Peran dan Tantangan Teknologi Baterai dalam Mendorong Inovasi Mobil Listrik

JAYAKARTA NEWS – Mobil listrik adalah kendaraan yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak utama, dan mengandalkan baterai sebagai sumber energinya. Mobil listrik memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan dengan mobil konvensional yang menggunakan mesin pembakaran dalam, seperti lebih hemat energi, lebih ramah lingkungan, lebih tenang, dan lebih mudah dirawat. Namun, mobil listrik juga memiliki tantangan yang harus diatasi, salah satunya adalah teknologi baterai yang masih berkembang.

Baterai adalah komponen kunci yang menentukan performa, jangkauan, dan biaya mobil listrik. Baterai harus mampu menyimpan energi listrik yang cukup untuk menggerakkan mobil dalam jarak yang diinginkan, serta dapat diisi ulang dengan cepat dan aman. Baterai juga harus memiliki umur pakai yang panjang, tahan terhadap suhu dan kondisi lingkungan yang berubah-ubah, dan tidak mudah terbakar atau meledak. Oleh karena itu, perkembangan teknologi baterai sangat penting bagi perkembangan mobil listrik.

Sejarah Teknologi Baterai Mobil Listrik

Teknologi baterai mobil listrik telah mengalami evolusi sejak awal munculnya mobil listrik pada akhir abad ke-19. Berikut adalah beberapa jenis baterai yang pernah atau sedang digunakan pada mobil listrik, beserta karakteristik dan contoh mobil yang menggunakannya:

•Baterai timbal-asam: Ini adalah jenis baterai yang paling tua dan paling sederhana, yang ditemukan oleh Gaston Planté pada tahun 1859. Baterai ini terdiri dari dua elektroda, yaitu timbal dan timbal dioksida, yang direndam dalam larutan asam sulfat.

Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal biaya, ketersediaan, dan keandalan, tetapi memiliki kelemahan dalam hal berat, ukuran, kapasitas, efisiensi, dan daya tahan. Banyak digunakan pada mobil listrik pada awal abad ke-20, seperti Baker Electric, Detroit Electric, dan Columbia Electric. Baterai ini juga masih digunakan pada mobil listrik modern sebagai baterai starter atau baterai cadangan, seperti Toyota Prius, Honda Insight, dan Ford Escape Hybrid.

•Baterai nikel-kadmium: Ini adalah jenis baterai yang ditemukan oleh Waldemar Jungner pada tahun 1899, yang menggunakan nikel oksida hidroksida dan kadmium sebagai elektroda, dan kalium hidroksida sebagai elektrolit.

Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal daya tahan, siklus pengisian, dan ketahanan terhadap suhu ekstrem, tetapi memiliki kelemahan dalam hal berat, ukuran, kapasitas, efisiensi, dan dampak lingkungan.

Mulai digunakan pada mobil listrik pada pertengahan abad ke-20, seperti Citroën Berlingo Electrique, Peugeot 106 Electric, dan Renault Clio Electrique. Baterai ini juga digunakan pada mobil listrik modern sebagai baterai cadangan, seperti Toyota RAV4 EV dan Honda EV Plus.

Baterai nikel-logam hidrida: Ini adalah jenis baterai yang ditemukan oleh Stanford Ovshinsky pada tahun 1967, yang menggunakan nikel oksida hidroksida dan logam hidrida (seperti lantanum, serium, atau neodimium) sebagai elektroda, dan kalium hidroksida sebagai elektrolit.

Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal kapasitas, efisiensi, dan dampak lingkungan, tetapi memiliki kelemahan dalam hal berat, ukuran, biaya, dan efek memori. Baterai ini mulai digunakan pada mobil listrik pada akhir abad ke-20, seperti GM EV1, Toyota RAV4 EV, dan Honda Insight. Baterai ini juga masih digunakan pada mobil listrik modern sebagai baterai utama atau baterai cadangan, seperti Toyota Prius, Honda Civic Hybrid, dan Ford Escape Hybrid.

•Baterai ion litium: Ini adalah jenis baterai yang ditemukan oleh John Goodenough, Rachid Yazami, dan Akira Yoshino pada tahun 1980-an, yang menggunakan senyawa litium sebagai elektroda, dan garam litium sebagai elektrolit. Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal berat, ukuran, kapasitas, efisiensi, dan umur pakai, tetapi memiliki kelemahan dalam hal biaya, keamanan, dan ketahanan terhadap suhu ekstrem.

Baterai ini mulai digunakan pada mobil listrik pada awal abad ke-21, seperti Tesla Model S, Nissan Leaf, dan Chevrolet Volt. Baterai ini juga menjadi jenis baterai yang paling banyak digunakan pada mobil listrik modern, baik sebagai baterai utama maupun baterai cadangan. Baterai ini memiliki beberapa varian, seperti nikel mangan kobalt (NMC), nikel kobalt aluminium (NCA), litium besi fosfat (LFP), dan litium titanat (LTO), yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

•Baterai solid-state: Ini adalah jenis baterai yang sedang dikembangkan oleh para peneliti dan produsen mobil, yang menggunakan elektrolit padat, seperti polimer, keramik, atau kaca, sebagai pengganti elektrolit cair. Baterai ini diharapkan memiliki keunggulan dalam hal kapasitas, pengisian, keamanan, dan umur pakai, tetapi masih memiliki tantangan dalam hal biaya, produksi, dan kinerja.

Baterai ini belum digunakan secara komersial pada mobil listrik, tetapi beberapa produsen mobil, seperti Toyota, Volkswagen, dan Hyundai, telah mengumumkan rencana untuk meluncurkan mobil listrik dengan baterai solid-state dalam beberapa tahun mendatang.

•Baterai ultrakapasitor: Ini adalah jenis baterai yang menggunakan dua elektroda yang terbuat dari karbon aktif atau grafit, dan elektrolit cair atau padat, yang dapat menyimpan dan melepaskan muatan listrik dengan cepat.

Baterai ini memiliki keunggulan dalam hal pengisian, daya tahan, dan ketahanan terhadap suhu ekstrem, tetapi memiliki kelemahan dalam hal kapasitas, efisiensi, dan biaya. Baterai ini belum digunakan secara luas pada mobil listrik, tetapi beberapa produsen mobil, seperti Lamborghini, Tesla, dan NIO, telah mengeksplorasi penggunaan baterai ultrakapasitor sebagai baterai tambahan atau alternatif.

Kesimpulan

Mobil listrik adalah kendaraan yang memiliki potensi besar untuk menggantikan mobil konvensional di masa depan, karena memiliki berbagai manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Namun, mobil listrik juga memiliki tantangan yang harus diatasi, salah satunya adalah teknologi baterai yang masih berkembang. Teknologi baterai mobil listrik telah mengalami evolusi sejak awal munculnya mobil listrik, dari baterai timbal-asam hingga baterai solid-state. Setiap jenis baterai memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, serta contoh mobil yang menggunakannya. Perkembangan teknologi baterai sangat penting bagi perkembangan mobil listrik, karena menentukan performa, jangkauan, dan biaya mobil listrik. (Heri)

Traveling Pakai Mobil Listrik? Harus Tahu Info ini

JAYAKARTA NEWS – PT PLN (Persero) terus berinovasi untuk memberikan layanan terbaik kepada pengguna Electric Vehicle (EV).

Untuk itu, dihadirkan aplikasi PLN Mobile yang dapat mengakses lokasi Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) terdekat hanya dengan sentuhan jari.

Dengan fitur tersebut, pengguna mobil listrik tidak lagi khawatir saat bepergian jarak jauh seperti di momen liburan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 (Nataru) ini.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, hadirnya aplikasi PLN Mobile ini tentu saja bertujuan untuk memudahkan para pelanggan PLN dan pengguna kendaraan listrik.

Terlebih lagi, menjelang persiapan mudik 2023 kali ini, PLN ingin memastikan masyarakat tidak kesulitan dalam mencari lokasi SPKLU terdekat.

“Kami sudah memastikan pada setiap rest area tersedia SPKLU dan dapat diakses dengan sangat mudah melalui aplikasi PLN Mobile.

“PLN akan terus mendorong ekosistem EV di Indonesia, salah satunya dengan memastikan infrastruktur untuk para pengguna EV tersedia dengan baik,” ujar Darmawan.

Darmawan berharap masyarakat tidak perlu khawatir untuk menggunakan kendaraan listrik sebagai pilihan akomodasi jarak jauh saat mudik.

Karena PLN akan terus berinovasi untuk menghadirkan fasilitas penunjang dalam mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik di tanah air.

“PLN terus melakukan transformasi untuk meningkatkan pelayanan pelanggan.

“Salah satunya dengan fitur-fitur yang mendukung eksosistem kendaraan listrik ini,” kata Darmawan.

PLN juga membagikan langkah-langkah bagi para pengguna EV yang ingin mencari Lokasi SPKLU lewat aplikasi PLN Mobile, sebagai berikut :

1. Pastikan aplikasi PLN Mobile sudah terpasang pada smartphone yang bisa diunduh melalui PlayStore atau AppStore.

2. Buka aplikasi dan lakukan daftar/masuk akun, pastikan GPS Anda aktif saat menggunakan aplikasi PLN Mobile.

3. Pilih menu “Electric Vehicle” pada pojok kanan atas layar.

4. Kemudian pilih menu “SPKLU” di antara pilihan lain.

5. Lokasi SPKLU yang paling dekat dengan lokasi Anda akan terlihat, pilihan ini juga bisa di sesuaikan menggunakan Daftar atau Map.

Bukan hanya itu, aplikasi ini juga menyediakan petunjuk arah ke lokasi SPKLU.

Dengan demikian, pengguna mobil listrik akan semakin mudah menemukan keberadaan SPKLU.

Selain itu, pada masa Libur Nataru kali ini, PLN telah menyiagakan 624 unit EV Charger yang tersebar di 411 titik strategis di Indonesia.

Sebanyak 64 unit EV Charger pada 38 titik SPKLU juga tersedia di sepanjang ruas Tol Trans Sumatera – Jawa bagi pengendara kendaraan listrik yang akan melakukan mudik.***/mel

Mobil Listrik dari Presiden Jokowi untuk Siswa Belajar Praktik

JAYAKARTA NEWS – Kunjungan Presiden Joko Widodo ke SMK Negeri 2 Palembang, Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan pada Kamis (26/10/2023) kemarin, tidak hanya meninggalkan kesan mendalam bagi para siswa maupun guru di sekolah tersebut. Ya, ini merupakan kali pertama seorang presiden berkunjung ke sekolah tersebut.

Namun, lebih dari itu, kunjungan tersebut berbuah “oleh-oleh” manis berupa mobil listrik dari Presiden Jokowi untuk dimanfaatkan para siswa. Kepala SMK Negeri 2 Palembang, Suparman, bercerita tentang bagaimana awalnya Presiden Jokowi tertarik untuk memberikan mobil listrik ke sekolah yang dipimpinnya.

Menurutnya, saat Presiden Jokowi meninjau jurusan teknik kendaraan ringan di sekolahnya, Suparman menyampaikan bahwa pihaknya masih kekurangan mobil berteknologi hybrid sebagai bahan praktik. Mendengar hal tersebut, Presiden Jokowi justru menawarkan alternatif lain, yaitu mobil listrik.

“Kenapa tidak listrik murni saja? Kan kalau hybrid masih menggunakan bahan bakar,” ujar Suparman mengutip Presiden Jokowi.

Menurut Suparman, Presiden Jokowi memandang bahwa ke depannya semua kendaraan akan beralih dari bahan bakar fosil ke energi baru terbarukan. Hal tersebut dikarenakan bahan bakar fosil makin lama akan makin habis dan menghilang.

“Alhamdulillah saya ngomong minta bantu mobil listrik, kemudian dia (Presiden Jokowi) bilang ‘Oke siang ini kami antar. Mau mobil yang mana?’ Kalau saya mana saja yang penting mobil listrik. Tapi kalau misalkan dia masih pakai bahan bakar, di sini sudah cukup. Dan dia berikan mobil listrik,” tutur Suparman.

Setelah kunjungan Presiden Jokowi pada pagi hari, mobil listrik yang dijanjikan tersebut pun datang ke SMK Negeri 2 Palembang pada siang harinya. Mobil tersebut kemudian diserahterimakan dari pihak Sekretariat Presiden yang mewakili Presiden Jokowi ke pihak SMK Negeri 2 Palembang.

Suparman pun berharap kehadiran mobil listrik dari Presiden Jokowi tersebut dapat digunakan sebagai media pembelajaran bagi para siswa SMK Negeri 2 Palembang. Terlebih, saat ini teknologi di bidang otomotif juga terus berkembang sehingga kehadiran mobil listrik tersebut akan menunjang proses pembelajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan industri.

“Kami sekali lagi mengucapkan terima kasih, semoga bantuan mobil listriknya bisa kami manfaatkan untuk pembelajaran siswa dan juga kalau bisa semua jurusan dapat bantuan karena teknologi selalu berkembang, sedangkan kita teknologinya tetap yang seperti ini ya nanti ketinggalan dengan dunia industri,” tandasnya.

BPPT Luncurkan Stasiun Pengisian Daya Mobil Listrik

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) terus melakukan kliring teknologi terhadap inovasi pengembangan kendaraan listrik dan infrastrukturnya. Hal ini ditujukan untuk mendorong terwujudnya kendaraan listrik dan infrastrukturnya karya anak bangsa. Rekayasa teknologi terbarunya yakni menciptakan Stasiun Pengisian Listrik atau Electric Vehicle Charging Station (EVCS).

Dituturkan Deputi BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material (TIEM) Eniya Listiani Dewi Stasiun Pengisian Listrik ini, sama halnya dengan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada kendaraan konvensional.  “Sejalan dengan program percepatan mobil listrik nasional, pada tahun 2018, BPPT menyiapkan 2 sistem charging station yaitu Fast charging station 50 kW di BPPT Jakarta dan smart charging station 20 kW di B2TKE-BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan,” kata Eniya Listiani di Kantor BPPT, Jakarta, kemarin.

Mobil ramah lingkungan saat ini disebut Deputi Eniya, sedang mengalami perkembangan pesat di sejumlah negara. Salah satunya yakni mobil listrik. Mobil listrik kali ini memanfaatkan batere untuk menyimpan energi yang akan digunakan untuk memutar motor listrik.

“Pengisian battery mobil listrik dilakukan di tempat pengisian energi listrik (Charging Station). Agar energi listrik bukan hanya berasal dari fossil, maka perlu di lakukan inovasi dan kajian dengan memanfaatkan energi surya. Namun demikian karena karaktersitik matahari tidak dapat diprediksi, maka tetap dikombinasikan dengan energi listrik dari grid PLN,” paparnya.

Teknologi Charging Station

Sejalan dengan program percepatan mobil listrik nasional, pada tahun 2018, BPPT menyiapkan 2 sistem charging station yaitu Fast charging station 50 kW di BPPT Jakarta dan smart charging station 20 kW di B2TKE-BPPT Puspiptek, Tangerang Selatan. Penyiapan infrastruktur charging station ini juga dalam rangka melakukan uji coba mobil listrik untuk ioperasional kantor sehari-hari dari Tangsel ke Jakarta dan sebaliknya. Di samping itu, juga dapat digunakan oleh pengguna mobil listrik dari kalangan masyarakat sebagai langkah sosialisasi. Sebagai uji coba fasilitas di atas disiapkan 3 bahan sampel uji kendaraan, berupa kendaraan listrik roda dua, micro car, dan city car.

Saat ini kata Eniya, durasi waktu untuk melakukan charging baterai mobil menjadi kendala di Indonesia. Untuk mengisi baterai mobil listrik hingga full membutuhkan waktu 4-5 jam sehingga kebanyakan orang masih berfikir dua kali untuk pindah ke mobil listrik.

“Pilot Project fast charging station BPPT dengan kapasitas 50 kW ini mempunyai kelebihan mampu melakukan charging baterai mobil listrik sampai penuh hanya dengan waktu 30 menit. Diharapkan dengan adanya fasilitas fast charging station pertama kali di Indonesia ini, mampu mendorong masyarakat untuk beralih dari mobil biasa ke mobil listrik,” katanya.

Eniya menambahkan, BPPT akan melakukan uji coba mobil listrik untuk operasional kantor sehari-hari dari Tangsel ke Jakarta dan sebaliknya.  Selainitu, juga dapat digunakan oleh pengguna mobil listrik dari kalangan masyarakat sebagai langkah sosialisasi. Sebagai uji coba fasilitas di atas disiapkan 3 bahan sampel uji kendaraan, berupa kendaraan listrik roda dua, micro car, dan city car.

“Road trip kendaraan listrik dan peluncuran charging station kendaraan listrik ini akan kami lakukan mulai dari kantor BPPT Thamrin menuju Puspiptek, Tangsel. Doakan lancar ya,” ungkapnya sembari mengemudi mobil listrik besutan Tesla. (gun)

 

Pabrikan Mobil Hadapi Realitas Baru: Buat Mobil Listrik Atau Ditinggalkan

PABRIKAN mobil di seluruh dunia dipaksa menghadapi realitas baru teknologi, berupa membuat dan memasarkan mobil listrik atau tergilas oleh tren baru ini. Dari Eropa para bos mobil juga dipaksa menghadapi akibat dari produksi masal, ratusan ribu akan kehilangan pekerjaan karena mobil listrik tidak serumit mobil biasa dan hanya membutuhkan pekerja jauh lebih sedikit untuk membuatnya.

Saat ini, tekanan untuk membuat mobil listrik, yang tidak ada emisinya, makin kuat. Tidak hanya dari Amerika dan Eropa, bahkan Cina juga ikut menegaskan akan mengambil jalur itu. Grup Daimler, Volkswagen, dan PSA akhirnya mengumumkan rencana detil program elektrik mereka.

Disisi lain, Daimler memperingatkan membuat mobil listrik juga berarti keuntungan pabrikan akan berkurang setengahnya. Hal ini akan memaksa grup ini mengambil langkah-langkah penghematan dengan cara alihdaya komponen-komponen mobil. Buat Jerman artinya ancaman bagi para pekerja di pabrikan mobil.

Bos Daimler, Dieter Zetsche, menjelaskan, “Produksi di pabrik sendiri sebenarnya sama sekali tidak diperdulikan konsumen.” Dia mengatakan ini dihadapan wartawan di Frankfurt auto show. Daimler memasang target penghematan sampai 4 miliar Euro di tahun 2025, yang jadi bagian dari upaya untuk investasi di mobil listrik.

“Daimler adalah pabrikan mobil pertama yang mengungkapkan seberapa besar penurunan keuntungan karena memproduksi mobil listrik,” tukas Berstein analis di Max Warburton. “Cukup berani mengungkapkanya pertama kali tapi pasti bukan yang terakhir.”

VW juga sedang mencari pemasok-pemasok baru dengan nilai kontrak mencapai 60 miliar dolar, yang termasuk pasokan baterai. Saat ini, baterai belum bisa diproduksi secara kompetitif di Eropa. CEO VW sendiri menegaskan, “Perusahaan semacam Volkswagen seharusnya memimpin proses ini, bukan hanya jadi pengekor.”

Sementara itu, saham Telsa Inc melonjak 6 persen, Senin lalu, setelah pejabat tinggi Cina menyatakan bahwa bukan apakah Cina akan melarang mobil konvensional atau tidak tapi pertanyaannya adalah kapan larangan akan diberlakukan. Di Eropa, Inggris dan Perancis sudah mengumumkan akan menghapus mobil konvensional dan sepenuhnya mengadopsi mobil listrik pada tahun 2040.

Namun ada peringatan dari PSA, pabrikan pembuat Peugeot dan Citroen, mengenai publik konsumen. Mereka kuatir jika generasi baru mobil listrik ternyata tidak dibeli oleh konsumen. “Jika tidak diterima oleh pasar, maka semua orang, industri, pekerja dan juga termasuk politisi, menghadapi masalah besar.

Tesla, saat ini, sudah berhasil menjual mobil listrik di pasar khusus. Namun sejauh ini mobil listrik belum masuk pasar massal, termasuk di Eropa. Namun ada pengecualian di Norwegia, yang memberi subsidi besar agar rakyatnya mau menggunakan mobil listrik. Secara keseluruhan pasar mobil listrik masih berada di bawah satu persen di dunia.

VW, sebagai bagian dari cara untuk menjauh dari ‘dieselgate’, telah mengunumkan akan melakukan investasi miliaran euro untuk mengembangkan mobil listrik. Pabrikan mobil ini juga menyatakan akan menjual 80 model mobil listrik pada tahun 2025 dan membutuhkan kapasitas empat kali lipat dari pabrik baterai Tesla (gigafactory) untuk memenuhi kebutuhan baterai listrik.

Disisi lain, baterai merupakan satu-satunya komponen paling berharga di mobil listrik dan para ahli menyebutkan adopsi besar-besaran pabrikan mobil pada mobil listrik akan mengalihkan bisnis dan lapangan kerja dari Eropa kepada pemasok Cina, yang saat ini sudah mendominasi pasar baterai mobil.

Menurut perusahaan consultan Alix Partner, pembuatan mobil listrik termasuk baterainya hanya membutuhkan kurang dari 40% tenaga kerja dibandingkan mobil konvensional. Hal ini saja akan menyebabkan pemangkasan tenaga kerja sampai 112.000 orang di Eropa dan ini pun belum menghitung jika pabrikan mobil melakukan alih daya dengan pemasok komponen dari luar Eropa.

Di Jerman, penghapusan mobil konvensional pada tahun 2030 akan membuat 600.000 orang kehilangan pekerjaannya, menurut Institut Ekonomi Ifo. Kanselir Angela Merkel menyebutkan industri permobilan membutuhkan dukungan pada masa transformasi ini. “Pemerintah harus memberikan lebih banyak insentif.”

Bosch, perusahaan pemasok komponen mobil terbesar dunia, mengeluarkan pernyataan yang menentang penghapusan mobil konvensional, dengan menyebutkan mobil listrik bukan satu-satunya jalan untuk mengurangi polusi.

Perusahaan Jerman juga sedang mengembangkan bahan bahas sintetis, yang bisa menggunakan SPBU dan mesin-mesin mobil konvensional. CEO Volkmar Denner menjelaskan bahan bakar sintetis ini berpotensi mengurangi emisi CO2 sampai 2,8 gigaton pada tahun 2050 — tiga kali lipat emisi Jerman pada tahun 2016. “Bahan bakar ini akan lebih cepat membatasi pemanasan global,” tambahnya.

Analis Richard Windsor memperingatkan mobil listrik akan membaya kehancuran bagi pabrikan mobil. Mobil listrik sangat awet dan sedikit sekali membutuhkan perawatan dibandingkan mobil konvensional. “Pabrikan mobil berlomba-lomba mengumumkan komitmen mereka untuk membuat mobil listrik, namun pada saat yang sama mereka mungkin merayakan kehancuran mereka sendiri.”

 

Sumber: reuters.com