Siapa Bilang Muhammadiyah Tenang-tenang Saja?

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Gambaran masyarakat tentang Muhammadiyah itu sebagai organisasi yang sangat tenang, adem ayem, tidak ada gejolak konflik. Tak pernah terdengar sesama tokohnya saling menghujat, membuka aib, apalagi sampai pecat-pecatan, tanding-tandingan.

Gambaran itu sepenuhnya benar jika hanya melihat yang tampak di permukaan. Tapi kalau melihat arus dalam, sebebarnya gejolaknya cukup keras. Jadi ibarat sungai, arus atasnya tenang tetapi arus dalamnya bergelombang.

Anwar Hudijono, jurnalis senior dalam bukunya “Betapa Tuhan Sayang Muhammadiyah Tapi….” Terbitan UMMPress Januari 2025, mengungkap dengan blak-blakan gelombang arus dalam itu kepada awak media.

Ia mencontohkan, konfik politik menjelang Pilpres 2014. Aspirasi politik di kalangan warga Muhammadiyah terbelah jadi dua. Satu kelompok yang dimotori Prof Amien Rais mendukung Capres Prabowo Subianto. Satu kelompok lagi yang dimotori Prof Malik Fadjar mendukung Jokowi.

Polarisasi ini memantik konfik yang sangat keras sampai di tingkat akar rumput. Hal serupa berulang di Pilpres 2019.

Pada Pilpres 2024 walau tidak sekeras sebelumnya tetapi konflik juga terjadi. Arus dukungan mengalir ke tiga capres yang ada, Prabowo, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo.

Konflik-konflik itu tidak sampai berdampak pada keretakan organisasi. Anwar Hudijono melihat salah satu faktor yang meredusir konflik itu adalah kepemimpinan KH Haedar Nashir yang teguh menjaga khittah Muhammadiyah. Yaitu Muhammaadiyah tidak masuk ranah politik praktis. Tidak terlibat politik dukung mendukung. Ia mengibvaratkan Haedar itu pohon ara di tengah prahara.

Kalau saja Haedar sebagai Ketua Umum PP bersikap miyar-miyur, kanan kiri oke, apalagi menjadikan Muhammadiyah sebagai kuda tungganan calon tertentu, bisa jadi Muhammadiyah sudah pecah berantakan.

Kalau toh secara kelembagaan formal tidak terpecah, tetapi secara substansial retak. Ketika organisasi kehilangan sebagian khittahnya berarti secara sudan batal.

Secara khusus Anwar Hudijono menyorot eksistensi Haedar Nashir ini sebagai bagian dari indikator betapa Tuhan sayang kepada Muhammadiyah. Sayang Tuhan itu dIrealisasi dengan memberi pemimpin yang baik pas dengan kebutuhan dan momentumnya.

Tesis ini merupakan mafhum mukhalafah (kebalikan) dari tesis yang didasarkan Hadits bahwa jika Allah menghukum suatu masyarakat akan diberi pemimpin yang buruk.

Kemunculan Haedar pada momentumnya. Saat dia muncul Muhammadiyah mengalami politisasi yang sangat dahsyat akibat Ketua Umum sebelumnya Dien Syamsuddin, langsung atau tidak langsung, memanfaatkan euforia politik warga Muhammadiyah menjadi kendaraan politiknya. Termasuk mendirikan Partai Matahari Bangsa.

Euforia ini terjadi sejak Ketua Umum PP Muhammadiyah Amiem Rais menjadi lokomotif reformasi menumbangkan Presiden Soeharto tahun 1998. Kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Umat Muhammadiyah yang sudah lama apatis dalam politik, termarginsalisasI, tiba-tiba seperti air bendungan yang jebol.

Di sini Tuhan mengulurkan tangan-Nya menolong Muhammadiyah agar tidak terseret arus deras politik yang banyak madlaratnya. Agar tidak terkooptasi PAN. Tidak dijadikan instrument transaksional.

Rasa sayang Tuhan, blessing indisguise, itu ditakdirkan dengan keputusan Amin Rais yang mundur dari Ketua Umum PP Muhammadiyah karena memilih menjadi Ketua Umum PAN. Padahal kalau saat itu Amien merangkap jabatan sangat mungkin terjadi karena saat itu dia sangat kuat. Tuhan mengizinkan Buya Syafii Ma’arif menggantikan Amien kemudian terpilih lagi di Muktamar.

Kemunculan Buya pada momentum yang tepat. Dia itu ibarat tembok karang yang tetap tegak kokoh di tegah gempuran gelombang. Dia bisa mengendalikan arus euforia warganya. Menyelamatkan Muhammadiyah dari kooptasi politik.

Anwar Hudijono, wartawan Kompas 1984-2012 dan Premimpin Redaksi Surya 2003-2004 ini, mengungkap, di samping campur tangan Tuhan, gelombang konflik tidak membuat Muhammadiyah terpecah-pecah juga karena pengaruh kultur Jawa yang sangat kuat. Bukankah Muhammadiyah lahir di Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat kultur Jawa.

Pada dasarnya, menurut dia, kultur Jawa itu antikonflik. Cenderung mengutamakan harmonisasi. Maka diekspresiikan memilih diam, menahan diri, ngalah demi menghindari konflik.

Selai itu, para pendulu Muhammadiyah mewaruskan asketisme, ketarekatan. Misalnya akan menghidari kegaduhan, kehingar-bingaran yang tak perlu. Istilah tokoh Muhammadiyah tahun 1980-an Drs Lukman Harun, pantangan di Muhammadiyah itu lepas kolor di depan khalayak.

Pertanyaannya adalah apakah generasi penerus masih mewarisi nilai-nilai pedulunya? ***poedji

Presiden Prabowo Apresiasi Peranan Muhammadiyah Bangun Bangsa

JAYAKARTA NEWS – Presiden Prabowo Subianto menegaskan kontribusi Muhammadiyah dalam membangun bangsa dan menjaga persatuan Indonesia di tengah tantangan global. Kepala Negara mengapresiasi peranan Muhammadiyah yang telah memberikan kontribusi signifikan dengan mendirikan sejumlah fasilitas untuk rakyat.

“Jadi memang peran Muhammadiyah saya kira sangat tepat. Muhammadiyah kalau tidak salah hitungan terakhir memiliki 167 perguruan tinggi, 126 rumah sakit, 231 klinik, 5345 sekolah dan madrasah, 440 pesantren dan jaringan organisasi yang luas di dalam dan di luar negeri,” ujar Presiden dalam sambutannya pada Sidang Tanwir dan Resepsi Milad ke-112 Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 4 Desember 2024.

Presiden Prabowo menguraikan peranan Muhammadiyah dalam mencetak banyak tokoh besar bangsa. Mulai dari Presiden Soekarno yang pernah menjadi pengurus Muhammadiyah, hingga Jenderal Soedirman, Panglima Besar TNI pertama yang juga merupakan Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah di Purwokerto.

“Berarti pengaruh Muhammadiyah juga selain dakwah, tapi juga menanamkan patriotisme, semangat cinta Tanah Air, dan melahirkan pemimpin-pemimpin yang luar biasa,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan dan menghindari konflik di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Kepala Negara menyoroti sejumlah konflik di berbagai wilayah dunia yang menjadi pengingat bahwa perdamaian adalah anugerah yang harus dijaga.

“Apa yang kita lihat hari ini, situasi dunia mengajarkan kita, memberi peringatan kepada kita agar kita waspada, agar kita bersyukur. Kita harus bersyukur negara kita hari ini kita tidak dibom. Hari ini Masjid Istiqlal masih berdiri, hari ini Universitas Muhammadiyah masih utuh, pabrik-pabrik kita tidak di rusak,” katanya.

Di samping itu, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa tantangan besar juga dihadapi Indonesia sebagai negara yang kaya sumber daya alam. Meski demikian, Kepala Negara yakin dan optimistis bahwa tantangan tersebut dapat terlewati dengan tetap waspada dan melakukan langkah hilirisasi mineral.

“Masa ratusan tahun kita harus jual kekayaan kita sebagai bahan mentah, kita tidak mau. Kita mau karunia Tuhan itu boleh dibeli dengan harga yang benar supaya kita punya nilai, nilai tambah bisa dipakai untuk menyejahterahkan rakyat kita. Jadi kita harus siap menghadapi,” tambahnya.

Menutup pidatonya, Presiden kembali menyampaikan terima kasih atas peranan Muhammadiyah dalam menjaga kebersamaan dan persatuan. Presiden juga mengajak seluruh pihak untuk terus mempererat sinergi antarelemen bangsa demi kemajuan Indonesia di tengah keberagaman yang ada.

“Mari kita bersama-sama dengan semua komponen lain, semua organisasi lain. Banyak perbedaan, tapi carilah titik-titik persamaan untuk bangsa dan negara. Terima kasih, Selamat Milad Ke-112 kepada Muhammadiyah. Berbaktilah terus kepada bangsa, rakyat, umat. Teruskan apa yang sudah saudara-saudara laksanakan dan saudara-saudara buktikan,” tutupnya.***/mel

Presiden Jokowi Ajak Muhammadiyah Wujudkan Pemilu Damai

JAYAKARTA NEWS – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengajak keluarga besar Muhammadiyah untuk bersama pemerintah mewujudkan pemilihan umum (pemilu) yang damai pada tahun 2024 mendatang.

Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi pada Apel Akbar Pasukan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM), di Stadion Manahan Solo, Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (20/09/2023).

“Saya mengharapkan dukungan keluarga besar Muhammadiyah untuk menjaga pemilu yang damai dan menjaga keberlanjutan pembangunan untuk Indonesia Maju yang kita cita-citakan,” ujar Presiden.

Presiden meyakini bangsa Indonesia telah dewasa dalam berdemokrasi dan siap menyongsong pemilu serentak tahun 2024. Namun Presiden tidak memungkiri adanya potensi ketegangan dalam agenda besar tersebut.

“Potensi risiko akan tetap ada, potensi ketegangan juga akan tetap ada, dan di sinilah peran dan kontribusi organisasi sukarelawan, organisasi pemuda, seperti KOKAM Muhammadiyah sangat diperlukan,” ucapnya.

Presiden mengatakan perbedaan pilihan, adu argumentasi, serta menang dan kalah adalah hal yang wajar dalam sebuah pesta demokrasi. Namun hal tersebut tidak boleh mengurangi semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

“Masyarakat tidak boleh terbelah karena pemilu. Kedamaian juga tidak boleh koyak karena pemilu. Dan, lompatan bangsa ini menuju kemajuan juga tidak boleh terhalang hanya karena perebutan kekuasaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Presiden menekankan bahwa di tengah tantangan-tantangan yang tidak mudah ke depan, bangsa Indonesia juga memiliki peluang untuk melompat menjadi negara maju. Hal tersebut, kata Presiden, membutuhkan pemimpin yang konsisten, berani mengambil risiko, mempersatukan, melayani rakyat, serta mampu bekerja secara makro dan mikro.

“Asalkan ada konsistensi dan keberlanjutan dari apa yang sudah berjalan, dari apa yang sudah kita lakukan. Jangan sampai saat ganti pemimpin, ganti visi, ganti orientasi, sehingga kita harus mulai semuanya dari awal lagi,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Presiden menyampaikan apresiasi atas kontribusi aktif Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan bangsa serta membantu masyarakat.

“Budaya saling membantu, saling peduli adalah nilai luhur anugerah Allah Swt., yang memampukan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan dan bisa diselesaikan dengan baik. Sehingga alhamdulillah, Indonesia termasuk satu dari sedikit negara yang mampu bertahan ekonominya dan bahkan bertumbuh di tengah beratnya tantangan-tantangan yang dihadapi dunia,” tandasnya.

Turut mendampingi Presiden, antara lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo.  Kegiatan ini juga diikuti oleh kader KOKAM se-Indonesia serta keluarga besar Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Aisyiyah.***/mel

Dibutuhkan Kepemimpinan Waras, Tokoh Muhammadiyah Ajak Warga Dukung Muhadjir Cawapres

LAMONGAN, JAYAKARTA NEWS –Umat Muhammadiyah yang jumlahnya jutaan orang diajak mendukung Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy sebagai bakal calon wakil presiden (Bacawapres) pada Pemilu 2024 mendatang.

Ajakan itu disampaikan mantan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof Dr Zainuddin Maliki dalam silaturahmi dan kenaikan kelas I – V Madrasah Ibtidaiyah I Blimbing, Lamongan, Jawa Timur, Sabtu (17/6/2023).

Menurut Zainuddin Maliki, bangsa Indonesia memiliki satu kekurangan yaitu pemimpin yang waras. Prof Muhadjir adalah salah satu pemimpin yang waras. Kalau negara ini dipimpin pemimpin yang waras, maka ekonominya waras, agamanya waras.

Demikian pula sosial politik dan kebudayaannya waras. Mengutip Imam Al Ghazali, kalau rakyat hidup tidak baik itu salah pemimpinnya.

“Oleh karena itu kita pilih pemimpin tahun 2024 nanti, pemimpin-pemimpin yang waras. Mari kita dukung Prof Muhadjir menjadi calon wakil presiden RI,” kata anggota DPR dari Fraksi PAN ini.

Muhadjir yang hadir pada acara itu langsung menanggapi, penentuan figur cawapres itu domain partai politik. Sementara Muhammadiyah bukan partai politik. “Untuk bisa menjadi cawapres kalau dicalonkan oleh partai politik. Jadi masih jauh…” katanya.

Sejauh ini belum ada partai yang secara resmi memilih cawapresnya. Baru sebatas diusulkan. Berbeda dengan calon presiden. Sudah muncul tiga bacapres semiresmi yaitu Ganjar Pranowo yang diusung PDIP, Anies Baswedan yang diusung koalisi Partai Nasdem, PKS dan Partai Demokrat, dan Prabowo Subianto yang diusung Gerindra. Semua baru resmi kalau sudah didaftarkan ke KPU.

Di antara nama bacawapres yang sudah muncul di publik adalah Erick Thohir, Sandiaga Uno, Mahfud MD, Khofifah Indarparawansa, Ridwal Kamil, AHY, Erlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Nasaruddin Umar, Muhadjir Effendy, Din Syamsuddin,Gatot Nurmantyo, Ahmad Heryawan, Andika Perkasa.

Setelah dimunculkan kalangan pakar politik perguruan tinggi akhir April lalu, nama Muhadjir terus mendapat dukungan dari pelbagai kalangan masyarakat seperti Masyarakat Perfilman Indonesia, sejumlah komunitas relawan yang mendukung Jokowi-Mar’ruf pada Pilpres 2019, budayawan, alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan lain-lain.

PAN kini sedang menimang-nimang Muhadjir untuk menjadi bacawapres bersama Erick Thohir. Deklarator PAN Kota Surabaya Herman Rivai menyarankan DPP PAN mencalonkan Muhadjir.

Dia yakin PAN akan mendapat coat-tail (efek ekor jas) besar. Bahkan Herman wanti-wanti jika tidak mencalonkan Muhadjir, PAN bisa ditinggal umat Muhammadiyah yang selama ini menjadi basis konstituennya. (poedji)

PAN Rugi jika tak Dukung Muhadjir? Ini Kata Deklarator PAN Herman Rifai

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Partai Amanat Nasional (PAN) akan menderita kerugian sangat besar jika tidak mendukung Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Muhadjir Effendy MAp sebagai calon Wakil Presiden pada Pemilu 2024.

“Kerugian itu berupa ditinggal umat Muhammadiyah yang selama ini menjadi basis utama PAN,” tegas sesepuh dan Deklarator PAN Surabaya, Herman Rivai, di Surabaya, Kamis (4/5).

Menurut tokoh Angkatan ’66 Surabaya ini bahwa umat Muhammadiyah saat memiliki harapan yang luar biasa agar ada kader terbaiknya yang bisa masuk di percaturan puncak politik nasional.

Karena sejak Amien Rais, belum muncul lagi kader yang bisa dijagokan di percaturan puncak politik nasional.

Memang sempat muncul Dien Syamsudin tetapi karena tidak dikelola secara seksama akhirnya hanya lewat sebentar.

Saat ini harapan satu-satunya pada figur Muhadjir Effendy. Umat Muhammadiyah sangat bangga dengan Muhadjir karena komitmennya yang kuat terhadap persyarikatan.

“Dia selalu merasa menjadi menteri karena diwakafkan oleh Muhammadiyah,” tambah Herman.

Dia Mampu membawa nama baik Muhammadiyah berkat kinerjanya yang cemerlang selama menjadi menteri dua kali (Mendikbud pada Kabinet Jokowi Jilid Satu dan Menko PMK pada Kabinet Jokowi Jilid Dua).

“Dia juga dikenal sebagai menteri yang merakyat. Dialah menteri yang paling rajin blusukan ke masyarakat paling bawah,” katanya.

“Istilah Jawanya, Muhadjir itu pilih tanding. Jadi saya sangat yakin Muhadjir akan mendapat dukungan total dari umat Muhammadiyah. Berarti umat juga akan memberikan dukungan total kepada partai yang mengusungnya,” kata mantan Wakil Ketua DPRD Surabaya ini.

Dia juga mengaku sudah sering kali mengingatkan jajaran elite PAN agar membina lagi hubungan historis dan aspiratif dengan Muhammadiyah.

Caranya adalah dengan mengakomodasi dan memperjuangkan asipirasi umat Muhammadiyah.

“Jangan datang ke Muhammadiyah hanya saat butuh suara. Saya akui elite PAN memang rajin datang ke Muhammadiyah di pelbagai tingkatan. Tapi hanya untuk kepentingannya sendiri yaitu mencari dukungan suara. Tidak mencari apa yang menjadi aspirasi Muhammadiyah,” tegasnya.

Herman mengaku sudah mendengar kabar bahwa ada persoalan Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan dengan PP Muhammadiyah terkait dengan Muhadjir. Yaitu ketika Zulkifli Hasan ingin menjadi Menko PMK, tetapi PP Muhammadiyah merekomendasi Muhadjir.

“Saya kira sudah saatnya Zulhas melepaskan egonya demi masa depan PAN. Jangan jadikan partai ini sandera. Tanpa dukungan umat Muhammadiyah, PAN bisa wassalam. Memang PAN bukan partai miliki Muhammadiyah, tapi realitas politik menunjukkan basis utama PAN itu ya umat Muhammadiyah,” demikian Herman. (poedji)

Anis Matta Puji Semangat Voluntarisme Muhammadiyah

JAYAKARTA NEWS— Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta melihat semangat voluntarisme Muhammadiyah dalam Muktamar ke-48 di Solo, Jawa Tengah yang digelar pada 18-20 November lalu, sangat luar biasa.

“Kita respek dengan ormas-ormas seperti Muhammadiyah yang baru melaksanakan muktamar dengan jumlah hadirin yang begitu besar jumlahnya, tetapi sangat damai. Proses pemilihannya sangat demokratis,” kata Anis Matta dalam Gelora Talk bertajuk ‘Membedah Agenda Keumatan Muktamar Muhammadiyah ke-48, Rabu (23/11/2022).

“Jadi ini yang menarik, Muktamarnya nggak pakai berkelahi, padahal jumlah massanya luar biasa banyaknya. Artinya, ada proses pemilihan pemimpin demokratis di Muhammdiyah,” katanya.

Anis Matta melihat ada pesan kuat yang ingin disampaikan pimpinan dan kader Muhammadiyah dengan terpilihnya Haedar Nashir dan Abdul Mu’ti sebagai Ketua Umum dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah untuk periode kedua di dalam Muktamar ke-48 yang mengambil tema ‘Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta’.

“Ada pesan kuat yang ingin disampaikan pimpinan dan kader Muhammadiyah kepada publik Indonesia secara umum. Pertanyaannya, apa makna yang ditawarkan dari pencerahan semesta ini,” ujar Anis Matta.

Ketua Umum Partai Gelora ini menilai ada model sosial yang ingin ditawarkan Muhammadiyah untuk Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia melalui semangat voluntarisme tersebut.

“Semangat voluntarisme ini bisa menjadi model sosial dalam mengintegrasikan sistem keagamaan ke dalam sistem kenegaraan. Ini bisa menjadi solusi bagi negara dan dunia yang saat ini tengah mengalami krisis ideologi,” katanya.

Anis Matta menegaskan, seluruh pemimpin dunia saat ini sedang mengalami krisis ideologi, termasuk mereka yang tengah berperang di Ukraina seperti Presiden China Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin.

.”Xi Jinping sekarang bicaranya sudah pada tataran filosofis, tidak hanya bicara ekonomi, militer dan kebudayaan saja, tetapi dia bicara tentang model sosial. Begitu juga dengan Putin, menyampaikan ide-ide yang filosofis, berbicara tentang akarnya perang saat ini,” ungkapnya.

Anis Matta berharap organisasi massa (ormas) seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) bisa berperan untuk memberikan solusi bagi pemikiran dunia, yang sedang menghadapi krisis global dan krisis ideologi.

“Konflik global berlarut saat ini, bisa mengubah peta ideologi dunia. Indonesia bisa menjadi pembeda dengan negara lainnya, karena disini tidak hanya demokrasi, keadilan dan kesejahteraan yang bisa menyatu. Tetapi juga bisa memberikan pemikiran keagamaannya dan mengintegrasikannya ke dalam sistem kenegaraan secara terus menerus. Disinilah peran kedua ormas ini,” katanya.

Ajang Silaturahmi
Sementara itu, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah 2005 -2015 Prof Din Syamsuddin mengungkapkan, semangat voluntarisme di Muhammadiyah terawat dengan baik selama ini, karena menganggap Muktamar hanya sebagai ajang silaturahmi

“Bagi warga Muhammadiyah, disadari betul bahwa Muktamar hanyalah ajang silaturahim, saling bertemu. Karenanya, yang paling hebat itu ada penggembiranya bisa sampai 3 jutaan. Dari kampungnya Pak Anis saja kemarin naik tiga kapal besar, belum lagi dari daerah-daerah lain,” kata Din Syamsuddin.

Sehingga tukar menukar pemikiran dan proses politik kepemimpinan internal, kata Din Syamsuddin, nyaris tidak ada perdebatan atau kritik, karena semua sudah diselesaikan sebelum Muktamar.

“Semua pemikiran telah dibahas sebelum Muktamar, disiapkan setahun sebelumnya oleh sebuah tim kecil dan sudah disosialisasikan ke berbagai Universitas Muhammadiyah dan pimpinan wilayah. Kemudian dimintakan persetujuan untuk dibawah ke Muktamar,” jelasnya.

Ada tiga materi yang disiapkan untuk dimintakan persetujuan saat sosialisasi tersebut, yakni mengenai organisasi, kebangsaan dan kemanusiaan.

“Tema-tema ini menjadi menjadi pembicaraan setahun sebelum Muktamar, diselesaikan dalam seminar-seminar dan saya pernah memimpin rapat-rapat para pakar Muhammadiyah itu secara intens,” katanya.

Din Syamsudin mengungkapkan, sejak Muktamar ke-45 Tahun 2000 an, Muhammadiyah sudah mulai berbicara kemanusiaan universal seperti membela Palestina dan Muslim di Thailand Selatan.

“Sementara di kehidupan kebangsaan Indonesia, posisi Umat Islam sendiri tidak sentral, tidak kuat secara politik, sehingga sering kalah dalam pengambilan keputusan. Hal ini menjadi konsen Muhammidayah untuk melakukan revitalisasi dalam berbagai potensi, dan diharapkan dapat memberikan efek positif dan dampak sistemik mengenai keberadan Umat Islam,” tegasnya.

Sedangkan KH Marsudi Syuhud, Tokoh NU dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan, pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan dan pendiri NU KH Hasyim Asyari adalah para pemikir yang memiliki kiyai (guru) dan perguruan (sekolah) sama.

“Muhammadiyah lahir lebih tua tahun 1912, adiknya yang bongsor Nahdatul Ulama lahir 1926. Saya melihat ada kehebatan dua tokoh pendiri Muhammadiyah dan NU ini, bisa menciptakan dakwah dengan deferensiasinya. Sehingga bisa dikatakan Muhammadiyah dan NU pendiri Republik Indonesia,” kata Marsudi Syuhud.

Muhammadiyah, menurut Marsudi Syuhud, dakwahnya dimulai dari kota menuju desa, sebaliknya NU dakwahnya dari desa menuju kota. “Sekolah-sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah sekarang dari kota sudah sampai desa, sementara pesantren dan majelis taklim NU dari desa sudah ke kota,” katanya.

Sehingga jika dikaitkan dalam konteks ideologi, maka antara Muhammadiyah dan NU tidak berselisih pendapat. Karena Pancasila pada dasarnya, mengedepankan musyawarah mufakat yang berasal dari pemikiran Muhammadiyah dan NU.

“Jadi standing poinnya, antara Muhammadiyah dan NU, saya yakin tidak akan berbeda,” katanya.

Yang diperlukan saat ini, lanjut Marsudi Syuhud, adalah menyatukan pandangan tetang mazhab-mazhab keagamaan antara Muhammadiyah dan NU, menjadi pemikiran sebuah aturan perundangan-undangan seperti pembahasan UUD 1945 terdahulu.

“Kita tidak perlu mengambil model demokrasi Amerika atau China, Indonesia punya model sendiri, yakni musyawarah, karena pada dasarnya kebijakan politik atau negara didelegasikan melalui pemilihan umum secara demokratis,” katanya.

Potensi 5 Besar Dunia
Sementara itu, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan berpendapat bahwa yang lebih menarik untuk dibedah adalah ide Partai Gelora yang ingin menjadikan Indonesia sebagai lima besar dunia.

“Kalau lima besar itu, berarti diatas Jerman, Inggris dan Prancis, apakah itu mungkin dalam waktu 5-10 tahun, karena GDP Indonesia baru 1.000-an triliun USD , sementara Jerman sudah 4.000, itu nomor 4 dunia. Kalau mau jadi nomor 5, maka GDP-nya harus diatas 4.000-an,” kata Dahlan.

Artinya, dalam kurun waktu 10 tahun harus ada proyeksi pertumbuhan 400 persen. Sebab, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini tidak target, tapi tumbuh secara natural hingga mencapai 5 persen saat ini.

“Disitulah saya agak pesimis, kita ini natural begitu saja. Artinya, kita jalani saja setiap tahunnya tumbuh natural, apalagi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS cenderung menurun,” ujarnya.

Dahlan memprediksi GDP Indonesia akan naik setiap tahunnya, tetapi untuk mencapai lima besar dunia masih jauh dari harapan. Diperlukan skenario besar untuk mentargetkan agar pendapatan perkapita Indonesia antara US$ 10-12 ribu, paling tidak.

“Harus ada desain besar agar target tercapai dari kurun waktu 30 tahun misalnya. Tapi kalau hanya mengadalkan pertumbuhan natural seperti sekarang ini, maka target capaian 5 besar dunia nggak bisa dilaksankan,” pungkas Dahlan.***din

Nahdlatul Aulia Sambangi NU dan Muhammadiyah

JAYAKARTA NEWS – Sejumlah pengurus pusat Perkumpulan Nahdlatul Aulia menyambangi kantor dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Pengurus Pusat Muhammadiyah dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Ketua Umum Nahdlatul Aulia Khatibul Umam Wiranu mengatakan perkumpulan ini berfokus ada penyebaran Ilmu Tauhid dan thoriqoh untuk melengkapi peran penting ormas NU dan Muhammadiyah. Silaturahim tersebut untuk merekatkan hubungan personal yang sudah lama terjalin, sekaligus memperkenalkan Nahdlatul Aulia secara resmi.

“Kami juga menyampaikan undangan kepada pemimpin NU dan Muhammadiyah untuk menghadiri harlah NA ke-16 pada 18 Septemebr nanti,” ujar Khatibul Umam.

Pertemuan sejumlah pengurus NA dengan Muhammadiyah dilakukan pada Rabu siang (24/8/2022) di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat.

Khatibul Umam beserta pengurus NA diterima Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. Selama hampir satu jam Abdul Mu’ti berdiskusi dengan pengurus NA mengenai thoriqoh dan keorganisasian.

“Laku thoriqoh semakin penting dilakukan, apalagi pada zaman seperti sekarang ini. Mas Umam ini kawan lama saya,” tutur Abdul Mu’ti.

Selanjutnya, pengurus NA bersilaturahmi ke Kantor PBNU di Jalam Kramat Raya. Hadir menemui sejumlah pengurus PBNU, seperti Gus Fahrur, Choirul Saleh, serta Abdulloh Latupada. (jnu)

Muhammadiyah akan Gugat Pemerintah jika Kasus Covid 19 Naik Usai Pilkada

JAYAKARTA NEWS—  Sekretaris LHKP Pimpinan Pusat Muhammadiyah Abd Rohim Ghazali menyatakan, organisasi keagamaan Muhammadiyah tetap menyarankan Pelaksanaan Pilkada serentak 9 Desember 2020 ditunda. Meskipun ada ketentuan penerapan protokol kesehatan secara ketat tapi sama sekali tidak bisa menjadi jaminan Pilkada aman dari penyebaran Corona.

Hal itu diungkapkan Rohim dalam diskusi daring yang diselenggarakan oleh Masyarakat dan Pers Pemantau Pemilu (Mappilu PWI) dengan tema “Menimbang Pilkada 2020: Tetap 9 Desember 2020 atau Ditunda Demi Keselamatan Bersama”, Kamis (24/9/2020).

Selain Abdul rohim hadir dalam diskusi yang diikuti ratusan peserta ini ialah, Kapusdatin dan Humas BNPB, Agus Wibowo, Sekjen PB NU, Helmy Faishal Zaini, Asisten Operasi Kapolri, Irjen Pol Imam Sugianto dan PKDH Otda Kemendagri, Heri Roni.

Menurut Rohim, pelaksanaan Pilkada sangat berbahaya sebab pada tahap pendaftaran bakal calon 4-6 September 2020 lalu saja, telah terjadi 243 pelanggaran protokol kesehatan. PP Muhammadiyah khawatir protokol kesehatan yang telah ditetapkan tidak dapat berjalan maksimal.

foto Humas PWI Pusat

“Muhammadiyah akan mengawal Pilkada serentak tapi kami juga tetap berpendirian bagaimana pun Pilkada serentak harus ditunda. Kami akan menggugat pemerintah jika kasus Covid 19 usai Pilkada 9 Desember mengalami kenaikan.”

“Agama atau keyakinan dan menjaga nyawa, itu di atas segala-galanya. Kalau harta dan akal mungkin bisa disembuhkan tapi nyawa tidak. Makanya ini gambling yang sangat berbahaya karena pertaruhkan nyawa rakyat,” tegas  Rohim.

Rohim menambahkan Pilkada Serentak ditakutkan akan menelan banyak korban mengingat Indonesia punya pengalaman meninggalnya petugas penyelenggarara Pilkada 17 April 2019 lalu.

“Dan kita punya pengalaman pada 17 April tahun lalu. Ada 469 pekerja Pemilu yang meninggal karena kelelahan. Ini nggak bisa dibayangkan para pekerjanya sudah kelelahan sementara mereka juga harus berhadapan dengan pandemic. Sementara virus Corona ini kan sangat mudah menjangkiti orang yang kelelahan,”  ujarnya.

Mappilu PWI yang konsen pada pelaksanaan Pilkada yang sehat dan berbudaya ini turut khawatir, akan terjadi ledakan kasus Covid-19 di 270 daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota) pada Pilkada yang diperkirakan bakal melibatkan sekitar 100 juta orang.

Ketua Mappilu PWI, Suprapto Sastro Atmojo mengatakan melalui diskusi ini pihaknya hendak menyerap masukan bagi KPU khususnya dalam protokol kesehatan penyelenggaraan Pilkada Serentak 2020.

“Tujuan utama diskusi ini ialah pencerahan bagi kalangan wartawan Indonesia dan masyarakat. Mappilu PWI hendak menggali pandangan atau pemikiran dari para tokoh dari berbagai latar belakang,” ujar Suprapto yang juga Wasekjen PWI Pusat.***/ks

Rustamadji, Akademisi Nilai dari Sorong

Serpihan surga yang jatuh di Katulistiwa. Begitulah orang-orang memandang Papua. Ironisnya, warga di pulau paling timur yang alamnya bagai nirwana itu, tak pernah sepi masalah. Salah satunya Suku Kokoda.

Kokoda suku  asli Papua. Mereka biasa berpindah-pindah, tak punya rumah dan tanah, tak kenal sekolah, tak memiliki tempat ibadah, dan hidup serba susah. Tapi itu dulu, zaman ketika Rustamadji bersama Muhammadiyah belum datang menjamah. Kini, kisah pilu tersebut cukup berada di ranah catatan sejarah. Kehidupan Suku Kokoda Warmon telah berubah.    

Adalah Dr Rustamadji, MSi Rektor Universitas Muhammadiyah (Unimuda) Sorong Papua, akademisi Muhammadiyah yang mengantarkan masyarakat Suku Kokoda meraih nasib lebih cerah. “Kalau kita tidak peduli terhadap mereka, tentu kondisi mereka akan lebih parah. Jadi, kita harus berbuat sesuatu untuk Suku Kokoda,” ungkapnya, seperti diberitakan media online “Suaramuhammadiyah”, 22 April 2019 silam.

Suku Nomaden

Awalnya, Kokoda suku nomaden. Berburu binatang dan mencari hasil hutan menjadi aktivitas sehari-hari demi bertahan hidup. Ada gula ada semut, demikian kata pepatah. Di tempat-tempat yang menjanjikan, kaki-kaki mereka melangkah. Tidak ada kata-kata pulang ke rumah.

Bagi mereka, berlindung di bawah dedauanan dari terik matahari, tetesan hujan, terpaan angin ataupun dinginnya malam di sembarang tempat, sudah lumrah. Pergerakan suku Kokoda dari satu titik ke titik lainnya acap kali memicu masalah. Konflik pecah tatkala mereka menempati tanah yang ternyata milik kelompok masyarakat (suku) lain. 

Pernah ada cerita, warga nomaden Kokoda bentrok dengan masyarakat transmigran, seperti yang diberitakan PWMU.CO Jumat, 30 Agustus 2019. Pemicunya, suku asli Papua itu menempati tanah yang telah diolah menjadi ladang oleh rombongan pendatang. Sengketa berakhir setelah Suku Kokoda menyingkir.   

Pascaontran-ontran dengan warga transmigran, orang-orang Kokoda bergerak ke Lapangan Udara Domine Eduard Osok. Di sekitaran bandara, rombongan nomaden ini kemudian bermukim. Awalnya, kehadiran mereka tidak memicu protes. Ternyata, tanpa penolakan   bukan berarti bebas urusan.

Lagi-lagi komunitas nomaden ini harus angkat kaki setelah sempat menetap beberapa waktu. Sebab, proyek perluasan lapangan terbang membutuhkan pembebasan lahan di kiri kanannya, termasuk areal yang ditempati Suku Kokoda.

Rumah Permanen Suku Kokoda di Kampung Warmon. (Foto: Republika.co.id)

Untunglah, kali ini warga Kokoda yang tergusur proyek perluasan Bandara Domine Eduard Osok itu mendapatkan tanah ganti. Tahun 1996, mereka direlokasi ke kampung Warmon, Kecamatan Mayamuk, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Tanah rawa jenisnya, dua hektare luasnya, sangat minim fasilitasnya. Jalinan reranting dan dedaunan menjadi rumah-rumah mereka.

Kondisi hidup Suku Kokoda tersebut menyetrum rasa kemanusiaan Rustamadji. Kisah pilu suku terbelakang itu menjadi semacam energi yang mendorongnya untuk bertindak. Bukan lantaran kurang kerjaan tatkala Rustamadji memutuskan bergelut di kampung Warmon demi membangun Suku Kokoda agar bisa hidup beradab. 

Sebagai rektor di STKIP Muhammadiyah (sebelum menjadi Unimuda), sudah tentu, waktu, tenaga dan pikirannya tercurah habis untuk memegang kemudi kampus yang resmi berdiri Agustus 2004 itu. Namun, iba hati melihat nasib sesama anak bangsa yang tak untung, tak bisa begitu saja ia abaikan. Ia ingin melihat Suku Kokoda hidup mandiri di tanah sendiri.   

Gong kepedulian Rustamadji berdinamika di seputar kehidupan Suku Kokoda mulai ditabuh tahun 2007. Sejumlah rencana ia susun. Aneka strategi ia cari. Beberapa kolega potensial yang diyakini bisa mendukung kerja besar ini ia hubungi. Skenario optimis ia lesatkan ke atas langit Papua, tinggi-tinggi.

Kunjungan PP Aisyiyah ke kampung Warmon. PWMU 30 Agustus 2019. (Foto: muhammadiyah.or.id)

Mandiri Pangan

Mandiri pangan menjadi prioritas Rustamadji untuk mulai menata hidup Suku Kokoda. Ia membentuk tim yang personilnya berasal, antara lain, dari civitas akademika STKIP Muhammadiyah Sorong. Agenda terawal, belajar berkebun dan beternak. Kala itu jumlah penduduk Suku Kokoda 350 jiwa.

”Banyak orang yang pesimis waktu itu. Menurut mereka, susah mengajari warga nomaden berkebun. Belum lagi sikapnya yang suka bikin masalah. Tapi kalau tidak kita mulai sekarang kapan suku ini bakal maju,” tutur Rustamadji seperti dikutip PWMU.CO. Seiring waktu berjalan, Rustamadji menggandeng Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk membina suku ini.

Lewat ketelatenan dan kesabaran, impian Rustamadji terwujud. Di tahap permulaan, suku nomaden tersebut belajar berkebun dengan cara-cara biasa. Lambat laun, hal ihwal budi daya tanaman warga Kokoda kian mapan. Akhirnya mereka mampu menguasai teknik pembibitan, perawatan sampai pemanenan. Kemandirian Suku Kokoda di bidang pangan didukung pengadaan pupuk sendiri. Limbah dapur dan sampah dedauan dimanfaatkan untuk membuat kompos. 

Ujian kesabaran dan ketelatenan lainnya, dirasakan Rustamadji bersama tim suksesnya ketika tiba pembelajaran beternak sapi. Bachtiar Dwi Kurniawan, Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, menceritakan pengalamannya. ”MPM pernah memberi sapi lima ekor untuk dikembangbiakan. Ternyata semua sapi jadi kurus. Dua ekor mati. Sebab sapi hanya dikandangkan tak diberi makan,” tuturnya.

Lama-lama, mandiri protein tak berhenti pada dunia peternakan. MUHAMMADIYAH.ID pada Senin 30 Desember 2018 memberitakan rencana MPM PP Muhammadiyah menggandeng pemerintah setempat membangun area budidaya ikan air tawar. Pengelolanya masyarakat Suku Kokoda. Selanjutnya, akan dibangun pula pasar ikan. Suplai ikan yang kelak diperjualbelikan juga berasal dari laut. Kapal motor kapasitas besar akan didatangkan untuk nelayan Suku Kokoda yang sebelumnya melaut dengan perahu kecil-kecil.

Anak-anak kampung Warmon Kokoda. PWMU.CO 30 Agustus 2019. (Foto: dok kkn UMY)

Ibadah, Sekolah dan Rumah

Pembangunan tempat ibadah menjadi prioritas selanjutnya. Tepat setelah setahun berdinamika di Kampung Kokoda Warmon, bersama timnya, Rustamadji membangun masjid. Tempat ibadah ini penting untuk pusat dakwah, pembinaan agama, mengaji, dan menjalankan rupa-rupa kegiatan sosial. ”Pemahaman agama warga masih minim. Dosen dan mahasiswa STKIP Sorong yang beragama Islam dilatih membina mereka. Masjid ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak Kokoda,” cerita Rustamadji.

Kabar terbaru, di kampung Suku Kokoda Warmon telah berdiri lima masjid ditambah dua mushola. Anak-anak mengaji di masjid atau mushola setiap sore hari. Jika dahulu Rustamadji menugaskan dosen dan mahasiswanya menjadi guru mengaji, saat ini guru mendaras bermunculan dari kalangan suku sendiri. Sholat berjamaah lima waktu sehari pun diimami warga setempat.

Urusan tempat ibadah selesai. Agenda Rustamadji berikutnya adalah pengadaan fasilitas pendidikan. Tahap pertama adalah pembangunan gedung Taman Kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD). Pada fase ini, datang masalah. Besi-besi untuk pondasi bangunan dijarah. Konon, uang hasil penjualan barang curian itu dipakai untuk membeli rokok. “Orang masih belum paham betapa pentingnya sekolah, sehingga tega mengambil besi,” tutur Rustamadji. Tahap pembangunan sekolah pun macet beberapa waktu. Proyek itu kembali digulirkan pascapenggalangan dana aktif kembali.

Akhirnya, pembangunan gedung sekolah selesai. Namun, sukses itu tak otomatis menghentikan  masalah. Sejumlah persoalan baru menghadang. Rupanya, pendidikan formal bukanlah sesuatu yang penting bagi warga Kokoda. Tak mudah mengajak anak-anak suku terbelakang ini masuk sekolah. Ada dua sebab yang melatarinya. Pertama, anak-anak suku ini memang belum mengenal sekolah, dan kedua, para orang tua mengharuskan anak-anak mereka membantu mencari makanan.

Rustamadji melancarkan strategi jemput bola. Tanggung jawab penjemputan ini berada di pundak anggota tim suksesnya, mahasiswa STKIP Muhammadiyah. “Mereka harus sabar membujuk agar anak-anak mau datang ke sekolah,” tambahnya. Usaha tak memungkiri hasil. Jemput bola langkah jitu. Dunia sekolah menjadi akrab dan dekat di hati warga Kokoda. 

Kegiatan belajar mengajar mendapat dukungan penuh. Bahkan awal 2019 silam, Haedar Nashir berkunjung ke Kokoda. Salah satu agendanya melakukan peletakan batu pertama untuk perluasan Sekolah Dasar (SD). Tak hanya sekolah, Rustamadji menggenapkan pembangunan dunia pendidikan lewat literasi. Rumah baca hadir di tengah kampung Kokoda.

Mulai tahun 2016, Rustamadji menggandeng mahasiswa KKN asal Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka menjadi guru mengaji dan membaca. Rumah baca “Nabaca Bukuga” menjadi saksi jejak-jejak kehadiran mereka. Selain memekarkan dunia literasi, para muda asal Yogyakarta itu juga mengembangkan sumber daya manusia. Bersama mereka warga muda Kokoda belajar manajemen. 

Syamsuddin Namugur, PWMU.CO 30 Agustus 2019. (Foto: Okezone.com)

Kebutuhan akan dunia pendidikan kian meningkat. Anak-anak Suku Kokoda membutuhkan sekolah lanjutan pertama. Beruntung, Kepala Kampung Adat Kokoda, Ari Syamsudin Namugur, menyiapkan lahan 10 hektare untuk lokasi pembangunan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah, setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ari juga menjabat sebagai anggota MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Papua Barat, sekaligus ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kampung Warmon Kokoda. 

Pembangunan rumah permanen menjadi agenda tahun-tahun berikutnya. Republika.co.id memberitakan, puluhan rumah permanen dibangun di perkampungan eks suku nomaden ini. Tanah yang semula berupa rawa-rawa itu telah dibebaskan.

Beberapa waktu lalu, Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir, menyerahkan sertifikat tanah hibah Muhammadiyah kepada warga Kokoda lengkap dengan 55 unit bangunan rumah permanen. Pengadaan rumah permanen tersebut hasil kerjasama Muhammadiyah dengan beberapa elemen lain termasuk instansi pemerintah yakni Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

PWMU.CO mencatat, sejumlah 55 unit rumah permanen tersebut dibangun tahun 2016.  Setahun berikutnya, 2017, menyusul pembangunan 80 unit rumah. Saat ini, sekitar 185 kepala keluarga hidup di Kampung Kokoda. Jumlah total mereka mencapai 1.000 jiwa.         

Kampung Warmon Kokoda di Kabupaten Sorong, Papua Barat. (Foto: Wahyu Suryana.Republika.co.id)

Kiprah Rustamadji di Warmon Kokoda mengubah seluruh tatanan awal Suku Kokoda yang kental dengan karakter masyarakat nomaden. Pelan tapi pasti melalui proses yang cukup panjang, kehidupan beragama, dunia pendidikan dan rumah-rumah permanen tercipta mapan di kampung Kokoda. Pemekaran di segala lini terus melaju. Teknologi mereka akrabi dan kuasai.

Jalan, air bersih, listrik, rupa-rupa infrastruktur dan fasilitas bersama tertata rapi. Kampung ini kian menampakkan diri sebagai pemukiman yang layak huni, terpadu, berkelanjutan, jauh dari pemandangan kumuh dan serba kekurangan.

Tata tertib administrasi sudah dijalankan warga Kokoda. Pemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan rupa-rupa kelengkapan surat sebagai warga negara seperti Kartu Keluarga (KK) sudah dimiliki warga di tempat ini. Organisasi keagamaan, pemerintahan setingkat RT RW pun terbentuk dan berjalan semestinya. Beberapa warga suku Kokoda telah pula diterima bekerja di sektor formal. “Suaramuhammadiyah” memberitakan bahwa masyarakat di sana juga memperkuat kegiatan berbasis teknologi seperti penggunaan komputer dan surat menyurat.

Dalam perjuangannya, Rustamadji menggandeng berbagai elemen baik di peryarikatan Muhammadiyah maupun pemerintah antara lain: Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Lazismu, Aisyiyah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Namun, sepak terjang Muhammadiyah di Suku Kokoda, tidak hanya dirasakan masyarakat muslim.

Di seputaran Kampung Warmon, bermukim pula masyarakat non muslim yang turut merasakan berkah kehadiran Muhammadiyah. Rustamadji mempraktikkan spirit Muhammadiyah yakni membumikan Islam berkemajuan. 

Gerakan ini membawa pencerahan di bumi Papua yang membebaskan, memberdayakan dan memajukan semua masyarakat. Semua usaha dijalankan demi memuliakan martabat manusia. Sama sekali bukan dalam rangka mengislamkan atau memuhammadiyahkan semua orang. Dakwah Muhammadiyah di Warmon Papua dilakukan atas dasar prinsip-prinsip kemanusiaan universal.

Rustamadji (kiri) dalam sebuah acara bersama Najwa Shihab. (Foto: Dok UNIMUDA Sorong dimuat “Suaramuhammadiyah” 22 April 2019)

Akademisi Nilai

Rustamadji adalah pemeran utama dibalik peradaban baru Suku Kokoda. Posisinya di pucuk pimpinan Unimuda Sorong Papua, yang sudah tentu padat acara dan sarat beban kerja, tak menghalangi semangatnya untuk berdakwah mengentaskan suku tertinggal itu dari nasib kelam. Komunitas nomaden Kokoda yang acapkali diusir dari pada diterima, dibiarkan terlantar ketimbang dirangkul, di tangan Rustamadji lambat laun berubah menjadi warga masyarakat yang terhormat dan bermartabat.

Rektor Unimuda itu bukan tipe pribadi yang datang dengan segepok proyek bantuan, dan menempatkan masyarakat sebagai binaan demi mendapatkan hasil karbitan. Biasanya praktek seperti itu sulit berumur panjang. Bukan, Rustamadji bukan tipe seperti itu. Partisipatoris adalah metode yang ia jalankan.

Ini berarti, semua keputusan untuk membangun Suku Kokoda adalah hasil dari sebuah dialog yang melibatkan semua pemangku kepentingan, termasuk seluruh warga Kokoda, siapa pun mereka. Rustamadji tahu betul karakter bawaan masyarakat Kokoda yang sulit diatur. Tetapi bukan berarti situasi ini menumbuhkan niatnya untuk tidak melibatkan warga Kokoda. 

Untuk itu ia mesti kerja keras, ekstra serius. Rektor Unimuda itu telah mencapai sebuah fase di mana Suku Kokoda yang kondang semau gue, bisa dilatih disiplin untuk serempak berbaris bersama-sama memasuki pintu gerbang perubahan: mandiri di tanah sendiri.

Rustamadji, si pembaharu Suku Kokoda, terpilih menjadi Tokoh Perubahan Republika 2018. Republika.co.id mengutip pidato Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir di ajang pemberian penghargaan itu pada April 2019. “Pendekatannya pada masyarakat Kokoda empati, dia berusaha memahami kultur dan pola pikir masyarakat Kokoda sehingga dapat diterima mereka,” kata Haedar. Rustamadji menjadikan Unimuda Sorong yang dipimpinnya sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, bukan menjadi menara gading.

Betul yang diungkapkan sesepuh Muhammadiyah Haedar Nasir, bahwa Rustamadji bukan pemimpin kampus yang nyaman duduk seharian di singgasana menara gading. Ia bukan akademisi pasar yang hanya sibuk membesarkan kampus demi mendapatkan kenaikan angka-angka fantastik: jumlah mahasiswa, proyek penelitian dan rupa-rupa seminar, ekspansi gedung serta lahan dll.

Tak memungkiri bahwa semua ukuran perkembangan sebuah komunitas kampus ia perbesar baik kualitas maupun kuantitas. Ia membidani lahirnya Universitas Muhammadiyah (Unimuda), perkembangan dari STKIP Muhammadiyah Sorong. Ia juga membangun TK dan SD Labschool di titik-titik lain Kabupaten Sorong. Tetapi Rustamadji tidak lupa untuk berperan merawat nilai kemanusiaan. Ia memberdayakan masyarakat Suku Kokoda di Kampung Warmon, Distrik Mayamuk, Kabupaten Sorong, Papua Barat yang merupakan daerah 3T (terdepan, tertinggal, dan terpencil).

Bupati Kabupaten Sorong, Johny Kamuru. (Foto: Pryantono. Oemar/Republika)

Bupati Sorong Johny Kamuru, seperti yang dilansir Republika.co.id menyatakan bahwa  Rustamadji adalah teladan bagi generasi muda. “Melihat sosok beliau ini, jadi tantangan bagi anak-anak muda untuk bisa seperti beliau,” kata Johny. Sosok yang sudah tidak muda lagi itu tak pernah kehabisan energi untuk berinovasi memunculkan gagasan-gagasan baru. Gagasan-gasagan itu tidak berhenti di forum debat, seminar atau sekedar disimpan di dalam tembok kampusnya. Tetapi ia menjelma menjadi kerja nyata untuk mengentaskan sesama kaumnya yang terbelakang, Suku Kokoda.

Rustamadji adalah akademisi nilai. Akademisi nilai mengaplikasikan apa yang ada di lingkup perguruan tinggi untuk kemaslahatan orang banyak di luar tembok kampus. Ia menjunjung harkat dan martabat Suku Kokoda menjadi manusia seutuhnya. Sepak terjang Rustamadji berada jauh di kesunyian kepala burung Papua, tetapi aroma wanginya semerbak ke seluruh persada Nusantara. (Ernaningtyas

Lembaga Pendidikan Muhammadiyah Jatim Juara Internasional

Jayakarta News – Luar biasa prestasi yang ditorehkan oleh lembaga pendidikan Muhammadiyah di Jawa Timur. Tercatat untuk SMA Muhammadiyah 10 yang ada di Kabupaten Gresik dan juga SMA Muhammadiyah 2 di Surabaya membuat terpana masyarakat karena prestasi yang telah diukirnya.

Dalam catatan selama ini, SMA Muhammadiyah 10 Kabupaten Gresik menorehkan keberhasilan yakni sebagai juara Pencak Silat Internasional Championship di Banten, Lomba Fotografi tingkat Internasional dan Honourable Mention dari Kedutaan Republik Cekoslowakia.

Selain itu juga ada penghargaan Special Award Seni Baca Al-Qur’an dalam ajang Muhammadiyah Educational Conference and Festival (ME Confest) 2016. Disamping itu, SMA Muhammadiyah 2 Surabaya mampu meraih Gold Medal of Youth Championship ISSC di China.

Tidak salah kemudian Pemprov Jatim melalui Wagubnya Emil Elestianto Dardak mengapresiasi prestasi tersebut. “Sang juara Muhammadiyah Jatim sangat membanggakan bagi Provinsi Jatim, apalagi mampu menorehkan prestasi di tingkat internasional,” ujarnya saat menerima para juara di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (18/12).

Masih menurut Emil Dardak, bahwa prestasi tersebut tidak hanya dikuasai oleh sekolah negeri saja. Tetapi, pendidikan swasta pun mampu menorehkan prestasi baru.

“Ini yang membuat kita senang. Karena prestasi tidak hanya muncul di lembaga pendidikan negeri saja, tetapi lembaga pendidikan swasta menunjukkan bahwa berbagai elemen masyarakat juga tentunya sangat berperan dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa kita,” ujar Mantan Bupati Trenggalek.

Emil Dardak panggilan akrabnya pun meminta kepada Sang Juara Muhammadiyah Jatim untuk terus meningkatkan prestasinya. Mereka harus memiliki mental juara, yang artinya tidak berada pada zona nyaman. Tantangan ke depannya adalah untuk peningkatan prestasai.

“Sang Juara Muhammadiyah Jatim harus tertantang untuk meningkatkan capaian prestasi, tidak ada kata cukup. Kalau hanya membanggakan piala kemarin, artinya tidak melakukan apa-apa,” pungkasnya. (poedji)

Wagub Emil Dardak saat menerima para sang juara Muhammadiyah. (foto:humas jatim)