Kisah Purbasari dan Purbararang

sumber: dongengceritarakyat.com

Dahulu di Jawa Barat, hiduplah seorang raja. Dia mempunyai dua orang putri. Si sulung bernama Purbararang, sedangkan adiknya bernama Purbasari.

Suatu hari, raja memilih Purbasari untuk menjadi ratu. Purbararang merasa iri dan kesal. “Harusnya aku yang menjadi ratu!” kata Purbararang.

Purbararang lalu menyuruh penyihir untuk mengutuk Purbasari. Seluruh tubuh Purbasari penuh dengan bisul berwarna hitam.

“Aku takut penyakit Purbasari akan menular, Ayah. Sebaiknya Ayah usir dia dari istana,” kata Purbararang. Akhirnya, raja terpaksa mengusir Purbasari ke hutan.

Selama di hutan, Purbasari berteman dengan banyak hewan. Salah satu temannya adalah seekor lutung. Lutung itu berwarna hitam. Purbasari memberinya nama Lutung Kasarung. Lutung Kasarung selalu menemani Purbasari ke manapun ia pergi.

Suatu malam, Lutung Kasarung menyuruh Purbasari mandi di sebuah telaga. Purbasari pun menurut.

Ketika sedang mandi, hal ajaib terjadi. Bisul di seluruh badannya tiba-tiba hilang. Kini, Purbasari sudah sembuh. Dia kembali ke gubuknya dengan gembira.

Sesampainya di gubuk, Purbasari terkejut. Dia melihat ada Purbararang di situ. Purbararang kesal karena Purbasari sudah cantik lagi seperti semula.

“Syukurlah penyakit kulitmu sudah sembuh. Tapi, seorang ratu harus memiliki suami yang tampan. Mana calon suamimu?” tanya Purbararang.

Purbasari kebingungan. Lalu, dia menarik Lutung Kasarung, “Ini calon suamiku,” kata Purbasari.

Mendengar hal itu, Purbararang tertawa. “Apa? Calon suamimu seekor monyet?” katanya.

Tiba-tiba, Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran tampan. Ternyata, selama ini dia juga dikutuk. Kutukannya akan hilang kalau ada putri yang mau menikah dengannya.

Akhirnya, Purbararang meminta maaf pada Purbasari. Purbasari pun mau memaafkan kakaknya. Mereka lalu pulang ke istana dengan bahagia.

http://dongengceritarakyat.com/dongeng-dari-jawa-barat-purbasari-dan-purbararang/

Kisah Kera yang Licik dan Kura-Kura Baik Hati

Seekor kera dan seekor kura-kura hidup di sebuah hutan dekat sungai. Namun, kera yang satu ini mempunyai sifat yang tidak terpuji. Ia licik, suka memperalat temannya untuk kepentingan dirinya.

Kera bersahabat dengan kura-kura karena ada yang diharapkan dari kura-kura. Bila bepergian ke suatu tempat, kera selalu naik di atas punggung kura-kura dengan berbagai alasan: capek, kakinya sakit dan alasan yang lain. Kura-kura tak pernah sakit hati. Kura-kura menurut saja. Kemampuan kera mengambil hati membuat kura-kura luluh dan selalu dekat dengan kura-kura. “Tanpa bantuan makhluk lain, tak mungkin kita bisa hidup,” bisik hatinya.

Jika di tengah perjalanan ditemukan pohon yang sedang berbuah, kera dengan gesit memanjat pohon itu, sementara kura-kura disuruhnya menunggu di bawah. Setelah perutnya kenyang, barulah kera ingat temannya yang sedang menunggu di bawah. Hanya buah-buah yang jelek dan kulit-kulitnya yang dilempar ke bawah sambil mengatakan, “Wah kura-kura, buahnya jelek-jelek dan sudah banyak yang dimakan kelelawar sehingga tinggal kulitnya saja. Terima saja ini untukmu.”

Hidup mengembara dari hari ke hari telah membuat mereka bosan. Pada suatu hari, datanglah musim kemarau panjang. Hujan tidak kunjung datang. Pohon-pohon di hutan banyak yang layu dan tidak berbuah. Kera dan kura-kura sedang berteduh di bawah pohon di pinggir sungai sambil berpikir tentang apa yang harus dilakukan menghadapi situasi seperti itu.

Kera membuka percakapan. “Kura-kura, apa yang harus kita lakukan menghadapi musim kemarau ini?” tanyanya kepada si kura-kura. Kura-kura tidak menjawab karena memang kura-kura tidak mampu berpikir yang berat-berat. Akhirnya, kera melanjutkan pembicaraannya, “Sebaiknya kita menanam pisang, sebentar lagi musim hujan akan datang.”

“Saya setuju,” jawab kura-kura.

“Dari mana bibitnya?” tanyanya kepada kera. “Begini saja, kita menunggu di tepi sungai ini. Pada musim hujan, banyak manusia membuang anak pisang ke sungai. Nanti kalau ada yang hanyut kita ambil.” Mereka berdua setuju. Mula-mula mereka bekerja keras membuka hutan untuk ditanami pohon pisang. Setelah tanahnya siap, datanglah musim hujan. Sepanjang hari mereka di tepi sungai menunggu pohon pisang yang hanyut. Tidak seberapa lama dari jauh tampak pohon pisang hanyut. Kera berteriak, “Kura-kura cepat berenang kamu! Ambil batang pisang itu! Saya takut air dan tak bisa berenang.”

“Kalau berenang saya jagonya.” kata kura-kura menyombongkan diri.

“Kamulah yang beruntung bisa berenang, sedang aku tidak pandai berenang. Kalau aku pandai berenang, tidaklah engkau perlu bersusah-susah mengambil batang pisang itu. Aku tentu akan membantumu,” ujar kera dengan licik.

Mendengar ucapan kera itu, hati kura-kura menjadi terharu. Oleh karena itu, ia segera berenang menarik batang pisang itu ke tepi sungai. Batang pisang itu dikumpulkan satu per satu. Setelah cukup banyak barulah ditanam. Mereka membagi dua setiap batang pisang sama Panjang agar adil. Bagian atas diambil si kera dan bagian bawah diberikan kepada kura-kura. Kera rupanya tahu bahwa buah pisang selalu ada di bagian atas. Oleh karena itu, ia mengambil bagian atas.

Beberapa waktu mereka bekerja menanam pohon pisang. Kura-kura rajin sekali memelihara tanamannya, sedangkan tanaman si kera tentu saja mernbusuk dan mati sernua.

Setelah kebun pisang milik kura-kura berbuah dan buahnya mulai masak, datanglah kera bertandang. “Hai kura-kura, tidakkah kau lihat pisangmu telah masak di pohon,” tanya kera bersemangat.

“Ya, saya lihat, hanya saya tak mampu memanjat untuk memetiknya,” jawab kura-kura.

“Apakah artinya kita bersahabat, kalau saya tidak dapat membantumu,” kata kera.

Dalam hati kera, muncul akal liciknya, lebih-lebih Perutnya sudah mulai terasa lapar. Kera menawarkan diri untuk membantu kura-kura memanen pisangnya. Kurakura setuju. Dengan gesit, kera memanjat pohon pisang yang telah ranum buahnya. Di atas pohon ia makan sepuas-puasnya, sedangkan kura-kura (si pemilik kebun) dilupakannya. Ia menunggu dengan hati yang mendongkol. Kadang-kadang, kera melemparkan kulit kepada kura-kura. Hal itu dilakukannya setiap hari, sampai kebun itu habis buahnya.

Sejak itu, kura-kura merasa sakit hati. Namun, apa yang bisa dilakukannya? Sebagai makhluk Tuhan yang lemah, ia hanya bisa berdoa semoga yang curang dan khianat mendapat murka Tuhan. Mereka berpisah untuk waktu yang agak lama. Kura-kura selalu menghindar jika mendengar suara kera.

Pada suatu hari yang panas, udara menjadi kering. Buah-buahan di hutan semakin berkurang. Para satwa di hutan banyak yang kelaparan dan kehausan. Apalagi kera yang rakus itu. Ia berjalan gontai mencari teman senasib sepenanggungan. Lalu ia beristirahat di bawah pohon yang rindang, di atas sebuah batu. Karena lapar dan haus, kera tidak sadar bahwa yang diduduki itu adalah punggung si kura-kura yang sedang beristirahat pula. Karena udara panas, kura-kura menyembunyikan kepalanya di bawah punggungnya yang keras itu. Si kera kemudian berteriak memanggil sahabalnya, “Kura-kuraaaaa……., di mana kamu, Kemarilah! Kita sudah lama tidak bertemu”

Terdengarlah suara dari bawah pantat si kera, “Uuuuuuwuk…..”.

Kera berteriak lagi, “Ooooo…. kura-kuraaa…, kemarilaaah! Aku ingin bertemu denganmu.” Terdengar lagi suara dari pantatnya, “Uuuuuuuwuk….”.

Kera marah sekali. Ia mengira, suara itu adalah suara alat kelaminnya yang mengejeknya. Sebenarnya, suara itu adalah suara kura-kura yang didudukinya. Dengan geram, ia mengancam alat kelaminnya sendiri. “Jika kamu mengejekku lagi akan aku hancurkan!” ancamnya. Kemudian, ia berteriak lagi, “Kura-kuraaaaaaaaaaa…”. Mendengar suara itu marahlah si kera. la mengambil batu, lalu alat kelaminnya dipukul berkali-kali. Kera menjeritjerit kesakitan, sambil terus memukulkan batu itu ke arah alat kelaminnya. Kura-kura menjulurkan kepalanya. Ia ingin menolong, tetapi sudah terlambat. Kera sahabatnya yang licik itu telah mati. ***

http://dongeng.org/kera-dan-kura-kura/

 

Konser Dongeng 2 Naura Memukau Anak-Anak Bandung

KONSER  Dongeng 2 Naura yang bertajuk “Cerita Dari Negeri Dongeng” sukses digelar di Sabuga ITB Bandung, yang digelar pada Sabtu (4/11/2017) malam, belum lama berselang.,

Pada konser tersebut, penyayi cilik yang bernama lengkap Adyla Rafa Naura Ayu tampil begitu cantik dengan berbagai kostum dari negeri dongeng.
Bahkan, Konser Dongeng 2 Naura semakin sempurna dengan megahnya set panggung, video mapping yang penuh warna, dan musikalisasi yang diiringi oleh Ava Victoria Orchestra.
Konser ini juga menampilkan aksi tarian yang ciamik oleh Naura dan para penari cilik.
Suara Naura yang terdengar sangat merdu dipadu gerakan tarian, mampu memukau penonton yang hadir pada malam itu.
Terlebih lagi, saat Naura membawakan lagu hits miliknya yang berjudul “Semesta Cinta”, sontak bikin suasana di Sabuga ITB, menjadi lebih riuh oleh generasi kidz zaman now dan seluruh area bercahaya lampu dari hp penonton anak-anak.
Penonton yang didominasi olah kalangan anak-anak ini, Mereka tampak sangat antusias saat bersama-sama menyanyikan lagu tersebut sambil meneriakkan nama Naura.
Tidak hanya menyanyikan lagu hits Semesta Cinta, Naura pun turut menghipnotis penonton dengan deretan 17 lagu lainnya .
Di antaranya adalah Bintang, Selimut, Kata Ajaib, Setinggi Langit Panca Indera, Jalan-Jalan, Menari, Pesta Sekolah, Langit yang Sama, Bully, Sister, Sahabat Setia, Lukisan Indonesia, dan lainnya. (pik)

 

Petualangan Nan Menegangkan

TERSEBUTLAH Apooi, nama sebuah perkampungan, yang dihuni oleh para binatang yang hidup berdampingan saling menyayangi satu sama lainnya. Tinggal di sana antara lain keluarga singa,  banteng, jerapah, kuda, kucing, anjing dan ada juga koala. Pokoknya, hampir semua jenis binatang liar yang ada di hutan raya, ada di kampung Apooi.

Suatu ketika, keluarga singa Eben, bersama ayah dan ibunya, jalan-jalan ke hutam alam liar. Eben yang sudah mulai besar, diperkenalkan oleh ayah-ibunya ke hutan yang dihuni oleh binatang-binatang buas. Setelah melihat hutan belantara, Eben baru menyadari betala di rimba raya kehidupannya sangat keras, amat berbahaya kalau pergi sendiri tanpada didampingi orang tua.

Putra Koala mendengar cerita teman-temannya, kalau Eben bersama kedua orang tuanya baru saja jalan-jalan ke hutan. Putra pun menceritakan  petualangan Eben tersebut kepada Yanda  Koala. “Pasti asyik ya, kalau kita bisa jalan-jalan ke hutan raya. Kapan Yanda, kita bisa berpetualang?,” kata Putra merajuk kepada ayahnya.

Ayah Koala menasihati, bahwa tamasya ke hutan raya sangat berbahaya bagi keluarga Koala. Sambutan dan sikap hewan-hewan liar di hutan, pasti berbeda saat mereka melihat keluarga Singa dibandingkan dengan keluarga Koala. “Jangan nak, berbahaya. Kita sudah cukup nyaman hidup di perkampungan ini. Semua warga saling menghormati dan menyangi. Di alam raya, siapa yang lemah akan menjadi mangsa mereka yang kuat,” kata Yanda Koala.

Koala tidak puas dengan jawaban ayahnya. Saat malam tengah berbaring hendak tidur, dia memikirkan bagaimana caranya bisa jalan-jalan ke hutan raya. Tiba-tiba Putra Koala punya ide, itu diam-diam berangkat sendiri pada waktu menjelang subuh, saat kedua orang tuanya masih tidur lelap.

Benar, rencana itu pun dilakukan. Diam-diam dia menyelinap dan pergi ke arah hutan raya seperti didapat informasinya dari cerita kawan-kawannya. Singkat kata, sampailah dia di hutan raya. Saat setelah tengah hari, Putra sudah merasa kelelahan di hutan. Dia pun memutuskan untuk pulang. Tapi, dia lupa menandai sepanjang titik penting dalam rute perjalannya  waktu masuk hutan, sehingga kebingungan harus mengarah ke mana. Putra pun menangis, menyesali apa yang dia lakukan, tidak mau mendengar nasibat orang tuannya.

Putra tambah ketakutan lagi ketika ada Singa yang datang dan siap-siap menerkamnya. “Oooo…ada anak koala, lumayan dari pagi saya belum makan. Kamu pantas buat sarapan saya,” kata singa hutan sambil menunjukkan gigi dan kukunya yang tajam. Putra Koala takut sekali, sehingga kakinya gemetaran dan tidak kuat untuk melarikan diri. Saking takutnya, Putra sampai terkencing-kencing. Celananya basah.

Tiba-tiba tubuhnya diguncang-guncang. “Bangun Putra, ada apa. Kami mimpi buruk ya? Kamu pasti lupa berdoa tadi malam waktu mau tidur.” Rupanya, Mama Koala membangunkan Putra yang berminpi buruk.

“Maafin Putra ya Ma,” katanya. Dia kemudian menceritakan petualangan yang dialami dalam mimpinya, setelah sebelum tidur semalam dia berencana akan ke hutan raya sendirian secara diam-diam.

“Untunglah itu hanya mimpi,” kata Yanda Koala. “Kalau kamu benar-benar ke hutan raya sendiri, bukan tidak mungkin situasi buruk seperti itu terjadi,” timpal Yanda lagi. Putra Koala bersyukur, ia tidak jadi melakukan rencana untuk berpetualang sendirian ke hutan raya dengan mengabaikan nasihat orang tuanya. ***