YPJI dan Permata Sanny Peduli Bagikan Sembako kepada 100 Wartawan di Bulan Ramadan

JAYAKARTA NEWS – Dalam semangat berbagi di bulan suci Ramadan, Yayasan Peduli Jurnalis Indonesia (YPJI) bersama Permata Sanny Peduli menggelar kegiatan sosial dengan membagikan sembako kepada 100 wartawan. Acara berlangsung dari pukul 14.00 hingga 17.00 WIB, dan ditutup dengan buka puasa bersama di Rawon Bidadari, Jalan Raya Cirendeu, Lebak Bulus, Jakarta, pada Kamis (27/3/2025).

Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus YPJI, pembina YPJI Seno M Harjo, serta sejumlah tokoh seperti Gus Irfan dan Shandy Tumiwa. Gus Roffi turut memberikan dukungan dengan menyajikan hidangan khas Rawon Bidadari secara gratis bagi para wartawan yang berbuka puasa.

Pembina YPJI Seno M Harjo (baju hitam) dan Gus Roffi (Foto: Ist)

Ketua YPJI, Andi Arif, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap wartawan yang memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. “Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan berkah bagi semua,” ujarnya.

Acara berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan diharapkan dapat menjadi agenda rutin dalam menyemarakkan bulan Ramadan.

Sebagai informasi, YPJI adalah yayasan yang berkomitmen mendukung insan pers melalui berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan. Kegiatan seperti ini menjadi wujud nyata perhatian YPJI terhadap profesi wartawan yang berkontribusi besar bagi masyarakat. (Agus Oyenk)

Yusuf Mahardika Terbantu Koordinator Keintiman

JAYAKARTA NEWS— Koordinator Keintiman alias Intimacy Coordinator adalah profesional yang bertugas mengatur adegan intim dalam film, serial televisi dan pertunjukan di panggung.

Sebagai Irfan di film berjudul ‘Norma, antara Mertua dan Menantu’, aktor Yusuf Mahardika meminta izin kepada sutradara Guntur Soeharjanto agar dia mengajak Koordinator Keintiman (intimacy coordinator) spesial adegan  intim bersama aktris Wulan Guritno.

“Pasalnya, mbak Wulan itu lebih senior dan dia aktris yang aku kagumi. Pas syuting, naskahnya sudah final dan aku belajar alur dan penokohan secara detil ihwal perselingkuhan antara menantu dan mertua,” lontar Yusuf Mahardika yang dikenal melalui sinetron ‘Tendangan si Madun’.

Di film ini, Yusuf belajar masalah manusia yang cukup ruwet.

“Ini kisah nyata  yang terjadi di Serang beberapa tahun silam. Semua tokohnya masih hidup,” terang Yusuf.

Yusuf Mahardika (foto dee)

“Ceritanya sangat kompleks dan ribet. Bagaimana fondasinya, aku harus bisa memindahkannya ke film,” imbuh Yusuf.

Senada Wulan Guritno yang menegaskan Norma bukan film biografi.

“Aku tak perlu follow. Cair dan mengalir saja. Sebagai Rina yang ibunya Norma Risma (isteri Irfan), aku menghidupkan sosok natural.

Ada adegan penggerudugan warga kampung terhadap Irfan dan Rina yang ketahuan berselingkuh yang dilakukan eksekusi ‘one take ok’ dan minim retake.

“Adegan ini melibatkan 100 cameo termasuk Ketua RT. Ini berjalan empat jam latihan dari siang sampai jelang magrib. Para peneran reading dulu. Kita latihan pakai gabus dan kerikil,” tutur Wulan Guritno.

Sutradara Guntur Soeharjanto mengaku film ini bukan bertema perselingkuhan, tapi tentang drama keluarga.

“Perselingkuhan itu lapisan terluar. Di pengadilan, penonton akan dibawa bagaimana cara memaafkan dan ikhlas,” tegas Guntur Soeharjanto yang memuji akting Wulan Guritno, Yusuf Mahardika dan Tissa Biani (berperan sebagai Norma).

Produser Dee Company, Dheeray Kalwani berharap film yang diakurasi untuk 13 tahun ke atas dan akan tayang Lebaran 2025 ini bisa menuai box office dan ditonton seluruh keluarga.

“Pasti kaum wanita dan emak-emak bakal memaki perangai Wulan Guritno dan Yusuf Mahardika. Hal yang wajar dan ini berhasil,” timpal Dheeray Kalwani yang belum tahu apakah film Norma akan dilanjutkan sekuelnya.

“No comment,” tutupnya. (pik)

Qodrat 2 tayang Lebaran 2025: Perpaduan Horor, Laga dan Drama Religi

JAYAKARTA NEWS— Petualangan ustad muda bernama Qodrat kembali akan unjuk diri di film ‘Qodrat 2’ dan menjadi film Lebaran 2025.

Disutradarai Charles Gozali, film produksi Magma Entertainment dan Rapi Films ini diramaikan sederet pemeran berbakat yaitu Vino Giovani Bastian, Acha Septriasa, Donny Alamsyah, Della Dartyan, Hana Saraswati, Septian Dwi Cahyo dan banyak lagi yang jadi cameo.

“Ini film yang benar-benar menegangkan tapi mencerahkan. Perpaduan antara horor, laga dan drama religi,” lontar Vino Giovani Bastian yang berperan sebagai Qodrat.

Bayangkan. Syuting di Bukit Pengilon Gunung Kidul, pasir Gumuk Bantul dan Kaliurang Sleman yang gersang dan menyeramkan.

“Saya masih berperang melawan demit Asuala yang kali ini melebarkan kekuasaannya di pabrik pemintalan,” tutur Vino yang di sekuel ini unjuk kekuatan bela diri menumpas roh jahat yang merasuki Sukardi, pemuda yang ditolongnya.

Vino Giovani Bastian sebagai Ustad Qodrat

Untuk beberapa adegan ektrim, dilakukan stunt man dari Jakarta.

Qodrat juga harus merukiat karyawan yang kerasukan masal dengan doa-doa yang diambil dari ayat suci Al Quran.

‘La haula walla quwwata illa billah’ (tiada daya dan kekuatan selain Allah SWT) berulang kali dilafaskan Qodrat guna mengusir roh demit dari fisik karyawan pemintalan.

Acha Septriasa yang berperan sebagai Azizah (isteri Qodrat) mengaku saat syuting di hari ke 10, belum tahu harus berbuat apa dan belum menemukan formula terbaik.

“Berkat puisi karya Rendra, tentang hakekat kehidupan,  saya bisa mengatasi kebuntuan saat syuting,” aku Acha yang kini menetap di Australia.

Diakuinya, ini adegan tersulit dan tak bisa diulang lagi (retake).

“Karena Azizah melawan diri sendiri. Ini problem utamanya yang menyangkut jiwa yang ditimbulkan oleh Asuala,” imbuh Acha.

Senada Donny Alamsyah yang jadi Sukardi yang berupaya membalas kematian isterinya yang bekerja di pabrik pemintalan.

“Pas adegan fighting didalam truk yang sempit saya dimake up memakai prostetik dan soft lens bertarung melawan Qodrat.

Uniknya lagi, saya diharuskan berdialog bahasa Arab,” kenang Donny Alamsyah.

Last but not least, Qodrat 2 kali ini menghadirkan pengalaman sinematik nan memukau dan lebih keren.

Plus tata suara yang realistis yang menimbulkan efek suara yang menggelegar menambah unsur ketegangan dan menggiring penonton ke atmosfir horor nan mencekam.

Dan juga tata musik oleh Pay Burman (eks Slank) dan Irang Arkad memintal poin kekerenan film Lebaran 2025 ini. (pik)

AJV Gelar Buka Puasa Bersama, Perkuat Solidaritas dan Profesionalisme Jurnalis

JAYAKARTA NEWS – Aliansi Jurnalis Video (AJV) mengadakan acara berbuka puasa bersama di Resto Dahara Salira, Pasar Minggu, Jakarta, Pada Rabu malam, 19 Maret 2025. Acara tahunan ini menjadi momen penting bagi para jurnalis untuk berkumpul, mempererat hubungan, dan memperluas jaringan profesional di tengah kesibukan liputan yang padat.

Ketua Umum AJV, Chandra menyampaikan rasa gembiranya atas antusiasme peserta. “Kehadiran rekan-rekan jurnalis dan pengurus pusat AJV tahun ini sangat menggembirakan. Semoga bulan penuh berkah ini mempererat tali silaturahmi dan meningkatkan integritas serta profesionalisme kita sebagai jurnalis,” ungkap Chandra.

Acara ini juga dihadiri oleh pembina AJV, Haris Jauhari, serta Nugraha dan Musisi Seno M Hardjo yang turut memberikan dukungan dan apresiasi. Tampak juga hadir  Ketua Devisi hiburan Lolo. Kehadiran jurnalis dari berbagai media cetak, online, dan penyiaran, menambah keberagaman perspektif dan memperkaya diskusi.

Selain berbuka puasa, acara ini menyediakan ruang bagi jurnalis untuk berbincang dan bertukar pengalaman mengenai tantangan profesi. Topik diskusi meliputi digitalisasi media dan peran jurnalisme dalam menyampaikan informasi akurat dan objektif.

Lebih dari sekadar pertemuan sosial, acara ini berfungsi sebagai platform untuk memperluas jaringan profesional. Dengan perkembangan teknologi dan media digital, kolaborasi antar jurnalis dari berbagai bidang menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas tugas liputan.

Chandra menambahkan, “Melalui acara seperti ini, kita saling mendukung untuk meningkatkan kualitas kerja dan profesionalisme. Semoga AJV terus menjadi wadah yang bermanfaat bagi jurnalis, sehingga kita dapat mengedepankan kebenaran dan independensi dalam menyampaikan informasi kepada publik.”

Secara keseluruhan, buka puasa bersama AJV ini tidak hanya mempererat solidaritas antar jurnalis, tetapi juga meningkatkan kualitas kerja dan profesionalisme di dunia jurnalisme. Di tengah tantangan media yang semakin besar, kolaborasi dan dukungan antar jurnalis menjadi kunci untuk menciptakan karya jurnalistik yang merdeka, baik, dan berkualitas.( Agus Oyenk )

Visi Ajukan Uji Materiil ke Mahkamah Konstitusi

JAYAKARTA NEWS — Hingar bingar 29 artis musik dan pencipta lagu yang tergabung dalam Vibrasi Suara Indonesia (Visi) mengajukan uji materiil terhadap  5 Pasal di UU Hak Cipta (UUHC) ke Mahkamah Konstitusi (MK) makin ramai.

Ini gegara kasus Agnes Mo terseret merekam lagu ciptaan Ari Bias tanpa izin yang didenda Rp 1,5 M oleh Pengadilan Niaga Jakpus.

Pasal-pasal yang diajukan adalah pasal 9 ayat 3, pasal 23 ayat 5, pasal 81, passl 87 ayat 1 dan pasal 113 ayat 2 UUHC.

“Kelima pasal tersebut secara berurut berisi tentang izin dari pencipta lagu untuk kegiatan pertunjukan (performing) mengenai siapa pihak yang harus membayar royalti,” ujar Panji Prasetyo selaku Koordinator kuasa hukum Visi dalam konperensi pers di Titik Temu  Cafe, SCBD, baru-baru ini.

“Kita penyanyi dan pencipta lagu dirugikan dan dilanda kebingungan. Kita semua khawatir tentang simpang siur beberapa pasal di UUHC. Ini dapat mengakibatkan konflik yang menimbulkan pertanyaan. Tak ada perlindungan hukum,” keluh Ketua Visi, Armand Maulana, penyanyi Gigi.

Jelas, UU dan pelaksanaan yang ada kini belum melindungi hak pekerja musik yang didalamnya adalah penyanyi, pencipta musik, pelaku pertunjukan dan berbagai pihak yang terkait.

Musisi dan pencipta musik Visi (foto thomas/herry)

Segendang sepenarian Bunga Citra Lestari alias BCL.

“Kami berharap setelah uji materiil dilakukan akan ada kejelasan sehingga tak ada lagi keresahan dan simpang siur penafsiran,” papar BCL.

Sependapat dengan Ariel Noah.

“Ini adalah langkah kongkrit dan bentuk kepedulian dari Gerakan Satu Visi guna mendukung terciptanya ekosistem musik yang fair untuk semua. Semoga semua bisa berkarya dan bekerja dengan nyaman di industri musik Indonesia,” jelas BCL.

Judika dan Nino Kayam (RAN) sehati.

“Langkah konstruktif menciptakan kepastian hukum yang dijalankan Visi berdasarkan pada keinginan menciptakan dunia musik Indinesia yang adil dan sejahtera bagi setiap orang,” ungkapnya.

Senada Titi Dwi Jayati.

“Kita cinta ekosistem musik yang harmonis. Langkah kita harus gercep (gerak cepat) tapi teratur dan sesuai UU. Tak boleh emosional dan serampangan,” gebrak Titi DJ.

Prof Henry yang ikut hadir mengakui perlindungan hukum terhadap pelaku seni di RI sangat memalukan.

“Dua tahun ini baru ramai dan ribut. Pasal-pasal bermasalah di UUHC mau direvisi atau diamandemen, berapa lama lagi dan ini jelas bakal mengeluarkan anggaran bermilyar rupiah guna menggolkan revisi ini,” tutur  Prof Henry.

Bagaimana sikap kita ?

Isi UUHC no 28 tahun 2014 yang ditetapkan Presiden SBY jelas bagus. Hanya realisasi pelaksanaannya masih carut marut.

UUHC adalah hak eksklusif milik pencipta yang tak secara otomatis berdasar prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi batasan sesuai dengan ketentuan peraturan UU.

Jelas, UUHC tentang kekayaan intelektual yang berperan strategis mendukung pembangunan bangsa dan memajukan kesejahteraan  terhadap pencipta, pemegang dan pemilik hak cipta yang melindungi karya sastra, seni, musik, film, perangkat lunak dan karya orisinal lain.

Lalu, what next ? (pik)

Kiprah Dimas Supartono Lanjutkan Mendiang Ayah di Industri Musik

JAYAKARTA NEWS— Dimas Supartono memperkenalkan lagu ‘Seandainya’ ciptaan mendiang sang ayah Tono Supartono berkolaborasi dengan pianis Andi Rianto.

Lagu melankolis ini dilantunkan tiga penyanyi dari Magenta Orchestra yaitu Ira Batti, Wisha Shofia dan Annisa.

“Saya terlibat dalam penggarapan aransemen dan meremake lagu ini yang dibawakan penyanyi zaman kiwari,” ujar Dimas, pria kelahiran 7 Juni 1983 dan lulusan S1 jurusan Manajemen Keuangan dan Human Resources.

“Saya hanya melanjutkan perjuangan ayah dan ini obsesi dan kontribusi saya agar lagu-lagu ciptaan ayah tidak terlupakan,” imbuh Dimas yang juga ikut membantu merampungkan lirik dua lagu ciptaan ayahnya yaitu ‘Pergilah’ dan ‘Sang Bidadari’.

Dalam waktu dekat, Dimas juga ingin menghelat konser musik di panggung musik nasional khusus tribute untuk ayahnya.

“Lagu-lagu karya sang ayah  nantinya tak hanya berkumandang di radio-radio nasional tapi juga dikenal lebih luas oleh masyarakat pecinta musik,” harap Dimas Supartono optimis. (pik)

Film Pendek Asgar Dirilis

JAYAKARTA NEWS— Mengusung semangat kuat fondasi dasar ilmu pembuatan film bagi generasi zaman now, Laboratorium Rekayasa Sihir merilis film pendek berjudul ‘Asgar’ di Usmar Ismail Hall, Jakarta, Minggu (16/3).

Film ini karya sutradara Asli Garut (Asgar) jebolan Toronto, Rangga Kusmalendra.

Rangga juga inisiator acara yang meliputi sesi meet and greet, talk show dengan film maker dan pemeran film, pitching forum dan ditutup mixer party/berbuka puasa bersama.

Asgar bergenre psychological thriller yang diperankan oleh dua bintang utama yaitu Khiva Rayanka dan Nicholas Anderson.

Dikisahkan, Dani, seorang anak muda dengan sifat kekerasan terhadap pasangannya.

Rangga Kusmalendra (bertopi) dan para pemeran (foto pik)

Secara tak terduga ia menemukan titik balik lewat pangkas rambut.

Sebelumnya, diputar 5 film pendek yaitu ‘Pulang’, ‘Jalan Panjang Menuju Kebesaran’, ‘404 ; Purpose not Fund’, ‘Alif Ingin Punya Pacar’, ‘Yuli ingin Dibonceng Ngabers’ dan ‘A Phone Call from Zoey’.

Semua film pendek ini hal utama dari loka karya film intensif yang menggabungkan teori dan praktik di lapangan didampingi mentor-mentor yang ditutup dengan screening di layar lebar.

“Asgar dan 5 film pendek bertujuan menciptakan ekosistem film kuat, inovatif dan berkelanjutan,” harap Rangga Kusmalendra. (pik)

Hari Musik Nasional Dirayakan Meriah

JAYAKARTA NEWS— Setiap 9 Maret, dirayakan Hari Musik Nasional (HMN).  Tahun ini, HMN ke 12 digelar secara meriah di ACC Music Studio, Bekasi.

Mengangkat topik ‘Sistem Royalti mana yang Adil ?’, acara ini ramai dihadiri insan-insan musik Tanah Air. Dari produser, pemusik, penyanyi, pengamat dan kritisi/wartawan musik.

Dharma Oratmangun selaku Ketua Persatuan Artis Penyanyi dan Penata Rekaman Indonesia (PAPPRI) mengemukakan sejarah berdirinya HMN.

“9 Maret adalah hari kelahiran komponis WR Soepratman pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ini sesuai Keppres no 10 tahun 2013 era Presiden SBY,” kata Dharma yang pernah aktif di Geronimo.

HMN itulah yang memperkuat ekosistem musik di Indonesia.

Dwiki Dharmawan  yang Sekjen PAPPRI memaparkan musik adalah sumber semangat dan kekuatan bagi setiap bangsa.

“Bangsa Indonesia memiliki lagu perjuangan dimana kala itu para musisinya menciptakan lagu yang membakar semangat para gerilyawan kita. Ini jelas bagian tak terpisahkan dari langkah kita menuju kemerdekaan RI. Lagu populer juga sama greget dan misinya. Selain menghibur juga banyak yang bernuansa sosial politik dan lingkungan,” urai Dwiki Dharmawan yang juga keyboardis band Krakatau.

Saat ini, Dwiki yang pendiri Sekolah Musik Farabi sedang sibuk mengisi tata musik film ‘Hayya 3’.

Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengulas ihwal peran penting  musik dalam kehidupan dan kebudayaan bangsa Indonesia.

“Musik tak hanya ekspresi seni tapi juga identitas nasional,” tegas Menteri.

Dikatakannya, musik sangat penting menyejahterakan bagi seluruh insan, mulai produser, musisi sampai pekerja di belakang layar.

“Semua elemen berkembang kreatif dan menyatu. Saya berharap  musik Indonesia bisa meraih panggung lebih luas di kancah internasional,” harap Menteri yang juga menyinggung ihwal perlindungan hak cipta, kemudahan izin dan dukungan terhadap distribusi musik melalui berbagai platform digital.

Hadir dalam diskusi musik tersebut para musisi, pemerhati musik dan event organizer seperti Harry Koko Santoso, Once Mekel, Rahayu Kertawiguna (Nagaswara), Edwin Cokelat, Irang Arkad, Andre Hehanusa, Bangkit Sanjaya, Tiro Sancha Bahtiar, Andre Opa, Gideon Momongan dan masih banyak lagi.

Dimoderatori Buddy Ace Nurdin yang juga penggagas acara ini, diskusi dan dialektika (berpikir dan berdialog) tentang musik ini berjalan seru dan hangat.

Sampai bertemu di HMN 2026 ! (pik)

Mark Pattie Rekam Lagu Cinta Abadiku Karya Ria Prawiro

JAYAKARTA NEWS— Menjelang ulang tahunnya 20 Maret 2025, Mark Pattie merekam lagu berjudul ‘Cinta Abadiku’ karya Ria Prawiro.

Jebolan Voice of Indonesia ini melantunkan lagu tersebut dalam irama pop jazz yang populer di tahun 80an.

“Aransemen musiknya oleh Juan Mandagie oke. Refreinnya masuk. Nada lagunya menyenangkan,” ujar Mark Pattie.

Ria Prawiro mengemukakan  vokal Mark sangat pas dan luas.

“Dia capable. Saya sangat enyoy dan puas. Meski sedikit sulit, Mark bisa deliver makna lagunya,” tutur Ria Prawiro yang juga memproduseri album ini.

Ditambahkan, Mark sebelumnya mengikuti work shop untuk memperdalam nada vokalnya.

“Dia ‘makan’ habis lagu ini. Pas dan enak didengar,” imbuh Ria Prawiro bercanda.

Makna ‘Cinta Abadiku’ adalah penggambaran ‘unconditional love’, ihwal  cinta seutuhnya dan tak pernah meninggalkan kita.

“Dalam situasi apa pun, cinta tak pernah tertinggal. Cinta akan tetap bersemayam di hati,” pesan Ria Prawiro.

Lagu ini bisa didengar melalui platform streaming digital dan video musiknya ada di Youtube.

“Saya siap mempromosikan lagu ini ke radio dan televisi swasta di Indonesia. Juga saya siap unjuk diri di kota diluar Jakarta,” timpal Mark Pattie bersemangat. (pik)

Bukan Jodoh Biasa Nih! Gabungan Elemen Komedi dan Petualangan

JAYAKARTA NEWS— Gegara hantaman Covid 19, film berjudul ‘Bukan Jodoh Biasa Nih!’ Tertunda lama

Disutradarai Peppi Piona,  film produksi Multi Cahaya Dimensi dan Bandung Films ini bergenre romance comedy dan petualangan.

Berkisah tentang tiga mahasiswa rantau yaitu Richard, Jonggi dan Lingga yang selalu kesulitan soal kebutuhan kiriman uang tiap bulan.

Cara mengatasinya mengambil jalan nekad, melayani tantangan pak Brandon guna mendapatkan kotak rahasia yang tersembunyi dengan imbalan uang dan anak gadisnya.

Kotak rahasia tersebut adalah mencari pusaka keluarga.

“Film ini bukan komedi biasa. Tapi punya misi nilai persahabatan dan petualangan tak terduga yang dibumbui unsur humor,” ujar produser eksekutif, HM Bagiono Prabowo, SH.

Bagiono yang juga Ketum Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo) ini memaparkan konsep film ini segar dan alur cerita ringan namun memberikan pesan tentang perjuangan hidup.

“Berasal dari kampung urban di Bandung dan melakukan perjalanan unik yang berlanjut ke hutan, gua dan air terjun dalam upaya pencarian pusaka yang penuh rintangan dan kejutan,” jelas Bagiono.

Keelokan alam Pasundan menjadi daya tarik film ini. Ada visualisasi air terjun tersembunyi yang belum tersentuh di Ciamis.

Dijadwalkan beredar 13 Maret 2025, film ini diramaikan sederet pemeran seperti Raim Laoda, Fico Fahriza, Firman Wahab, Nina Kozok, Joe P Project, Asep Petir, Dicky Chandra, Egy Fedly dan Mutiara Indah AW.

Bukan Jodoh Biasa Nih ! diakurasi LSF untuk 17 tahun keatas. (pik)