INILAH PAVILIUN SEAFOOD INDONESIA DI BOSTON

Stand Indonesia pada acara Seafood Expo North America (SENA) 2018 di Massachusetts Convention Centre, Boston, AS.

DALAM kunjungan kerjanya di Boston, Amerika Serikat pekan lalu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti  meremikan paviliun Seafood Indonesia. Tercatat, ada 21 perusahaan perikanan nasional,serta 2 BUMN yang bergerak di bidang kelautan yakni Perum Perikanan Indonesia dan PT Perikanan Nusantara turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan Seafood Expo North America (SENA) 2018 di Massachusetts Convention Centre, Boston, AS tersebut.

Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti mengunjungi stand Indonesia.

Perusahaan-perusahan eksportir itu bersaing dengan ratusan perusahaan lain dari berbagai negara, tidak hanya di Amerika melainkan dari Asia, Amerika Latin hingga Eropa. Sebagaimana diketahui,  Paviliun Seafood Indonesia menempati booth #3133 dan mempromosikan produk hasil industri perikanan Indonesia agar dapat diterima di pasar AS dan dilirik pasar mancanegara lainnya.

“Tahun ini sangat baik (lokasi booth paviliun seafood Indonesia), besar, dekat dengan pintu utama, langsung begitu masuk. Semua komentar dari perusahaan-perusahaan (eksportir seafood Indonesia yang ikut pameran) juga sangat baik. Beberapa pengusaha besar yang selama ini terpisah dari booth Indonesia pada saat ini mau bergabung,” kata  Menteri Susi.

Penandatanganan kerja sama bisnis antara Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) dengan 2 buyer AS, Harbor Seafood Inc dan North Atlantic Inc.

Dalam kesempatan ini,  Menteri Susi juga menyaksikan penandatanganan kerja sama bisnis antara Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) dengan 2 buyer AS, Harbor Seafood Inc dan North Atlantic Inc. Dalam kontrak kerja sama dengan Harbor Seafood Inc., disepakati Indonesia akan memasok daging kepiting, ikan beku, dan cephalopod atau hewan bertentakel seperti gurita dan sotong. Kerja sama ini mencapai nilai USD16,5 juta. Adapun dalam kontrak dengan North Atlantic Inc., Indonesia akan memasok bahan baku frozen mixfish dalam jangka waktu 1 tahun. Kontrak ini bernilai USD5,4 juta.

Perlu diketahui, AS merupakan pasar penting ekspor perikanan Indonesia. Dari tahun ke tahun, ekspor ke AS terus meningkat mulai dari USD1,45 miliar (2015) menjadi USD1,6 miliar (2016), dan terakhir mencapai lebih dari USD1,8 miliar (2017). Nilai tersebut didominasi oleh udang sebagai komoditas ekspor utama. Surplus perdagangan dengan AS juga terus mengalami peningkatan, mulai dari USD1,3 miliar (2015), menjadi sekitar USD1,55 miliar (2016), dan hampir menyentuh USD1,75 miliar (2017). ***

Cantrang Dilarang, Nelayan Melenggang

Meski sudah dilarang, masih banyak nelayan menangkap ikan menggunakan jala cantrang.

ANDA tahu cantrang? Istilah yang asing bagi yang awam. Cantrang merupakan alat sejenis penangkap ikan, termasuk dalam kelompok pukat tarik berkapal. Hasil tangkapan cantrang, terdiri dari berbagai ikan, mulai ukuran kecil hingga besar.

Karena metode pengoperasian cantrang ini dengan menyapu dasar perairan, sehingga semua jenis ikan berbagai ukuran bisa terjaring. Ini artinya penggunaan cantrang selain merusak sumber daya ikan, juga ekosistem lautan.

Berkaitan masalah ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti, melalui Peraturan Menteri No 271/Permen-KP/2016, tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan disebutkan, nelayan dilarang menggunakan cantrang untuk menangkap ikan. Sebagai gantinya, pihak kementerian membagikan alat penangkap ikan, pengganti cantrang, yang dinilaii lebih ramah lingkungan.

Meski penggunaan cantrang dilarang, tetapi seolah tak digubris. Nelayan tetap melenggang menenteng jala cantrang ke laut untuk mengeruk ikan.Bahkan, jumlahnya terus meningkat. Menteri Susi mengakui, sebaran alat tangkap cantrang di Pantai Utara Jawa melebihi kapasitas. Tahun 2004, jumlah cantrang di Jateng mencapai 3.209 unit, dan di tahun 2007 bertambah menjai 5.100, dan tahun 2015 meningkat lagi menjadi 10.758 unit.

Ilustrasi penggunaan cantrang oleh kapal nelayan.

Dikarenakan telah overfishing, para nelayan mulai bergerak ke Wilayah Pengelolaan Perikananan (WPP) lainnya. Oleh karena itu, Menteri Susi minta isu cantrang jangan dipolitisasi. Masyarakat harus tahu, keberlanjutan itu penting buat laut Indonesia. “Saya memohon kepada para petinggi, pengusaha, juga politikus untuk tidak mempolitisasi masalah ini. Mereka harus tahu, keberlanjutan itu penting untuk kedaulatan laut kita,” tandas Susi.

Selama masa transisi hingga akhir 2017, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap akan mengalokasikan bantuan penggantian cantrang untuk kapal dengan ukuran di bawah 10 GT sebanyak 15.284 unit buat nelayan di 8 provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Lampung, Jambi dan Sumatera Utara. Sementara untuk kapal besar (>10 GT) akan diberi asistensi perbankan dan akan membantu restrukturisasi utang-utang lama, mulai dari penundaan, pembayaran pokok dan memberikan KUR (Kredit Usaha Rakyat) baru kepada nelayan. “Yang kecill bisa ke KKP sekarang,” paparnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyambut baik kebijakan pemerintah dalam pergantian alat tangkap cantrang ke alat tangkap ramah lingkungan. “Beberapa kali sudah ada dialog antara nelayan dengan Pemprov tentang permodalan. Kita sosialisasikan kepada mereka, selanjutnya sebagaimana arahan pemerintah pusat, maka kita buat desk,” tegas Ganjar lagi. ***

Menteri Susi Kembali Masuk Nominasi

MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Puji Astuti namanya kembali masuk nominator dalam ajang bergensi bertaraf internasional. Kali ini, wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 ini, menjadi salah satu nominator dalam ajang “Seafood Champion Awards 2017”. Dalam gelaran ke-11 ini, Menteri Susi masuk ke dalam kategori Seafood Champion Award for Leadership.

“Finalis yang dinominasikan semua telah menunjukkan kecemerlangan dan keuletan dalam bekerja dengan berbagai pemangku kepentingan, perbedaan bahasa, dan jenis-jenis industri untuk mengubah hubungan manusia dengan laut,” tulis SeaWeb, penyelenggara gelaran ini dalam keterangan resminya.

Alasan SeaWeb memasukan nama Menteri Susi, karena salah satu menteri di Kabinet Jokowi -JK ini dinilai berpengaruh bagi negara lain yang memiliki kebijakan sama yakni menyikat para pencuri ikan illegal, meningkatkan keberlangsungan produk kelautan dan perikanan, dan kelestarian laut. Dalam ajang ini, Menteri Susi, akan bersaing dengan Ketua FishWise, Mariah Boyle dan Ketua Global Aqucukture Alliance, Waly Stevens.

Sebagaimana diketahui, Seafood Champions Award diselenggarakan sejak 2006. Event ini sebagai apresiasi bagi yang berdedikasi dalam pengelolaan sumber daya laut secara bertanggung jawan dan ramah lingkungan. Lembaga ini, selain memberikan penghargaan kepada individu, juga dalam kategori kegiatan advokasi, visi, serta inovasi.

Menurut rencana, pemenang akan diumumkan 5 Juni 2017 mendatang, di Sea Web Seafood Summit, Seattle AS. “Tahun 2017 ini, finalis berasal dari beragam kalangan, mereka adalah orang-orang yang telah berhasil baik di level nasional maupun global. Untuk menciptakan perubahan, anda perlu menggandeng pemangku kepentingan dan masyarakat. Hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, tapi orang-orang ini telah berhasil satu langkah didepan dan membuat sebuah kemajuan.” ujar Mark Spalding, Presiden SeaWeb and The Ocean Foundation.***