Mengapa Lampu Kabin Pesawat Diredupkan Saat Lepas Landas dan Mendarat?

JAYAKARTA NEWS – Kadang-kadang, aturan penerbangan udara terasa menantang akal sehat. Mengapa kita harus menutup laptop tetapi tablet boleh tetap terbuka?

Mengapa kita harus mengubah ponsel ke mode pesawat dan apa yang terjadi jika kita tidak melakukannya? Mengapa kita harus mengenakan sabuk pengaman saat taxiing dengan kecepatan 5 mil per jam (8Km/jam), tetapi tidak selalu saat terbang dengan kecepatan 500 mph (804Km/jam)?

Nah, ada satu aturan penerbangan lain yang mungkin terasa sewenang-wenang, tetapi seperti banyak aturan lainnya, ada logika yang kuat di baliknya: Jika penerbangan lepas atau mendarat saat gelap, lampu dalam kabin harus diredupkan. Mungkin Anda berpikir akan lebih masuk akal untuk tetap menyala agar penumpang dapat melihat lebih baik di dalam pesawat, tetapi tidak. Tidak begitu.

Alasan di balik meredupkan lampu kabin saat lepas landas dan mendarat
Pertama, ketika lampu dalam kabin redup, tanda-tanda pintu darurat yang dinyalakan lebih mudah terlihat. Dan kedua, selama lepas landas dan mendarat (fase penerbangan yang paling krusial dalam hal keamanan), penting bagi penumpang untuk tetap sadar akan lingkungan sekitar mereka.

Kabin yang redup membantu dalam hal itu: Ini memungkinkan mata semua orang beradaptasi sehingga mereka dapat melihat tidak hanya di dalam pesawat tetapi juga di luar. Jika kabin terlalu terang, awak dan penumpang tidak akan dapat melihat keluar dari jendela. (Dan jika Anda ingin tahu mengapa tirai jendela harus terbuka saat lepas landas dan mendarat, kami juga punya jawabannya.)

“Dengan memprediksi mata Anda, Anda tidak akan tiba-tiba terbutakan saat berlari menuju pintu dalam kegelapan atau asap,” kata Patrick Smith, seorang pilot maskapai, yang aktif sebagai blogger perjalanan, dan penulis Ask the Pilot.

“Ini juga memudahkan pramugari untuk menilai potensi bahaya di luar, seperti api atau puing-puing. Dengan lampu menyala terang, silau akan membuatnya tidak mungkin untuk melihat ke luar.”

Idealnya, pencahayaan interior pesawat harus disesuaikan dengan kondisi eksterior, karena mata manusia butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya (seperti ketika Anda keluar dari bioskop yang gelap).

Pentingnya dapat melihat keluar dari jendela
Bisa melihat dengan jelas ke luar bisa sangat penting dalam penerbangan. Sebagai contoh, dalam insiden British Airways pada tahun 2013, penutup mesin pesawat terbuka setelah lepas landas, dan karena masalah tersebut terlihat melalui jendela, kru bisa melakukan pendaratan darurat dengan cepat. Dalam kejadian lain, seorang penumpang United Airlines dalam penerbangan dari Newark ke Venesia melihat melalui jendela bahwa bahan bakar bocor dari sayap.

Penumpang juga perlu bisa melihat dengan jelas di dalam pesawat. Menurut Flight Safety Foundation, dalam kejadian asap atau uap, penumpang bisa kehilangan hingga 83 persen kemampuan mereka untuk menemukan jalan, dan mereka mungkin tidak dapat melihat tanda keluar segera.

Itulah mengapa Kode Regulasi Federal Administrasi Penerbangan Amerika Serikat dan Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa mengharuskan jalur penunjuk keluar pesawat harus cukup terang untuk terlihat dalam kegelapan.

Dalam banyak kasus, pencahayaan pada tingkat lantai tersebut bergantung pada teknologi fosfor berpendar yang terbuat dari bahan fotoluminesen, memastikan bahwa itu masih akan berfungsi jika daya pesawat mati. Mematikan lampu kabin saat lepas landas dan mendarat membuatnya lebih mudah untuk melihat hal ini dalam kejadian kecelakaan. (afr/sm)

Begini Cara Melacak Status Penerbangan Anda secara Real Time


Google dan FlightAware bisa membantu Anda mengetahui apakah penerbangan Anda akan ditunda—seringkali bahkan dapat info sebelum maskapai mengumumkannya.

JAYAKARTA NEWS – Mungkin Anda ingin melacak status penerbangan Anda agar ada kepastian apakah pesawat yang akan Anda tumpangi ada penundaan jam penerbangannya atau perubahan lain yang dapat mempengaruhi rencana Anda.

Anda mungkin juga ingin memeriksa kembali waktu kedatangan yang diantisipasi dari penerbangan seseorang atau orang-orang yang Anda cintai, sebelum Anda menuju ke bandara untuk menjemput mereka.

Mungkin Anda penasaran ke mana pesawat yang baru saja naiki akan pergi selanjutnya. Atau mungkin Anda melihat pesawat terbang di atas kepala dan bertanya-tanya ke mana pesawat tersebut akan pergi. Ada banyak alasan mengapa Anda mungkin ingin memeriksa status penerbangan.

Beruntungnya, kini tidak ribet lagi. Ada alat yang dapat membantu Anda melakukan semua itu. Berikut adalah beberapa aplikasi dan situs web terbaik untuk melacak penerbangan, beserta cara menggunakannya untuk memeriksa status penerbangan.

Pelacak status penerbangan
Ada berbagai aplikasi dan situs web yang membagikan informasi tentang perkiraan waktu keberangkatan dan kedatangan penerbangan Anda, tetapi beberapa juga dapat memberikan pandangan mendalam, menarik informasi seperti penerbangan sebelumnya di pesawat tersebut dan seperti apa cuaca di bandara penghubung. Berikut adalah beberapa pelacak penerbangan yang kami rekomendasikan.

Salah satu cara paling mudah dan cepat untuk memeriksa apakah penerbangan masih dijadwalkan untuk berangkat atau tiba tepat waktu adalah dengan mencarinya di Google.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah mencari “[nomor penerbangan] status” di bilah pencarian (misalnya, “GA2488 status”) dan tekan enter. Google kemudian menggabungkan berbagai situs web pelacak penerbangan dan menampilkan perkiraan waktu kedatangan dan keberangkatan di bagian atas halaman. Google juga akan menampilkan informasi terminal dan gerbang yang paling mutakhir.

FlightRadar24
Jika Anda ingin mendapatkan gambaran lengkap di mana pesawat berada dalam perjalanannya—termasuk posisi real-time—FlightRadar24 adalah sumber daya yang membantu dalam bentuk situs web dan aplikasi gratis.

Anda benar-benar dapat masuk ke detail dan melihat data seperti semua kedatangan dan keberangkatan yang dijadwalkan di bandara tertentu, termasuk jenis pesawat apa itu dan siapa pemiliknya (baik maskapai komersial maupun pemilik pesawat pribadi). Juga mungkin untuk melihat catatan penerbangan pesawat dan di mana pun pesawat tersebut telah terbang sebelumnya—termasuk hari itu atau sepanjang masa hidupnya, tergantung pada bagaimana Anda mengatur parameter pencarian.

Jika Anda telah melihat pesawat di atas kepala dan bertanya-tanya ke mana pesawat itu akan pergi, FlightRadar24 juga bisa membantu di sana. Ini dapat menampilkan semua pesawat yang terbang di sekitar Anda. Jika ada beberapa pesawat yang terbang di sekitar Anda, itu akan menampilkan semuanya, yang membuat lebih sulit untuk mengetahui pesawat mana yang Anda lihat dengan tepat, tetapi ini bisa membantu memberi Anda gambaran.

Mereka yang memilih layanan Premium (dengan tarif yang berkisar antara $10 hingga $500 per tahun, tergantung pada rencana) juga dapat mempelajari lebih lanjut tentang jenis pesawat yang tepat, seberapa cepat pesawat tersebut terbang, dan ketinggiannya.

FlightAware
Seperti FlightRadar24, FlightAware menawarkan data pelacakan penerbangan untuk semua penerbangan komersial di seluruh dunia dengan bantuan jaringan server yang menangkap posisi pesawat secara real-time.

Baik Anda seorang pelancong sering atau pecinta penerbangan, ada banyak cara untuk menggunakan layanan gratis ini (tersedia dalam bentuk aplikasi dan situs web). Jika Anda memiliki nomor penerbangan, FlightAware dapat memberikan informasi tentang waktu keberangkatan dan kedatangan yang diharapkan. Jika Anda tidak memiliki nomor penerbangan, opsi Flight Finder dapat membantu menemukan nomor penerbangan (meskipun Anda perlu tahu bandara asal dan tujuan pesawat). FlightAware juga menawarkan Peta Kesengsaraan interaktif, yang dapat menunjukkan bandara mana yang saat ini mengalami masalah (dan lebih spesifik lagi, rute mana yang mengalami penundaan dan pembatalan pada hari itu).

FlightAware tersedia sebagai aplikasi atau situs web gratis, dengan kemungkinan pencarian lima penerbangan per bulan. Setelah itu, ada beberapa layanan premium, dengan harga yang berkisar antara $40 hingga $130 per bulan, tergantung pada seberapa dalam Anda ingin melacak penerbangan, seperti melacak lebih banyak penerbangan atau mengikuti pesawat tertentu dari waktu ke waktu.

Bagaimana aplikasi dan situs web pelacakan penerbangan bekerja?
Aplikasi dan situs web pelacakan penerbangan melacak penerbangan secara real-time, di seluruh dunia. Mereka digunakan untuk memeriksa status penerbangan, melihat apakah pesawat yang akan datang mengalami penundaan yang diantisipasi, mengamati radar cuaca sepanjang jalur penerbangan, melihat rute tepat yang ditempuh pesawat, dan menentukan jenis pesawat apa itu.

Biasanya, mereka bekerja dengan cara mengumpulkan informasi tentang di mana pesawat berada pada setiap waktu tertentu (yang memungkinkan karena pesawat terus-menerus membagikan posisinya dengan pesawat lain dan pengendali lalu lintas udara karena alasan keamanan). Mereka mendapatkan akses ke informasi ini melalui satelit.

Selain memberi tahu Anda apakah penerbangan Anda akan ditunda, pelacak penerbangan dapat membantu para pelancong menghindari kemungkinan kemacetan, terutama selama periode perjalanan sibuk (seperti musim liburan) atau setiap kali. (diolah dari berbagai sumber/sm)

Citilink sebagai LCC Kedua di Dunia yang Raih Predikat “5-Star Covid-19 Airline Safety Rating” dari Skytrax

JAYAKARTANEWS— Maskapai penerbangan Citilink berhasil meraih predikat “5-Star Covid-19 Airline Safety Rating” dari Skytrax, sebuah lembaga pemeringkat penerbangan global independen yang berbasis di Inggris, menjadikannya sebagai LCC kedua di dunia setelah Scoot (Singapore Airline Group) dan menjadi salah satu dari 15 maskapai di dunia yang berhasil memperoleh predikat ini.

Pencapaian tersebut diumumkan di laman resmi Skytrax (https://skytraxratings.com/) pada hari Selasa, 21 September 2021.

Predikat “5 – Star Covid-19 Airline Safety Rating” tersebut merupakan penilaian tertinggi yang diberikan kepada maskapai penerbangan atas penerapan protokol kesehatan terbaik dalam layanan penerbangan di tengah situasi pandemi.

Citilink telah melakukan persiapan audit sejak Januari 2021. Pencapaian predikat tersebut didasarkan pada proses audit yang dilaksanakan oleh Skytrax pada bulan Agustus 2021 yang mencakup keseluruhan aspek penerapan protokol kesehatan, utamanya dalam memberikan pelayanan terbaik selama masa pandemi Covid-19 yang meliputi tahapan pre-, in– hingga post-flight.

Direktur Utama Citilink Juliandra mengungkapkan, “Predikat ini merupakan pengakuan global atas kualitas penerapan protokol kesehatan yang baik dalam penerbangan Citilink khususnya di masa pandemi Covid-19.”

Juliandra mengatakan bahwa sejak awal Citilink terus berkomitmen untuk menerapkan protokol kesehatan yang baik dan mengembangkan berbagai layanan di seluruh fase penerbangannya demi menciptakan penerbangan yang aman dan nyaman bagi seluruh pelanggan, sejalan dengan misi Citilink untuk menjadi “The Most Hassle-Free Airline”.

“Kami senang untuk menobatkan Citilink dengan predikat 5-Star Airline Covid-19 Safety Rating, mempertimbangkan segala upaya yang telah dilakukan Citilink dalam memberikan standar kebersihan tertinggi bagi penumpangnya. Manajemen dan karyawan Citilink telah melampaui standar industri untuk memitigasi risiko penularan Covid-19 dalam rangka memulihkan kepercayaan penumpang untuk kembali bepergian menggunakan pesawat,” kata CEO Skytrax Edward Plaisted pada kesempatan yang sama.

Pelaksanaan Audit Skytrax dilakukan untuk memastikan bahwa Citilink telah memiliki prosedur atau menyempurnakan prosedur dengan memasukkan standar prosedur kesehatan terkait Covid-19 dan penerapan prosedurnya baik dalam fase sebelum, saat terbang, maupun sesudah penerbangan (pre-, in-, dan post flight).

Secara garis besar aspek penilaian Audit Skytrax yang dilakukan adalah:

· Pre-flight: Website, automatic check-in process, boarding management;

· In-flight: Customer & cabin staff PPE (Personal Protective Equipment), cabin staff assistance, disembark management and cabin cleanliness;

· Post-flight: Arrival and baggage reclaim.

Tentang Citilink

Citilink merupakan maskapai penerbangan yang berada di bawah naungan Garuda Indonesia Group yang melayani penerbangan dengan sistem dari kota ke kota.

Sebagai bukti keberhasilan dalam komitmen meningkatkan pelayanan pada pelanggan, Citilink telah meraih beberapa penghargaan seperti penghargaan Top IT Implementation Airlines Sector dari Kementerian Komunikasi dan Informatika di tahun 2017, penghargaan Transportation Safety Management Award dari Kementerian Perhubungan di tahun 2017, akreditasi bintang empat dari badan pemeringkat industri aviasi dunia, SKYTRAX selama dua tahun berturut-turut dari tahun 2018, penghargaan TripAdvisor Traveler’s Choice Award yang telah diperoleh selama tiga tahun berturut-turut dari tahun 2018, meraih predikat 4-Star Low-Cost Airline versi Airline Passenger Experience (APEX) untuk ketiga kalinya, serta berbagai penghargaan bergengsi lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Citilink dapat mengunjungi situs www.citilink.co.id, halaman Facebook FanPage Citilink, Twitter @citilink dan Instagram @citilink.***/ont

Citilink Imbau Calon Penumpang Perhatikan Ketentuan Perjalanan di Daerah yang Dituju

JAYAKARTA NEWS— Maskapai Citilink mengimbau kepada seluruh calon penumpang yang akan melakukan perjalanan untuk senantiasa memperhatikan syarat dan ketentuan terkait dokumen perjalanan yang berlaku.

“Penumpang diimbau untuk memastikan berkas dan dokumen perjalanan yang dipersyaratkan di masing-masing daerah asal dan tujuan sudah terpenuhi,” kata Direktur Utama Citilink Juliandra di Cengkareng (31/5).

Dokumen yang dibutuhkan di antaranya adalah surat keterangan hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dengan hasil tes negatif yang berlaku selama 7 hari atau surat keterangan uji rapid test dengan hasil non reaktif yang berlaku selama 3 hari, surat tugas dari kantor maupun instansi terkait, surat pernyataan perjalanan dan berbagai dokumen penunjang lainnya.

Adapun khususnya pada penerbangan Citilink tanggal 1 sampai dengan tanggal 7 Juni 2020, Citilink tetap mengikuti ketentuan Pemerintah yang tercakup dalam Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 No. 5 Tahun 2020 dan juga Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan No. 37 Tahun 2020, dimana calon penumpang juga diwajibkan untuk dapat menunjukkan kelengkapan dokumen yang asli pada saat melakukan check-in.

Untuk informasi dan persyaratan lebih lengkap mengenai ketentuan perjalanan di daerah lainnya, calon penumpang diimbau untuk dapat mengakses laman resmi Pemda setempat atas daerah yang dituju sebelum melakukan keberangkatan, sebagai contoh bagi calon penumpang yang akan masuk atau keluar wilayah DKI Jakarta, maka calon penumpang diwajibkan memiliki Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) wilayah DKI Jakarta yang dapat diperoleh melalui laman resmi http://corona.jakarta.go.id, dan bagi yang akan memasuki wilayah Bali, maka calon penumpang diwajibkan untuk mengisi data diri dengan mengakses pada laman resmi https://cekdiri.baliprov.go.id/.

Citilink senantiasa memberlakukan protokol kesehatan di seluruh lini operasionalnya dengan mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 maupun Kementerian Perhubungan untuk memastikan penerbangan berjalan dengan optimal dan tentunya tetap mengutamakan aspek kesehatan dan keamanan bagi seluruh pelanggan.***/non

Calon Penumpang Menjerit, Kemenhub Minta Maskapai Tegur Agen/Platform Aplikasi

Ilustrasi–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS —Menyusul beredarnya harga tiket yang luar biasa mahal pada masa mudik Lebaran 2019 saat ini, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta maskapai penerbangan menegur mitra penjual/agen untuk tidak menampilkan harga yang tidak masuk akal karena penerbangan harus melalui beberapa kali transit.

“Karena yang muncul di layar aplikasi konsumen, harga tiket jadi tidak masuk akal. Kalau maskapai tidak diingatkan untuk menegur mitra mereka, ini akan merugikan reputasi maskapai sendiri, sekaligus membuat calon penumpang menjerit,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti di Jakarta, Kamis (30/5). Demikirin rilis Humas Kemenhub.

Polana menambahkan, dalam suasana di mana permintaan tiket pesawat mengalami puncak seperti musim liburan dan Lebaran 2019 tahun ini, pemunculan harga yang tidak masuk akal akan makin membuat publik kebingungan dan menurunkan kepercayaan terhadap pelayanan dalam industri penerbangan.

Tiket yang dijual di aplikasi bukanlah tiket penerbangan langsung sesuai tujuan. Untuk rute Bandung tujuan Medan misalnya, tiket yang ditawarkan adalah melalui transit Denpasar dan Jakarta, baru terbang ke Medan, sehingga harganya pun luar biasa termurah Rp13.400.700 dan termahal Rp21.920.800. Sementara untuk Jakarta-Makassar penerbangan yang ditawarkan harus transit melalui Jayapura, baru terbang lagi ke barat dari Jayapura ke Makassar, dan harga jualnya mencapai Rp24.576.400.

Rekayasa Platform Aplikasi

Mengenai harga tiket yang luar biasa mahal itu, dalam pengamatan Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub karena platform aplikasi penjualan tiket menawarkan pilihan sesuai dengan rute dan tanggal yang sudah dipilih oleh konsumen atau calon penumpang. Setelah calon penumpang memilih rute dan tanggal, mesin aplikasi akan mencarikan semua jadwal penerbangan yang tersedia untuk rute tersebut pada tanggal yang telah dipilih.

Aplikasi kemudian akan memfilter jadwal yang masih tersedia, lalu menampilkannya di layar aplikasi pelanggan. Di layar, pelanggan bisa mengurutkan berdasarkan harga yang ditawarkan, termasuk memfilter jenis-jenis maskapai tertentu.

Karena berbasis mesin algoritma, maka aplikasi akan menyediakan semua pilihan yang tersedia, termasuk apabila rute penerbangannya harus transit melalui bandara-bandara tertentu.

Pada musim-musim ramai seperti liburan Lebaran, penerbangan langsung untuk tanggal-tanggal favorit biasanya sudah tidak tersedia. Calon penumpang yang membeli di waktu yang mepet dengan tanggal keberangkatan, akan disodori pilihan penerbangan yang masih tersisa, termasuk apabila harus transit.

Pencarian rute yang dipilih calon konsumen tentu saja menggunakan mesin. Mesin akan memasukkan harga tiket sesuai dengan rute penerbangan yang masih tersedia, sehingga apabila diakumulasi harganya menjadi berlipat-lipat dibandingkan dengan penerbangan langsung.

Dalam peraturan di industri penerbangan, penumpang akan dibebani biaya tambahan seperti pajak iuran wajib asuransi, dan Passanger service charge ( PSC) untuk penerbangan ke setiap titik. Apabila rute yang dipilih konsumen harus transit di 2 bandara, maka ia akan dikenai tambahan biaya sebanyak 3 kali, yakni biaya di bandara keberangkatan dan dua bandara transit.

Lalu, bagaimana mungkin rute Jakarta-Makassar ditawarkan harus transit ke Jayapura terlebih dahulu? Atau untuk terbang dari Bandung ke Medan, calon penumpang harus terbang ke Denpasar terlebih dahulu?

Karena berdasarkan mesin yang ada dalam aplikasi layanan online, penerbangan untuk jadwal yang dipilih calon penumpang pada tanggal tersebut, tinggal itulah satu-satunya pilihan yang tersedia, sedangkan pilihan penerbangan yang langsung sudah diambil oleh penumpang lain jauh-jauh hari sebelumnya.

Dengan cara bekerja mesin layanan seperti itu, maka aplikasi akan memunculkan semua kemungkinan yang masih tersedia untuk jadwal penerbangan yang diinginkan konsumen, sehingga mengakibatkan harganya menjadi tidak masuk akal, karena diakumulasi dari setiap penerbangan dari titik keberangkatan ke titik transit pertama, transit kedua, dan seterusnya, sampai dengan titik akhir penerbangan. ***/setkab/ebn

Berlaku Mulai Besok, Menhub Berharap Maskapai Terapkan Tarif Tiket 50%-80% dari TBA

Ilustrasi–gambar istimewa

JAYAKARTA NEWS— Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi pada 15 Mei 2019 telah menandatangani Keputusan Menhub No 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Keputusan ini menggantikan Keputusan Menteri Nomor 72 TAHUN 2019 tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Mengutip dari laman setkab.go.id, dalam lampiran Keputusan Menhub Nomor 106 Tahun 2019 itu di antaranya disebutkan, Tarif Batas Atas (TBA) untuk rute Jakarta-Surabaya dipatok di harga Rp1.167.000, sedangkan TBB (Tarif Batas Bawah)-nya di harga Rp408.000; TBA rute Jakarta-Medan (Kualanamu) TBA Rp1.799.000, TBB-nya di harga Rp 630.000.

Sedangkan TBA rute Jakarta-Palembang Rp844.000, TBB-nya Rp295.000; TBA Rute Jakarta-Semarang Rp796.000,  TBB-nya Rp279.000; TBA rute Jakarta-Solo Rp906.000, TBB-nya Rp317.000; TBA rute Jakarta-Makassar TBA Rp1.830.000, TBB-nya Rp641.000; TBA rute Jakarta-Yogyakarta (Adisutipto) Rp860.000, TBB-nya Rp301.000; TBA rute Jakarta-Lombok Praya Rp1.396.000, TBB-nya Rp489.000; TBA rute Denpasar-Jakarta TBA Rp1.431.000, TBB-nya Rp 501.000.

Menurut Menhub Budi K. Sumadi regulasi penyesuaian Tarif Batas Atas (TBA) Pesawat akan mulai berlaku efektif pada Sabtu, 18 Mei 2019. “Maskapai harus mengikuti regulasi tersebut,” jelas Menhub di Jakarta, Kamis (17/5).

Jalan Terbaik

Mehub menjelaskan, kebijakan tersebut dilakukan setelah pihaknya melakukan evaluasi terhadap tarif pesawat yang dirasa oleh masyarakat terlalu tinggi, walaupun sebenarnya tarif yang dikenakan tidak melanggar TBA yang telah ditetapkan Kemenhub.

“Setelah kami lakukan evaluasi dan persuasi ternyata belum juga terjadi suatu harga yang terjangkau bagi masyarakat. Kami menerima banyak keluhan dari masyarakat, komplain dari sektor pariwisata, perhotelan dan juga terjadinya inflasi,” ungkap Menhub.

Untuk itu, Menhub mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Menko Perekonomian, dan stakeholder terkait seperti Kementerian BUMN, Maskapai dan lain sebagainya, yang memutuskan bahwa harus dilakukan penyesuaian dengan menurunkan TBA pesawat.

“Jalan terbaik yaitu kami harus melakukan penyesuaian TBA,” tegas Menhub.

Dengan diterapkannya regulasi ini, Menhub Budi K. Sumadi berharap maskapai dapat menyesuaikan dengan TBA yang baru.

“Harapannya maskapai LCC juga menyesuaikan. Kami mengharapkan bahwa maskapai LCC memberikan harga-harga yang dapat dijangkau. Misalnya menjual tiket dari tarif yang 50 persen sampai 80 persen dari batas atas itu tersedia. Sehingga masyarakat itu punya pilihan,” ujar Menhub.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti dalam konferensi persnya mengatakan bahwa revisi Keputusan Menhub terkait penyesuaian TBA pesawat dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap aspirasi dari masyarakat, namun juga dengan tetap memperhatikan keberlangsungan industri penerbangan, terutama menjelang pelaksanaan Angkutan Lebaran tahun 2019.

Menurut Polana, penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Selain itu, Polana mengatakan bahwa faktor On Time Performance (OTP) yang semakin baik dari maskapai juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam mengambil keputusan untuk melakukan penyesuaian TBA pesawat.

OTP yang baik dari maskapai, memberikan kontribusi terhadap efisiensi pengoperasian pesawat udara yaitu, efisiensi bahan bakar dan juga efisiensi jam operasi pesawat udara. Tercatat, terjadi Peningkatan OTP terjadi pada Januari s.d Maret 2019 rata –rata 86,29 persen dari 78,88 persen pada periode yang sama tahun 2018.

Lebih lanjut Polana mengharapkan agar masyarakat juga memahami bahwa harga tiket pesawat bersifat fluktuatif karena dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat dipengaruhi oleh Kurs mata uang.

“Diharapkan agar masyarakat dapat memahami, karena harga tiket bersifat fluktuatif. Terkait Penentuan dasar tarif tidak hanya dipengaruhi oleh single factor, tapi multi factor di antaranya biaya operasional penerbangan, jasa kebandarudaraan (PSC), jasa pelayanan navigasi penerbangan, pajak, asuransi dan lain-lain. Beberapa komponen ini sangat dipengaruhi oleh kurs dolar terhadap Rupiah,” ungkap Polana. ucapnya. ***/ebn

Akhirnya, Pertamina Turunkan Harga Avtur

Ilustrasi– pesawat GIA mengisi avtur –foto bisniswisata co id

Setelah sempat disindir sejumlah kalangan sebagai penyebab tingginya harga tiket pesawat terbang di dalam negeri, PT Pertamina (Persero) terhitung, Sabtu (16/2) pukul 00.00 WIB melakukan penyesuaian harga jual avtur. Media Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita menjelaskan, harga baru avtur ini sesuai dengan Keputusan Menteri ESDM Nomor 17/2019 tentang Formula Harga Dasar dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis BBM Umum Jenis Avtur yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara.

Menurut Arya, Pertamina secara rutin melakukan evaluasi dan penyesuaian harga avtur secara periodik, yaitu sebanyak dua kali dalam sebulan. Untuk periode kali ini (16 Februari 2019), harga avtur mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Sebagai contoh harga avtur (published rate) untuk Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng mengalami penurunan dari sebelumnya Rp8.210 per liter menjadi Rp7.960 per liter. “Harga ini lebih rendah sekitar 26 persen dibandingkan harga avtur (published rate) di Bandara Changi Singapura yang terpantau per tanggal 15 Februari 2019 sekitar Rp10.769 per liter,” jelas Arya.

Penyesuaian harga avtur ini, lanjut Arya, dilakukan dengan mempertimbangkan rata-rata harga minyak dunia, nilai tukar rupiah dan faktor lainnya. Pertamina berharap penurunan harga avtur ini juga merupakan bentuk dukungan Pertamina terhadap industri penerbangan nasional, yang diharapkan juga berdampak pada industri lainnya termasuk pariwisata.

Arya juga menambahkan bahwa harga jual avtur untuk setiap maskapai ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. yakni antara Pertamina sebagai penyedia dan maskapai penerbangan sebagai konsumen. “Pertamina terus berkomitmen untuk memberikan layanan yang terbaik untuk masyarakat dengan menyediakan bahan bakar pesawat udara di 67 bandara yang tersebar di Indonesia,” pungkas Arya.

Penyebab Tingginya Harga Tiket Pesawat

Sebelumnya saat menghadiri acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Ballroom Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/2) malam, Presiden Jokowi mengaku telah menerima banyak keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan di dalam negeri.

Menurut Presiden, tingginya harga tiket pesawat ini karena harga bahan bakar pesawat yaitu avtur di Indonesia ternyata sangat mahal. “Saya terus terang juga kaget, dan malam hari ini juga saya baru tahu tadi dari Pak Chairul Tanjung mengenai avtur. Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta itu dimonopoli oleh Pertamina sendiri,” kata Presiden Jokowi saat itu.

Menurut Presiden, pilihannya hanya satu, harganya bisa sama dengan harga internasional. Kalau tidak bisa, lanjut Presiden, berarti pemerintah akan masukkan kompetitor yang lain sehingga terjadi kompetisi. “Ya pilihan-pilihannya kan hanya itu, sudah enggak ada yang lain. Karena memang, ini sangat-sangat mengganggu sekali,” tegas Presiden.

Presiden juga meminta jajaran menteri terkait untuk menghitung kembali harga avtur, bahan bakar pesawat, yang memberikan kontribusi besar dalam penetapan harga tiket pesawat. “Tadi baru, tadi baru kita rapatkan. Saya sudah perintahkan untuk dihitung mana yang belum efisien, mana yang bisa diefisienkan, nanti akan segera diambil keputusan,” kata Presiden Jokowi menjawab wartawan usai melantik Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim, Gubernur Jambi, dan para duta besar baru RI untuk negara sahabat, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (13/2) sore. Presiden Jokowi memastikan akan segera mengambil keputusan terkait harga itu setelah ada kalkulasinya dari kementerian/lembaga terkait. (gun)

Garuda Turunkan Harga Tiket 20 Persen, Menhub Apresiasi

GIA–foto istimewa

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengapresiasi keputusan Garuda Indonesia Group yang menurunkan harga tiket pesawat seluruh rute pesawat sebesar 20 persen. Menhub berharap keputusan Garuda ini dapat diikuti oleh perusahaan penerbangan lainnya. “Saya mengapresiasi apabila Garuda menurunkan tarif, karena kesepakatan itu sendiri sudah disepakati oleh INACA (Indonesia National Air Carriers Association) saat itu untuk memberikan satu harga yang terjangkau untuk masyarakat,” kata Menhub, di Jakarta, Kamis (14/2).

Mengingat Garuda Indonesia Group merupakan market leader, menurut Menhub, semestinya penurunan harga akan diikuti oleh maskapai penerbangan lainnya. “Saya melihat bahwa bila Garuda melakukan penyesuaian tarif dan bisa turun, mestinya diikuti oleh penerbangan yang lain. Karena Garuda adalah penerbangan yang utama di Indonesia apalagi sekarang sudah bergabung dengan Sriwijaya tentunya. Dia menjadi market leader kalau ada penurunan pastinya ada penyesuaian di penerbangan yang lain,” tegas Menhub.

Menurut Menhub, sesungguhnya Lion Air Group juga mempunyai niat untuk memberikan suatu tarif yang terjangkau kepada masyarakat.

Mulai Kamis

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara dalam siaran persnya menyampaikan, penurunan tiket pesawat untuk maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, dan Nam Air untuk seluruh rute sebesar 20 persen, mulai hari Kamis (14/2).

Menurut Ari, penurunan tarif tiket penerbangan dilakukan untuk mendukung upaya peningkatan sektor perekonomian nasional, khususnya untuk menunjang pertumbuhan sektor pariwisata, UMKM, hingga industri nasional lainnya, mengingat layanan transportasi udara memegang peranan penting dalam menunjang pertumbuhan perekonomian.

“Penurunan harga tiket tersebut, kami pastikan akan menjadi komitmen berkelanjutan Garuda Indonesia Group dalam memberikan layanan penerbangan yang berkualitas dengan tarif tiket penerbangan yang kompetitif,” papar Ari. (gun)

 

Harga Avtur Penyebab Tiket Pesawat Mahal, Pertamina Monopoli

foto bisniswisata co id

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku telah menerima banyak keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat untuk penerbangan di dalam negeri. Menurut Presiden, tingginya harga tiket pesawat ini karena harga bahan bakar pesawat yaitu avtur di Indonesia ternyata sangat mahal.

“Saya terus terang juga kaget, dan malam hari ini juga saya baru tahu tadi dari Pak Chairul Tanjung mengenai avtur. Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta itu dimonopoli oleh Pertamina sendiri,” kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Ballroom Puri Agung Hotel Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (11/2) malam.

Karena itu, Presiden Jokowi akan mengundang Dirut Pertamina terkait tingginya harga avtur di dalam negeri itu. Ia menegaskan, pilihannya hanya satu, harganya bisa sama dengan harga internasional. Kalau tidak bisa, berarti pemerintah akan masukkan kompetitor yang lain sehingga terjadi kompetisi. “Ya pilihan-pilihannya kan hanya itu, sudah enggak ada yang lain. Karena memang, ini sangat-sangat mengganggu sekali,” tegas Presiden.

Menurut Presiden, karena monopoli harganya jadi tidak kompetitif, dibandingkan harga avtur  dengan yang di dekat-dekat kita, terpaut kurang lebih 30-an persen. Itu yang harus dibenahi.

“Kalau ini diterus-teruskan ya nanti pengaruhnya ke apa? Ke harga tiket pesawat karena harga avtur itu menyangkut 40 persen dari cost yang ada di tiket pesawat. Ya besok saya panggil aja,” tegas Presiden seraya menambahkan, Pertamina kemarin laporan lisan kepada dirinya untungnya sudah ada di atas Rp20 triliun.

Presiden meyakini kalau tidak dimonopoli, pasti banyak yang antre untuk menjual avtur di bandara-bandara di tanah air. “Semuanya memang harus ada kompetisi. Kalau ada kompetisi itu akan ada sebuah persaingan yang sehat. Kalau ada persaingan sehat, akan ada efisiensi di semua cost yang ada. Arahnya ke situ,” ujar Presiden menjawab wartawan usai acara gala dinner PHRI. (gun)

Alogaritma Baru Tingkatkan Keamanan Penerbangan

 

SEBUAH riset  Eropa, TBO-Met (Meteorological Uncertainty Management for Trajectory Based Operations/ Manajemen Ketidakpastian Meteorologi untuk Operasi Berbasis Trajektori) tengah mengembangkan algoritma untuk memaksimalkan prediktabilitas penerbangan dan mengurangi risiko menabrak badai yang berpotensi berbahaya.

Algoritma ini dapat meningkatkan keamanan, meningkatkan keamanan dalam berlalu lintas di udara dan mengurangi penundaan penerbangan.

Yang menarik,  penelitian ini akan mencoba untuk menjawab mengenai kendala cuaca yang sampai  sekarang masih sulit diprediksi.

Masalah cuaca selama ini telah  menimbulkan masalah bagi manajemen penerbangan, yang membutuhkan peramalan yang efisien untuk dapat menjamin kelancaran arus lalu lintas.

Untuk itu para peneliti dari proyek TBO-Met, telah mengembangkan algoritma yang —setelah diterapkan pada rencana penerbangan— memungkinkan untuk memprediksi dan meningkatkan keamanan lalu lintas udara dengan mempertimbangkan ketidakpastian ramalan cuaca.

Jelas, kemajuan ini akan meningkatkan kemampuan sistem untuk menangani sejumlah besar pesawat sekaligus.

“Dampak dari ramalan cuaca dan ketidakpastian yang terkait dengan penerbangan sangat tinggi,  sekitar 20 dan 30 persen penundaan di Eropa terkait dengan cuaca, dengan perkiraan kerugian sekitar 180-200 juta euro per tahun, ” jelas Manuel Soler Arnedo, kepala proyek TBO-Met di Universidad Carlos III de Madrid.

Pada 2017, kondisi cuaca ekstrem telah menyebabkan penundaan waktu 2,1 juta menit dan kerugian 215 juta euro.

Menurutnya, TBO-Met bertujuan untuk mengoptimalkan lintasan pesawat agar tidak terjadi masalah dengan keselamatan dan keterlambatan penerbangan. Para peneliti mempelajari kondisi cuaca yang sulit diprediksi, seperti hujan es, penumpukan es yang parah dan kilat, yang dapat menyebabkan kerusakan yang cukup besar pada pesawat terbang.

Proyek ini difokuskan pada pemahaman, karakterisasi, dan pengurangan ketidakpastian. Untuk ini, para peneliti memfokuskan pada analisis permintaan sektor dalam hal jumlah pesawat yang harus beroperasi, dan perencanaan lintasan, dengan mempertimbangkan ketidakpastian ramalan cuaca dan aktivitas badai.***