Capaian Penanggulangan TBC di Daerah akan Dipantau Setiap Minggu

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama pemerintah daerah akan melakukan monitoring bersama setiap minggu untuk memantau capaian program pengendalian Tuberkulosis (TBC) di seluruh Indonesia.

Monitoring setiap minggu ini bertujuan memastikan progres yang optimal dalam upaya penanggulangan TBC, mempercepat diagnosis dan pengobatan, serta meningkatkan cakupan program pengendalian penyakit menular ini.

“Dengan monitoring yang rutin antara pemerintah pusat dan daerah, kita bisa mengevaluasi langkah-langkah yang telah diambil serta memastikan bahwa penanganan TBC berjalan secara efektif di seluruh wilayah,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin, Minggu (8/12).

Kegiatan monitoring mingguan ini akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) terkait, termasuk dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota, rumah sakit, puskesmas, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas.

Adapun fokus utama dalam monitoring ini adalah penemuan kasus, yang mencakup skrining TBC pada populasi berisiko dan investigasi kontak oleh tenaga kesehatan atau kader, dengan minimal 8 orang diperiksa untuk setiap kasus TBC.

Pengobatan mencakup pendampingan pasien oleh tenaga kesehatan atau kader hingga pasien berhasil sembuh dari TBC, serta penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kesehatan, yang mencakup pemenuhan akses diagnostik dan logistik di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).

Sebagai langkah awal, pemerintah akan mengintensifkan upaya penemuan kasus TBC terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti masyarakat yang tinggal di daerah padat penduduk dan mereka yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.

“TBC kalau bisa ditemukan lebih awal lebih baik. Sekarang pengobatannya sudah bagus sehingga bisa kita obati lebih cepat, dan yang bersangkutan bisa sembuh tanpa menulari orang lain,” ujarnya.

Menkes menambahkan, upaya penemuan kasus akan dipadukan dengan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemeriksaan jika mengalami gejala-gejala seperti batuk berkepanjangan, demam, dan penurunan berat badan guna menurunkan angka penularan dan kematian akibat TBC.

“Ini (skrining) yang harus kita tingkatkan, karena TBC terkadang tidak bergejala. Tapi kalau di lingkungan kita ada yang terkena TBC, lebih baik ditanyakan ke Puskesmas untuk dicek, karena siapa tahu kita juga tertular,” kata Menkes.

Menkes Budi berharap dengan monitoring yang intensif dan koordinasi yang baik antara pusat dan daerah, Indonesia dapat mencapai target penemuan 1 juta kasus aktif TBC pada tahun 2025, yang merupakan salah satu program Quick Win (program prioritas) Presiden Prabowo Subianto.

Tidak Semua Orang Terinfeksi Kuman TBC Mengalami Gejala Sakit

JAYAKARTA NEWS— Tidak semua orang yang terinfeksi kuman TBC akan mengalami gejala sakit TBC. Kondisi ini disebut dengan infeksi laten tuberkulosis (ILTB).

Infeksi Laten Tuberkulosis adalah suatu keadaaan dimana sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi tidak mampu mengeliminasi bakteri Mycobacterium tuberculosis secara sempurna, tetapi mampu mengendalikan bakteri TBC sehingga tidak timbul gejala sakit TBC.

Oleh sebab itu mereka dengan kondisi ini perlu mendapatkan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) untuk mencegah sakit TBC, terutama bagi kelompok berisiko seperti kontak serumah dan orang dengan HIV (ODHIV).

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2021 disebutkan bahwa capaian pemberian TPT pada ODHIV hanya sebesar 5%. Sedangkan capaian pada kontak serumah sebesar 0,2%.

Capaian ini masih jauh dari target cakupan TPT nasional, yaitu sebesar 40% pada ODHIV dan 29% pada kontak serumah. Salah satu tantangan dalam pemberian TPT yaitu masih ada keraguan petugas kesehatan termasuk dokter dalam memberikan TPT bagi populasi berisiko.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan pemberian TPT merupakan salah satu upaya penting dalam eliminasi TBC tahun 2030.

”Untuk mengatasi rendahnya cakupan TPT saya mengharapkan dukungan dan peran serta semua pihak, termasuk segenap anggota organisasi profesi kesehatan dalam memberikan sosialisasi dan edukasi tentang pentingnya TPT kepada segenap anggota organisasi profesi masing-masing dan kepada seluruh masyarakat,” katanya, sebagaimana dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id

Sejalan dengan dr. Dante, Direktur Eksekutif Yayasan KNCV Indonesia dr. Jhon Sugiharto mengatakan pemberian TPT bagi populasi berisiko dapat mendukung dalam penurunan insiden kasus TBC. Capaian TPT 2021 masih jauh di bawah target, padahal penggunaan TPT dapat berkontribusi dalam upaya eliminasi TBC di negara dengan beban TBC tinggi, seperti Indonesia.

”Yayasan KNCV Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan memberikan perbantuan teknis dalam mendukung perluasan implementasi TPT di 34 provinsi melalui proyek IMPAAC4TB dengan dukungan dana United,” ujarnya.

TBC masih menjadi masalah kesehatan dan menempati peringkat 10 teratas penyebab kematian di dunia. Berdasarkan Global TB Report WHO 2021, Indonesia merupakan negara dengan beban TBC tertinggi ketiga di dunia. Diestimasikan terdapat 824 ribu kasus TBC baru pada tahun 2020 dengan angka kematian mencapai 93 ribu kasus atau setara dengan 11 kematian/jam.***/din