Mudik Siswa Sekolah Rakyat, Naila Akhirnya Punya Rumah Baru Layak Huni

MAKASSAR. JAYAKARTA NEWS — Lebaran tahun ini terasa berbeda bagi Naila (12). Sosok Naila, siswa Sekolah Rakyat yang dikenal publik mampu membuat Presiden RI Prabowo Subianto terharu kini mulai menemukan kebahagiaannya karena memiliki sebuah rumah baru layak huni.

Saat berdiri di depan rumah dengan seragam SRMP 23 Makassar dan baret merah, Naila sempat menyampaikan rasa terima kasihnya dengan suara bergetar.

“Terima kasih Bapak Presiden Prabowo sudah memberi saya rumah. Semoga Bapak sehat selalu, panjang umur, bertambah rezeki,” ujar Naila saat ditemui beberapa waktu lalu. dikutip dari Laman Kemensos, Senin (23/3/2026).

Untuk pertama kalinya, ia akan pulang kampung lebaran tahun ini dengan membawa kabar bahagia. Bukan lagi tinggal di bilik sempit 5×4 meter yang berdiri di atas lahan orang lain melainkan sebuah tempat tinggal baru di kawasan Salodong, hasil kolaborasi pemerintah pusat dan daerah.

“Lebih nyaman daripada yang sebelumnya. kalau sebelumnya itu kurang layak. Terus banyak orang tinggal di sana. Sekarang tempatnya sudah layak. Sudah punya rumah sendirian,” ucap Naila.

Naila dikenal sebagai anak dari keluarga prasejahtera di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Syamsul (37) bekerja sebagai juru parkir dan buruh bangunan. Ibunya, Nurlia (35) membantu sang nenek berjualan.

Ketika Tim Pendamping PKH meninjau kondisi rumah Naila, terlihat dinding rumahnya retak, atap bocor, lantai tanah berdebu, dan seluruh bangunan berdiri di atas lahan orang lain. Lingkungan sekitarnya tidak jauh berbeda. Tetangganya hidup dalam kondisi rentan dan semuanya butuh intervensi.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta agar keluarga-keluarga ini segera dipindahkan. Pemkot Makassar merespons cepat dengan menyiapkan lahan di Salodong yang akan dibangun 30 rumah layak huni secara bertahap.

Sebuah pemandangan mengharukan terlihat saat Naila menerima kunci rumah barunya. Ia tidak langsung masuk dan hanya menatapnya dari luar, seolah memastikan bahwa apa yang ada di depannya benar-benar miliknya. Begitu pintunya dibuka, tampak ruang kecil namun bersih, dengan dinding panel putih dan cahaya lembut dari jendela suasana yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Di kamar tidurnya, Naila menata boneka beruang kecil di atas meja. Ibunya ikut merapikan sambil tertawa kecil. Di sudut ruang tengah, sebuah kipas berdiri, sementara kulkas kecil terisi persediaan dasar seperti telur dan air minum. 

Beranda rumah ditata dengan dua kursi berwarna oranye, tempat Naila sering duduk bersantai. Rak sepatu kecil ditata dekat pintu. Semuanya tampak baru, tertata, dan memberikan kesan familiar.  

Kepala Sekolah SRMP 23 Makassar, Radya bersyukur atas transformasi hidup sang murid. “Naila yang awalnya pemalu, sekarang lebih percaya diri, periang. Dia membawa aura positif bagi teman-temannya,” ujarnya.

Perubahan kecil ini mengubah cara Naila melihat dirinya. Ia merasa dihargai, dipedulikan, dan layak mendapatkan masa depan yang lebih baik.

Lebaran tahun ini, Naila pulang kampung dengan hati lebih ringan. Ia sudah merencanakan mudiknya. “Pulang kampung mau ketemu nenek, bikin acara keluarga,” jelasnya.

Pihak sekolah memastikan seluruh siswa mudik dengan aman. “Transport mudik disiapkan, lengkap dengan hampers untuk orang tua,” jelas Radya.***/mel

Sebelum Mudik, Kenali Rest Area di Jalan Tol Agar Perjalanan Makin Nyaman

JAYAKARTA NEWS – Saat mudikrest area menjadi tempat penting untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Selain menyediakan tempat parkir, beberapa rest area juga dilengkapi SPBU, minimarket, restoran, toilet, hingga ATM.

Namun, tahukah kamu bahwa rest area di jalan tol dibagi menjadi tiga tipe? Yuk, kenali perbedaannya agar perjalanan mudikmu lebih nyaman.

Tipe-Tipe Rest Area dikutip dari Ragam BUMN, Rabu (26/3/2025).

1. Rest Area Tipe A

  • Ukuran terbesar dengan fasilitas paling lengkap
  • Ada SPBU, klinik, bengkel, restoran, mushola, taman, dan minimarket
  • Jarak minimal 50 km antar rest area tipe A di satu jurusan

2. Rest Area Tipe B

  • Lebih kecil dari tipe A, tapi tetap nyaman
  • Berjarak minimal 10 km dengan rest area tipe B lainnya
  • Tersedia toilet, ATM, mushola, restoran, minimarket, dan ruang terbuka hijau
  • Tidak ada SPBU, klinik, dan bengkel

3. Rest Area Tipe C

  • Ukuran paling kecil dan hanya beroperasi saat musim liburan, Lebaran, Natal, atau Tahun Baru
  • Fasilitas terbatas, hanya ada toilet, kios, mushola, dan area parkir sederhana
  • Jarak minimal 2 km dari rest area tipe A atau B

Lokasi Rest Area di Jalan Tol Indonesia

Saat ini terdapat 134 rest area di jalan tol Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah:

  • Trans Jawa: 68 titik
  • Jabodetabek: 6 titik
  • Non-Trans Jawa: 16 titik
  • Trans Sumatera: 40 titik
  • Trans Kalimantan: 2 titik
  • Trans Sulawesi: 2 titik

Dengan mengetahui tipe dan lokasi rest area, kamu bisa lebih mudah merencanakan perjalanan mudik.

Pastikan berhenti sejenak di rest area agar tetap bugar dan selamat sampai tujuan.***/uli

Polri Imbau Masyarakat Tak Mudik Pakai Motor

JAYAKARTA NEWS – Polri mengimbau masyarakat untuk tidak mudik Lebaran 2024 menggunakan sepeda motor. Pemudik diminta memanfaatkan 400 bus gratis yang disediakan Korps Bhayangkara.

“Polri mengajak masyarakat bagi yang akan melakukan mudik terutama yang menggunakan roda dua agar mendaftar mudik gratis Polri,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, dikutip dari laman Polri, Jumat (22/3/2024).

Trunoyudo meminta masyarakat menggunakan bus gratis untuk meminimalisasi kecelakaan saat mudik menggunakan sepeda motor. Kecelakaan lalu lintas bisa berujung pada hilangnya nyawa.

“Ini untuk mengurangi resiko kecelakaan lalu lintas dan agar mudik lebaran dan arus balik dapat berjalan dengan lancar dan aman,” ujarnya.

Namun, bila masyarakat tetap ingin mudik menggunakan sepeda motor dia tidak melarang. Polri hanya bisa memberikan imbauan agar tetap memperhatikan sejumlah hal terkait keselamatan.

“Cek kondisi fisik dan kendafaan yang akan digunakan hingga menyiapkan perlengkapan pendukung dalam menggunakan kendaraan roda dua,” ungkapnya.***/mel

Akan Ada Patroli di Titik Rawan Macet dan Pidana Saat Mudik Lebaran

JAYAKARTA NEWS – Kabaharkam Polri Komjen Pol Fadil Imran menyatakan pihaknya akan meningkatkan patroli di titik-titik rawan saat mudik Lebaran. Hal itu menjadi bagian dari Operasi Ketupat 2024.

“Akan ada Operasi Ketupat, merupakan operasi khusus kepolisian dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat yang akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1445 H, itu mengamankan arus mudik, mengamankan tempat ibadah, mengamankan sentra ekonomi, pasar, yang merupakan tempat dimana masyarakat beraktivitas,” ujar Kabaharkam, Kamis (14/3/2024).

Dikatakan Kabaharkam, titik rawan yang dimaksud yakni rawan macet dan rawan pidana. Kabaharkam percaya bahwa Polda juga siap melakukan pengamanan tersebut dengan optimal.

Terlebih, kata jenderal bintang tiga ini, Kapolri telah menginstruksikan ke jajaran untuk mengamankan mudik lebaran dengan lebih baik dari sebelumnya.

“Masing-masing Polda dalam setiap operasi tentu sudah membuat kirka (perkiraan keadaan) perlu diberikan pengamanan yang optimal baik terbuka dalam bentuk patroli, penjagaan, maupun tertutup dalam bentuk pengamanan tertutup lainnya,” katanya.***/mel

Punya Dokumen Swab Negatif Belum Tentu Bebas Covid-19

JAYAKARTA NEWS – Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo mengimbau masyarakat khususnya di Provinsi Aceh agar tidak melakukan perjalanan mudik ke kampung halaman pada Idul Fitri tahun ini, meski telah mengantongi dokumen negatif Covid-19 sekalipun.

Menurut Doni, kendati seseorang telah dinyatakan bebas Covid-19, hal itu tak menutup kemungkinan yang bersangkutan kemudian tertular dalam perjalanan. Apabila hal itu terjadi, maka mudik ke kampung halaman menjadi momentum yang justru dapat memicu tragedi.

“Tidak menjamin seseorang yang sudah membawa dokumen negatif Covid-19 akan selamanya negatif. Kita sudah buktikan, mereka yang berada di dalam perjalanan itu punya risiko yang sangat tinggi,” kata Doni dalam Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 bersama Pemerintah Provinsi Aceh di Kota Banda Aceh, Selasa (20/4).

Menurut Doni, penularan Covid-19 dalam perjalanan sangat mungkin terjadi dari seseorang yang telah positif Covid-19 kemudian secara tidak langsung meninggalkan droplet di beberapa bidang atau benda pada fasilitas umum, termasuk transportasi massal baik darat, laut maupun udara.

“Mereka sudah negatif Covid-19, merasa nyaman, tetapi tanpa sadar mereka menyentuh bagian tertentu dari permukaan benda-benda yang mungkin sudah terkena droplet dari seseorang yang positif Covid-19,” jelas Doni.

Lebih lanjut, Doni mencontohkan apabila kemudian seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2 dari perjalanan dan tiba di kampung halaman, maka yang bersangkutan telah menjadi carrier dan dapat menulari sanak famili termasuk orang tuanya di rumah.

Kemudian yang harus diperhatikan menurut Doni adalah, tidak semua daerah memiliki dokter atau fasilitas medis sesuai standar dan dapat menangani pasien terkonfirmasi Covid-19. Maka apabila seseorang di daerah tertular, maka risiko fatal sangat tinggi.

“Di kampung belum tentu tersedia rumah sakit, belum tentu tersedia dokter, belum tentu tersedia fasilitas kesehatan yang baik,” jelas Doni.

“Apa artinya? Yang bersangkutan (pemudik) sama halnya secara tidak langsung telah membunuh orang tuanya,” imbuh Doni.

Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo (kanan) didampingi Gubernur Aceh Nova Iriansyah saat memberikan arahan terkait penanganan COVID-19 dalam Rapat Koordinasi Penanganan COVID-19 dan Mitigasi Bencana Wilayah Aceh di Kota Banda Aceh, Selasa (20/4). (foto: Danung/BNPB)

Tidak Mudik Adalah Langkah Pencegahan

Berkaca dari contoh kasus nyata tersebut, maka dengan adanya aturan pemerintah tentang peniadaan mudik sebagaimana yang tertuang dalam Surat Edaran Ketua Satgas Nomor 13 Tahun 2021 telah menjadi strategi sekaligus upaya pencegahan dan mitigasi dalam menekan angka kasus Covid-19 di Tanah Air pada masa libur hari nasional.

Adanya aturan tersebut juga berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 yang mana setiap akhir liburan selalu diikuti dengan kenaikan angka kasus. Hal itu disebabkan adanya mobilitas masyarakat yang tinggi selama liburan.

“Setiap akhiran libur panjang pasti diikuti dengan kenaikan kasus Covid-19,” kata Doni.

Sebagai contoh, data Satgas Penanganan Covid-19 pada libur Idul Fitri pada tahun 2020 menunjukkan ada kenaikan angka kasus hingga 93 persen. Adapun hal itu juga diikuti dengan meningkatnya fatality rate hingga 66 persen.

“Setelah libur Idul Fitri pada tahun lalu, kenaikan kasus meningkat hingga 93 persen. Jumlah prosentase tersebut juga diikuti dengan kenaikan angka kematian mingguan sebanyak 66 persen,” jelas Doni.

Selanjutnya, Doni juga mengatakan bahwa dalam rangka melakukan upaya pencegahan dan penanganan Covid-19 yang baik tidak dapat dilakukan setengah-setengah.

Dalam hal ini, apa yang telah dianjurkan pemerintah mulai dari protokol kesehatan 3M dan upaya 3T untuk deteksi hingga penelusuran kasus harus dilakukan dan diikuti secara konsisten. Selanjutnya program vaksinasi juga harus dilaksanakan demi mencegah terjadinya risiko terburuk akibat Covid-19.

“Penanganan Covid-19 tidak hanya dapat dilakukan dari satu sisi. Upaya pencegahan seperti 3M dan 3T hingga program vaksin harus tetap dijalankan dan kuncinya adalah konsisten,” pungkas Doni. (*/rr)

Kemenhub: Mereka yang Nekat Mudik akan Diminta Putar Balik, Sanksi Mulai 7 Mei

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengimbau agar para warga tidak memaksakan diri untuk mudik dan tetap patuh pada anjuran pemerintah sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid 19.

Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati mengatakan pelanggar larangan sementara penggunaan kendaraan umum, kendaraan pribadi, dan sepeda motor akan diminta berputar balik arah perjalanannya.

“Pada tahap awal, mulai 24 April 2020 hingga 7 Mei 2020, pemerintah akan mengedepankan pendekatan persuasif dengan mengarahkan pelanggar kembali arah perjalanannya,” kata Adita dalam keterangannya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (13/4).

Sedangkan pada tahap selanjutnya, yaitu 7 Mei 2020 hingga 31 Mei 2020, selain diminta berputar balik, pelanggar juga akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku termasuk dikenai denda.

Dalam hal ini, pelarangan sementara penggunaan kendaraan umum, kendaraan pribadi, dan sepeda motor untuk mudik tidak akan diikuti dengan penutupan jalan nasional atau jalan tol.

“Tidak ada penutupan jalan nasional dan jalan tol, tetapi penyekatan dan pembatasan kendaraan yang boleh melintas saja,” tutur Adita.

Adapun peraturan larangan kendaraan dikecualikan untuk pengangkutan logistik, obat, petugas, pemadam kebakaran, ambulans, dan mobil jenazah.

Larangan sementara itu diberlakukan bagi kendaraan umum, kendaraan pribadi, dan sepeda motor dengan tujuan memasuki dan keluar dari wilayah dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), zona merah, serta Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

“Tujuan dari pelarangan itu adalah untuk keselamatan bersama mencegah penyebaran Covid 19. Mari bersama kita tegakkan peraturan dengan tidak mudik dan bepergian selama pandemi COVID-19,” tambah Adita.

Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Perhubungan tentang Pengendalian Transportasi Semasa Mudik Idul Fitri 1441 H yang merupakan tindaklanjut rapat terbatas kabinet pada Selasa (21/4).***/ebn

‘’Nglangut’’ di Pesantren

Pondok pesantren Bumi Damai Al Hidayah Batu.

MUDIK saya ke Malang kali ini terasa berbeda. Ada rasa bangga. Bahagia. Tapi juga terharu. Semua bercampur aduk. Saat melihat pesantren Bumi Damai Al Hidayah Batu, yang didirikan kedua orang tua saya.

Kini pesantren itu memiliki tiga asrama. Megah. Dan sudah dilengkapi dengan kehadiran sekolah formal: Madrasah Ibtidaiyah. Setingkat sekolah dasar. Juga Madrasah Tsanawiyah. Setingkat sekolah menengah pertama.

Pesantren juga memiliki satu unit laboratorium peternakan dan perikanan. Berskala kecil. Tapi cukup baik. Bisa digunakan untuk belajar para santri: berternak ayam dan ikan.

Tiba-tiba saja. Pikiran saya ‘’nglangut’’. Membawa saya kembali ke masa lalu: tahun 1977. Saat kedua orang tua saya mendirikan sebuah pesantren kecil itu.

Sudah lebih dari 40 tahun pesantren ini berdiri. Di sinilah Abah dan Ibu, membesarkan lebih dari seribu anak. Delapan anak kandung. Selebihnya anak santri.

Sejak dibangun, pesantren itu memberi prioritas untuk santri dari kalangan keluarga miskin dan yatim piatu. Dari berbagai daerah. Tidak hanya dari Jawa. Dari Maumere, Nusa Tenggara Timur, Sambas dan Sampit, Kalimantan Barat, juga ada.

Santri dari Maumere adalah korban gempa dan tsunami yang terjadi di awal tahun 90-an. Sedangkan santri Sambas dan Sampit merupakan anak-anak korban kerusuhan sektarian yang terjadi tahun 1999.

Boleh dibilang, pesantren kecil itu merupakan saksi bisu anak-anak korban kerusuhan. Dari kanak-kanak sampai menjadi dewasa mereka tinggal dan belajar. Sampai mereka mengerti nilai dan arti perdamaian.

Saat kerusuhan Ambon meletus, Abah sempat hendak mengambil anak-anak keluarga korban. Sayangnya kondisi asrama tidak memungkinkan. Daya tampungnya tidak bisa ditambah lagi.

Begitulah abah dan ibu saya. Keduanya bukan orang yang berkelebihan materi. Tapi kepeduliannya sering mengalahkan logika.

Saya masih ingat. Betapa sulitnya abah dan ibu mendidik dan “ngopeni” santri. Yang kebanyakan masih balita. Dengan keterbatasan tenaga dan biaya.

Saya masih ingat. Bagaimana ibu harus pontang-panting. Utang sana-sini. Untuk menghidupi 60 santri yatim dan miskin. Terlebih setelah pesantren terbakar pada tahun 1983.

Saya masih ingat. Di pesantren ini ibu pernah membuka sebuah toko kelontong. Kecil. Sederhana. Menjual kebutuhan sehari-hari. Hasil usahanya untuk membiayai makan dan biaya sekolah santri.

Toko kelontong itu dibuka tahun 1986. Tapi hanya bertahan empat tahun saja. Tahun 1990 terpaksa tutup.

Saya masih ingat. Dulu. Pesantren itu hanya punya satu unit motor. Butut pula. Itu motor pribadi Abah saya: Yamaha 2 Tak. Buatan tahun 1975. Abah ganti motor baru setelah mendapat warisan dari Mbah. Tahun 1995.

Pada tahun 2005, atau enam tahun setelah pesantren beroperasi, Abah mendapat hadiah. Sebuah mobil Daihatsu Zebra. Mobil bekas. Bukan baru. Buatan tahun 1992.

Hadiah itu berasal dari Pak Imam Kabul. Walikota Batu pertama. Waktu itu. Pak Imam merasa tidak tega. Melihat Abah saya naik motor kemana-mana. Katanya, “Mosok ketuane kyai mursyid sak Jawa Timur gak duwe mobil.”

Kebetulan. Abah saat itu menjadi Rois Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Annahdliyyah – Idaroh Wustho Jatim. Kebetulan. Hanya sepeda motor lawas itulah yang dimiliki Abah. Saat itu.

Tujuh tahun kemudian. Si Zebra mulai sering rewel. Bolak-balik keluar-masuk bengkel. Biaya operasionalnya jadi boros. Mungkin dia lelah.

Kami, anak-anaknya, sepakat patungan. Membelikan mobil yang lebih baik. Memang bukan mobil baru. Tetapi usianya lebih muda: Suzuki Baleno 2008.

Kebetulan. Kondisi perekonomian kami bertiga sedang bagus-bagusnya. Bisnis saya sebagai kontraktor dan supplier pembangkit listrik tenaga surya mulai menuai hasil.

Mas Udin, kakak saya, yang PNS di Bappenas juga bisa membantu. Walau sedikit. Kakak saya ini PNS yang jujur dan ‘’keras kepala’’. Saya pernah kasih tahu caranya mencari duit memanfaatkan jabatannya. Dijamin aman. Dan tidak masuk kategori korupsi. Tapi tidak pernah mau. Ya sudahlah.

Umi Hanik, adik saya, karirnya sebagai tenaga ahli di lembaga ekonomi dan keuangan internasional, sedang menanjak. Income-nya tentu saja juga lumayan.

Bayangan abah sekelebatan mendadak menyadarkan saya. Dari ingatan masa lalu. Abah yang tak pernah mau berdiam diri. Selalu bersemangat. Dengan berbagai kesibukan. Hingga usianya sekarang: 76 tahun.

Beberapa bulan lalu, kami baru saja melakukan ‘’kudeta’’. Memaksa Abah berhenti dari jabatannya: Rois Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh Annahdliyyah – Idaroh Wustho Jatim. Agar lebih banyak berada di pesantren. Mengingat usianya. Juga agar ada regenerasi. Kepada yang lebih muda.

Tapi dasar abah tak mau berpangku tangan. Setelah tidak menjadi Rois JATMAN Jatim, abah punya kesibukan baru. Membuka warung makan ‘’Aswaja’’. Lokasinya di gugusan ‘’kafe payung’’. Di pinggir Jalan Raya Batu – Pujon.

Menu andalannya: nasi rawon khas Bibis Surabaya. Ini rawon dengan resep warisan nenek moyang. Resep rahasia ibu saya yang – insya Allah – sedap. .

Kata abah: buka warung makan itu bukan untuk mencari kesibukan. Tapi mencari terobosan. Untuk membiayai Pendidikan santri miskin dan yatim piatu. Yang kian banyak jumlahnya.

Apalagi, pendapatan dari toko kelontong yang dibuka lagi tahun 2000 itu semakin kecil. Sejak minimarket kian menjamur.

Mengelola warung makan ternyata tidak gampang. Bahkan lebih banyak ceritanya yang menyedihkan. Misalnya, seminggu pertama hanya laku dua porsi. Omsetnya Rp 40 ribu. Jangankan untung. Impas pun masih belum. Komentar abah: alhamdulillah.

Pada minggu kedua, situasi membaik. Ada rombongan yang makan di sana. Omset meningkat 500 persen: Rp 250 ribu. Masih belum untung. Tapi abah sudah sangat terhibur. Katanya: alhamdulillah.

Memasuki minggu ketiga, omzet warung menjadi nol rupiah. Maklum. Sudah memasuki bulan puasa Ramadan. Warung tutup sementara. Tapi uang sewa lokasi Rp 1,5 juta per bulan tetap harus dibayar. Ya sudah. Saya yang bertanggung jawab membayar uang sewa bulanan itu. Sampai benar-benar bagus omsetnya.

Begitulah abah dan ibu saya. Tak pernah berhenti berkarya. Agar bisa mencukupi kebutuhan anak-anak yatim di pesantrennya. Yang saat ini berjumlah 220 santri.

Alhamdulillah. Saya bersyukur. Bisa melihat kedua orang tua saya: sehat dan bahagia. ***

Penulis: T Rahman
Editor: Joko Intarto

Motis, Angkut Motor Gratis

RITUAL mudik Lebaran memang masih lama, namun persiapannya ternyata sudah mulai dilakukan, termasuk mempersiapkan Angkutan Sepeda Motor Gratis (Motis). “Motis yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub bekerja sama dengan PT KAI (Persero) ini dalam rangka penyelenggaraan angkutan lebaran yang aman, nyaman, dan tetap menjamin keselamatan khususnya bagi pengendara sepeda motor,” kata Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 5 Purwokerto Ixfan Hendriwintoko di Jakarta.

Ia mengatakan angkutan motis menggunakan kereta api pada masa Lebaran 2017 akan diselenggarakan tanggal 18-23 Juni untuk arus mudik dan 29 Juni-5 Juli untuk arus balik. Menurut dia, pendaftaran angkutan motis akan diawali dengan pendaftaran dalam jaringan (daring/online) melalui laman http://mudikgratis.dephub.go.id.

Pendaftaran ini sudah dibuka sejak tanggal 15 Februari 2017. “Nantinya, Ditjen Perkeretaapian Kemenhub akan menginformasikan penyelenggaraan angkutan motis itu melalui selebaran dan spanduk yang akan dipasang di beberapa stasiun yang dilalui KA Angkutan Motis,” katanya.

Selain itu, kata dia, ada kemudahan dalam pengambilan sepeda motor di stasiun tujuan dan diberi fasilitas pembelian bahan bakar minyak (BBM). Ia mengatakan selama ini ketika sepeda motor sampai di stasiun tujuan, peserta angkutan motis kebingungan membeli BBM karena tangki kendaraannya harus dikosongkan, pada saat akan dikirim.

Angkutan motis pada Lebaran 2016 dilayani tiga KA, yakni satu rangkaian untuk lintas utara dan dua rangkaian untuk lintas selatan. Dalam hal ini, KA Angkutan Motis Lintas Utara melayani rute Stasiun Jakarta Gudang – Stasiun Cirebon Prujakan – Stasiun Tegal – Stasiun Pekalongan – Stasiun Semarang Tawang – Stasiun Ngrombo – Stasiun Cepu – Stasiun Bojonegoro – Stasiun Babat – Stasiun Surabaya Pasar Turi dengan kapasitas angkut 406 sepeda motor per hari.

KA Angkutan Motis Lintas Selatan I melayani rute Stasiun Jakarta Gudang – Stasiun Lempuyangan – Stasiun Klaten – Stasiun Solojebres – Stasiun Madiun – Stasiun Kertosono – Stasiun Kediri dengan kapasitas angkut 406 sepeda motor per hari. KA Angkutan Motis Lintas Selatan II melayani rute Stasiun Jakarta Gudang – Stasiun Purwokerto – Stasiun Kroya – Stasiun Gombong – Stasiun Kebumen – Stasiun Kutoarjo dengan kapasitas angkut 406 sepeda motor per hari. ***