Rumah produksi Infinite Studios merilis footage trailer film Buffalo Boys. Film dengan genre adventure-drama ini mengangkat nuansa masa penjajahan Belanda di Indonesia dengan latar tempat dan budaya Jawa Tengah abad ke-19.
Benang merah cerita dalam film mengangkat kisah dua bersaudara yang membalaskan dendam ayah mereka, seorang Sultan yang bertahun-tahun diasingkan di Amerika.
Sutradara yang sekaligus merangkap sebagai penulis naskah Mike Wiluan mengungkapkan bahwa film Buffalo Boys merupakan film fiksi yang bersentuhan dengan budaya Jawa. Ide cerita diambil dengan menggali sejarah Indonesia, yang kali ini mengambil detail budaya Jawa.
“Film yang memakai histori Indonesia yang sangat dalam. Kita hybrid (campur) kayak western, itu konsep saya. Ini genrenya sudah populer, khusus dari Indonesia ada ‘rasa’ dengan budaya Indonesia di film,” ungkap Mike dalam konferensi pers di kawasan Kemang.
Sementara Wiki dari pihak Screenplay Films menegaskan, Buffalo Boys merupakan film action Indonesia-Belanda dengan rasa koboi kebarat-baratan.
“Naskah ini sudah ditulis sejak 3 tahun lalu. Ini film action Indonesia dan Belanda dengan rasa western cowboy. Ini bukan pertama kali, tapi topiknya serius, penjajahan Belanda. Mike punya pendekatan berbeda, ini fiksi. Dibikin perspektif koboi dari tokoh utama, Ario Bayu (Jamar) dan Yoshua Sudarso (Suwo),” ujar Wiki.
“Film ini sebuah fiksi yang ingin menampilkan fiksi berbeda,” katanya lagi.
Dalam proses audisi, Mike juga menggandeng aktor berkebangsaan Belanda, Reinout Bussemaker (Van Trach) untuk menghidupkan karakter bengis.
“Proses audisi saya ada koneksi dengan orang Indonesia, 90 persen pemainnya dari Indonesia. Yang main orang jahat dari Belanda. Sebetulnya, saya mau cari aktor yang bisa sangat jahat dan metode akting yang sangat bagus,” terang Mike.
Selain Reinout, Mike juga menggandeng Yoshua Sudarso, aktor yang sempat bermain sebagai Blue Ranger dalam Power Rangers di Los Angeles. Tak luput juga Daniel Adnan, aktor baru blasteran Ceko dan Jawa yang terbilang baru di industri film Indonesia.
Produksi film dilakukan di dua lokasi berbeda, Yogyakarta dan Batam dengan total waktu syuting tiga bulan.
Buffalo Boys merupakan film adventure-drama dengan bumbu cerita keluarga di dalamnya. Mike Wiluan juga berperan sebagai produser bersama Freddie Yeo, Fong Cheng Tan dan Junxiang Huang. Produser eksekutif diisi oleh Eric Khoo, Natalya Pavchinskaya, Christopher Smith, Michy Gustavia dan Bert Tan.
Beberapa aktor yang bermain di dalamnya antara lain Yoshua Sudarso sebagai Suwo, Ario Bayu Wicaksono sebagai Jamar, Pevita Pearce sebagai Kiona, Tio Pakusadewo sebagai Arana, Reinout Bussemaker sebagai Van Trach, Daniel Adnan sebagai Drost, Mikha Tambayong sebagai Sri, Happy Salma sebagai Seruni dan Alex Abdullah sebagai Fakar.
Proyek film ini bekerjasama dengan Zhao Wei Films dan Screenplay Infinite Films, didukung Inforcomm Media Development Authority of Singapore, Go-Jek dan Bert Lightin. Film Buffalo Boys direncanakan tayang pada Juli 2018. ***
Ajang penghargaan perfilman Tanah Air, Indonesian Box Office Movie Awards 2018 (IBOMA 2018) kembali digelar. Sejak diadakan pada 2016 lalu, ajang ini akan memberikan penghargaan kepada 10 film terlaris selama satu tahun.
“Ajang penghargaan Indonesian Box Office Movie Awards ini adalah sebuah bentuk dukungan terhadap industri film Indonesia. Semoga adanya penghargaan ini dapat mengedukasi para pegiat film untuk terus melahirkan film-film inspiratif yang mampu memikat masyarakat untuk menikmati film Indonesia,” kata David Suwarto Deputy Programming SCTV di Jakarta, Rabu, 14 Maret 2018.
Hal ini semakin dibuktikan dengan perolehan jumlah penonton yang signifikan sepanjang tahun 2017 lalu. Bahkan ke-10 film box office yang masuk nominasi IBOMA tahun ini telah ditonton lebih dari 1 juta penonton di seluruh Indonesia.
10 film box office Indonesia itu yakni: Pengabdi Setan, Ayat-Ayat Cinta 2, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2, Danur: I Can See Ghosts, Jailangkung, Susah Sinyal, Surga Yang Tak Dirindukan 2, Mata Batin, The Doll2, dan Surat Cinta Untuk Starla The Movie.
10 film terlaris Indonesia itu akan dinilai oleh tujuh juri, yang terdiri dari produser, sutradara, penulis skenario, editor hingga artis. Mereka adalah Erwin Arnada, Gina S Noer, Lola Amaria, Prisia Nasution, Rako Prijanto, Sentot Sahid, dan Titi Rajo Bintang.
Pada pelaksaan IBOMA 2018, ada 15 kategori yang akan diperebutkan. Ke-15 kategori tersebut, Film Box Office Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, Penulis Skenario Terbaik, Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, Pendatang Baru Terbaik, Poster Film Terbaik, Trailer Film Terbaik, Produser Film of The Year, OST Film Terbaik, dan Ensemble Talent Terbaik.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, IBOMA akan menganugerahkan satu kategori baru, yaitu Top 10 Film Box Office Indonesia Tahun 2017. Semua film ini merupakan karya yang tayang sepanjang tahun 2017.
Prisia mengatakan bahwa penghargaan ini merupakan acuan perfilman Indonesia. IBOMA adalah formula untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar bisa mencintai film Tanah Air.
Penganugerahan IBOMA akan diselenggarakan pada 23 Maret 2018 dan dimeriahkan oleh sederet artis, seperti Ayu Laksmi, Vino G Bastian, Ernest Prakasa, Luna Maya. Selain itu, Prilly Latuconsina, Denny Sumargo, Indro ‘Warkop’, dan masih banyak lagi.***
Pada bulan April, 1947, delegasi Indonesia tiba di Kairo (Mesir) untuk melakukan misi diplomatik yang sangat penting yaitu pengakuan de jure dari pemerintah Mesir atas kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia.
Mereka adalah H Agus Salim yang pemimpin delegasi, Abdurrachman Baswedan, Mohammad Rasjidi dan Nazir Sutan Pamuntjak. Dibantu Sekjen Liga Arab Abdul Rahman Hassan Azzam Pasya, ke empat orang dari Indonesia tersebut dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Mesir, Mahmud Fahmi El Nokrashy Pasya.
Namun, rencana tidak semulus di lapangan. Duta Besar Belanda untuk Mesir, Willem van Recteren Limpurg, membuat taktik keji untuk menggagalkan misi delegasi Indonesia. Didampingi ahli strategi bernama Cornelis Adriaanse, Willem kemudian melakukan lobi politik terhadap PM Nokrashy, Juga, Willem dan Adriaanse menyusupkan mata-mata kedalam kelompok delegasi Indonesia.
Kedua pejabat Belanda berhasil mempengaruhi Nokrashy. Akhirnya, dia memutuskan untuk menunda rencana kerjasama bilateral dengan Indonesia yang menjadi tanda legitimasi kedaulatan negara Indonesia di dunia Internasional.
Keterlambatan penandatanganan kesepakatan ini membuat Agus Salim dan tiga kawannya dalam keadaaan tidak pasti di Kairo. Situasinya makin memburuk dengan tersiarnya kabar dari Indonesia tentang invasi CIA yang mengepung pulau Jawa dan Madura. Dalam hal ini, Belanda telah melukai perjanjian Lingarjati dan mulai terlihat misinya menguasai wilayah yang tersisa di Republik Indonesia.
Keputusan Nokrashy untuk meneruskan proses perencanaan kerjasama RI-Mesir, membuat Willem dan Adriaanse mengeluarkan rencana pamungkas untuk menggagalkan penandatanganan kesepakatan tersebut. Keadaan kemudian membuat nasib Nokrashy dan RI berada di tangan di tangan seorang pemuda Indonesia yang sebelumnya dicurigai sebagai penghianat.
Demikian sekilas cerita film biopic (biography picture) tentang perjuangan diplomasi H. Agus Salim sebagai Menteri Luar Negeri pertama RI dalam film bertajuk ‘Moonrise Over Egypt’ (MOE). Film produksi TVS (Tiga Visi Sinema) yang berdurasi 113 menit ini akan tayang di seluruh Indonesia mulai tanggal 22 Maret 2018.
Berperan sebagai H. Agus Salim adalah Pritt Timothy, aktor teater dari Jogjakarta. Pengajar broadcast di Universitas Muhammadiyah Jogjakarta ini berhasil membawakan perannya dengan bagus. Mengenakan kopiah di kepala ditambah kumis dan janggut putihnya, Pritt Timothy yang pernah bermain di film ‘Marsinah’ garapan sutradara Slamet Rahardjo, kali ini di film MOE tak diragukan lagi seni perannya. Tangan dingin sutradara muda Pandu Adiputra sangat terasakan dalam gerak tubuh, langkah jalan, gesture dan improvisasi Pritt Timothy saat memerankan sebagai H. Agus Salim.
Pritt Timothy sebagai Agus Salim–foto istimewa
Hanya satu kesalahan kecil, ketika berdialog dengan teman-temannya, Pritt Timothy sangat cadel bahasa Jawanya. Padahal, H. Agus Salim berasal dari Minang, seangkatan dengan Bung Hatta dan Syahrir.
Sedangkan pemeran lainnya meski mereka adalah pendatang baru di layar putih atau lebih banyak tampil di layar televisi, tapi hampir semua bermain gemilang, sesuai porsinya. Misalnya Bhisma Wijaya sebagai Hisyam yang penghianat, boleh dibilang sangat cemerlang. Juga pemain lain seperti Vikri Rahmat sebagai AR Baswedan, Satria Mulia sebagai H.M. Rasjidi (Menteri Agama pertama RI), drh. Ganda sebagai Natsir Pamuntjak, Reza Anugrah (personel boyband Smash) dan Ina Marika sebagai Zahra, perempuan Malaya (sebelum menjadi Malaysia).
Tak diragukan lagi adalah akting aktor senior Mark Sungkar yang berperan sebagai PM El Nokrashy Pasya yang berbahasa Inggris secara fasih serta Harry Bond Jr. Willem van Limpurg mampu mengisi scene dengan dialog bahasa Belanda dan bahasa Inggris secara sempurna. Harry Bond Jr pernah bermain dalam seri televisi komedi Bule Gila.
Inti cerita memang terjadi di Mesir dimana syutingnya hampir 20 hari sejak bulan Agustus 2016. Skenario yang ditulis bertiga yaitu Pandu Adiputra, Adie Marzuki (produser) dan Erik Supit sangat bernas.
DOP (Director of Photography) di tangan Joel Fadli boleh diberi acung jempol. Film drama diplomasi ini hanya menembak ruang-ruang dan sudut-sudut tertentu. Sayang adegan kota Mesir di masa itu kurang divisualisasikan di layar. Hal ini cukup dimaklumi, karena keadaan Mesir masa lalu sudah banyak berubah dengan situasi Mesir masa kini, dimana banyak hotel dan gedung pencakar langit sepanjang Sungai Nil.
Di sisi lain, film ini berkisah dua cerita. Yang pertama tentang perjuangan diplomasi H. Agus Salim dalam penugasannya sebagai diplomat dan Menlu yang sangat ulung dalam mencari pengakuan negara Mesir atas kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. Cerita lain adalah sepenggal kisah perjuangan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Mesir yang mayoritas mendukung kemerdekaan negara baru, Republik Indonesia.
Namun, ada seorang pemuda Indonesia bernama Hisyam yang menjadi penghianat dan membocorkan rahasia diplomasi delegasi RI ke tangan Belanda. Hisyam akhirnya tertembak mati oleh majikannya dan sebelum ia meninggal, menulis surat kepada H. Agus Salim. Hisyam seorang penghianat ataukah seorang pahlawan bangsa karena sebelum terlambat, ia telah sadar bahwa perbuatannya selama ini salah.
Film bergenre drama ini tanpa dibumbui cinta ibarat sayur tanpa garam. Liku-liku percintaannya dengan gadis Malaya bernama Zahra akhirnya kandas.Meski film ini berlatar belakang sejarah diplomasi, namun ada tokoh fiktif yang ikut menyemarakkan cerita. Misalnya Malik yang diperankan oleh produser eksekutif, Amir Sambodo, yang telah puluhan tahun merantau dan berbisnis di Mesir.
Memang, film MOE pada akhirnya perlu ditonton oleh generasi masa sekarang. Seperti dikatakan Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. “Film yang bercerita tentang perjuangan diplomasi di dunia Internasional rasanya belum pernah dibuat di negara kita. Juga, perjuangan pahlawan nasional H. Agus Salim belum banyak diketahui oleh oleh generasi muda zaman now,” ungkap produser Adie Marzuki.
Tentu, liku-liku perjuangan negara Indonesia agar berdaulat dan diakui di dunia Internasional memang sangat terjal. Selain perjuangan bersenjata di dalam negeri, juga tak boleh dilupakan perjuangan diplomasi di luar negeri. Dan rasanya tepat H. Agus Salim diangkat ke layar putih kali ini.
Cucu AR Baswedan yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan usai menonton film ini berkomentar “Film ini layak ditonton oleh generasi milenial zaman kini. Agar perjuangan para pahlawan kita tak dilupakan begitu saja. Mendampingi bapak H. Agus Salim, pak Baswedan melalui laut membawa surat pengakuan Mesir yang ditandatangani oleh PM Mesir Nokrashy dengan menyembunyikan surat tersebut kedalam kaos kaki sepatunya.
Hal ini dilakukan agar surat tersebut tidak jatuh ke Belanda dan kaki tangannya. Beliau mendarat dan melakukan lobi diplomasi politik ke India dan dilanjutkan ke Persekutuan Tanah Melayu dan barulah tiba dengan selamat di Jakarta. Surat pengakuan dari Mesir tersebut kemudian diserahkan kepada Presiden Soekarno dan disimpan sebagai arsip sejarah,” demikian Anies Baswedan berpendapat.
Penggarapan film layar lebar “Terbang : Menembus Langit” akhirnya memasuki tahap paska produksi dan siap ditayangkan di bioskop-bioskop di Indonesia. Sebelum siap ditayangkan, Demi Istri Production merilis teaser Film “ Terbang, Menembus Langit.
Menurut Susanti Dewi Produser Film “Terbang, Menembus Langit” , film ini diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang pemuda keturunan Tionghoa dari Tarakan bernama Onggy Winata yang diperankan oleh Dion Wiyoko. Ia berjuang untuk meraih kesuksesan dengan melewati segala rintangan. Hingga akhirnya dari Kalimantan ia bisa merantau ke Surabaya hingga ke Jakarta. Di Jakarta, setelah menikah dengan Candra (Laura Basuki) yang kemudian hamil. Walau terjebak dalam peristiwa Mei 1998, untung kandungannya selamat.
“Awalnya sih kita lagi liburan, ngga ada niat bikin film. Nah saat saya dan Fajar ke Tarakan kebetulan ada cerita kalau di Tarakan ada orang biasa yang sukses di usahanya tapi memiliki perjuangan yang sangat luar biasa. Akhirnya saya mendengar cerita perjuangan hidupnya, sempet kaget juga kok bisa beliau melalui tantangan hidup dan dengan semangat mengejar cita-citanya saat itu? Ternyata perjuangan panjang penuh tantangan yang akhirnya membuat beliau sukses. Itu membuat saya berfikir ini keren banget dan ini next story kita., Akhirnya kita bikin produksi ini. Harapannya film ini jadi inspirasi orang banyak, “ ujar Susanti Dewi.
Bagi Fajar Nugros, Film ini juga menjadi tantangan tersendiri baginya sebagai sutradara. Film ini baginya film priodik pertama yang ia garap. Buatnya menulis cerita mudah apalagi kalau kita tahu apa yang mau kita tulis.
“Ini kisah nyata. Yang susah adalah merangkai kisah karena harus sesuai kisah nyata 32 tahun yang lalu dibikin menjadi 2 jam. Kebayangkan gimana susahnya. Tapi ini merupakan kenaikan kelas buat saya bisa mengarap film “Terbang, Menembus Langit”, beda dengan film-film garapan saya sebelumnya,” jelas Fajar Nugros
Selain itu menurut Fajar Nugros, film ini digarap karena bisa menjawab situasi negara saat ini.
“Siapapun mau dari dari golongan apapun kalau soal kerja keras itu untuk siapa saja, kesuksesan bisa buat siapa saja tanpa melihat perbedaan,” tandas Fajar
“Kami melakukan pencarian pemain-pemain lokal Tarakan dan Surabaya selama hampir tiga bulan. Seperti kisah dalam film ini, terkadang orang-orang di Indonesia hanya membutuhkan satu kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan bakat mereka,”papar Fajar.
Berbicara soal latar waktu, film ini menggambarkan suasana era 70an hingga tahun 1998. Jadinya para tim make up dan wardrobe memiliki tantangan agar tidak meleset dengan tampilan pemain pada periode tersebut.
“Ini diambil dari kisah nyata, dan saya harus lebih menjiwai di film ini dengan berperan dalam tiga periode. Priode saat SMA, kuliah dan bekerja. Dan sebenarnya lumayan panjang saya memutuskan bekerja di film ini, namun ketika dikasih tahu sinopsisnya, dikasih tahu latar belakang, proses syuting dan lain-lain. Akhirnya tertarik dan mutusin ikut terjun di di film ini,” ujar Dion Wiyoko
Bicara pengalaman, menurut Susanti Dewi, ini juga merupakan film priodik pertama bagi Demi Istri Production. Syuting film ini mempunyai keseruan dan tantangan yang unik, karena kedua setting yang menjadi lokasi syuting, belum pernah dijajaki oleh produksi film DIP sebelumnya, dimana semua peralatan teknis yang ada di jakarta dibawa ke Surabaya dan ke Tarakan.***
Film Get Lost mengisahkan tentang sejumlah remaja yang tersesat di kawasan Gua Pendem di Cilacap yang dikenal angker, dan kemudian menyaksikan berbagai kejadian horor.
Dalam film produksi Pafindo tersebut, ada pesan pendidikan, karena sejarah tentang Benteng Pendem yang dibangun oleh VOC Belanda dan kemudian dikuasai tentara Jepang. Juga tentang para pahlawan yang dilecehkan tentara Jepang.
“Film ini menghadirkan sekelompok anak pelajar SMA yang penasaran, menantang nyali secara sembrono di tempat yang seharusnya dijaga,” jelas Gion Prabowo, sang produser.
Kedatangan para pelajar ke Benteng Pendem karena mereka bolos sekolah, kemudian mengalami peristiwa misterius memasuki dimensi ruang lain. Mereka hilang di Benteng Pendem.
“Ini film perjuangan Pafindo. Kami berjuang masuk di Cinema 21 sejak 2016 tanpa bawa-bawa nama organisasi. Film dirancang dengan baik. Kami buat film dengan biaya tidak luar biasa,” ungkap Ketum Pafindo, Gion Prabowo SH kepada penulis.
Film ini dibintangi oleh Angelica Simperler, Agatha Valerie, Maxime Bouttier, Indra Kharisma, dll dan akan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Maret 2018.***
Pamela Bowie (24) mendapatkan tantangan baru dalam film ‘Hongkong Kasarung’. Dalam film karya Erik Satyo bersama dengan Artomoro Pictures itu, Pamela dipilih untuk memerankan karakter Alin, seorang wanita hongkong, yang bisa bahasa Indonesia dan juga bahasa Kanton.
Tantangan yang didapat oleh Pamela ialah di mana ia harus belajar Bahasa Kanton, yang memang belum pernah ia pelajari selama sekitar 10 tahun berkarir di dunia akting. “Yah tantangannya aku harus belajar Bahasa Kanton, Hongkong. Karena beberapa dialog pakai bahasa Kanton,” kata Pamela Bowie.
Dara manis kelahiran Madiun, Jawa Timur, 18 Oktober 1993 itu harus memanggil guru khusus Bahasa Kanton, agar perannya lebih meyakinkan. “Jadi belajarnya itu private panggil guru bahasa Kanton. Memang sulit, tapi yah namanya juga belajar,” ucapnya.
Tantangan lain yang harus dihadapi oleh mantan kekasih penyanyi dan artis peran Joshua Suherman itu adalah, menahan tertawa karena lawan mainnya merupakan pelawak, presenter, penyanyi, dan juga artis peran Entis Sutisna alias Sule.
Pamela mengaku sangat sulit menahan ketawa, karena Sule selalu bertindak untuk melakukan hal-hal konyol yang membuatnya tertawa, karena ia dan Sule banyak adegan bersama.
Film Hongkong Kasarung bercerita tentang Sule, pemuda kampung yang tidak bisa jauh dari orangtuanya, dan selalu peduli pada kesulitan orang di sekitarnya, yang justru seringkali menyulitkan diri sendiri.
Sule bercita-cita untuk merebut kembali cintanya. Setelah kekasihnya, Iis (Selvi Kitty), yang berpaling kepada Cecep (Rizki Firdaus alias Uus), Sule pun nekat merantau ke Hongkong.
Dibantu oleh Mang Saswi (Sas Wijanarko), Sule pun merantau ke Hongkong untuk menjadi orang sukses, agar Iis bisa kembali ke pelukannya.
Film ini diperankan oleh artis tenar ibukota Jakarta, seperti Sule, Rizky Febian, Pamela Bowie, Uus, Sas Wijanarko, Iwa K, George Rudy, Ery Makmur, Selvi Kitty, Voland Volt, dan lain-lainnya. ***
MENGULANG kesuksesan program International Clubbing Experience (ICE) 2017, bagian dari project lCEPERlENCE.ID yang diinisiasi DanceSignal, akan kembali digelar untuk memberikan warna tersendiri di industri Electronic Dance Music [ EDM ] di Indonesia.
Di tahun ke-2 ini, kembali diadakan dengan konsep baru hasil kolaborasi Akhda [DanceSignal ] dan Dixie [1945 ] dengan mengusung visi yang sama. Yaitu untuk mendukung penuh perkembangan industri Electronic Dance Music (EDM) di Indonesia, via sebuah gerakan positif dikalangan milenials penikmat, dan pelaku industri EDM. “Dengan pengembangan dari segi bonding Identity Engagement dalam berbagai program interactive sepanjang tahun 2018,” ujar Achda, dari EO DanceSignal di Jakarta, Kamis (8/3).
Dengan tagline We Cool, We Party, We Upgrade! program ini membuka kesempatan seluas-luasnya secara bersama-sama membangun gerakan networking di dalam komunitas muda. Yang dinilai selalu update, well educated, fun, positive mind dan trendsetter spirit” pada generasi millenials.
“Program ini dirancang untuk mencari DJ dan Produser berkualitas internasional. Juga mencari The Coolest Clubbers di area Jakarta dan Bandung yang secara exclusive akan diberangkatkan ke Belanda untuk hadir, terlibat, dan turut merasakan event yang menjadi tolak ukur industri EDM di dunia yaitu Amsterdam Dance Event (ADE) 2018,” imbuh dia.
Untuk mendukung hal itu, ajang ini jadir dengan beberapa rangkalan kegiatan. Seperti Club Party Series. Merupakan kompetisi dengan melibatkan Event Organizer penyelenggara nightlife party.
Kompetisi ini bertujuan untuk memberikan edukasi untuk berlomba menciptakan sebuah konsep party yang unique dan memorable sebagai sarana untuk mencari “High Quality Clubbers”. Club Party Series akan dilaksanakan di Jakarta dan Bandung. ***
KELUAR dari Ada Band tak lantas membuat penyanyi Donnie Sibarani berhenti berkarya. Donnie kini memulai bersolo karier dengan merilis single berjudul “Will You Marry Me”. Lagu gubahan Rayen Pono ini sudah bisa dinikmati di berbagai media layanan musik termasuk iTunes dan Spotify.
Tak hanya audio, video musik untuk lagu “Will You Marry Me” juga sudah bisa disaksikan di kanal YouTube resmi Donnie. Lagu ini bisa jadi pengingat pasangan yang sudah menikah seperti saya. Atau yang baru akan menikah alias masih pacaran,” ungkap Donnie.
Bergenre pop ballad, lagu ini seolah makin mengukuhkan sisi romantis Donnie. “Cinta itu milik semua orang,” tambahnya.
Di bawah bendera MAW Music, Donnie menunjukkan mampu keluar dari ‘zona nyamannya’ sebagai vokalis band selama 15 tahun di Ada Band. Kini, sebagai penyanyi solo, Donnie siap tampil mensejajarkan diri ditengah sedikitnya penyanyi solo, seperti Tulus, Marcell, Afgan, Vidi Aldiano dan sederet lainnya. ***
GELARAN musik terpanjang dan terbesar, Soundsations kembali bergulir sepanjang 2018 di tanah air. Kali ini, roadshow musik tahunan itu mengangkat tema 100 Kota 1 Bahasa.
Dari tagline tersebut, bisa diketahui bahwa Soundsations 2018 bakal singgah ke 100 titik atau kota di Indonesia. Semua pulau akan dikunjungi mulai dari Banda Aceh hingga Jayapura.
Soundsations bertajuk 100 Kota 1 Bahasa bakal menyajikan puluhan musisi dalam negeri dari berbagai genre dan generasi. Di antaranya, Sheila On 7, Kotak, Jamrud, Seringai, Barasuara, Naif, Stars and Rabbit, Dipha Barus, Elephant Kind, The Adams, dan lainnya.
Iga Massardi dari Barasuara mengaku sangat mengapresiasi acara musik ini. Sebab, menurutnya Soundsations 100 Kota 1 Bahasa ajang bertemu dengan pendengar baru yang lebih luas. Oleh karena itu, dia bersama Barasuara menyiapkan materi baru untuk menghibur penonton di setiap kota.
“Kami mempersiapkan tahun ini dengan memikirkan konsep apa yang akan dihadirkan, ada juga lagu baru yang saya buat untuk Soundsations sudah dirilis dengan tema lirik soal gimana berjuang bergelut memenangkan pilihan sulit. Sudah bisa didengarkan di 100 kota,” jelasnya.
Soundsations 100 Kota 1 Bahasa tidak hanya sekadar musik. Tapi, akan dihadirkan juga karya kolaborasi komunitas kreatif, seperti visual art, fotografi, dan sinematografi. Beberapa seniman yang diajak, di antaranya Farid Stevy, dan anggota Siasat 100. Rangkaian Soundsations 100 Kota 1 Bahasa bergulir sejak Februari hingga Juli 2018 mendatang. ***
LAGU anak-anak beberapa tahun belakangan ini jadi hal yang langka di dunia musik Indonesia. Tak banyak musisi yang peduli akan situasi ini. Bahkan jumlah penyanyi cilik pun ikut berkurang. Namun baru-baru ini sebuah terobosan berani dilakukan oleh penyanyi cilik Calista Amadea.
Melalui bendera Micvi Entertainment, siswi kelas 5 SD ini baru saja merilis album bertajuk ‘Lagu Anak Legenda’. Sesuai judulnya, album ini memuat lagu-lagu lama untuk anak-anak ciptaan Ibu Sud, Pak Kasur dan Sri Widodo.
Lagu-lagu tersebut adalah Naik Delman, Pergi Belajar, Mari Beramai-ramai ke Laut, Kupu-kupu ke Manakah Engkau Terbang, Tik Tik Bunyi Hujan, Lagu Gembira, Hai Becak, Pagi-Pagi, Lihat Kebunku, Trimakasihku, Kereta Apiku. Lagu-lagu tersebut sudah sangat populer dan melegenda dalam khazanah musik anak Indonesia dan hidup di dalam keluarga-keluarga Indonesia.
“Aku memang suka lagu-lagu di album ini. Aku bikin album ini supaya anak-anak sekarang tahu lagu-lagu bagus ini dan jadi lebih suka nyanyiin lagu anak-anak bukan lagu orang dewasa,” terang Calista Amadea saat peluncuran albumnya di Jakarta, baru baru ini. Acara tersebut juga bersamaan dengan peluncuran album perdana grup anak-anak, Lovely Kids, yang bertajuk Bandar Udara.
“Banyak lagu-lagu lama yang aku suka. Aku dibantu sama Papa aku buat milih lagu apa aja yang masuk di album ini,” lanjut Calista tentang album ketiganya ini.
Lagu-lagu anak legendaris tersebut di daur ulang dengan aransemen dan pendekatan yang berbeda dari biasanya. ***