Ali Shahab Wafat

alm Ali Shahab

Telah berpulang kerahmatullah, budayawan Ali Shahab, hari ini lk pukul 15.00 wib dalam usia 77 tahun. (lahir 22 September 1941). Ali Shahab pernah menjadi Anggota Dewan Film Nasional (1989-1994), Ketua Umum Asosiasi Rumah Produksi (1991), Ketua I/Bidang Penjurian Panitia Tetap FSI (1994-1998), Anggota Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (1995-1998).

Menempuh pendidikan Akademi Seni Rupa Indonesia Yogyakarta (1958-1963). Setelah lulus ASRI, ia langsung berkecimpung ke dalam dunia jurnalistik di Jakarta. Tahun 1967, ia menjadi pemimpin redaksi Indonesia Jaya. Ia juga menulis sekitar 20 judul novel populer. Tante Girang”merupakan ceritanya yang paling populer pada akhir tahun 1960-an dan mampu menembus layar lebar.
Langkah ke dunia layar lebar dimulai sebagai penata artistik dalam film Di Balik Tjahaja Gemerlapan (1969). Bidang penyutradaraan di awalinya dari film Beranak Dalam Kubur (1971). Setelah aktif di layar televisi dengan serial Rumah Masa Depan (1984-1985), kegiatan menggarap film untuk layar lebar menurun. Terakhir, ia menyutradarai film Kisah Anak-Anak Adam (1988) dan menulis skenario untuk film Si Gondrong (episode Lawan Bek Marjuk) pada 1990. Setelah lepas dari PT. Sepro Karya Pratama (1981-1987) milik artis Rahayu Effendi, ia mendirikan rumah produksi sendiri, PT Sentra Focus Audio Visual yang dibangun tahun 1988.
Kiprah awal rumah produksinya adalah melanjutkan serial Rumah Masa Depan (1990) yang di bintangi aktor Dede Yusuf dan Desy Ratnasari. Tahun 1991 terpilih menjadi Ketua Umum Asosiasi Rumah Produksi Indonesia (ARPI). Menjadi anggota Dewan Film Nasional (periode 1989-1994) dan Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) periode 1995-1998.
Pada kegiatan Festival Sinetron Indonesia yang dimulai sejak 1994, ia menjabat sebagai Ketua I/Bidang Penjurian Panitia Tetap FSI masa bhakti 1994-1998. Pada FSI 1996, ia terpilih sebagai sutradara komedi terbaik dalam Angkot Haji Imron. Sebelum itu karyanya Nyai Dasima menghasilkan piala bagi aktris utama Cut Keke dan aktor pembantu Charlie Sahetapy pada FSI 1995.
Pernah mendirikan Teater September, sebuah nama yang diambil dari bulan kelahirannya. Dari teater itu, sejumlah nama besar muncul, seperti Hamid Arief (alm) dan Wolly Sutinah alias Mak Uwok (alm). (pik)
Filmografi :
Di Balik Tjahaja Gemerlapan (Artistik, 1969),
Airmata Kekasih (Penata Rias & Busana, 1971),
Si Gondrong (Skenario, 1971),
Beranak Dalam Kubur (1971),
Brandal-Brandal Metropolitan
(Skenario, 1971),
Bumi Makin Panas, (Skenario, 1973),
Nafsu Gila (Skenario, 1973),
Rahasia Perawan, (Skenario, 1975),
Ranjang Siang Ranjang Malam
(Skenario, 1976),
Gaun Hitam (Skenario,1977),
Napas Perempuan, (Skenario, 1978),
Pulau Cinta (Skenario, 1978),
Detik-Detik Cinta Menyentuh
(Skenario, 1981),
Manusia Enam Juta Dolar
(Skenario, 1981),
Gadis Bionik (Skenario, 1982),
Cemburu Nih Yee… (1986),
Misteri Sumur Tua (1987),
Kisah Anak-Anak Adam, (Skenario, 1988),
Si Gondrong episode Lawan Bek Marjuk (Skenario, 1990),
Sinetron :
Rumah Masa Depan (1984-1985),
Desa Bumiku, Tanah Air Tanah Rebutan, Balada Para Pekerja, Pintu yang Terbuka, Anak Titipan (1993), Kepak Sayap Merpati Muda (1994), Burung Laut, Nyai Dasima (1995), Angkot Haji Imron (1996 dan 1997), Neo Pepesan Kosong (1990-an).***(pik)

Tulus Gelar Konser Monokrom di Jakarta Februari 2019

Penyanyi Tulus menggelar konser tunggal Monokrom di Jakarta pada Februari mendatang. Ini merupakan kali kedua Tulus menggelar konser Monokrom setelah sukses di Bandung dan menjadi konser tunggal kedelapan.

Tulus kali ini bekerja sama dengan Rajawali Indonesia, promotor yang kerap mendatangkan musisi luar negeri dan pada tahun ini berhasil memboyong Mariah Carey dan Megadeth ke Indonesia.

“2019 Rajawali Communication punya konsen yang sangat serius untuk menggelar konser tunggal artis-artis Indonesia dan kali ini Tulus sebagai musisi pria papan atas Indonesia saya kira akan bekerja sama dengan Rajawali Indonesia akan menggelar konser tunggal Monokrom,” kata Anas Alimi, CEO Rajawali Communication di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Desember 2018.

Gelaran konser dilakukan di ibu kota melihat kualitas musik Tulus yang sudah menarik banyak perhatian.
“Saya kira Tulus besar di Bandung dan kuliah di Bandung dan Bandung lebih awal saya kira lebih bisa menjadi satu titik tolak dan Jakarta sebagai ibu kota dan saya kira ini menjadi satu pilihan untuk menggelar konser musisi sebesar Tulus saya kira memang harus di Jakarta,” kata Anas.

TulusCompany dan Rajawali Communication Indonesia bekerja sama dengan Melon Indonesia untuk tiket. Kapasitas 4.500 tiket dijual melalui platform online seperti Tiketapasaja.com, Tiket.com, Traveloka, Kiostix, Rajakarcis, Blibli.com, Loket.com, dan Blanja.com.

Tiket pre sale dijual mulai 27 Desember di Tiketapasaja.com dengan harga Rp250 ribu hingga Rp450 ribu. Tiket reguler dijual di seluruh platform penjualan tiket terkait pada 28 Desember dengan harga Rp350ribu hingga Rp1 juta. Pada harga tiket tertinggi penonton berkesempatan bertemu dan bersama dengan Tulus.

Konser Monokrom Tulus nantinya akan melibatkan ratusan musisi termasuk pemain musik. Ada 23 lagu yang dibawakan dengan formasi acak dari album Monokrom dan album-album sebelumnya dengan aransemen berbeda untuk ditampilkan dalam durasi 2 jam 15 menit.

Konser ini pun dipersembahkan sebagai bentuk ucapan terima kasih terhadap semua pihak yang mengapresiasi karya musiknya.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bentuk apresiasi yang semua penikmat musik berikan kepada saya. Tentang ucapan terima kasih dan rasa ayukur saya terutama teman-teman yang memberikan apresiasi terhadap musik saya,” kata Tulus.

Konser Monokrom Tulus digelar pada 6 Februari 2019 di Istora Senayan Jakarta. (pik)

Konser 35 Tahun Slank, Damai, Tertib dan Penuh Pesan Solidaritas

Slank sukses menggelar konser bertajuk Indonesia Now sebagai peringatan hari jadi mereka yang ke-35. Konser yang dipadati ribuan Slankers ini pun berjalan dengan tertib dan lancar. Dihelat di GBK yang dipadati ribuan Slankers berjalan tertib dan lancar. Sebanyak 3000 aparat dikerahkan mengamankan konser musik terbesar tahun ini.
Sekitar pukul 20.30 WIB, konser dibuka dengan video pesan dari Presiden Joko Widodo yang mengungkapkan duka cita atas bencana di Banten dan Lampung. Dalam videonya, Jokowi mengajak para Slankers untuk memanjatkan doa bagi para korban yang mengalami musibah.
 
Jokowi mengakhiri videonya dengan pesan kepada Slank untuk terus berkarya dan memohon maaf atas ketidakhadirannya di konser malam itu. Begitu video berakhir, Slank langsung menghentak Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan lagu lagu pembuka yaitu medley Cinta Kita, Menyakitimu dan Anyer10 Maret
 
Tak lupa, Kaka mewakili personel Slank lainnya, Bimbim, Ridho, dan Ivanka, mengajak Slankers untuk menundukkan kepala dan mengheningkan cipta. Lalu, lagu Solidaritas mengalun yang disusul suara koor Slankers mengiringi nyanyian Kaka.
 
Semakin larut, konser semakin panas. SUGBK pun semakin padat dengan para Slankers yang terus datang membanjiri lokasi konser. Melihat antusiasme para Slankers yang datang dari berbagai daerah membuat Slank sangat berterima kasih.
 
“Malam ini adalah malam apresiasi Slank untuk Slankers yang datang dari luar Jakarta, petugas polisi yang sudah jagain Slank, bapak-bapak tentara yang mengamankan di luar, aktivitas di seluruh Indonesia yang selalu kritis dan concern,” ucap Kaka di sela konser di GBK, Jakarta, Minggu, 23 Desmber 2018.
Kaka juga mengungkapkan harapannya agar di tahun 2019, semua orang bisa terus menyebarkan perdamaian dan ketenangan. Di setiap kesempatan selama konser, Kaka juga kerap mengingatkan para Slankers agar tetap damai dan tidak memulai kerusuhan.
Sekitar 30 lagu dibawakan oleh Slank dalam konser kali ini. Panggung yang megah dan diklaim sebagai panggung konser terbesar di Indonesia, yakni 43 meter x 24 meter tak membuat Kaka lelah tampil energik di sepanjang konser. Ia juga selalu menjaga interaksi dengan para penonton.
Disusul lagu Mars Slankers dan Garuda Pancasila yang disambut koor penonton. Sepanjang konser berdurasi 2, 5 jam ini, antusiasme penonton sangat luar biasa. Penonton hampir hafal semua lagu Slank. Dari I Miss You but I Hate U, Virus, Terbunuh Sepi (dibawakan Eva Celia), Pandangan Pertama (Marion Zola), Orkes Sakit Hati yang berirama Melayu, Terlalu Manis, Bang Bang Tut, Balikin (Aurelie Moeremans), Ku Tak Bisa dan seabreg nomor lain. Pada lagu ke 30, 31 dan 32 (Palalopeyank, Kamu Harus Pulang dan NgeSlank Rame Rame), penonton nyaris tak mau beranjak pulang. Setelah MC mengumumkan bahwa NgeSlank Rame Rame lagu pamungkas dan lampu panggung GBK sebagian dipadamkan, penonton satu persatu angkat kaki keluar GBK. (pik)

Konser Slank ‘Indonesia Now’ Serba Perempuan

Grup band Slank akan merayakan ulang tahun ke-35 dengan menghelar sebuah konser di Stadion Gelora Bung Karno pada akhir pekan ini, Minggu (23/12) malam nanti pukul 20.00 yang bertajuk ‘Indonesia Now’

Bimbim, Kaka, Ridho, serta Ivanka membocorkan bahwa konser mereka akan mengangkat tema tentang perempuan. Itu dirasa pas, karena konser digelar hanya sehari setelah Hari Ibu yang dirayakan setiap 22 Desember di Indonesia.

“Nanti di panggung yang laki-laki hanya Slank,” ungkap Bimbim selaku penggebuk drum band yang dibentuk sejak 1983 itu.

Bimbim melanjutkan, Slank memboyong tiga penyanyi perempuan kenamaan Indonesia. Mereka juga akan diiringi sejumlah musisi perempuan yang memainkan saksofon, menggebuk drum, mendentingkan piano, serta alat-alat musik lainnya.

Mereka juga memberi tempat spesial untuk Bunda Iffet yang tak hanya dikenal sebagai ibu dari Kaka Slank, tetapi juga ‘pengasuh’ grup band yang bermarkas di Potlot itu.

“Bunda Iffet akan pidato nanti, karena kehadiran Bunda ini begitu berarti untuk Slank dan Slankers,” kata Bimbim lagi.

 
Tema perempuan dipilih Slank untuk konser mereka bukan hanya karena Hari Ibu. Slank memang ingin mengapresiasi kehadiran perempuan dalam hidup mereka.

“Ibu atau bunda itu seperti jimat. Kalau melakukan sesuatu dan dapat izin dari mereka, pasti itu seperti jalan tol. Lancar dan dimudahkan apa pun yang kita lakukan,” kata Bimbim.

Itu diamini Kaka. Ia bahkan mengaku bisa sial jika keluar rumah tanpa memegang restu ibunya.

 
“Laki-laki tanpa perempuan tidak ada apa-apanya,” sahut Ivanka.

Tak hanya itu, lagu Slank juga kebanyakan tentang menghargai. Itu disambungkan Bimbim tema perempuan yang mereka angkat.

“Karena banyak orang kita yang kurang menghargai, kami selalu coba ajarkan dan tularkan. Kalau ada perempuan digangguin jangan diam, karena itu juga menjadi urusan kita,” ujar Bimbim.

Slank merupakan grup musik yang terbentuk sejak 1983 dan hingga saat ini menjadi salah satu band rock terbesar di Indonesia. Sejauh ini mereka telah merilis 31 album.

 
Selain lagu cinta, band asal Jakarta ini kerap membuat lagu kritik sosial dan politik. Album Mata Hati Reformasi (1998) merupakan salah satu yang kental akan kritik terhadap pemerintahan Indonesia. Secara keseluruhan album itu bercerita tentang masalah sosial dan pemerintahan pada zaman reformasi.

Di usia 30, Slank sempat membuat film biopik bertajuk Generasi Biru. Secara garis besar film itu bercerita tentang perjalanan karier bermusik Slank, mulai dari sejumlah personel yang menjadi pecandu narkoba sampai akhirnya bersih dan lepas dari jerat lubang hitam.

 
Pada usia 35 tahun, Slank ingin merayakannya dengan mempersembahkan konser musik. Bimbim menuturkan, lagu yang dinyanyikan Slank dalam konser itu sudah dipilih dan disusun sesuai tema.

“Semoga pas pulang dari GBK akan pada happy, tersenyum, bahkan berpelukan,” tuturnya.(pik)

Buku ‘Ibu, Doa Yang Hilang’ Difilmkan

Bagas D Bawono-twitter

Bagas D. Bawono, penulis buku Ibu, Doa Yang Hilang akan mengangkat kisahnya ke layar lebar. Sebelum bercerita tentang film, Bagas mengungkapkan inspirasi menulis buku berangkat dari kisah nyata yang dilalui bersama sang ibu yang telah wafat pada 2014.

Buku berformat cerpen dengan 29 cerita itu rupanya terinspirasi dari karya penulis Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Format ini dipilih menyesuaikan budaya membaca masyarakat Indonesia dengan mayoritas jarang membaca.

“Saya bikin format sebuah cerita terinspirasi single parent memperjuangkan anak-anak dan kehidupan mereka. Saya bikin dalam format kumpulan cerpen, ada 29 cerpen. Maksud saya orang bisa baca 1-2 cerpen (per hari),” kata Bagas di dalam jumpa pers di Auditorium Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Desember 2018.

Sebelum dituangkan ke buku, kisah itu ditulis dalam kolom Facebook dalam format cerita pendek. Ini menjadi salah satu tekniknya untuk menyebar cerita agar tetap terbaca saat, hal itu dilakukan pada saat awal 2000-an.

Inspirasi judul buku diambil dari cara Bagas memaknai hubungan antara ibu-anak. “Menurut saya pribadi seseorang manusia yang mendoakan dengan tulus kepada manusia lain hanya ibu kepada anaknya. Ketika ibu saya wafat saya kehilangan doa yang tulus dari ibu saya,” kata Bagas.

Film Ibu, Doa Yang Hilang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan akan dibintangi oleh Reza Rahadian dan Christine Hakim. Film ‘Ibu, Doa Yang Hilang’ akan dibuat oleh BUMN (dalam hal ini PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero), PFN dan ApaKabar Fest. Tujuannya adalah diplomasi kebudayaan dan mempromosikan destinasi wisata sehingga dapat meningkatkan kunjungan wisatawan terutama di lokasi dimana film ini dibuat, yaitu di Candi Prambanan dan Ratu Boko. (pik).

Film Kuldesak Ditayangkan Kembali

MEMPERINGATI 20 tahun film Kuldesak (yang  bermakna ‘Jalan Buntu’), sutradara film Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza, dan Rizal Mantovani menyambutnya dengan meluncurkan buku. Buku ini bertutur  tentang bagaimana sebuah karya tetap bisa hadir di masyarakat tatkala  situasi ekonomi, sosial dan politik  tengah tidak kondusif.

“Selain untuk menampung arsip-arsip serta dokumen-dokumen Kuldesak yang selama ini tersebar dan tercecer di berbagai tempat, buku ini juga bertujuan untuk menceritakan kembali bagaimana sebuah karya film dikerjakan di tengah kemelut ekonomi, sosial dan politik, dari 1995 sampai 1998. Dan tentunya juga buku ini adalah album kenangan bagi semua yang terlibat dalam proses film Kuldesak,” ujar Riri Riza saat ditemui di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Namun buku ini tidak akan diperjualbelikan. Mira Lesmana mengatakan buku yang penuh sejarah ini hanya akan diberikan secara sukarela. Sebab, harus melalui proses perizinan yang sangat panjang apabila memaksakan untu dikomersilkan.

Dalam acara memperingati 20 tahun film Kuldesak juga akan diisi dengan penanyangan kembali film tersebut. Menariknya, pemutaran film yang akan dilakukan di 9 kota pada 30 Desember mendatang akan menggunakan file hasil digitasi dari materi film print 35mm.

Kuldesak adalah film yang cukup bersejarah dalam industri perfilman tanah air. Film yang tayang pada 27 November 1998 tersebut disaksikan hingga 100 ribu penonton pada masa industri film tanah air tertidur. Bahkan, film ini ditayangkan hingga di kota Bandung, Jogjakarta dan Surabaya.

Film ansambel drama komedi hitam ini dibintangi banyak pemain seperti Ryan Hidayat (almarhum) , Oppie Andaresta, Tyo Pakusadewo, Wong Aksan, Harry Dagoe, Dik Doank, Bucek Dept, Bianca Adinegoro dll. Semua bintang tidak dibayar kala itu demi membangkitkan kembali perfilman Indonesia.

(Ipik Tanoyo)

Film ‘Say I Love You’ Angkat Kisah Nyata Inspiratif

Setelah sukses membuat film Mimpi Ananda Raih Semesta (Mars), Multi Buana Kreasindo (MBK) kembali membuat film yang menghibur juga bernilai pendidikan bagi generasi muda. Judul film itu adalah Say, I Love You yang menawarkan pesan yang sama seperti produksi sebelumnya.

Sahrul Gibran selaku produser Say, I Love You, menyatakan bahwa film ini masih mengambil sekolah sebagai latar ceritanya. Hanya saja, cerita yang diangkat terinpirasi dari peristiwa asli.

“Kali ini lebih ke cerita anak muda. Begitu juga dramamya, love storynya lebih romantis. Dan pastinya inspired by true event,” ucap Sahrul saat ditemui, baru-baru ini.

Sahrul menambahkan bahwa peristiwa yang benar terjadi itu diambil dari Sekolah Selamat Pagi Indonesia. Sekolah itu diisi oleh anak-anak tak mampu yang mengajarkan kewirausahaan dan lulusannya cukup sukses.

“Cerita-cerita inspiratif dari sekolah ini sudah banyak didengar masyarakat. Makanya semuanya kita ambil untuk film Say, I Love You ini,” tuturnya.

Sementara itu, Endik Koeswoyo selaku penulis skenario mengatakan bahwa film ini dibuat dengan proses yang cukup panjang. Ia harus melakukan riset kurang lebih empat tahun.

“Perjuangannya cukup panjang, dari riset karakter, penentuan cerita, pencarian pemain hingga penentuan tim produksi,” kata Endik di tempat terpisah.

Film ini akan dirilis MBK pada tahun 2019. Say, I Love You akan diisi oleh para pemain muda di antaranya Dinda Hauw, Teuku Ryzki, Alvaro Maldini, Rachel Amanda, Ashilla Zahrantiara, Nadira Octova, Shenina Cinnamon, Yosi Kristanto.

Bintang senior, seperti Verdi Solaiman, Teuku Rifku Wikana, Olga Lydia, MeriA Febriani, Butet Kertaradjasa dan Fuad Idris juga akan tampil di film ini. (pik)

Film ‘Bintang Ketjil’ Direstorasi

Konferensi Pers Restorasi Film Bintang Ketjil, Kemendikbud/Pusbangfilm

Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kembali merestorasi film nasional berjudul ‘Bintang Ketjil’. Film karya dua sutradara legendaris Indonesia, Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran pada 1963 ini menjadi film ketiga yang direstorasi Kemdikbud.

Kepala Pusbangfilm Maman Wijaya mengatakan, resrorasi dilakukan pada film-film Indonesia yang mulai rusak dan perlu diselamatkan karena memiliki nilai sejarah dan pendidikan yang tinggi bagi generasi muda dan dunia perfilman itu sendiri.

“Dua film lainnya yang sudah direstorasi adalah Darah dan Doa serta Pagar Kawat Berduri. Restorasinya pada 2013 lalu,” kata Maman di sela nonton bareng film Bintang Ketjil di CGV Cinema, FX Plaza Sudirman, Jakarta, Selasa (18/12).

Pemerintah dalam melakukan restorasi film bekerja sama dengan para ahli perfilman, para ahli arsip dan pihak perpustakaan. Pasalnya, melakukan penyelamatan arsip film tergolong kegiatan yang baru bagi pusbang film.

“Memang yang diselamatkan belum banyak, tapi saya yakin seiring bertambahnya pengetahuan, pengalaman dan keterampilan sumber daya manusia yang ada, bertahap kendala kami di pusbangfilm akan teratasi,” kata Maman.

Saat ini film Bintang Ketjil tersimpan rapi dalam arsip nasional Republik Indonesia dan sinematek.

Film Bintang Ketjil dibintangi Nana Awaludin, Maria Umboh, Lili Wee, Rd Ismail, Fifi Young. Dalam film itu ada sejumlah grup musik dan penyanyi yang turut mengisi yakni band Koes Bersaudara (sebelum menjadi Koes Plus) pimpinan Tonny Koeswoyo dan Simanalagi pimpinan Jules Fioole. (pik)

The Man From The Sea: Rayakan 60 Tahun Kerjasama Indonesia-Jepang Melalui Film

foto istimewa

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mempererat kerjasama dua bangsa. Salah satunya adalah dengan mempelajari budaya satu sama lain. Pendekatan yang paling efektif terhadap hal tersebut adalah dengan media film. Seperti yang tengah dilakukan oleh Nikkatsu, sebuah rumah produksi kenamaan Jepang dan rumah produksi Indonesia, Kaninga Pictures.

Film kolaborasi dua bangsa yang telah melalui masa syuting pada Agustus 2017 ini berjudul “Laut (The Man From The Sea)”. Disutradarai oleh Koji Fukada yang telah menghantarkan filmnya “Harmonium” (2016) mendapatkan “Jury Prize” pada kategori Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2016. Didukung oleh aktor dan aktris Jepang-Indonesia antara lain; Dean Fujioka, Adipati Dolken, Sekar Sari, Taiga, Junko Abe dan Mayu Tsuruta.

Film fantasi drama ini berkisah tentang seorang lelaki misterius bernama Laut (Dean Fujioka) yang ditemukan terdampar di pesisir pantai Banda Aceh. Pasca kemunculannya, ia melakukan berbagai macam keanehan yang mengundang kecurigaan serta keresahan banyak orang. Film ini diagendakan akan dirilis pertama kali di Jepang pada awal 2018, bertepatan dengan peringatan 60 tahun kerjasama Indonesia-Jepang. Setelah itu film ini berkeliling ke berbagai festival. Sementara Indonesia harus sedikit bersabar hingga pertengahan 2018.

Koji Fukada, sang sutradara film ini menjelaskan, ia mendapatkan ide film ini ketika ia bertandang ke Banda Aceh pertama kali pada tahun 2011, tepat setelah gempa bumi hebat yang melanda Jepang. Kedatangannya ke Aceh pada saat itu juga dalam rangka menghadiri simposium  bertema “Joint Disaster Recovery” yang diselenggarakan oleh Universitas Syiah Kuala dan Universitas Kyoto.

Setelah melakukan kunjungan tersebut, ia merasakan cara pandangnya secara dramatis berubah terhadap alam. Alam yang kita kenal indah dan memberikan berbagai kebutuhan, juga memiliki kekuatan besar yang bisa memusnahkan manusia. Jepang dan Indonesia bersama-sama hidup di antara lautan yang sama, lanjutnya, begitupun seluruh dunia, kita dihubungkan oleh satu lautan yang sama. Ia ingin mewujudkan fakta tersebut melalui karakter misterius dalam filmnya bernama “Laut”.

Koji Fukada awalnya sempat khawatir bagaimana proses produksi film di Banda Aceh. Tapi setelah dijalani, ia menyatakan kalau syuting di Aceh merupakan pengalaman syutingnya yang paling baik, paling nyaman dan hampir tidak ada kendala. Pemain Indonesia pun (Adipati dan Sekar Sari) bermain dengan unggul, langsung cocok dengan pemain Jepang.

Sekar Sari sendiri mengaku, meski berbeda bahasa, Fukada mengarahkannya dengan jelas dan sangat akomodatif. Bahkan sang stradara sempat memberika mereka semacam “kuliah perdana” tentang sejarah sinema dan akting. Sementara untuk menjalin ikatan yang baik dengan aktor dan aktris Jepang, ia bilang mereka sering pergi jalan-jalan bersama, datang ke pameran, menikmati makanan-makanan Indonesia, dan sebagainya. Selain berbeda bahasa dengan sutradara, Sekar Sari sendiri memerankan gadis Aceh yang kultur dan budayanya berbeda dari tempat ia lahir dan dibesarkan.

Bagi rumah produksi Nikkatsu, ini bukanlah film kolaborasi pertama dengan Indonesia. Sebelumnya mereka telah melakukan kolaborasi dengan sineas Indonesia dalam film “Killers” pada tahun 2014. Kaninga sendiri tidak serta merta mendapatkan jalan mulus dalam memproduksi film “Laut”.

Ada proses selama kurang lebih dua tahun, salah satunya ada perubahan berbagai gagasan yang harus kembali dicari jalan keluarnya. Ketika ditanya bagaimana melakukan pemutaran film ini di Aceh, dimana daerah ini belum memiliki bioskop sama sekali. Willawati mengatakan, Kaninga telah membuka “Kaninga Cinema” di Aceh, yaitu sebuah bioskop mini yang dimulai ketika peluncuran film “Bangkit”. Aceh selaku kota latar akan mendapat kesempatan untuk gala premier film “Laut” melalui bioskop mini ini. Bersabar Indonesia akhir 2018 baru main. (pik)

 

‘Magic Hour : The Series 2’ Syuting di Bali dan Amerika

“Magic Hour: The Series 2” akan kembali hadir menghibur penggemarnya pada awal 2019, dengan menghadirkan drama yang lebih kompleks.

“Magic Hour: The Series 2” masih dibintangi oleh Dimas Anggara sebagai Rangga, Michelle Ziudith sebagai Raina, Maxime Bouttier sebagai Tegar dan Yunita Siregar sebagai Mitha.

Menurut Michelle, “Magic Hour: The Series 2” memiliki cerita yang lebih beragam dan kompleks. Akan banyak kejutan yang tidak disangka oleh para penonton serial yang pertama.

“Di sini, Raina mutual konflik lebih banyak. Ternyata di season dua ini diungkap kisah hidup Raina dan yang lainnya. Otomatis dari kisah hidup Raina lebih banyak tekanan dan pressure,” kata Michelle Ziudith.

Dimas juga mengungkapkan bahwa perannya di sini akan lebih dewasa dibandingkan dengan Rangga yang dulu. Menurutnya, perubahan karakter ini akan sangat terlihat dalam serial tersebut.

“Di sini akhirnya dia menjadi karakter yang lebih dewasa dan bijaksana. Karena yang pertama dia sudah melewati konflik kehidupan. Di sini dia sudah menurunkan egonya dan melihat kepentingan orang bersama. Di sini karakternya juga lebih intimate banget,” jelas Dimas.

“Magic Hour: The Series 2” disutradarai oleh Asep Kusdinar.

Selain empat nama di atas, serial ini juga dibintangi oleh Nadya Arina, Dimaz Andrean, Ayushita, Meriam Bellina, Ira Wibowo, Anneke Jodi, Niniek L Karim, Surya Saputra, Amara, Dolly Martin, Teddy Yudhistira dan Hikmal Abrar.

Serial produksi Screnplay Films ini akan tayang di iflix pada Januari 2019. Iflix merupakan layar hiburan terkemuka yang dapat dinikmati lewat berbagai media seperti handphone atau laptop. (pik)