Total Kasus Terkonfirmasi Omicron Bertambah Jadi 46 Kasus

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Kesehatan kembali melaporkan temuan kasus baru Omicron di Indonesia.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menyebutkan adanya tambahan kasus terkonfirmasi Omicron sebanyak 27 kasus yang sebagian besar berasal dari para pelaku perjalanan internasional.

Temuan berasal dari hasil pemeriksaan WGS oleh Badan Litbangkes yang keluar pada tanggal 25 Desember 2021. Sebanyak 26 Kasus merupakan imported case, diantaranya 25 WNI yang baru pulang dari Malaysia, Kenya, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Malawi, Spanyol, Inggris, Turki, dan 1 orang WNA Asal Nigeria. Sementara satu kasus positif merupakan Tenaga Kesehatan di RSDC Wisma Atlet.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen oleh Badan Litbangkes, kami kembali mengidentifikasi adanya tambahan kasus Omicron sebanyak 27 orang. Saat ini sebagian besar telah menjalani karantina di Wisma Atlet dan sebagian lagi di RSPI Sulianti Saroso, ”kata Jubir Nadia. Demikian dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id

Dengan tambahan kasus ini, total kasus terkonfirmasi Omicron di Indonesia sudah 46 kasus sejak pertama kali dilaporkan pada 16 Desember lalu.

Kasus Omicron tersebut terdeteksi disaat para pelaku perjalanan internasional tiba di Indonesia dan menjalani karantina 10 hari. Beberapa kasus terdeteksi setelah mereka menjalani lebih dari tiga hari dalam masa karantina. Ini menunjukan karantina 10 hari adalah durasi yang tepat untuk mencegah pasien dengan Omicron menulari pihak lain diluar fasilitas karantina.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan mengonfirmasi kasus pertama Omicron pada 15 Desember 2021 yang menyerang seorang petugas kebersihan RSDC Wisma Atlet.

Pada 17 Desember, dari hasil pemeriksaan terhadap 5 kasus probable didapati 2 kasus yakni WNI dari Inggris dan Amerika Serikat terkonfirmasi positif.

Lalu pada 22 Desember, Kemenkes kembali mencatat adanya tambahan 2 kasus baru Omicron

Pada 23 Desember ada tambahan 3 kasus baru yang berasal dari WNI yang baru saja kembali dari Malaysia dan Kongo.

Selanjutnya, pada tanggal 24 Desember, Kemenkes kembali mengidentifikasi adanya tambahan kasus sebanyak 11 orang yang berasal dari pelaku perjalanan dari Turki, Jepang, Korea Selatan dan Arab Saudi.

Kementerian Kesehatan mencatat mayoritas kasus Omicron yang terdeteksi di Indonesia berasal dari pelaku perjalanan internasional (imported case). Oleh karena itu, pintu masuk negara baik darat, laut maupun udara diperketat seiring semakin meluasnya penyebaran varian Omicron.

Jubir Nadia mengimbau masyarakat untuk tidak atau menunda melakukan perjalanan ke luar negeri. Pihaknya juga berpesan kepada seluruh masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M serta segera ikut vaksinasi Covid-19.***ebn

Menkes : Kesiapan Transformasi Sistem Kesehatan Butuh Dukungan Seluruh Pihak

JAYAKARTA NEWS— Pandemi Covid-19 menjadi masalah kesehatan global yang berdampak pada pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Di level nasional, pandemi mengakibatkan disrupsi terhadap ketahanan sistem kesehatan di Tanah Air.

Belajar dari pandemi, Kementerian Kesehatan berupaya melakukan transformasi sistem kesehatan yang memprioritaskan program promotif preventif dan preventif di seluruh lini kehidupan masyarakat.

Transformasi kesehatan rencananya akan dilakukan dari tahun 2021 hingga 2024, dengan berfokus pada 6 bidang di antaranya transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan dan transfromasi teknologi kesehatan.

Keenam pilar tersebut terbagi dalam 2 kategori yakni kategori program utama yang mencakup 3 aspek transformasi, sementara 3 aspek mendasar.

“Keenam transformasi tersebut akan menjadi prioritas Kementerian Kesehatan dalam tiga tahun ini. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan partisipasi dari seluruh komponen bangsa baik itu pemerintah, swasta maupun asing untuk bisa membantu melancarkan keenam transformasi,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam acara Indonesia Healthcare Innovation Awards pada Senin (22/11). Demikian dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id

Pihaknya merinci transformasi layanan primer dengan memperkuat aktivitas promotif preventif untuk menciptakan lebih banyak orang sehat, memperbaiki skrining kesehatan serta meningkatkan kapasitas layanan primer.

Transformasi layanan rujukan dengan meningkatkan kualitas dan pemerataan layanan kesehatan di seluruh pelosok Indonesia.

Ketiga memastikan ketahanan sistem kesehatan yang baik ditengah ancaman kesehatan global, ini mencakup produksi hingga distribusi farmalkes yang lancar dan bisa diproduksi dalam negeri.

Keempat transformasi sistem pembiayaan kesehatan dengan kemudahan dan kesetaraan akses layanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Kelima transformasi SDM Kesehatan dengan memastikan diatribusi tenaga kesehatan merata di seluruh pelosok Tanah Air termasuk di kawasan DTPK.

Keenam adalah transformasi teknologi kesehatan baik berkaitan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan bioteknologi di sektor kesehatan.

Melalui perbaikan dan penguatan tersebut, Menkes berharap transformasi sistem kesehatan mampu meningkatkan layanan kesehatan yang nantinya dapat berimplikasi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

“Sesuai dengan nama Kementerian kita Kementerian Kesehatan, seharusnya lebih banyak meluangkan waktu dan anggaran untuk menciptakan orang yang sehat bukan mengobati orang yang sakit,” terangnya,” sebutnya.

Upaya perbaikan sistem kesehatan dimulai dengan menjalin sinergi dengan seluruh stakeholder terkait termasuk dengan melibatkan masyarakat. Harapannya, ini menjadi gerakan bersama yang tidak hanya dikerjakan pemerintah, tetapi bersama-sama supaya fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh pelosok Tanah Air semakin merata dan berkualitas.

“Tidak mungkin kita bisa melakukannya sendiri, kita harus bersama-sama. Tidak mungkin kita bisa eksklusif, Kemenkes harus inklusif. Tidak mungkin ini berhasil kalau kita pendekatannya hanya pendekatan program tetapi ini harus menjadi pendekatan yang sifatnya gerakan, dimana semua komponen bangsa bisa unlocking sosial capital yang mereka miliki untuk mencapai keenam transformasi tadi sehingga tujuan kita bisa sukses,” pungkasnya. (ctr)

Cegah Lonjakan Kasus, Masyarakat Diimbau Kurangi Mobilitas Jelang dan Saat Libur Nataru

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas terutama menjelang dan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya lonjakan kasus atau ancaman gelombang ketiga COVID-19

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid mengatakan bahwa Saat ini, pemerintah terus berupaya untuk mempertahankan kasus positif Covid-19 serendah mungkin dengan penurunan kasus yang konsisten.

“Upaya ini akan efektif jika masyarakat patuh, taat dan disiplin terapkan protokol kesehatan termasuk mengurangi mobilitas dan berpartisipasi dalam vaksinasi Covid-19.” tegas dr Nadia dalam Webinar “Libur Nataru dan Varian Baru: Strategi Cegah Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19” di Jakarta. Demikian dikutip dari laman sehatnegeriku.kemenkes.go.id

dr. Nadia mengungkapkan, upaya-upaya penanggulangan pandemi di Indonesia dikelompokkan ke dalam lima pilar utama. Pertama deteksi, dilakukan melalui penguatan testing, tracing, karantina/isolasi. Deteksi juga dilakukan melalui surveilans untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan surveilans genomic untuk mengawasi varian baru serta pengawasan di pintu masuk negara.

Kedua, manajemen klinis dilakukan tatalaksana kasus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan termasuk potensi obat baru dan persiapan kapasitas rumah sakit dan fasyankes lain. Ketiga, perubahan perilaku dilakukan melalui penguatan protokol kesehatan berbasis teknologi informasi PeduliLindungi.

Keempat, peningkatan cakupan vaksinasi dan kelima penguatan sistem kesehatan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan esensial dan memenuhi standar protokol kesehatan

“Situasi (pandemi) yang sudah membaik ini harus kita pertahankan. Laju kasus harus terus kita tekan. Memastikan mobilitas tidak meningkat secara tajam agar laju penularan juga tidak meningkat. Tes dan tracing ditingkatkan dan diperkuat agar secara cepat kita temukan kasus positif. Semakin disiplin terapkan protokol kesehatan dan terus meningkatkan cakupan vaksinasi. Kita harus pastikan setelah libur nataru tidak terjadi lonjakan kasus,” ujar dr. Nadia

Hadir juga sebagai narasumber Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang juga Pengamat Kesehatan Masyarakat Prof. Tjandra Yoga Aditama dan Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo.

Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk terus waspada mengingat umur Covid-19 yang baru dua tahun sehingga masih banyak hal yang tak terduga dari virus ini. Menurutnya, penyebab kenaikan kasus positif di banyak negara saat ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia.

“Ada beberapa penyebab kenaikan kasus di beberapa negara antara lain karena sekelompok masyarakat yang belum divaksinasi, efikasi vaksin menurun, dan pelonggaran mobilitas yang berkorelasi dengan naik turunnya kasus. Kita bersyukur kasus positif kita menurun sangat tajam dan bertahan lama. Tetapi kita juga harus tetap belajar dari negara-negara lain. Kita mesti tetap waspada dari sekarang,” tukasnya.

Vaksinasi memang menjadi salah satu pilar penting untuk mencegah terjadinya gelombang baru. Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo mengungkapkan terjadinya lonjakan kasus di Singapura Sejak pertengahan Juli 2021 lalu selain kemunculan varian delta, pelanggaran protokol kesehatan, juga disebabkan masih banyaknya orang yang tidak mau divaksinasi. Terdapat sekitar 60 ribu sampai 100 ribu lansia tidak mau divaksinasi di Singapura. Padahal mereka termasuk dalam kelompok yang paling rentan.

“Ketika Delta masuk, mereka (lansia) yang paling rentan. Kematian paling banyak lansia dan punya komorbid. Pemerintah Singapura mulai memberlakukan kebijakan baru yaitu orang (warganya) dipaksa divaksinasi. Orang yang tidak divaksinasi, kalau sakit harus bayar sendiri,” tukasnya.***/ebn

Ma’ruf Amin Canangkan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis Bersama Perwatusi

JAYAKARTA NEWS— Wakil Presiden Ma’ruf Amin secara resmi mencanangkan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis yang digagas Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) pada Sabtu, (23/10).

Acara Pencanangan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis diselenggarakan secara Hybrid dan diikuti ribuan peserta dari seluruh penjuru tanah air dengan pusat kegiatan di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara.

Dalam kesempatan itu Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyampaikan dukungan penuh atas segala upaya lembaga-lembaga seperti Perwatusi yang secara aktif dan produktif membantu pemerintah untuk menuju cita-cita bangsa yaitu Indonesia sehat dan Produktif. 

“Ditahun 2021 ini Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia atau Perwatusi, memilih sebuah tema yang sangat strategis untuk menunjang cita-cita Bangsa Indonesia menuju Indonesia sehat bertulang kuat dan produktif, yaitu Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis,” kata Wapres Ma’ruf Amin yang hadir secara virtual.

Seperti kita ketahui, lanjut Ma’ruf Amin, bahwa Osteoporosis tidak saja menyasar satu dari tiga wanita di Indonesia tetapi juga kaum bapak yang juga sudah banyak terkena dampak penyakit keropos tulang ini.

“Peringatan Hari Osteoporosis pada 23 Oktober menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama. Sebab penyakit itu masih menjadi masalah kesehatan global, khususnya di negara berkembang. Lebih dari 200 juta orang dan 50% kejadian patah tulang disebabkan osteoporosis,” imbuhnya.

Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis yang digagas Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) pada Sabtu, (23/10)/foto: humas

Untuk itulah, lanjut Wapres, Gerakan Nasional Melawan Oteoporosis ini menjadi penting untuk kita dukung bersama oleh seluruh lapisan masyarakat, karena gerakan ini tidak saja bertujuan mengobati tetapi yang lebih penting melakukan pencegahan baik dengan aktifitas olahraga dan asupan nutrisi setiap hari.

Sejumlah tokoh ikut hadir secara virtual dan mendukung kegiatan Gerakan Nasional Melawan Osteoporosis, diantaranya Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono yang mengatakan pentingnya gerakan nasional ini dilakukan karena satu dari tiga wanita akan terkena dampak Osteoporosis.

Dukungan yang sama juga disampaikan secara virtual oleh Menteri Parawisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Menurutnya kegiatan masyarakat seperti yang dilakukan Perwatusi ini tidak saja dengan tujuan kesehatan semata tetapi lebih dari itu aktifitas olahraga masyarakat ini dapat juga mendorong perekonomian rakyat dan pariwisata.

“Tanggal 20 Oktober diperingati masyarakat dunia sebagai Hari Osteoporosis Dunia yang di Indonesa dikenal dengan nama Hari Osteoporosis Nasional. Peringatan setiap tahun ini akan terus dilakukan untuk menyadarkan masyarakan Indonesia akan pentingnya mengetahui bagaimana mencegah dan juga menangani penyakit keropos tulang atau Osteoporosi ini,” jelas Ketua Umum Perwatusi Anita Hutagalung.

Anita Hutagalung juga meyampaikan tentang inovasi dan aktifitas senam serta sosialisasi yang dilakukan Perwatusi bekerja sama dengan semua pihak, baik swasta maupun lembaga pemerintahan dengan tujuan utama terus menyadarkan masyarkan untuk peduli akan penyakit ini, baik dengan olahraga maupun asupan nutris setiap hari.

“Rangkaian acara ini tidak akan berhenti saat pencanangan hari ini saja tetapan Gerakan Nasional Melawan Oteoporosis ini akan terus bergulir dengan berbagai akitifitas di seluruh daerah dan juga akan diturunkan menjadi Gerakan Derah Melawan Osteoporosis agar upaya pencegahan dan penanggulangan osteoporosis ini dapat maksimal menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” kata Anta Hutagalung.

Ketua Panitia Hari Osteoporosis Nasional Perwatusi, DR. Sitti Nur Azizah SH.MH. mengatakan bahwa acara pencanangan ini diikuti oleh lebih dari 3.000 peserta dari 13 dewan pengurus daerah dan 34 Dewan Pengurus  Cabang secara Hybrid dan sesuai dengan protokol kesehatan di daerah masing masing.

“Di dalam perayaan ini juga diperkenalkan Osteodance Perwatusi yang menyasar kepada anak-anak muda sebagai tindakan pencegahan bagi kesehatan tulang dan produktifas  generasi penerus dimasa depan,” kata Sitti Nur Azizah.

Hadir dalam pencangan Hari Osteoporosis Nasional tersebut  Sekretaris Umum Perwatusi Silvana, Ketua Panitia Pelaksana HON 2021 Sitti nurazizah Maruf Amin, Dewan Pengawas Perwatusi Prof Errol hutagalaung, Wakil Ketua Perwatusi Dr Andi Kurniawan, Wakil Ketua Perwatusi Dr Ade Tobing wakil dan Dewan Pengawas Perwatusi Farhat Brachma, serta Ketua Umum KORMI Nasional Hayono Isman. (ks)

Penyakit Jantung Koroner Banyak Diderita Masyarakat Kota

JAYAKARTA NEWS— Penyakit kardiovaskuler seperti jantung, kanker, stroke, gagal ginjal tiap tahun terus meningkat dan menempati peringkat tertinggi penyebab kematian di Indonesia terutama pada usia-usia produktif.

Data Riskesdas menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskular seperti hipertensi meningkat dari 25,8% (2013) menjadi 34,1% (2018), stroke 12,1 per mil (2013) menjadi 10,9 per mil (2018), penyakit jantung koroner tetap 1,5% (2013-2018), penyakit gagal ginjal kronis, dari 0,2% (2013) menjadi 0,38% (2018).

Data Riskesdas 2018 juga melaporkan bahwa Prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia mencapai 1,5%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Provinsi Kalimantan Utara 2,2%, DIY 2%, Gorontalo 2%.

Selain ketiga provinsi tersebut, terdapat pula 8 provinsi lainnya dengan prevalensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi nasional. Delapan provinsi tersebut adalah, Aceh (1,6%), Sumatera Barat (1,6%), DKI Jakarta (1,9%), Jawa Barat (1,6%), Jawa Tengah (1,6%), Kalimantan Timur (1,9%), Sulawesi Utara (1,8%) dan Sulawesi Tengah (1,9%).

“Jika dilihat dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit Jantung dengan prevalensi 1,6% dibandingkan penduduk perdesaan yang hanya 1,3%,” kata Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu sebagaimana dikutip dari siaran pers Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI.

Isman Firdaus, anggota PERKI mengungkapkan tingginya prevalensi Penyakit Jantung Koroner di Indonesia disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan pola makan yang tidak seimbang.

“Gaya hidup, merokok, dan pola makan merupakan kontributor utama terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), dilaporkan 50% penderita PJK berpotensi mengalami henti jantung mendadak atau sudden cardiac death,” terangnya.

Di masa pandemi sekarang ini, orang dengan komorbid terutama penyakit kardiovaskular memiliki risiko yang sangat tinggi apabila terpapar Covid-19 karena dikhawatirkan dapat menyebabkan perburukan bahkan kematian.

Hal ini terlihat dari data di RS, yang menunjukkan bahwa tingkat perawatan di RS dan angka kematian pasien Covid-19 dengan komorbid juga meningkat selama pandemi.

“Laporan RS dimasa pandemi menunjukkan bahwa 16,3% pasien yang dirawat dari ruang isolasi Covid-19 ternyata mempunyai komorbid. Namun pada situasi Covid-19, angka kematian meningkat 22-23%. Ini salah satunya terjadi karena paparan Covid-19 yang menyebabkan perburukan dari jantung kita,” ujarnya.

Isman mendorong agar upaya promotif preventif terus dilakukan masyarakat untuk menghindari timbulnya masalah kesehatan penyakit kardiovaskular terutama penyakit jantung koroner. Selain membudayakan pola hidup sehat, ditekankan agar masyarakat juga aktif menerapkan protokol kesehatan dan segera mengikuti vaksinasi Covid-19 untuk memberikan perlindungan yang optimal dari paparan Covid-19

“Kami dari PERKI meminta kepada seluruh masyarakat terutama yang memiliki penyakit jantung untuk menjaga protokol kesehatan ketat dan melakukan vaksinasi untuk mengurangi perburukan bahkan angka kematian,” harapnya.

Maxi menambahkan, Kementerian Kesehatan bersama stakeholder terkait terus malakukan upaya pencegahan kasus baru dan pengendalian penyakit dengan tujuan mendorong masyarakat untuk mengubah perilaku jadi lebih sehat melalui GERMAS serta berupaya mengontrol tingkat keparahan penyakit jantung.

Sementara di masa pandemi sekarang ini, Kemenkes juga mendorong daerah untuk menggencarkan vaksinasi bagi kelompok rentan yakni orang dengan penyakit komorbid dan lansia untuk mengurangi tingkat keparahan bahkan kematian akibat infeksi Covid-19.

Melalui prioritas percepatan ini, diharapkan dapat meningkatkan angka kesembuhan serta menekan angka kematian akibat Covid-19 terutama pada pasien lansia maupun komorbid yang menjalani perawatan di RS. (bnt)

Soal Vaksin Covid-19 pada Anak, Ini Kata Akademisi Unair

JAYAKARTA NEWS– Covid-19 belum menemukan titik akhir. Setiap hari ada saja penambahan kasus positif Covid-19 yang artinya penyebaran virus masih terjadi di masyarakat.  

Dr. Dominicus Husada, dr., DTM&H., MCTM(TP)., Sp.A(K) mengatakan meski pandemi Covid-19 tidak lebih menyeramkan dari Flu Spanyol pada 1918 dan  pandemi PES pada abad ke-14, pandemi Covid-19 mampu membuat pelayanan kesehatan kewalahan.

“Tapi sekalipun tidak sebanyak yang dua itu (Pandemi, Red) selama 2 bulan terakhir kita sudah dihancur leburkan oleh Corona. Kalaupun di Indonesia ada penurunan, negara-negara lain di Asia Tenggara Indonesia masih tergolong meningkat,” ujarnya, dalam rilis Unair, Selasa(10/8).

Berbagai cara dilakukan seperti penggunaan double masker, mencuci tangan, mencegah kerumunan, bahkan pemberian vaksin. “Prinsipnya adalah makin banyak anda memakai layering maka semakin baik. Semua layer memiliki lubang tapi jika digabung menjadi satu maka dia tidak akan bisa ditembus,” terang pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

Vaksin diberikan guna menciptakan herd immunity agar penyebaran virus Covid-19 bisa ditekan. Saat ini pemberian vaksin Covid-19 tidak hanya ditujukan pada tenaga kesehatan, dewasa, atau lansia. Namun anak-anak sudah bisa mendapat vaksin sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dengan nomor HK.02.01/I/2007/2021. Dalam surat edaran tersebut disebutkan bahwa anak dengan usia 12 hingga 17 tahun sudah diperbolehkan menerima vaksin.

Kendati demikian pro dan kontra tentang pemberian vaksin Covid-19 pada anak turut bermunculan. “Bagi yang pro akan mengatakan bahwa jumlah anak yang sakit itu besar lho, di Jawa Timur saja jumlah anak yang usianya dibawah 15 tahun  sekitar 8 hingga 10 juta jadi sangat besar. Dan itu pasti mempengaruhi herd immunity,”  kata dr. Dominicus.

“Lalu anak-anak ini kan punya kegiatan massal, memberi tahu anak itu sulit kalau mereka harus pakai masker dan remaja butuh berkumpul. Remaja adalah orang yang paling sulit diatur. Jadi kalau disuruh pakai masker atau cuci tangan tidak akan didengar. Remaja berperan dalam transmisi. Jangan lupa anak-anak juga dapat menularkan virus Covid-19. Jadi ini alasan untuk yang pro mengapa mereka mau anaknya divaksinasi,” imbuhnya pada Airlangga Webinar Conference Series Covid-19 dan Anak beberapa waktu lalu.

Kelompok yang kontra umumnya bukan karena manfaat secara kedokteran. Hal yang menjadi permasalahan adalah ketersediaan stok vaksin. Perlu diketahui bahwa dalam mencapai herd immunity dunia membutuhkan stok vaksin sebanyak 16 miliar yang notabene masih terpenuhi sebanyak 4 miliar.

“Stoknya ada atau tidak, jangan lupa penularan utama di sekolah itu pada orang dewasa, selesaikan dulu pada orang dewasa. Hal ini yang menjadi alasan orang tua tidak mengizinkan anaknya divaksin,” katanya.

dr. Dominicus berpesan bahwa ancaman gelombang pandemi Covid-19 yang lebih besar masih menghantui oleh karenanya pemberian vaksin menjadi jalan keluarnya. “Vaksin hanya bermanfaat bila sudah masuk ke tubuh manusia. Pandemi masih akan memakan banyak korban, ancaman wave berikutnya masih akan datang maka tidak ada jalan lain 5M, 7M, bahkan 12M selain vaksin adalah kunci,” tutupnya. (poedji)

Mengejutkan! Ini 12 Penyebab Kolesterol Tinggi, Termasuk Kopi, Obat Darah Tinggi dan Merokok

JAYAKARTA NEWS— Mungkin kita selama ini hanya tahu bahwa jika terlalu sering mengkonsumsi makanan mengandung lemak jenuh juga kurang berolahraga akan menyebabkan kolesterol tinggi. Padahal masih banyak sebab lainnya, termasuk mengkonsumsi obat-obatan. Karenanya konsultasi lah pada dokter tentang obat-obatan yang Anda minum.

Dikutip dari WebMD, setidaknya terdapat 12 hal yang bisa meningkatkan kolesterol Anda. Berikut paparannya:

1.Stres— Stres kronis menyebabkan sejumlah masalah kesehatan, termasuk kolesterol tinggi. Penelitian menunjukkan bahwa itu meningkatkan risiko kolesterol LDL (“jahat”) yang tinggi dan menurunkan kadar kolesterol HDL (“baik”).

Itu karena hormon stres, seperti kortisol dan adrenalin, memicu perubahan yang dapat menyebabkan gula darah lebih tinggi dan peradangan. Seiring waktu, ini dapat menyebabkan hati Anda memompa lebih banyak kolesterol dan lemak darah yang disebut trigliserida.

2.Kopi Tanpa Filter— Termasuk alat pembuat kopi French Press, kopi Turki, atau kebiasaan espresso dapat menimbulkan masalah bagi kolesterol Anda. Kopi ini tidak menggunakan filter, sehingga senyawa berminyak dalam biji yang disebut diterpen meresap ke dalam cangkir Anda. Minyak ini dapat meningkatkan kolesterol LDL. Meskipun satu atau dua porsi sehari tidak apa-apa, para ahli merekomendasikan tidak lebih dari empat kopi tanpa filter sehari.

Ilustrasi obat-obatan– sumber foto webmd.com

3.Obat-obatan— Beberapa obat mungkin memiliki efek tak terduga pada kolesterol Anda. Ini termasuk pil KB tertentu, retinoid, kortikosteroid, antivirus, dan antikonvulsan. Beberapa obat untuk tekanan darah tinggi, seperti diuretik dan bentuk beta-blocker yang lebih tua, juga dapat meningkatkan kolesterol Anda. Bicaralah dengan dokter Anda tentang obat apa pun yang Anda minum. Anda mungkin memerlukan dosis yang berbeda atau obat lain sama sekali.

Ilustrasi masalah tiroid—sumber foto webmd.com

4.Masalah Tiroid— Tubuh Anda menggunakan hormon tiroid untuk membantu menghilangkan kolesterol ekstra yang tidak dibutuhkannya. Jadi, ketika Anda memiliki tiroid yang kurang aktif, atau hipotiroidisme, kadar kolesterol total dan LDL Anda naik. Bicaralah dengan dokter Anda jika Anda memiliki gejala hipotiroidisme, seperti kelelahan, kulit kering, dan kelemahan otot dan nyeri. Tes darah dapat menyaring kondisi tersebut.

5.Diabetes tipe 2— Diabetes tipe 2 dapat menyebabkan gula darah tinggi. Ketika ada terlalu banyak gula, itu mungkin menempel pada protein, seperti molekul kolesterol. Hal ini membuat kolesterol lebih berbahaya. Misalnya, orang dengan diabetes tipe 2 cenderung memiliki partikel LDL yang lebih kecil dan padat, yang meningkatkan risiko penyakit jantung. Mereka juga memiliki jumlah kolesterol HDL pelindung yang lebih rendah. Kolesterol ini mungkin tidak bekerja dengan baik untuk menghilangkan kolesterol “jahat”.

ILustrasi menopause– sumber foto webmd.com

6.Menopause—  Hormon seks estrogen mempengaruhi kadar kolesterol Anda. Ketika estrogen turun setelah menopause, kolesterol Anda naik. Penelitian menunjukkan bahwa LDL dan kadar kolesterol total meningkat sekitar dan setelah periode terakhir Anda. Lebih buruk lagi, wanita mendapatkan rata-rata 8 sampai 10 pon setelah menopause. Mereka juga berhenti berolahraga sebanyak mungkin, yang dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi.

Ilustrasi sitting a lot—sumber foto webmd.com

7.Terlalu Banyak Duduk— Baik itu di meja Anda atau di sofa, duduk berjam-jam tidak baik untuk kesehatan Anda. Ini terkait dengan obesitas, penyakit jantung, dan kolesterol tinggi. Ketika Anda duduk terlalu lama, enzim yang mengubah kolesterol LDL berbahaya menjadi kolesterol HDL baik turun 95%. Untuk melindungi jantung Anda, sering-seringlah beristirahat. Berdiri setidaknya setiap 30 menit dan, jika Anda bisa, berjalan kaki 5 menit setiap jam.

Ilustrasi masalah liver–sumber foto webmd.com

8.Masalah Liver— Fungsi liver salah satunya adalah membuat, memproses, dan memecah kolesterol. Tapi ketika liver Anda tidak bekerja dengan baik, itu dapat mempengaruhi kadar kolesterol Anda. Salah satu kondisi yang paling umum adalah penyakit liver berlemak non-alkohol (NAFLD), yang terjadi ketika lemak ekstra disimpan di liver. Ini mempengaruhi hampir 1 dari 4 orang dewasa. Bentuk yang lebih parah dikenal sebagai NASH (steatohepatitis nonalkohol). Ini menyebabkan hati membengkak dan bekas luka, yang menyebabkan sirosis hati.

9.Terlalu banyak minum alcohol— Seiring dengan pemrosesan kolesterol, liver Anda juga memecah alkohol. Jadi, ketika Anda minum terlalu banyak, itu bisa mempengaruhi kolesterol Anda. Satu studi menemukan bahwa pria yang minum banyak – kira-kira 4 ½ minuman atau lebih sekaligus – memiliki kadar kolesterol yang lebih buruk, dibandingkan dengan mereka yang tidak.

Jika Anda minum, jaga agar tetap moderat – tidak lebih dari satu gelas sehari untuk wanita dan dua gelas untuk pria.

10.Kehamilan— Selama kehamilan, tubuh Anda menggunakan kolesterol untuk membantu janin tumbuh dan berkembang. Itu sebabnya kadar kolesterol Anda bisa naik hingga 50% pada trimester kedua dan ketiga.

Itu dapat tetap tinggi selama sekitar satu bulan setelah lahir. Lonjakan sementara ini biasanya tidak membahayakan ibu atau bayi. Tetapi jika Anda sudah memiliki kolesterol tinggi, sebaiknya diperiksa ke dokter kadar kolesterol Anda.

11.Masalah Ginjal— Kolesterol mempengaruhi cara kerja ginjal Anda. Penelitian menunjukkan bahwa kolesterol tinggi dapat membahayakan fungsi ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal.

Di sisi lain, masalah ginjal dapat meningkatkan kadar kolesterol Anda. Penelitian menunjukkan bahwa sindrom nefrotik, sejenis gangguan ginjal, meningkatkan kadar LDL dan kolesterol total Anda. Penyakit ginjal kronis juga menurunkan kadar HDL Anda.

12.Diet Tinggi Gula— Lemak jenuh sering dituding sebagai penyebab diet utama penyakit jantung. Tetapi terlalu banyak gula juga menjadi penyebabnya. Diet tinggi makanan manis menyebabkan hati Anda membuat lebih banyak kolesterol LDL dan trigliserida, dan lebih sedikit kolesterol HDL. Satu studi menemukan bahwa orang yang mendapat 10% atau lebih kalori mereka dari gula tambahan hingga 3 kali lipat. (ctr)

Pemerintah Tingkatkan Alokasi APBN di Bidang Kesehatan dan Perlinsos

JAYAKARTA NEWS— Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menyampaikan, pemerintahan akan melakukan refocusing Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk mendukung penanganan Covid-19 dan program perlindungan sosial (perlinsos).

Hal tersebut disampaikannya dalam keterangan pers usai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna (SKP) Realisasi Semester I dan Prognosis Semester II Pelaksanaan APBN 2021 yang dipimpin oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), melalui konferensi video, Senin (05/07/2021). Demikian dikutip dari laman setkab.go.id

Disebutkan, dengan berbagai pergerakan dan perubahan yang sekarang ini terjadi, terutama menyangkut peningkatan Covid-19 yang kemudian dilakukannya kebijakan PPKM Darurat maka APBN perlu meningkatkan lagi dukungannya bagi terutama program-program di bidang kesehatan dan perlindungan sosial.

Menkeu memaparkan, pagu anggaran untuk bidang kesehatan tahun 2021 akan ditingkatkan menjadi Rp193,93 triliun. “Ini naik dari yang kemarin kita telah sampaikan Rp172 triliun, dan naik lagi jadi Rp182 triliun, dan sekarang naik ke Rp193 triliun. Jadi terjadi kenaikan yang sangat tinggi di bidang kesehatan,” papar Menkeu.

Pagu anggaran ini antara lain digunakan membiaya diagnostik untuk testing dan tracingtherapeutic untuk biaya perawatan pasien, insentif tenaga kesehatan, santunan kematian untuk tenaga kesehatan, pengadaan obat-obatan dan alat pelindung diri (APD); pengadaan 53,91 juta dosis vaksin; bantuan iuran jaminan kesehatan nasional (JKN) untuk 19,15 juta orang; serta insentif perpajakan kesehatan termasuk PPN dan bea masuk vaksin.

Selain penanganan di sektor kesehatan, pemerintah juga meningkatkan dukungan APBN  untuk mempercepat dan meningkatkan program perlindungan sosial.

“Tadi instruksi Bapak Presiden agar untuk dilakukan akselerasi pembayarannya minggu ini, terutama untuk tadi PKH (Program Keluarga Harapan) untuk dimajukan, triwulan III ini bisa dibayarkan di bulan Juli, sehingga bisa membantu masyarakat,” ujar Menkeu.

Realisasi untuk PKH pada kuartal II adalah sebesar Rp13,96 triliun untuk 9,9 juta KPM, adapun alokasi anggaran untuk tahun 2021 adalah Rp28,31 triliun untuk 10 juta KPM. “Kita berharap bisa tercapai target 10 juta [KPM], jadi masih ada 100 ribu [KPM] di sini target yang  bisa ditambahkan,” ujar Menkeu.

Kemudian untuk Kartu Sembako, juga akan dilakukan percepatan penyaluran pada awal Juli 2021 serta pemenuhan target hingga 18,8 juta KPM dengan total alokasi anggaran Rp40,19 triliun. Hingga kuartal II realisasi program ini mencapai Rp17,75 triliun untuk 15,9 juta KPM.

“Kita harapkan akan bisa dibayarkan pada awal Juli juga. Tadi Bapak Presiden bahkan meminta minggu ini, ini sekarang yang sedang dilaksanakan oleh Kementerian Sosial,” ujar Sri Mulyani.

Selanjutnya, Bantuan Sosial Tunai (BST) untuk 10 juta KPM selama dua bulan juga akan dibayarkan pada bulan Juli ini. Realisasi anggaran hingga kuartal II adalah sebanyak Rp11,9 triliun untuk 10 juta KPM.

“Untuk Bansos Tunai akan dibayarkan dua bulan untuk 10 juta penerima, sehingga akan dibutuhkan Rp6,1 triliun,” ujarnya.

Kemudian, untuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa akan dilakukan percepatan penyaluran melalui redesign kebijakan BLT Desa. Alokasi anggaran tahun 2021 untuk program ini adalah Rp28,8 triliun untuk 8 juta KPM, sedangkan yang terealisasi hingga kuartal II baru Rp4,99 triliun untuk 5 juta KPM. “Ini bisa diakselerasi juga pada bulan Juli,” ujar Menkeu.

Program Prakerja untuk 2,8 juta peserta juga akan dieksekusi pada bulan Juli-Agustus ini yang membutuhkan tambahan anggaran sebesar Rp10 triliun. Sebelumnya, hingga kuartal II telah terealisasi anggaran sebanyak Rp10 triliun untuk 2,8 juta peserta. “Kartu Prakerja untuk penyerapan batch yang kedua bisa dilaksanakan pada bulan Juli,” ujar Menkeu.

Selanjutnya, pemerintah juga memberikan Bantuan Kuota Internet bagi 27,67 juta untuk siswa, mahasiswa, serta tenaga pendidik (guru dan dosen).

Selain program bantuan sosial, di dalam mendukung pelaksanaan PPKM Darurat, tambahan anggaran juga diperlukan untuk program perlindungan lainnya.

Pertama, adalah untuk perpanjangan Diskon Listrik. “Diskon listrik kepada 32,6 juta pelanggan ini akan diperpanjang yang tadinya enam bulan menjadi sembilan bulan, berarti ini sampai dengan September. Untuk itu, akan diperlukan tambahan alokasi Rp1,91 triliun,” ujar Menkeu.

Kedua, Bantuan Rekening Minimum, Biaya Beban/Abonemen Listrik dari yang semula enam bulan juga akan diperpanjang hingga bulan September sehingga akan membutuhkan tambahan Rp420 milyar.

Ketiga, Bantuan Produktif Ultra Mikro (BPUM) yang akan diberikan kepada 3 juta penerima baru. “Kita juga akan membayarkan untuk BPUM [untuk] 3 juta penerima baru. Ini akan dilakukan antara Juli-September. Alokasinya totalnya adalah Rp3,6 triliun,” papar Sri Mulyani.

Terakhir, Insentif Usaha yang diberikan untuk mendukung pelaku usaha, mendorong konsumsi masyarakat, hingga meningkatkan daya beli pegawai/karyawan.

“Insentif usaha untuk berbagai kelompok usaha di dalam membantu untuk memulihkan kondisi perusahaan maupun meningkatkan konsumsi masyarakat, seperti pembebasan PPnBM dan juga untuk insentif bagi pembayaran pajak karyawan yang ditanggung pemerintah,” ujarnya.

Refocusing Anggaran
Menkeu memaparkan, untuk memenuhi tambahan kebutuhan untuk penanganan di sektor kesehatan, perlinsos, dan program-program prioritas dan insentif lainnya, pemerintah memutuskan untuk melakukan refocusing dan realokasi anggaran belanja kementerian/lembaga (K/L).

“Dalam Sidang Kabinet ini telah disepakati akan ada refocusing tahap selanjutnya ini untuk membiayai adalah Rp26,2 triliun, plus Rp6 triliun yang berasal dari Transfer Keuangan Dana Desa [TKDD]. Anggaran ini kemudian dipakai untuk membiayai berbagai belanja di kementerian/lembaga untuk penanganan COVID-19, baik itu untuk vaksinasi, testing, tracing, maupun untuk biaya perawatan pasien serta tenaga kesehatan,” paparnya.

Refocusing akan menyasar belanja-belanja seperti belanja honorarium, perjalanan dinas, paket meeting, belanja jasa, bantuan kepada masyarakat/pemerintah daerah yang bukan arahan Presiden, pembangunan gedung kantor, pengadaan kendaraan dan peralatan/mesin, sisa dana lelang dan/atau swakelola, anggaran dari kegiatan yang belum dikontrakkan atau yang tidak memungkinkan dilaksanakan, serta kegiatan yang tidak mendesak/dapat ditunda/dibatalkan.

Sementara belanja untuk pemulihan ekonomi dan penanganan COVID-19, belanja penanganan bencana, belanja operasional K/L, belanja pegawai, dan belanja multiyears contract tidak akan terkena refocusing. Refocusing juga memperhatikan pemenuhan alokasi belanja mandatori (pendidikan dan kesehatan).

“Bapak Presiden dan Wapres menginstruksikan agar prioritas ini dipertajam sehingga kita tetap bisa membantu seluruh masyarakat, terutama sektor kesehatan dan masyarakat, dalam menghadapi COVID-19 yang sedang melonjak sehingga diperlukan PPKM Darurat,” pungkasnya.***/ebn

PPKM dan PPKM Mikro Berdampak Signifikan Kurangi Kasus Aktif

JAYAKARTA NEWS— Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) tingkat kabupaten/kota ditambah PPKM Mikro tingkat RT/RW, menghasilkan dampak yang signifikan terhadap perkembangan kasus Covid-19. Pada grafik data hingga 14 Februari 2021, perkembangannya menunjukkan hasil yang baik, menurunnya kasus aktif harian hingga keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memaparkan perkembangan penanganan Covid-19 dalam keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (16/2/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. “Dapat dilihat pada grafik, bahwa selama 4 minggu pelaksanaan PPKM, serta satu minggu PPKM mikro, terjadi penurunan yang cukup signifikan dimulai dari minggu kedua pelaksanaannya,” papar Wiku.

Pada grafik dimaksud, kasus aktif sempat mencapai puncak pada 24 Januari 2021 atau awal PPKM, sebesar 16,44%, meningkat 0,61% dari hari pertama PPKM. Namun angka ini terus menurun hingga mecapai 14,69% atau turun sebesar 1,75% dari angka puncak. Dan dengan diterapkannya PPKM Mikro, angkanya menurun lagi menjadi 13,06% atau turun sebesar 3,38%.

Melihat angka absolut kasus aktif, mencapai puncak pada 5 Februari, yaitu sebesar 176.672 kasus. Dan angka ini menjadi yang tertinggi sejak awal pandemi Covid-19 yang mulai di Indonesia pada Maret tahun 2020. Angka ini perlahan menurun hingga 14 Februari 2021, menjadi 159.012 kasus. “Melihat penurunan jumlahnya, hal ini menandakan hampir sebanyak 18 ribu kasus telah selesai dalam perawatan dengan lebih dari 16 ribu orang sembuh dari Covid-19,” lanjut Wiku.

Penurunan jumlah kasus aktif juga berdampak pada berkurangnya keterisian tempat tidur ruang isolasi dan ruang ICU rumah sakit rujukan Covid-19. Karena sembuhnya pasien Covid-19 dan telah selesai menjalani perawatan. Dan hal ini terjadi dalam kurun waktu 9 hari. “Ini adalah kabar yang cukup baik, mengingat kasus aktif tingkat nasional terus menunjukkan penurunan selama 1 bulan terakhir,” masih kata Wiku.

Secara spesifik, pada keterisian ruang isolasi penurunannya cukup konsisten sejak awal PPKM hingga diterapkannya PPKM Mikro pada minggu pertama. Pada hari pertama PPKM, keterisian tempat tidur isolasi mencapai 67,47% dan dalam 4 minggu selanjutnya terus menurun hingga 51,75% bahkan dengan PPKM mikro selama 1 Minggu penurunan terus berlanjut hingga 49,92%.

Lalu, melihat data ruang isolasi pada minggu kedua PPKM, sempat mengalami peningkatan tajam menjadi 69,19%. Namun, angkanya terus menurun selama 19 hari berturut-turut. Meskipun sempat berfluktuasi beberapa hari, hingga 17 Februari, keterisiannya sebesar 51,48%.

Jika melihat perkembangan 3 grafik ini secara bersamaan, maka perkembangannya sejalan. Kasus aktif yang turun dapat menunjukkan penularan yang sudah mulai berkurang di tengah masyarakat selama penerapan PPKM dan PPKM Mikro. “Dan dibuktikan dengan tidsk banyaknya kasus dengan gejala tingkat sedang dan berat, sehingga keterisian tempat tidur di rumah sakit cenderung mengalami penurunan,” jelas Wiku.***ebn

Bagaimana BPA Berbahaya Bermigrasi dari Kemasan Plastik ke Air

JAYAKARTA NEWS— Selama ini selalu diberitakan bahwa kemasan plastik polikarbonat dengan kode plastik no 7 mengandung Bisphenol A alias BPA berbahaya. Tapi tidak pernah dijelaskan bagaimana BPA yang berbahaya ini melakukan migrasi dari kemasan plastik polikarbonat ke air yang disimpannya?

Menurut Danish Ministry of the Environment dalam tulisan Environment project no 1710 tahun 2015 tentang Migration of Bisphenol A from Polycarbonate Plastic of different qualities, berkesimpulan bahwa pelepasan BPA dari PC dalam kontak dengan simulasi makanan berkorelasi positif dengan suhu (T) dan waktu (t) kontak.

Pada suhu yang lebih rendah (misalnya 0 – 70C) pelepasan BPA lambat dan dikendalikan oleh difusivitas dalam jumlah besar dan polimer padat. Pelepasan BPA lambat ini tentu saja tetap berbahaya karena walaupun kecil jumlah migrasi BPA nya tetap saja dapat mencemari makanan atau minuman.

Sementara dalam jurnal ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2019 hasil penelitian bersama  Bayu Nugroho (Politeknik Ilmu Pelayaran Balikpapan), Yudhiakto Pramudya (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta) dan Widodo (Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta)  yang berjudul The Content Analysis of Bisphenol A (BPA) on Water in Plastic Glass with Varying Temperatures and Contact Times Using UV – VIS Spectrophotometer mendapatkan konklusi bahwa, makin lama waktu kontak, dan suhunya makin tinggi makin tinggi pula konsentrasi BPA-nya.

Luruhnya BPA ini akibat suhu panas yang lama secara kontinyu tentu saja berbahaya karena dapat langsung mencemari air di dalam kemasan plastik yang mengandung BPA.

Begitu juga dengan galon guna ulang yang berkode plastik No.7. Kita tidak pernah tahu bagaimana galon guna ulang tersebut mengalami beberapa kali paparan matahari. Saat baru keluar dari pabrik kemudian diangkut dengan truk menuju ke gudang distributor kemudian dari distributor dikirim ke star outlet juga menggunakan truk, dari star outlet dikirim ke toko – toko, semua menggunakan truk.

Yang sangat mungkin terkena paparan matahari. Kemudian saat dipajang di toko – toko tak sedikit yang terkena matahari juga. Saat galon mengalami pencucian, untuk kemudian digunakan lagi, galon disemport dengan air panas bersuhu sekitar 70 derajat Celcius. Nah pada kesempatan ini, galon mengalami pemanasan yang bukan tidak mungkin mengaktifkan zat BPA-nya yang berbahaya.

BPA yang luruh ke air tentu saja sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Botol susu bayi sudah diwajibkan terbebas dari BPA, karena bersentuhan langsung. Nah air yang digunakan untuk mencampur susu bubuk,misalnya harus juga terbebas dari bahan yang mengandung BPA.

“Kalau botolnya sudah free BPA tapi airnya dari galon yang belum free BPA hal itu jelas sangat berisiko,” pesan Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras untuk berhati hati.  Bahaya terpapar BPA dapat mengakibatkan terganggunya hormonal, perkembangan organ tubuh dan perilaku serta gangguan kanker di kemudian hari.

“Jadi soal bagaimana migrasi BPA ke air? Jelas faktor yang menentukan adalah suhu dan lamanya kontak dengan galon yang berkode plastik No7 tersebut. Semakin panas dan semakin lama maka konsentrasi BPA makin tinggi. Misal, galon guna ulang yang berbahan polikarbonat diangkut dari pabrik menuju gudang dan terkena paparan matahari, disitu jelas berpegaruh kepada pelepasan BPA,” ungkapnya.

Masih menurutnya, walaupun kecil sekali adanya nilai migrasi akan tetapi itu tetap ada dan berpotensi meninggalkan residu pada produk. Belum lagi jika galon tersebut berkali – kali digunakan. Pertanyaannya adalah, sampai berapa kali galon berkode plastik No.7 tersebut digunakan berulang kali? Atas dasar apa produsen mengetahui galon tersebut sudah digunakan berapa kali.

Permenperin sebenarnya mengatur mengenai pemberlakuan SNI secara wajib untuk produk AMDK yang merevisi peraturan tahun 2016. Terdapat suatu acuan dalam pencucian kemasan galon yang pakai ulang dalam suatu Peraturan Menteri Perindustrian No. 26 tahun 2019. Pada halaman 31 ada metode pencucian kemasan pakai ulang dengan menggunakan detergen foodgrade dengan suhu 55-75C.

Sayangnya, hingga kini belum ada peraturan pemerintah tentang penggunaan kemasan plastik berbahan polikarbonat dengan kode No.7 yang digunakan berulang kali secara mendetail, seperti bagaimana standar distribusinya, bagaimana standar kualitasnya dan standard bagaimana mencegah agar BPA yang berbahaya tidak terlepas dan bermigrasi larut dalam air.

Itu sebabnya, langkah Roso Daras mendesak BPOM untuk memberi label pada galon guna ulang supaya tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin sungguh tepat mengingat wadahnya mengandung BPA.

Penelitian terbaru pada Januari 2021 berdasarkan Scientific Reports mengenai hubungan BPA dan Autism. Berdasarkan jurnal internasional yang berjudul, “Sex difference in the effects of prenatal bisphenol A exposure on autism – related gemes and their relationships with the hippocampus functions” berkesimpulan bahwa autisme memiliki prevalensi lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita.

Bisphenol A (BPA) adalah bahan kimia umum yang ditemukan dalam plastik  makanan kita dan bahkan plasent manusia. Paparan BPA sebelum melahirkan yang lebih tinggi diduga meningkatkan risiko autisme. Para peneliti telah mengidentifikasi gen kandidat autisme yang mungkin bertanggung jawab atas efek spesifik jenis kelamin dari BPA.

Jika Anda googling dengan masukan kata kunci ‘bahaya BPA’ maka akan sangat mudah menemukan informasi tentang bahaya BPA dari yang paling lama sampai yang paling up date. Artinya apa? Persoalan bahaya BPA memang serius dan terus dilakukan kajian. Terutama bahaya bagi bayi, balita dan janin. Ayok selamatkan masa depan mereka.***/ebn