Kolonel Marinir FJH Pardosi dan 19 Perwira Menengah Lainnya Dipromosi Jadi Perwira Tinggi

JAYAKARTA NEWS – Dalam rangka memenuhi kebutuhan organisasi dan pembinaan karier serta mengoptimalkan pelaksanaan tugas-tugas TNI ke depan yang semakin kompleks dan dinamis, sepuluh Perwira Menengah TNI-AL mendapat promosi menjadi Perwira Tinggi TNI-AL, yang terdiri dari Kolonel Mar Freddy Jhon H. Pardosi, S.E., S.H., M.M. dari Paban Jiandik Ditjianbang Akademi TNI dipromosi menjadi Asrena Kaskogabwilhan III, Kolonel Laut (T) Saban Nur Subkhan, CHRMP. dari Sekdislaikmatal menjadi Dir Min Lakgar Ditjen Renhan Kemhan, Kolonel Mar Raja Erjan HS Girsang, S.E., M.M., M.Sc. dari Kabag Kerma Lugri Rokermakum Settama Lemhannas menjadi Kepala Biro Kerjasama dan Hukum Settama Lemhannas, Kolonel Laut (P) Wawan Trisatya Atmaja, S.E., M.A.P. dari Kas Guspurla Koarmada I menjadi Danguspurla Koarmada III, Kolonel Laut (S) Suprihandono, S.E., M.A.P., CFrA. dari Paban VIII Sisbang Slog TNI menjadi Inspektur Kogabwilhan III.

Kolonel Laut (P) Soleh, S.H., M.Sc. dari Pamen Sahli Bid. Perdang Sahli Bid. Soskumdang Sahli Kasal menjadi Kaotmilti III Surabaya Babinkum TNI. Kolonel Laut (P) Basri Mustari, M.Han., CIQnR., CIQaR. dari Dosen Utama Kejuangan Koordos Seskoal menjadi Pa Sahli Tk. II Was Afrika dan Timteng Sahli Bid. Hubint Panglima TNI, Kolonel Mar Mauriadi, S.E. dari Paban IV/Watpers Spers TNI menjadi Pati Sahli Kasal Bid. Wilnas, Kolonel Laut (P) Kunto Tjahjono, S.E., CRMP., M. Tr. Opsla. dari Sahli C Straops Pok Sahli Koarmada II menjadi Danlantamal XI Mer Koormada III, Kolonel Mar Citro Subono, S.M. dari Paban Wiltasla Spotmar Koarmada RI menjadi Pa Sahli Tk. II Jahpers Panglima TNI.

Selain perwira menengah TNI-AL, Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M. juga melakukan promosi jabatan dari Perwira Menengah menjadi Perwira Tinggi di lingkungan TNI-AD dan TNI-AU.

Hal itu berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/953/VIII/2023 tanggal 24 Agustus 2023 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan Tentara Nasional Indonesia.

Dari TNI-AD yang dipromosi menjadi Perwira Tinggi yaitu, Kolonel Inf Ayi Lesmana, S.E. dari Pamen Denma Mabesad menjadi Dir Vet Ditjen Pothan Kemhan, Kolonel Inf Unang Sudargo, S.H., M.M. dari Danrem 082/Cpyj (Mojokerto) Kodam V/Brw menjadi Widyaiswara Bid. Nik Akmil, Kolonel Inf Muhammad Bakri, S.I.P., M.M. dari Irut-II/Puanter Itter Itum Itjenad menjadi Irsus Itjenad.

Kolonel Inf Deni Rejeki, S.E., M.Si. dari Paban VIII/Binkumtaltiprot Spersad menjadi Danrem 142/Tatag (Pare-Pare) Kodam XIV/Hsn, Kolonel Inf Jimmy Watuseke dari Paban VII/Kermater Sterad menjadi Danrem 033/WP (Tanjungpinang) Kodam I/BB. Kolonel Inf Antonius Bambang Selegiri, S.I.P. dari Paban Sahli Kasad Bid. Rengarev menjadi Pa Sahli Tk. II Bid. Banusia Panglima TNI.

Sedangkan dari TNI AU yaitu, Kolonel Adm Dwi Dedy Gunawan dari Pamen Sahli Kasau Bid. Dok jemen Sahli Kasau Bid. Air Power menjadi Pati Sahli Kasau Bid. Strahan, Kolonel Tek Suratmin, S.T., M.Si. dari Paban I/Ren Slogau menjadi Pa Sahli Tk. II Indag Sahli Bid. Ekkudag Panglima TNI, Kolonel Kes dr. Paulus Supriono, Sp.Rad., M.M. dari Ka RSPAU dr. Esnawan Antariksa Diskesau menjadi Pati Sahli Kasau Bid. Kersalem, Kolonel Tek Wisnu Saputro, S.Pd., M.Pd. dari Dirpers Koharmatau menjadi Kadisbintalidau.***/mel

Dua Marinir TNI AL Gugur Ditembak KKB

JAYAKARTA NEWS – Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua tidak kunjung usai melakukan aksi penyerangan baik terhadap aparat keamanan negara (TNI dan Polri) dan masyarakat sipil. Aksi kelompok teroris bersenjata itu membuat dua prajurit TNI AL berkalang tanah. Gugur.

Akhir pekan lalu, Sabtu 26/3/2022), kelompok bersenjata itu menyerang Satuan Tugas  (Satgas) Muara dan Pesisir (Mupe) Korps Marinir TNI AL di Pos Quary Bawah, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua.  

Dalam keterangan persnya, Dinas Penerangan TNI AL menjelaskan kronologis peristiwa tersebut. Pada Sabtu itu,  pukul 17.40 WIT, kelompok seperatis teroris Papua (KSTP) Nduga yang dikendalikan  Egianus Kogoya  telah menyerang Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yonif 3 Maret. Dalam aksinya, mereka  menyerang dengan menggunakan Pelontar Granat atau GLM (Grenade Launcher Module)  dari  arah belakang Pasar dan dari arah Sungai Alguru.

Seluruh personel Satgas yang berjumlah 35 orang, begitu mendapat serangan tersebut,  membalas dengan tembakan dan melakukan pengejaran terhadap kelompok itu. Pada pukul 18.00 WIT Dansatgas memerintahkan dua Tim Trisula yang dipimpin Wadandenpursus Kapten Mar Ari Mahendra dan 1 Tim Waltis dipimpin Letda Mar Pujo Pratikno, berangkat untuk memberikan bantuan ke Pos Quary Bawah dengan menggunakan kendaraan sebuah truk dan dua KIA.

Akibat serangan tersebut, dua personel TNI AL gugur, dua kritis dan enam luka ringan. Mereka yang menjadi korban adalah Letda Mar Iqbal dan Pratu Mar Wilson Anderson Here, meninggal dunia. Prajurit TNI AL yang menderita luka-luka adalah  Serda Mar Rendi Febriansyah dan Serda Mar Ebit Erisman dengan luka berat (kritis), sedangkan  enam orang lainnya mengalami luka ringan. Mereka adalah Serda Mar Bayu Pratama, Pratu Mar Rahmad Sulman, Prada Mar Dicky Sugara, Pratu Mar Adik Saputra A, Prada Mar La Harmin, dan Prada Mar Alif Dwi Putra. Rencana evakuasi korban  dilaksanakan dengan memperhatikan dan menyesuaikan cuaca.

Sejauh ini motif penyerangan masih didalami. Dilaporkan pula,  informasi sementara menyebutkan bahwa  senjata GLM yang digunakan untuk menyerang diduga dicuri dari Satgas Yonif 700, sedangkan munisi GLM merupakan  rampasan dari Satgas Yonif 330.

TNI AL menjelaskan, Pos Quary Bawah Satgas Mupe Yon 3 Mar berkekuatan 35 personel. Lokasinya  kurang lebih satu kilometer dari Polres Nduga, dan dua kilometer dari Koramil Nduga.  Selama ini Pos Quary Bawah tidak memiliki permasalahan dengan masyarakat di sekitar Pos. Bahkan kegiatan mereka aktif melakukan bakti sosial, seperti menggelar mobil sehat, mobil pintar, lomba-lomba, kegiatan adat dan kegiatan agama.

Kedekatan prajurit TNI dengan masyarakat Papua (Foto: Dispenal)

Atas kejadian ini TNI AL dan masyarakat Papua berduka, akibat gugurnya dua prajurit Marinir TNI AL terbaik yang selalu dekat dan membantu masyarakat sekitarnya. Kehangatan hubungan yang harmonis di masyarakat Nduga saat ini terganggu dengan situasi ini.

Sebagai ungkapan bela sungkawa, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono memerintahkan seluruh jajaran TNI AL mengibarkan bendera  setengah tiang selama tiga hari berturut-turut mulai Senin 28 Maret 2022 dan melaksanakan sholat ghoib/berdoa bersama dipimpin perwira rohani  sesuai agama masing-masing.(sm)

Sulitnya Melatih Tentara Buta Huruf

Pasukan Angkatan Laut dan tentara Amerika yang bertugas di Provinsi Helmand, Afghanistan tengah memberikan pelarihan ke tentara Afghanitan. (Foto: Reuters/Omar Sobhani)

 

 

SAAT Amerika berencana akan kembali menambah pasukannya di Afghanistan. Pasukan AS, yang ada, sedang berjuang keras berupaya membangun angkatan bersenjata Afghanistan sambil berperang, yang kelihatannya sudah ada pada situasi buntu.

Memang sangat sukar dan kadang frustasi bagi tentara AS yang memberi pelatihan dasar infanteri dan mencoba menciptakan sistem logistik modern kepada angkatan bersenjata, yang banyak tentaranya buta huruf.

“Tantangannya sangat besar,” tutur Brigjen Roger Tuner, yang memimpin gugus tugas di provinsi Helmad lima tahun lalu dan kembali lagi sebagai komandan dari sekitar 300 marinir yang bertugas memberi pelatihan dan nasehat kepada tentara dan polisi Afghanistan.

Ketika marinir keluar dari Helmand pada tahun 2014, mereka tidak pernah berharap akan kembali lagi. Namun membangun angkatan bersenjata Afghanistan berjalan lebih lambat dari yang diperkirakan. Banyak hal jadi perhatian, seperti memperkuat kepemimpinan  atau menghindarkan tentara dari posisi-posisi rawan di lapangan. Hal-hal ini jadi perhatian dan rekomendasi dari para penasehat Amerika pada tahun-tahun terakhir ini.

Para pemberotak, menguasai 14 distrik di Helmand dan berusaha bertempur untuk menguasai distrik lainnya, serta mengancam ibukota provinsi. Lashkar Gah sudah mengambil posisi kuat di luar pusat kota, saat ini.

Pasukan Afghan mengalami pukulan berat dengan ribuan tentara tewas dan tanpa bantuan serangan udara AS, yang berlangsung setiap hari. Menurut Kolonel Asmatullah Gharwal, perwira intelejen AD Kompi 215, “Kami mungkin tidak akan mampu mempertahankan provinsi Helmand.”

Para komandan lapangan Amerika sudah mengakui bahwa Afghanistan menghadapi “jalan buntu”. Karena itulah, Pentagon (Dephan AS) akan menambah pasukan AS sekitar 3.000 – 5.000 tentara, yang saat ini koalisi internasional menempatkan 13.000 tentara. Namun para petinggi militer AS menyatakan tidak ada rencana untuk mengirim tentara baru itu ke medan pertempuran tapi lebih berperan sebagai pelatih dan penasehat saja.

Sementara tugas utama tidaklah berbah; bukan untuk mengalahkan Taliban tapi membuat pasukan Afghan mampu mencapai satu titik dimana mereka mampu melawan pemberontak dan memaksa pemberontak bernegosiasi.

Bagi Turner, kunci perbaikan angkatan bersenjata adalah kepemimpinan. Isu ini sudah sering dikemukakan oleh para penasehat AS tapi kurang berhasil. Koalisi NATO sendiri sudah mengakhiri misi tempur sejak 2014 lalu.

Selama bertahun-tahun, pemerintah tetap bertahan di Hemand, salah satu wilayah produsen opium (bahan untuk membuat Heroin) besar dunia. Namun dengan susah-payah ditambah dengan rongrongan korupsi yang dilakukan para petinggi militer. Komandan kompi 215, yang terakhir, diberi perintah untuk membersihkan unit itu dari korupsi. Tapi akhit tahun lalu, dia ditangkap karena mencuri uang jatah makan dan pemanas (kayu bakar) prajurit.

Saat ini Amerika sangat terkesan dengan komandan pengganti, Jenderal Wali Mohammad Ahmadzai yang menggebrak dengan mengganti 50 perwira senior pasukannya. Turner mengatakan pemerintah pusat di Kabul sekarang ini lebih serius untuk mengganti pimpinan, yang dipandang gagal atau tidak efektif.

Tuner menambahkan, “Ketika kami disini sebelumya, anda berhadapan dengan pemimpin yang benar-benar tidak efektif dan anda harus menghadapinya.”

Kamp Bastion, berupa deretan tenda berdebu, kontainer, dan pagar kawat berduri, adalah tempat basis marinir Amerika. Ketika perang melawan Taliban berkecamuk, kamp ini berisi lebih dari 100.000 tentara dan jauh lebih luas dari sekarang ini.

Para marinir, bukannya melakukan patroli tempur, melakukan pelatihan-pelatihan tentara Afghanistan, membantu pasukan Afghan dalam perencanaan dan eksekusi misi mempertahankan provinsi itu.

“Hal paling pertama adalah mengembalikan lagi keamanan,” tukas Kol. Matthew Reid, wakil Tuner. Dia menambahkan saat ini Lashkar Gah berhasil ditahan dan distrik-distrik luar lebih berbahaya dari perkiraan.

Kendati tidak langsung terlibat dalam pertempuran, marinir AS tetap harus menghadapi ancaman serangan.  Para penasehat ini juga terlibat dalam operasi, baru-baru ini, untuk memperkuat dan membawa pasokan persenjataan baru di kota Sangin dan Marjah, yang jadi tempat pertempuran paling besar pada tahun 2010 lalu. Kedua operasi dipandang sukses besar oleh para penasehat militer AS, yang melibatkan perencanaan dan persiapan serta pembersihan bom-bom di pinggir jalan.

Bagi marinir AS, sukses semacam itu diharapkan bisa mendorong pasukan Afghan untuk meninggalkan pos-pos penjagaan dan memulai gerakan ofensif, yang biasanya mereka hanya mengalami sedikit korban. Meskipun pasukan Afghan akan senang jika ada bantuan.

“Kita kehilangan lima distrik, yang jatuh ketangan Taliban. Jika pasukan kita bersama Korps Marinir AS membersihkan distrik-distrik itu, maka saya yakin kita akan mencapai tingkan keamanan yang sangat baik, “ujar Kol. Gharwal dari Korp 215 Afghan.

Namun langkah menerjunkan pasukan AS bertempur langsung di lapangan akan sangat bergantung pada perubahan strategis di Washington.  Sementara itu, saat ini, marinis AS bekerjasama dengan instruktur Afghan, mengajarkan segala hal mulai dari pembersihan ranjau sampai mengkoordinir penembakan mortir.

“Saya sangat senang kembali ke Helmand,” ujar Sersan Kepala George Caldwell sambil memandang prajurit mempraktekkan cara mengeledah sebuah rumah. “Cara mereka bertempur sekarang ini sudah sangat berbeda Saya bisa melihat peningkatan dibandingkan lima tahun lalu.”

Namun masih banyak sekali pertanyaan, apakah Afghanistan yang menglami korupsi parah dan sistem politik yang tak berfungsi akan mampu bertahan dan bagaimana dengan kehadiran AS di negeri itu, yang sudah berlangsung selama 16 tahun. Mungkin pendekatan baru dibutuhkan.***