Hasil Riskesdas 19 Juta Penduduk Alami Gangguan Mental, Ini Tanda-tandanya

JAYAKARTA NEWS— Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018, dilaporkan bahwa lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi. Penyakit gangguan kesehatan mental pada remaja dan orang dewasa ini jangan dianggap remeh, namun perlu perhatian bagi orangtua dan lingkungan sekitar.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat FKKMK UGM, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., sebagaimana dikutip unair.ac.id mengatakan, para orang tua, guru dan lingkungan sekitar perlu mengetahui tanda gejala awal bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Menurut Yayi Suryo, gejala awal gangguan kesehatan mental dapat dilihat dari munculnya beberapa penyakit tertentu sampai menimbulkan stres karena adanya perasaan tertekan, cemas atau tegang sehingga menuntut tubuh seseorang untuk melakukan penyesuaian.

“Dalam kondisi stres yang berkepanjangan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang profesional,” kata Yayi saat menjadi narasumber Sekolah Wartawan yang bertajuk Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental yang berlangsung di ruang Sidang 1, Gedung Pusat UGM, Senin (13/2).

Penyebab timbulnya stres ini menurut Yayi bisa disebabkan oleh pekerjaan hingga faktor ekonomi, relasi hubungan dengan pasangan dan orang tua yang tidak harmonis. Ia menyampaikan bahwa gangguan kesehatan mental bisa menimbulkan dampak pada gangguan secara fisik, pikiran dan emosional. “Hampir 50 persen pasien yang datang ke dokter itu berhubungan dengan psikologi,” katanya.

Adapun gejala umum stres yang ditemui pada gangguan fisik adalah mudah kelelahan, pusing, diare, tekanan darah naik, mual, sakit di dada, gemetar, sakit perut, sulit tidur, sudah bernafas, peningkatan detak jantung dan gatal-gatal di kulit. Sementara gangguan pikiran ditunjukkan adanya sulitnya konsentrasi, mudah lupa, sulit mengambil keputusan, distorsi, berpikir irasional, sulit mengingat, paranoia, kesulitan menyelesaikan masalah dan gagal fokus.

Sedangkan gangguan pada emosional dan tindakan dapat dilihat dari tanda seseorang itu mudah marah, menarik diri, banyak absen (tidak hadir), sering terlambat, terlalu sensitif, makanan yang kompulsif, menyelesaikan masalah dengan pelarian ke minuman keras, obat dan rokok. Lalu, gangguan dalam hubungan interpersonal dan perubahan pada pola tidur dan pola makan.

Jika dibiarkan berlarut larut, kata Yayi, tingkat stres yang berlebihan bisa menjurus pada kondisi depresi dengan adanya gejala munculnya perasaan sedih yang berlebihan, kehilangan minat dan kesenangan, perasaan merasa tidak berguna, gangguan tidur dan gangguan selera makan, menjadi tidak bersemangat, mengalami konsentrasi rendah dan perasaan tidak berdaya.  “Depresi ini sangat berbahaya jika punya ide bunuh diri, dimulai dari mengurung diri maka bisa memunculkan seseorang untuk ide bunuh diri,”paparnya.

Soal gejala awal gangguan kesehatan mental ini seharusnya perlu disosialisasikan pada orang tua dan guru-guru di sekolah sehingga bisa mendeteksi jika ada remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental di awal. “Bisa identifikasi, gejala depresi ringan dan sedang bisa konsultasi dengan profesional. Sayangnya di tidak semua daerah punya psikolog di puskesmas, apalagi ini belum menjadi program prioritas nasional,” jelasnya

Sebagai Ketua Health Promoting University (HPU) UGM, Yayi menuturkan pihaknya akan bekerja sama dengan banyak kampus lain yang tergabung dalam jejaring kampus sehat untuk melakukan kegiatan pengabdian edukasi dan sosialisasi soal menjaga kesehatan mental di masyarakat.”Apalagi Fakultas Psikologi di Indonesia itu ada lebih dari 100,” katanya.***unair.ac.id

Mahasiswa Unair Cetuskan Ide Pengobatan Kanker Payudara Berbasis Daun Pepaya

JAYAKARTA NEWS – Kanker payudara hingga kini menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Pengobatan kanker secara umum kini memang lebih banyak berfokus pada kemoterapi yaitu dengan mengirimkan zat kimia pada sel kanker pasien. Namun, efek samping dari kemoterapi sangatlah besar karena banyaknya zat kimia yang harus diserap oleh tubuh.

Dari kekhawatiran itu, dua mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas pengobatan kanker berbasis tanaman herbal. Mereka adalah Qiara Amelia Putri Priyono dan Mochamad Radika Tory Alfiansyah. Keduanya berhasil memenangkan juara pertama dalam kompetisi Pharmacope 2022 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS).

Mochamad Radika Tory Alfiansyah (kiri) dan Qiara Amelia Putri Priyono, pemenang Pharmacope 2022/sumber foto: unair.ac.id

Dikutip dari laman unair.ac.id, dalam ajang perlombaan tersebut, keduanya mengajukan gagasan pengembangan teknologi sediaan patch berbasis ekstrak daun pepaya. 

Patch, seperti yang dilansir dari One International Indonesia merupakan teknologi transdermal yang bekerja dengan cara memungkinkan obat masuk ke dalam tubuh dari plester yang ditempel di luar kulit. Inovasi seperti ini berguna untuk meminimalisir interaksi obat dan memudahkan pasien yang kesulitan menelan obat.

Berdasarkan keterangan Radika, daun pepaya yang diambil ekstraknya memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan kemoterapi yang kini digunakan sebagai pengobatan kanker. Ekstrak daun pepaya yang dimaksud dapat menghasilkan kuersetin yang mampu meningkatkan kematian sel kanker payudara. Nanti ekstrak ini dapat diformulasikan dengan berbasis nanoliposom hingga akhirnya dibentuk menjadi patch transdermal.

“Dalam hal ini, kami memilih daun pepaya karena terbukti bahwa ketersediaannya di Indonesia sangat melimpah dan mampu dikombinasikan adanya pengembangan teknologi sediaan farmasi sebagai suatu inovasi baru dalam suatu pengobatan,” jelas Qiara.

Qiara dan Radika mengaku harus membagi waktu secara cermat ketika mengikuti perlombaan ini. Pasalnya, mereka harus mengatur alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah sekaligus mengumpulkan esai dan poster lomba tepat waktu.

Namun mereka tetap sukses dengan didasari keinginan kuat untuk memanfaatkan teknologi berbahan dasar alam. Keduanya juga tidak lupa mendorong rekan-rekan sesama mahasiswa sana untuk senantiasa berprestasi dan tetap peka terhadap lingkungan sekitar.

“Selama mengikuti pembelajaran tetap fokus dan kerjakan tugas tepat waktu, namun jangan lupa lihatlah lingkungan sekitar. Tetap peka dan berinovasilah untuk Indonesia lebih maju melalui karya dan prestasi kalian,” ujar Qiara.***unairnews

Upaya Tutupi Kebenaran dalam Kasus Brigadir J, Pakar Hukum UNAIR: Masuk Penistaan Hukum

JAYAKARTA NEWS— Hingga saat ini, sebanyak 97 anggota polisi telah diperiksa untuk memastikan keterlibatannya dalam skenario obstruction of justice atau upaya menutupi kebenaran dalam kasus kematian Brigadir Joshua atau yang biasa dipanggil Brigadir J. Berkaitan dengan hal itu, Dosen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) Sapta Aprilianto SH MH LLM menjelaskan konsep obstruction of justice hingga ancaman pidananya.

Obstruction of Justice dalam Pasal 221 KUHP

Sapta menjelaskan bahwa dalam konteks kepolisian, pelanggaran etik belum tentu pelanggaran hukum. Tetapi, pelanggaran hukum pasti pelanggaran etik.

“Oleh karena itu, perlu dipastikan apakah mereka (anggota polisi yang diperiksa, Red) itu memang mengetahui (kebenaran kasus kematian Brigadir J, Red) dan membuat skenario berbeda dari kebenarannya, atau apakah secara formil mereka memang diharuskan mem-publish suatu berita, dimana berita itu dapat dari atasannya atau bawahannya, sehingga ia mem-publish berita sebagaimana diberitakan awal (polisi tembak polisi, Red),” terangnya sebagaimana dikutip dari laman unair.ac.id

Selanjutnya, Sapta menjelaskan bahwa jika anggota polisi yang diperiksa tersebut terbukti mengetahui kebenaran kasus kematian Brigadir J dan ikut serta membuat skenario yang berbeda dari kebenarannya, maka ia telah melakukan obstruction of justice. Dalam hal ini, obstruction of justice diatur dalam Pasal 221 KUHP ayat (1) dan (2).

Lebih lanjut, Sapta juga memaparkan maksud kesengajaan yang ada dalam Pasal 221 KUHP. “Kesengajaan yang dimaksud atau ada di dalam Pasal 221 KUHP ayat (1) maupun (2) adalah kesengajaan yang sifatnya luas. Ada kesengajaan sebagai maksud, sebagai kepastian, sebagai kemungkinan. Sehingga, sulit bagi mereka untuk berdalih atau lepas dari Pasal 221 KUHP,” jelasnya.

Akan tetapi, Sapta menegaskan bahwa maksud kesengajaan dalam Pasal 221 KUHP adalah kesengajaan aktif. Sehingga jika ada anggota polisi yang mengetahui kebenaran kasus kematian Brigadir J, tetapi tidak melakukan apapun dengan maksud menyembunyikan kebenaran, maka ia tidak bisa disangkakan dengan Pasal 221 KUHP.

Ante Factum dan Post Factum

Sapta juga menjelaskan tentang 97 anggota kepolisian yang diperiksa dan disangkakan dengan Pasal 221 KUHP bukan Pasal 340 KUHP. Hanya kelima tersangka yang disangkakan dengan Pasal 340 KUHP yaitu eks Irjen Ferdy Sambo, Bharada Richared Eliezer atau Bharada E, Brigadir Ricky Rizal, Kuat Maaruf, dan Putri Candrawati.

Sebab, 97 anggota kepolisian yang diperiksa ini diduga obstruction of justice yang berarti membantu menyembunyikan kebenaran setelah peristiwa pidana, bukanlah merencanakan peristiwa pidana itu sendiri. “Saya minta untuk hati-hati mengingat adanya ante factum dan post factum,” terangnya.

Penistaan Hukum Acara Pidana

“Bukan cuma pelanggaran, ini penistaan hukum acara pidana,” jelas Sapta. Menurutnya, obstruction of justice dalam kasus kematian Brigadir J sudah termasuk dalam penistaan hukum acara pidana bahkan pelanggaran HAM. Hal ini dikarenakan setelah dipastikan ada peristiwa pidana yaitu matinya seseorang, tersangka tidak segera ditetapkan bahkan ditukar dan barang bukti dilenyapkan.***unair.ac.id

Vaksin Merah Putih UNAIR Tunggu Ijin BPOM untuk Uji Klinis Fase 3

JAYAKARTA NEWS— Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (UNAIR) terus menunjukkan perkembangan yang positif. Setelah pada 9 Februari 2022 lalu memasuki tahap uji klinis fase 1 dan dilanjutkan dengan fase 2, tak lama lagi akan masuk pada uji klinis fase 3. Terkait uji klinis fase 3, UNAIR sangat berkomitmen tinggi mematuhi semua mekanisme dan prosedur yang ditetapkan oleh pihak berwewenang.

“Penerbitan PPUK (Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik, Red) sepenuhnya menjadi kewenangan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Red) dan UNAIR menyerahkan sepenuhnya urusan PPUK kepada BPOM. Artinya, UNAIR siap melaksanakan uji klinis fase 3 kapan pun sesuai ijin dari BPOM,” jelas Prof Dr Mohammad Nasih SE MT Ak, Rektor UNAIR yang dihubungi melalui sambungan telpon, kemarin. Demikian dikutip dari laman unair.ac.id

Seperti halnya pada fase-fase sebelumnya, Vaksin Merah Putih UNAIR yang telah ditunggu oleh jutaan masyarakat Indonesia ini membutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak, termasuk masyarakat Indonesia. Kebutuhan relawan untuk menjadi subyek pada fase 3 ini cukup banyak, mencapai sekitar 3500-4000 relawan.

Untuk itu, peran serta masyarakat, terutama yang belum pernah divaksin untuk menjadi bagian dalam sejarah bangsa Indonesia juga sangat ditunggu. Sehingga, Vaksin Merah Putih UNAIR ini dapat segera dirasakan manfaatnya bagi bangsa Indonesia.

“UNAIR berharap dapat memenuhi timeline yang dirancang, agar karya anak bangsa ini bermanfaat secara optimal untuk negara,” ucap Prof M Nasih.

Pada konferensi pers terkait kenaikan peringkat UNAIR di ranking #369 dunia versi QS WUR pada Kamis 9 Juni 2022 lalu, Prof Nasih menyampaikan bahwa proses riset dan pengembangan Vaksin Merah Putih UNAIR ini sudah bekerja sama dengan berbagai pihak. Termasuk dalam hal pembiayaan untuk fase 3 juga sudah disetujui oleh Kementerian Kesehatan RI.

“Vaksin Merah Putih ini mulai A-Z-nya dikelola dan kemudian di-manage dikembangkan oleh putra putri Indonesia dan di dalam laboratorium yang ada di Indonesia. Tentu ini menjadi awal yang bagus dan sekali lagi kami sedang menunggu arahan kawan-kawan yang punya otoritas di sini yakni BPOM,” ujar Rektor UNAIR.***/din

Kenapa Minyak Goreng Masih Saja Langka? Ini Pemaparan Ekonom Unair 

JAYAKARTA NEWS-Kelangkaan minyak goreng di Indonesia masih terus terjadi. Pakar ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD menyebutkan bahwa kelangkaan minyak goreng di pasaran tidak terlepas dari mekanisme penawaran dan permintaan atau supply and demand.

Minyak goreng merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia.  Berdasarkan IHK (Indeks Harga Konsumen) Indonesia, minyak goreng memiliki kontribusi yang besar. 

Hal tersebut karena  minyak goreng merupakan salah satu barang yang dikonsumsi masyarakat setiap harinya. “Bobot terhadap inflasinya juga cukup tinggi,” ucap Rossanto,dalam rilisnya, Selasa (1/3).

Kelangkaan minyak goreng disebabkan karena ada kenaikan dari sisi permintaan  (demand) dan penurunan dari sisi penawaran (supply). Beberapa faktor berikut menjadi penyebabkan penurunan supply, utamanya produsen mengalami penurunan dalam memasarkan minyak goreng di dalam negeri.

CPO (Crude Palm Oil) merupakan salah satu jenis minyak nabati yang paling banyak diminati oleh masyarakat dunia. Saat ini harga CPO di pasar dunia sedang mengalami kenaikan harga. Kenaikan itu dari 1100 dolar AS menjadi 1340 dollar.

Akibat kenaikan CPO, produsen minyak goreng lebih memilih menjual minyak goreng ke luar negeri dibandingkan ke dalam negeri. “Produsen akan mendapatkan  keuntungan  yang lebih besar apabila menjual minyak goreng ke luar negeri,” jelasnya.

Faktor kedua adalah kewajiban pemerintah terkait dengan program B30. Program B30 adalah program pemerintah untuk mewajibkan pencampuran 30 persen diesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis solar. “Ada peralihan menuju ke produksi biodiesel,” terangnya.

Saat ini, terang Rossanto, konsumsi yang seharusnya digunakan untuk minyak goreng digunakan untuk produksi biodiesel. Hal itu karena ada kewajiban untuk pengusaha CPO agar  memenuhi market produksi biodiesel sebesar 30 persen.

Faktor ketiga adalah kondisi pandemi Covid-19 yang belum selesai. Ada beberapa negara di belahan dunia lain yang sedang mengalami gelombang ketiga Covid-19.  Konsumen luar negeri yang selama ini menggunakan minyak nabati juga mulai beralih ke CPO. “Sehingga ada kenaikan permintaan di luar negeri terkait ekspor CPO,” terangnya.

Rossanto menekankan bahwa produsen minyak goreng hanya ada di beberapa daerah saja. Sedangkan proses distribusi minyak goreng dilakukan ke berbagai daerah di Indonesia. Hal tersebut menyebabkan kenaikan harga distribusi.

Berkaitan dengan logistik, harga kontainer saat ini lebih mahal dari sebelumnya. Shipping atau perkapalan juga mengalami kenaikan harga. Faktor itu mendorong harga kebutuhan minyak goreng mengalami kenaikan.

Rossanto mengungkapkan, naiknya harga minyak goreng akan mendorong inflasi secara umum. Dampak yang ditimbulkan dapat memengaruhi beberapa sektor, di antaranya sektor industri makanan, rumah tangga, dan semua produksi yang menggunakan bahan baku minyak goreng. “Oleh karena itu dampaknya juga akan lebih terasa terhadap inflasi terutama dari segi IHK,” jelasnya. (poedji)

Soal Vaksin Covid-19 pada Anak, Ini Kata Akademisi Unair

JAYAKARTA NEWS– Covid-19 belum menemukan titik akhir. Setiap hari ada saja penambahan kasus positif Covid-19 yang artinya penyebaran virus masih terjadi di masyarakat.  

Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A(K) mengatakan meski pandemi Covid-19 tidak lebih menyeramkan dari Flu Spanyol pada 1918 dan  pandemi PES pada abad ke-14, pandemi Covid-19 mampu membuat pelayanan kesehatan kewalahan.

“Tapi sekalipun tidak sebanyak yang dua itu (Pandemi, Red) selama 2 bulan terakhir kita sudah dihancur leburkan oleh Corona. Kalaupun di Indonesia ada penurunan, negara-negara lain di Asia Tenggara Indonesia masih tergolong meningkat,” ujarnya, dalam rilis Unair, Selasa(10/8).

Berbagai cara dilakukan seperti penggunaan double masker, mencuci tangan, mencegah kerumunan, bahkan pemberian vaksin. “Prinsipnya adalah makin banyak anda memakai layering maka semakin baik. Semua layer memiliki lubang tapi jika digabung menjadi satu maka dia tidak akan bisa ditembus,” terang pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Vaksin diberikan guna menciptakan herd immunity agar penyebaran virus Covid-19 bisa ditekan. Saat ini pemberian vaksin Covid-19 tidak hanya ditujukan pada tenaga kesehatan, dewasa, atau lansia. Namun anak-anak sudah bisa mendapat vaksin sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan nomor HK.02.01/I/2007/2021. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa anak dengan usia 12 hingga 17 tahun sudah diperbolehkan menerima vaksin.

Kendati demikian pro dan kontra tentang pemberian vaksin Covid-19 pada anak turut bermunculan. “Bagi yang pro akan mengatakan bahwa jumlah anak yang sakit itu besar lho, di Jawa Timur saja jumlah anak yang usianya dibawah 15 tahun  sekitar 8 hingga 10 juta jadi sangat besar. Dan itu pasti mempengaruhi herd immunity,”  kata dr. Dominicus.

“Lalu anak-anak ini kan punya kegiatan massal, memberi tahu anak itu sulit kalau mereka harus pakai masker dan remaja butuh berkumpul. Remaja adalah orang yang paling sulit diatur. Jadi kalau disuruh pakai masker atau cuci tangan tidak akan didengar. Remaja berperan dalam transmisi. Jangan lupa anak-anak juga dapat menularkan virus Covid-19. Jadi ini alasan untuk yang pro mengapa mereka mau anaknya divaksinasi,” imbuhnya pada Airlangga Webinar Conference Series Covid-19 dan Anak beberapa waktu lalu.

Kelompok yang kontra umumnya bukan karena manfaat secara kedokteran. Hal yang menjadi permasalahan adalah ketersediaan stok vaksin. Perlu diketahui bahwa dalam mencapai herd immunity dunia membutuhkan stok vaksin sebanyak 16 miliar yang notabene masih terpenuhi sebanyak 4 miliar.

“Stoknya ada atau tidak, jangan lupa penularan utama di sekolah itu pada orang dewasa, selesaikan dulu pada orang dewasa. Hal ini yang menjadi alasan orang tua tidak mengizinkan anaknya divaksin,” katanya.

dr. Dominicus berpesan bahwa ancaman gelombang pandemi Covid-19 yang lebih besar masih menghantui oleh karenanya pemberian vaksin menjadi jalan keluarnya. “Vaksin hanya bermanfaat bila sudah masuk ke tubuh manusia. Pandemi masih akan memakan banyak korban, ancaman wave berikutnya masih akan datang maka tidak ada jalan lain 5M, 7M, bahkan 12M selain vaksin adalah kunci,” tutupnya. (poedji)

Desember Vaksin Merah Putih Bisa Selesai

JAYAKARTA NEWS——Rencana vaksin merah putih buatan dalam negeri tidak lama lagi selesai dan bisa disuntikkan kepada masyarakat. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama tim riset vaksin Covid-19 Universitas Airlangga (Unair) dan RSUD. Dr Soetomo bertemu Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Pertemuan mereka membahas pengembangan riset vaksin merah putih yang di inisiasi Universitas Airlangga akhir April lalu di VVIP Room Juanda.

Ikut hadir dalam pertemuan tersebut Koordinator Produk Riset Covid-19, Prof Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih, Prof. Dr. Cita Rosita Sigid, Dr. dr. Laksmi Wulandari, Dr. dr. Damayanti Tindo, Kadinkes Prov Jatim dan Direktur RSUD Dr. Soetomo, Dr Joni Wahyuhadi bersama tim dari Unair Surabaya.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan akan mendukung sepenuhnya inisiasi ini. Awal tahapan produksi vaksin tersebut terdiri dari 3 bagian, yakni skala laboratorium, skala pilot dan skala industri. Targetnya oleh Pak Menko Marves diharapkan selesai Desember 2021.

Menurut tim riset Unair, Skala laboratorium sampai menghasilkan seed vaccine (benih vaksin) yang dilakukan Unair. Lalu, skala pilot melakukan uji tantang dari beberapa varian SARS CoV-2 yang sudah ditemukan pada pasien Covid-19 di Indonesia, seperti Inggris dan India.

Beberapa varian tersebut kemudian diuji cobakan kepada hewan kecil, Mencit dan hewan besar, Maccaca (kera). Terakhir, skala industri akan dilakukan mitra industri PT. Biotis Pharmaceutical termasuk kesiapan standart produksinya.

“Prinsipnya Pemprov Jatim siap mendukung suksesnya riset ini sampai final,” ujar Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, belum lama ini.

Saat ini, menurut Ni Nyoman salah satu tim riset, pemberian dosis ke dua telah diberikan hewan kecil, Mencit dan sedang dilakukan observasi. Minggu depan direncanakan memulai pemberian dosis pertama pada hewan besar, yakni Maccaca.

Penelitian tahap awal vaksin Covid-19 yang disuntikkan ke hewan percobaan di laboratorium, lanjut Ni Nyoman , untuk mengetahui efektivitas dan keamanannya.

“Selama riset, para peneliti juga mengkaji apakah vaksin layak digunakan atau memiliki efek samping tertentu,” ujar tim riset lainnya yang juga wakil direktur RSUD .Dr.Soetomo Prof. Dr. Cita Rosita.

Jika ketiga tahapan produksi vaksin dinyatakan siap, tahap selanjutnya adalah fase uji klinis yang terbagi menjadi empat tahapan.

Selanjutnya Cita Rosita menjelaskan, pada tahap uji klinis fase I, vaksin disuntikkan ke beberapa sukarelawan (orang dewasa) dalam kondisi sehat. Hal tersebut dilakukan untuk menguji keamanan vaksin Covid-19 dalam tubuh manusia.

“Jika dinyatakan aman dan efektif, vaksin tersebut dapat memasuki uji klinis fase kedua,” tuturnya.

Pada uji klinis fase II, pengujian vaksin Covid-19 dilakukan ke lebih banyak sukarelawan agar sampel yang diperoleh lebih beragam.

“Sampel ini akan diteliti dan dikaji ulang oleh para peneliti terkait efektivitas, keamanan, dosis vaksin yang tepat, serta respons sistem imun tubuh terhadap vaksin yang diberikan,” urainya.

Setelah lulus uji klinis fase II, vaksin akan memasuki tahap uji klinis fase III. Pada penelitian ini, vaksin akan diberikan kepada lebih banyak orang dengan kondisi yang lebih bervariasi. Setelah itu, para peneliti akan memantau respons kekebalan tubuh para penerima vaksin serta memantau apakah terdapat efek samping vaksin dalam jangka waktu lebih panjang.

“Penelitian ini membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun,” ungkapnya.

“Pada tahap ini mengingat situasi mendesak dan emergency karena pandemi, vaksin sudah bisa mendapatkan izin edar (UEA) dari BPOM untuk diberikan kepada manusia,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Ni Nyoman menjelaskan, setelah uji klinis fase I sampai III dinyatakan aman dan efektif, maka, tahapan selanjutnya memasuki fase ke IV, yakni pengawasan pemasaran. Agar cepat diproduksi, pemerintah melalui Menko Marves mengagendakan rapat periodik setiap bulan agar target produksi vaksin merah putih sesuai rencana.

“Kalau bisa desember sudah selesai sehingga awal tahun 2022 sudah bisa diproduksi,” ungkap khofifah.

Dalam proses pengembangan vaksin merah putih, tim riset Unair juga bekerjasama dengan RSUD Dr. Soetomo. Menurut Direktur RSUD Dr Soetomo, Dr Joni Wahyuhadi, jika fase II dinyatakan berhasil, aman dan efisien, pengembangan vaksin merah putih dilanjutkan ke fase III, yakni manusia.

“Pada fase ketiga, seluruh rumah sakit di Jatim akan dilibatkan,” jelasnya.

Adapun di tahap pertama pengembangan vaksin merah putih, pengawasannya dilakukan pihak RSUD DR Soetomo.

“Jadi, timnya terdiri dari Unair dan Dr. Soetomo,” jelas Joni.(poedji)

Rektor Unair Ajak Wisudawan Ikut Membangun Negeri

JAYAKARTA NEWS—Universitas Airlangga (Unair) kembali melepas 1348 Ksatria Airlangga pada hari kedua Prosesi Wisuda Daring Periode September 2020. Digelar pada Minggu (20/9/2020), wisuda daring kali ini dibagi dalam dua sesi yang ditujukan untuk mewisuda lulusan dari jenjang sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), hingga diploma (D3-D4).

Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unair Prof. Dr. Moh. Nasih, SE., MT., Ak. dengan tangan terbuka mengucapkan selamat dan menyambut para wisudawan untuk bergabung dalam perjuangan dan kontribusi keluarga besar alumni Unair. Tak lupa, Prof. Nasih turut memotivasi Ksatria Airlangga untuk terus bergerak maju meski saat ini tengah mengalami situasi dan kondisi yang berbeda dari biasanya.

“Hari ini hari yang tak biasa. Melalui wisuda daring kita tidak bisa berkumpul bersama dalam satu atap. Tapi ingat, keunikan dan ketidakbiasaan ini akan menjadi catatan tersendiri dalam kehidupan anda,” ungkapnya

Prof. Nasih mengingatkan bahwa seusai prosesi wisuda berakhir, maka para lulusan UNAIR akan langsung menjadi bagian dari masyarakat. Masyarakatlah yang nantinya akan menjadi satu-satunya juri yang menilai keberhasilan para wisudawan dalam menempuh pendidikan serta mengamalkan ilmunya. Selain itu, cepatnya perubahan situasi serta iklim angkatan kerja membuat mahasiswa harus mampu memberikan kerja keras yang lebih besar.

Untuk itu, Prof. Nasih memberikan tiga kunci penting bagi para wisudawan untuk dapat berkontribusi dalam masyarakat. Pertama, lulusan Unair harus memiliki sifat dan sikap optimis akan kemampuan yang mereka miliki. “Unair adalah universitas yang terpandang. Kita berada di peringkat empat besar nasional dan masuk 20 besar di Asia Tenggara. Dan UNAIR kini telah menjamin kualitas kemampuan kalian, maka jadikan itu sebagai modal dasar optimism dan kepercayaan diri,” kata Prof. Nasih.

Kedua, dirinya menghimbau agar wisudawan mampu keluar dari zona nyaman, aktivitas, maupun kebiasaan-kebiasaan rutin. Maka untuk melawan arus tersebut, wisudawan harus mulai berpikir kritis, inovatif, serta keluar dari ‘kotak kungkungan’. Terakhir, Prof Nasih mengajak para wisudawan untuk berjamaah dan berjalan bersama dengan keluarga besar alumni UNAIR dalam membangun peradaban nasional maupun internasional.

“Ujian yang baru di kampus kehidupan akan segera anda hadapi. Terus bergerak. Tunjukkan anda adalah orang terpilih, dengan terus bergerak memaknai kehidupan dan mengabdi kepada masyarakat. Gerakan anda sangat bermakna untuk menunjukkan almamater ini sangat berharga,” pungkasnya. (poedji)

Unair Luncurkan Buku Solusi Menyambut New Normal

Jayakarta News – Universitas Airlangga (Unair) meluncurkan buku berjudul “Menjaga Nalar, Mencari Solusi Menyambut New Normal”. Buku tersebut sebagai bentuk kontribusi akademisi Unair dalam  uapaya mengedukasi masyarakat untuk tetap berfikir dengan nalar bagaimana memutus rantai Covid-19.

Para pakar Unair yang menulis buku tersebut diantaranya adalah Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., M.T., Ak., CMA., Prof. dr., Djoko Santoso, Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM., Prof. Badri Munir Sukoco, SE., MBA., Ph.D., dan Prof. Dr. Bagong Suyanto, Drs., M.Si.,

Rektor Unair, Prof. Nasih mengatakan, new normal sulit dinalar jika perilaku manusia yang masih menganggap remeh dampak penyebaran Covid-19. “Terbitnya buku ini dapat menjadi awal edukasi kepada masyarakat tentang penyelesaian Covid-19 secara rasional,”ujarnya kepada awak media  Senin (29/06).

Sementara itu Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Unair  Prof. Djoko Santoso mengungkapkan, penyebaran Covid-19 sangat berbahaya karena dapat menyerang dua hingga tiga orang sekaligus.

Dia berpendapat dalam buku tersebut, ada enam hal yang harus diterapkan oleh masyarakat selama new normal. Enam hal tersebut antara lain mengurangi kepanikan, pandai membaca gejala alam, pandai berkomunikasi, mengasah keprofesian, menjaga team work, dan menerapkan system besting.

“Mengurangi kepanikan adalah kunci utama menghadapi new normal karena silent hipoxia (kadar oksigen) pada masa ini perlu dijaga hingga 98 persen,” jelasnya.

Dalam pada itu, pakar ekonomi Unair Prof. Badri menjelaskan bahwa dampak Covid-19 telah mengubah tatanan ekonomi Indonesia. Agenda utama pemerintah saat ini adalah menciptakan lapangan kerja baru dan industri strategis yang melayani permintaan dalam negeri.

Pendapat Prof. Badri juga dikuatkan oleh pakar sosiologi Unair Prof. Bagong. Menurutnya, tatanan baru pasca Covid-19 telah menciptakan budaya baru yakni penerapan protokol kesehatan secara masif.

Menurut Prof. Bagong,  pemerintah dalam menangani Covid-19 cenderung represif tanpa ada nilai edukasi yang sederhana. Pendekatan alternatif perlu dilakukan oleh pemerintah agar edukasi dapat tersalurkan tanpa ada paksaan.

“Pemerintah saat ini perlu menerapkan rekayasa sosial secara perlahan kepada masyarakat yang masih bandel agar sadar betapa pentingnya mengenal bahaya Covid-19,” tegasnya.

Buku “Menjaga Nalar, Mencari Solusi Menyambut New Normal” rencananya akan diterbitkan secara cetak maupun digital. Tidak menutup kemungkinan buku tersebut akan ada jilid kedua untuk memberikan nilai edukasi kepada masyarakat tentang penyelesaian Covid-19 dari para pakar Unair. (poedji)

Peneliti Unair Temukan Lima Kombinasi Obat Lawan Corona

Jayakarta News – Setelah melakukan riset dan penelinan, peneliti Universitas Airlangga (Unair) menemukan lima kombinasi obat untuk melawan Corona. Dengan dukungan Badan Inteligen Nasional (BIN) RI dan sejumlah pihak, temuan obat diumumkan di Jakarta dipimpin langsung Sekretaris Utama BIN, Komjen Pol Bambang Sunarwibowo, Jumat (12/6) di Jakarta.

Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga, Dr dr Purwati SpPD K-PTI FINASIM mengatakan, obat itu terdiri dari, Lopinavir/ritonavir dengan azithromicyne, Lopinavir/ritonavir dengan doxycyline, Lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, Hydroxychloroquine dengan azithromicyne dan Hydroxychloroquine dengan doxycycline.

Regimen kombinasi obat Corona tersebut dijelaskan dr Purwati tidak untuk diperjualbelikan secara bebas. “Belum diperjualbelikan. Ini kolaborasi antara UNAIR, BNPB, dan juga Badan Intelijen Negara,” ujar dr Purwati.

Kombinasi regimen obat tersebut memiliki potensi dan efektivitasnya cukup bagus terhadap daya bunuh virus. Dosis masing-masing obat dalam kombinasi tersebut yaitu 1/5 dan 1/3 lebih kecil dibandingkan dosis tunggalnya sehingga mengurangi efek toksik dari obat tersebut bila diberikan sebagai obat tunggal.

“Kini sudah ada ratusan obat yang sudah diproduksi dan akan disebarkan kepada rumah sakit yang membutuhkan,” katanya.

Selain regimen kombinasi obat yang ditemukan, sejumlah peneliti UNAIR menemukan potensi dalam penelitian stem cell. Dr Purwati juga menemukan dua formula yaitu Haematopotic Stem Cells (HSCs) dan Natural Killer (NK) cells.

“Dari hasil uji tantang HSCs ditemukan bahwa setelah 24 jam virus SARS CoV2 isolat Indonesia sudah dapat dieliminasi oleh stem cells tersebut. Sedangkan hasil uji tantang NK cells terhadap virus, setelah 72 jam didapatkan sebagian virus dapat diinaktivasi oleh NK cells tersebut,” terangnya.

Dengan demikian keduanya memiliki potensi dan efektivitas yang cukup bagus sebagai pencegahan maupun pengobatan virus SARS CoV 2. Menurutnya, kedua pengobatan alternatif itu bisa menjadi rekomendasi bagi para dokter, industri obat dan masyarakat dalam menangani Covid-19 secara cepat.

Sementara itu dalam waktu yang bersamaan, dari Gedung Management Kampus C UNAIR, Rektor UNAIR, Prof Dr H Mohammad Nasih, MT SE Ak CMA juga memberikan penjelasan atas keberhasilan yang dilakukan oleh tim peneliti UNAIR.

Di hadapan awak media, Prof Nasih, mengatakan UNAIR akan terus mendukung segala usaha untuk mempercepat penanganan Covid-19 di Indonesia. Hal itu merupakan bentuk ikhtar yang dilakukan dalam bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

“Kami akan mendukung penuh penelian UNAIR terkait percepatan Covid-19 ini. Semoga ini menjadi langkah baik bagi riset Indonesia dengan untuk membuktikan penelitiannya dalam waktu singkat. Artinya Indonesia mampu jika kita semua bersatu dan melakukan ini bersama,” ucapnya. (poedji)