiman Iblis Terkejam Penagih Janji”.

Dikatakan sineas yang pernah membuat film berjudul ‘Tabula Rasa’ dan ‘Mudik’ ini, mengangkat tema pesugihan karena ilmu hitam dan aliran sesat selama ini masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai jalan pintas guna meraih sesuatu yang mereka inginkan.

“Enggak hanya dilakukan di pedesaan, tapi ternyata juga ada di perkotaan. Lalu kami cari cara bagaimana membangun horornya seperti yang terjadi sehari-hari,” urai sutradara lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Film dan Televisi.

Kali ini, Adriyanto mrnggabungkan segi drama dan horor. Proses pembuatan film ini cukup menantang.

“Karena kalau horor enggak mau tanggung-tanggung. Harus ngeri sekalian,” seru Adri.
Di film ini, Kajiman sosok iblis terkejam yang disembah dengan mantra Jawa melalui pesugihan. Konon menurut kepercayaan Jawa, hanya pewaris weton Selasa Kliwon yang dipercaya dapat menaklukkan Kajiman. Namun, di sisi lain, keberadaannya juga diburu oleh pengikut Kajiman untuk dijadikan tumbal pesugihan.

Film produksi Visionari Capital dan Relate Films ini dimeriahkan jajaran pemain yakni Aghniny Haque, Jourdy Pranata, Tyo Pakusadewo, Mian Tiara, Ully Triani dan aktor Malaysia, Iedil Dzuhrie Alaudin.

“Aku bangga dan happy banget sama film Kajiman. Nilai plusnya, aku enggak pernah menemukan film horor yang ceritanya sangat kuat,” kata Aghniny Haque, pemeran utama wanitanya.

“Aku yakin penonton akan penasaran dengan ending cerita dari film ini,” imbuh Aghniny.
Sedangkan Jourdy Pranata mengaku tertarik mengambil tawaran main film ini karena ada sentuhan budaya lokal didalamnya.

“Disini horornya bukan sensasi teriak-teriak saja tapi juga ngejar ke mental,” beber Jourdy Pranata.

Kengerian apa yang akan dihadapi Agniny Haque dan Jourdy Pranata dalam Kajiman, nantikan tayang serentak di bioskop 18 Mei 2023. (pik)

Konser Semiliar Yovie Widianto, Hujan Air Mata untuk Carlo Saba

JAYAKARTA NEWS— Suasana tiba-tiba hening. Khalayak ‘Billion Songs Concert’ karya-karya Yovie Widianto di JCC, Jakarta, baru-baru ini ikut larut dalam kesedihan. Pasalnya, dalam sesi ‘tribute to Carlo Saba’, vokalis Kahitna berkurang satu. Hanya yang tarik suara di panggung adalah Hedy Yunus dan Mario Ginanjar.

“Malam ini tampak beda. Tanpa kehadiran vokalis Carlo Saba yang wafat karena penyakit jantung tanggal 19 April 2023 yang lalu,” ujar pimpinan Kahitna, Yovie Widianto yang bertugas pada instrumen keyboard synthesizer.

Selama 37 tahun bersama, mendadak sontak Carlo Saba direnggut maut. Padahal, dengan kehadiran Carlo saat itu, personel Kahitna tampak solid dan utuh. Latihan pun sudah oke.

alm Carlo Saba (kiri), Mario Ginanjar dan Hedi Yunus (foto : NLE)

“Kita semua kehilangan. Aku sulit mengisi kekosongan Kahitna yang ditinggalkan mendiang Carlo Saba,” ungkap Yovie dengan suara bergetar. “Hati bagai diiris-iris. Tapi kami semua berusaha tegar. Kami mencoba tertawa, tapi nafas terasa sesak,” lanjut Yovie.

Hujan air mata untuk Carlo Saba. Yovie dan personel Kahitna nyaris tak mampu melanjutkan harmonisasi untuk lagu ‘Setahun Kemarin” ciptaan Yovie yang disenandungkan Hedi Yunus dan Mario Ginanjar.

Melihat suasana itu, Hedi Yunus berusaha bercanda. “Mas Yovie nangis juga…kasih handuk, bukan tisu…,” celetuk Hedi Yunus memecah keterharuan. Yovie tersenyum.

Jelas, dedikasi Carlo Saba di bidang musik luar biasa. Hedi Yunus juga merasakan hal tersebut.
“Setelah pemakaman di Tanah Kusir, malam harinya Carlo Saba datang dalam mimpi. Saya terkejut,” cerita Hedi Yunus yang menambahkan, Carlo Saba saat itu datang berkemeja hijau. Dia selalu tampil perfeksionis baik dalam latihan maupun ‘hari H’ pergelaran.

“Terus saya tanya, kenapa lu datang ? Dia menjawab, kan mas Hedi Yunus janjian sama saya bersua di Kemang,” kenang Hedi Yunus lagi. Kemudian, Carlo Saba merangkul Hedi Yunus
Semuanya telah berlalu kini. Itu hanya terjadi dalam mimpi karena ada keterikatan dan kekompakan antar sesama personel Kahitna.

Konser Billion Songs Yovie Widianto dimeriahkan segerobak biduan, biduanita dan kelompok. Ada Yovie & The Nuno, 5 Romeo, Arsy Widianto, Tiara Andini,Raisa, Rosa, Tulus, Yura Yunita, Lyodra, Ziva Magnolya, Keleb J dan beberapa pemenang Indonesia Idol lainnya.
Ternyata, industri hiburan masih berdenyut di Republik ini. (pik)

Peringatan 100 Hari Wafatnya Pendiri Teater Koma

kalau maut menjemputku
aku tidak penasaran lagi.
Hidupku kini lengkap
(Norbertus Riantiarno dalam ‘Tanda Cinta’).

Para budayawan, seniman, pemusik dan penggemar setia Teater Koma memenuhi kursi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) dalam acara memperingati 100 hari wafatnya Norbertus (Nano) Riantiarno, baru-baru ini.

Acara dibuka dengan tarian topeng Cirebon, daerah kelahiran Nano yang wafat dalam usia 73 tahun tanggal 30 Januari 2023 yang lalu.

Trio Aning Katamsi, Gabriel Harvianto dan Nani Cirebon menyuguhkan sebuah komposisi musik nan menyayat.

Dilanjutkan pemutaran monolog oleh Nano (sebelum wafat) berjudul ‘Pulang’ secara mantap dan meyakinkan. Lalu empat tokoh membacakan monolog disertai pengalaman pribadi bersama Nano. Taufiq Ismail, Putu Wijaya yang berkursi roda dan duet Slamet Rahardjo dan Butet Kertaredjasa.

Ke empat penyair ini unjuk diri dengan gesture dan improvisasi memukau.
“Ada bangku dan dipan besar di belakang rumah papa di Bintaro. Papa kerap duduk di situ sambil baca koran,” kata Rangga Bhuana (anak pertama Nano hasil pernikahan dengan Ratna Madjid Riantiarno) mengenang papanya.

“Saat saya kangen, saya duduk di situ. Tak biasa kursi kosong,” ucap Rangga yang menambahkan, belum merasakan kehilangan karena sejauh ini Teater Koma belum berpentas.
Rangga memaparkan biasanya ada evaluasi dan briefing setelah latihan. “Papa selain sutradara, juga motivator” beber Rangga.

Anda nantinya akan menggantikan posisi Nano sebagai sutradara ?

“Mungkin. Yang jelas, kami sedang menyiapkan naskah sandiwara bertajuk ‘Matahari dari Papua’ karya papa yang menang dalam sayembara naskah teater oleh Dewan Kesenian Jakarta. Semoga November kami bisa berpentas lagi,” timpal Rangga.
Puncak acara peringatan 1000 hari wafat Nano adalah peluncuran buku ‘Nano & Ratna Berdua Melintas Masa’ yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu dengan editor Budi Ros, JJ Rizal dan Logo Situmorang.

Buku setebal 406 halaman ini ditulis oleh 60an penulis dan sahabat-sahabat dekat Nano. Antara lain Adyaksa Dault, Afizal Malna, Agus Noor, Peter Saerang, Sudjiwo Tedjo, Laksamana Sukardi, Tommy F Awuy, Tarsan Srimulat, Widyawati dan masih banyak lagi.

Malam itu juga, Ratna Riantiarno menyerahkan buku ini kepada 3 anak Nano yaitu Rangga Bhuana, Ra Sapta Candrika dan Gagah Tridharma Prasetya. Juga kepada cucu Nano dan Ratna Riantiarno yaitu Kiefa.

Nano juga seorang jurnalis. Dia Redaktur di majalah Zaman (1979) dan majalah gaya hidup Matra (1986). Selama hidupnya, Nano yang pernah duduk selaku Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini pernah berkeliling Jepang, Skandinavia, Inggris, Perancis, Belanda, Italia, Afrika Utara, Turki, Yunani, Spanyol, Jerman dan Cina. Ia juga mempelajari teater rakyat dan teater tradisi yang ditulisnya dalam sebuah buku.

Sejak Maret 1977 bersama 12 tokoh, Nano mendirikan Teater Koma dan drama pertama yang dipentaskan berjudul ‘Rumah Kertas’. Sampai sekarang, Teater Koma sudah mementaskan 111 judul sandiwara, baik di panggung maupun di TVRI.

Selain memanggungkan karya-karya dunia dari Bertolt Brecht, William Shakesperare dan Aristophanes, Teater Koma juga mementaskan naskah karya Nano.
Beberapa karya Nano pernah dilarang mentas di era Orde Baru antara lain ‘Opera Kecoa’, ‘Suksesi’ dan ‘San Pek Eng Thay’.

Kini, usia Teater Koma sudah 46 tahun. Belum titik, baru koma. Dan harapan kita, semoga Teater Koma terus eksis. Biarlah seribu bunga berkembang. Nano boleh berpulang, tapi Nano Nano lain akan bertunas. (pik)

Mira Lesmana dan Riri Riza Meluncurkan Film Pendek ‘Aku, Chairil !’

JAYAKARTA NEWS— Siapa tak kenal Chairil Anwar ? Dalam pelajaran Kesusastraan Indonesia, kritikus sastra HB Jassin menyebut Chairil Anwar adalah pelopor Angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia (bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Chairil Anwar yang dijuluki ‘si binatang jalang’ (diambil dari karya puisinya berjudul ‘Aku’) ini wafat dalam usia muda (27 tahun) akibat penyakit paru-paru yang dideritanya.
Hidup bohemian dan sepak terjang Chairil dalam dunia puisi ini diinisiasi oleh Mira Lesmana dan Riri Riza dalam film pendek dan serial antologi seni video bertajuk ‘Aku, Chairil !’ pada Hari Puisi Nasional 2023 baru-baru ini.

“Sebagai produser, kami berdua mengkurasi sejumlah puisi Chairil Anwar yang kemudian dipilih dan direspons ulang bersama tujuh perupa seni kontemporer, tujuh aktor pembaca puisi dan seorang musisi muda,” ujar Mira Lesmana di Gedung Sarinah Jakarta.

Sependapat pernyataan Riri Riza bahwa memperkenalkan kembali karya-karya besar Chairil Anwar kepada generasi muda, berarti menghargai kebudayaan dan kesenian Indonesia.
“Kompilasi karya ini adalah sebuah interpretasi terhadap puisi-puisi Chairil Anwar. Semua video dibalut dengan musik hasil karya musisi muda ternama Baskara Putra yang juga dikenal dengan nama Hindia” ungkap Riri Riza.

Ketujuh perupa seni kontemporer adalah Ruth Marbun, Rachmat Hidayat Mustamin, Nani Puspasari, Angki Purpandono, Ria Papermoon, Iwan Effendi dan Tromarama. Sebagai pembaca puisi ada tujuh aktor ternama yaitu Lukman Sardi, Ine Febrianti, Jerome Kurnia, Reza Rahadian, Christine Hakim, Nicholas Saputra dan Happy Salma.

Direktur Perfilman, Musik dan Media (PMM) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Ahmad Mahendra mengemukakan, Kemendikbud Ristek akan terus mendukung program yang dapat memperkuat ekosistem kebudayaan, memperbanyak praktik dan kebermanfaatan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda.

Cekak aos, Chairil Anwar adalah seorang penyair Indonesia modern dari Angkatan 45 yang karya-karyanya dikenal penuh keberanian, pemberontakan dan membawa perubahan dalam Bahasa Indonesia.

“Bahkan, Chairil Anwar berani melawan pendirian Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) yang didirikan Jepang tahun 1943 sebagai gerakan propaganda Asia Timur Raya terutama di bidang seni rupa, film, musik dan sastra,” timpal Mira Lesmana lagi.
Film pendek produksi Miles Films ini mulai tayang di Indonesian TV yang dikelola Balai Media Kebudayaan dan didukung oleh Kemendikbud Ristek RI. (pik)

Sewu Dino, Menebar Teror di hari Lebaran

JAYAKARTA NEWS— Libur dan cuti bersama Lebaran 2023 sekejap lagi tiba. Empat film nasional memeriahkan Lebaran bakal mengisi gedung bioskop di seluruh Indonesia. Dua bergenre horor (‘Khanzab’ dan ‘Sewu Dino’), 1 komedi (‘Jin dan Jun’) dan 1 drama biopic (‘Buya Hamka’).

‘Sewu Dino’ (Seribu Hari) produksi MD Pictures akan menebar teror di hari yang disucikan umat Islam di seluruh dunia. “Karena Lebarannya sama, film Sewu Dino juga tayang di negara serumpun, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Menyusul di Vietnam dan Kamboja,” ujar Manoj Punjabi selaku MD Pictures.

Jelang tayang 19 April 2023 (semula 20 April 2023, laku diajukan sehari), Sewu Dino mengalami pengeditan di bagian musik dan sound.

“Ini dilakukan agar menambah unsur ketegangan dan dapat tayang di Lebaran. Alhamdullilah, beres semua. Caranya, gayanya, musiknya, soundnya semua disunting,” lontar Manoj Punjabi.

“Tunggu, ini akan terasa pada feel filmnya. Ada potensi pada Sewu Dino yang punya kekuatan, gitu loh,” imbuh Manoj stel yakin Sewu Dino bakal ‘meledak’ di libur Lebaran.

Produser Manoj mengapit dua aktor Rio dan Marthino (foto MD)

Sebelumnya, Desember 2022, cuplikan Sewu Dino tampil di post credit ‘KKN di desa Penari – Luwih Dowo Luwih Medeni’ extended yang menggaet super box office dengan angka 10 juta penonton dan fenomena ini pertama terjadi dalam industri perfilman di Indonesia.

Disutradarai Kimo Stamboel, Sewu Dino diangkat ke film berdasar utas dari akun Twitter karya Simple Man.

Sewu Dino mengisahkan kutukan 1000 hari dalam kisah santet yang dikirim untuk menghabiskan nyawa manusia. Sri bekerja pada keluarga mbak Karsa Atmojo untuk merawat cucunya yang terkena santet. Sri dibayar 5 juta rupiah karena kebetulan syaratnya (lahir di Jumat kliwon) pas. Tetapi Sri terlibat dalam ritual mistis yang mengancam nyawa selama merawat cucu Mbak Karsa Atmojo.

Sosok Sri diperankan oleh aktris Mikha Tambayong. “Film ini paling berat dibanding film lain yang saya lakoni. Mulai dari fisik sampai karakternya sangat menantang,” aku Mikha Tambayong.

Diakui isteri aktor Deva Mahenra ini, peran sebagai Sri sepuluh kali lebih advance dan ada satu paket lumayan susah. “Saya harus belajar bahasa Jawa dialek Jawa Timuran. Latihannya berminggu-minggu dan ucapan Jawa nya harus medok,” ungkap Mikha.

Tatkala syuting di hutan, Mikha mengalami alergi. Kakinya merah dan bengkak, gatal-gatal.
“Saya nyeker. Kali tanah dan tanaman yang saya injak enggak cocok dengan kaki saya. Panasnya luar biasa. Saya lalu minta obat sama tim produksi, baru pulih,” kenang Mikha.

Selain Mikha Tambayong, Sewu Dino yang menghabiskan bujet sekitar 18 miliar rupiah ini juga diperkuat sekeranjang artis terkenal seperti Karina Suwandi, Rio Dewanto, Marthino Lio, Maryam Supraba, Pritt Timothy, Giselma Firmansyah, Agla Artalidia dan lain-lain. (pik)

Helfi Kardit Buat Film ‘Rambut Kafan’

JAYAKARTA NEWS— Rambut jarang dipakai buat judul film nasional. Padahal dalam ilmu pelet dan praktik ilmu hitam, rambut dan foto kerap dibungkus kain kafan ditanam dalam tanah kuburan.

Ramai di medsos, 2 anak kecil yang membongkar rambut dan foto tersebut berakibat fatal, shock dan sakit. “Berdasar kejadian nyata, saya menulis skenario dan menyutradarai film bertajuk ‘Rambut Kafan’. Di film ini, santet digunakan sebagai medium kafan yang mencelakakan dirinya dan orang lain,” kata Helfi Kardit, lulusan script writing dari Inggris.

Orang yang menggunakan rambut dan kafan merupakan jalan pintas menjadi kaya.
Dikisahkan, Anwar memelihara pesugihan ilmu pelet dengan mengambil rambut dan kafan. Isterinya mengalami keguguran. Puterinya, mencari tahu misteri ini.

Film horor produksi Voxineema ini mengawali proses syuting di Hotel Peninsula, Slipi, Jakarta, selama 3 hari. Break Lebaran dan akan dilanjutkan lagi 3 Mei mendatang dengan mengambil lokasi di Bogor, Puncak, Megamendung dan Jakarta.

“Sebuah rumah mewah milik mantan Menteri era Soeharto plus sebuah rumah tua akan ditunjuk menjadi tempat syuting Rambut Kafan,” imbuh Helfi Kardit yang karya-karya filmnya seperti ‘Arwah Goyang Krawang’, ‘Hantu Bangku Kosong’ dan ‘Menjelang Maghrib’ sempat laris dan mencapai box office.

Shankar RS selaku produser mengatakan team work antara sutradara dan produser menjadi sangat penting dalam memproduksi sebuah film.

“Pak Helfi Kardit mengerti dan paham niat saya. Makanya sudah lama saya bekerjasama dengan dia,” beber Shankar RS.

Film ini didukung sederet bintang top, yaitu Bulan Sutena (Tiktokers dengan 20 juta followers), Nita Gunawan, Catherine Wilson, Virnie Ismail, Yama Carlos, Nena Ghoib, Bule Makvera, Aiman Ricky, Maghara Adipura, Sony Tulung, Wina Aditri, Cut Ashifa, Ahmad Pule, Astrid Angel dan masih banyak lagi. (pik)

Jin dan Jun, Tontonan Keluarga Liburan Lebaran

JAYAKARTA NEWS— Ingat Jin dan Jun ? Sinema elektronik (sinetron) produksi MVP Pictures 27 tahun silam (1996-2002) sebanyak 272 episode kini diremake ulang. Kala itu, pemain-pemainnya sangat terkenal, seperti Sahrul Gunawan, Didi Riyadi, Zacky Zimah, Robert Syarif, M Amin dll.

Kali ini, dilayarlebarkan oleh sutradara Anggy Umbara dan diproduseri Amrij Punjabi.
“Tahun ini, kita dihadapkan kembali memori masa remaja dan kejayaan sinetron terlaris sepanjang masa ini,” ucap Anggy Umbara.

Dikisahkan, Junaidy (Jun), siswa SMA terpandai dan populer ini bertemu Jin di rumah tua. Jin keluar dari sebuah guci yang enggak sengaja dikeluarkan oleh Jun.

Setelah pertemuan itu, Jun dan Jin selalu pergi berdua. Jun di sekolah berhadapan dalam rundungan teman-temannya. Namun, Jin yang bertanduk dan baik hati itu harus mengabulkan permintaan Jun. Terakhir, ada yang aneh, apakah kehidupan Jun makin baik atau makin terpuruk ?

“Demi seni peran yang baik, saya harus bersedia dirias tebal selama 5 jam dan mengenakan pakaian berpaku yang tebal yang beratnya 8 kilogram,” lontar Dwi Sasono yang berperan sebagai Jin milenial.

Anggi Umbara selaku sutradara mengaku puas selama syuting. “Saya enggak mau jin yang tampil di film itu Jin Jawa, meski dengan Jun, kerap bicara bahasa Sunda,” urai Anggy Umbara terpingkal.

Setali tiga uang dengan Rey Bong alias Muhammad Fahreyza Anugrah Efrianda yang didapuk menjadi Jun. “Ini kehormatan tinggi buat saya, diadegan jelang ending, saya berbicara dengan oom Sahrul Gunawan, pemeran Jun di sinetron,” beber Rey Bong.

Film bergenre komedi buat mengisi liburan Lebaran ini juga diperkuat oleh Davina Karamoy, Clay Gribble, Alif Rivelino, Sarah Feliesa dll.

Produksi MVP Pictures ini bekerjasama dengan Bank Mandiri yang hadir dengan program ‘sukha nonton’. (pik)

Momen Mudik, KAI Luncurkan Film Berjudul “Pulang”

JAYAKARTA NEWS – PT Kereta Api Indonesia (Persero) meluncurkan film keduanya yang berjudul “Pulang”. Film pendek garapan rumah produksi PT Visualkan Kreasi Indonesia tersebut mendeskripsikan keterikatan antara masyarakat terhadap moda transportasi kereta api di Indonesia yang begitu mendalam. 

“Film ini kami produksi dalam rangka memasuki momen mudik Lebaran yang mana menceritakan bahwa kereta api tidak hanya sebagai alat transportasi massal berbasis rel saja. Tetapi lebih dari itu, kereta api mempunyai sisi ikatan emosional bagi masyarakat Indonesia,” kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo saat acara launching film pendek ini di Bioskop Metropole Jakarta, Jumat (14/4).

Film berdurasi 24 menit tersebut berkisah tentang Bapak (65), bekas narapidana yang kini telah puluhan tahun bekerja di sebuah warung makan sekitaran Stasiun Kereta Api Semarang Tawang. Bapak tiap tahun sebelum lebaran selalu membeli tiket kereta untuk menemui keluarganya, namun ketakutannya pada masa lalu yang kelam menggugurkan niatnya tersebut. Hingga suatu saat keputusannya berubah karena telah bertemu dengan buah hatinya.

Film pendek berjudul “Pulang” ini sarat akan makna tentang sebuah keluarga, manifestasi dari arti Pulang yang menjadi bagian cerita besar Mudik Lebaran. Dengan latar cerita Ramadan dan Idulfitri, film ini ingin memberi makna luas tentang membuka hati, saling memaafkan, dan saling menerima untuk berbagi kebahagiaan.

KAI menghadirkan bintang film nasional pada film ini seperti Ray Sahetapi, Yuriska Patricia, dan lainnya serta disutradarai oleh Galih Firdaus. Adapun proses produksi film ini dikerjakan dalam waktu 1 bulan dengan latar tempat Stasiun Tawang, interior kereta api, dan Wisma Transit Bandung.

Film ini ditayangkan secara ekslusif pada Youtube @keretaapikita dan layar kereta api mulai 15 April 2023 untuk menemani perjalanan pelanggan pada momen mudik Lebaran 2023. Pelanggan dapat mendengarkan TV di kereta api melalui audio jack di masing-masing kursi kereta kelas eksekutif. 

“Kolaborasi KAI dan PT Visualkan Kreasi Indonesia dalam memproduksi film pendek ini diharapkan dapat meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap kereta api. Sehingga lebih banyak masyarakat yang menggunakan kereta api sebagai moda transportasi favoritnya,” tutup Didiek.***/mel

Khanzab, Pembantaian Dukun Santet di Banyuwangi Tahun 1998

JAYAKARTA NEWS— Khanzab dalam agama Islam adalah jin yang kerap mengganggu manusia tatkala beribadah. Kalau lupa bacaan salat atau lupa jumlah rakaat, jin Khanzab bakal datang menghampiri umat muslim. Mereka akan meniru kita ketika sedang khusyuk membaca ayat-ayat suci.

Dan sutradara Anggy Umbara diakui sangat lihai memvisualisasikan adegan seram dan mencekam dalam film terbarunya bertajuk ‘Khanzab’ yang khusus tayang di libur Lebaran.
Adegan demi adegan tersaji utuh hampir tanpa keseraman dan ketegangan yang mengguncang batin disertai teriakan dan jeritan nan memilukan campur tawa.

Rahayu adalah remaja rebel, enggak stabil dan menyebalkan. Dia trauma melihat ayahnya dipenggal kepalanya dihadapannya oleh para ‘ninja’ karena dituduh sebagai dukun santet.
Rahayu dan adiknya kembali ke desanya, tapi warga menjauhinya. Karena Rahayu anak dukun santet yang selalu membawa petaka.

Namun, Rahayu dan mbak Nuning, ibu tirinya tak hirau, cuek saja. Rahayu tetap dekat kepada Allah. Namun, malapetaka mulai. Ketika salat, Rahayu diganggu jin Khanzab. Bisakah Rahayu dan mbak Nuning lepas dari jeratan dan gangguan Khanzab ?

“Saya mengangkat cerita horor ini berdasar peristiwa pembantaian dukun santet di Banyuwangi tahun 1998 yang ramai kala itu,” beber Anggy Umbara.

Sedangkan produser Dee Company, Dheeraj Khalwani mengaku merinding menonton film besutan Anggy. “Adegan seram dan mencekam kena. Penonton digiring untuk terkejut dan terpukau melihat setan-setan berseliweran mengganggu manusia yang sedang salat magrib di musholla,” kata Dheeraj.

Tika Bravani yang kini berhijrah (foto : Dee Company )

Syuting dilakukan di Bodetabek, terbanyak di musholla dan ruko terlantar yang enggak terpakai lagi.

Pelakon Tika Bravani yang lama enggak main film kali ini diajak bermain dalam film horor.
“Ini baru sekali saya bermain dihoror. Saya enggak diganggu siapa-siapa. Realistis saja. Yang mengesankan dan menakutkan, ketika saya beradegan sumpah pocong. Jujur, saya baru mengalami sumpah pocong,” aku Tika Bravani.

Selain itu, Khanzab juga didukung oleh sederet pemain yang sangat kuat karakternya, di antaranya Yasamin Jasem, Arswendy Bening Swara Munggaran Meldart dll.

“Ceritanya relate banget. Sumpah ! Aku sampai enggak mau makan usai syuting. Meski ini cuma computerized. Di ending, ada jumpscare dan gimmick yang mengejutkan. Nonton saja deh buat hiburan di hari Lebaran,” pesan Arswendy Bening Swara. (pik)

Film Buya Hamka Habiskan Rp3 Milyar untuk Make-up Prostetik

JAYAKARTA NEWS— Guna memerankan wajah tua Buya Hamka di film ‘Buya Hamka’, aktor Vino Giovani Bastian harus rela di makeup prostetik selama 5 jam.

“Risikonya, saya sulit makan. Berkeringat sedikit dan di ruangan yang panas, prostetik cepat memudar. Saya harus mau berada di ruangan dingin dan berAC,” lontar Vino yang memerankan sebagai Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).

Prostetik adalah menempelkan bahan yang fleksibel yang diaplikasikan ke wajah atau organ tubuh seseorang. Dan ini biayanya sangat mahal, mencapai Rp3 milyar. “Jadi, selama syuting saya harus berhati-hati. Jika saya membuka mulut sedikit selama proses prostetik, prostetik bisa sobek atau meleleh,” imbuh Vino.

Sutradara Fajar Bustomi mengangkat kisah drama biopic (biografi picture) Buya Hamka berdasar skenario yang ditulis Alim Sudio dan Cassandra Massardi. Produksi Falcon Pictures dan Star Vision ini menelan bujet yang sangat besar, bahkan syuting dilakukan di Sumatera Barat dan Mesir.

“Proses syuting lama, 65 hari. Selain artistik dan kostum, juga prostetik untuk memperoleh wajah tua Buya Hamka,” beber Fajar Bustomi.

Direncanakan, film Buya Hamka berdurasi 6 jam lebih dan terdiri 3 jilid. Jilid pertama akan tayang di hari Lebaran 2023 mulai 20 April 2023.

Tokoh-tokoh terkenal, Menteri, Gubernur, sampai budayawan dan sastrawan menonton gala premier film ini. Tercatat diantaranya Wapres Ma’ruf Amin, Jusuf Kalla dan nyonya, Gubernur Sumatera Barat dan banyak lagi.

Vino G Bastian dimake-up prostetik menjadi wajah tua Buya Hamka/ foto Falcon

Buya Hamka adalah tokoh ulama, pujangga (sastrawan), penulis dan wartawan serta pahlawan nasional. Selain menulis buku-buku agama, filsafat, tasawuf, politik dan sejarah, dia juga menulis buku roman. Dua karyanya yang menjadi magnum corpus adalah ‘Dibawah Lindungan Kabah’ dan ”Tenggelamnya Kapal Van der Wijk’ yang juga sudah difilmkan.

“Buya Hamka adalah adalah teladan bagi generasi penerus, pejuang bangsa dan inspiratif. Sejak muda ia berjuang demi agama, bangsa dan negara,” kata Wapres Ma’ruf Amin.
Ia juga seorang pendakwah, ulama yang merakyat, pendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan wartawan Pedoman Masyarakat di Makasar.

Ia menggelorakan semangat Indonesia Merdeka di Padang Panjang, Sumatera Barat. Buya Hamka juga sahabat dekat Bung Karno dan Abdul Karim Oey Tjeng Hien yang sama-sama aktif di organisasi Muhammadiyah.

Memperkuat film kolosal ini, segerobak pemain senior dan junior dipertaruhkan dan jujur, seni peran mereka bukan sekedar kaleng-kaleng, tapi sangat berkualitas : Laudya Cynthia Bella (sebagai Siti Raham, isteri Hamka, Reza Rahadian, Cok Simbara, Desy Ratnasari, Richard Oh, Ferry Salim, Ade Firman Hakim, Mawar de Jongh, Marthino Lio, Ajil Ditto, Donny Damara, Donny Kesuma, Ayu Laksmi, Rey Bong, Anjasmara, Teuku Rifnu Wikana, Ferdi Solaiman, Roy Sungkono, Yuriko Angeline, Mathias Muchus, Wafda Saifan dan lain-lain. (pik)