Kasus Diabetes Anak Melonjak 70 Kali Lipat, Legislator Minta Pemerintah Cepat Bertindak

JAYAKARTA NEWS— Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menyoal tentang meningkatnya kasus diabetes pada anak sebanyak 70 kali lipat pada tahun 2023. Menurutnya, Rilis Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) soal meningkatnya kasus diabetes pada anak harus menjadi alarm penting bagi para pemangku kebijakan. 

“Pemerintah harus bergerak cepat melakukan berbagai upaya guna menekan kasus tersebut,” kata Netty, Senin (6/2/2023), sebagaimana dikutip dari dpr.go.id

Netty meminta agar program kesehatan yang selama ini telah dianggarkan setiap tahunnya dijalankan secara efektif dan sesuai target sasaran. Demikian dikutip dari dpr.go.id

“Program kesehatan dalam aspek promotif, preventif dan kuratif harus dimaksimalkan oleh Kemenkes ke daerah-daerah darurat diabetes anak. Dalam aspek promotif harus dimulai dengan edukasi kepada para orang tua soal pangan sehat dan kaya nutrisi. Jangan sampai orang tua salah dalam memahami produk-produk makanan manis, semisal SKM baik digunakan untuk anak-anak,” tambah Netty.

Netty juga meminta pemerintah agar mengingatkan para pelaku industri di bidang konsumsi untuk taat terhadap kewajiban penyampaian informasi kandungan produk. “Produsen harus jujur, jelas dan transparan dalam mencantumkan kandungan bahan dalam produknya. Jangan ada yang ditutup-tutupi, bahkan seolah-seolah sengaja disembunyikan di tempat-tempat yang susah terlihat oleh konsumen. Ini hak konsumen yang harus dipenuhi secara bertanggungjawab,” ungkapnya.

Tergungkap bahwa tren kasus diabetes pada anak melonjak berpuluh kali lipat sejak 2010. Kebanyakan, kasus anak mengalami diabetes melitus tipe 1. Kasus diabetes pada anak paling sering dialami di usia 5 hingga 6 tahun, atau menjelang remaja. Sayangnya, banyak dari mereka datang ke RS sudah dalam kondisi berat, sehingga sulit mendapatkan penanganan yang maksimal. ***

Kemenkes Beri 116 Penghargaan pada yang Berjasa di Bidang Kesehatan

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Kesehatan memberikan Anugerah dan Penghargaan Menteri Kesehatan kepada beberapa pihak mulai dari antarsatker di Kemenkes, lintas sektor dan program, akademisi, dan swasta yang dinilai telah ikut berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan Tanah Air.

Penghargaan diserahkan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, Maria Endang Sumiwi saat Pameran Inovasi dan Teknologi Kesehatan Dalam Negeri HKN ke-58 di ICE BSD, Tangerang pada Sabtu (5/11).

”Terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kami berikan kepada seluruh pihak yang telah dan terus membantu pemerintah dalam membangun sistem kesehatan Indonesia dalam rangka mewujudkan Indonesia yang lebih sehat,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M. Epid.

Pada kesempatan tersebut, Kementerian Kesehatan memberikan 116 penghargaan di 17 kategori sesuai dengan 7 Pilar Transformasi Kesehatan. Dari 17 kategori, sebanyak 10 kategori berasal dari satuan kerja di lingkungan Kemenkes yang merupakan pilar ke 7 yaitu Transformasi Internal dan 7 kategori dari eksternal Kemenkes yang merupakan 6 Pilar lainnya.

Adapun 10 kategori yang mendapatkan penghargaan internal di antaranya:

1. Penganugerahan Tanda Penghargaan Implementasi Elektronik Monitoring and Evaluation (E-Monev) Pelaksanaan Program dan Kegiatandi Lingkungan

2. Penghargaan Satuan Kerja dengan Nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Terbaik s.d Triwulan III Tahun 2022

3. Penghargaan Penilaian Pemeringkatan Profil Kesehatan Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia Tahun 2022

4. Penghargaan Perpustakaan Terbaik Tahun 2022

5. Penghargaan Pustakawan Terbaik Tahun 2022

6. Penghargaan Call Center Terbaik Tahun 2022

7. Penghargaan Kepatuhan Perilaku Interaksi Pelayanan Publik Tahun 2022

8. Penghargaan Gerakan Kantor Berbudaya Hijau dan Sehat (BERHIAS)

9. Penghargaan Kearsipan

10. Apresiasi Terhadap Posyandu/Posbindu yang telah Melaksanakan Deteksi Dini Faktor Risiko PTM dengan baik dan inovatif

Penghargaan eksternal, lanjut dr. Nadia diberikan kepada pemerintah daerah, perusahaan, mitra masyarakat dan media yang telah peduli terhadap sektor kesehatan. Berikut daftar 7 kategori yang mendapatkan penghargaan eskternal :

1. Penghargaan Anugerah Media dan Jurnalis Peduli Kesehatan

2. Penghargaan Stakeholder dalam Mendukung Germas (Dunia Usaha, Perguruan Tinggi, Organisasi Kemasyarakatan dan Media Massa)

3. Penghargaan kepada Pemerintah Daerah yang berkomitmen Melaksanakan Penanggulangan Kebutaan Akibat Katarak

4. Penghargaan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (Pastika Tan Yasa Wanala)

5. Penghargaan Penerapan Inovasi Kawasan Tanpa Rokok (Pastika Tan Yasa Wanala)

6. Penghargaan Layanan Publik yang Menerapkan Kawasan Tanpa Rokok secara penuh (Pastika Upasana Adhikara)

7. Apresiasi Pelaksanaan Kampus Sehat di Perguruan Tinggi

”Masing-masing peneriman penghargaan mendapatkan piagam yang ditandatangani oleh Menteri Kesehatan,” ujar dr. Nadia.

Pihaknya berharap penghargaan yang diberikan dapat memberikan motivasi serta mendorong pihak-pihak terkait agar dapat mendukung program serta kebijakan kesehatan.

”Semoga penghargaan yang diberikan bisa meningkatkan semangat bangkit dari pandemi Covid-19 sekaligus untuk menyukseskan agenda transformasi kesehatan yang Kemenkes canangkan,” tutup dr. Nadia.***/ctr

Anda Penderita Kolesterol Tinggi? Rutinlah Konsumsi Teh Hitam

JAYAKARTA NEWS— Ada teh hitam ada the hijau. Keduanya sama-sama bermanfaat untuk kesehatan. Kalau manfaat teh hijau mungkin sudah sering kita dengar. Bagaimana dengan teh hitam? Kabar baiknya, bagi penderita kolesterol tinggi, disarankan untuk rutin mengkonsumsi teh hitam yang konon dapat menurunkan kadar kolesterol.  

Dikutip dari alodokter, teh hitam dikenal baik untuk kesehatan. Salah satunya adalah untuk menjaga kadar kolesterol dalam tubuh. Manfaat teh hitam untuk kolesterol ini berasal dari kandungan antioksidan di dalamnya. Tak hanya itu, teh hitam juga diketahui mampu menurunkan kolesterol tinggi.

Kolesterol adalah lemak yang diproduksi di organ hati, tetapi bisa juga diperoleh dari konsumsi makanan hewani, seperti daging. Dalam kadar yang normal, kolesterol dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk sel-sel yang sehat.

Namun, bila jumlahnya berlebihan, kolesterol bisa menumpuk di pembuluh darah dan merusak dindingnya. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kronis, misalnya penyakit jantung. Orang yang menderita penyakit tersebut bahkan rentan mengalami komplikasi berat bila terinfeksi virus Corona.

Meski begitu, konsumsi teh hitam bisa menjadi salah satu cara untuk menurunkan kadar kolesterol tinggi dan mencegah penyakit jantung. Agar lebih jelas, ketahui manfaat teh hitam untuk kolesterol tinggi dalam pembahasan berikut ini.

Alasan Teh Hitam Baik untuk Kolesterol

Manfaat teh hitam untuk kolesterol tinggi diperoleh dari berbagai senyawa alami yang terkandung di dalamnya, seperti flavonoid dan polifenol. Kedua senyawa tersebut memiliki sifat antioksidan yang dikenal baik untuk kesehatan.

Flavonoid mampu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL). Sama halnya dengan flavonoid, polifenol juga terbukti dapat menjaga kadar kolesterol dan gula darah tetap stabil sehingga risiko terkena diabetes pun dapat ditekan.

Karena adanya manfaat teh hitam untuk menurunkan kolesterol, minuman ini bisa rutin dikonsumsi oleh penderita hiperkolesterolemia. Teh hitam sebaiknya dikonsumsi 1–3 gelas setiap harinya. Namun, Anda dianjurkan untuk mengonsumsinya 1–2 jam setelah makan agar tidak mengganggu penyerapan nutrisi dari makanan lainnya.

Selain itu, agar manfaatnya dapat diperoleh secara maksimal, teh hitam sebaiknya tidak ditambah banyak gula atau pemanis buatan. Teh hitam yang tawar justru lebih dianjurkan.

Meski manfaat teh hitam untuk kolesterol tidak perlu diragukan, penelitian mengenai manfaat ini masih terus dikembangkan. Studi lebih lanjut bertujuan untuk menilai efektivitas dan porsi teh hitam yang tepat sebagai terapi untuk kondisi medis tertentu.

Agar Kadar Kolesterol Tetap Normal

Selain dengan mengonsumsi teh hitam, berikut adalah cara yang bisa Anda lakukan untuk menjaga kadar kolesterol:

1.Memperhatikan asupan makanan

Perhatikanlah asupan makanan Anda agar kadar kolesterol senantiasa terjaga. Salah satu pemicu naiknya kadar kolesterol adalah kandungan lemak trans dan lemak jenuh dalam makanan berminyak. Oleh karena itu, kurangi konsumsi makanan berminyak, misalnya gorengan, juga makanan cepat saji, makanan berlemak, dan jeroan.

Sebagai gantinya, Anda dianjurkan untuk mengonsumsi makanan kaya serat, seperti apel, pir, oatmeal, dan kacang-kacangan. Serat dipercaya dapat mengurangi penyerapan kolesterol ke dalam aliran darah, sehingga kadar kolesterol tetap normal.

2.Berolahraga secara rutin

Olahraga secara rutin diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol baik dalam tubuh. Untuk mendapatkan manfaatnya, Anda dianjurkan untuk berolahraga selama 30 menit, setidaknya 5 kali dalam seminggu.

Ada beragam jenis olahraga yang dapat Anda coba lakukan, yaitu olahraga aerobik atau latihan kardio, renang, bersepeda, atau sekadar jalan santai.

3.Meningkatkan aktivitas fisik

Apabila Anda tidak memiliki waktu luang untuk berolahraga, cobalah untuk menambah aktivitas fisik dengan mengubah kebiasaan kecil, seperti bersepeda maupun berjalan kaki ke kantor atau menggunakan tangga daripada lift jika memungkinkan.

4.Menghentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol

Menghentikan kebiasaan merokok dan minum minuman beralkohol juga dapat menurunkan kadar kolesterol tinggi dan mencegah berbagai penyakit kronis, mulai dari penyakit jantung, penyakit paru-paru, hingga diabetes.

Kolesterol tinggi umumnya tidak menimbulkan gejala. Oleh karena itu, lakukan cek kolesterol setidaknya 1 tahun sekali atau sesuai anjuran dokter agar kadar kolesterol selalu terpantau. Dengan begitu, Anda dapat terhindar dari berbagai komplikasi kolesterol tinggi, misalnya hipertensi, stroke, maupun diabetes tipe 2.

Itulah manfaat teh hitam untuk kolesterol tinggi dan cara mudah mengendalikan kolesterol. Namun, bila Anda ingin menggunakan teh hitam untuk mengatasi penyakit tertentu, sebaiknya konsultasikan dahulu ke dokter. Tujuannya untuk menentukan jumlah konsumsi teh hitam yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.***alodokter

Waspada Resistensi Antimikroba

JAYAKARTA NEWS— Resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) harus diwaspadai karena dapat menyerang manusia, hewan, tumbuhan, makanan, dan lingkungan. Masalah tersebut dapat dicegah dengan pendekatan One Health.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam side event presidensi G20. Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan serangkaian pertemuan teknis yang mengarah pada side event G20 pada 24 Agustus 2022, di mana negara-negara anggota membahas bagaimana memajukan aksi bersama untuk mengatasi ancaman AMR.

AMR terjadi secara alami ketika mikroorganisme terpapar obat antimikroba dan beradaptasi untuk bertahan hidup dari paparan. Hal ini dapat terjadi pada manusia, hewan dan lingkungan.

Mikroorganisme yang resisten kemudian dapat menyebar dari waktu ke waktu, yang berarti obat-obatan biasa tidak lagi efektif digunakan untuk pengobatan. AMR mempengaruhi semua negara, bahkan resistensi dapat terjadi di berbagai negara dan secara kolektif menghasilkan infeksi resisten yang disebut ‘the silent pandemic’.

”Sekarang saatnya bagi negara G20 untuk mengimplementasikan rencana aksi nasional AMR kita sendiri di semua sektor, menggunakan bukti ilmiah sebagai dasar kita dan meningkatkan intervensi,” ujar Direktur Mutu Layanan Kesehatan, dr. Kalsum Komaryani, MPPM di Bali, Kamis (27/10).

Dikatakan dr. Kalsum, dibutuhkan data yang lebih akurat dan andal terkait resistensi, penggunaan, dan konsumsi antimikroba pada manusia, hewan, tumbuhan, makanan, dan lingkungan. Hal tersebut harus dilakukan dengan bekerja sama menggunakan pendekatan One Health.

”Selain itu, jika kami mendapatkan akses yang lebih baik dan lebih adil terhadap vaksin, terapi, dan alat diagnostik, ini akan membantu mencegah dan mengendalikan infeksi pada kesehatan manusia, tumbuhan, dan hewan,” ucap dr. Kalsum.

Melalui serangkaian diskusi teknis, negara-negara anggota G20 mengidentifikasi sejumlah perkembangan yang diharapkan dapat mengatasi AMR. Ini termasuk Kolaborasi Quadripartite (FAO, UNEP, WHO, WOAH) untuk One Health, dan integrasi AMR sebagai jalur aksi dari One Health Joint Plan of Action (OH JPA).

Pembentukan Platform Kemitraan Multi-Stakeholder pada AMR oleh Quadripartite dan inisiatif SECURE oleh WHO dan Global Antibiotic Research & Development Partnership (GARDP) dimaksudkan untuk menemukan antibiotik berdasarkan kebutuhan kesehatan masyarakat.

Negara-negara G20 harus berkomitmen untuk meningkatkan cakupan dan kualitas diagnosis infeksi dan infeksi yang resisten di semua tingkat sistem kesehatan mereka.

Pemerintah Indonesia berharap dapat berkolaborasi dengan India karena mengambil alih peran tuan rumah G20 pada tahun 2023 dan bergerak maju dalam pekerjaan mendesak untuk mengatasi AMR dengan negara-negara anggota.***/bnt

Dana USD 1,4 Miliar untuk Antisipasi Pandemi Berikutnya

JAYAKARTA NEWS— Presidensi G20 bidang Kesehatan telah berhasil mengumpulkan Dana Perantara Keuangan untuk Pandemi atau Financial Intermediary Fund (FIF) for Pandemic Prevention Preparedness and Response yang beroperasi mulai 9 September 2022. Komitmen terkini telah menunjukkan awal yang menjanjikan dengan total USD 1,4 miliar terkumpul dari 20 donor dan 3 filantropi.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan FIF lahir dari kesepakatan bersama untuk pendanaan yang lebih sustainable bagi setiap negara yang membutuhkan untuk merespons pandemi yang akan datang.

“Untuk merespon pandemi, disepakati perlunya pendanaan bersama,” ujar Sekjen Kunta.

Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan FIF merupakan model pembiayaan baru yang lebih, efisien dan inklusif untuk menghilangkan kesenjangan dalam pembiayaan pencegahan, kesiapsiagaan dan respons pandemi (PPR) yang dapat diakses seluruh negara yang membutuhkan.

“FIF akan terus berupaya menutupi kebutuhan kesenjangan dalam kesiapsiagaan pandemi sebesar USD10,5 miliar,” ucap dr. Nadia di Bali, Kamis (27/10).

Kementerian Kesehatan dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia telah menyelenggarakan 1st G20 Joint Finance and Health Ministers’ Meeting (JFHMM) di bawah Kepresidenan G20 Indonesia pada 21 Juni 2022. Di dalamnya membahas perkembangan dari pembentukan Dana Perantara Keuangan.

Pertemuan tersebut berhasil mendapatkan komitmen Dana Perantara Keuangan sebesar USD 1,2 juta miliar yang akan digunakan untuk penanganan pandemi selanjutnya. Termasuk USD 50 juta dari Indonesia.

Selain Indonesia, beberapa negara yang telah menyatakan komitmennya untuk ikut berkontribusi dalam pendanaan FIF diantaranya AS (450 juta USD), Uni Eropa (450 juta USD), Jerman (50 juta EURO), Singapura (10 juta USD) dan Wellcome Trust (10 juta Poundsterling).

FIF memiliki tujuan khusus untuk menutup kesenjangan pembiayaan pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi. Setelah dana ini terkumpul, maka langkah penting berikutnya adalah menentukan prioritas penggunaan dana FIF.

Dalam menentukan prioritas penggunaan dana, besarnya jumlah komitmen setiap negara, serta proses distribusi yang cepat dan merata pada pandemi selanjutnya harus diperhatikan. Pembahasan teknis ini diharapkan selesai dalam waktu yang singkat, untuk selanjutnya bisa dibawa pada Pertemuan Tingkat Tinggi di Bali.

Dikatakan dr. Nadia, mengenai mekanisme pembiayaan baru FIF, para Menteri keuangan dan Menteri kesehatan G20 menyepakati perlunya mekanisme pembiayaan multilateral baru yang didedikasikan untuk mengatasi kesenjangan pembiayaan Pencegahan dan Respon Pandemi kedepan.

Para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 menyambut baik perkembangan yang telah dicapai dalam membentuk Dana Perantara Keuangan (FIF) yang ditempatkan di Bank Dunia. Bank Dunia selaku wali amanat akan terus membahas tata kelola dan pengaturan operasional FIF menjelang rencana pengumuman formal pembentukannya pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Pemimpin G20 pada bulan November 2022.

“Kami berharap Tata Kelola FIF merupakan keterwakilan dari berbagai negara G20 dan negara non G20 serta juga keterwakilan dari negara-negara maju, menengah dan rendah” ujar dr. Nadia.

Presidensi G20 Indonesia berkomitmen untuk memberikan hasil nyata, tidak sekadar mendukung, tetapi juga berkontribusi pada proposal pendirian FIF. Selanjutnya, pasca perteman kedua Menteri Kesehatan (HMM) negara G20, direncanakan First Call for Proposal (FCP) FIF PPR pada November 2022.

FIF adalah hasil positif utama dari upaya bersama Kementerian kesehatan dan Keuangan G20. Oleh karena itu, FIF akan dibahas secara rinci pada Pertemuan Bersama Menteri Keuangan dan Kesehatan pada November 2022.

Terkait pengaturan koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan PPR yang lebih luas, para Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 umumnya sepakat tentang perlunya peningkatan koordinasi antara Keuangan dan Kesehatan agar lebih siap menghadapi pandemi di masa depan.

“Kami berharap FIF yang dibentuk pada akhir masa kepresidenan G20 Indonesia dan dana FIF akan dapat dioperasikan di bawah struktur tata kelola FIF dengan pengawasan ketat dari sekretariat secara cepat,” ungkap dr. Nadia.

“Pendirian FIF adalah salah satu terobosan bersejarah Presidensi G20 Indonesia bidang kesehatan. FIF akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas global untuk pencegahan, persiapan dan respons terhadap pandemi di masa yang akan datang. Sebagai contoh dana ini dapat digunakan untuk riset dan produksi vaksin dan obat serta perlengkapan kesehatan,” tambahnya.***/ctr

Tak Ada Penambahan Kasus Baru Gangguan Ginjal Akut, Namun Tetap Waspada

JAYAKARTA NEWS— Gerak cepat pemerintah dalam penanganan kasus Gangguan Ginjal Akut (GGA) mulai terlihat sementara dengan tidak adanya penambahan jumlah kasus baru sejak tanggal 22 Oktober 2022.

Terdapat 251 kasus gagal ginjal akut yang berasal dari 26 provinsi. Sekitar 80% kasus terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, Aceh, Jawa Timur, Sumatera Barat, Bali, Banten, dan Sumatera Utara. Persentase angka kematian ada di 56% atau sebanyak 143 kasus. Penambahan 6 kasus, termasuk 2 kematian, yang dilaporkan bukanlah kasus baru.

“Kasus yang dilaporkan tersebut adalah kasus lama yang terjadi di bulan September dan awal Oktober yang baru dilaporkan pada Senin. Sejak 22 Oktober hingga Senin tidak ada lagi kasus baru,” ujar Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. M Syahril saat Konferensi Pers secara virtual di Jakarta (25/10).

“Walau tidak ada penambahan kasus baru, pemerintah tetap waspada dan mengambil langkah-langkah pencegahan lanjutan,” kata dr Syahril.

Surat Edaran (SE) Kemenkes pada tanggal 18 Oktober yang meminta untuk tidak menjual dan tidak meresepkan obat sirop di fasilitas layanan kesehatan (RS, puskesmas, apotek, dll), sementara telah berhasil mencegah penambahan kasus baru.

RSCM, sebagai RS rujukan, contohnya, tidak mengalami penambahan pasien baru sejak 22 Oktober 2022.

“Kasus GGA terjadi setiap tahunnya. Namun demikian, jumlahnya kecil hanya 1-2 kasus setiap bulan. Kasus GGA baru menjadi perhatian pemerintah setelah terjadi lonjakan pada bulan Agustus dengan jumlah kasus lebih dari 35 kasus. Sama halnya seperti kasus hepatitis akut yang tiba-tiba juga melonjak kasusnya walau setiap tahunnya ada,” tambah dr. Syahril

Mengapa baru kali ini terjadi lonjakan? Pemerintah menduga akibat adanya cemaran senyawa kimia pada obat tertentu yang saat ini sebagian sudah teridentifikasi.

Kementerian Kesehatan bergerak cepat disamping melakukan surveilans atau penyelidikan epidemiologi, terus melakukan penelitian untuk mencari sebab sebab terjadinya GGA. Di antaranya kita sudah menyingkirkan kasus yang disebabkan infeksi, dehidrasi berat, oleh perdarahan berat termasuk keracunan makanan minuman.

Dan dengan upaya itu Kemenkes bersama IDAI dan profesi terkait telah menjurus kepada salah satu penyebab yaitu adanya keracunan atau intoksikasi obat.

“Jadi kasus GGA bukan disebabkan oleh Covid-19, vaksinasi Covid-19 atau imunisasi rutin,” kata dr Syahril.

Selain upaya pencegahan, Kemenkes juga telah mendatangkan antidotum Fomepizol sebagai panawar GGA.

“Pemerintah sudah mendatangkan obat antidotum Fomepizol dari Singapura sebanyak 26 vial dan dari Australia sebanyak 16 vial. Selanjutnya akan mendatangkan ratusan vial dari Jepang dan Amerika Serikat. Penawar ini akan segera didistribusikan ke RS rujukan pemerintah dan obat ini gratis.” Jelas dr. Syahril

Dari hasil pemberian obat Fomepizol di RSCM, 10 dari 11 pasien terus mengalami perbaikan klinis. Tidak ada kematian dan tidak ada perburukan lebih lanjut. Anak sudah mulai dapat mengeluarkan air seni (BAK). Dari hasil pemeriksaan laboratorium, kadar etilen glikol (EG) dari 10 anak tersebut sudah tidak terdeteksi zat berbahaya tersebut.

Sebagai tindak lanjut hasil pengujian dan pengumuman oleh BPOM, maka Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran untuk dapat digunakan kembali obat-obatan sejumlah 156 sesuai Kepmenkes Nomor HK.02.02/III/3515/2022 tentang Petunjuk Penggunaan Obat Sediaan Cair/Sirop Pada Anak tertanggal 24 Oktober 2022.

Obat-obatan di luar 156 obat tersebut untuk sementara tetap dilarang digunakan sampai dengan pengumuman pemerintah lebih lanjut.

“Moment ini menjadi sarana kita untuk melakukan edukasi khususnya bagi yang memiliki anak hingga usia balita untuk tidak memberikan obat tanpa resep atau tanpa konsultasi kepada tenaga kesehatan” jelas dr. Syahril.

Penanganan Gangguan Ginjal Akut (GGA) / Acute Kidney Injury (AKI) di Indonesia

10 September 2022 = Kemenkes menerima laporan adanya lonjakan kasus Gangguan Ginjal Akut (GGA) / Acute Kidney Injury (AKI) di beberapa rumah sakit dan juga dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak Agustus 2022. Kasus GGA yang dari tahun-tahun sebelumnya hanya ada 1 atau 2 per bulan, mulai melonjak diatas 35 per bulan di Agustus.

10 September 2022 = Kemenkes berkoordinasi dengan IDAI dalam sosialisasi alur deteksi dan terapi GGA

10 September – 18 Oktober 2022 = Kemenkes memiliki kecurigaan GGA disebabkan oleh proses infeksi atau dampak post-Covid 19 sehingga dilakukan penelitian dengan pendekatan pathological untuk mendeteksi virus, bakteri dll. Ternyata penelitian lebih lanjut ditemukan dugaan penyebabnya bukan dari unsur tersebut, namun dari senyawa toksin.

25 September 2022 = Per 23 September, setidaknya 75 kasus GGA ditemukan di Gambia, Afrika. 50 diantaranya meninggal dunia.

28 September 2022 = Kemenkes mengeluarkan Keputusan Dirjen Yankes tentang Tata Laksana dan Manajemen Klinis GGA pada anak yang ditujukan kepada seluruh dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.

5 Oktober 2022 = WHO merilis daftar obat terkontaminasi di Gambia

10 Oktober 2022 = Pembelian antidotum Fomepizole dari Singapura sudah sampai dan dipakai pada pasien yang dirawat di RSCM

13 Oktober 2022 = Kemenkes mengambil sampel obat yang dikonsumsi, urine, dan darah pasien di RSCM

13 Oktober 2022 = Kemenkes berkolaborasi bersama BPOM dan Puslabfor POLRI melakukan pemeriksaan sampel pasien anak dan obat-obatan yang dikonsumsi di RSCM

15 Oktober 2022 = BPOM mengeluarkan penjelasan sirup obat yang terkontaminasi EG dan DEG di Gambia, Afrika tidak terdaftar di Indonesia

17 – 20 Oktober 2022 = Puslabfor menyampaikan hasil pemeriksaan secara bertahap pada tanggal 17 dan 20 Oktober 2022

18 Oktober 2022 = Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran untuk menghentikan penggunaan obat sirup kepada seluruh Dinas Kesehatan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Organisasi Profesi Kesehatan

18 Oktober 2022 = hingga saat ini Melakukan penyelidikan epidemiologi dan farmakologi dengan mengambil seluruh sampel dan obat-obat pasien yang untuk diperiksa lebih lanjut

20 Oktober 2022 = BPOM mengeluarkan edaran perihal sirup obat yang mengandung cemaran EG dan DEG

21 Oktober 2022 = Kemenkes mengumumkan daftar sementara obat yang dikonsumsi oleh pasien GGA

23 Oktober 2022 = Pembelian kembali antidotum dari Singapura dan dari Australia

23 Oktober 2022 = BPOM mengeluarkan penjelasan perihal hasil pengawasan sirup obat yang tidak menggunakan propilen glikol, polietilen glikol, sorbitol, gliserin/gliserol dari daftar obat yang dikonsumsi oleh pasien GGA.***/din

Ini Bahaya Mengkonsumsi Gula Berlebih

JAYAKARTA NEWS— Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan konsumsi gula berlebih, baik dari makanan atau minuman berisiko tinggi menyebabkan masalah kesehatan seperti gula darah tinggi, obesitas, dan diabetes melitus.

Dalam kurun waktu lima tahun saja, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terjadi peningkatan prevalensi penyakit tidak menular di indonesia. Berdasarkan data tahun 2013 menunjukkan prevalensi diabetes sebesar 1,5 permil meningkat pada tahun 2018 menjadi 2 permil. Demikian juga gagal ginjal kronis dari 2 permil menjadi 3,8 permil, sementara stroke meningkat dari 7 permil menjadi 10,9 permil.

“Tentunya ini akan meningkatkan beban pembiayaan kesehatan di Indonesia. Terlebih lima penyebab kematian terbanyak di Indonesia didominasi oleh penyakit tidak menular,” jelas dr. Maxi seperti dikutip dari laman sehatnegeriku.kemkes.go.id

Data kemenkes juga menunjukkan bahwa 28,7% masyarakat Indonesia mengkonsumsi Gula Garam Lemak (GGL) melebih batas yang dianjurkan. Dimana batasan konsumsi GGL sudah diatur dalam Permenkes No 30/2013 yang diperbaharui dengan Permenkes 63/2015.

Sementara sebanyak 61,27% penduduk usia 3 tahun ke atas di Indonesia mengonsumsi minuman manis lebih dari 1 kali per hari, dan 30,22% orang mengonsumsi minuman manis sebanyak 1-6 kali per minggu. Sementara hanya 8,51% orang mengonsumsi minuman manis kurang dari 3 kali per bulan (Riskesdas, 2018).

Patut menjadi perhatian, lanjut dr Maxi adalah peningkatan prevalensi berat badan berlebih dan obesitas pada anak muda yang meningkat 2 kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Data tahun 2015 menunjukkan prevalensi berat badan berlebih pada anak-anak usia 5-19 tahun dari 8,6% pada 2006 menjadi 15,4% pada 2016. Sementara prevalensi obesitas pada anak-anak usia 5-19 tahun dari 2,8% pada 2006 menjadi 6,1% pada 2016.

Lebih lanjut, dr Maxi menyampaikan bahwa pemerintah melakukan berbagai upaya dan strategi dalam mengendalikan GGL mencakup aspek regulasi, reformulasi pangan, penetapan pajak/cukai, studi/riset, dan edukasi. Salah satunya adalah permenkes No 30/2013 yang diperbaharui dengan Permenkes No 63/2015 Tentang Pencantuman Informasi Kandungan Gula, Garam, dan Lemak serta Pesan Kesehatan untuk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji. Salah satu aspek pengaturannya dalam hal nilai gizi seperti kandungan lemak hingga gula harus tertera pada iklan dan promosi media lainnya seperti leaflet, brosur, buku menu, dan media lainnya.

Kebijakan cukai terhadap Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) di Indonesia juga sudah diatur dalam UU No. 39 Tahun 2007 Tentang Cukai dan dilaksanakan oleh Kementerian Keuangan. Diharapkan dengan pemberlakuan cukai pada produk makanan dan minuman yang tinggi gula, garam dan lemak dapat menginisiasi terciptanya pangan yang lebih sehat dengan reformulasi makanan sehingga menurunkan risiko terjadinya Penyakit Tidak Menular

Di sisi lain, dr. Maxi mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan mulai dari sendiri. Lebih bijak dalam memperhatikan asupan makan sesuai dengan isi piringku. Serta menjaga asupan gula garam dan lemak sesuai dengan rekomendasi maksimum, yaitu gula sebanyak 50 gram per hari (4 sdm), garam sebanyak 2 gram (sdt), dan lemak sebanyak 67 gram (5 sdm).

“Kita minta masyarakat sadar untuk menjaga kesehatan diri dan keluarganya . Pola asuh yang benar akan mencegah anak anak mengidap penyakit diabetes melitus, hipertensi dan kolesterol di usia dewasa nanti” jelas dr. Maxi.***/din

Indonesia Usulkan Ikut Uji Klinis Vaksin TBC

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah Indonesia telah menyampaikan minat untuk ikut uji klinis vaksin tuberkulosis (TBC) kepada Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF) dan Welcome Trust. Kedua Yayasan filantropi itu telah menerima surat pengajuan tersebut dan mendukung penanganan TB di Indonesia.

Minat Indonesia ini juga dibahas pada bilateral meeting Menkes RI, Selasa (20/9) di sela-sela kunjungan kerja di New York, Amerika Serikat dalam rangkaian UNGA ke-77 dan Global Fund Replenishment Conference.

President, Global Health of BMGF Trevor Mundel mengatakan pihaknya mendukung penanganan TB di Indonesia dan telah menerima surat dari pemerintah Indonesia terkait rencana Indonesia ikut uji klinis pengembangan vaksin TB.

Sebagai gambaran, BMGF melakukan uji klinis vaksin TB di Afrika dan minat partisipasi yang Indonesa tujukan akan menjadi pertimbangan sendiri untuk cakupannya. Uji klinis ini juga melibatkan fungsi European Medicine Agency (EMA) dan WHO. Rencananya vaksin TB ini akan diproduksi pada 2027.

“Apabila akan dilakukan di Indonesia butuh sejumlah 26.000 orang sampel. Nantinya, akan memerlukan dukungan pemerintah Indonesia terutama koordinasi dengan BPOM,” ujar Mundel demikian dikutip dari siaran pers Kemenkes.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan akan memfasilitasi bilamana diperlukan koordinasi dengan sejumlah pihak termasuk dengan BPOM untuk pelaksanaan uji klinis di Indonesia. Menurut Menkes upaya ini sejalan dengan transformasi kesehatan yang sedang dibangun di indonesia, khususnya pilar satu dan pilar enam, yaitu transformasi layanan primer berbasis teknologi informasi dan teknologi kesehatan terkini.

“Berbagai agenda transformasi sistem kesehatan itu sedang dilakukan di Indonesia disertai target-target nyata yang telah dicanangkan,” ucap Menkes Budi.***/din

Capaian Masih Rendah, Jubir Kemenkes: Sentra-Sentra Vaksinasi Booster Covid di Tempat Publik Digalakkan Lagi

JAYAKARTA NEWS— Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan, M. Syahril menyebutkan cakupan vaksinasi booster dosis ketiga atau vaksinasi booster Covid-19 di Indonesia terbilang masih sangat rendah.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per tanggal 15 September 2022 pukul 18.00 WIB, cakupan vaksinasi booster pertama baru mencapai 26,45% persen atau sekitar 62.080.191 orang. Target capaian menurun usai libur Lebaran 2022.

“Vaksinasi ketiga meningkat pada awal April, kemudian terjadi penurunan yang tentunya banyak penyebab sehingga capaian vaksinasi booster pertama ini masih landai,” kata Jubir M. Syahril dalam keterangan pers yang digelar secara daring pada Jumat (16/9).

Dikatakan Jubir Syahril, saat ini Kementerian Kesehatan telah menyusun sejumlah strategi untuk meningkatkan cakupan vaksinasi booster Covid-19. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada masyarakat. Sebab ada kemungkinan imunitas masyarakat turun di tahun depan.

“Meskipun saat ini persentase kasus harian Covid-19 terus menurun, vaksinasi primer dan booster terus kita gencarkan. Jadi, kalau ada gelombang baru Covid-19 kita lebih siap karena kekebalan tubuh kita masih kuat,” ujar Jubir Syahril.

Jubir Syahril menyebutkan saat ini Kementerian Kesehatan telah mendorong seluruh kepala daerah baik gubernur maupun bupati/walikota untuk terus menjalankan vaksinasi Covid-19 bekerjasama dengan pihak-pihak lainnya.

Menurutnya, akselerasi ini perlu dilakukan agar semakin banyak daerah yang cakupan vaksinasi ketiganya di atas 50%. Karena sejak dimulai pada 22 Januari 2022 lalu, baru ada 3 daerah yang cakupan vaksinasi ketiganya sudah di atas 50%.

Ketiga daerah tersebut yakni Provinsi Bali, DKI Jakarta dan Kepulauan Riau. Bali menempati posisi tertinggi dengan persentase 69,8%, DKI Jakarta dengan 66,0% dan Kepulauan Riau 52,1%.

“Penyediaan sentra-sentra vaksinasi terutama di tempat-tempat publik, perlu kembali digalakkan untuk mendekatkan layanan vaksinasi kepada masyarakat. Saya kira ini bisa kembali menarik minat masyarakat,” ujar Jubir Syahril.

Ia menambahkan Kementerian Kesehatan juga akan menerapkan strategi “jemput bola” guna mendekatkan layanan vaksinasi kepada sasaran terutama kelompok rentan yang kesulitan mengakses sentra vaksinasi.

“Jemput bola ini untuk memudahkan sasaran yang kesulitan mengakses layanan vaksinasi Covid-19. Caranya dengan mendatangi rumah-rumah, pasar maupun tempat publik lainnya. Jadi kita kejar, tidak menunggu mereka datang ke puskesmas atau pusat-pusat layanan vaksinasi, tapi kita jemput bola,” ujar Jubir Syahril.

Terakhir, Jubir Syahril mengimbau kepada masyarakat yang belum melakukan vaksinasi booster di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat guna meningkatkan kekebalan tubuh. Vaksinasi booster terbukti mampu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang hingga 4-6 kali lipat, sehingga mampu mencegah risiko terburuk dari infeksi Covid-19.

“Untuk yang belum booster saran saya terus dilanjutkan, karena itu memberikan proteksi yang baik untuk kita, sasaran yang dibooster terbukti secara ilmiah kadar antibodinya jauh lebih tinggi dibandingkan yang belum dibooster, ini penting untuk melindungi orang sekitar terutama orang tua kita,” pungkasnya.***/ebn

Mahasiswa Unair Cetuskan Ide Pengobatan Kanker Payudara Berbasis Daun Pepaya

JAYAKARTA NEWS – Kanker payudara hingga kini menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Pengobatan kanker secara umum kini memang lebih banyak berfokus pada kemoterapi yaitu dengan mengirimkan zat kimia pada sel kanker pasien. Namun, efek samping dari kemoterapi sangatlah besar karena banyaknya zat kimia yang harus diserap oleh tubuh.

Dari kekhawatiran itu, dua mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas pengobatan kanker berbasis tanaman herbal. Mereka adalah Qiara Amelia Putri Priyono dan Mochamad Radika Tory Alfiansyah. Keduanya berhasil memenangkan juara pertama dalam kompetisi Pharmacope 2022 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sebelas Maret (UNS).

Mochamad Radika Tory Alfiansyah (kiri) dan Qiara Amelia Putri Priyono, pemenang Pharmacope 2022/sumber foto: unair.ac.id

Dikutip dari laman unair.ac.id, dalam ajang perlombaan tersebut, keduanya mengajukan gagasan pengembangan teknologi sediaan patch berbasis ekstrak daun pepaya. 

Patch, seperti yang dilansir dari One International Indonesia merupakan teknologi transdermal yang bekerja dengan cara memungkinkan obat masuk ke dalam tubuh dari plester yang ditempel di luar kulit. Inovasi seperti ini berguna untuk meminimalisir interaksi obat dan memudahkan pasien yang kesulitan menelan obat.

Berdasarkan keterangan Radika, daun pepaya yang diambil ekstraknya memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan kemoterapi yang kini digunakan sebagai pengobatan kanker. Ekstrak daun pepaya yang dimaksud dapat menghasilkan kuersetin yang mampu meningkatkan kematian sel kanker payudara. Nanti ekstrak ini dapat diformulasikan dengan berbasis nanoliposom hingga akhirnya dibentuk menjadi patch transdermal.

“Dalam hal ini, kami memilih daun pepaya karena terbukti bahwa ketersediaannya di Indonesia sangat melimpah dan mampu dikombinasikan adanya pengembangan teknologi sediaan farmasi sebagai suatu inovasi baru dalam suatu pengobatan,” jelas Qiara.

Qiara dan Radika mengaku harus membagi waktu secara cermat ketika mengikuti perlombaan ini. Pasalnya, mereka harus mengatur alokasi waktu untuk menyelesaikan tugas kuliah sekaligus mengumpulkan esai dan poster lomba tepat waktu.

Namun mereka tetap sukses dengan didasari keinginan kuat untuk memanfaatkan teknologi berbahan dasar alam. Keduanya juga tidak lupa mendorong rekan-rekan sesama mahasiswa sana untuk senantiasa berprestasi dan tetap peka terhadap lingkungan sekitar.

“Selama mengikuti pembelajaran tetap fokus dan kerjakan tugas tepat waktu, namun jangan lupa lihatlah lingkungan sekitar. Tetap peka dan berinovasilah untuk Indonesia lebih maju melalui karya dan prestasi kalian,” ujar Qiara.***unairnews