JAYAKARTA NEWS— Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam waktu dekat akan menjadi pusat perhatian dunia. Sejumlah rangkaian ajang balap internasional hingga tahun 2022 mendatang telah diagendakan dihelat di Sirkuit Mandalika, NTB.
Agenda terdekat, Provinsi NTB akan menjadi tuan rumah ajang balap World Superbike (WSBK) 2021 pada 19-21 November 2021. Semua pemangku kepentingan akan dilibatkan untuk menyukseskan terlaksananya acara dengan baik.
Untuk persiapan akbar itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen. TNI Ganip Warsito beserta rombongan berkunjung ke NTB, Kamis (11/11/2021) untuk memasifkan pembagian masker melalui Gerakan Mobil Masker.
Sebanyak 1 juta masker dibagikan, juga 50.040 Hand Sanitizer, 50.040 sabun batang dan 12.000 Sabun Cair.
Pelepasan Gerakan Mobil Makser untuk masyarakat se- Provinsi NTB dipusatkan di Kantor Gubernur NTB.
Foto BNPB
Gerakan Mobil Masker melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB, unsur TNI/Polri, Forkopimda dan didukung 95 relawan Satgas Penanganan Covid-19.
Peluncuran ‘Gerakan Mobil Masker Untuk Masyarakat’ ditandai dengan pengangkatan bendera oleh Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito bersama Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., didampingi Danrem 162 Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani, Kapolda NTB Irjen Pol. Moh. Iqbal serta Deputi Bidang Rehabililtasi dan Rekonstruksi BNPB Jarwansah.
Dalam sambutannya, Ganip mengibaratkan fungsi masker sama dengan payung ketika terjadi hujan. Kendati tidak dapat menghilangkan atau menghentikan hujan, namun payung dapat mencegah seseorang dari paparan air hujan.
“Payung tidak bisa menghentikan hujan, tapi payung dapat melindungi kita dari keterpaparan air hujan. Begitu pula masker dan vaksinasi. Tidak menghentikan menghilangkan COVID-19. Tetapi masker bisa mencegah kita dari terpapar COVID-19. Vaksin bisa melindungi kita dari keterpaparan COVID-19,” ujarnya.
Oleh karena itu, Gerakan Mobil Masker merupakan upaya pemerintah melalui BNPB untuk mengedukasi dan mensosialisasikan pentingnya protokol kesehatan, khususnya penggunaan masker kepada masyarakat.
Apalagi, menjelang perhelatan akbar ajang balap World Superbike 2021. Event balap motor yang menjadi bagian dari kegiatan ekonomi dan agenda pariwisata internasional pertama yang akan di gelar Indonesia pasca pandemi COVID-19.
Kepada Satgas Prokes Event WSBK Sirkuit Mandalika, ia mengingatkan memperhatikan setiap penonton di arena pertandingan. Satgas Prokes yang bertugas membantu penerapan prokes dalam ajang balap WSBK Sirkuit Mandalika akan menjadi ujung tombak penerapan prokes berjalan baik.
Satgas prokes akan bertugas melakukan sosialisasi hingga pembagian alat pelindung diri, seperti masker saat acara WSBK di Sirkuit Mandalika.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Perjalanan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Ganip Warsito meninjau lokasi banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Barat masih terus berlanjut hari ini, Selasa (9/11/2021).
Selain memastikan penanganan banjir berjalan baik, rombongan Kepala BNPB yang bertolak dari Jakarta sejak Senin (8/11/2021) juga untuk mendengar dan mendapat masukan dari korban banjir dan perangkat daerah terkait, serta menyerahkan bantuan berupa dana siap pakai (DSP).
Ganip Warsito mengatakan bantuan DSP tersebut diberikan untuk empat kabupaten terdampak banjir paling parah di provinsi Kalimantan barat. Antara lain Kabupaten Kabupaten Sintang Rp 500 juta, Kabupaten Melawi Rp 500 juta, Kabupaten Sanggau Rp 250 juta dan Kabupaten Sekadau Rp 250 juta.
Total bantuan DSP yang diberikan sebanyak Rp 1,5 miliar.
Untuk daerah terdampak paling parah, pemerintah melalui BNPB juga memberikan bantuan Logistik dan Peralatan (Logpal) kepada korban pengungsi dan petugas BPBD setempat serta jajaran petugas di lapangan berupa paket makanan siap saji, tenda, selimut, matras, perahu dan masker.
Dua kabupaten paling parah yaitu Kabupaten Sintang mendapat bantuan berupa Selimut 300 pcs, makanan siap saji sebanyak 504 paket, lauk pauk sebanyak 501 paket, Masker KF 94 sebanyak 5000 Pcs, Matras 300 lembar, 2 set tenda pengungsi serta 2 unit Perahu Polyethylene.
Sedangkan untuk korban pengungsian di Melawi mendapat bantuan berupa Selimut 200 pcs, makanan siap saji sebanyak 504 paket, lauk pauk sebanyak 501 paket, Masker KF 94 sebanyak 5000 pcs, Matras 300 lembar.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Ganip Warsito meninjau lokasi banjir yang menggenangi sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Barat, (9/11/2021)/ foto BNPB
Pada hari yang sama, BNPB juga menyerahkan bantuan di sejumlah wilayah berbeda. Antara lain di kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Di wilayah ini pemerintah melalui BNPB juga menyerahkan batuan berupa selimut sebanyak 200 pcs, lauk pauk sebanyak 201 paket, makanan siap saji sebanyak 204 paket, Matras sebanyak 200 lembar, Masker KF94 2.000 lembar, 2 set Tenda Pengungsi, 2 unit Perahu Polythyline serta 5 unit Handy Talky untuk mendukung komunikasi dan koordinasi petugas BPBD dan petugas di lapangan.
Juga di Kota Batu, Malang. Provinsi Jawa Timur BNPB menyerahkan bantuan berupa selimut sebanyak 200 pcs, lauk pauk sebanyak 201 paket, makanan siap saji sebanyak 204 paket, Matras sebanyak 200 lembar, Masker KF94 sebanyak 2.000 lembara dan 2 set Tenda Pengungsi.
Untuk mendukung sinergi, BNPB juga memberikan bantuan kepada TNI AU Silaspapare, Papua berupa 2 set Tenda Pengungsi.
Dampak La Nina
Dari hasil tinjauannya tersebut, Ganip menjelaskan fenomena alam La Nina yang berdampak pada meningkatnya curah hujan menjadi penyebab banjir. Sesuai prediksi BMKG, La Nina diprediksi akan terjadi hingga Januari-Februari 2022.
Hujan dengan intensitas tinggi yang membuat debit air Kapuas dan Melawi meluap itu memicu terjadi banjir. Oleh karena itu, penaganannya harus disiasati dengan mitigasi yang tepat dan benar. Solusi jangka pendeknya, akata Ganip adalah penyelamatan masyarakat terdampak, dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Penyelamatan masyarakat terdampak dan pemenuhan kebutuhan terutama kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia dan anak-anak menjadi prioritas.
BNPB sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan jajaran forkopimda untuk bersinergi membantu penanganan bencana. Pemda, kata Ganip telah membuat status tanggap darurat.
“Saya arahkan bupati dan forkopimda untuk memikirkan penanganan pengungsi untuk waktu yang cukup lama, sesuai kondisi kemungkinan curah hujan kedepan akan semakin meningkat,” ucap Ganip.
Sejauh ini, BNPB telah membuat kajian terkait strategi jangka panjang penanganan banjir terkait bencana hidrometrologi basah seperti banjir. Penekanannya, adalah membuat mitigasi yang berkaitan dengan masalah iklim dan cuaca.
“Kita sudah melakukan persiapan sebenarnya, karena memang dampak La Nina terjadi berulang, karena tahun lalu pun seperti itu,” kata Ganip.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Presiden Joko Widodo telah meminta agar semua pihak mengantisipasi lonjakan gelombang Covid-19 menjelang KTT G-20 di Provinsi Bali. Sebab dalam waktu dekat, Bali akan menjadi pusat perhatian dunia.
Selain akan menjadi tempat berlangsungnya KTT G20, sejumlah agenda penting juga akan dihelat di Pulau Seribu Pura ini antara lain tuan rumah ajang Bulu Tangkis internasional pada akhir November 2021. Juga tuan rumah Konvensi tentang bahaya merkuri, COP-4 Minamata Convention pada Maret 2022 dan Pertemuan G-20 pada Oktober 2022.
Untuk itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BNPP) Pusat merangkap Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito mengatakan pihaknya telah menyiapkan strategi untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu menyelenggarakan sejumlah event dunia sesuai prosedur dan protokol kesehatan sesuai standar yang telah ditetapkan WHO.
“Kita harus bisa membuktikan kepada dunia, bahwa Bangsa Indonesia sanggup untuk melaksanakan event tersebut dengan tetap memperhatikan prosedur dan protokol kesehatan sesuai standar dari WHO,” ucap Ganip Warsito saat memberikan arahan dalam deklarasi Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan deklarasi Gojek Peduli Becana se Bali di Gedung Krisna Oleh-Oleh Bali di Banjar Blangsing, Gianyar, Bali, Selasa (26/10/2021).
Deklarasi Pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan deklarasi Gojek Peduli Becana se Bali di Gedung Krisna Oleh-Oleh Bali di Banjar Blangsing, Gianyar, Bali, Selasa (26/10/2021)/foto BNPB
Sejumlah pejabat dan tokoh yang diundang antara lain Gubernur Bali I Wayan koster yang diwakili Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra, Bupati Gianyar I Made Mahayastra, Para Walikota/Bupati se Bali, Konjen Australia di Bali, FKPD Kabupaten Gianyar, jajaran BMKG Bali, Owner Krisna Oleh-oleh Bali Gusti Ngurah Anom beserta komunitas dunia usaha.
Ketua FPRB Bali Gede Sudhiarta, Perwakilan komunitas dan champion-champion dalam upaya pengurangan risiko, mitra GO-JEK Peduli Bencana serta seluruh peserta konferensi yang hadir baik secara langsung maupun di ruang virtual.
Menurut Ganip, permintaan Presiden sangat beralasan karena seperti diketahui, Pemerintah bersama-sama Pemerintah Provinsi Bali, telah memutuskan untuk membuka kembali pariwisata di Bali, sejak tanggal 14 Oktober 2021.
Keputusan ini diambil atas pertimbangan dan evaluasi penanganan Covid-19 di Bali, yang kita anggap baik dan siap untuk mulai menerima kembali, wisatawan dan menyelenggarakan event-event, baik skala nasional maupun yang berskala internasional.
“Keputusan ini tentu saja memiliki implikasi, bahwa Pemerintah Daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha, benar-benar harus menyiapkan diri sebaik mungkin, agar pembukaan kembali kegiatan ekonomi, bisa berjalan berkelanjutan dengan didukung penerapan disiplin Protokol Kesehatan yang tinggi,” ucap Jenderal Bintang Tiga ini.
Ganip mengatakan semua pihak patut bersyukur bahwa pengendalian Covid-19 di Indonesia berjalan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan negara-negara tetangga, yang masih berjibaku dengan kenaikan kasus, akibat serangan varian-varian baru Covid-19.
“Strategi utama pengendalian Covid-19 dari Pandemi menuju Endemi, yaitu dengan disiplin 3M yang kuat, pelaksanaan 3T yang tinggi, dan cakupan serta percepatan vaksinasi yang luas, wajib menjadi perhatian bagi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota,” ujarnya.
BNPB sendiri, menurut Ganip pada bulan Mei 2022 nanti akan menjadi pengampu satu perhelatan internasional di bidang penanggulangan bencana yakni Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR), yang akan dilaksanakan di Nusa Dua, Bali.
Selain ancaman Covid-19, Ganip menjelaskan tantangan yang ada, tidak semata-mata terbatas pada bagaimana semua pihak bisa mengendalikan Covid-19, yang termasuk bencana non-alam.
“Kita juga mengetahui bahwa Bali juga sarat dengan potensi bencana alam yang kompleks, yang juga bisa berdampak sangat signifikan terhadap pariwisata dan kegiatan ekonomi lainnya,” sebut mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI ini.
Masih segar dalam ingatan, bencana alam Letusan Gunung Agung pada tahun 2017 yang lalu, telah menimbulkan kerugian, setidaknya ada 40 ribu orang harus dievakuasi. Bandara I Gusti Ngurah Rai, harus ditutup dengan membatalkan setidaknya 400 penerbangan, dan berdampak pada sedikitnya 59 ribu calon penumpang.
Tingginya potensi bencana alam di Bali, juga diingatkan kembali Ganip Warsito saat 3 warga di Kabupaten Bangli dan Karangasem menjadi korban dari gempa berkekuatan Magnitudo 4.8, yang menyebabkan longsor di Desa Trunyan, Karangasem, pada tanggal 16 Oktober 2021 yang lalu.
“Untuk itu, kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita semua, harus dilakukan untuk semua jenis bencana, yang berpotensi terjadi di wilayah Bali,” pesannya.
Secara khusus Ganip mengucapkan terima kasih kepada Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali karena telah menyediakan wadah kolaborasi, yang mempersatukan dukungan semua pihak dalam kerangka Pentahelix, untuk bersama-sama mengurangi potensi risiko bencana di Bali.
Peran komunitas sebagai ujung tombak penanggulangan bencana di daerah sangat krusial. Tidak hanya pada saat terjadi bencana, namun pada saat sebelum bencana pun, komunitas dan relawan bisa berperan sangat penting, dalam mengedukasi masyarakat dengan cara dan metoda berkomunikasi, sesuai dengan adat dan budaya masyarakat, sehingga pesan kesiapsiagaan bisa lebih cepat dan tepat tersampaikan.
“Saya mengharapkan Deklarasi Forum Pengurangan Risiko Bencana se-Provinsi Bali ini, akan terus berlanjut dengan kegiatan-kegiatan nyata dan berkesinambungan. Pemerintah dan Pemerintah Daerah, tentunya akan memberikan dukungan melalui sinergi dengan kegiatan-kegiatan di unit kerja yang sedang dan akan berjalan,” kata Ganip.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Kepala Badan Nasional Penanggulngan Bencana (BNPB) Pusat, Letjen TNI Ganip Warsito menegaskan aktivitas Pengurangan Risiko Bencana (PRB) merupakan investasi penting guna meminimalisir dampak dari potensi ancaman bencana. Aktivitas PRB juga sesuai dengan keinginan pemerintah untuk mewujudkan visi Indonesia 2045.
“Investasi Pengurangan Risiko Bencana dimaksud terdiri atas investasi struktural, kultural, sumberdaya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta keuangan,” ucap Ganip Warsito pada Kuliah Umum Kebencanaan di Kampus IAIN, Kota Ambon, Provinsi Maluku, Selasa (19/10/2021).
Kuliah Umum Kebencanaan merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) 2021. Acara dihadiri Gubernur Maluku Irjen Pol (Purn) Murad Ismail, Ketua DPRD Provinsi Maluku Lucky Wattimury, Rektor IAIN Ambon Dr. Zainal Abidin Rahawarin, dan Pimpinan OPD Provinsi Maluku serta para peserta seminar.
Ganip menguraikan, investasi struktural merupakan investasi PRB yang dilakukan melalui pembangunan infrastruktur berdasarkan kajian risiko bencana, baik berupa gedung tahan bencana maupun penanaman dan pemeliharaan vegetasi yang dapat menjadi buffer bagi jenis bencana tertentu seperti tsunami, maupun bencana hidrometeorologi.
Berikutnya merupakan investasi kultural, yang merupakan investasi kepada masyarakat dan pemerintah untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana dari responsif menjadi preventif.
“Investasi kultural atau non-struktural ini dapat diupayakan melalui literasi kebencanaan, edukasi, maupun sosialisasi, serta pengembanganya dapat dilakukan dengan memanfaatkan kearifan lokal setempat,” ucap Ganip.
Ketiga, investasi Sumber Daya Manusia. Investasi PRB ini merupakan investasi program peningkatan kapasitas untuk masyarakat ataupun aparat pemerintah dalam hal penanggulangan bencana. Investasi sumber daya manusia ini pada dasarnya untuk membentuk karakter masyarakat yang tangguh bencana.
Selanjutnya investasi IPTEK. Menurut Ganip, investasi IPTEK dilakukan dengan menciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk mengurangi risiko bencana serta melakukan kajian yang dapat mendukung aktivitas PRB.
“Investasi IPTEK ini dapat pula diartikan sebagai kontribusi pemikiran dan teknologi yang tepat oleh para akademisi, pakar, dan peneliti,” sebutnya.
Terakhir adalah investasi keuangan. Ganip menjelaskan investasi keuangan merupakan investasi yang dikeluarkan untuk pengurangan risiko bencana sehingga dapat menyelamatkan aset yang bernilai lebih besar, baik anggaran untuk implementasi program maupun melalui asurasi bencana.
Berkaitan dengan itu, Ganip mengatakan manajemen bencana sudah seharusnya menjadi satu kesatuan yang terintegrasi, baik sebelum, saat terjadi, dan pasca terjadi bencana. Manajemen bencana mulai dari pencegahan dan mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan harus menjadi siklus yang terkelola dengan baik melalui upaya dan dukungan semua pihak.
“Bapak Presiden dalam setiap kesempatan selalu menyatakan bahwa penanggulangan bencana harus mengedapankan aspek pencegahan. Jangan sampai kita hanya bersifat reaktif saat bencana terjadi,” tegasnya.
Keinginan Presiden itu, kata Ganip seperti pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”. Artinya, upaya pengurangan risiko pada kondisi pra-bencana, harus menjadi tulang punggung upaya penanggulangan bencana.
Di BNPB, menurut Ganip, pihaknya membagi klaster kebencanaan menjadi 4, yaitu : pertama, Geologi dan vulkanologi yang meliputi: letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi.
Kedua, Hidro Meteorologi Kering, meliputi: kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. Ketiga, Hidro Meteorologi Basah, yang meliputi: banjir, banjir bandang, longsor, abrasi pantai, gelombang ekstrem, angin puting beliung, serta siklon tropis,
Keempat, Bencana Non-Alam, meliputi: pencemaran limbah, land subsidence, epidemi/pandemi, dan kegagalan teknologi. “Pada kesempatan kali ini saya hanya menyinggung satu bencana non-alam yang sama-sama sedang kita rasakan saat ini, yaitu pandemi Covid-19,” ucap Ganip yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19.
Dia menjelaskan sejak awal kemunculannya, Covid-19 sudah menginfeksi 240 juta orang lebih di seluruh dunia. Hingga saat ini, Indonesia masih berjuang melawan Covid-19 dan perlu dilakukan sinergi bersama, untuk mengendalikan pandemi Covid-19.
Ganip mengaku bersyukur pandemi Covid-19 telah menurun drastis dan penanganan yang dilakukan pemerintah Indonesia telah mendapat pengakuan dari internasional.
“Berdasarkan level asesmen dari Kementerian Kesehatan dengan mengikuti standar WHO, Indonesia kini berada pada level 2, dengan transmisi komunitas berada pada tingkat 1 dan kapasitas respon sedang,” ungkapnya.
Meskipun saat ini kondisi pandemi relatif terkendali, Ganip mengajak semua pihak tidak lengah dan terbuai. “Tidak boleh lengah dan harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M dan mengikuti program vaksinasi,” pesannya. (ctr)
JAYAKARTA NEWS— Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito mengingatkan kepada seluruh komponen di daerah agar mewaspadai adanya potensi gelombang ketiga penularan Covid-19 di Tanah Air yang menurut para ahli dapat terjadi di akhir tahun.
Hal itu disampaikan Ganip saat berkesempatan meninjau Posko Relawan Sulut Hebat Kompak Lawan Covid-19 di Kota Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (9/10).
“Ancaman gelombang ketiga yang diprediksi oleh para ahli akan terjadi di bulan Desember,” kata Ganip.
Akhir tahun atau bulan Desember bertepatan dengan dua momentum besar yakni Hari Raya Natal dan pergantian tahun, yang mana menurut Ganip pada periode tersebut berpotensi memicu keinginan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan.
Di samping itu, akhir tahun juga masih masuk dalam periode pergantian cuaca, yang mana hal itu juga mempengaruhi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. “Karena di situlah saat Nataru, di situlah adanya pergantian cuaca. Ini yang menjadi suatu ancaman peningkatan Covid-19,” ujar Ganip.
Menyongsong akhir tahun yang juga diprediksi akan membawa ancaman gelombang ketiga menurut para ahli, namun Ganip optimis bahwa hal itu dapat dicegah dan dikendalikan sehingga tidak terjadi.
Ganip menjelaskan bahwa kunci pencegahan dan mitigasi penularan Covid-19 sudah diketahui, yakni dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan vaksinasi. Di sisi lain, pola penanganannya juga sudah ditemukan.
Dua dasar tersebut bagi Ganip merupakan hal yang harus senantiasa dilaksanakan demi mencegah terjadinya ledakan kasus di akhir tahun, sebagaimana menurut prediksi para ahli.
“Tapi saya yakin dengan kekuatan dan pola penanganan yang sudah ditemukan, maka kita boleh yakin Desember tidak akan terjadi gelombang ketiga,” kata Ganip.
“Perkuat protokol kesehatan, perkuat tracing, tracking dan treatment nya, kemudian perkuat vaksinasinya. Tiga itu rumusnya. Kalau itu kita sudah oke, saya yakin kita bisa mengendalikan Covid-19 ini,” tandasnya. ***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Intruksi Menteri Dalam Negeri (Inmedagri) No. 39 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, Level 3 dan Level 2 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali Menyebutkan bahwa Malang Raya sudah mengalami penurunan level dalam pembatasan kegiatan masyarakat. Sebelumnya Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu tercatat berada pada PPKM level 4, kini status itu mengalami penurunan menjadi level 3.
Kondisi ini mendapat apresiasi, penerapan protokol kesehatan yang sudah baik dijalankan secara masif dan konsisten.
“Saya mengapresiasi penururan level PPKM ke Level 3 di Malang Raya, semua masyarakat bekerjasama memerangi Covid-19 ini,” ujar Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito dalam Rapat Penanganan Covid-19 bersama Forkopimda Malang, Sabtu (11/9).
Namun demikian, Ganip yang sekaligus menjabat Kepala BNPB juga menyampaikan pencapaian ini dapat disikapi secara bijak, mengingat pandemi ini belum diketahui kapan akan selesai. Perlu beberapa poin yang harus disiapkan dalam menghadapi transisi pandemi menuju epidemi.
Ada lima poin penting yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama mengenai Protokol Kesehatan (Prokes) 3M, masyarakat harus lebih di edukasi, sosialisasi dan mitigasi terhadap perubahan perilaku. Pembentukan posko PPKM berbasis mikro juga perlu dibuat. Selain itu, pembentukan satgas prokes di fasilitas umum juga dinilai perlu, hal ini bertujuan sebagai basis pengendalian di seluruh lapisan masyarakat.
Kedua, Vaksinasi. Upaya percepatan vaksinasi juga terus dilakukan oleh pemerintah pusat dibantu oleh seluruh unsur Pentahelix demi tercapainya Herd Imunity.
Berikutnya, Ketiga Testing. Diharapkan nantinya setiap daerah mampu menyediakan minimal 1 atau 2 laboratorium PCR di tiap Kabupaten/Kota. Dengan adanya fasilitas yang memadai, diharapkan pengecekan dapat dilakukan dengan cepat dan efektif.
Keempat Tracing. Tenaga swabber dan tracer diupayakan untuk diperbanyak, sehingga mampu mencapai target yang telah ditentukan yakni 1:15 artinya apabila ada 1 orang yang terkonfirmasi positif, maka dapat dilakukan pengecekan terhadap 15 orang yang memiliki riwayat kontak erat.
Terakhir Kelima, Treatment. Tiap daerah dihimbau untuk dapat menyediakan tempat isolasi terpusat yang memadai. Penguatan terhadap Puskesmas juga diperlukan dengan menyediakan tenaga kesehatan dan obat-obatan yang mencukupi. Selain itu, diharapkan setiap Kabupaten/Kota minimal memiliki 1 Rumah Sakit Rujukan Covid-19 dengan kualifikasi instalasi oksigen generator bagi para pasien yang tergolong bergejala berat.
Dalam akhir sambutannya, Ganip berharap seluruh pesan penting ini dapat dijalankan dan dilakukan secara disiplin guna menjadikan momentum positif ini sebagai masa transisi dari pandemi menuju epidemi.
“Ini harapan saya selaku Kasatgas, untuk bisa pada posisi yang sedang menurun ini untuk bisa dijadikan masa transisi dari pandemi menuju epidemi,” tutup Ganip.***/ebn
JAYAKARTA NEWS—Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) selaku Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito meninjau rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, pada Minggu (13/6). Rusun ini merupakan salah satu fasilitas isolasi pasien Covid-19.
Dalam kunjungan tersebut, Ganip memastikan kesiapan fasilitas yang ada di rumah susun (rusun) Nagrak mengingat lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia setelah libur hari panjang.
“Kami terus memeriksa dan memantau kesiapan setiap tempat isolasi para pasien Covid-19 guna mengantisipasi lonjakan kasus, khususnya jumlah pasien terkonfirmasi positif, pada kelompok orang tanpa gejala atau OTG yang semakin meningkat,” ungkap Ganip.
Ganip turut memberikan bantuan logistik berupa 500 unit velbed yang diberikan kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Sabdo Kurnianto. Velbed atau alas tidur portabel ini bermanfaat sebagai fasilitas penunjang di Rusun Nagrak.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Unit Pengelola Rumah Susun Sederhana Sewa (UPRS III) Vita Nurvianti mengapresiasi kunjungan serta bantuan dalam mendukung kebutuhan rusun Nagrak untuk menjalankan operasional rusun sebagai tempat isolasi pasien Covid-19.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan bantuan velbed yang diberikan oleh Ketua Satgas dalam menunjang fasilitas tempat isolasi para pasien Covid-19,” tutur Vita.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito (dua dari kiri) saat melakukan kunjungan tempat isolasi pasien Covid-19 didampingi Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Sabdo Kurnianto (paling kanan) dan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti (dua dari kanan) di Rusun Nagrak, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (13/6)—foto BNPB
Di samping kebutuhan logistik, Vita turut mengungkapkan kebutuhan lain, yakni sumber daya manusia dalam pengelolaan serta penanganan para pasien Covid-19.
“Seperti halnya di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, Rusun Nagrak juga membutuhkan dukungan tambahan sumber daya manusia dalam konteks pelayanan kepada para pasien Covid-19, mengingat sumber daya kami cukup terbatas yang hanya meliputi petugas kebersihan dan teknisi gedung,” ungkap Vita.
Selanjutnya, Vita mengatakan, namun untuk tetap memperkuat jalannya operasional pelayanan kepada para pasien, pihaknya didukung sarana dan prasarana dalam unit hunian serta daerah sekitar oleh BPBD DKI Jakarta bersama perangkat wilayah dan Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti juga menjelaskan tentang pengoperasian setiap tower yang ada di rusun Nagrak.
“Rusun Nagrak memiliki 14 tower, untuk Tower 1 sampai 5 akan difokuskan untuk lokasi isolasi pasien Covid-19 terkendali, Tower 6 sampai 10 masih dalam proses penghunian, sedangkan Tower 11 – 14 sudah terhuni,” jelas Widyastuti.
Widyastuti turut menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta akan melakukan pelatihan untuk sumber daya manusia yang ada pada masing-masing tower terkait prosedur standar operasi (SOP) penanganan pasien Covid-19.
“Terdapat 58 tenaga petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan atau PJLP dari masing-masing tower yang akan dilatih oleh Dinas Kesehatan terkait SOP penanganan pasien Covid-19. Pelatihan akan dilaksanakan mulai hari Selasa (15/6) mendatang di Tower 3,” terangnya.
Widyastuti juga menambahkan bahwa Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga membantu alur penerimaan atau evakuasi pasien Covid-19 dengan sistem zonasi guna mencegah kontak penularan antar pasien Covid-19.
“Kami juga mengkoordinir dan membantu pengaturan alur evakuasi penerimaan pasien Covid-19 dengan sistem zonasi sehingga mengurangi potensi kontak pasien satu sama lain,” imbuhnya.
Sebagai informasi, Rusun Nagrak merupakan salah satu tempat isolasi pasien Covid-19 yang resmi ditunjuk oleh Pemerintah Kota Jakarta Utara. Rusun Nagrak memiliki 14 tower yang terbagi dalam tiga klaster yang setiap klasternya cukup berjarak.
Masing-masing tower memiliki 16 lantai dengan 225 unit, dimana setiap unitnya terdiri dari dua kamar yang mampu menampung hingga 2.550 orang.
Dalam menjalankan kegiatan operasional pelayanan para pasien Covid-19, rusun Nagrak didukung oleh BPBD dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam mempersiapkan sumber daya manusia dan fasilitas pendukung lain serta Dinas Sosial DKI Jakarta dalam pemenuhan gizi para pasien.***ont
JAYAKARTA NEWS— Kasus konfirmasi positif Covid-19 melonjak di beberapa wilayah Jawa Timur (Jatim), khususnya Kabupaten Bangkalan. Kenaikan kasus ini dipicu oleh penularan pada klaster keluarga setelah mereka melakukan mudik lebaran.
Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron menyampaikan bahwa data kasus Covid-19 terhitung 10 April hingga 7 Juni 2021 meningkat di 4 kecamatan. Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan mencatat kenaikan kasus konfirmasi positif dari 12 kasus menjadi total 322.
“Pasien Covid-19 tertinggi ada di empat kecamatan, yakni Kecamatan Arosbaya, Klampis, Geger dan Kecamatan Kota,” kata Abdul Latif yang juga sebagai Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bangkalan.
Abdul Latif menambahkan, terkait dengan dampak lonjakan kasus Covid – 19 di Bangkalan, pihaknya telah menyiapkan 178 tenaga medis dan 121 tenaga vaksinator serta penambahan ruang dan tempat tidur untuk pasien Covid-19. Sebanyak 150 tempat tidur di RSUD Syarifa Ambami Ratoh Ebu yang saat ini terpakai 93 pasien, 74 tempat di Balai Diklat terpakai 35 dan di Balai Latihan Kerja (BLK) 30 tempat tidur terpakai 17 pasien OTG.
“Untuk penyekatan masih diberlakukan di wilayah Arosbaya, di penyeberangan Kamal dan akses masuk Suramadu sisi Madura,” tandasnya.
Instruksikan 3T dan Disiplin Prokes
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Letjen TNI Ganip Warsito, terus memonitor perkembangan Covid-19 di seluruh Indonesia, termasuk Jatim. Dia menginstruksikan, 3T ( testing , tracing dan treatment) harus terus ditingkatkan. Tak kalah pentingnya, mengajak masyarakat disiplin protokol kesehatan (prokes).
“Prokes memakai masker ini kuncinya, selalu menjaga jarak, mencuci tangan dan menghindari kerumunan ini wajib diterapkan,” katanya.
Ganip juga meminta pihak rumah sakit untuk memastikan ketersediaan tempat tidur, tempat isolasi mandiri, zonasi protokol kesehatan dan kemampuan sumber daya manusia tenaga kesehatan dalam antisipasi penanganan lonjakan kasus Covid-19.
Selain itu, Ganip turut memberikan arahan terkait penguatan fungsi posko di Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro untuk dapat menjadi kontrol kasus harian Covid-19.
“Terus menerus lakukan pemantauan dan monitoring melalui posko yang ada di seluruh PPKM Mikro untuk dapat mengetahui kasus harian Covid-19 sehingga menjadi dasar kita dalam mengambil keputusan, membuat langkah strategis serta menjadi evaluasi dalam melakukan pengendalian kasus,” pungkasnya.
Terakhir, Ganip kembali mengingatkan Pemerintah Kabupaten Bangkalan agar selalu konsisten dan tidak lengah dalam menangani Covid-19 di daerahnya.
Selain memberikan arahan, Kepala BNPB yang didampingi Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin, Gubernur Jawa Timur Kofifah Indar Parawansa, anggota Komisi VIII DPR RI, dan Bupati Bangkalan turut meninjau puskesmas Bangkalan, RSUD Syarifah Ambari Rato Ebu, dan posko PPKM Mikro desa Bilaporah.
BNPB memberikan bantuan Dana Siap Pakai sebesar Rp1 miliar dan logistik berupa masker kain 20.000 lembar, masker kain anak 10.000 lembar dan hand sanitizer masing-masing 4 liter sebanyak 20 jerigen kepada Kapubaten Bangkalan yang diberikan secara simbolis kepada Bupati Bangkalan di Pendopo Bupati Bangkalan. (ont)
JAYAKARTA NEWS— Kasus aktif Covid-19 di Kudus, Jawa Tengah, mengalami lonjakan secara siginifikan pasca libur Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Ganip Warsito bertolak ke wilayah tersebut hari ini.
Kunjungan kerja Ganip Warsito yang juga mengemban tugas sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 tersebut merupakan bentuk respon cepat Pemerintah untuk melindungi segenap warganya, sekaligus menindaklanjuti perintah Presiden Joko Widodo yang meminta laporan khusus mengenai lonjakan kasus Covid-19 di Kudus, dalam rapat terbatas pada Senin (31/5).
Adapun Ketua Satgas bertolak ke Kudus melalui Semarang menggunakan pesawat TNI AU dari Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta, Rabu (2/6) siang.
Setelah mendarat di Semarang, Ketua Satgas akan melakukan rapat koordinasi bersama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo sebagai Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Tengah dan unsur Forkopimda serta komponen terkait.
Selanjutnya, Ketua Satgas Ganip Warsito dijadwalkan akan melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kudus beserta Forkopimda setempat, apel penambahan personel Satgas sebanyak 450 orang untuk membantu dan pendampingan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis Mikro, penegakan Prokes 3M serta penyelenggaraan 3T.
Di samping itu, Ketua Satgas juga akan melakukan asesmen pendirian Rumah Sakit Lapangan khusus Covid-19 di Kabupaten Kudus sekaligus penentuan dukungan fasilitas karantina/isolasi mandiri terpusat pada tiap-tiap kecamatan atau desa.
Dalam hal ini, Ganip Warsito juga akan menyerahkan dukungan penanganan Covid-19 bagi Pemerintah Kabupaten Kudus berupa tenda isolasi 2 buah, masker kain 20 ribu lembar, masker kain anak 10 ribu lembar dan handsanitizer sebanyak 20 jerigen dengan kapasitas 4 liter.***ebn
SEBELUM naik ke podium memberi sambutan Letjen TNI Ganip Warsito memanggil dan menggandeng tangan istrinya, Ati Supriati. Setiba di podium, ia meranggeh mic dan merendahkannya.
“Setiap sambutan sehabis pak Doni, saya harus merendahkan mic, karena saya lebih pendek…,” ujar Ganip, memecah suasana sekaligus membuat bibir hadirin merekah karena senyuman.
Ya, pria kelahiran Magelang 23 November 1963, Letjen TNI Ganip Warsito adalah Kepala BNPB/Ketua Satgas Covid-19 yang baru. Ia dilantik 25 Mei 2021 pagi, dan melaksanakan sertijab sore harinya di lantai 15, Graha BNPB.
Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito (tengah memakai rompi) saat meninjau kesiapan fasilitas yang dimiliki Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet pada Rabu (25/5) sore.
Tak pelak, 25 Mei 2021 menjadi hari bersejarah baginya. Pasalnya, inilah untuk pertama kali dalam 35 tahun kariernya sebagai prajurit, ia menanggalkan baju doreng.
“Ya, saya sudah perintahkan istri saya untuk melipat seluruh baju doreng dan baju dinas militer, karena mulai hari ini saya akan memakai rompi BNPB,” ujar Ganip, disambut tepuk tangan hadirin.
Benar. Sepanjang karier, sejak perwira pertama (pama), perwira menengah (pamen), hingga perwira tinggi (pati) Ganip selalu mendapat penugasan di lingkungan TNI. Mulai dari Komandan Peleton, Panglima Kogabwilhan III, hingga bertengger di jabatan Kasum Mabes TNI. “Alhamdulillah, saya sudah tiga kali menjadi penerus Bang Doni.”
Estafet pertama yang diterima Ganip dari Doni adalah Pokdo Tenor salah satu elemen penting dalam Drumb Band Canka Lokananta Akmil, Magelang.
“Beliau mentor tenor waktu kami di drum band Akmil,” ujar mantan Pangdam XIII/Merdeka itu seraya menambahkan, “Saat di drum band akmil, beliau berdiri di penjuru paling kanan sebagai pengatur langkah.”
Estafet kedua adalah tongkat komando Danyonif 741/Satya Bhakti Wirottama di Singaraja, Bali tahun 2001 saat masih berpangkat mayor infanteri. Dua puluh tahun kemudian, peristiwa berulang, Ganip menggantikan Doni sebagai Kepala BNPB.
“Itulah mengapa saya mengatakan, menggantikan bang Doni itu berat. Makanya saya mohon bantuan dan kerjasama semua pejabat dan staf di BNPB, agar apa yang selama ini ditunjukkan pak Doni bisa ditularkan pula kepada saya,” ujar Ganip.
Dulu Ransel, Kini Koper
Ada hal menarik lain yang disampaikan Ganip. Ia telah mengobservasi ruangan di lantai 10, tempatnya berkantor di Graha BNPB. Juga sudah menengok sejumlah ruang lain di gedung yang terletak di Jl Pramuka, Jakarta Timur.
Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito (rompi cokelat) mendapatkan penjelasan terkait kondisi ketersediaan alat pelindung diri di gudang persediaan Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Rabu (26/5).
“Satu yang menarik perhatian saya, di ruang-ruang itu saya melihat ada koper. Saya jadi ingat, waktu prajurit yang namanya ransel sudah harus siap. Begitu bel berbunyi, lari berbaris dan seketika siap ditugaskan ke mana saja. Rupanya, di BNPB pun sama. Bedanya, di militer ransel, di BNPB koper,” kata Ganip sambil bercanda, “apa perlu koper-koper itu kita ganti lagi dengan ransel ya?”
Intinya adalah, sebagai aparat kebencanaan, harus selalu siap bergerak. Siap terjun ke medan bencana di mana pun di wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
“Jadi kalau sebelumnya saya keliling Indonesia karena penugasan sebagai prajurit, sekarang bakal keliling Indonesia lagi untuk misi kebencanaan. Saya siap, sebab dari pama sampai bintang tiga, saya selalu di lapangan,” ujar Ganip, mantap.
Adapun bekal Ganip memikul tanggung jawab sebagai Kepala BNPB adalah arahan Presiden Joko Widodo. Ditemani Doni Monardo keduanya menghadap presiden pagi hari sebelum acara pelantikan.
Pesan presiden sangat jelas, “gunakan dan lanjutkan jurus-jurus yang dipakai pak Doni. Itulah kalimat Bapak Presiden yang akan saya ingat terus. Mohon bang Doni, jangan dianggap sebagai gangguan kalau saya selalu minta arahan dan bimbingan abang,” ujar Ganip ditujukan kepada Doni yang duduk di hadapannya.
Pesan Presiden yang kedua adalah, segera transfer permasalahan yang harus ditangani.
Ketiga, dalam kondisi Covid-19 ada trend merangkak naik pasca libur Lebaran, kunci utamanya adalah PPKM Mikro yang diperketat, pelaksanaan 3M dan 3T secara konsisten dan penuh disiplin.
“Insya Allah saya akan lanjutkan apa-apa yang sudah abangda lakukan dengan sangat baik. Semoga saya bisa, paling tidak memelihara apa yang sudah abang lakukan. Ini janji saya,” tambah Ganip, sambil memandang ke arah Doni.
Pacar Lima Langkah
Pacarku memang dekat/Lima langkah dari rumah/Tak perlu kirim surat/SMS juga nggak usah//Kalau rindu bertemu/Tinggal nongol depan pintu/Tangan tinggal melambai/Sambil bilang: “Hello, Sayang”
Untuk diketahui, larik narasi puitis di atas adalah lirik lagu dangdut berjudul “Pacar Lima Langkah”, lagu besutan Iceu Wong tahun 2008. Lirik itulah yang digunakan Ganip ketika memperkenalkan istri tercinta, Ati Supriati.
“Saya naksir dia waktu kelas satu SMA, dan dia masih kelas tiga SMP. Jadi, bisa dibilang dia itu cinta saya, mulai cinta monyet sampai sekarang cinta king kong,” kelakar Ganip.
Dari Ati, ia dikaruniai dua putra dan satu putri. Dua putra-putrinya sudah menikah. Dari putri sulung ia beroleh tiga orang cucu. Dari putra kedua, bakal memberinya cucu keempat. “Menantu saya mendapat tugas sebagai Atase Pertahanan di Serbia,” ujar Ganip.
Jabatan Kepala BNPB, tidaklah ringan. Presiden memberi perintah kepada Ganip. “Supaya jurus jurus yang dipakai pak Doni, diserahterimakan, dan itu dilanjutkan. Itu bahasa pak presiden. Saya yakin jurus jurus itu terdokumentasikan dengan baik, Insya Allah saya akan menyesuaikan,” kata Ganip bersemangat.
BNPB Ibarat Kopassus
Sebelumnya, Doni Monardo juga menyampaikan semacam sambutan perpisahan. Ia berpidato didampingi istri tercinta, Santi Monardo.
Doni berterima kasih kepada seluruh pejabat dan staf BNPB yang telah bekerja keras membantunya selama 2 tahun 4 bulan bertugas. Baginya, BNPB ibarat kesatuan lamanya, Kopassus. Dalam kondisi negara yang rawan bencana, aparat BNPB nyaris tidak pernah beristirahat.
Kepala BNPB Letjen TNI Ganip Warsito melakukan wawancara singkat dengan media saat melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma pada Rabu (26/5) untuk memastikan kesiapan RSDC menghadapi kemungkinan lonjakan kasus COVID-19 pasca libur lebaran.
“Jadi, pak Ganip nanti akan didukung aparat sipil tapi berjiwa militan. Sulit menemukan ASN yang punya dedikasi luar biasa seperti ASN di BNPB,” kata Doni, bangga.
Tak lupa, Doni menyampaikan terima kasih karena telah diberi kesempatan oleh Presiden Joko Widodo memimpin BNPB dan Satgas Covid-19. Sebuah kehormatan yang luar biasa dari aspek kemanusiaan.
“Semua terkendali dengan baik, berkat kolaborasi para ASN di BNPB yang sangat luar biasa. Sekali lagi, saya berterima kasih,” ujar Doni.
Di mata Doni, Ganip Warsito bukan orang asing di dunia kebencanaan. Sejak menjabat Asops TNI, lalu Pangkogabwilhan III, sudah bersinggungan dengan bencana alam dan Covid-19. Bahkan tidak sedikit kontribusi Ganip dalam membantu pelaksanaan tugas BNPB dan Satgas Covid-19.
“Salah satunya, ketika transportasi langka akibat PSBB di awal awal pandemi, sementara relawan dokter harus dikirim ke berbagai daerah, maka beliaulah yang memerintahkan TNI-AU mengerahkan pesawat mengangkut relawan ke berbagai daerah,” singkap Doni.
Menutup sambutannya, Doni menegaskan kembali permintaan Bapak Presiden agar semua unsur di BNPB dan Satgas memberi dukungan total kepada pak Ganip dalam mengemban tugasnya ke depan.
Selamat bekerja Jenderal. Tetap bahagia, gembira dan tentunya sehat selalu. *