International Golo Mori Jazz 2025: Perayaan Musik dan Kebangkitan dari Timur Indonesia

JAYAKARTA NEWS— International Golo Mori Jazz (IGMJ) 2025 menghadirkan harmoni musik jazz dalam balutan pesona keindahan alam dari Timur Indonesia. Festival musik jazz yang akan digelar di Golo Mori Convention Center (GMCC), kawasan The Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 12 April 2025, mengusung tema “Jazz dari Timur, Eksotis!”. 

Lebih dari sekadar festival musik jazz, IGMJ 2025 juga merupakan perayaan budaya dan kebersamaan yang memperkuat sinergi antara industri musik dan pariwisata.

Kehadiran festival ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik The Golo Mori sebagai destinasi wisata kelas dunia yang menggabungkan seni, budaya, dan keindahan alam dalam satu kesatuan yang harmonis. IGMJ 2025 menyuguhkan penampilan musisi jazz ternama seperti Andien, Maliq & D’Essentials, Sheila Majid, serta penampilan spesial Tohpati dalam format orkestra.

Troy Warokka, Director of Commercial ITDC, menyampaikan, “Sebagai penyelenggara, kami ingin menyampaikan empati yang mendalam kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana letusan Gunung Lewotobi, Laki-laki. Kejadian ini menjadi tantangan bagi banyak pihak, termasuk kami sebagai penyelenggara International Golo Mori Jazz 2025. Namun, lebih dari sekadar tantangan, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan semangat bangkit bersama melalui kekuatan musik.”

“International Golo Mori Jazz 2025 merupakan wujud nyata dari potensi besar yang dimiliki The Golo Mori sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia. Kami berharap acara ini dapat semakin memperkenalkan The Golo Mori kepada dunia dan mendorong pertumbuhan sektor pariwisata serta ekonomi kreatif di Indonesia.”

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek, International Golo Mori Jazz 2025 akan berlangsung pada 12 April 2025. Perubahan jadwal ini memungkinkan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih matang, dengan konsep yang lebih kuat serta berbagai kejutan yang semakin memperkaya acara, memastikan bahwa setiap pengunjung akan merasakan semangat, kebersamaan, dan romantisme dalam alunan musik jazz yang menginspirasi.

Bagas Indyatmono, Direktur Utama Jazz Gunung Indonesia, menambahkan, “BNI bangga berpartisipasi dalam International Golo Mori Jazz sebagai wujud komitmen mendukung pariwisata berkelanjutan dan inklusif. Kerja sama ini memperkuat brand image BNI sebagai bank yang peduli terhadap pariwisata dan UMKM lokal. Selain itu, BNI memberikan diskon tiket 10% dengan kartu BNI guna meningkatkan minat masyarakat terhadap acara ini.”

Sheila Majid (foto igmj)

Musisi Ternama dan Pengalaman Tak Terlupakan

Festival ini menghadirkan orkestra musik yang memadukan keindahan alam Indonesia bagian timur dengan kekayaan budaya lokal yang unik. Para pengunjung dapat menikmati penampilan musisi legendaris dengan alunan musik yang membangkitkan kenangan dan menghadirkan nuansa romantis. Suasana hangat dan harmonis yang tercipta akan memberikan pengalaman taki terlupakan, menciptakan momen spesial yang selalu dikenang.

Andien, salah satu musisi yang akan tampil dalam acara ini, mengungkapkan, “Saya sangat menantikan momen untuk tampil di International Golo Mori Jazz 2025. Musik jazz memiliki kekuatan untuk menyatukan banyak orang, dan ketika dimainkan dengan latar belakang keindahan alam seperti di Golo Mori, saya yakin pengalaman ini akan menjadi sangat istimewa bagi semua yang hadir.”

Dukungan  Sponsorship

International Golo Mori Jazz 2025 mendapat dukungan penuh dari berbagai mitra strategis yang meyakini kekuatan musik sebagai medium untuk membangun koneksi, memperkaya pengalaman budaya, dan mempromosikan destinasi wisata ke tingkat yang lebih luas.

Division Head of Marketing Communication, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Duardi Prihandiko, salah satu sponsor utama, menyatakan, “BNI bangga berpartisipasi dalam International Golo Mori Jazz sebagai wujud komitmen mendukung pariwisata berkelanjutan dan inklusif. Kerja sama ini memperkuat brand image BNI sebagai bank yang peduli terhadap pariwisata dan UMKM lokal. Selain itu, BNI memberikan diskon tiket 10% dengan kartu BNI guna meningkatkan minat masyarakat terhadap acara ini.”

Sementara itu, Direktur Komersial PT Pelita Air Service, Asa Perkasa yang juga turut mendukung acara ini, menyampaikan, “Sebagai maskapai yang berkomitmen untuk mendukung industri pariwisata, kami sangat bangga menjadi bagian dari International Golo Mori Jazz 2025. Kami berharap acara ini dapat memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para pengunjung dan mendorong lebih banyak wisatawan untuk menjelajahi keindahan Golo Mori dan sekitarnya.”

Dengan perpaduan musik berkualitas, pemandangan alam yang menakjubkan, serta atmosfer yang intim dan romantis, International Golo Mori Jazz 2025 akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi para penikmat musik dan pencinta alam (pik)

El Putra dan Leya Princy Jadi ‘Rangga dan Cinta’ setelah 23 Tahun

JAYAKARTA NEWS— Masih ingat Rangga dan Cinta di film Ada Apa dengan Cinta (AAdC) yang sukses dibuat tahun 2002 ?

Kini, sutradara Riri Riza bersama produser Mira Lesmana dan Toto Prasetyanto membuat ulang kisah cinta Rangga dan Cinta rebirth 2025. Pemeran film ini semuanya berwajah baru dan baru pertama main film.

“Dari sekitar 700 orang yang ikut audisi, hanya 8 pemeran terpilih. Kini syuting hampir 80% di sekitar Jakarta dan sudah memasuki hari ke 42,” ujar Mira Lesmana.

Riri Riza setuju usul Nicholas Saputra (yang jadi Rangga di AAdC dan kini jadi co produser di Rangga dan Cinta) agar terbang ke Makassar tergelitik dan memilih El Putra Sarira sebagai Rangga versi 2025.

“Dia sosok outsider  dan datang dari luar Jakarta. Belum pernah bermain film. Tapi ciri dan sifatnya mirip Rangga,” tutur Riri.

Delapan pemeran terpilih di film Rangga dan Cinta (foto arul)

Dikatakannya, El Putra Sarira itu bersifat dingin dan kaku. Cuek. Pas dan cocok.

“Saya lulusan SMA Negeri 4 Jayapura dan kuliah di Universitas Dipa Makassar jurusan Teknologi Informatika. Berkecimpung di divisi IT Sulsel,” jelas El Putra Sarira kepada penulis.

Baru pertama menginjakkan kaki di dunia film dan ia kerap bertanya kepada senior dan mentornya, Nicholas Saputra.

“Mas Nicholas sangat sportif. Meski awalnya saya deg-degan dan gugup, tapi saya mengalir alamiah saja. Dan akting saya terus dipantau mas Nicholas” imbuh El Putra Sarira yang berusia 21 tahun.

Sebaliknya, pemeran Cinta menggantikan Dian Sastrowardoyo adalah Leya Princy.

Aktif jadi model. Ternyata Leya Princy adalah puteri aktor Ferry Maryadi.

“Saya baru pertama kali main film. Nervous sih enggak. Tapi yah rasanya gimana gitu. Saya berusaha total menggeluti seni peran ini,” kata Leya Princy.

Pemeran lain juga rata-rata masih muda yang usianya likuran tahun.

Kyandra Sembel, Katyana Mawira, Daniella Tumiwa, Jasmine Nadya, Rafli Altama dan Rafli Sudirman adalah nama-nama yang terpilih dalam audisi.

Dijadwalkan film Rangga dan Cinta yang naskahnya ditulis Titien Wattimena ini akan mengharu biru gedung bioskop di tahun 2025. (pik)

Arwah Sinden: Persaingan Sinden yang Berujung Petaka

JAYAKARTA NEWS— Produksi perdana Vision Tama Futurindo bertajuk ‘Arwah Sinden’ ini mrmbawa warna baru dalam kearifan dan budaya lokal.


“Ceritanya tentang kejadian mistis yang harus dipecahkan. Ihwal persaingan antar sinden yang berujung pada dendam dan petaka,” kata sutradara Ubay Fox.
Naskah ditulis oleh Nana Mulyana, produser eksekutif Hany Handayani mengaku bangga film perdananya bisa dirilis 13 Maret 2025 mendatang.

“Film ini tidak sekedar menghibur tapi mempunyai budaya kuat. Perpaduan antara budaya, horor, drama misteri dan nuansa lokal,” ungkap Hany Handayani.
Budaya sinden yang merupakan elemen utama film ini dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, terutama dari suku Jawa.

“Kami menyajikan horor yang tak menakutkan tapi memiliki kedalaman budaya dan warisan lokal yang tinggi. Film ini menciptakan atmosfir budaya yang dikemas dalam format film,” jelas Bahtiar Sembiring selaku produser eksekutif bersama Hendry Kurniadi, Asep Wahyu dan Simatupang.

Kisahnya tentang empat mahasiswa arsitektur yang bertugas merenovasi rumah peninggalan seorang pemilik padepokan sinden. Ada kamar terlarang yang tak boleh dimasuki. Kamar ini menyimpan rahasia kelam dua sinden di masa lalu.

Karena larangan tak dipatuhi, memicu teror mengerikan. Arwah Sinden dibintangi Rendy Septino, Ismi Melinda, Yama Carlos, Ade Kurnia, Tyara Vanesha, Sylvia Fully, Kev Andrean, Adinda Vega dan Annisa Hasim.

Yama Carlos yang lihai berbahasa Jawa mengemukakan film ini merupakan tantangan dirinya di lokasi yang cukup ekstrim.

“Kita membangun suasana mencekam dan kengerian di tiap adegan,” ujar Yama Carlos.
Tyara Vanesha mengaku total berakting.
“Kita membangun chemistry dengan pemeran lain. Saling memberi masukan dan pengalaman. Suasananya akrab,” timpal Tyara Vanesha mengunci percakapan. (pik)

Norma: Antara Mertua dan Menantu

JAYAKARTA NEWS— Film Lebaran 2025 berjudul ‘Norma: Antara Mertua dan Menantu’ ini berkisah tentang rumah tangga pasangan muda. Disutradarai Guntur Soeharyanto, film produksi Dee Company ini beralur cerita dari sisi lain ihwal mertua dan menantu.

“Diadaptasi dari kisah viral perselingkuhan mertua dan menantu. Betapa Norma tersakiti. Dalam beberapa fase kehidupan yang berbeda. Dari awal pernikahan yang bahagia dan diselingkuhi ibu sendiri sampai hancurnya hati Norma,” cerita Guntur.

Produser Dheeraj Khalwani mengungkapkan proses film ini sangat panjang.
“Tak ada asap tanpa api. Penulis skenario, tim riset dan Tissa Biani (pemeran utama Norma) berbincang terus menggali kenapa ada kejadian seperti ini,” jelas Dheeraj Khalwani.
Tissa Biani mengaku sosok Norma sangat kuat menghadapi hantaman badai rumah tangganya.

Tissa Biani (foto ffi)

“Ada hal yang tak diketahui masyarakat. Di sini emosi dimainkan. Norma hanya bisa marah dan menangis akibat depresi berkepanjangan,” tutur Tissa Biani.

Wulan Guritno sebagai ibu Norma bernama Rina punya alasan masing-masing. “Rina tega melakukan perselingkuhan dengan menantunya. Di film ini, Rina mencoba tak memberi judment,” urai Wulan Guritno.

Aktor Yusuf Mahardika lain lagi ceritanya. “Saya tak merasa sakit. Padahal ada adegan saya dilempari telur. Saya pasrah. Pas usai take, saya tanya. Apa sudah adegannya. Sutradara Mas Guntur bilang, sudah. Telurnya dilempar pas kena rambut saya,” kenang Yusuf Mahardika tertawa.

Pemeran Nunung yang biasa melawak kali ini tak bisa berhahahihi di film ini.
“Sosok saya serius. Harus tertawa dan menangis. Pas adegan mengintip perselingkuhan, saya diharuskan naik tangga. Saya lalu muntah mengintip adegan yang menjijikkan itu,” kata Nunung.

Film Norma yang nenyentuh nurani yang dipenuhi intrik licik ini akan menggugah empati dan emosi penonton tepat di hari Lebaran nan fitri penuh ampunan.
“Tissa Biani yang lama tak muncul di film ini bermain cemerlang. Dia pas berperan sebagai Norma yang tersakiti oleh ibunya,” pungkas Dheeraj Khalwani mantap. (pik)

Denira dan Munggaran Bermain Apik di ‘Iblis Dalam Kandungan 2’

JAYAKARTA NEWS— Menyongsong bulan puasa Ramadan 2025 kita disuguhi film horor penuh histeria ketegangan dan mencekam.

DHF Entertainment kali ini menggandeng sutradara Johansyah Jumberan yang merangkap produser akan nerilis film berjudul ‘Iblis Dalam Kandungan (IDK) 2 : Deception’ resmi  tayang di bioskop 27 Februari 2025 yang melanjutkan kisah dari film pertamanya yang menggantung (open ending) atas berbagai misteri yang belum terpecahkan.

“Saya berperan sebagai Alani yang berjuang bersama adiknya bernama Vito berusaha menyelamatkan ibu Amelia yang tengah mengandung,” kata Denira Wiraguna.

Bersama rekan kakak kelasnya, dokter Bara (diperankan Munggaran Meldrat) berjuang mati-matian guna menyelamatkan Amelia dari ancaman nyawanya dan bayi yang dikandungnya.

“Berpacu dengan waktu, mereka harus menghadapi kekuatan jahat yang tak hanya mengincat nyawa, tetapi juga menyimpan kebenaran kelam yang selama ini tersembunyi,” imbuh Denira.

Rumah sakit tempat Amelia menjalani persalinan  berada di tengah hutan yang jauh dari kota.

Sejak awal hingga akhir, penonton diajak larut dalam atmosfir ketegangan berbagai momen mendebarkan yang membuat suasana semakin intens.

“Saya benar-benar bergidik  sendiri saat syuting di malam nan gelap. Ini pengalaman menakutkan,” lontar Denira yang bermain full di film ini.

Sebelumnya, Denira unjuk diri di film ‘Sobat Ambyar’ dan ‘Roh Fasik’.

Sama halnya aktor Munggaran Meldrat yang berperan sebagai dokter Bara yang baik.

“Sekuel ini menghadirkan jawaban yang memuaskan bagi penonton yang telah mengikuti kisah sebelumnya. Namun, bagi yang baru pertama kali menonton, film ini tetap dapat dinikmati tanpa harus mengetahui detil film pertama,” ajak Munggaran yang juga pesilat.

Munggaran yang anak aktor laga Cecep Arif Rahman juga mengemukakan bahwa ancaman semakin nyata di film ini

“Amelia mendapati dirinya terperangkap dalam konspirasi kelam antara dokter Imam yang antagonis dan pihak rumah sakit. Mengungkap rahasia nyawanya dan bayi yang dikandungnya,” tutur Munggaran yang sebelumnya telah dikenal melalui sinetron ‘Luka Cinta’ dan ‘Something Between’.

“Semua berubah menjadi mimpi buruk. Di meja operasi, saya sebagai dokter Bara dibaringkan dan hati serta ginjal saya diambil dokter Imam untuk upacara sakral sekte sesat. Ini benar-benar pengalaman mengerikan,” timpal Munggaran yang konten kreator di TikTok.

IDK 2 juga dimeriahkan penampilan Widi Mulia, Muhammad Adhyat, Ananda George, Rendy Herpy, Dayu Wijanto, Alvaro Axela, Gusti Gina, Pipien Putri dan Fuad Idris.

“Sanggupkah mereka menyelamatkan nyawa Amelia sebelum terlambat ? Ataukah kegelapan akan menelan mereka dalam permainan licik penuh pengkhianatan ?,” tanya Johansyah Jumberan.

Akankah fenomena IDK 3 akan mengguncang layar lebar lagi ? (pik)

Samawa: Mempertahankan Keluarga Layak Diperjuangkan

JAYAKARTA NEWS— Samawa akronim dari sakinah, mawadah warahmah. Ini doa yang diucapkan kepada pasangan pengantin baru.

“Harapannya agar pernikahan dirahmati Allah dan bahagia, tenang, tenteram, aman dan damai,” ujar sutradara dan penulis skenario Ganank Dera saat merilis film ‘Samawa’ di XXI Epicentrum, Jakarta, baru-baru ini.

Film produksi Travel Stories Pictures ini mengangkat isu konflik rumah tangga yang dialami pasangan muda.

Mempertahankan rumah tangga yang harmonis bukan mudah. Namun, tetap layak diperjuangkan.

“Angka perceraian, KDRT dan perselingkuhan memuncak. Dan film ini coba hadirkan refleksi perjuangan dan komitmen mempertahankan hubungan yang harmonis meski banyak rintangan,” ungkap Ganank Dera.

Produser T Sugianto menjelaskan film ini menghadirkan pendekatan drama yang dibalut elemen kejutan di bagian ending.

“Masing-masing karakter enggak sempurna. Dan penonton harus terus menyaksikan sampai tamat. Justru di ending itulah jawaban dari inti cerita film ini,” tutur T Sugianto.

Pemeran utama Alexzander Wlan mengaku melakukan riset mendalam guna memahami karakter dirinya.

“Saya sebagai suami tampak alami dan emosional. Padahal dia harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya,” kata Alexzander.

Badriyah Afif juga mengadakan diskusi lebih dahulu sebelum take camera adegan kekerasan.

“Ini tantangan terbesar. Saya harus menjaga kenyamanan dan memastikan batasan fisik agar emosi berimbang,” ungkap Badriyah Afif

Samawa juga diperkuat kehadiran bintang ternama seperti Ence Bagus, Lucky L Moniaga, Decy Decynta dan Amel Alvi.

Sebuah pernikahan adalah kasih sayang dan cinta yang membara antara dua insan manusia.

Rezeki, ampunan, karunia dan rahmat melingkupi kehidupan mereka berdua.

Samawa yang akan beredar 27 Februari 2025 sebelum awal puasa Ramadan ini diprediksi menjadi tontonan ngabuburit menarik di bulan  suci ini.

Semoga kita semua ’till jannah’ alias tiba di surga yang penuh berkah dan ampunan. (pik)

Pernikahan Arwah: Angkat Budaya Tionghoa

Pernikahan Arwah alias Minghun memang masih ada dan dilakukan oleh sebagian masyarakat Tionghoa. Dalam tradisi kuno China, minghun adalah menghubungkan alam kehidupan dan kematian.

Sutradara Paul Agusta mengangkat budaya Tionghoa di ranah film. “Film ini dikemas dalam perspektif budaya Tionghoa, keindahan cinta dan tema konflik yang umum yang membawa keseraman dan kesedihan,” kata Paul Agusta.

Produksi Entelekey Media Indonesia dan Relate Films ini berkisah tentang sepasang calon pengantin bernama Salim dan Tasya yang tak sengaja terjerat ritual pemanggilan arwah leluhur Salim.

Kala itu, mereka berdua sedang mengadakan sesi foto di rumah keluarga Salim.
Terjadi peristiwa mistis yang mencekam setelah kematian bibi Salim.Tiap hari Salim membakar hio (dupa) di altar sembahyang. Kalau alpa, nyawa terancam.

Dirut Entelekey Media, Patricia Gunadi mengemukakan, syuting dilakukan di kota Lasem di Jawa Timur.

“Lasem dikenal sebagai kota pusaka, kota santri dan Tiongkok kecil. Akulturasi budaya China dan pribumi terjadi di sini. Ada kawasan Pecinan dan kelenteng dimuliakan. Warna merah dominan di sini,” ungkapnya.

Produser Perlita Desiani menambahkan inti cerita film ini menggali bagaimana masa lalu tetap hidup di kita. “Pelakunya bisa terjebak dalam takdir yang sulit dihindari. Ada rasa ketakutan dari warisan, kepercayaan dan konsekuensi dari pilihan yang kita buat,” urai Perlita Desiani.
Morgan Oey sebagai pemeran utama mengatakan selama proses syuting, disarankan membawa garam agar terhindar dari hal-hal mistis.

“Agar bahaya bencana dibersihkan dan energi set syuting tetap normal. Ini enggak bohong. Kita syuting di Lasem ke tahun 1940an ketika penjajah Jepang memasuki dan mengobrak abrik penghuni rumah leluhur Salim,” cerita Morgan Oey yang mantan biduan di boy band Smash.

Produser, sutradara dan pemeran (foto arul)

Sama pengalaman yang dialami aktor Verdi Solaeman yang berperan jadi ahli spiritual Koh Chung Chung.

“Ini dilemanya. Kita harus menggunakan mantra asli di ritual pemanggilan arwah untuk mencegah hal tak diinginkan. Kalau tak ditaati, kita bisa celaka. Bocengli,” ucap Verdi Solaeman.

Aktris Zulfa Maharani yang muslimah yang berperan sebagai Tasya tetap menghargai kepercayaan tradisi yang dilakukan warga Tionghoa.

“Sebelum take camera, saya kerap bertanya kepada koh Morgan Oey agar enggak salah. Terutama saat bersembahyang memakai hio di depan altar leluhur,” timpal Zulfa.

Pernikahan Arwah yang berjudul bahasa Inggris ‘The Butterfly House’ dijadwalkan beredar 27 Februari 2025 dan akan tayang serentak di 7 negara jiran yaitu di Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Vietnam, Laos dan Kamboja.

Pernikahan Arwah juga diperkuat pemeran lain seperti Jourdy Pranata, Brigitta Cynthia, Ama Gerald, Alam Setiawan, Puty Syahrul dan Bernadette Bonita.

Sebuah cerita yang mengharukan dan menyentuh hati ini diakurasi oleh LSF untuk 17 tahun ke atas. (pik)

Tiga Film Nasional Raih Box Office

JAYAKARTA NEWS— Di bulan Februari 2025, tiga film nasional meraih Box Office (BO).
BO mengacu jumlah pendapatan yang dihasilkan oleh film dari penjualan tiket di bioskop. Makin banyak tiket terjual, makin tinggi pendapatan BO sebuah film yaitu di atas sejuta penonton.

Tiga film nasional tersebut adalah ‘1 Kakak 7 Ponakan’ (1K7P), ‘Petaka Gunung Gede’ (PGG) dan ‘Perayaan Mati Rasa’ (PMR). Awalnya, 1K7P produksi Mandela dan Cerita Films menggaet 1.152.474 penonton di hari ke 17 tayang

Namun, kini posisinya digeser PGG yang secara mengejutkan mampu mengumpulkan 1.670.775 penonton di hari ke 10 tayang (sampai 16 Februari 2025).

Dan di posisi ke tiga diraih PMR yang meraih 1.211.138 penonton.
PGG produksi Starvision yang disutradarai Azhar Kinoi Lubis bisa bertahan sampai Lebaran 2025.

1 Kakak 7 Ponakan (1K7P)

Dihiasi original sound track (ost) milik Sheila On 7, PGG dibintangi pemeran tak terkenal.
“Tapi dua pemerannya yaitu Arla Ailani dan Adzana Ashel lihai membuat chemistry sebagai dua sahabat karib yang mendaki gunung,” ungkap Azhar Kinoi Lubis.

Sebaliknya, 1K7P yang bertengger di posisi kedua disutradarai Yandy Laurens yang diadaptasi dari sinetron 1996 karya Arswendo Atmowiloto.

Sederet pemeran termashur meramaikan film ini yaitu Chicco Kurniawan, Amanda Rawles, Maudy Koesnaedi, Fatih Unru, Niken Anjani, Ringgo Agus Rahman dan Kiki Narendra.
“1K7P menjadi film penutup di Jogjakarta Asia Film Festival (JAFF) 2024 dan seluruh studio menayangkan film ini,” kenang Yandy Laurens.

Di posisi terbungsu PMR produksi Sinemaku Pictures yang disutradarai Umay Shahab dikawal sederet artis musik/film kondang yaitu Iqbaal Ramadhan, Devano Denindra, Dul Jaelani, Randy Danistha, Priscilla Jamail dan Dwi Sasono.

Umay Shahab juga ikut main di film ini. “Antusiasme penonton sangat tinggi. Iqbaal Ramadhan juga bermain cemerlang,” timpal Umay Shahab. (pik)

Made in Bali: Perpaduan Unik Antara Cinta dan Budaya

JAYAKARTA NEWS— Pulau Bali menjadi lokasi syuting dan dilema (cinta sejati atau cinta pilihan orangtua?) di film berjudul ‘Made in Bali’ yang disutradarai J. P. Yudhi.

Mempertemukan dalang muda wayang kulit Bali bernama Made (diperankan Rayn Wijaya) bersama sahabat masa kecilnya, Niluh (Vonny Felicia) serta wanita yang dijodohkan dengan Made yaitu Putu (Bulan Sutena).

Kisah romansa remaja yang tengah mencari arti cinta dan belajar kehidupan dibalut latar budaya Bali yang akan menggiring cerita film ini menjadi magis dan romantis.

Lanskap Pulau Dewata yang menampilkan budaya yang elok serta pertunjukan wayang kulit, Barong Bali hingga festival layang-layang yang menakjubkan menjadi unsur penambah film ini.
“Ihwal manusia dalam menemukan arti cinta di sebuah pulau yang indah. Namun, manusia juga membawa karma-nya masing-masing,” ungkap produserJoseph Tarigan.

“Awalnya, kisahnya cinta segitiga biasa. Lalu muncul ide saya dan Ray Nayoan (kreator tokoh Made) menggabungkan wayang dengan anime dan musik Japan Rock. Dari sini tiga karakter utama dikembangka ,” kata penulis skenario Oka Aurora.

Bulan Sutena yang berdarah Bali mengungkapkan di film ini untuk bisa mengolah emosi dan menunjukkan dinamika karakter sebagai Putu. “Ini tantangan tersendiri. Aku harus memberikan range karakterisasi yang dapat menyampaikan ceritanya,” tutur Bulan Sutena.
Segendang sepenarian Rayn Wijaya.

“Aku belajar bahasa Bali dan menjadi dalang wayang kulit Bali. Aku banyak dibantu seniman tradisi yang punya passion terhadap warisan budaya leluhur,” jelas Rayn Wijaya.

Made in Bali yang akan tayang di jaringan bioskop Indonesia mulai 20 Februari 2025 juga diperkuat oleh sederet pemeran seperti Naomi Hitanayri, Victor Agustino, Gusti Hanindra, Roja Itakimo, Jaloe, Wina Marino,Nobuyuki Suzuki, Tri Ningtyas, Dian Sidik dan Siska Salman.
Sekeranjang produser ikut memberikan celah dan promosi yaitu Joseph Tarigan, Jemima Tarigan, Roy Shakti, Laudamus, Arianto Widjaja dan Albert Tjandranegara.

Original Sound Track (OST) diisi lagu-lagu dari Ariel Noah, Manusia Aksara feat Safira Razak, Banda Neira, Hiroaki Kato dan Gus Teja World Music membuat film ini lebih puitik.
“Selain Indonesia, Made in Bali juga akan tayang di negara jiran Malaysia dan Singapura. Ini kita mempromosikan keelokan wisata dan budaya Bali ke mancanegara,” imbuh Joseph Tarigan.

Jadi, mana yang harus dipilih, antara cinta semasa kecil atau cinta terhadap pilihan orangtua ? (pik)

Refal Hady Mencari Cinta Sejati di ‘Cinta tak Pernah Tepat Waktu’

JAYAKARTA NEWS— Aktor tampan blasteran Arab -Belanda, Refal Hady tampil mencari cinta sejati di film ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ (CTPTW) garapan sutradara Hanung Bramantyo.
Berperan sebagai Daku Ramala, penulis novel dan ia tipe cowok kompleksitas.

“Ini hanya pemikiran Daku saja. Daku terbelenggu oleh komitmen yang dibuatnya sendiri,” ucap Refal.

Film ini mengangkat sudut pandang pria dalam soal cinta dan memancing emosi dan pesan penonton. “Masalahnya waktu enggan bersahabat dengan Daku. Dan Daku belajar memaafkan diri sendiri,” jelas Refal.

Daku ditekan segera cepat menikah oleh orang tua dan kekasihnya yang sudah lima tahun berpacaran.

Namun, Daku belum siap menikah. Pacar pertamanya, Nadya sabar menanti. Dan astaga, Daku melepasnya. Nadya menikah dengan cowok lain.

Kemudian, Daku dikelilingi beberapa cewek lain tapi belum terjadi kecocokan. “Ceritanya relate dan ada persamaan dengan sosok Daku,” imbuh Refal.

Sutradara Hanung Bramantyo sengaja memilih Refal Hady karena ia type cowok idaman wanita.

“Plotnya sederhana tapi esensinya menarik karena ditangkap dari sudut pandang cowok. Disini ada pov (point of view) yang tumpang tindih dengan pemikiran,” urai Hanung.
Diadaptasi dari novel populer karya Puthut EA, inti cerita mengalir utuh.

“Bahkan, Daku sangat kuat dengan sentuhan budaya wayang yang ikonik. Daku selalu terjebak dengan pemikiran dan waktu. Dalam budaya wayang, ada Batara Kala yang mengatur dan memanfaatkan kala alias waktu. Itulah alam pemikiran Daku yang dipenuhi ilusi dan imajinasi waktu dalam bercinta,” timpal Hanung lagi.

Dikemas apik dan naskah kemudian ditulis oleh Hariopati dan terakhir dijahit menjadi skenario oleh Hanung dan Haqi Achmad. Sinematografi ciamik.

Seni peran para pemain bermain oke. Seperti Nadya Arina, Carissa Perusset, Mira Filzah (aktris Malaysia), Meriam Bellina, Dewi Irawan, Slamet Rahardjo, Rangga Nattra, Whani Darmawan, Morgan Oey dan Carmela van der Kruk unjuk diri membawa perannya masing-masing.

Refal Hady sebagai pemeran utama pria juga tampil prima nyaris tanpa cacat.
“Film ini khusus buat cowok galau dan bagi para pejuang cinta sejati harus nonton CTPTW produksi Dapur Films yang berdurasi110 menit ini,” pesan Hanung.

Last but not least, apa arti dan hakekat cinta sejati ? (pik)