Semen Rembang Serap 1.600 Naker

KEMENTERIAN Perindustrian berkomitmen menjaga iklim usaha dan kepastian investasi di dalam negeri terutama untuk sektor manufaktur strategis seperti industri semen. Salah satunya pembangunan fasilitas produksi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. di Rembang, Jawa Tengah.

“Kepastian investasi pembangunan industri strategis seperti pabrik semen perlu dijaga keberlanjutannya karena membawa efek berganda bagi perekonomian daerah dan nasional, antara lain penyerapan tenaga kerja dan penumbuhan industri kecil berbasis semen untuk masyarakat Rembang dan sekitarnya,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di Jakarta, Minggu (19/3).

Diproyeksikan, nilai investasi pabrik semen Rembang mencapai Rp4,9 triliun dengan jumlah tenaga kerja untuk mengoperasikan pabrik yang menggunakan teknologi canggih ini sekitar 261 orang. Selanjutnya, untuk mendukung unit lainnya bakal menyerap tenaga kerja mencapai 1.600 orang. Dari total peluang kerja tersebut, masyarakat lokal dan sekitarnya akan dilibatkan.

Menurut Airlangga, industri semen berperan sebagai penunjang utama dalam percepatan pelaksanaan proyek infrastruktur yang dicanangkan oleh pemerintah. Contohnya pembangunan infrastruktur logistik seperti jalan, pelabuhan, jembatan, dan bandara.

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Muhammad Feriady mengatakan, keberadaan pabrik semen Rembang dinilai akan berdampak positif pada sektor ekonomi mikro di daerah sekitarnya. “Dengan jalannya kegiatan ekonomi dari beroperasinya pabrik semen, maka sektor lain seperti industri kecil dan menengah (IKM) juga berpeluang akan hidup,” ujarya.

Feriady menambahkan, industrialisasi di sebuah provinsi akan berpengaruh pada pendapatan asli daerah (PAD). Dalam hal ini, tentu pembangunan di Jawa Tengah akan lebih baik lagi ke depannya. “Jika pembangunan infrastruktur dan SDM berjalan baik, maka angka kesejahteraan juga akan meningkat. Terutama di daerah sekitar Rembang yang merupakan salah satu wilayah yang tergolong miskin di Jawa Tengah,” jelasnya. ***

Semen Rembang Jangan Di-IPTN-kan

SEBAGAI perusahaan pelat merah (BUMN), PT Semen Indonesia nasibnya seperti anak tiri di negeri sendiri. Sukses mengembangkan sayap bisnisnya di Vietnam dengan mengakuisisi Semen Than Long di Vietnam, kepak usaha di negeri sendiri malah seperti tersandera. Keberadaan pabrik barunya di  Rembang, nyaris tak pernah senyap dari kicauan yang berusaha meniadakan.

“Aneh, dari aspek AMDAL, teknis dan lainnya tidak ada masalah, tetapi informasi yang keluar selalu menyerang Semen Rembang,” kata Budi Sulistijo. Kegusaran pakar geologi dari ITB  itu disampaikan dalam diskusi yang digelar wartawan DPR, Jumat [10/3] di Jakarta. Dia heran, mengapa informasi salah yang dibenarkan, sebaliknya informasi dan fakta benar, dibelokkan. Dua media besar yang selama ini dianggap kredibel, juga menderita “mental block” khusus untuk isu Semen Rembang.

Peneliti Concern Strategic Think Tank, Juni Thamrin, kuat menduga ada kekutan modal asing yang bermain untuk mengeroyok BUMN Semen. Semen swasta dengan pemodal asing itu, ternyata saat ditelisik, grup media besar tersebut diduga kuat punya share di pabrik semen yang jadi kompetitor PT Semen Indonesia itu.

Dengan setengah bercanda, Budi menambahkan, jangan-jangan Semen Rembang selalu diganggu ini karena “kesalahan” dalam memilih lokasi di Kecamatan Gunem. “Gunem dalam bahasa Jawa maknanya pergunjingan yang negatif,” tuturnya. Banyak lokasi pabrik semen di Jawa Tengah, tetapi mengapa hanya Semen Rembang yang selalu digoyang.

Budi mengkhawatirkan atas kemungkinan adanya skenario besar yang ingin merobohkan BUMN. Semen Indonesia disasar seperti PT IPTN Bandung. “Ada pihak-pihak yang mau menjual BUMN dengan harga murah, seperti kasus IPTN,” kata Budi. Ketika IPTN ambruk, lantas SDM-nya yang baik disedot industri penerbangan asing. Menurutnya, kalau dibiarkan nasib yang sama bukan tidak mungkin akan dialami PT Semen Indonesia, dengan menggerogoti melalui Semen Rembang.

Budi menambahkan, Semen Rembang disiapkan dan dibangun oleh SDM dalam negeri, dan didesan sangat ramah lingkungan. Aneh, hasil kerja anak negeri yang hebat, malah diganggu  terus sehingga nasibnya terancam seperti IPTN. “Inilah yang diingatkan Bung Karno tahun 1957 saat meresmikan Semen Gresik, agar bangsa menjaga aset seperti Semen Gresik ini agar tak dicaplok penjajah ekonomi,” timpal Juni Thamrin. ***

Semen Rembang Beroleh Izin Baru

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kembali menerbitkan izin lingkungan terbaru untuk PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Izin terbaru yang diterbitkan ini adalah untuk mengatur kegiatan penambangan dan pembangunan pabrik semen Indonesia.

Penerbitan izin dituangkan dalam Keputusan Gubernur Nomor 660.1/6 Tahun 2017. Keputusan Gubernur ditandatangani Kamis (23/2/2017) malam kemarin. “Sudah ditandatangani dan sudah diumumkan,” kata Ganjar, seperti dikutip dari laman kompas.com.

Penerbitan izin untuk pabrik semen Rembang malam tadi juga sudah mulai diumumkan di laman resmi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pengumuman disampaikan pada Kamis sekitar pukul 22.34 WIB. Ia mengatakan, penerbitan izin lingkungan terbaru ini merupakan tindak lanjut atas rekomendasi dari tim Komisi Penilai Amdal (KPA). Tim Komisi Amdal telah menggelar sidang adendum Amdal pada 2 Februari 2017 dengan dihadiri sejumlah pakar, pemerintah, akademisi, perwakilan masyarakat, hingga perwakilan lembaga swadaya masyarakat. “Tenggatnya sebelum 24 Februari izin lingkungan harus ditandatangani, maka saya tandatangani,” kata dia.

Penerbitan izin tersebut merupakan kebijakan yang dibuat tersendiri atau diskresi pasca-pencabutan izin oleh Mahkamah Agung. Terkait diskresi yang dibuatnya, Ganjar mengaku sudah melaporkan hal itu kepada Presiden Jokowi, baik sebelum dan setelah kebijakan tersebut dibuat.

Sebelumnya, Ganjar berencana melaporkan kepada Presiden soal kewenangannya menggunakan diskresi atau membuat keputusan tersendiri terkait kelanjutan operasional pabrik Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. “Sebelum dikeluarkan (diskresi), saya sampaikan ke presiden. Usai dikeluarkan, sampaikan lagi. Nanti kalau diskresi, disampaikan ke Presiden,” ujar Ganjar, ketika diminta perkembangan pabrik Semen Rembang.

Atas kemenangan PT Semen Indonesia yang juga berarti kemenangan rakyat Rembang dari intervensi asing melalui anteknya, Gunretno, pengamat sosial Juni Thamrin mengatakan, sudah seharusnya Gubernur Ganjar mengambil keputusan tersebut.

Yang jelas, katanya, atas keputusan tersebut, warga dan pemerintah daerah Rembang menyambut baik. Tindakan Ganjar menunjukkan bahwa negara hadir di waktu dan situasi yang tepat. Karena sudah mematuhi amar keputusan MA, mengundang panel ahli amdal Jawa Tengah serta mengundang semua pihak baik yang kontra dan pro pendirian pabrik.

Perlu diingat bahwa pertimbangan yang matang telah dilakukan oleh Ganjar. Dia telah memperhatikan pertimbangan lingkungan, persaingan pasar global, ekonomi rakyat dan pemerintah daerah serta aset negara yang harus diselamatkan. Termasuk iklim usaha di Indonesia yang semakin mendapat kepercayaan dunia. Langkah kebijakan Ganjar adalah bentuk win-win solution atas keberatan warga yang kontra maupun pro. “Mari kita bangun Indonesia baru yang sejahtera, adil Dan berkelanjutan,” tandas pengajar di beberapa perguruan tinggi itu.

Juni menambahkan, pasca penerbitan izin baru bagi semen Rembang, babak baru dan tantangan berikutnya adalah pengawalan semua proses produksi SI di Rembang agar dapat memenuhi rencana produksi dengan tetap ramah lingkungan. “Indonesia saat ini sedang mengalami tekanan oleh Freeport McMorran. Ini justru merupakan tantangan bagi semua anak bangsa yang perlu mendapat perhatian bersama,” tegasnya. ***

Kajian Kerugian Jika Pabrik Semen Rembang Ditutup

MENUTUP pabrik semen Rembang, adalah sebuah kekeliruan besar. Tidak hanya banyak, tetapi sangat banyak kerugian jika pabrik itu ditutup berdasar hasil kajian objektif. Kajian dilakukan oleh elemen-elemen masyararakat bersama Prof Hermawan Sulistyo, MA, Phd (ahli peneliti utama LIPI).

Adapun elemen masyarakat yang terlibat dalam pengkajian itu adalah, warga Rembang (Jawa Tengah) danTuban (Jawa Timur). Selain itu, AMAR (Aliansi Masyarakat Rembang), Laskar Brotoseno, Serikat Buruh, Serikat Petani Tembakau, Republik Damai Jawa Tengah. Elemen lain, AMPERA (Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Rakyat) Jawa Tengah, serta Rumah Kemaslahatan Indonesia dan Suryo Mojopahit.

Tercatat ada 15 (limabelas) kerugian jika pabrik semen Rembang ditutup. Berikut rincian hasil kajian tersebut.

  1. Hilangnya peluang dan kesempatan penduduk Rembang untuk hidup lebih sejahtera. Ratusan tahun mereka tidak memiliki posisi tawar menghadapi dunia luar sehingga kawasan Semen Rembang termasuk daerah termiskin di Rembang, sementara Rembang sendiri merupakan kabupaten termiskin ke-4 di Jawa Tengah, dengan jumlah lebih 119 ribu jiwa (angka BPS 2015).
  2. Hilangnya kesempatan kerja bagi 350 tenaga berkeahlian (skilled workers); 6.075 (tenaga kerja masa proyek: tim proyek, tim support, kontraktor); dan 1.698 tenaga selama operasional (Organik, Anak Perusahaan, Mitra Kerja, Mitra Binaan, Pemberdayaan Warga). Jumlahnya sangat besar. Mereka adalah tenaga kerja di pertambangan, jalur mata rantai distribusi, sektor pndukung seperti catering dan warung-warung, kos-kosan, jasa ojek, koperasi dan lain-lain.
  3. Lahan gamping muda (lime stone) tidak bisa ditanami. Saat gamping itu dimanfaatkan dan bekasnya direklamasi, lahan akan jauh lebih subur. Reklamasi ini bisa dilihat di pabrik Semen Tuban. Jadi kalau pabrik Semen Rembang dihentikan, maka untuk selamanya warga tidak akan pernah memiliki lahan pertanian yang subur.
  4. Hilangnya kesempatan untuk berdirinya perguruan tinggi vokasional, Akademi Komunitas Semen Indonesia(AKSI) dengan kapasitas mahasiswa AKSI per angkatan: 90 mahasiswa. Pemuda setempat akan kehilangan kesempatan dilatih menjadi tenaga kerja berkeahlian. Mereka akan ditampung di pabrik Semen Rembang, dan bahkan bisa merintis karier di pabik semen Tuban atau malah ke luar Jawa. Atau ke luar negeri karena PT Semen Indonesia memiliki semen Than Long di Vietnam. Kalau pabrik Rembang diberhentikan. Semua mimpi di depan mata itu kembali jadi mimpi yang jauh.
  5. Hilangnya peluang masyarakat untuk memiliki rumah yang layak. Pada 22 Februari – 21 Mei 2016, lokasi: Ds. Kadiwono, Ds. Timbrangan, Ds. Pasucen, Ds. Kajar, dan Ds. Tegaldowo, bedah rumah 30 unit dengan biaya Rp.1.139.000.000,-. Mulai 2017 CSR sudah memulai program bedah rumah 30 rumah per tahun. Rumah-rumah penduduk yang paling miskin satu demi satu sudah dan akan terus direnovasi dan diperbaiki sehingga menjadi layak huni.
  6. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih layak bagi anak-anak warga setempat. Program CSR sudah memulai program beasiswa berprestasi bagi 169 pelajar yang terdiri dari: 92 pelajar tingkat SD/MI, 38 pelajar SMP/MTs, serta 39 pelajar SMA/MA, dengan total anggarkan Rp180 juta. Kegiatan ini dilakukan secara rutin setiap tahun dan telah berjalan tiga tahun.
  7. Hilangnya peluang usaha kemitraan di Kab Rembang. Hingga akhir 2016 pihak Semen Indonesia telah menggandeng 523 mitra binaan, yang melibatkan 800 tenaga kerja, dengan dana yang digulirkan mencapai Rp.11M.
  8. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh air bersih. Program CSR telah berhasil memompa air di sumur yang terletak di Desa Kajar dan Desa Pasucen Kec Gunem. PT Semen Indonesia mengucurkan dana hingga Rp670 juta untuk membangun infrastruktur air bersih, untuk membangun pipanisasi sepanjang 1 kilometer dan sarana air bersih yang dialirkan ke tandon berkapasitas 8.200 liter dalam 2 titik yaitu, Masjid dusun Wuni Desa Kajar dan dekat sumber mata air Desa Waru. Perusahaan juga memberikan bantuan pipanisasi dan tandon air 5.100 liter di Desa Pasucen. Rencana pipanisasi untuk menjangkau wilayah yang lebih luas menjadi angan-angan saja jika pabrik berhenti beroperasi. Sebelumnya, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat harus membeli Rp5.000 per jerigen.
  9. Lenyapnya uang negara (uang rakyat!) sebesar 5 (lima!) triliun, yaitu nilai investasi pabrik Semen Rembang.
  10. Kerugian negara sebagai akibat lebih lanjut dari hilangnya uang yang diinvestasikan untuk pabrik Rembang. PT Semen Indonesia adalah BUMN nasional yang merupakan perusahaan terbuka (Tbk), sehingga sebagian sahamnya dimiliki masyarakat. Penutupan pabrik Rembang berakibat pada hancurnya harga saham dalam skala yang sulit diukur.
  11. Pada saat ini memang tersedia stok cadangan semen nasional sebesar 30 juta ton. Tetapi semuanya milik perusahaan semen asing. Penghentian produksi Semen Rembang sama saja dengan membantu pemasaran semen asing. Tiga puluh juta ton semen itu akan habis dalam jangka waktu 5-15 tahun, dan semen asing praktis tidak memiliki competitor nasional.
  12. PT Semen Indonesia adalah BUMN. Artinya, milik rakyat. Arti lebih jauh, menjadi benteng terdepan dalan menghadapi gempuran semen asing. Ini sangat penting, karena program kemandirian dan kedaulatan bangsa, menjadi terganggu.
  13. Kontribusi pada pajak dan pendapatan daerah menjadi hilang, dari potensi pendapatan perusahaan sebesar Rp.2,1T per tahun. Dihitung berdasarkan harga semen Rp.700 ribu per ton dikali kapasitas produksi 3 juta ton per tahun.
  14. Semua bangsa di dunia ini membutuhkan semen. Terlebih lagi bangsa yang sedang membangun seperti Indonesia. Kita membutuhkan semen untuk membangun infrastruktur: jembatan; jalan raya dan penataan tebing-tebing supaya tidak longsor; dll.
  15. Mahasiswa yang saat ini masih kuliah akan lulus hingga 5 tahun mendatang. Dalam jangka waktu 5-10 tahun mendatang mereka akan lulus, menikah dan memulai keluarga baru. Pada saat itu mereka harus memiliki atau membangun rumah. Pada saat itu pula harga semen akan sangat mahal karena harus mengimpor semen dari luar atau menggunakan semen domestik tetapi dengan harga melangit karena pasar telah dikuasai asing.

Barangkali Anda bisa memanjangkan sendiri deret kerugian di atas menjadi lebih panjang. Semoga pemerintahan Presiden Jokowi tidak menggadaikan kepentingan negara kepada asing. ***

Massa Kontra Semen, Gunakan Mushola untuk Selfie

HARI ini, beredar pemberitaan tentang kasus pembakaran mushola di komplek pabrik Semen Rembang, Kecamatan Bulu. Berita yang disebar oleh pihak yang kontra atas pembangunan paabrik semen milik BUMN itu, cenderung menyesatkan dan provokatif. Selain tidak sesuai kondisi di lapangan, mereka seperti tidak pernah berkaca diri.

Triningsih, warga setempat yang selama ini dikenal pro pabrik semen, justru menyoal kejadian tahun 2014, saat massa kontra mengobrak-abrik dan membubarkan acara istighosah yang diadakan masyarakat pro pabrik semen. “Rekaman video masih ada. Orang-orang atau pelakunya masih hidup dan tampak dalam video itu. Tindakan mereka jauh lebih parah,” tegasnya.

Dikatakan lebih parah, mengingat yang dikabakan terjadi pembakaran mushola, sungguh-sungguh kebohongan yang membayakan persatuan umat Islam di Rembang. Yang sebenarnya terjadi, dan itu juga disaksikan oleh lima orang warta kontra yang ada di lokasi, adalah aksi perobohan tenda oleh massa pro, didahului pembongkaran blokade jalan, yang dilakukan massa kontra.

Urut-urutannya, massa membongkar blokade jalan. Kemudian mereka bersepakat bersama-sama membongkar tenda pro semen, dilanjutkan merobohkan tenda kontra, dengan maksud supaya ke depan tidak ada lagi sarana provokasi dari pihak luar. Nah, tak jauh dari tenda kontra, dibangun bangunan dari kayu yang dinamakan mushola.

Di dalamnya diisi mukena, sarung, peci, dan kitab suci Alquran. Triningsih bersaksi, bahwa tempat itu hanya sekali dipakai sholat, yang itu pun untuk tujuan selfie. Setelah itu, bangunan yang jauh dari layak untuk disebut mushola itu, tidak pernah sekalipun dipakai untuk beribadah warga kontra yang ada di tenda. Jadi, “mushola” itu hanya untuk selfie dan kebutuhan menyebar informasi menyesatkan ke media sosial. Tidak ada aktivitias sholat berjamaah, pengajian, dan lainnya.

Triningsih bahkan lebih jauh menyoal perilaku mereka yang cenderung manjuah dari kehidupan yang islami. Ibu-ibu yang dulu berhijab, sekarang melepas jilbab dan setiap ikut demo, mengenakan caping, kebaya, dan kain khas arahan massa binaan aktivis antek asing, Gunretno.

Nah, bangunan itu memang termasuk yang dirobhkan massa. Akan tetapi, segenap isi di dalamnya, berupa mukena, sarung, peci, sajadah, telah diamankan terlebih dahulu dan disimpan di pos security. Warga tolak semen pun turut menyaksikan perobohan itu. Yang mengherankan, mengapa kemudian yang muncul di pemberitaan versi mereka adalah “terjadi pembakaran mushola di pabrik semen Rembang?” Sungguh sebuah pemutarbalikan fakta yang menyesatkan dan membahayakan kesatuan umat beragama.

Para aktivis pimpinan Gunretno yang baru pulang dari Singapura jumpamkap. Kebathilan tidak akan bisa mengalahkan kebenaran,” ujar Tri. ***e

Bakar Tenda, Dibilang Mushola

PERKEMBANGAN konflik pembangunan pabrik semen di Rembang, milik BUMN PT Semen Indonesia, nyaris beres. Kelompok kontra yang selama ini menentang dengan dalih-dalih ngawur, dan bukti-bukti bohong, makin kehilangan akal sehat dalam membela maunya asing.

Sepulang dari Singapura, gerakan Gunretno makin membahayakan persatuan dan kesatuan umat. Rupanya, itulah agenda aktivis pro asing yang di KTP-nya “tidak beragama” itu. Dengan bantuan ide dan dana segar dari pihak asing yang berkepentingan untuk menghambat bahkan menggagalkan beroperasinya pabrik semen di Rembang, Gunretno pun makin nekad.

Jumat (10/2), di hari besar umat Islam, alih-alih mengajak massa yang digalangnya beribadah, dari pagi jam 07.00  ia malah mengagendakan unjuk rasa di jalan masuk area pabrik semen Rembang, di Desa Kadiwono, Kecamatan Bulu, Rembang. Sekitar 100 massa yang sebagian dari Rembang, dan sebagian lainnya dari luar Rembang itu, tidak hanya berfoto-foto lalu pergi –seperti biasanya– tetapi

Akibat blokade jalan, karuan saja, para pekerja pabrik yang notabene dari bagian administrasi ringan, petugas satpam, dan petugas perawatan mesin itu, tidak bisa masuk lokasi pabrik. Menjelang pukul 10.00, Wakapolres Rembang Kompol Pranandya dan jajaran tiba di lokasi, dan meminta aksi bisa diselesaikan dengan baik, apalagi aksi mereka tidak didukung pemberitahuan ke aparat, agar bisa diamankan. Sepertinya ada tendensi sengaja tidak melapor dan memancing kerusuhan.

Beruntung, massa pro yang berjumlah hampir 200, tidak terprovokasi. Menyadari bahwa sebagian kecil di antara yang kontra adalah tetangganya sendiri, mereka memilih dialog. Sumarno, tokoh yang dijadikan wayang oleh Gunretno sudah hafal dengan kalimat pembangkangan dan “waton suloyo”, kalau orang Jawa bilang.

Ketika disoal izin demo yang memang ada aturannya, dibantah dengan mempertanyakan izin pabrik. Di tengah jalan –bukan di gubernuran– mereka bahkan menyoal somasi yang ditujukan ke gubernur. Seperti sebuah kaset, penutusan Sumarno merembet ke soal wilayah CAT (cadangan air tanah), bahkan menyuruh membangun pabrik semen di Papua saja. Lupa, bahwa pabrik semen di Pati, di Tuban, dan daerah-daerah lain tidak pernah mereka usik, karena umum pun tahu, pemilik saham mayoritasnya adalah perusahaan asing.

Penjelasan dari Sugiyanto (bagian CSR PT Semen Indonesia) tentang sudah tidak adanya kegiatan di pabrik, tentang kepatuhan PT Semen Indonesia terhadap proses hukum, tak digubris. Sumarno makin ngawur saja mengatakan, apa pun kegiatannya, baik administrasi ringan, perawatan mesin, tidak boleh. Bahkan, sebatas bersih-bersih pabrik pun tidak boleh.

Sumarno tentu saja bicara atas apa yang dipesankan Gunretno kepadanya. Sebab, sejujurnya dia tahu, bahwa pabrik itu sudah merumahkan 3.000 karyawannya, yang sebagian besar juga tetangganya sendiri.

Pihak kepolisian mencoba membujuk massa tolak semen. Dia mengatakan, aspirasi dari massa kontra maupun dari pihak PT Semen Indonesia sudah didengar. Ia mencatat dengan baik, dan meminta semua pihak saling menghormati. Di akhir dialognya karena jam sudah menunjuk angka 11 siang, warga diminta membubarkan aksi dan bersiap-siap melaksanakan sholat Jumat.

Entah bisikan dari mana yang mereka dengar, imbauan sholat Jumat sama sekali tidak digubris. Mereka bahkan lebih mementingkan menjaga blokade jalan agar tidak dibongkar.

Lepas sholat Jumat, perangkat desa Ridwan (Kades Kadiwono) datang. Massa pro pabrik semen yang usai sholat Jumat pun hadir di situ. Disampaikanlah kepada massa kontra, bahwa apa yang dilakukan pabrik pada prinsipnya hanya menjaga aset. Massa kedua pihak diminta sama-sama mematuhi proses hukum, dan diimbau menghindari cara-cara kekerasan. Kades Ridwan bahkan mengatakan, aksi itu dilakukan di Desa Kadiwono, desa yang dipimpinnya. Ia mengimbau semua pihak menghormati perbedaan, mengingat falsafah Pancasila, dan mencintai negara Indonesia. Kades bahkan memohon pihak kontra membongkar blokade.

Semua tidak mempan, karena rupanya Gunretno di mata mereka jauh lebih penting dibanding imbauan Polres maupun Kades. Indikasi mereka “cari masalah” makin tampak ketika pukul 14.00, Awan Nugroho dari pihak perusahaan menawarkan kepada warga kontra pabrik semen untuk masuk ke area pabrik dan membuktikan sendiri, bahwa tidak ada kegiatan apa pun di dalam, kecuali administrasi ringan, perawatan mesin, dan petugas jaga (Satpam).

Tawaran itu pun dimentahkan, dengan sikap “pokoke”. Mereka menolak membuktikan ke dalam. Kata-katanya seperti kaset diputar, “Pokoknya tidak boleh ada aktivitas apa pun di lokasi pabrik, termasuk tidak boleh ada pengamanan Satpam, sampai tukang sapu pun tidak boleh.”

Hingga sejauh itu, aparat kepolisian maupun perangkat desa masih menunggu dengan sabar. Jam sudah menunjuk pukul 17.00. Hingga massa membubarkan diri, blokade jalan masih terpasang.

Usai sholat isya, massa pro semen dari desa Ring-1 kembali ke lokasi. Sebab, selama ini mereka pun memiliki tenda aspirasi yang berdiri tak jauh dari tenda yang kontra. Sekira pukul 19.40, massa kontra hampir semua sudah pulang. Apalagi, sebagian dari mereka memang bukan warga Rembang.

Massa pro pun membongkar blokade. Setelah itu, disusul membongkar tenda pro. Terakhir, barulah membongkar tenda kontra. Tentu saja tidak ada perlawanan dari pihak kontra, karena target mereka hari itu sudah terpenuhi. Jadi, mereka sebenarnya tidak peduli lagi dengan blokade itu. Karenanya, proses pembongkaran blokade, sampai pembongkaran kedua tenda, dan pesholatan, berlangsung dengan baik-baik saja.

Agar sama-sama tidak membangun tenda lagi di area sekitar pabrik, massa kemudian membakar puing-puing tenda. Apa yang terjadi? Gunretno yang masih “menanam” lima orang di situ, langsung mengedarkan berita dusta dan sangat berbahaya. Mereka membuat kronologi jam demi jam. Sebagian benar, sebagian ngawur. Dan yang paling ngawur adalah kronologi pembakaran mushola oleh massa pro semen.

Agar lebih dramatis, ditulis dan disebar di media sosial serta menyebarpress release ke media-media massa, dengan dramatisasi khas Gunretno. Dikatakan, bahwa massa pro membakar mushola lengkap dengan isinya, antara lain mukena, peci, dan kitab suci Al-Quran.

Itulah Gunretno. Setelah “konflik” dengan Emha Ainun Nadjib, disusul tindakan provokatif yang bisa mengancam kerukunan NU dan Keuskupan Agung Semarang (KAS), kini ia bermain api dengan memantik isu pembakaran mushola. Bagaimana mungkin orang Islam percaya provokator antek asing yang di KTP-nya bahkan “tidak beragama” (hanya tanda strip di kolom Agama)? ***

Sumber: Kaskus

Semen Rembang, No Problema…

KELOMPOK penentang Semen Rembang di bawah koordinator Gunretno dan adiknya, Gunarti, makin kehilangan posisi. Terlebih ketika Sidang Penilaian Adendum Amdal dan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup – Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL-RPL) PT Semen Indonesia yang di Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Jateng, Semarang, Kamis (2/2) lalu, telah mendapatkan hasil.

Sidang memutuskan Amdal pabrik semen di Rembang dinyatakan layak dan tidak ada problem. Keputusan ini akan jadi rekomendasi penerbitan izin lingkungan yang akan dikeluarkan Gubernur Jateng. Ketua Komisi Penilai Amdal yang juga Kepala Dinas LHK Jateng, Sugeng Riyanto menjelaskan, kelayakan Adendum Amdal dan RKL-RPL semen Rembang, dinilai berdasarkan sepuluh kriteria yang diatur Pasal 15 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 8 Tahun 2013.

Sidang Penilaian Adendum Amdal ini diikuti sejumlah warga dari desa-desa yang terdampak langsung dengan pabrik semen di Kecamatan Gunem dan Bulu di Rembang. Selain itu, sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) baik yang pro dan kontra, juga menjadi anggota komisi.

Hadir juga, 12 pakar dari berbagai disiplin keilmuan memberikan penilaian terhadap dokumen Adendum Amdal dan RKL-RPL Semen Rembang. Sidang tersebut awalnya terbatas hanya diikuti anggota komisi dan masyarakat yang diundang. Namun setelah unjuk rasa dari warga pendukung Semen Rembang berakhir, sidang pun dibuka untuk umum, termasuk awak media.

Sementara itu, Kepala Bagian Bantuan Hukum dan HAM, Biro Hukum Setda Provinsi Jateng, Ihwanuddin Iskandar menyayangkan aksi walk out anak buah Gunretno. Menurutnya, sidang ini bisa jadi kesempatan menyampaikan pendapat dan permintaan mereka. Mereka memilih keluar sidang, dan cuap-cuap di media, dengan sanggahan yang tidak argumentatif.

Para penolak diminta membaca baik-baik amar putusan dan penjelasan hakim MA. Misalnya, pertambangan tak diperbolehkan tapi untuk kepentingan bangsa dan negara, dapat dilengkapi dengan kriteria-kriteria tertentu dan pengawasan tertentu. ”Putusan PK MA seperti itu, tidak ada kalimat menutup pabrik, jadi saya rasa clear,” ungkapnya. ***

Kelompok pendukung semen Rembang (atas) dan yang menolak (bawah).

Warga Tuntut Semen Rembang Beroperasi Lagi

PENUTUPAN sementara pabrik semen Indonesia di Rembang menuai protes warga sekitar pabrik. Mereka khawatir penutupan pabrik akan mengancam perekonomian mereka yang selama hadirnya pabrik semen mulai menggeliat. Guna menyikapi kondisi tersebut, sejumlah tokoh warga desa-desa seputar pabrik pun menggalang dukungan untuk mendesak pemerintah agar kembali menerbitkan izin AMDAL dan operasi pabrik semen Indonesia di Rembang.

“Hingga hari ini sudah terkumpul sekitar 4.000 photocopy KTP warga Rembang seputar pabrik,” tutur Sudarji, tokoh masyarakat Desa Tegaldowo Kec Gunem yang ikut menggagas penggalangan dukungan tersebut. Menurut Sudarji, photo copy itu bisa dipertanggung jawabkan keasliannya karena disertai dengan tanda tangan si pemilik KTP langsung.

Sementara itu, Waid, tokoh pemuda Desa Timbrangan mengaku optimis KTP yang terkumpul akan mencapai 80% dari total warga desa desa ring satu. “Kami yakin karena mayoritas warga sadar dan sudah membuktikan bahwa kehadiran pabrik semen di daerah kami memberikan manfaat yang sangat besar,” ungkapnya.

Waid menambahkan pengumpulan KTP ini juga dalam rangka memberikan keyakinan kepada pemerintah bahwa isu penolakan yang muncul di media selama ini hanya dibesar-besarkan oleh sekelompok warga yang didalangi oleh LSM-LSM dari luar Rembang. “Kami meminta pemerintah bersikap bijak dan melihat dengan obyektif persoalan pro kontra pabrik semen ini,” pungkas Waid.

Seperti diketahui, Kamis 2 Februari lalu telah diselenggarakan Rapat Komisi Penilai AMDAL untuk menilai dokumen adendum ANDAL dan RKL-RPL Rencana Kegiatan Penambangan Bahan Baku Semen dan Pembangunan serta Pengoperasian Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Kab Rembang. Acara dilangsungkan di Kantor DLHK Provinsi Jateng. Tokoh tokoh warga desa seputar pabrik mengimbau agar warga-warga luar Rembang  tidak ikut memperkeruh suasana.

Hari itu, massa pendukung pabrik semen membludak. Tidak hanya masyarakat Rembang asli, tetapi juga didukung oleh mahasiswa yang sudah datang ke lokasi, dan sadar telah terkelabui oleh info menyesatkan dari kelompok kontra selama ini. Di sudut lain, hanya belasan massa kontra yang tampak di lokasi. Itu pun, sebagian warga Pati, daerah asal penggerak mereka, Gunretno. ***

Demo menuntut beroperasinya kembali pabrik semen Rembang membludak. Sementara, massa bayaran yang menolak semen Rembang, tampak sedikit saja. Itu pun sebagian di antaranya bukan warga Rembang.

“Macak Ndeso, Sugih Bondo”

GUNRETNO dan Gunarti, dua kakak-beradik tokoh lapangan yang memprovokasi masyarakat menolak kehadiran pabrik semen, ternyata rumahnya dibangun menggunakan semen. Dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan pejabat, pengusaha, asing, komunitas LSM, keduanya macak ndeso. Artinya, berdandan ala orang desa. Padahal, keduanya sugih bondo, artinya berkecukupan secara materi.

Pengamatan di lapangan, kedua rumah aktivis itu, sering digunakan kumpul dan melakukan rencana aksi atas pesanan para pihak yang berkepentingan. Terutama pihak asing. Dalam satu kesempatan, Prof (Ris) Hermawan Sulistyo, peneliti LIPI yang juga “mbah”-nya aktivis, menyebut bahwa Gunretno dan Gunarti berlimpah uang yang didapat dari Sido Muncul, pabrik rokok, bahkan dana asing. Modusnya, membuat proposal untuk “kepentingan A”, tetapi dalam praktik, digunakan sebagian besar untuk “kepentingan B”.

Rumah Gunretno yang ternyata memakai semen.

Aksi tipu-tipu oleh Gunretno sebenarnya sudah banyak diketahui orang. Sumber di lapangan bahkan meminta supaya melakukan konvirmasi ke Cak Nun (Memha Ainun Nadjib). Cak Nun, yang awalnya simpati kepada JMPP (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng), pada akhirnya putus hubungan dengan Gunretno karena merasa dimanfaatkan. Sumber itu bahkan menyebut, konteks pemanfaatan nama besar Cak Nun bahkan sampai kepada meminta uang dengan dalih pinjam, yang tidak pernah dikembalikan.

Puncaknya pada salah satu acara pengajian di Alun-alun Pati, Gunretno yang notabene tidak mencantumkan agama di KTP-nya itu, menghasut jamaah dan mendiskreditkan Cak Nun. Sejak itu pula Cak Nun kecewa berat kepada Gunretno. “Coba cek…. Cak Nun sudah gak pernah mau datang kalau diundang pengajian di Pati,” ujar sumber itu. ***

Gunretno dan Dana Asing

ISU seputar pro dan kontra pabrik semen Rembang terus bergulir. Aktivis kontra yang diduga didanai asing, memainkan isu penolakan dengan aksi-aksi yang bersifat manipulatif, tidak sesuai fakta dan data di lapangan. Adalah dedengkot aktivis, Prof (Ris) Dr. Hermawan Sulistyo yang turun gunung atas nama kepentingan warga Rembang khususnya, dan harga diri bangsa pada umumnya.

“Konsen saya adalah orang (masyarakat sekitar) di Rembang, dan Indonesia pada umumnya. Saat ini tidak waktunya untuk berdebat “pro” atau “kontra”, tapi mendiskusikan “apa yang didapat rakyat dengan adanya pabrik semen”.

Hermawan “Kikiek” Sulistyo

Menurut Kikiek, panggilan akrabnya, tugas aktivis adalah mengawal itu, bukan “menghambat” daya tawar dan pembangunan daerah tertinggal. “Seharus posisi aktivis ada di tengah dan menjembatani perusahaan dengan masyarakat,” tegasnya.

Proses industrialisasi tidak serta-merta ikut merusak budaya masyarakat, termasuk budaya agraris yang menjadi mata pencarian sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk bisa menjembatani antara kepentingan industrialisasi dan penjagaan keberlanjutan lingkungan serta budaya, antara pelaku industri dan masyarakat harus meningkatkan komunikasi dan sinergi.

Dalam melakukan ekspansi, pelaku industri pasti juga mempunyai kalkulasi, termasuk selalu mematuhi aturan terkait lingkungan yang berlaku. “Misalnya, perusahaan semen kan tidak mungkin membangun pabrik di lahan pertanian yang subur, karena itu bukan bahan bakunya. Kita harus obyektif biar sama-sama berkembang,” tambahnya.

Terhadap aktivis kontra, yang selama ini dimotori Gunretno, masyarakat harus objektif dan jeli melihat kiprahnya. Selama ini, Gunretno diduga banyak menerima limpahan dana, termasuk dari pihak asing untuk menggagalkan proyek pembangunan pabrik semen milik negara itu. “Usut rekening Gunretno. Ambil kesaksian dari orang-orang di sekitar yang dikecewakan dan sekarang berseberangan dengan dia,” kata Kikiek tegas. ***