UMKM Muhammadiyah Belum Berjalan Optimal

Jayakarta News –  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki peran yang sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan ekonomi nasional. Namun demikian keberadaan dari UMKM di lingkungan Muhammadiyah belum bisa berjalan dengan optimal. Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali, Delly Yusar, menilai dalam acara program Inkubasi Bisnis International Muhammadiyah Business Forum di Denpasar – Bali, ada masalah dalam pengembangan UMKM di Muhammadiyah diantaranya masalah manajemen, permodalan, dan jaringan atau networking bisnis. Maka dari itu dengan adanya inkubasi bisnis adalah pilihan untuk mendorong dan memperbaiki titik lemah dari usaha bisnis.

“Katakanlah ada penyakit yang harus didiagnosa jenisnya, lalu diberikan obat untuk mengatasinya. Semacam itulah kira-kira inkubasi bisnis tadi,” katanya dihadapan peserta para peserta merupakan pelaku UMKM yang tergabung dalam Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Provinsi Bali.

Di acara inkubasi bisnis ini ada lima jenis inkubasi yang difasilitasi, yaitu pariwisata, kuliner, restoran, ekonomi kreatif; jasa, perdagangan, bisnis UAM; fashion, kosmetik, life style; properti dan konstruksi; serta agrobisnis, peternakan, dan perikanan. Masing-masing meja inkubasi dikawal mentor yang memiliki bidang usaha, keahlian, dan pengalaman.

Sedangkan  Koordinator Inkubasi Bisnis sekaligus Ketua JSM Bali Ismoyo Soemarlan menjelaskan, inkubasi bisnis tersebut menjadi media untuk saling tukar informasi dan pengalaman menarik dalam menjalankan usaha bisnis masing-masing. “Ini sekaligus untuk membuka dan memperluas jaringan bisnis. Yang punya produk bisa kerja sama dengan relasi bisnis lain. Contohnya, De Keranjang Bali siap membantu memasarkan produk JSM Bali,” ungkap Ismoyo.

Dalam acara inkubasi bisnis itu, hal menarik terungkap dalam tiap cluster diskusi. Testimoni dituturkan oleh Ibnu, pemilik De Keranjang Bali. Dia mengisahkan success story-nya sebagai pengusaha. Awalnya dari seorang pedagang kain kafan di Cirebon, Jawa Barat. Dia kemudian menekuni usaha batik. Tahun 2011, Ibnu terjun ke bisnis pariwisata. Menurutnya market pariwisata yang besar itu di kelompok milenial. Makanya, pebisnis harus mampu mempelajari cara efektif untuk  menarik minat kaum milenial membeli, bahkan bekerjasama memasarkan produknya. (Syam Kelilauw)

Muhammadiyah Gelar Internasional Business Forum di Bali

Jayakarta News – Muhammadiyah memilih Bali menjadi tempat digelar internasional business forum. Muhammadiyah Internasional Business Forum (MIBF) tersebut berlangsung 25-27 November 2019.

Ketua Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan (MEK) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Delly Yusar, S.E., di Denpasar mengungkapkan, kegiatan bertaraf internasional tersebut digagas MEK Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PPM) dengan tema ‘Menjalin Sinergitas Ekonomi Umat Menuju Indonesia Mandiri’. Kegiatan dua hari ini dilaksanakan di Harris Hotel and Conventions Bali,” jelasnya.

Penyelenggaraan MIBF ini tak lepas dari makin terbukanya ruang komunikasi global. Interaksi manusia juga kia tak terbatas. “Diperlukan kejelian memaknai globalisasi dalam peluang dan aktifitas ekonomi yang mampu membawa perubahan kesejahteraan bagi kehidupan manusia,” imbuh Delly Yusar.

Dia juga mengutip penjelasan Ketua MEK-PPM, Mohammad Najikh, terkait penyelenggaraan MIBF. Agenda internasional ini merupakan rangkaian konsolidasi ekonomi yang dilakukan  Muhammadiyah dalam rangka meneguhkan kembali ekonomi sebagai pilar ketiga Muhammadiyah. Pilar ketiga ini merupakan amanah Muktamar Muhammadiyah ke-47 Tahun 2015 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Adanya MIBF ini diharapkan semua basis kekuatan dan jaringan MEK–PPM bisa bertemu untuk saling melakukan elaborasi dan memanfaatkan potensi ekonomi untuk bersama–sama mengembangan gerakan dakwah Muhammadiyah.

Lima ratus peserta mengikuit MIBF 2019. Mereka berasal dari pengurus MEK-PWM, Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM), Induk Baitut Tamwil Muhammadiyah (Induk BTM), Asosiasi BPRS Muhammadiyah, Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah (AFEB PTM) & Asosiasi Dana Pensiun Muhammadiyah.

Narahubung forum ini datang dari mancanegara yang ingin bersinergi secara bisnis dengan Muhammadiyah. Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju serta Bank Indonesia (BI) juga hadir dan mengupas kebijakan–kebijakan ekonomi dan entrepreneur Indonesia ke depan.

Kemudian tak kalah pentingnya pula, hadir praktisi dan ekonom Muhammadiyah seperti Sutrisno Bachir (inspirasi pengusaha nasional). Juga, Hendri Saparini (pakar ekonomi), Dahlan Iskan, Teguh Wahyudi (pengusaha International), Sandiaga Uno, dan Nurhayati Subakat (Owner Wardah Cosmetic).

Saat MIBF 2019 berlangsung, diselenggarakan pula Rakornas MEK Muhammadiyah, Silaturahim Kerja Nasional Jaringan Saudagar Muhammadiyah (Silaknas JSM), Rakor Induk Baitul Tamwil Muhammadiyah, Rakor Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Rakor Bank Pengkreditan Rakyat Syariah Muhammadiyah, dan Rakor Dana Pensiun Muhammadiyah (Rakor DapenMu).

MIBF merupakan rangkaian kegiatan jelang Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo, Jawa Tengah, 1-5 Juli 2020. Dengan MIBF diharapkan semua jaringan ekonomi yang dikoordinasikan MEK-PPM ingin membuktikan diri mampu bersinergi dalam mendorong sektor riil ekonomi Muhammadiyah mampu bergerak secara berjama’ah.

Hal itu  dibuktikan lewat sinergitas yang sudah berjalan antara JSM, Induk BTM dan LAZISMU di akar rumput. (Syam Kelilauw)

Lazismu Tunjuk Jagaters Bangun Webinar

Karena jumlah kantor makin banyak, urusan komunikasi internal menjadi makin kompleks. Padahal, komunikasi menjadi kunci sukses dalam organisasi.

Itulah yang dirasakan Hilman Latief PhD, direktur utama Lazismu, lembaga zakat nasional di bawah Muhammadiyah.

Agar kualitas komunikasi tetap terjaga, Lazismu memutuskan untuk mulai menggunakan webinar sebagai platform komunikasi digital untuk meeting, training dan seminar.

“Pak JTO bisa segera diinisiasi webinar systemnya, hardwarenya, softwarenya dan manpowernya. Tahun 2019 harus berjalan,” kata Hilman seuai rapat kerja Lazismu di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta.

Meski bukan yang pertama, rencana Lazismu menggunakan webinar merupakan perkembangan baru. Beberapa lembaga zakat sudah menggunakan webinar sejak 2 tahun terakhir.

Hilman berharap dengan kehadiran webinar, Lazismu yang saat ini telah membangun jaringan di lebih 700 kantor wilayah, daerah dan layanan akan berkembang lebih cepat.

Komunikasi memang menjadi tantangan bagi semua organisasi besar yang tersebar di kawasan yang luas. Membaiknya infrastruktur komunikasi dengan rampungnya pengembangan Palapa Ring pada 2019 harus dimanfaatkan secara maksimal. Lazismu telah memulai langkah yang tepat. (jto)

Jumat, Sidang Isbat Tentukan Awal Ramadhan

KEMENTERIAN Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat untuk menetapkan awal puasa atau 1 Ramadhan 1438H, di  Kantor Kementerian Agama Jalan M.H. Thamrin Nomor 6 Jakarta, pada Jumat (26/5/2017)  sekitar pukul 17.00 WIB. Sidang isbat ini akan dihadiri pimpinan ormas Islam, Ketua MUI, Ketua Komisi VIII DPR RI, perwakilan dari 22 negara-negara sahabat, dan sejumlah tokoh Islam.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais) Kementerian Agama, M. Thambrin menjelaskan, untuk menentukan awal Ramadhan tersebut, Kementerian Agama akan melakukan pemantauan hilal di 77 titik di seluruh Nusantara.

“Hasil pemantauan hilang di 77 titik itu akan dilaporkan pada sesi pra sidang isbat oleh anggota tim hisab rukyat Kementerian Agama,” jelas Thambrin.

Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kementerian Agama, M. Thambrin.

Menurut Thambrin, sidang isbat akan diawali dengan sesi pra sidang berupa pemaparan posisi hilal awal Ramadan 1438H oleh anggota tim hisab rukyat Kementerian Agama, Cecep Nurwendaya pada pukul 17.00 WIB.

Setelah shalat Magrib berjamaah, dilanjutkan sidang isbat dibuka oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, dilanjutkan dengan laporan data hisab dan pelaksanaan rukyatul hilal oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais).

“Selanjutnya, hasil sidang isbat akan disampaikan kepada masyarakat melalui konferensi pers,” pungkas Thambrin. ***

Kapolri Ingatkan Potensi Ancaman Perpecahan

KAPOLRI Jenderal Pol Tito Karnavian mengingatkan, sekalipun sepanjang 71 tahun Indonesia merdeka bangsa Indonesia tidak mengalami masalah serius, namun kita jangan meremehkan  (underestimate) akan adanya potensi dan ancaman perpecahan (disintegrasi).

Pesan itu disampaikan Kapolri dalam  dialog pada Rakornas Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Asrama Haji Medan, Rabu (17/5/2017). Hadir ikut mendampingi dalam kesempatan dialog tersebut,  Gubernur Sumut Erry Nuradi, Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, dan Ketua Umum IMM Taufan Putra itu.

Jenderal Tito mengatakan,  rakyat Indonesia layak merasa beruntung, mengingat  tidak mengalami masalah yang serius dalam perjalanan  71 tahun seteleh kemerdekaan diprokalmirkan.  Namun dengan fakta keberagaman yang ada di bangsa ini, baik pada aspek kesukuan, agama dan lainnya, maka  harus diakui bahwa potensi perpecahan itu selalu ada, dan senantiasa mengancam bangsa Indonesia.

Kondisi tenang yang ada sampai saat ini,  tidak boleh dianggap sepele (underestimate), apalagi kemudian  mengangap bahwa potensi potensi dan ancaman perpecahan tersebut tidak ada. “Potensi itu ada, baik eksternal mau pun internal,” katanya.

Dari aspek internal,  Kapolri menambahkan, potensi itu muncul karena belum terciptanya pemerataan hasil pembangunan sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945. Hal tersebut  dapat menimbulkan kerawanan, apalagi secara demografi, kehidupan berbangsa di Indonesia masih didominasi masyarakt “low class”.

Masalah lainnya,  adanya  ketimpangan kesejahteraan dalam kehidupan bermasyarakat, dimana  perbedaan (gab) antara yang kaya dan kelompok miskin, masih cukup terasa. Situasi itu  diperparah dengan adamya perilaku yang  memanipulasi demokrasi ,dengan memanfaatkan kelompok low class tersebut untuk kepetingan elite tertentu.

Pada sisi  aspek eksternal, tutur Tito, ancaman tersebut selalu ada. Pasalnya,  politik internasional itu bersifat anarki yakni ketidakteraturan akibat tidak adanya yang mengatur. Dalam politik anarki tersebut berlaku hukum rimba. “Siapa yang kuat, dia yang menang,” katanya. ***

Perjalanan Panjang Klinik Apung Tuhuleley

LANGIT masih gelap. Sembilan orang tim Lazismu yang mengawal ekspedisi Klinik Apung Said Tuhuleley sudah berkemas-kemas. Selepas subuh, mereka bertolak dari Pelabuhan Teluk Nare, Lombok Utara, menuju Pelabuhan Selayar, Sulawesi Selatan.

Inilah perjalanan hari ketiga mereka. Bila tidak ada halangan cuaca, menjelang magrib, kapal yacht berbobot 8 ton dengan mesin tempel berkekuatan 3 x 250 cc itu akan merapat di Pelabuhan Selayar.

Perjalanan hari ketiga ini merupakan etape yang berbahaya. Sebab, jalur Teluk Nare – Selayar dikenal kurang ramah. Anginnya kencang, ombaknya juga besar. Apalagi untuk kapal sekecil Klinik Apung Said Tuhuleley.

”Mohon doa semuanya, agar Klinik Apung Said Tuhuleley berhasil melintasi jalur ini dengan selamat dan tidak menemui kendala yang berarti,” kata Syafi’i Latuconsina yang memimpin perjalanan.

Joko Intarto

Perjalanan masih panjang. Menurut Joko Intarto, pelaksana Direktur Utama Lazismu, klinik apung Tuhuleley akan tiba sore ini di Selayar. Berdasarkan laporan BMKG, tak ada masalah berarti dalam cuaca di sana. Dari pulau Selayar,  masih perlu dua hari lagi untuk mencapai Pelabuhan Ambon. Rabu, 23 Februari, Klinik Apung Said Tuhuleley harus tiba di tujuan akhir.

Lazismu akan memperkenalkan klinik Apung Said Tuheleley kepada seluruh peserta Tanwir Muhammadiyah yang akan dibuka Presiden Joko Widodo pada 24 Februari. Selanjutnya, klinik akan melayani kesehatan masyarakat di kepulauan Maluku dan Papua sepanjang usianya. ***