Novelnya Difilmkan, Ari Irham Jadi Pemeran Utama

Ari Irham–foto indoclubbing.com

Aktor muda sekaligus DJ Ari Irham dan Dwitasari merilis novel berjudul After Met You. Novel ini sangat akrab dengan segmentasi kawula muda saat ini yang menguak sisi romansa remaja.

Larisnya buku tersebut pun membuat RA Pictures dan Mega Pilar mengangkatnya menjadi sebuah film.
“Seneng banget sih soalnya PH-nya juga Mega Pilar dan RA Pictures dan bangga banget karya buku aku yang ke-2 bisa jadi film dan direalisasikan,” ungkap Ari Irham yang merasa
antusias  karena karyanya diapresiasi menjadi sebuah film.
Kendati demikian, lelaki berusia 20 tahun ini juga merasa was-was dengan respon penonton terhadap film yang berdasar dari novelnya. “Deg-degan sih deg-degan, ada orang yang nggak suka, juga ada orang yang pro-kontra. Jadi semoga aja orang menyukai dan responnya postif,” tambahnya.
Ari Irham  menjadi pemeran utama di film ini bersanding dengan Yoriko Angeline. Lelaki kelahiran Bandung ini berharap agar film After Met You bisa mendapatkan respon positif seperti novelnya.
“Bayangan aku semoga aja 100 persen, semoga aja disukai masyarakat Indonesia dan disukai semuanya,” harap Ari Irham. (pik)

Produser ‘Laundry Show’ Bantah Filmnya Dompleng Perceraian Gisel

MVP Pictures menjadikan Laundry Show  sebagai salah satu tontonan di tahun 2019. Drama komedi besutan Rizki Balki tersebut memasang bintang yang tengah menjadi sorotan yakni Gisella Anastasia, isteri aktor Gading Marten yang sedang digugat cerai.

Film ini rencananya akan rilis di bioskop pada awal Februari. Namun mulai melakukan promo dengan merilis trailer resmi.

Momen perilisan trailer diduga sengaja mendompleng kasus perceraian Gisel denganGading Marten yang baru bergulir. Namun Amrit Punjabi selaku produser membantah hal tersebut.

“Dari awal, rencana film ini memang untuk tayang Januari. Tapi dapatnya malah Februari,” tegasnya. Amrit Punjabi menegaskan, produksi filmnya tak ada hubungan dengan kasus yang membelit Gisel. “Kami murni buat film, gak berkaitan dengan cerita yang menimpa artis-artisnya,” papar Amrit. Selain Gisel, ‘Laundry Show’ juga diramaikan Boy William, Gading Marten, Aming, Ence Bagus, Tissa Biani, Opie Kumis dll. (pik).

Rizky Nazar dan Michelle Ziudith Dipertemukan Kembali di ‘Calon Bini’

Film Calon Bini menjadi wadah pertemuan kembali Rizky Nazar dan Michelle Ziudith setelah terlibat dalam film remaja romantis London Love Story 2.

“Kita sudah lama banget enggak ketemu. Terakhir dua tahun lalu pas syuting film London Love Story 2 dan sekarang kita main film bareng lagi,” ungkap Michelle Ziudith.

Ningsih (Michelle Ziudith), gadis asal Yogyakarta memilih kabur ke Jakarta setelah tahu akan dijodohkan Pak Le Agung (Ramzi) dengan anak Pak Kades (Butet Kertaradjasa) karena kendala ekonomi. Kepergian Ningsih menimbulkan masalah bagi keluarga di Yogyakarta. Sementara dalam perjalanan menuju Jakarta, Ningsih bertemu pria tampan di dalam kereta.

Ningsih tinggal di tempat Pak Prawira (Slamet Rahardjo), konglomerat yang tinggal bersama mertuanya (Niniek L. Karim). Mereka kerap berseteru, tetapi kehadiran Ningsih mengubah segalanya.

Film Calon Bini dikemas dalam komedi romantis dan menuntut Michelle Ziudith keluar dari zona nyaman untuk lebih ekspresif.

Selain kelima aktor di atas, beberapa pemain yang ikut terlibat di antaranya Cut Mini, Dian Sidik, Minati Atmanegara, Maya Wulan, Yuniza Icha dan special appearance Antonio Blanco, cucu dari pelukis ternama. (pik)

 

Film Yorick the Movie: Tontonan dan Tuntunan

Achmad Megantara–foto istimewa

Apa yang paling diharapkan penonton dari sebuah film?  Hiburan sekaligus inspirasi yang membangun. Demikianlah yang hendak diberikan film Yorick The Movie, arahan sutradara Pepi Chappy,  dan dilakoni Andryan Bima, Ratna Riantiarno, Megantara, dan Nina Kozok.

Yorick pada mulanya adalah judul novel karya Kirana Kejora, yang diterbitkan oleh PT. Nevsky Prospekt Indonesia pada tahun 2018 dengan nomor ISBN 978-602-528-830-2.

Dari Buku setebal336 halaman, ini oleh Dexandra Bayu sebagai produser,  dan Kin Fathuddin selaku produser eksekutif  dialihmediakan dalam format layar lebar. Film ini juga didukung oleh penata musik Tya Subyakto.

Film yang diangkat berdasarkan kisah nyata,  bernarasi ihwal perjuangan seorang anak laki-laki bernama Yorick,  dari desa kecil di Kecamatan Panjalu, Ciamis ini, dipastikan akan memenuhi ekspektasi penontonnya.

Bukan semata unsur hiburannya yang akan disajikan,  tapi juga inspirasinya.  Tentang Yorick kecil,  yang hanya dibesarkan oleh Mak Encum,  neneknya yang buta huruf. Dalam kondisi serba kekurangan.

Kemiskinan yang mengakrabi Yorick kecil,  tak membuat asanya menjadi manusia hebat sirna.  Berkat didikan Mak Encum, Yorick kelak menemukan makna petuah, “Apa yang tidak membunuhmu,  membuatmu menjadi kuat”.

Buktinya,  meski sejak kecil hidup Yorick tidak menentu, menggelandang di jalan tanpa tujuan. Kemandirian,  dan nilainilai budi pekerti dari Mak Encum diapegang dengan teguh.

Berani hidup jujur, rajin, konsisten, dan pantang menyerah, berhasil membuat Yorick mengubah rasa kelaparan, hinaan, dan keterpurukan menjadi sesuatu yang positif, hingga dia berhasil melewati seleksi alam: yang terkuat yang menang.

Yorick terlatih berjuang mengandalkan seluruh kemampuan yang dimilikinya, bukan hanya untuk bertahan hidup, namun juga untuk terus bisa maju.

Dengan bekerja serabutan, dari mencuci piring, mencuci sepeda motor, kuli angkut, servis komputer, sampai akhirnya menjadi programer IT.

Sampai akhirnya, hasil akhir tidak akan mengkianati proses yang harus dilaluinya.

Buktinya,  sebagaimana yang didapatkan sekarang. Bocah malang yang hanya diasuh neneknya yang buta huruf itu,  bisa membangun usahanya sendiri. Rumusnya sederhana,  beberapa kali terjatuh, tak membuatnya patah, apalagi menyerah,  justru sebaliknya, semakin menjadikan semangatnya membesar.

Tak pernah patah, itulah prinsipnya. Hingga kini, bisnisnya berkembang menjadi jaringan bisnis besar di berbagai negara.

Dari sini saja,  kita tahu nilai-nilai perjuangan hidup yang harus dilalui dan dirayakan Yorick, dapat menjadi kaca benggala bagi pembaca novel Yorick,  penonton film Yorick the Movie,  sekaligus aplikasi Yorick.

Karena membaca novel Yorick,  juga menonton film Yorick the Movie,  yang bernarasi tentang orangorang yang tak pernah mau menyerah, dan kalah oleh badai kehidupan. Adalah membaca dan menonton panggung perjuangan.

Sebagaimana dikatakan Pepi Chappy,  kisah Yorick adalah kisah kita sebagai manusia. Jadi, “Menonton Yorick adalah menonton diri kita sendiri, ” katanya.

Hal senada dikatakan Meghantara, yang dilibatkan sebagai pemain kunci, atau berlakon sebagai Yorick. Dia mengaku sangat tersanjung dilibatkan dalam film yang inspiratif ini.

“Yorick menurut gue, yang telah berbicara langsung dengan orangnya. Adalah sosok yang luar biasa.  Karena dia mampu bertarung dengan kehidupan, dengan segala keterbatasannya. Kalau ada orang yang mampu bersahabat dengan badai, ya Yorick,” kata Meghantara.

Dia melanjutkan, banyak kehidupan yang pilu dan penuh sembilu yang harus dilewati sosok Yorick, dari kecil. Sampai akhirnya sekarang Yorick benar-benar menjadi orang yang sangat sukses. “Meski kita ngga akan ngeh kalau dia sangat kaya raya sekali, berkat perjuangan hidupnya,” katanya.

Yorick the Movie, menurut Meghantara, adalah kisah menginspirasi dari manusia bermental baja. Yang akan menjadi pembelajaran pembaca novel dan penonton filmnya.

Film yang menurut rencana akan edar dalam waktu dekat ini, dipastikan banyak memberikan pesan. Bahwa semua orang, tanpa terkecuali,  layak untuk sukses. Meski memiliki keterbatasan finansial juga fisik sekali pun.

Oleh karenanya,  karya inspiratif putra Jawa Barat, yang mengusung motto, “keberanian yang akan mengantarkan pada kesuksesan” ini,  bersiap tayang di 5 Negara. Dari Indonesia, Singapore, Hongkong, Brunei, dan Malaysia. (pik)

 

 

Visions of Peace Perjuangkan Perdamaian Lewat Karya Seni.

Damien Dematra founder dari Visions of Peace bersama Natasha Dematra sebagai co-founder–foto istimewa

Visions of Peace festival yang berlangsung selama 1 tahun ini merupakan festival yang berfokus mencari karya-karya seni seperti; film, gambar, lukisan, fotografi, puisi, tarian, cerita pendek, stand up comedy, dan lain-lain yang bertema perdamaian.

Festival ini baru berlansung selama satu tahun, namun telah diadakan di 4 kota di Indonesia; Yogyakarta, Makassar, Semarang, dan Jakarta. Sedangkan Bogor dan Bandung sedang dalam masa penjurian. Dalam waktu dekat akan diadakan di Surabaya, Bali, Palu dan Surakarta. Festival ini sendiri ditujukan untuk anak 6-18 tahun.

Acara ini dihadiri langsung oleh Cheryl Halpern dan Damien Dematra founder dari Visions of Peace bersama Natasha Dematra sebagai co-founder.

Cheryl Halpern selaku founder mengatakan merupakan sebuah kebangaan baginya untuk bisa bersama para anak muda Indonesia yang mengikutkan karyanya sebagai bentuk ekspresi mereka atas visi hari esok yang lebih baik. “Saya merasa sangat tersentuh melihat karya-karya anak muda Indonesia yang terpilih sebagai finalis dan saya menghargai Natasha Dematra yang membantu menerjemahkan puisi para finalis. Saya ucapkan “selamat” dan “terimakasih” kepada para pemenang atas karyanya yang sangat berarti tentang perdamaian.”  Saya berharap kedepannya akan lebih banyak lagi anak muda Indonesia yang membawa visi perdamaian ini kepada seluruh generasi muda Indonesia.

Damien Dematra mengatakan total peserta 625 untuk kota Jakarta lalu dipilih 25 finalis dan kemudian dipilih 3 juara. Dimana, Juara 1 diberikan kepada Adrieo Ramadhan
dengan Karya Gambar “Perdamaian” dari SMP Muhammadiyah 10, Juara II jatuh kepada Sirli Fitriani dengan Karya Puisi “Esensi Perdamaian” dari SMK Muhammadiyah, Juara III diberikan kepada Dance Project dari SD Muhammadiyah 49.

Menurut Imam Prihadiyoko pimpinan menara62, acara ini diselenggarakan bersama ulang tahun menara62 yang merupakan media Muhammadiyah. Ia menambahkan, perdamaian merupakan sesuatu yang merupakan esensial dan sesuai dengan prinsip Muhammadiyah yaitu, “Membawa Perdamaian Bagi Semua Orang.”

Ketua Umum, (Madukara) Majelis Adat Budaya Keraton Nusantara, Sri Anglung Prabu Punta Djajanagara Cakrabuana Girinata mengatakan, kami generasi sekarang seharusnya malu pada generasi muda yang bisa menciptakan karya-karya indah dan memahami arti perdamaian dari hati.

Sultan Indra Osman; Kesultanan Indrapura, Sumatera Barat, Ir. KPH Randi Indra Syahdan; Kesultanan Indrapura, Sumatera Barat, Ratu Maya Damayati Yasadar Alam dari Bacan, Ratu Petuanan Tanah Rata Koko Imeko, Papua Barat, Ratu Enong Mandala, Kesultanan Banten. Para juri mengaku puas dengan karya-karya peserta. (pik)

 

 

Dewa Budjana Rilis Album Mahandini

Dewa Budjana–foto istimewa

Dewa Budjana merilis album baru. Album yang ke 10 bertajuk Mahandini bekerja sama dengan musisi dan penyanyi yang sudah punya nama di pentas musik. Adalah Jordan Rudess, Marco Monnemann, Mohini Dey, Mike Stren, John Frusciante, Soimah Pancawati.

“Ini termasuk hak unik dalam kedekatan saya dengan Frusciante. Karena jarang ada yang bisa ngajak dia kerja bareng,” ujar Dewa Budjana saat Press Conference di Resto Queen Head, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (10/12).

Komposisi musisi yang terlibat memang unik. Mereka berasal dari beragam latar belakang genre musik. Masing-masing mempunyai pengalaman dan jam terbang tinggi.

Sejak 2002 Budjana membuat rekaman dengan musisi jazz AS seperti peter erskine, Jimmy Johson, Vinnie Colaiuta, Tony Levin, Gary Husban, Antonio Sanchez, Jack Dejohnette.

“Kali ini pengen beda aja, gimana jadinya komposisi-komposisi saya direspons oleh musisi prog rock. Berbeda dengan album sebelumnya, di album ini ada beberapa lagu yang vocal dan karakter musiknya lebih keras,” tambahnya.

Mahandini merupakan gabungan dari dua kata yaitu Maha dan Nandini. Maha yang berarti besar dan Nandini adalah kendaraan. Bisa diartikan sebagai kendaraan yang maha atau besar. Kendaraan dalam konteks album ini adalah musisi dengan nama besar. Selain Jakarta, album Mahandini juga akan diluncurkan di Jogjakarta, 20 Desember 2018, disertai pameran senirupa  karya 55 perupa. (pik).

 

‘Tembang Lingsir’ Film Horor Penuh Teka Teki

Rizal Mantovani –foto istimewa

Sutradara Rizal Mantovani yang berhasil mem-booming-kan lagu ‘Lingsir Wengi’ terkesan horor dan identik dengan film ‘Kuntilanak’, kini ia siap menelurkan karya terbarunya bertajuk ‘Tembang Lingsir’ yang benar-benar terinspirasi dari lagu berbahasa Jawa itu.

Film yang diproduksi MD Picture dan Dee Company ini disebut Rizal sebagai film yang sarat dengan teka-teki yang jalan ceritanya sulit ditebak dan baru akan terjawab menjelang ending cerita.

“Waktu dapat cerita ini, bahwa ini sebuah horor misteri dengan semua teka teki, di ending baru ada jawaban, kalau biasanya 20 menit udah ketebak, di misteri puzzlenya baru ketebak hampir di belakang,” ujar Rizal saat melaunching trailer ‘Tembang Lingsir’ di Metropole XXI, Jakarta Pusat, Senin (10/12/2018).

Film yang mengambil latar di sebuah rumah di kawasan Sentul, Bogor, ini memakan waktu hingga 20 hari untuk proses syuting, dan rencananya akan tayang pada 31 Januari 2019.

Marsha Aruan didapuk menjadi peran utama yang memainkan karakter Mala yang tiba-tiba tidak bisa berbicara tanpa sebab.

Tidak ada kejadian horor apapun selama proses syuting berlangsung, namun para aktris dan aktor hingga tim produksi menjanjikan jalan cerita yang menarik dan tak biasa, akan membuat penasaran penonton untuk mengetahui ending ceritanya.

Selain Marsha Aruan, aktris pendatang baru Aisyah Aqila, Jennifer Rochelle, Teuku Rifnu Wikana dan Meisya Siregar ikut terlibat dalam film ini.

Film ini berkisah tentang gadis bernama Mala (Marsha Aruan) yang sering kali dinyanyikan lagu ‘Lingsir Wengi’ oleh ibunya yang tiba-tiba meninggal akibat kebakaran, sejak itu Mala tak bisa bicara.

Mala akhirnya tinggal di rumah Om Gatot (Teuku Rifnu Wikana) dan istrinya Tante Gladys (Meisya Siregar), bersama kedua sepupunya Daisy (Aisya Aqila) dan Ronald.

Sejak kedatangan Mala ke rumah itu, suasana berubah seketika, banyak kejadian yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar dan logika.

Film horor asal skenario menarik dan berdasar logika, pasti ditonton masyarakat,” tandas Rizal yang akan siap dengan film terbarunya bertajuk ‘Elang’ tahun depan (pik).

 

Pekan Sinema Jepang 2018

Pekan Sinema Jepang digelar selama seminggu mulai 7-16 Desember 2018 di CGV Grand Indonesia, Jakarta. Acara ini digelar dalam rangka merayakan 60 tahun hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia.

“Melalui Pekan Sinema Jepang 2018 kami berharap semakin banyaknya pengertian akan kebudayaan Jepang dan hubungan dengan Indonesia semakin erat,” tutur Toshiya Nato sebagai wakil ketua Badan Urusan Kebudayaan, Pemerintah Jepang dalam acara pembukaan di CGV Grand Indonesia.
 
Sebanyak 36 film Jepang dapat dinikmati sepanjang pekan terbagi atas enam kategori yakni New J-Director, New J-Film, Samurai Historical, Kira-Kira Teen, Tokusatsu Special Effects, serta Documentary.
 
One Cut of the Dead, film komedi yang dianggap paling populer tahun ini di Jepang dipilih sebagai film pembuka. Empat pemeran film, Harumi Shuhama, Yoshiko Takehara, Kazuaki Nagaya, Sakina Asamori juga turut dihadirkan
 
Sementara aktris asal Indonesia, Velove Vexia terpilih sebagai duta Pekan Sinema Jepang 2018. “Terima kasih atas terpilihnya saya sebagai duta Pekan Sinema Jepang 2018. Tahun ini acaranya lebih besar, filmnya juga beragam, ada kedatangan aktor dan sutradara Jepang sepanjang rangkaian acara ini,” ujarnya dalam acara pembukaan.
 
Film fantasi berlatar tempat di Aceh, The Man of The Sea akan menjadi penutup pada hari terakhir. Aktor terkenal Jepang, Dean Fujioka sebagai pemeran utama akan hadir pada 16 Desember 2018. Jadwal lengkap Pekan Sinema Jepang 2018 dapat dilihat di website resmi jcinema2018.id. (pik)

Gading Marten: Ini Kado Natal Terbaik Saya

Gading Marten Aktor Terbaik Festival Film Indonesia 2018

Gading Marten menang sebagai aktor terbaik dalam penganugerahan Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) untuk perannya di film Love For Sale yang diumumkan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Minggu (9/12/2018).

Gading Marten sendiri mengaku tidak pernah menyangka filmnya, Love For Sale dapat membawa perjalanan karirnya sejauh ini.

“Enggak pernah nyangka akan sejauh ini. Ini kado natal terbaik yang saya terima,” ujar Gading.

Gading memenangkan Pemeran Utama Pria Terbaik mengalahkan nominator lain, yaitu Adipati Dolken (Teman Tapi Menikah), Ario Bayu (Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta), Iqbaal Ramadhan (Dilan 1990), Oka Antara (Aruna & Lidahnya), Vino G Bastian (Chrisye).

Sambil berkelakar, Gading mengaku tidak menyangka dan ingin memeluk Piala Citra di kasur.

“Saya ingin bawa tidur, sudah lama soalnya enggak peluk. Jadi peluk ini dulu,” ucap Gading Marten saat menerima Piala Citra dalam ajang FFI 2018 di Taman Ismail Marzuki.

“Christmas come early (Natal datang lebih cepat),” tambah Gading lagi.  Aktor ganteng yang sedang syuting film ‘Naga Bonar’ di Danau Toba ini juga mempersembahkan piala Citra untuk ayahnya, Roy Marten. “Pa..anak papa aktor juga..,” teriak Gading disambut tawa penonton

Gading Marten mengatakan, peran Richard yang diberikan kepadanya pada film arahan sutradara Andi Bachtiar Yusuf sebenarnya berawal dari obrolan iseng belaka.

“Enggak nyangka karena dari obrolan iseng sama Chicco dan Angga Sasongko. Awalnya aku kira enggak disuruh main film. Dari obrolan iseng berakhir ke panggung FFI,” kata Gading.

Gading mengungkapkan demi perannya tersebut ia harus melakukan berbagai persiapan yang cukup berat, seperti menaikkan berat badannya.

“Jadi Richard harus naikin berat badan 7 kg, mungkin saya cocok menang karena nominasi lain mungkin terlalu ganteng,” pungkasnya sambil tertawa.

Sebelumnya, dari film yang sama, Gading juga terpilih menerima penghargaan aktor terbaik pilihan Tempo dalam Film Festival Film Tempo.

“Terima kasih penonton film Indonesia. Terima kasih keluarga tersayang,” ujar Gading Marten.

Berikut daftar lengkap pemenang Piala Citra 2018:

Sutradara Terbaik

Mouly Surya – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penulis Skenario Asli Terbaik

Mouly Surya, Rama Adi – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penulis Skenario Adaptasi Terbaik

Titien Wattimena – Aruna & Lidahnya, adaptasi novel Aruna & Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak

Pengarah Sinematografi Terbaik

Yunus Pasolang – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Pengarah Artistik Terbaik

Frans Xr Paat – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penata Efek Visual Terbaik

Keliek Wicaksono – Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Penyunting Gambar Terbaik

Kelvin Nugroho – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penata Suara Terbaik

Khikmawan Santosa, A. Patawari – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Penata Musik Terbaik

Zeke Khaseli, Yudhi Arfani – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Pencipta Lagu Tema Terbaik

Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro (Judul Lagu: Kulari Ke Pantai) – Kulari Ke Pantai

Penata Busana Terbaik

Adrianto Sinaga, Nadia Adharina – Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Penata Rias Terbaik

Jerry Octavianus – Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Pemeran Utama Pria Terbaik

Gading Marten – Love For Sale

Pemeran Wanita Utama Terbaik

Marsha Timothy – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Pemeran Pendukung Pria Terbaik

Nicholas Saputra – Aruna & Lidahnya

Pemeran Pendukung Wanita Terbaik

Dea Panendra – Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Pemeran Anak Terbaik

Ni Kadek Thaly Titi Kasih – Sekala Niskala

Film Pendek Terbaik

Kado

Film Dokumenter Panjang Terbaik

Nyanyian Akar Rumput

Film Dokumenter Pendek Terbaik

Rising The Silence

Film Cerita Panjang Terbaik

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Film Animasi Terbaik

Si Juki The Movie

Lifetime Achievement

Widyawati

 

Penulis: ipik

 

Promotor Jelaskan Ketakhadiran Jokowi di Konser Judas Priest

Jumat 7 Desember 2018, band heavy metal, sukses memuaskan para metalhead Tanah Air. Judas Priest pun tampil sekira 16 lagu dengan durasi 100 menit dari album teranyarnya Firepower hingga album terdahulunya.
Judas Priest menantikan kehadiran dari Presiden Joko Widodo namun sayang orang nomor satu di Indonesia itu tampak tidak hadir pada konser perdananya di Indonesia. Padahal, seperti yang kita tahu, Jokowi menjadi salah satu fans dari band asal Britania Raya itu.
Lantas, kemanakah Presiden Joko Widodo?
Melalui Anas Syahrul Alimi selaku CEO Rajawali Indonesia Communication menyampaikan bahwa pihak istana memang sudah memberikan konfirmasi mengenai ketidakhadiran Jokowi dalam konser dari Rob Halford cs. Mengingat belum lama ini ada sebuah kejadian tidak mengenakkan di Papua yang membuat Jokowi harus fokus terhadap itu.
“Dari konfirmasi yang kami terima, sebenarnya beliau mau datang. Tapi beliau sangat tahu kondisi kan, habis ada peristiwa di Papua jadi beliau turut berempati,” ungkap Anas saat dijumpai di Allianz Ecopark Ancol, Jakarta Utara pada Jumat 7 Desember 2018.
“Kedatangan di sini kan hanya soal hobi jadi beliau lebih mengalah lah, karena apapun itu beliau sebagai seorang Presiden,” sambungnya.
Sempat ingin datang, namun hal itu tak memungkinkan. Ini pun sudah melalui pertimbangan-pertimbangan dari Presiden Joko Widodo.
“Jadi sebenernya tadi dari beberapa acara mau kesini, tapi ada beberapa pertimbangan, beliau sangat berempati dengan kejadian di Papua akhirnya enggak datang,” tuturnya.
Meski demikian, pihak dari Judas Priest yang juga mengharapkan kedatangan dari Jokowi, tidak merasa kecewa dengan ketidakhadiran dari orang nomor satu di Indonesia.
“Dan kami telah komunikasikan dengan Judas Priest dan mereka sangat paham,” pungkasnya.
Tampil berlima, Judas Priest saat ini dikawal oleh Rob Halford (vokal), Andy Sneap (gitar), Richie Faulkner (gitar), Ian Hill (bas) dan Scott Travis (drum). Menjelang tiga lagu terakhir, posisi Andy Sneap digantikan Glenn Tipton yang terkena parkinson.
Meski hanya 3 lagu, namun cabikan gitar Glenn Tipton tetap memukau. Peraih Grammy Awards sebagai Best Metal Performance 2010 ini mengawali Firepower sebagai nomor pembuka dan Living After Midnight sebagai lagu penutup. Dengan sound mulus dan apik yang ditingkahi lighting yang wah, konser perdana Judas Priest di Indonesia ini cukup memuaskan dahaga para metal heads. (pik)