Penumpang Wings Air Mendadak Buka Jendela Darurat

JAYAKARTA NEWS – Wings Air (kode penerbangan IW) member of Lion Air Group menyampaikan keterangan terkait layanan penerbangan bernomor IW-1248 hari ini (07/ 03) yang melayani dari Bandar Udara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatera Utara (KNO) tujuan Bandar Udara Binaka di Gunung Sitoli, Sumatera Utara (GNS).

Penerbangan IW-1248 sudah dipersiapkan dengan baik, memiliki jadwal keberangkatan pada 08.45 WIB. Wings Air mengoperasikan ATR 72-500 registrasi PK-WFO, yang akan menerbangkan empat awak pesawat serta 44 penumpang dewasa serta 1 (satu) anak-anak.

Ketika proses persiapan keberangkatan selesai dan seluruh penumpang sudah berada di dalam kabin pesawat, salah satu penumpang laki-laki berinisial HS (29) yang memiliki nomor kursi 3A sesuai lembar masuk pesawat (boarding pass) tiba-tiba membuka jendela darurat (emergency exit window).

Atas kondisi tersebut, seluruh penumpang diturunkan dan diarahkan kembali ke ruang tunggu keberangkatan bandar udara.

Saat ini ATR 72-500 registrasi PK-WFO sedang dilakukan pengecekan pada pesawat udara. Sesuai standar operasional prosedur (SOP), awak pesawat menginformasikan kepada petugas layanan darat (ground handling) dan petugas keamanan (aviation security/ avsec) agar segera dilakukan penanganan kepada HS.

Wings Air telah menyerahkan HS kepada pihak terkait beserta Otoritas Bandar Udara (otband) guna pemeriksaan dan proses lebih lanjut.

Pesawat Wings Air type ATR-72-600

Atas kondisi tersebut, mengakibatkan keterlambatan keberangkatan Wings Air penerbangan IW-1248 yaitu 55 menit. Penerbangan IW-1248 telah diberangkatkan kembali pada 09.40 WIB dengan menggunakan pesawat Wings Air yang lain yakni ATR 72-600 registrasi PK-WHM. Pesawat mendarat di Gunung Sitoli pukul 10.45 WIB.

Wings Air menegaskan bahwa seluruh operasional pesawat mengutamakan aspek keselamatan dan keamanan (safety first). Wings Air mewajibkan kepada seluruh penumpang untuk tidak melakukan tindakan yang dapat mengganggu keamanan dan kenyamanan saat di darat serta sedang mengudara. Tindakan yang dilakukan oleh penumpang indisipliner atau unruly/ disruptive passenger akan mendapatkan sanksi tegas dan memiliki konsekuensi hukum.

Wings Air berupaya dan berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dengan senantiasa mengutamakan aspek keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan serta dijalankan sebagaimana pedoman protokol kesehatan. Wings Air akan meminimalisir dampak yang timbul, agar penerbangan Wings Air lainnya tidak terganggu.

Demikian pernyataan Corporate Communications Strategic of Wings Air, Danang Mandala Prihantoro kepada pers, hari ini (7/3/2021). (*/rr)

Departemen Transportasi AS Selidiki Persetujuan FAA atas 737 MAX

 

JAYAKARTA NEWS – Departemen Transportasi AS kabarnta tengah  menyelidiki persetujuan yang diberikan Otoritas Penerbangan Amerika Serikat  (Federal Aviation Administration/FAA) terhadap  jet Boeing Co 737 MAX.

Dekian laporan Wall Street Journal edisi  Minggu, yang mengutip sumber-sumber  yang dekat  dengan penyelidikan tersebut.

Penyelidikan yang dilakukan oleh inspektur jenderal departemen tersebut dilakukan  setelah terjadi kecelakaan yang menimpa Lion Air pada 31 Oktober 2018 menewaskan 189 orang, demikian laporan WSJ.  Terakhir, pesawat yang dioperasikan oleh Maskapai Ethiopia, juga mengalami  kecelakaan pada 10 Maret lalu yang  menewaskan 157 orang.

Kedua pesawat MAX 8  jatuh bebrapa menit  setelah lepas landas, setelah pilot melaporkan masalah kontrol penerbangan.

Menurut laporan WSJ, penyelidikan berfokus pada apakah FAA menggunakan standar desain yang sesuai dan analisis teknik dalam mensertifikasi sistem anti-stall pesawat yang dikenal sebagai MCAS.

Sejauh ini Boeing yang dimitai konfirmasinya, tidak segera menanggapi.  Pihak otoritas  penerbangan Federal AS pun menolak berkomentar.

Dua pejabat pemerintah yang memberikan penjelasan singkat tentang masalah ini mengatakan kepada Reuters bahwa tidak akan mengejutkan bagi Departemen Perhubungan untuk menyelidiki masalah keselamatan utama tetapi tidak dapat segera mengkonfirmasi laporan tersebut.

Kecelakaan Maskapai Ethiopia memiliki “kesamaan yang jelas” dengan kecelakaan yang dialami Lion Air, demikian hasil  analisis awal dari kotak hitam.

Kekhawatiran atas keselamatan pesawat telah menyebabkan otoritas penerbangan di seluruh dunia melarang terbang pesawat  model ini. Kebijakan itu telah menghapus miliaran dolar dari nilai pasar Boeing.

“(Kecelakaan) itu adalah kasus yang sama dengan apa yang terjadi di Indonesia (Lion Air). Ada kesamaan yang jelas, antara dua kecelakaan sejauh ini, ” kata juru bicara kementerian transportasi Ethiopia Muse Yiheyis.

“Data berhasil dipulihkan. Baik tim Amerika dan tim kami (Ethiopia) memvalidasinya, ”katanya kepada Reuters. Dia menambahkan bahwa kementerian akan memberikan lebih banyak informasi setelah tiga atau empat hari.

Namun, di Washington, para pejabat AS mengatakan bahwa FAA  dan Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS belum memvalidasi data.

Ketika penyelidik, setelah meninjau data kotak hitam, kembali ke Addis Ababa dan mulai melakukan pekerjaan interpretatif, NTSB dan FAA akan membantu dalam verifikasi dan validasi data, kata seorang pejabat.

Sumber lainnya  mengatakan sedikit informasi yang telah diedarkan di antara pihak-pihak terkait dengan  isi data dan rekaman suara.

Tidak jelas berapa banyak dari sekitar 1.800 parameter data penerbangan dan dua jam rekaman kokpit, yang mencakup penerbangan enam menit dan perjalanan sebelumnya, telah diperhitungkan dalam analisis awal terkait kecelakaan  Ethiopia.

Peraturan internasional mengharuskan laporan pendahuluan tentang kecelakaan itu untuk dirilis dalam waktu 30 hari.

Analisis Keselamatan
Kecelakaan itu telah menimbulkan  satu pertanyaan yang paling banyak ditonton dan dipertaruhkan selama bertahun-tahun, dengan versi terbaru dari pekerja keras Boeing 737 yang menguntungkan tergantung pada hasilnya.

Laporan kecelakaan sebelumnya menunjukkan bahwa dalam kasus-kasus penting seperti ini dapat terjadi pertentangan di antara para pihak tentang penyebabnya.

Di Paris, badan investigasi kecelakaan udara BEA Perancis mengatakan data dari perekam suara kokpit jet telah berhasil diunduh. Agen Perancis mengatakan di Twitter bahwa mereka tidak mendengarkan file audio dan data telah ditransfer ke penyelidik Ethiopia.

Di Addis Ababa, seorang sumber yang mendengarkan rekaman kontrol lalu lintas udara dari komunikasi pesawat mengatakan penerbangan 302 memiliki kecepatan yang luar biasa tinggi setelah lepas landas sebelum melaporkan masalah dan meminta izin untuk naik dengan cepat.

The Seattle Times melaporkan bahwa analisis keselamatan Boeing terhadap sistem kontrol penerbangan baru pada 737 MAX jet memiliki beberapa kelemahan penting.

Analisis MCAS mengecilkan kekuatan sistem ini, kata Seattle Times, mengutip insinyur saat ini dan mantan di FAA.

FAA juga tidak menyelidiki pertanyaan terperinci dan mengikuti proses sertifikasi standar pada MAX, kata Seattle Times, mengutip juru bicara FAA.

Sejauh ini FAA menolak mengomentari laporan tersebut, tetapi merujuk pada pernyataan sebelumnya tentang proses sertifikasi, dikatakan bahwa proses sertifikasi 737-MAX mengikuti proses standar FAA.

Laporan itu juga mengatakan bahwa Boeing dan FAA diberitahu tentang spesifikasinya dan respons mereka telah dicari 11 hari yang lalu, sebelum Ethiopian Airlines jatuh.

Senin lalu Boeing mengatakan akan menggelar upgrade perangkat lunak ke 737 MAX 8, beberapa jam setelah FAA mengatakan akan mengamanatkan “perubahan desain” di pesawat pada April.

Boeing sedang menyelesaikan perubahan perangkat lunak dan revisi pelatihan dan akan mengevaluasi informasi baru ketika tersedia, Kepala Eksekutif Dennis Muilenburg mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu setelah komentar kementerian transportasi Ethiopia.

Seorang juru bicara Boeing mengatakan 737 MAX disertifikasi sesuai dengan persyaratan dan proses FAA yang identik yang mengatur sertifikasi semua pesawat dan turunan baru sebelumnya.***

Boeing Berencana Rilis Upgrade Software untuk 737 MAX

JAYAKARTA NEWS –  Boeing Co mengumumkan, bahwa pihaknya sedang menyelesaikan pengembangan peningkatan perangkat lunak dan revisi pelatihan pilot untuk 737 MAX-nya.

Langkah itu dilakukan Boeing menyuaul jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines yang menewaskan 157 orang pada 10 Maret 2019 lalu.

Pada hari Rabu 31 Oktober tahun 2018 lalu, kecelakaan serupa juga terjadi atas pesawar Lion Air beberapa menit selepas landas dari Bandara Cengkareng (CGK) Tangerang. Pesawat yang jatuh di Perairan Laut Jawa, Kab Karawang, Jawa Barat itu menewaskan 125 orang, seluruh penumpang dan awaknya.

Menurut Boeing, pembaruan yang dimaksudkan adalah untuk membahas bagaimana sistem kontrol penerbangan pesawat terbang – Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS, Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver) – merespons masukan sensor yang salah.
Sebuah pesawat Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh Ethiopian Airlines, jatuh tak lama setelah lepas landas pada 10 Maret, menewaskan semua 157 penumpang.

Maskapai Ethiopia mengatakan pada hari Minggu bahwa kecelakaan itu memiliki “kesamaan yang jelas” dengan kecelakaan Lion Air di Indonesia pada bulan Oktober, menurut analisis awal dari kotak hitam yang ditemukan dari puing-puing bencana 10 Maret. Kekhawatiran atas keselamatan pesawat menyebabkan otoritas penerbangan di seluruh dunia mendarat model.

Boeing telah bekerja pada peningkatan perangkat lunak untuk sistem anti-stall dan tampilan pilot pada 737 MAX, pesawat jet penjualan tercepat, menyusul kecelakaan Lion Air yang mematikan, dan telah mengatakan akan memperbarui pelatihan pilot juga.

Satu ide untuk pelatihan yang direvisi adalah kursus tambahan 10-15 menit menggunakan iPad yang akan menjelaskan perangkat lunak baru, kata  Dennis Tajer, juru bicara serikat pilot American Airlines dan yang juga pilot 737.

Namun, pelatihan pilot baru yang spesifik tidak diharapkan akan ditetapkan sampai perbaikan perangkat lunak dilakukan, kata sumber di Boeing.

Boeing berencana untuk merilis perangkat lunak yang ditingkatkan untuk 737 MAX-nya dalam seminggu hingga 10 hari kedepan, jelas sumber-sumber yang dekat  dengan masalah tersebut.

Sejauh ini Boeing tidak segera memberikan respon atas permintaan  komentar yang disampaikan.

Thai Lion Air Kembali Buka Penerbangan ke Bali

Re-Inaugural Flight Thai Lion Air di  Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar

HARAPAN peningkatan arus wisatawan asing dari Thailand ke Indonesia, khususnya Bali, bertambah lebar tatkala Thai Lion Air kembali membuka penerbangannya dari negeri jiran itu ke Denpasar.

Pekan lalu,  Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar  Re-Inaugural Flight Thai Lion Air di  Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar. Pembukaan itu ditandai dengan penerbangan  pesawat SL 258 rute Bangkok-Denpasar yang membawa  178 penumpang.

Menurut data Lion Air, dari 178 penumpang, 14 diantaranya adalah  peserta Famtrip. Mereka adalah  TA/TO asal Thailand. Sungguh menggembirakan, karena capaianitu  melebihi ekpektasi awal. Jumlah penumpang  82.79% dari kapasitas tempat duduk  pesawat yang 215 seat.

Menurut perwakilan Lion Group Indonesia, Fajar Teguh,  pembukaan kembali rute ini diharapkan dapat terus berkelanjutan, sekaligus juga frekwensi penerbangannya dapat Air  bertambah.

“Untuk saat ini, penerbangan Thai Lion Air hanya daily 1 kali dalam sehari. Mudah-mudahan, ke depan bisa menjadi 2-3 kali penerbangan dalam sehari,” ujarnya.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran Regional  Kementerian Pariwisata Masruroh menjelaskan,  reinaugural ini  adalah  hasil tindak lanjut dari rapat koordinasi sebelumnya yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand. Ini merupakan  hasil join promotion program kerjasama airlines yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah kedatangan wisatawan asing ke Indonesia, khususnya Pulau Dewata.

“Kami yakin pembukaan kembali penerbangan ini mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan, khususnya dari Thailand. Harapannya, pihak bandara juga bisa memberikan slot tambahan untuk Thai Lion, jika mereka berencana menambah frekuansi penerbangan,” ujarnya.***

Black Box Lion Air JT-610 Ditemukan

Black Box Lion Air ditemukan–foto detik com

Kapal Riset Baruna Jaya I terus bersiaga 24 jam, telusuri area Prioritas I pencarian, yang juga menjadi lokasi titik penyelaman. Bersama Tim Search and Rescue (SAR) gabungan tim inipun akhirnya berhasil temukan kotak hitam atau black box dan bangkai pesawat Lion Air JT610, yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Disampaikan Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT, Hammam Riza bahwa black box benar sudah ditemukan dan diangkat ke atas Kapal Riset Baruna Jaya I BPPT.  “Setelah Baruna Jaya BPPT menemukan blackbox bersama para penyelam, akan diserahkan ke KNKT dan Basarnas untuk penanganan lebih lanjut,” ujarnya di Kantor BPPT Jakarta, Kamis (1/11/2018).

foto istimewa

Deputi TPSA berharap dengan ditemukan kotak hitam tersebut ada titik terang penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Untuk keterangan resmi tentang blackbox, lebih lanjut akan diberikan oleh Basarnas bersama KNKT.  “Selain itu tentu saja seluruh korban yg ditemukan sekitar serpihan badan pesawat juga segera dievakuasi,” tuturnya.
Deputi Hammam menambahkan, disinilah peran penting teknologi dalam mendukung kinerja pemerintah. “BPPT siap untuk terus eksis sebagai garda terdepan inovasi dan layanan teknologi untuk Indonesia,” paparnya.
 Secara terpisah, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan (Teksurla) BPPT, M. Ilyas dari atas Baruna Jaya I, tim BPPT selama 24 jam ini terus melakukan olah data untuk memastikan citra visual hasil teknologi yang diturunkan ke bawah air. “Kami terus olah data ROV untuk mendapatkan visual blackbox dan serpihan yang ada di dasar laut. Alhamdulillah dengan doa masyarakat, upaya tim SAR gabungan bisa angkat black box. Sudah ada di atas kapal Baruna Jaya I,” katanya via pesan instan, Jakarta, (01/11/2018).
Koordinat yang didapatkan semalam yakni pada koordinat S 05 48 48 .051 –  E 107 07 37 .622 dan pada koordinat S 05 48 46.545 – E 107 07 38.393, disebutnya terus menjadi fokus pencarian black box.  “Hari keempat pencarian ini dipersempit pada koordinat tersebut. Semalaman pun ROV sudah diturunkan, karena penyelam pasti sulit untuk turun malam hari. Arus kencang dan visual sangat terbatas, kedalaman pun di 30 meteran. Dengan teknologi ROV inilah kita terus berupaya lakukan klarifikasi,” tegasnya. (gun)

Mengapa Pesawat Jet Boeing Baru Jatuh pada Menit ke-13 Setelah Takeoff

SAMPAI hari ini masih menjadi pertanyaan, mengapa pesawat Lion Air JT 610, yang merupakan salah satu jet Boeing terbaru dan paling handal, mengalami kecelakaan. Pesawat ini jatuh  pada menit ke-13 setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng untuk penerbangan ke Pangkal Pinang.

Dunia penerbangan terkejut. Betapa tidak, pesawat naas tersebut  baru berusia dua bulan dengan  800 jam terbang. Inilah yang membuat para ahli pesawat bingung dengan apa yang  menyebabkan terjadinya Boeing 737 MAX 8 itu jatuh.

Sekalipu sampai sekarang  belum ada informasi resmi yang dirilis tentang mengapa pesawat baru itu jatuh ke laut pada menit ke-13  selepas lepas landas,  data yang dirilis FlightRadar24 menunjukkan  bahwa pesawat itu berperilaku tidak teratur saat lepas landas. Tidak seperti biasanya, ketika sebuah pesawat  akan naik dalam beberapa menit pertama penerbangan, jet Lion Air itu justru mengalami penurunan 726 kaki selama 21 detik seperti diperlihatkan pada data di bawah ini.

 

Philip Butterworth-Hayes, pakar penerbangan yang diminta komentarnta atas data tersebutmengungkapkan  bahwa data itu tidak biasa, terutama sejak lepas landas seperti ini biasanya dikendalikan oleh sistem otomatis pesawat.

“Ini tidak sesuai dengan profil penerbangan otomatis,” kata Butterworth-Hayes saat mempelajari data. “Kecuali, pesawat itu berusaha memperbaiki dirinya sendiri pada saat itu, karena sejumlah alasan,” sambungnya seperti dikutip CNN.

“Ini menunjukkan profil penerbangan vertikal yang luar biasa tidak stabil,” tambahnya.

“Tepat pada saat yang sama dengan kecepatan yang meningkat ada kemerosotan ketinggian, yang berarti pada saat itu ada beberapa kehilangan kendali.”

 

Bagi maskapai yang dikendalikan oleh pengusaha kelahiran Cirebon, Rusdi Kirana, pesawat Lion itu benar-benar baru. Jet tersebut belum lama datang dari markas Boeing di Amerika, dan baru beroperasi semenjak 15 Agustus 2018 lalu. Pada penerbangan terakhirnya itu, JT 610 membawa 181 penumpang, enam awak kabin dan dua pilot menuju Pangkal Pinang di Bangka.

Analis penerbangan CNN, Peter Goelz , yang juga bekas penyelidik kecelakaan Udara Nasional Dewan Keamanan Transportasi Nasional Amerika  mengatakan, data itu jelas menunjukkan masalah dengan kecepatan dan ketinggian pesawat.

“Ada sesuatu yang jelas salah dalam kecepatan udara dan ketinggian yang akan mengarah pada sistem kontrol penerbangan,” katanya. “Ini adalah sistem fly-by-wire – sangat otomatis – dan pilot mungkin tidak dapat memecahkan masalah secara tepat waktu.”

 

Pesawat tidak jatuh begitu saja dari langit

Butterworth-Hayes menjelaskan,  mengingat bahwa pesawat itu baru berusia dua bulan, alasan di balik kecelakaan itu “sangat tidak mungkin” terkait  kesalahan mekanis. “Pesawat terbang tidak jatuh begitu saja dari langit,” katanya.

“Saya tidak bisa memikirkan masalah mekanis apa pun, selain kehilangan tenaga mesin yang tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan (atau) kegagalan listrik lengkap. Ini jauh lebih mungkin menjadi peristiwa eksternal.”

 

Dikatakan bahwa masalah lingkungan adalah penyebabnya – seperti ledakan mikro, atau pesawat yang menabrak sesuatu seperti kawanan burung.

“Mikroburst sangat sulit untuk dideteksi – tiba-tiba datang angin kencang, seperti pusaran dan Anda tidak bisa melihatnya – Anda terhempas, tiba-tiba pesawat Anda tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan, ketika Anda mulai melakukan segala macam gerakan pemulihan dan kemudian (semua usaha itu) sudah terlambat. ”

Boeing 737 MAX 8 saat itu sebenarnya  baru saja membuat permintaan untuk kontrol lalu lintas udara untuk kembali ke bandara sekitar 22 kilometer (12 mil laut) setelah tinggal landas, tetapi tidak menunjukkan ada keadaan darurat.

Data radar tidak menunjukkan bahwa pesawat telah kembali, dan pengendali lalu lintas udara kehilangan kontak dengan pesawat itu segera setelah itu, kata Yohanes Sirait, juru bicara AirNav Indonesia.

Butterworth-Hayes mengatakan bahwa fakta bahwa pilot tidak menunjukkan adanya masalah  menganai  adanya insiden kecil yang mereka hadapi yang mereka kendalikan.

“Panggilan mereka menunjukkan itu adalah insiden kecil yang mereka kendalikan dan mereka tidak memerlukan bantuan,” katanya. “Tapi itu cepat meningkat.”

“Ada kehilangan ketinggian (sebelum JT 610  jatuh) dan hanya setelah itu jelas ada semacam koreksi,” kata Butterworth-Hayes saat  melihat data FlightRadar24.

“Apapun yang terjadi pada penurunan itu adalah koreksi tetapi koreksi apa pun itu tidak terlalu panjang dan saat itulah pesawat mulai jatuh.”

Mantan inspektur keselamatan dengan US Federal Aviation Administration, David Soucie mengatakan, fakta bahwa keadaan darurat tidak dinyatakan harus menjadi perhatian.

“Apa yang paling aneh bagi saya adalah kenyataan bahwa mereka tidak menyatakan keadaan darurat. Mereka hanya mengatakan, ‘Kami akan kembali,'” kata Soucie.

“Tapi ketika saya melihat lintasan pesawat setelah itu, pesawat mengakami penurunan yang sangat curam setelah itu, yang tidak khas dari apa yang akan mereka lakukan,” tambahnya. “Mereka akan mempertahankan ketinggian dan membuat belokan itu dan kembali ke (bandara).” Soucie menambahkan bahwa sesuatu pasti telah  terjadi sehingga pesawat kehilangan kendali.

Dia mengesampingkan cuaca sebagai penyebab kecelakaan itu, bagaimanapun, karena pesawat tampaknya tidak berusaha untuk kembali ke Jakarta. “Itu mengatakan sesuatu yang mendadak dan sangat cepat terjadi pada pesawat.”

 

Siapa atau apa yang harus disalahkan?

Pilot yang naik pesawat sebelumnya dari Denpasar ke Jakarta melaporkan masalah teknis dan bahwa pesawat itu menampilkan “kecepatan udara yang tidak dapat diandalkan,” kata wakil kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi  Indonesia, Haryo Satmiko lalu.

Mekanik pesawat  telah memeriksa dan memperbaiki masalah ini, kata Direktur  Eksekutif Lion Air Edward Sirait  kepada media setempat, dan bahwa mereka memberi izin pesawat untuk terbang.

Ketika ditanya tentang masalah “kecepatan tidak dapat diandalkan” yang dilaporkan tersebut, Butterworth-Hayes mengatakan pilot akan melaporkan masalah dengan tabung pitot yang menentukan kecepatan udara.

Infamously, tabung Pitot disalahkan atas kecelakaan Air France Penerbangan 447 pada tahun 2009 ketika jatuh ke Samudra Atlantik. Kristal es memblokir tabung pitot pesawat, autopilot terputus dan pilot tidak tahu bagaimana bereaksi terhadap apa yang terjadi.

“Ini mengingatkan saya bahwa banyak pesawat yang turun di Atlantik di mana Anda memiliki kecepatan yang cepat (kemudian)  kehilangan ketinggian – yang berarti ada kehilangan kendali pesawat secara tiba-tiba,” katanya.

“Tetapi jika Anda melihat kecepatan (dari data dari FlightRadar24), itu cukup konstan.”

Dia mengatakan, bagaimanapun, “tabung Pitot hanya satu bagian dari kemungkinan timbulnya masalah itu – jika tabung pitot  menunjukkan pembacaan yang berbeda dari sensor pesawat, ini mungkin menjelaskan perbedaan dalam indikasi kinerja pesawat.”

Pesawat itu adalah salah satu dari 11 pesawat Boeing djajaran alam armada Lion Air. Dalam sebuah pernyataan, Boeing mengatakan perusahaan itu “sangat sedih” karena kehilangan dan menawarkan “simpati yang tulus” kepada penumpang dan awak kapal, dan keluarga mereka.

Soucie mengatakan 800 jam adalah waktu yang cukup lama untuk “mencoba dan benar ini.”

 

Lion Air jet salah satu pesawat Boeing terbaru, paling canggih

Boeing MAX 8 adalah “bagian atas garis, itu salah satu yang terbaik yang dapat Anda beli … Saya tidak melihat apa pun yang kembali ke pemeliharaan masalah ini atau penerbangan pesawat itu sendiri.”

Goelz setuju bahwa hilangnya pesawat baru semacam itu “sangat tidak biasa.”

Tetapi karena pilot dan co pilot pesawat Lion Air jet berpengalaman – dengan 6.000 dan 5.000 jam terbang, masing-masing – dan cuaca tampaknya tidak menjadi faktor, penyelidik akan fokus pada pesawat, katanya.

Otoritas penerbangan Indonesia akan memeriksa semua pesawat Boeing 737 Max 8 milik maskapai penerbangan komersial negara itu, kata pejabat Kementerian Perhubungan Kapten Avirianto.  Pesawat Garuda telah diperiksa pada Senin malam. Pihaknya  telah menjadwalkan untuk dapat memeriksa setidaknya tiga pesawat Lion yang pada Selasa malam dan delapan lainnya segera. “Kami akan memeriksa satu per satu, dengan sistem dan hal-hal teknisnya,” katanya.

Sampai rekaman data penerbangan pesawat ditemukan dan penyelidikan diadakan, itu tidak mungkin kita akan tahu banyak tentang penyebab kecelakaan Senin, kata konsultan Penerbangan dan mantan pilot Alastair Rosenschein.

Rosenschein mengatakan sangat penting untuk menemukan black box dengan cepat karena pesawat yang jatuh itu adalah pesawat yang lebih baru. “Apa yang terjadi di sini mungkin dapat mempengaruhi model pesawat terbang yang sama di bagian lain dunia,” katanya. Sebelum ditemukan  kotak tersebut,  tidak mungkin  pihak yang berwenang akan dapat mengetahui apa yang menyebabkan pesawat jatuh.

Goelz mengatakan kecelakaan di Lion Air mengingatkan kepada para pejabat bahwa maskapai penerbangan membutuhkan peralatan pemulihan yang lebih baik. “Saya juga berpikir akan membutuhkan beberapa hari untuk menemukan perekam tanggal,” katanya, karena  sulit untuk menemukannya di lautan.

“(Ini) lagi menyoroti kebutuhan untuk perangkat pelacakan dan pemulihan yang lebih canggih.”***

Setelah Dikagumi karena Berkembang Meroket

Ilustrasi pesawat Lion Air–foto istimewa

Oleh: Dahlan Iskan

Saya ikut penasaran: apa penyebab jatuhnya pesawat Lion itu. Kok terhempas begitu saja ke laut. Di utara Krawang Senin lalu itu.

Tapi biarlah para ahli yang menganalisa.

Kita sulit menyalahkan pesawat: pesawatnya baru.

Sulit menyalahkan pengamanan bandara: tidak ada indikasi teroris. Sulit menyalahkan petugas darat: tidak ada indikasi kelebihan beban. Kelebihan jumlah penumpang. Atau kelebihan  bagasi.

Sulit menyalahkan pilot: tidak ada indikasi narkoba. Atau kurang istirahat. Atau bunuh diri karena putus asa.

Mungkin ini sebuah sunatullah manajemen: ketika sebuah perusahaan berkembang begitu pesatnya. Tumbuh begitu meroketnya.

Semua pengusaha kagum pada Lion. Yang baru dapat ijin operasi tahun 2000.

Dalam 18 tahun begitu  hebatnya: mengalahkan semua perusahaan penerbangan Indonesia. Pun mengalahkan Garuda yang milik negara.

Bahkan sudah mengembangkan diri ke luar negeri: Malaysia, Thailand dan India. Kabarnya sedang siap-siap bikin Lion di Nigeria.

Sudah pula mengembangkan rute internasional.

Yang juga fenomenal adalah: pertambahan armada pesawatnya. Begitu fantastisnya: membeli pesawat seperti membeli sepeda motor.

Tahun 2011 membeli 275 Boeing 737. Hanya dalam satu kontrak. Sampai disaksikan Presiden Amerika, Barack Obama.

Membeli Airbus 320 pun dalam jumlah ratusan. Demikian juga saat membeli pesawat berbaling-baling ATR 70. Jumlahnya serba fantastis. Lionlah pembeli terbesar kedua Boeing. Perusahaan Indonesia ini.

Seperti tidak mikir uang. Padahal pendapatannya rupiah. Harus bayar dalam dolar. Saya sulit membayangkan betapa besar kenaikan pembayaran Lion: saat rupiah terus melemah begini.

Dari segi pengembangan bisnis selalu saja mengagumkan.

Padahal, saat Lion memulai, Anda mungkin sudah lupa: hanya menggunakan lima pesawat sewaan dari Russia: Yakovlev Yak 42D. Saya belum sempat merasakan naik pesawat jenis itu. Lion sudah langsung tancap gas: masuk era Boeing 737.

Bagaimana di sisi pengembangan manajemennya? Bisakah mengimbanginya?

Pengembangan manajemen sepenuhnya ‘masalah pengembangan manusia’.

Manusia sering sulit dibentuk secepat membentuk boneka.

Misalnya, bagaimana cara cepat mengatasi kekurangan pilotnya. Bagaimana dengan kilat menyiapkan tim pemeliharaannya. Bagaimana percepatan sistem pendidikan dan latihannya. Apalagi pesawat yang dibeli selalu baru. Termasuk baru bidang teknologinya. Dan bagaimana mengontrol ketepatan jadwalnya.

Semua bermuara di manusia. Di problem manajemen itu.

Kalau saja Lion perusahaan rokok mungkin tidak terlalu besar resikonya. Tapi Lion itu perusahaan penerbangan: keselamatan penumpang jadi taruhannya.

Itulah sebabnya di sebuah perusahaan penerbangan susunan direksinya berbeda. Harus ada direktur bidang keselamatan. Memang hak sepenuhnya pemegang saham untuk menunjuk seorang direktur. Tapi di perusahaan penerbangan direktur keselamatan harus disetujui pemerintah. Dalam hal ini dirjen perhubungan udara. Pemegang saham tidak boleh mengangkat sembarang orang. Harus yang memenuhi begitu banyak kreteria. Yang ditetapkan pemerintah.

Pemerintah harus menolak calon direksi yang tidak memenuhi syarat. Izin penerbangan tidak bisa diberikan kalau direktur keselamatannya tidak memenuhi syarat.

Perusahaan penerbangan sama dengan bank. Yang harus punya direktur bidang risiko. Yang komisarisnya harus sepersetujuan OJK.

Semua perusahaan boleh berkembang pesat. Tapi untuk penerbangan perkembangan  tidak sebebas perusahaan lain.

Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat ini: pelatihan terus menerus diperlukan untuk teknologi cockpit yang juga terus berubah.

Lion ditakdirkan serba fenomenal: pertumbuhan bisnisnya, keparahan keterlambatan jadwalnya dan kini jumlah kecelakaannya.***

Lion, Dicari tapi Dibenci

Suatu hari, pemilik Lion Air, Rusdi Kirana mengeluarkan pernyataan bahwa bagaimanapun keadaannya, Lion tetap akan dicari dan dipergunakan. Rasanya tidak berlebihan. Maskapai yang relating paling sering ada dalam topik media, barangkali memang Lion Air. Penerbangan bertitel JT ini, dicari tapi juga dibenci.

Maskapai yang satu ini memang kontroversi. Dari segi kebesaran fisik, tak ada yang meragukan. Jumlah armadanya menjadi terbanyak di negeri ini bahkan berada di 10 besar dunia. Pembeliannya menghebohkan bahkan mengundang Presiden Perancis turut memberikan apresiasi langsung pada sang pemilik grup singa merah.

Lepas dari segala payung kebesarannya, Lion juga tak putus dirundung persoalan. Tapi hingga kini ia masih tampak perkasa di antara banyak maskapai di Indonesia. Akankah ia terus berjaya atau seperti sejarah penerbangan mencatat kisah Sempati Air yang sempat menjadi raja namun kemudian terlupakan?

Delay oh delay

Catur (36) bisa bernapas lega. Akhirnya, ia tiba di Solo. Sebelumnya, ia terlunta-lunta di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng karena jadwal penerbangan Lion Air kacau.  “Siapa bilang dapat hotel, kami tidur di bandara! Di kursi, di lantai, bahkan di apron,” kata Catur kepada detikcom melalui telepon, Jumat (20/2/2015) pada pukul 15.00 WIB.  Catur seharusnya terbang Kamis (19/2) pukul 19.30 WIB. Tapi karena jadwal Lion kacau, pria kelahiran Boyolali ini baru bisa terbang ke Solo siang ini. “Pukul 12 lebih take off,” jelas Catur. Jika dihitung secara kasar, maka pesawat Catur delay selama 17 jam. Rekor terlama yang dia alami. “Ini maskapai kacau, penerbangannya mengenaskan!” tutupnya.”

Petikan berita ini, dengan ragam dan korban yang berbeda dan rentang keterlambatan yang berbeda memang bukan hal musykil di penerbangan Lion Air.

Para penumpang Lion Air memprotes delay yang mereka alami.

Ada banyak kejadian keterlambatan yang dikeluhkan di media, hingga ditarik ke pengadilan. Tetapi dari semua itu Lion mencatat peristiwa delay terparah di saat peak season menjelang hari raya Imlek, Februari 2015.

Peristiwa ini menyedot perhatian luar biasa dari media. Bukan hanya soal keterlambatan yang memakan interval waktu hingga tiga hari dengan beragam keterlambatan hingga keputusan penghapusan rute hari itu oleh Lion sendiri. Kejadian ini kian menarik sampai terjadinya penyanderaan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, yang sempat diblokir massa akibat delay parah dari Lion Air.

Delay terparah selama sejarah penerbangan Indonesia. Banyak penumpang terlantar akibat sejumlah penerbangan Lion Air mengalami penundaan terbang hingga puluhan jam. Delay Lion bertepatan peak season libur Tahun Baru Imlek sejak Rabu (18/2/2015). Tak adanya kejelasan dan koordinasi pihak Lion yang baik membuat penumpang marah hingga menimbulkan kericuhan. Kericuhan bahkan berlanjut hingga saat penumpang kemudian melakukan penukaran tiket (refund) dan pembatalan tiket di kantor Lion Air di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat.

Tak kurang Gubernur DKI (ketika itu) Basuki T. Purnama (Ahok) saat itu yang dimintai komentarnya. Ahok justru mengaku enggan menaiki pesawat berlambang singa merah itu jika ingin pulang ke kampung halaman, Belitung Timur. “Pernah (naik Lion). Tapi saya lebih suka naik Sriwijaya karena yang punya orang Belitung (Timur),” ucapnya pada Detik Februari 2015.

Di antara penumpang yang tertunda ada 112 siswa-siswi ditambah 11 guru di Bandara Soekarno-Hatta. “Ada studi komparatif, ke UGM, ITB, dan UI,” kata Irwan. Seharusnya, mereka pulang pukul 16.25 WIB tadi. Namun karena delay parah yang dialami maskapai Lion Air, mereka tak bisa pulang tepat waktu. Kabar baiknya, mereka bakal pulang pukul 23.00 WIB malam itu.

Persoalan keterlambatan tak hanya mengesalkan karena penantian tetapi persoalan lain yang harus dihadapi para pengguna jasa seperti Parlongan yang kesulitan meminta kembali yang tiket. Parlongan mengaku saat mengambil antrian sekitar pukul 15.10 WIB, mendapatkan nomor antrian 113. Dia merasa kecewa dengan perlakuan Lion Air yang tidak memikirkan penumpang sehingga banyak penumpang terlantar di Bandara Soekarno-Hatta.

Beberapa lainnya mendapatkan pengembalian uang dengan jarak waktu 30 hari kerja hingga dua bulan. “Pengembalian belum cair, kompensasi tidak ada, ini untuk keberangkatan jam 09.00 WIB, tujuan Kuala Namu Medan. Katanya uang kembali 30 hari kerja,” ucap Ridho, korban delay dengan nada kesal.

Tak sedikit yang kehilangan tiket kembali ke negaranya, seperti Australia. Pasalnya mereka harus terbang lewat Ngurah Rai, Bali, untuk connecting dan jadwalnya tidak terkejar karena delay belasan hingga puluhan jam. Beberapa bahkan terlantar karena tak lagi memiliki uang dan tiketnya sudah hangus. Kerugian lain yang ditanggung turis, juga banyak yang kehilangan uang pemesanan hotel di Bali dan Lombok.

Kemarahan warga asing ini bertambah karena pesawat tujuan Lombok terpaksa transit di Bali karena bandaranya sudah tutup. Beberapa dari mereka mengatakan telah tahu dari rumor tentang seringnya Lion terlambat. Steven, mengaku sudah mengetahui mengenai pelayanan Lion yang kurang bagus namun terpaksa karena sudah kehabisan tiket maskapai lain. Ia pun mengaku kapok.

Their service is very bad. Saya terpaksa karena tidak ada tiket lain yang tersedia. Kejadian ini saya kira cukup parah, tak ada penjelasan apa-apa dari mereka. Penumpang dibuat menunggu lama tanpa kepastian. I think better we use the ship if like this. They (Lion) terrible, very terrible,” sambungnya.

Tanpa disadari kejadian ini mempengaruhi persepsi warga negara asing melihat Indonesia dan pariwisatanya. Apalagi banyak rute pesawat delay merupakan destinasi wisata seperti Bali, Lombok, dan Yogyakarta. “This is crazy. Indonesian airlines is suck,” maki bule Jerman yang tak mau disebutkan namanya saat akhirnya tiba di Lombok, 24 jam setelah jadwal keberangkatan

Sebab Musahab

Pihak Lion sendiri pada saat kejadian sulit dimintai konfirmasi kejadian. Data yang dikumpulkan, menurut pihak Lion yang delay di atas 4 jam tidak sampai 20 persen. Lion Air kemudian membatalkan semua penerbangan di seluruh Indonesia pukul 17.00 – 00.00 WIB pada hari itu.

Edward Sirait, menegaskan jumlah armada pesawat yang dimiliki Lion tidak masalah, yakni 110 pesawat dan 6 pesawat cadangan. Ia kemudian menjelaskan bahwa keterlambatan itu karena masalah yang muncul akibat rusaknya 3 pesawat, karena menabrak burung di Semarang, imbuhnya saat itu.

Manajemen Lion Air juga menepis isu yang beredar bahwa pilotnya mogok kerja sehingga menyebabkan jadwal penerbangannya kacau selama 3 hari berturut-turut. Direktur Umum Lion Air (ketika itu), Edward Sirait, menegaskan pilot-pilot dan kru lainnya tetap bekerja.”Tidak ada yang mogok dan tidak ada yang berhenti kerja,” tegas Edward menjawab pertanyaan wartawan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Jumat (20/2/2015) pukul 15.00 WIB.

Yang menarik adalah bahwa ternyata Batik Air masih 90 persen tidak terpengaruh, dan penerbangan perintis seperti Wings Air juga tidak terpengaruh. Padahal keduanya ada dalam grup yang sama, namun tampak tak berhubungan dalam manajemen krisis. Untuk diketahui, Batik Air merupakan anak perusahaan Lion Air Group yang melayani penerbangan domestik dengan harga tiket yang relatif lebih tinggi dari Lion Air. Sementara Wings Air khusus melayani penerbangan jarak dekat dengan jumlah tempat duduk tak sampai 100. Wings Air biasanya melayani penerbangan ke daerah.

Edward Sirait

Jalan keluar

Sikap Lion yang tampak kurang tanggap dan sigap akan kejadian yang merugikan dan mengakibatkan penderitaan para konsumen ini melahirkan banyak kekacauan dan kericuhan penumpang. Kekacauan penerbangan Lion Air memaksa calon penumpang memutar otak untuk bisa pulang ke kampung halaman.

Ada dua calon penumpang Lion Air ini, mereka menjual kode booking tiketnya ke calo. “Harusnya kita berangkat jam 12.00 WIB, tapi ternyata sampai sini nggak jelas kapan berangkatnya,” kata Muhammad Yusni (30) di lantai teras Terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (20/2/2015). Yusni rencananya terbang bersama Lion Air ke Bandara Kualanamu, Medan. Tiket sudah dipesan sejak pagi. Namun karena pukul 10.00 WIB pagi tadi loket check in Lion Air belum bisa melayaninya, maka Yusni pusing tujuh keliling. “Ya sudahlah, aku jual saja kode booking saya ke calo!” katanya.

Yusni yang membeli tiket seharga Rp 780.000 ini akhirnya menjual kode booking ke calo seharga Rp 300 ribu. Sejumlah calo berkeliaran di bandara, berbaur dengan para calon penumpang sehingga sekilas sulit dibedakan.

Calo akhirnya menawarkan tiket AirAsia tujuan Kualanamu Medan yang bakal berangkat pukul 20.40 WIB. Yusni membeli tiket itu dari calo seharga Rp 1.150.000. “Yang penting berangkat. Lha bagaimana, saya pulang kampung dua tahun sekali saja nggak pasti, sekalinya mau pulang kampung malah dapat Lion Air yang nggak jelas begini. Seharusnya kalau tahu banyak delay, Lion Air nggak usah jual tiket,” protes Yusni.

Lain Yusni lain lagi Parlongan Silitonga (70) merasa kecewa dengan pelayanan Lion Air yang telah menelantarkan penumpang lantaran pesawat tidak kunjung terbang. Alhasil, pria yang hendak terbang ke Medan ini berencana menggugat ke pengadilan. “Saya merasa dipermainkan, saya mau mengadukan Lion Air ke pengadilan,” kata Parlongan, di Kantor Lion Air, Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, Jumat (20/2/2015).

Menurutnya, uang tiket diganti atau tidak dia sudah tidak peduli lagi. Pengembalian uang tiket sudah menjadi kewajiban Lion Air. “Uang diganti atau nggak bukan urusan saya. Dan di pengadilan mau diterima atau tidak terima tetap akan saya masukkan ke pengadilan,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (ketika itu) Ignatius Jonan mengatakan jika ada masyarakat yang tidak puas dengan pelayanan Lion Air silakan menempuh melalui jalur hukum. “Kalau masyarakat kurang puas, ya silakan secara perdata diajukan gugatan sendiri,” jelas Jonan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur.

Para penumpang Lion Air korban delay.

No coordination there (Jakarta). We don’t believe them (Lion Air Jakarta). There’s no doing, trust me. Is it (penerbangan ke ke Lombok) am (pagi) or 9 pm (malam) again?,” gerutu Bule India kepada petugas Lion Air Bali, Heru, usai mendapat penjelasan kapan pesawat dari Bali ke Lombok akan diberangkatkan.

Pihak Lion Air Bali sendiri sedikit lebih baik. Mereka menyediakan penginapan agar penumpang bisa beristirahat sambil menunggu keberangkatan ke Lombok. Walaupun penumpang yang diinapkan di Vihan Suites tidak mendapat makan pagi padahal sejak malam belum makan karena tak disediakan pihak Lion Air sejak delay.

“Saya membawa orangtua saya yang sudah tua. Anak-anak saya belum makan. Mereka sampai muntah. Pihak hotel bahkan tidak mau menyediakan kopi atau sekadar teh,” keluh seorang bule perempuan.

Manajemen penyelesaian

Pihak Lion Air menyebutkan, penundaan massal ini berpangkal dari 3 pesawat yang terkena objek asing. Pesawat rusak dan imbasnya dalam jadwal penerbangan seperti efek domino. Pihak Lion Air juga mengaku dana tunai terbatas karena Imlek. Tiket refund pun ditalangi Angkasa Pura II, begitu pun 1.000 porsi makanan.

Edward menjamin Lion Air akan membayar refund dan kompensasi kepada penumpang. “Mudah-mudahan recovery dari kami akan berlangsung cepat,” ujarnya. Terkait penumpang yang menunggu belasan jam tapi tidak mendapat kompensasi makanan, Edward mengatakan hal itu sangat sulit. Alasannya Kamis kemarin ada ribuan penumpang Lion Air.

Lion bahkan menjanjikan penerbangan gratis sebagai kompensasi. “Kalau ada yang tidak berangkat kita kembalikan uangnya, lalu besok kita berangkatkan lagi gratis,” ujar Head Corporate Lawyer Lion Air, Harris Arthur, saat dikonfirmasi, Jumat (21/2/2015). Harris menambahkan, Lion Air siap melakukan ganti rugi kepada seluruh penumpang yang dirugikan akibat kacaunya jadwal terbang maskapai tersebut. Dia menegaskan sejauh ini Lion Air sudah melakukan kewajibannya hingga kompensasi.

Tetapi pernyataan ini dibantah beberapa penumpang. “Kompensasinya mana? Saya sudah 3 malam di sini. Antre refund 3 jam. Uang yang saya dapat tidak sesuai janji, ini hanya tiket,” jelas Josep di terminal 3 Cengkareng di depan meja refund. Tak hanya Josep, Evri juga komplain. Pembatasan jadwal penerbangan yang refund membuat dia tak bisa mendapatkan kembali uangnya. Tiket yang bisa refund untuk penerbangan di bawah pukul 12.00 WIB. Evri terbang sekitar pukul 12.30 WIB. “Ini katanya nggak bisa,” lirih Evri sedih

Kericuhan ini sesungguhnya juga membuktikan bahwa komunikasi operator penerbangan swasta itu buruk sekali. Aqua Dwipayana, pakar komunikasi yang diwawancara media saat itu menilai di antara semua operator penerbangan di Indonesia, komunikasi para karyawan Lion Air ke penumpang adalah yang paling buruk.

“Perhatikan saja kalau ada komplain terhadap Lion Air selama ini. Jarang sekali ditanggapi serius hingga tuntas oleh manajemennya. Sehingga kejadian tiga hari terakhir ini merupakan puncak gunung es atau akumulasi dari kekesalan selama ini pada Lion Air,” ujar doktor Komunikasi dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung ini.

Banyak yang mengeluhkan bahwa Lion Air tak memberikan penjelasan mengenai penyebab delay jadwal penerbangan itu. Ada penumpang yang sudah diberikan kompensasi, namun ada yang belum. Penumpang yang diberikan kompensasi seperti uang tunai Rp 500 ribu dalam penerbangan Jakarta-Pontianak, harus ngotot sana-sini lebih dulu untuk menuntut haknya.

Sebagian penumpang marah sebab Lion Air tidak memberikan kompensasi sesuai dengan Permenhub 77/2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan Udara. Mereka yang sudah berjam-jam menunggu di bandara tanpa ada kepastian berangkat, tidak diberi makan dan minum. Sedangkan yang sudah belasan jam menunggu tidak disiapkan penginapan yang layak. Sehingga harus tidur seadanya di bandara.

Dalam situasi carut marut tersebut, untungnya PT Angkasa Pura II selaku pengelola Bandara Soekarno-Hatta berinisiatif menyiapkan makanan dan minuman untuk diberikan ke penumpang Lion Air yang kelaparan dan kehausan karena lama menunggu tanpa ada kepastian berangkat. Padahal itu sama sekali bukan tanggung jawab Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.

Tidak hanya itu, siang ini ratusan orang berkumpul di lantai 2 terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta untuk menukar pengembalian tiket. Uang ditalangi lebih dulu oleh PT Angkasa Pura II selaku pengelola bandara internasional tersebut.

“Ini refund inisiatif dari Angkasa Pura II karena kami lihat penumpang butuh kepastian, kalau menunggu Lion Air sampai sekarang tidak ada,” kata Public Relations PT Angkasa Pura II Ahmad Syahir kepada wartawan di kompleks Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. PT AP II mengganti sebesar harga tiket, kompensasi sebesar Rp 300 ribu, dan uang airport tax sebesar Rp 40 ribu. Nantinya PT AP II juga akan menyiapkan lokasi lain untuk pengembalian tiket.

Besar tak Selalu Benar

Aqua Dwipayana

Aqua Dwipayana mengamati bahwa selama ini karena merasa perusahaannya paling besar dengan jumlah pesawat terbanyak di antara operator penerbangan lainnya di dalam negeri, manajemen Lion Air jadi anggap enteng kepada penumpangnya. Mereka kurang responsif jika terjadi penundaan keberangkatan (delay).

Di sisi lain, tidak ada ketegasan dari Menteri Perhubungan, atas berbagai pelanggaran yang selama ini dilakukan Lion Air. Sehingga manajemen perusahaan itu tidak khawatir kalau melakukan pelanggaran (lagi).

“Inilah akibatnya jika Menteri Perhubungan Pak Jonan tidak bersikap tegas pada manajemen Lion Air. Ribuan penumpang yang jadi korbannya. Kondisi yang sama di kemudian hari bisa saja terulang kembali kalau sanksi yang dijatuhkan tidak tegas,” kata mantan wartawan harian Jawa Pos dan Bisnis Indonesia ini.

Aqua merasa heran melihat sikap Jonan yang berbeda saat menangani kecelakaan AirAsia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura dengan pelanggaran fatal yang dilakukan Lion Air saat ini. Waktu itu mantan Dirut PT Kereta Api tersebut sangat cepat dan tegas memberikan sanksi ke manajemen AirAsia. Sedangkan sekarang terkesan dibiarkan.

“Semua komunikasi dalam layanan tersebut bisa diukur. Parameternya sudah jelas. Penilai yang paling obyektif adalah para penumpang yang menggunakan jasa pesawat terbang tersebut,” ujar Aqua menutup komentarnya.

Sementara itu, Komisi V DPR yang membidangi masalah perhubungan dan infrastruktur menggelar jumpa pers merespons delay parah maskapai Lion Air yang mengakibatkan kekacauan di sejumlah bandara. Salah satu poin sikap komisi V DPR ketika itu adalah meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi Lion Air.

”Pertama, Komisi V menyesalkan dan menyatakan prihatin atas kejadian delay penerbangan dalam jumlah besar dalam tiga hari terakhir,” kata Ketua Komisi V Ferry Djemi Francis dalam jumpa pers di Sekretariat Komisi V Gedung DPR, Jakarta. Hadir dalam jumpa pers itu dua Wakil Ketua Komisi V, yaitu Muhidin M Said dan Michael Wattimena. Jumpa pers digelar setelah mereka menghubungi Kemenhub dan Angkasa Pura II.

Kedua, Komisi V menyesalkan lambatnya respons pihak terkait, termasuk Lion Air, sehingga menimbulkan kerugian kepada penumpang selaku konsumen dan mengancam penerbangan di sejumlah bandara besar.  Ketiga, Komisi V mempertanyakan ketidakhadiran dan kepatuhan terhadap SOP dalam menangani kondisi darurat seperti ini, dari pemerintah melalui otoritas bandara udara, Angkasa Pura dan pihak Lion Air.

Pada kesempatan itu juga, Komisi V mendesak pemerintah segera menerbitkan aturan untuk mengatasi keterlambatan penerbangan yang memuat SOP dan antisipasi keterlambatan termasuk penyediaan armada cadangan dan pengawasan pelayanan maskapai terhadap penumpang. “Kelima, kami juga meminta Kemenhub (mengevaluasi) berapa banyak pesawat cadangan. Kalau hanya 3 yang rusak dan 3 lagi rusak jadi 6 rusak sehingga terjadi keterlambatan, kita minta dirjen (cek) berapa cadangan Lion Air. Menurut informasi ada 8,” paparnya.

Permintaan itu, menurut DPR RI, harus diikuti dengan audit kepada semua aturan yang melanggar UU dan aturan dan rekomendasi bahkan sanksi mulai dari teguran, kedua pembekuan dan ketiga pencabutan izin.

Regulasi dan Otoritas

Kemenhub mengakui maskapai Lion Air tidak punya standar prosedur operasional (SOP) pada penumpang saat krisis sehingga Kemenhub menyetop sementara permohonan izin rute baru. Izin tersebut akan diberikan jika Lion Air sudah memperbaiki SOP soal penanganan keterlambatan.

“Kemenhub akan membekukan izin rute baru sampai adanya perbaikan tata cara penanganan keterlambatan,” ucap Jonan. “Kasus Lion adalah kasus menelantarkan penumpang yang sudah diatur Permenhub No 77 tentang service recovery namun tidak ada sanksinya bila lalai dijalankan,” kata Jonan kepada detikcom.

Jonan mengatakan setelah kejadian ini, Kemenhub akan membuat peraturan yang lebih ketat, sehingga bisa memberikan efek jera bagi maskapai yang lalai melayani penumpang. Dalam Permenhub nomor 77 pasal 9 mengatur keterlambatan angkutan udara karena keterlambatan penerbangan, tidak terangkutnya penumpang dengan alasan kapasitas penuh dan pembatalan penerbangan.

Para penumpang di depan loket Lion Air.

Jumlah ganti rugi untuk penumpang adalah Rp 300.000 jika terlambat lebih dari 4 jam. Ganti rugi Rp 150.000 apabila maskapai menawarkan tempat tujuan lain yang terdekat dengan penerbangan akhir penumpang, dan maskapai wajib menyediakan tiket penerbangan. Namun dalam pasal 26 ayat (1) Permenhub nomor 77 juga disebutkan bahwa Direktur Jenderal dapat memberikan sanksi administratif kepada pengangkut yang tidak mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2.

Ombudsman Republik Indonesia menduga bahwa ada standar pelayanan publik bidang penerbangan yang tidak diawasi dengan baik oleh Kementerian Perhubungan khususnya Ditjen Perhubungan Udara terkait kekacauan yang terjadi pada penerbangan Lion Air. Standar pelayanan meliputi manajemen penerbangan yang dilakukan oleh operator penerbangan dan manajemen kebijakan (regulasi) yang dilakukan oleh regulator yakni Kementerian Perhubungan.

“Manajemen penerbangan memiliki banyak sisi yang seyogianya diawasi ketat oleh Kemenhub karena melibatkan tidak hanya bisnis triliunan melainkan juga keselamatan penumpang,” kata anggota Ombudsman Bidang Penyelesaian Laporan, Hendra Nurtjahjo dalam rilisnya, Jumat (20/2/2015).

Hendra Nurtjahjo mencatat bahwa sudah ada prosedur yang semestinya dijalankan pada saat ada lonjakan penumpang. “Delay luar biasa ini terjadi pada libur Imlek. Bila melihat kalender tentunya pihak maskapai bisa memprediksi lonjakan penumpang, selanjutnya mempersiapkan langkah-langkah antisipasi, seperti persiapan pesawat cadangan bila ternyata ada satu atau dua pesawat mengalami gangguan teknis,” jelas Hendra.

Menurutnya waktu yang terbuang pada saat delay hingga belasan jam tersebut patut mendapatkan kompensasi yang memadai sebagaimana diatur dalam Permenhub No. 25/2008 dan Permenhub No. 77/2011. Kementerian Perhubungan wajib melakukan pengawasan secara ketat terhadap pelaksanaan implementasi peraturan yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan sendiri. Keselamatan penumpang wajib menjadi prioritas.

Ombudsman Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam UU No.37/2008 tentang Ombudsman RI dan UU No.25/2009 tentang Pelayanan Publik memiliki kewenangan dalam pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik termasuk melakukan investigasi atas prakarsa sendiri (own motion investigation).

Tiap-tiap bandar udara perlu mengoptimalkan ruang pengaduan (Customer Complaint Handling Unit) yang dikelola transparan dan informatif. Perusahaan penerbangan komersial wajib bersikap terbuka dan Kementerian Perhubungan juga harus turun tangan bila diperlukan klarifikasi yang cepat dari perusahaan penerbangan. ***

 

Sumber: Buku “FLIGHT INSIGHT, Buruk Maskapai, Pilot Dibelah (EAGLE – 2018)

Sejumlah Catatan Buruk Lion Air

Bicara Lion Air maka kita harus menarik ke belakang. Didirikan pada tanggal 19 Oktober 1999 dengan nama PT Lion Mentari Airlines. Dikenal dengan nama Lion Air kemudian baru dapat dioperasikan pada tanggal 30 Juni 2000. Berbekal Boeing 737-200, maskapai dengan kode terbang JT ini disewa dengan rute perdana ke Pontianak, Kalimantan Barat.

Rusdi Kirana

Lahir di bawah ‘komandan’ Rusdi Kirana dan keluarga, maskapai ini ternyata tak lulus ujian IATA, IOSA karena masalah keamanan. Tak patah arang, Lion Air kemudian membangun desain framework untuk workshop bersama Boeing dalam aplikasi prosedur Kinerja Navigasi Berpemandu (KNB) di Indonesia.

Perlahan tapi pasti ia mulai merangkak naik dengan menambah jumlah penerbangan ke Jeddah lima kali seminggu dengan 2 armada Boeing 747-400. Ada catatan yang perlu diingat bahwa maskapai ini pernah berhenti sementara untuk ke 13 armadanya akibat gagalnya maskapai memenuhi OTP (on time performance) sekurangnya 80 persen yang ditetapkan Dirjen Perhubungan Udara. Catatan resmi Kementerian Perhubungan, OTP Lion Air hanya membukukan angka 66.45 persen. Angka ini adalah yang terburuk dari 6 maskapai penerbangan utama dalam rentang bulan Januari hingga April tahun 2011 di 24 bandar udara di seluruh Indonesia.

Tetapi cerita Lion ini memang penuh kejutan, meski nampak tertinggal, dalam sekejap ia seolah merangsek ke depan. Pada 18 November 2011, maskapai ini tercatat mampu menjadi pemesan tunggal terbanyak oleh satu maskapai penerbangan komersial sebanyak 230 Boeing yang terdiri dari 201 pesawat Boeing 737 MAX dan 29 pesawat Boeing 737-900ER dengan nilai $21.7 miliar.

Catatan ini kian fantastis manakala Lion Air juga menandatangani komitmen dengan Boeing untuk memesan lima buah pesawat 787 dreamliner. Rekor ini diikuti kontrak pembelian 234 pesawat Airbus jenis A320 dan A321 senilai US$ 24 miliar atau sekitar Rp 233 triliun di Perancis dan disaksikan langsung oleh Presiden Prancis Francois Hollande.

Beroperasi dengan nama Lion Air dengan kemasan low cost carrier atau maskapai bertarif rendah, kini ia bisa menepuk dada sebagai maskapai swasta terbesar di Indonesia.

Jaringan rute sudah merambah hingga ke Singapura, Malaysia, Vietnam, bahkan Arab Saudi. Belum lagi catatan rute carter ke China dan Hong Kong. Di Indonesia dalam hal ekspansif, ia berhadapan langsung dengan Air Asia dan pemain lokal lain yang kini mulai menaik.

Kemampuannya mengembangkan sayap terbukti dari kontrak pengadaan pesawat dengan Airbus dan Boeing yang dikantonginya, menembus angka total sebesar US$ 46.4 milliar untuk armada 234 unit Airbus A320 dan 203 pesawat Boeing 737 MAX. Demi terus mengembungkan pundi perusahaan Lion telah melahirkan dua anak perusahaannya sendiri, yaitu Wings Air dan Batik Air. Di tingkat regional, Lion memperkuat diri dengan membuat Malindo Air dan Thai Lion Air.

Di regional, kotroversi Lion tetap menorehkan catatan. Pada tanggal 31 Juli 2015, Lion Air secara resmi hengkang dari INACA karena adanya ketidakcocokan dengan anggota yang lain. Tetapi di tahun berikutnya, ia membukukan prestasi. Pada tahun 2016, Lion Air masuk dalam daftar maskapai penerbangan bertarif rendah dengan layanan terbaik sedunia versi SkyTrax serta meraih dua penghargaan, yaitu Kabin Terbaik Kelas Murah dan Kursi Premium Terbaik Kelas Murah.

Catatan manis ini ternyata tak bersih noda. Ada banyak catatan buruk Lion Air. Meski telah dicabut pada Juni 2016, maskapai ini termasuk dalam daftar maskapai yang dilarang masuk Eropa sejak November 2014. Catatan lain mulai dari keterlambatan, kenyamanan hingga beberapa insiden. Maskapai ini bahkan pernah tercatat sebagai maskapai dengan kinerja yang buruk dan dikhawatirkan dapat mempengaruhi keselamatan terbangnya.

Catatan buruk Lion yang paling mencuat adalah pengenaan sanksi oleh Kementerian Perhubungan setelah ditemukan beberapa pilot dan awak pesawat memiliki dan menggunakan bahan narkotika. Kejadian ini tercatat di Januari 2011. Selain kemudian tiga kali delay berkepanjangan di tahun 2015, Mei 2016, dan awal 2017.

Dalam kawanan burung-burung besi di Indonesia, Lion barangkali adalah kawanan yang meliuk terbangnya setelah catatan sejarah Sempati Air. Dua perusahaan yang –kebetulan—dekat dengan kekuasaan. (rr)

Sumber: Buku Flight Insight, Buruk Maskapai Pilot Dibelah (Eagle – 2018)

Lion JT-610 Pesawat ke-13 yang Naas pada 2018

PESAWAT sebenarnya adalah moda transportasi paling aman di dunia. Tetapi, begitu pesawat komersial mengalami kecelakaan fatal, korbannya puluhan atau bahkan mencapai level ratusan. Itulah yang terjadi, ketika pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 jatuh di Laut Jawa di sebelah utara Karawang, Jawa Barat, kekhawatiran akan jumlah korban, sangat mengiris hati.

Pesawat  Boeing 737 MAX 8 tersebut kehilangan kontak setelah  takeoff dari  Bandara  Soekarno–Hatta untuk penerbangan domestik ke Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang. Menurut BMKG, tidak ada masalah cuaca saat terjadi kecelakaan peswat low class ini. Pesawat tersebut mengangkut 178 penumpang, 1 anak-anak dan 2 bayi, 2 pilot dan 5 awak.

https://twitter.com/Sutopo_PN/status/1056746231777550337

 

Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan, serpihan pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang sudah ditemukan. Beberapa kapal tug boad membantu menangani evakuasi pesawat naas tersebut.

Berikut video yang menggambarka temuan tersebut:

https://twitter.com/Sutopo_PN/status/1056745346917781504

 

 

Dalam dunia penerbangan sipil (komersil), kecelakaan yang dialami Lion JT-610 ini adalah yang ke-13 pada tahun ini.

Berikut ini daftar pesawat yang bernasib naas, mengalami kecelakaan pada 2018:

  1. Tanggal 13 Januari 13 – Pegasus Airlines Flight 8622,  Boeing 737-800, yang meluncur dari ujung landasan di Bandara Trabzon, Turki dan berhenti di tebing. Semua 168 penumpang dan kru tidak mengalami  cedera. Penerbangan psawat itu dibatalkan.
  2. Tanggal 11 Februari – Saratov Airlines Penerbangan 703, Antonov An-148, jatuh tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Domodedovo, Rusia. Semua 71 penumpang dan awak tewas.
  3. Tanggal 18 Februari – Iran Aseman Airlines Penerbangan 3704, ATR 72-200 pada penerbangan domestik di Iran, menabrak Pegunungan Zagros menewaskan semua 60 penumpang dan 6 anggota awak di dalamnya.
  4. Tanggal 12 Maret – US-Bangla Airlines Penerbangan 211, sebuah Bombardier Q400 pada penerbangan internasional dari Dhaka ke Nepal, jatuh di Bandara Internasional Tribhuvan. 52 dari 71 orang di dalamnya tewas.
  5. Tanggal 17 April – Southwest Airlines Penerbangan 1380, sebuah Boeing 737-700 dalam perjalanan melalui Bernville, Pennsylvania, mengalami kegagalan mesin di ketinggian kapal pesiar. Beberapa puing memasuki badan pesawat, menyebabkan kerusakan substansial pada pesawat dan hilangnya tekanan kabin. Para kru dengan aman mengalihkan ke Bandara Internasional Philadelphia. Satu penumpang tewas; 7 lainnya terluka.
  6. Tanggal 18 Mei – Cubana de Aviación Penerbangan 972, Boeing 737-200 / Adv, jatuh tak lama setelah tinggal landas dari Bandara Internasional José Martí di Havana, Kuba. 112 dari 113 penumpang dan awak tewas; satu-satunya yang selamat adalah yang terluka parah.
  7. Tanggal 28 Juli – Air Vanuatu Penerbangan 241, ATR 72-500, meluncur dari landasan setelah penerbangan dari Tanna ke Port Villa, Vanuatu. Tiga belas dari 43 orang di dalamnya menderita luka ringan.
  8. Tanggal 31 Juli – Aeroméxico Connect Flight 2431, Embraer ERJ-190AR, menabrak medan berhutan di Durango sesaat setelah lepas landas dari Bandara Internasional Durango. Pesawat hancur, tetapi semua 103 penumpang bertahan hidup.
  9. Tanggal 10 Agustus – 2018 Insiden Horizon Air Q400, pesawat Horizon Air Bombardier Dash 8 Q400 terdaftar N449QX, dicuri dari Bandara Internasional Seattle – Tacoma tanpa penumpang dan kemudian crash di Pulau Ketron.
  10. Tanggal 16 Agustus – Xiamen Airlines Penerbangan 8667, sebuah Boeing 737-800, jatuh di Ninoy Aquino International Airport di tengah hujan lebat. Pesawat meluncur dari ujung landasan. Semua 165 penumpang dan awak tidak terluka.
  11. Tanggal 1 September – Utair Flight 579, Boeing 737-800, melewati landasan pacu dan terbakar ketika mendarat di Bandara Internasional Sochi, melukai 18 orang. Seorang pegawai bandara meninggal karena serangan jantung.
  12. Tanggal 28 September – Air Niugini Flight 73, Boeing 737-800, mendarat di dekat landasan pacu dan berhenti di sebuah laguna di Bandara Internasional Chuuk di Negara Federasi Mikronesia, satu penumpang meninggal sementara 34 lainnya dan 12 awak melarikan diri tanpa cedera serius. .
  13. Tanggal 29 Oktober – Lion Air Flight 610,  Boeing 737 MAX 8 telah kehilangan kontak sesaat setelah tinggal landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta yang dijadwalkan penerbangan domestik ke Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang, Indonesia diduga menabrak dekat Kepulauan Seribu, Jakarta dan saat ini masih diselidiki oleh NTSC Indonesia.***