Milya Seoul

JAYAKARTA NEWS— Milya bersorak begitu berhasil memasak chicken karaage. Tampilannya mirip dengan buatan Fatmah Bahalwan yang dilihatnya di layar gadget.

Ibu muda itu memang mengikuti kursus memasak jarak jauh. Melalui Sekolah Wira. Menggunakan webinar. Sambil mengasuh bayi, Milya mengikuti terus instruksi Fatmah Bahalwan. Melaui siaran langsung yang diakses menggunakan internet.

‘’Setelah melihat hasilnya, saya pede untuk segera membuat frozen food,’’ komentarnya di sela-sela memasak, Senin pagi.

‘’Punya rencana bisnis apa di Seoul?’’ tanya Fatmah.

‘’Saya mau mulai membuat bisnis halal frozen food. Di Seoul peluangnya sangat besar,’’ jawab Milya.

‘’Wow keren banget. Semoga ilmunya bermanfaat,’’ jawab Fatma.

Frozen food atau makanan dalam kondisi beku sudah menjadi tren di semua kota besar di dunia. Tak terkecuali Seoul. Salah satu penyebabnya, pasangan muda di kota rata-rata bekerja. Akibatnya mereka tidak punya waktu yang cukup untuk memasak di dapur.

Frozen food menjadi pilihan paling masuk akal bagi mereka. Praktis. Bisa disimpan lama. Dan tidak berubah rasa selama dalam masa simpan. Tak heran kalau frozen food sangat mudah ditemukan di toko modern. Dari kelas supermarket hingga minimarket.

Dari tren frozen food itulah Milya menemukan peluang bisnis: menyediakan halal frozen food. ‘’Halal frozen food ini masih sulit ditemukan di pasar,’’ jelasnya.

Bisnis halal frozen food punya peluang besar untuk berhasil di kota modern seperti Seoul. Pertama, pemerintah Korea Selatan sedang menggalakkan halal tourism. Semua pengusaha makanan dan minuman didorong menciptakan menu halal untuk melayani turis muslim yang datang dari seluruh dunia.

Kedua, populasi muslim di Korea Selatan bertambah sangat cepat beberapa tahun belakangan ini. Apalagi setelah masuknya pekerja profesional dari Indonesia. Jumlahnya lebih dari 100 ribu orang. Mayoritas muslim. ‘’Terima kasih Bu Fatmah atas webinar kulinernya,’’ kata Milya.

Webinar kuliner Senin pagi tadi merupakan acara pertama dalam serial ‘’culinary for business’’. Pesertanya ada 40 orang. Semuanya ibu-ibu. Dua di antaranya dari luar negeri: Namibia dan Korea Selatan.

Hampir semua peserta bisa mengikuti kursus sambil memasak di rumah masing-masing. Hanya ada beberapa yang hanya menonton saja. Karena sedang ada acara di luar rumah yang tak bisa ditunda.

Wajah ibu-ibu itu tampak gembira. Terutama saat memamerkan hasil masakannya. ‘’Seru banget ya ikut kursus memasak lewat webinar. Bu Fatmah serasa ada di depan saya,’’ kata Annie, peserta dari Surabaya.

Resep yang diajarkan Fatmah pada seri pertama ini ada dua: chicken karaage atau ayam KFC ala Jepang dan shrimp roll atau udang gulung. Dua-duanya merupakan Japanesse food yang digandrungi anak muda.

Dengan menguasai dua resep itu saja, peserta sudah bisa memulai bisnis. Menu makanan beku itu bisa disuplai ke berbagai kafe, restoran, minimarket di perkantoran, sekolah, kampus dan apartemen.

Meski demikian, Fatma akan menambah dua resep lagi dalam seri culinary for business seri kedua pada tanggal 19 Agustus mendatang. Resepnya: Hakkaw Dimsum dan Siaw Mai. Dua-duanya resep Chinesse food yang juga digemari kaum milenials.

Membaca komentar para peserta webinar kursus memasak kali ini, saya sungguh terharu. Sudah tiga tahun saya menjalankan usaha jasa webinar. Baru sekarang ada yang memanfaatkan untuk kursus kuliner. (jto)

Status Mahasiswa, Profesi Pengusaha

Oleh: Joko Intarto
Ahmad, mahasiswa UGM (Sumber: MoneySmart)

JAYAKARTA NEWS – Siapa bilang mahasiswa tidak bisa ‘’nyambi’’ jadi pengusaha? Di tengah-tengah kesibukannya sebagai mahasiswa filsafat sekaligus aktivis pesanten, Ahmad Musyaddad berhasil mengelola tiga bisnis kuliner miliknya.

Mahasiswa Universitas Gajah Mada ini sukses menggandeng investor sehingga tak perlu mengeluarkan modal sepeserpun. Tiga usaha kulinernya adalah Bakpia Lumer, Makaroni Rawe, dan Bandeng Rawe. Menggunakan konsep yang unik, Ahmad mengemas olahan bandeng ke dalam kemasan kaleng.

Memiliki penghasilan sejak usia muda adalah impian sebagian orang. Nah, Zaidin Zaiti, CEO Pro Fajar Expo (Profex) ingin berbagi pengalaman kepada para mahasiswa yang ingin bisa menghasilkan uang sendiri sambil kuliah. Pilihannya dua: Menjalankan bisnis sendiri atau bekerja pada orang yang sudah punya bisnis.

Bisnis apa yang bisa dijalankan mahasiswa? Pekerjaan apa yang bisa dilakukan mahasiswa? ‘’Banyak jenis usaha yang bisa dijalankan dengan modal dengkul. Kisah Ahmad yang mahasiswa UGM itu adalah contoh nyata. Yang belum berani berbisnis bisa bekerja sebagai profesionalnya,’’ kata Zaidin yang malang-melintang dalam bisnis event organizer di dalam dan luar negeri itu.

Jasa event organizer, kata Zaidin, bisa menjadi pilihan jenis bisnis yang menarik untuk mahasiswa. ‘’Jasa event organizer mengandalkan kreativitas. Dan kreativitas itu dunianya mahasiswa. Dengan bantuan mentor dan coach, semua mahasiswa bisa menjadi pengusaha event organizer,’’ jelasnya.

Ditambahkan Zaidin, bisnis event organizer memiliki cakupan yang sangat luas. Banyak kegiatan yang memerlukan sentuhan kreativitas para professional muda. Dari kegiatan yang bersifat hiburan, olah raga hingga yang serius seperti seminar.

Anda mahasiswa dan tertarik belajar bisnis? Sekolah Wira dan Lazismu KL Manggarai, Jakarta Selatan, akan membuka kelas seminar online pada hari Sabtu, 22 Juni 2019, pukul 20:00 – 22:00. Seminar akan menghadirkan Zaidin Zaiti sebagai mentor dan Lambang Saribuana sebagai business coach. Seminar online ini akan dipandu Joko Intarto selaku founder Sekolah Wira.

Cara daftarnya gampang. Bergabunglah dengan komunitas mahasiswa peminat bisnis dengan mengakses link grup whatsapp ini:

https://chat.whatsapp.com/CpoyafYIpthBIGS95FhAXE